Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

08 Februari 2016

Kenapa harus Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi?


Pada tahun 2012 Kementrian Komunikasi dan Informatika meminta agar metode relawan TIK yang berjalan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat diterapkan untuk kepentingan sertifikasi kompetensi Relawan TIK Indonesia. Pada awalnya seluruhnya berdasar kepada data di Sekolah Tinggi Teknologi Garut saja. Namun Kementrian mendorong agar metodenya berlaku umum, sehingga dilakukan pengembangan ulang metode dengan memperhatikan sejumlah literatur yang merekam konsep dan kegiatan relawan TIK di berbagai dunia. Laporannya diselesaikan pada tahun 2013 dan didiseminasikan dalam rapat kerja nasional Relawan TIK Indonesia di Surabaya dan Focus Group Discussion di Jakarta. Beberapa tahun kemudian laporan ini terus digali dan diterapkan di Garut melalui Komunitas TIK Garut yang dibentuk sebelum dikukuhkannya Relawan TIK Garut, serta melalui program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan pelaksanaan piagam kerjasama dengan RelawanTIK Indonesia tahun 2012. Luaran terakhirnya adalah KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) dan sistem informasinya yang didiseminasikan terakhir di pameran dan workshop Festival TIK Sabuga Bandung tahun 2014. 

Konsep KPMI ini digali dari real-world berdasarkan laporan kegiatan relawan TIK yang dibuat oleh Acevendo. Agar metode yang berlaku di Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengakomodasi aktivitas relawan dalam laporan Acevendo, maka dibuatlah metode generik dengan harapan relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat melaksanakan layanan relawan TIK di luar negeri yang dilaporkan oleh Acevendo tanpa meninggalkan sistem kaderisasi dan layanannya, dan demikian pula sebaliknya. Jadi ini semacam menggabungkan dua kelebihan yang bisa dimanfaatakan oleh Telecenter di mana Acevendo merekam dan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut di mana metode generik ini dikembangkan. 

Yang terpenting dari KPMI ini adalah adanya variabel pengukuran sebagai acuan evaluasi kemajuan. Variabel tersebut merupakan rekaman luaran dari layanan yang dilaksanakan, yang meliputi : 
  1. Jumlah relawan dan masyarakat, serta relawan mana yang mendidiknya, 
  2. Jumlah perangkat teknologi informasi, relawan mana yang membuat atau memasangnya, serta di mana dipasangnya, 
  3. Jumlah informasi, relawan mana yang memproduksinya dan dimana disebarkannya, serta 
  4. Jumlah basis KPMI, di mana lokasinya, dan siapa yang merintisnya. 
Variabel tersebut menjadi indikator apakah metodenya berjalan atau tidak, apakah pertumbuhan relawan TIK mendorong pertumbuhan populasi melek TIK, informasi, perangkat TIK terpasang, dan program bersama tidak? Karena kalau tidak tumbuh, relawan TIK tidak memberi dampak apa-apa terhadap lingkungannya. Kalau perangkat teknologi bertambah tetapi populasi melek TIK di mana teknologi informasi itu berada tidak bertambah, maka relawan TIK belum menuntaskan pekerjaannya. Kalau program kolaborasi tidak ada, partisipasi masyarakat masih rendah. Apabila KPMI dijalankan sepenuhnya, maka akan terjadi luaran berkelanjutan dari layanannya, sehingga ada peningkatan jumlah relawan, informasi, teknologi terpasang, dan program kolaborasi. Kampus sudah menerima manfaatnya, demikian pula tahun 2015 ini SMK Negeri 10 Garut sudah menerima manfaatnya. 

Keberadaan relawan bisa membantu pelaksanaan layanannya dalam kondisi minim biaya. Manfaat dari empat layanan umum tersebut sebenarnya tidak hanya dibutuhkan oleh sekolah atau telecenter, tetapi mungkin juga oleh instansi pemerintahan atau kelompok masyarakat seperti KIM misalnya. Jauh sebelum Pusat Komunitas TIK Garut dibentuk tahun 2012, pemkab Garut pernah menghimpun relawan TIK di Balai Masyarakat Telematika untuk membantu pelaksanaan layanan TIK pemerintah. Semua orang yang berkepentingan dengan informasi dan teknologinya tentu akan sangat senang mendapatkan solusi efisien. Seperti Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang hingga saat ini merasa terbantu dengan keberadaan relawan TIK yang berhasil meningkatkan jumlah informasi dan jumlah teknologi informasi terpasang dengan biaya pemasangan minimum dan pengadaan yang diantaranya bisa ditekan. Relawan TIK nya yang dari kalangan mahasiswa pun merasa senang karena mendapatkan tambahan pengetahuan dari kerja lapangannya. 

