Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2018

Coba Jalur Tol Cileunyi - Cipali Menuju Subang


Hari Sabtu tanggal 24 Maret 2018 saya sekeluarga mudik ke Subang dari Garut. Rute biasanya yang kami gunakan adalah melalui Rancakalong. Tetapi istri males melewati jalan mengularnya dan meminta agar melewati Lembang. Setelah salat di masjid dekat rumah makan Astro, saya pun langsung mengarah ke Cileunyi dan tidak belok kanan ke arah Parakan Muncang. 

Saat laju kendaraan mulai melambat di daerah Rancaekek, istri saya menghawatirkan macet hari Sabtu di daerah Bandung. Saya pun membayangkan arus masuk melalui tol Pasteur yang biasa saya lewati menuju ke Subang. Akhirnya saya memutuskan untuk menepi di Rest Area baru di daerah Tegal Luar Bojong Soang Bandung, beberapa km dari gerbang tol Cileunyi. Seperti biasa saya coba bertanya ke Google untuk mengetahui rute tercepat. Ternyata menurut kalkulasi Google rute paling cepat adalah melalui jalan tol. 

Menurut Google, rute menuju Subang lewat tol Cipularang sekitar 3 jam 11 menit, lewat Rancakalong sekitar 3 jam 19 menit, dan lewat Cikalong Wetan sekitar 3 jam 51 menit.

Dulu saya pernah coba rute ini dari Subang menuju Cileunyi, dan menghabiskan jarak dan biaya tol yang lumayan. Dan istri saya ternyata ingin menggunakan rute yang dipilihkan Google. Berdasarkan itu semua saya putuskan untuk mengisi token tol dan isi bensin dulu di Rest Area tersebut. Setelah itu kendaraan pun melaju mengikuti petunjuk Google. Saya tidak ingin lepas dari navigasi Google karena khawatir salah mengambil jalan keluar seperti pengalaman sebelumnya.

Tol Cikopo-Palimanan merupakan jalur baru sehingga belum ada plang arah ke Subang di titik putarannya. Sebenarnya di tengah perjalanan ada plang arah ke Subang, tetapi Google menunjukan arah keluarnya bukan dari tol Cikopo tetapi menuju Cikalong. Titik putarannya ada di daerah Cikampek, dengan tanda petunjuk Bukit Indah, Cikampek, Cirebon. Lebih mudah patokannya adalah jembatan Kota Bukit Indah yang melintang di jalan tol.


Dari Rest Area hingga gerbang tol Subang hanya membutuhkan waktu 1 jam 39 menit dengan jarak tempuh 132 km.  Berarti kecepatan rata-rata saya saat itu sekitar 80 km/jam.  Tarif tol yang harus saya bayar untuk perjalanan dari gerbang tol Cileunyi hingga gerbang keluar tol Cikopo-Palimanan adalah 83500 rupiah.  


Kesimpulannya, bagi anda yang ingin pergi ke Subang dan senang dengan rute tidak mengular, maka jalan tol Cikopo-Palimanan adalah pilihan terbaik, tetapi harus mengisi bahan bakar ekstra dan membayar uang tol. Rute Rancakalong sebenarnya menyenangkan walau mengular, karena banyak pemandangan alam yang bisa dilihat. Bahan bakar relatif lebih sedikit dan tentunya uang tol nya bisa digunakan untuk tambahan uang cemilan di jalan, hehehe.

Senin, 04 Desember 2017

Apa Kegunaan Kendaraan Buat Dosen ?


Kendaraan membantu mobilitas dosen, terlebih dosen dengan tugas tambahan yang menduduki posisi jabatan di kampus. Dengan terbatasnya kendaraan operasional di kampus, adakalanya dosen memerlukan alternatif kendaraan, mulai dari kendaraan umum, kendaraan rental, hingga kendaraan pribadi. Dalam tuntutan pekerjaan yang membutuhkan fleksibilitas dan kecepatan, pilihan menyewa kendaraan rental diambil oleh dosen. Namun adakalanya biaya operasional tidak cukup untuk menyewa kendaraan, sehingga terpaksa dosen harus menggunakan kendaraan umum dengan resiko tidak tepat waktu, atau membeli kendaraan pribadi yang menjanjikan lebih banyak fleksibilitas. 

