Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah. http://www.sttgarut.ac.id/

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998 dan terakreditasi B. http://informatika.sttgarut.ac.id/

Rinda Cahyana

Dosen PNS Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, dpk Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Senin, 30 Juli 2018

Mengawal Generasi Digital

PRODUKTIF DENGAN INTERNET

Menurut laporan APJII, internet di Indonesia paling banyak digunakan dlm bidang Pendidikan adalah utk membaca artikel dan video. Dgn demikian produk industri konten yg dapat dihasilkan dan dimanfaatkan oleh pelajar adalah artikel dan video. Tidak heran banyak pelajar yg sukses menjadi seleb atau ikutan di medsos dan menghasilkan banyak rupiah.

Internet memberikan kesempatan konsumen yg lebih luas, dan materi produksi yg lebih banyak. Sementara pengikut medsos yg banyak memberikan keuntungan kompetitif bagi produsen konten.

Pelajar sekarang yg merupakan Digital Native mampu Multitasking dgn bantuan TIK. Mereka bisa menerbitkan artikel atau video di internet dan menghasilkan uang tanpa mengganggu kegiatan belajar. Hanya saja perlu pendampingan utk memastikan produk industri kontennya tdk destruktif.

KONSELOR DUA ALAM

Secara khusus guru BK dan dosen wali berperan sebagai konselor bagi peserta didik, diantaranya agar ancaman yg mempengaruhi proses pengajarannya bisa ditangani. Lingkungan eksternal sekolah merupakan salah satu sumber ancaman yg meliputi keluarga dan kawan bermain / masyarakat.

Internet telah melebarkan lingkungan eksternal sekolahnya menjadi lebih luas lagi. Hal tsb membuat ancamannya menjadi semakin besar. Banyak pengguna internet yg memanfaatkan komunitas maya utk berperilaku buruk yang berdampak buruk bagi diri, orang lain, dan masyarakat luas. Dan peserta didik yg memasuki komunitas maya dapat menjadi pelaku dan mangsa di ruang bebas tersebut.

Adakalanya perilaku buruk di dunia maya turut berpengaruh pada perilaku di dunia nyata. Dan Konselor memastikan perilaku buruk peserta didik dapat dikendalikan atau diperbaiki agar luaran pembelajaran terkait sikap bisa dicapai serta proses dan lingkungan pengajaran tetap kondusif.

Dunia nyata dan maya memberikan pengaruh terhadap perilaku peserta didik, oleh karenanya setiap konselor jaman now harus terhubung ke internet, memiliki akun, dan memasuki komunitas maya yg dikunjungi oleh para peserta didik. Konselor harus memahami perilaku di komunitas maya agar dapat meracik obat yg tepat utk mengobati perilaku buruk peserta didiknya.

Lebih jauh, konselor, sekolah, atau pemerintah hrs memiliki sistem pendidikan yg mampu mengembangkan karakter digital nusantara yg cerdas (sikap aman bagi semua orang), kreatif (keterampilan menghasilkan konten unik dan berkualitas), dan produktif (keterampilan membagikan konten yg bermanfaat / menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain) dgn menjadikan nilai dan norma budaya nusantara dan agama yg dianutnya sebagai insfirasi dan batasan.

Rinda Cahyana, Lembang, 29 Juli 2018

Minggu, 29 Juli 2018

Google Earth Outreach untuk Peningkatan Kapasitas


Bersama Manajer Program Tomomi Matsuoka

Hari itu Leni Fitriani memberi kabar melalui WA (Whatsapp) bahwa pengajuannya untuk ikut serta dalam kegiatan Google Earth Outreach perdana ditanggapi oleh Google. Saya pun cek email, dan ternyata juga disetujui. Masalahnya adalah lokasinya di Jakarta dan pelaksanaannya pagi hari. Seharusnya ada tiga orang dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang ikut dalam kegiatan tersebut. Tapi ternyata ibu Dewi Tresnawati batal mendaftar. Jadi dosen yang ikut dalam kegiatan peningkatan kapasitas tersebut hanya saya dan Leni Fitriani.