Ada instansi yang memang tidak memerlukan sistem KPMI, yakni 
  1. Yang tidak suka menggunakan produk dan tenaga relawan, 
  2. Yang tidak perlu keberadaan relawan dan luaran dari layanannya secara berkelanjutan, cukup sebatas trigger / pemicu saja, dan 
  3. Yang tidak menganggap perlu semua layanan dilaksanakan. 
 KPMI ini penting atau tidak bersandar kepada pertanyaan berikut: 
  1. Apakah indikator kemajuan yang telah disebutkan diperlukan sebagai bahan evaluasi kinerja relawan dan organisasinya? 
  2. Apakah peningkatan jumlah variabel tersebut perlu terjadi secara berkelanjutan? 
  3. Dengan adanya informasi berbasis indikator tersebut apakah kelompok sponsor tidak akan tertarik?

Kompetensi Relawan TIK berdasarkan Perannya


Setelah menyelesaikan persiapan Ujian Akhir Semester dan kegiatan sosialisasi Saka Telematika dalam Rapat Kerja Cabang Pramuka Kwartir Cabang Garut, teringat ada permintaan contoh silabus pelatihan relawan TIK yang berjalan di Garut dari kolega di Kementrian Komunikasi dan Informatika untuk kepentingan sertifikasi relawan TIK. Sebelumnya telah disampaikan kepadanya bahwa gambaran kompetensi relawan TIK sudah dijelaskan dalam buku "Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK" yang dibuat tahun 2013 untuk keperluan sertifikasi Relawan TIK. Akhirnya disempatkan waktu libur Imlek ini untuk memberi petunjuk bagaimana menggunakan buku tersebut untuk menentukan kompetensi yang harus diberikan kepada Relawan TIK.

Di dalam buku tersebut pada bagian Aktivitas Relawan TIK, ditunjukan tabel peran relawan TIK yang membagi contoh aktivitas relawan TIK yang diberikan oleh Acevendo ke dalam empat layanan, yakni penyediaan informasi, pengembangan sumber daya manusia, pengembangan sumber daya TIK, dan kolaborasi. Agar semua peran tersebut dapat dilaksanakan oleh relawan TIK, maka diperlukan kompetensi. Pembahasan kompetensi ini ada dalam buku tersebut yakni pada bagian Kerangka Kerja Pemenuhan Informasi dan Kompetensi Relawan TIK. Dengan bersandar kepada dua bagian tersebut dan pengalaman relawan TIK di Garut, dipetakanlah kompetensi relawan TIK berdasarkan peran-perannya. Hasilnya adalah sebagai mana tampak pada tabel di bawah. Setelah dipetakan, bisa dirujuk untuk menyusun silabus sertifikasi relawan TIK untuk kemudian diterjemahkan ke dalam buku Diklat (pendidikan dan pelatihan) Relawan TIK. Khusus di Garut, luaran ini akan dirujuk untuk membuat buku Diklat Relawan Telematika untuk anggota Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi Komunitas TIK dan Saka Telematika.



07 Februari 2016

Video Kilas Kegiatan Kwarcab Garut


Pertemuan pengurus Gerakan Pramuka Kwarcab / Kwartir Cabang Garut rerkait Rakercab / Rapat Kerja Cabang mengamanatkan kepada bidang Humas, Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan untuk membuat video tentang Kwarcab Garut yang akan disajikan dalam Rakercab tersebut. Kebetulan di bidang ini yang menangani teknologi informasi adalah saya. Untuk membuat video ini diperlukan skenario atau minimalnya dokumentasi kegiatan yang meliputi satu foto per kegiatan yang disusun berdasarkan waktunya. Dokumen foto ini rupanya tersebar di beberapa komputer dan belum diunggah di Google Drive Kwarcab Garut, hal ini menjadi hambatan dalam penggarapan video tersebut. 

Setelah lama menanti, akhirnya ada kabar dua hari sebelum kegiatan bahwa dokumen foto tersebut sudah siap dan akan disampaikan. Sayangnya saat itu masih di luar kota melaksanakan tugas dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan baru sampai keesokan harinya. Satu hari menjelang pelaksanaan pada pagi hari ternyata belum bisa sampai Garut, sehingga akhirnya dokumen foto tersebut dititipkan oleh Kwarcab Garut di kantor Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dokumen foto tersebut baru diambil sore harinya begitu sampai di Garut. 