Jenis kendaraan yang dipilih oleh dosen tergantung jarak tempuh ke lokasi kegiatan. Untuk kegiatan di dalam kota, mungkin mobil berumur tua cukup bagi dosen. Tetapi untuk jarak jauh, pilihan umumnya adalah kendaraan yang berumur relatif muda. 


Untuk kendaraan yang hanya digunakan sendirian, mungkin kendaraan dengan jumlah jok empat cukup memadai. Tetapi kalau dalam pengabdian kepada masyarakat sering melibatkan mahasiswa atau kolega, kendaraan dengan jumlah jok lebih dari empat sangat direkomendasikan. Kalau tidak cukup dana, yang penting kendaraannya ada jok penumpangnya dan bisa digunakan, hehehe.

Kendaraan pribadi tidak lagi diperlukan saat dosen mengikuti studi lanjut, seandainya kendaraan memang disediakan oleh dosen hanya untuk mendukung tugas fungsionalnya. Tetapi kita tahu kalau dosen tidak semuanya jomblo, ada banyak yang sudah berkeluarga, dan bahkan sudah memiliki satu anak atau lebih. Pak polisi selalu memberi tahu kalau kendaraan roda dua itu tidak boleh digunakan oleh lebih dari dua penumpang, sehingga anak dan istrinya tidak bisa diangkut sekaligus. Oleh karenanya, tidak sedikit dosen yang kemudian memutuskan untuk menggunakan kendaraan umum, kendaraan rental, atau memaksakan diri memiliki kendaraan roda empat untuk kebutuhan keluarganya.


Apapun pilihannya, yang jelas dosen juga manusia, punya keluarga yang harus dilindungi dan dibuat nyaman. Kepentingan keluarga dan pekerjaan harus diperhatikan dengan seimbang oleh dosen. Seiap dosen pasti akan berkata, "Tidak ada satupun manusia yang bisa diharapkan untuk memperhatikan dengan penuh keluarga kita melainkan diri kita sendiri". 

Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa dosen menggunakan atau memiliki kendaraan adalah karena tuntutan pekerjaan tridharma serta memiliki tanggung jawab untuk melindungi dan membuat nyaman keluarganya. Selain itu hanya dosen entepreneur dan "gaya hidup" yang tahu, hehehe.

Kamis, 01 Desember 2016

Langkah kaki dzikrullah


Perjalanan santri Ciamis ke Jakarta untuk mengikuti dzikir bersama ini mengingatkan ku akan kebiasaan di masa muda dulu setiap bulan Ramadhan baik sendirian atau bersama kawan Generasi Muslim al-Muhajirin (GMA) di Subang.

Masih teringat di masa lalu pada bulan Ramadhan aku pernah bertekad untuk menghabiskan waktu puasa hingga berbuka dengan berjalan kaki, dan akan berhenti untuk melaksanakam salat Dzuhur di masjid Ghafarana dan salat Ashar di masjid SMAN 1 Garut. Saat itu liburan panjang kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang kebetulan bertepatam dengan bulan suci Ramadhan. Dan tekad itupun dilakukan, di tengah teriknya matahari yg kala itu aku masih terbiasa dengan panasnya.

Saat waktu Ashar tiba seperti yg telah direncanakan aku melaksanakan salat di masjid almamater, sambil mengenang kegiatan dulu di sana baik sendirian ataupun bersama teman sekelas seperti Andin dan Eko. Saat bersekolah dulu di sana aku sering menyempatkan setiap hari bersama beberapa teman kelas untuk melaksanakan salat Duha, sampai terasa panggilannya seperti salat wajib saja. Istirahat kedua sering ku habiskan dengan membaca buku agama di perpustakaannya. Ingatan ke masa lalu itu membuat ku merasa senang bisa berkunjung ke sana lagi.

Nampak di sana ada kumpulan remaja masjid. Akupun menyapa dan memperkenalkan diri sebagai alumni di sana. Rupanya perbincangan tersebut menarik bagi salah seorang remaja masjid di sana sehingga kami diskusi soal keagamaan lumayan lama. Aku lupa siapa namanya, namun ku lihat ia begitu antusias menyimak apa yg biasa kami selaku kakak kelasnya lakukan di masjid tersebut.