Saya memikirkan dua pilihan pergi ke lokasi kegiatannya, yakni berangkat dari Garut pukul dua pagi dan langsung mengikuti kegiatan atau berangkat satu hari sebelumnya dan menginap. Tidak lupa saya mencari cara agar ada bantuan dana untuk keperluan kegiatan tersebut. Sumber pertama dana tidak cair, tetapi syukurlah masih ada dana bantuan alumni untuk Tridharma yang bisa dimanfaatkan. Leni Fitriani siang itu mencari penginapan termurah di daerah terdekat.  

Malam itu Leni Fitriani datang diantar suaminya ke rumah. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 19.30. Malam itu kami berangkat bersama adik dan anak Leni Fitriani yang masih balita. Perjalanannya sempat delay 1 jam di tol karena jaringan Mandiri sedang gangguan sehingga kartu e-tol nya tidak bisa diisi. Tadinya mau isi di buah batu, ternyata macet total. Akhirnya putar balik menuju Cileunyi dengan keyakinan di gerbang sana relatif tidak macet. Dan di mini market daerah Cileunyi akhirnya saya membeli kartu baru dari BCA. Perjalanan menuju jakarta pun dimulai ulang dari gerbang tol Cileunyi sekitar pukul 22.00. 

Setelah menempuh perjalanan panjang, kami pun sampai pukul 01.30 di hotel. Sempat kebingungan menemukan hotelnya karena Google menyatakan kami telah sampai, tetapi yang kami lihat adalah pintu masuk yang tertutup pintu seng. Saya pun bertanya ke beberapa pemuda yang duduk di warung. Setelah pemuda tersebut menunjukan lokasinya, kami pun tertawa. Ternyata hotelnya berada di depan kami, hanya perlu belok kanan dan turun ke bawah. 

Selepas  masuk kamar, ternyata saya tidak bisa langsung tidur karena harus berjuang membunuh nyamuk yang beterbangan. Beginilah akibatnya kalau memutuskan menginap di hotel termurah, hehehe. Tadinya mau tanya ke Leni Fitriani di kamar sebelah soal nyamuk ini, tapi nampaknya sudah tidur karena statusnya akun medsosnya offline. Hotelnya memang merupakan hotel lama, beberapa bagian di dalam kamar nampak tidak terawat. Dan satu objek yang membuat saya tidak nyaman adalah lukisan wanita di dinding kamar dengan mata besar, serem.

Pagi hari, tanggal 28 Juli 2018, kami sarapan di warung kopi dekat hotel. Luar biasanya harganya tidak sampai 50 ribu untuk makan kami bertiga. Saya dan Leni Fitriani berangkat ke lokasi menggunakan Grab, sementara adik dan anaknya menunggu di hotel sampai sore nanti. Lokasi Google Indonesia tidak jauh dari hotel, hanya butuh beberapa menit saja.


Di lokasi kami diminta untuk sarapan dulu oleh panitia. Saya tidak bisa menambah makanan ke perut lagi setelah menyantap bubur kacang hijau di warung tadi. Saya memilih untuk meminum air lemon saja, siapa tahu bisa langsing, hahaha. Di lokasi sarapan itu saya ngobrol dengan panitia Google. Mereka sangat apresiasi terhadap kami yang datang jauh-jauh dari Garut.

Di dalam kelas saya mendengarkan beberapa materi seputar Google Map Tools. Materinya disampaikan dalam bahasa inggris oleh pemateri dari luar negeri, dan dalam bahasa indonesia oleh beberapa pemateri dalam negeri. Semua materi telah disiapkan oleh panitia sehingga bisa dibagikan langsung ke teman-teman dosen melalui WA Groups. Saya melihat beberapa materi bisa diterapkan dalam matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar serta Data Spasial. Beberapa teknologi yang dibuat oleh mahasiswa bimbingan saya sejak tahun 2002 juga menerapkan Google Maps. 