Dokumen foto tersebut berisi empat CD-ROM yang di dalamnya foto kegiatan sudah dimasukan dalam folder dan disusun sesuai dengan waktu kegiatan. Hanya saja harus dicari foto yang mewakili setiap kegiatannya. Setelah membuat slide presentasi "Pramuka sebagai Relawan Telematika" untuk Rakercab, dimulailah pemrosesan video. Pencarian fotonya berlangsung dari jam 20.00 sampai dengan 00.00. Karena waktu yang tersedia terbatas, diputuskan video dibuat sederhana saja menggunakan Microsoft Movie Maker. Kegiatan pembuatan video ini selesai sekitar pukul 02.00 dini hari. Video ini sekalian menjadi sampel produk konten layanan informasi KPMI / Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi dalam presentasi tersebut keesokan harinya. 

Membuat video dengan aplikasi Microsoft tersebut merupakan keahlian dasar teknologi informasi yang dapat dilakukan oleh Relawan Telematika binaan Saka Telematika Kwarcab Garut yang direncanakan akan dilatih dan dihimpunkan dalam KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) di setiap Kwartir Ranting seputar Garut. Pelatihan Relawan Telematika sebagai perintis KPMI ini akan dilakukan dengan mengintegrasikan program Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Diawali dengan permintaan dari Saka Telematika ke Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk  menyelenggarakan pelatihan dengan waktu setara kegiatan satu semester, yang akan menjadi tambahan kum fungsional untuk setiap Dosen yang ditunjuk sebagai Instrukturnya.

06 Februari 2016

Mendorong KPMI di Kwarcab Garut


KPMI / Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi merupakan satuan relawan TIK (teknologi Informasi dan Komunikasi) yang dirintis kegiatannya, konsepnya, dan penerapannya sejak menjadi asisten Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Melihat besarnya kemanfaatan KPMI bagi kampus menyebabkan munculnya pemikiran untuk menyebarkan KPMI di Garut. Usaha pertama kali adalah dengan merintis KPTIK / Kelompok Penggerak TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Pelajar Garut di mana KPTIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut didorong untuk membagikan konsep kegiatan kepada perwakilan pelajar yang hadir di acara Seminar dan Pelatihan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan membentuk kepengurusan KPTIK pelajar. Perintisan KPTIK pelajar dan kegiatannya terus dilaksanakan hingga KPTIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut diubah namanya menjadi Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. KPTIK ini bagi UPT Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang pernah saya kelola sebelum tahun 2015 merupakan usaha saya menyediakan relawan TIK dari kalangan mahasiswa untuk penyampaian layanan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut kepada para penggunanya. Disebut relawan karena semua aktivitasnya semata untuk pengabdian kepada kampus, demi amal dan pengalaman lapangan.

Setelah diangkat menjadi ketua Program Studi Teknik Informatika, KPMI ini diarahkan agar menjadi program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat andalan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Konsep dan teknologi KPMI telah dihasilkan baik melalui penelitian mandiri atau bersama mahasiswa. Walau demikian penerapan KPMI di lembaga pendidikan dibatasi oleh komitmen untuk menjadikan KPMI sebagai kegiatan ekstra kurikuler. Hanya satu lembaga pendidikan saja yang sukses mendorongnya sebagai kegiatan ekstra kurikuler Komunitas TIK, yakni SMK Negeri 10 Garut. Hal ini tidak memberi cukup peluang untuk menunjukan dampak KPMI bagi masyarakat sekitarnya atau bagi Garut khususnya. 