Perjalanan di bulan Ramadhan ini merupakan salah satu kegiatan yg pernah diselenggarakan oleh GMA, di mana aku saat itu masih duduk di bangku SMA. Malam itu kami semua berkumpul dan membawa obor. Barisan putera berbaris paling depan, sementara puteri di belakang. Kami semua menembus gelapnya malam, masuk ke dalam hutan seraya mengumandangkan dzikrullah. Ini mirip kegiatan kepramukaan. Wajarlah karena saya dan beberapa pengurus, seperti mas Muriyanto dan teh Siti Rodiah adalah aktivis Pramuka.

Rupanya rombongan kami ini membuat warga di tengah hutan keluar. Walau demikian mereka menyambut kami dengan baik. Malam itu kami menghabiskan malam di sebuah masjid.

Dalam kesempatan Ramadhan lainnya kami lakukan di waktu siang hari. Rutenya sama, melalui jalan ke dalam hutan dari TPU dan melintasi sungai hingga keluar dari BTN Ciheuleut. Seperti dulu di sepanjang jalan kami melantunkan dzikrullah. Di tengah perjalanan kami beristirahat di masjid kampung.

Ingat saat itu saya menyempatkan diskusi dengan Nursadiah Siti Mariam, salah satu pengurus lembaga pendidikan dan dakwah. Dia menanyakan tentang sesuatu yang entah kenapa jawaban yang ku temukan di dalam benak ini selalu memiliki tiga cabang, di mana setiap cabangnya bercabang lagi. Hal tersebut memberi banyak pengetahuan baru sehingga hari itu memberikan manfaat yang banyak.


Senin, 17 Oktober 2016

Kue Ulang Tahun


Ada kejadian yang menyentuh dua hari setelah pembentukan Komunitas TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Garut, yakni saat mahasiswa saya dari KP (Kelompok Penggerak) TIK, Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika, dan Himpunan Mahasiswa Teknik Komputer membuatkan kue ulang tahun dengan logo KPTIK di atasnya. Pada awalnya mereka khawatir karena saya tidak pernah merayakan ulang tahun, tetapi kemudian suasana menjadi cair setelah kita semua menikmati kue tersebut. Saat itu saya mengucapkan terima kasih, dan memberikan penghargaan kepada mereka yang telah bersusah payah membuat kue bernuansa KPTIK tersebut. Saya berharap kue tersebut merupakan tanda kesuksesan memberi manfaat kepada mereka di luar kegiatan perkuliahan. 

Mereka memang generasi pilihan yang hidup pada masa di mana perkumpulan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut bergerak ke luar menghimpunkan perkumpulan TIK sekolah dalam satu wadah bernama KPTIK pelajar. Mereka yang pertama berinteraksi dengan relawan TIK internasional dari Korea Selatan, pengelola pertama Pesantren Teknologi Informasi tujuh hari, dan ikut dalam pembentukan Komunitas TIK Garut sebagai medium kerjasama Komunitas dan Relawan TIK se Garut.

Suasana seperti itu ternyata tidak hanya berlangsung di luar kelas. Saya juga diberi kejutan oleh mahasiswa Teknik Informatika kelas A di dalam kelas. Mereka tiba-tiba mengeluarkan kue ulang tahun dan menyalakan lilinnya. Saya berterima kasih atas perhatian mereka dan mengatakan sambil tersenyum jika kue ini tidak akan mempengaruhi nilai akhir matakuliah. Saya menganggapnya sebagai bentuk perhatian tidak hanya kepada saya sebagai dosennya tetapi juga kepada saya sebagai kakak tingkatnya, karena kebetulan saya adalah alumni Teknik Informatika STT Garut angkatan kedua. 

Kue ulang tahun ini memang habis tidak perlu waktu lama, tetapi kenangannya tersimpan dalam waktu yang lama. Bagi saya kejadian tersebut memberi tahu bahwa hubungan pendidik dan peserta didik sudah seharusnya cair agar tidak ada hambatan transfer pengetahuan. Seorang pendidik harus memberikan banyak manfaat kepada muridnya agar suatu saat nanti kita mendapatkan bonus kesenangan saat mendapat kabar kesuksesan mereka. Saya berpegang pada ajaran dalam agama ini, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang banyak memberi manfaat kepada orang lain. Kebaikan itu akan berbalas kebaikan, tetapi kebaikan yang sesungguhnya itu adalah kebaikan yang abadi yg diterima dari amal saleh murid hingga tempat indah di akhirat sana.