Kegiatan hari itu ditutup dengan Hackathon. Saya satu kelompok dengan kang Unggul Sugena yang sama-sama dari Relawan TIK Indonesia pusat. Setelah diskusi dengan seluruh anggota kelompok, kami memutuskan untuk mengangkat literasi digital untuk Term of Reference yang kami buat dan akan dipresentasikan. Berbagai kasus pelanggaran UU ITE kami petakan dengan My Maps. Sebenarnya juga bisa diterapkan dengan Google Expedition, hanya saja waktunya tidak cukup. Syukurlah tabel datanya tersedia di situs web pegiat kebebasan informasi di Indonesia, hanya tinggal melengkapi dengan koordinat lokasi kejadian perkaranya saja yang saya dapatkan dari Google Maps.

Selepas foto bersama, kami diminta untuk makan malam. Saya pun beranjak ke dapur Google untuk makan malam dan duduk di meja sendirian. Tiba-tiba Tomomi Matsuoka yang menjadi manager program tersebut duduk di depan dan mengajak berbincang seputar kegiatan. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau karena sudah menyediakan program yang bermanfaat tersebut untuk kami. Beliau kaget karena saya tiba di Jakarta pukul 01.30 hanya untuk mengikuti kegiatan ini. Saya katakan, usaha apapun harus dilakukan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan. Beliau mengacungkan jempol begitu mendengarkan pernyataan tersebut. 

Saya meminta beliau untuk foto bersama, dan beliau berkenan, asal tidak dilokasi dapur. Beliau bilang ada aturan yang tidak memperbolehkan personel Google berfoto di dapur. Tiba-tiba Leni Fitriani mengambil foto saat kami berbincang, dan langsung saja Tomomi meminta agar tidak memfoto, hehehe. Fotonya saya tampilkan di sini bukan karena tidak menghormati aturan tersebut, tetapi menunjukan potret keramahan personel Google yg lebih penting dari  pada peraturan tersebut.


Malam itu sekitar  pukul 19.00 kami pulang dengan was-was, karena menurut aturan kendaraan yang boleh keluar Jakarta adalah genap. Sementara mobil saya bernomor ganjil. Syukurlah dari hotel ke tol dalam kota hanya melewati satu jalan reguler saja. Kami berhasil memasuhi tol dalam kota tanpa kendala. 

Di daerah bekasi Google memberi rute ke luar tol dengan alasan ada kemacetan panjang. Saya agak khawatir karena tidak tahu medan di sana sehingga memutuskan untuk tetap berada di jalan tol. Ternyata memang benar, beberapa ratus meter kemudian saya melihat antrian yang sangat panjang dengan kecepatan kendaraan tidak sampai 10 km / jam. Syukurlah suara Google yang saya rindukan muncul. Sistem cerdas itu memberi kabar adanya jalan alternatif yang bisa memangkas waktu perjalanan hingga satu jam. Setelah diskusi dengan Leni Fitriani, kami pun memutuskan untuk mengikuti saran Google. 

Jalan yang diberikan Google itu menyusuri pinggiran sungai besar. Kecepatannnya jauh lebih baik dari pada di tol tadi. Dan akhirnya kami masuk lagi ke gerbang tol dan bertemu dengan ujung kemacetan di tol. Beberapa ratus meter kemudian, kami pun bebas dari kemacetan. Dan ternyata bensin sudah mulai menipis sehingga kami menepi ke rest area. Sempat mau mundur isi bensin karena self service, tetapi syukurlah ada petugas POM yang mau bantu.

Akhirnya kami sampai di Garut sekitar pukul 00.30. Saya langsung mengantar Leni Fitriani bersama adik dan anaknya ke rumahnya di daerah Bagendit. Dan sesampainya di rumah, saya sedikit icip-icip cookies Google sebelum tidur pulas. Dua hari itu bermanfaat karena ada bekal pengetahuan yang bisa digunakan dan diajarkan kepada mahasiswa dan masyarakat. Dan pagi ini saya harus lekas tidur karena besok pagi harus mengisi materi kegiatan Disdik Jawa Barat di Lembang.