Sementara itu, kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Garut merekomendasikan saya kepada ketua Kwartir Cabang Garut untuk memimpin Saka Telematika. Sebelumnya Kwartir Cabang Garut atas rekomendasi dari Relawan TIK Indonesia dalam acara sosialisasi rintisan Saka Telematika dan  PanduApps di Sukabumi, meminta saya untuk bergabung di kepengurusan Humas, Informasi, Komunikasi, dan Perpustakaan. Amanat ini sempat ditolak dan sempat berfikir untuk mengundurkan diri karena khawatir terhambat oleh kesibukan menerapkan KPMI di Komunitas TIK Garut. Namun demi menghormati kepercayaan tersebut, amanat tersebut pun diemban, tentu saja dengan kinerja yang lamban karena adanya pembagian waktu antara dua pekerjaan di dua tempat yang saat itu dianggap berbeda. Namun lambat laun terfikir bahwa Saka Telematika Garut ini bisa menjadi solusi kebutuhan penelitian KPMI yang selama ini sulit dipenuhi oleh Komunitas TIK Garut. KPMI bisa diadakan di setiap lembaga pendidikan yang memiliki Gugus Depan, sejalan dengan apa yang telah dilakukan di Komunitas TIK Garut. Selain itu ada kesempatan di mana Gerakan Pramuka memiliki budaya relawan sebagaimana Komunitas / Relawan TIK Garut.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut dan agar dampak luas yang diharapkan dari KPMI dapat terwujud, saya mendorong ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk membangun kerjasama dengan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut. Selain penerapan KPMI yang bermanfaat untuk riset Sekolah Tinggi Teknologi Garut, kerjasama ini juga bermanfaat bagi Kwartir Cabang Garut untuk memenuhi kebutuhan instruktur dan teknologi informasi. Sebagai bentuk komitmennya, saya mendorong beliau untuk menyediakan ruang multimedia Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai tempat di mana konsep KPMI ini akan saya jelaskan kepada ketua Kwartir Ranting se kabupaten Garut.

Hal ini saya jelaskan pula kepada ketua Kwartir Cabang Garut di kantor program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat menunggu kegiatan Rapat Kerja Kwaran dimulai. Beliau melihat pentingnya kerjasama ini sehingga mengintruksikan kepada sekretarisnya agar di sela-sela pembukaan disisipkan acara penandatanganan piagam kerjasama. Saya kemudian mengintruksikan kepada sekretaris program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyiapkan piagamnya. Akhirnya piagam tersebut berhasil ditandatangani, insya Allah menjadi bekal bagi Saka Telematika Garut mewujudkan Praja Muda Karana yang dapat menggerakan masyarakat informasi di Garut dan bekal bagi saya untuk terus mengembangkan KPMI sebagai program penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.


02 April 2015

Tasyawuf yang Benar itu Mentaati Fiqh


Malik bin Anas - Ulama besar pendiri mazhab Maliki, juga murid Imam Jafar as Shadiq ra, berkata : “Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasawuf tanpa fiqih maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fiqih tanpa tasawuf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasawuf dengan disertai fiqih dia meraih Kebenaran dan Realitas dalam Islam.” (’Ali al-Adawi dalam kitab Ulama fiqih, juz 2, hal. 195 yang meriwayatkan dari Imam Abul Hasan).

DR. Yusuf Al-Qardhawi - Ketua Ulama Islam Internasional dan juga guru besar Universitas al Azhar berkata, “Mereka para tokoh sufi sangat berhati-hati dalam meniti jalan di atas garis yang telah ditetapkan oleh Al-Qur,an dan As-Sunnah. Bersih dari berbagai pikiran dan praktek yang menyimpang, baik dalam ibadat atau pikirannya. Banyak orang yang masuk Islam karena pengaruh mereka, banyak orang yang durhaka dan lalim kembali bertobat karena jasa mereka. Dan tidak sedikit yang mewariskan pada dunia Islam, yang berupa kekayaan besar dari peradaban dan ilmu, terutama di bidang marifat, akhlak dan pengalaman-pengalaman di alam ruhani, semua itu tidak dapat diingkari.”

Empat imam Madzhab besar berguru kepada seorang sufi, tidak terkecuali Imam Syafi'i (Muhammad bin Idris, 150-205 H) Ulama besar pendiri mazhab Syafi’i tersebut berkata, “Saya berkumpul bersama orang-orang sufi dan menerima 3 ilmu: 1) Mereka mengajariku bagaimana berbicara, 2) Mereka mengajariku bagaimana memperlakukan orang lain dengan kasih sayang dan kelembutan hati, 3) Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf.” (Riwayat dari kitab Kasyf al-Khafa dan Muzid al Albas, Imam ‘Ajluni, juz 1, hal. 341).

Imam Ahmad bin Hambal (164-241 H) berkata, “Anakku, kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka selalu mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka adalah orang-orang zuhud yang memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi. Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” (Ghiza al Albab, juz 1, hal. 120 ; Tanwir al Qulub, hal. 405, Syaikh Amin al Kurdi).