Minggu, 07 Agustus 2016

Satu Slide untuk Satu Pengetahuan

Dalam penyiapan slide ini saya selalu mengamalkan ajaran guru saya Dr Husni Sastramiharja dalam kesempatan kuliah dulu di ITB untuk dapat menyampaikan banyak hal hanya dengan menggunakan slide minimalis. Beliau dalam kesempatan pembelajaran tatap muka di kelas memberi contoh dengan membahas topik berbeda hanya dengan menggunakan slide yang sama selama lebih dari satu pertemuan. Dari pengajaran beliau saya faham bahwa bakat yang saya dapatkan pada saat SMA dulu bisa digunakan untuk mengamalkan ajaran beliau, yakni membuat model rancangan organisasi yang membahas kelengkapan organisasi hanya dalam satu gambar saja. 

Sejak mendapatkan pengajaran tersebut saya membiasakan diri untuk menyampaikan satu tema pengetahuan menggunakan bahasa visual hanya satu slide saja. Memodelkan pengetahuan ini juga terbantu oleh pengetahuan dan keterampilan pemodelan analisis dan desain yang diperoleh saat kuliah strata satu Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ajaran Dr Husni "Satu bab tesis satu slide" saya ajarkan kembali kepada mahasiswa bimbingan, sehingga saya selalu protes jika mahasiswa bimbingan menyalin kalimat yang ada dalam laporan Tugas Akhir ke slide presentasi mereka.  

Slide bab I Tesis

Senin, 13 Juni 2016

Aku dan Membaca


Dgn membaca saya memahami, dgn membaca saya dipengaruhi dan berubah, dgn membaca dunia ini nampak menjadi luas dan kita terlihat kecil.

Di penghujung pertemuannya, guru saya Ir. Kridanto Surendro, M.Sc, Ph.D mengatakan bahwa belajar membaca sangatlah penting bagi kami. Saya menginsyafi ini dan membenarkannya, berdasarkan pengalaman belajar baik bersama beliau atau di kelas lain saat kuliah Pascasarjana Informatika konsentrasi Sistem Informasi di Institut Teknologi Bandung. Saya membenarkan karena mengingat pengalaman Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama di gua Hira, "Iqra", yang berarti Bacalah. Saat pertama kali mengikuti matakuliah beliau terkait sumber daya manusia dalam Sistem Informasi, ada kesenjangan pengetahuan yang menyebabkan saya tidak bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Hal tersebut membuat saya gelisah, hingga teman sebangku menenangkan dan mengatakan bahwa suatu saat saya akan dapat memahaminya. Kesenjangan tersebut terjadi karena selama kuliah strata satu Teknik Informatika, dominasi pengetahuan dan pengalamannya di sisi perangkat lunak. 

Dan guru saya tersebut membuat kesenjangan itu mulai berkurang setelah memberikan banyak tugas membaca dan meringkas literatur di setiap matakuliah yang diampu oleh beliau. Tata bahasa Indonesia saya sempat kacau karena terpengaruh kebiasaan membaca literatur berbahasa inggris, tetapi berkat mebaca itu saya melihat banyak dunia Sistem Informasi yang selama ini hanya saya lihat seakan dari lubang jarum saja. Banyak kekeliruan pemahaman yang berhasil diluruskan selama kuliah Pascasarjana, khususnya terkait perbedaan dan hubungan antara Sistem Informasi dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Rasa syukur itu membuat saya meminta kesediaan beliau untuk memberikan seminar di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar pencerahan tersebut tidak hanya dinikmati oleh saya saja tetapi juga oleh sivitas akademik  Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 


Ketertarikan saya kepada buku berawal dari kegiatan meminjam buku di Perpustakaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Subang yang kebetulan dekat dengan Sekolah Dasar Negeri Panglejar Subang tempat saya belajar saat itu. Jika tidak karena diajak oleh teman mengunjungi Perpustakaan, mungkin saya tidak akan pernah punya ketertarikan mengunjungi Perpustakaan. Berada di sekitar teman yang mengajak kepada kebaikan itu karunia yang perlu kita syukuri hingga akhir hayat. 

Buku yang paling saya minati dan sering saya pinjam saat itu adalah kategori cerita. Seakan saya masuk dalam pengalaman anak-anak dalam cerita tersebut. Mungkin inilah yang menyebabkan saya dapat membuat cerita fiksi berdasarkan pengalaman main saya di proyek tol dekat perumahan Bale Endah Bandung dengan kang Gigin Destriana (Putera Kakak nya Ibu). Sebab lainnya mungkin karena kebiasaan saya kalau hujan tiba suka terkurap di atas kasur tingkat ke dua dan melihat ke luar jendela tepat ke halaman samping rumah tetangga. Di sana ada sebidang tanah yang selalu kebanjiran. Saat kecil itu saya sering membayangkan sebidang tanah itu sebagai wilayah yang dihuni, ada rumahnya, situs purbakala yang mengandung fosil Dinosaurus (aslinya kerangka cicak, hehehe), dan bahkan sempat membuat peta wilayah dan peta bencana banjirnya. Sekarang rumah tetangga berikut halamannya menjadi rumah teh Reti. Sesekali saya juga sering nongkrong di puncak atap rumah (kok tidak merasa panas ya saat itu?), melihat gumpalan Awan yang memicu cerita negeri di atas awan.

Kembali ke cerita fiksi pertama yang tertulis di atas kertas. Cerita tersebut diketik dengan menggunakan mesin tik punya teh Ida, kakaknya kang Gigin Destriana, pengalaman pertama mengetik dengan mesin tik menggunakan jari sebelas ... maksudnya dua telunjuk, hehehe. Sayangnya kertas itu tidak saya simpan, tapi saya sedikit ingat isi cerita itu mirip lamunan tentang halaman tetangga saat hujan tiba. Sempat mendengar kakak mengadu kepada Uwa karena mungkin pita ketiknya habis oleh saya, hehehe ... tetapi Uwa mendukung apa yang saya lakukan. Saya tidak terpengaruh atau merasa bersalah telah menghabiskan pita ketik tersebut, mungkin saat itu karena saya masih kecil lebih banyak memperhatikan keinginan. Sejak saat itu saya menikmati menulis cerita dan selalu ingin memiliki mesin tik, walau kenyataannya tidak pernah dimiliki hingga sekarang. Karena ngetiknya sudah jaman komputer, hehehe. Alhamdulillah, orang tua memberikan Komputer dan Printernya menjelang lulus kuliah strata satu. Dengan Personal Computer tersebut saya menghasilkan banyak tulisan mulai dari buletin hingga surat untuk sahabat pena. 

Di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 2 Subang, saya aktif di Kepramukaan. Bahkan dipercaya oleh teman-teman sebagai ketua Dewan Penggalang dan Pemimpin Regu Utama. Saya memahami sejak saat itu saya selalu memikirkan hal-hal yang tidak sederhana untuk organisasi, seperti melengkapi ruang sekretariat dengan kursi-kursi belajar untuk pertemuan. Kursi-kursi tersebut saya ambil dari gudang dan diperbaiki bersama pengurus Dewan Penggalang. Selain itu, yang terpenting dari kegiatan berorganisasi tersebut adalah kegiatan membaca. Untuk dapat mengajarkan materi kepramukaan kepada adik kelas, saya membaca Buku Agenda Pramuka milik teh Rita Sulistiana, kakak kedua yang juga sempat aktif di Pramuka saat belajar di SMP Negeri 2 Subang. Ternyata catatannya lengkap juga, tidak seperti saya yang tidak punya catatan Pramuka sama sekali, hehehe. Buku tersebut membuat saya memahami sandi dan mulai membuat sandi sendiri dan diajarkan kepada para pengurus Dewan Penggalang dan adik-adik Pramuka. Sandinya apa saya lupa lagi, mungkin Indri Novianti (rekan pengurus) dan Indri Virgianti (adik yang diajari) masih mengingatnya. Gaya miring dalam foto berbaju Pramuka lengkap di bawah ini terpengaruh oleh Baden Powel, hehehe.


Namun satu buku yang sangat berpengaruh saat itu terkait dokumentasi organisasi adalah buku yang dipinjamkan oleh kak Endin, ketua Dewan Penggalang sebelumnya. Saat perkemahan di kampus, beliau datang dan berbincang seputar Kepramukaan. Beliau lalu meminjamkan buku Kepramukaan tentang tata surat dan lainnya. Melalui buku tersebut saya memahami gaya penulisan surat, termasuk urutan nama organisasi. Kalau sistem penomoran suratnya saya belajar banyak dari kak Endang Morse, saat menjadi panitia kegiatan. Buku inilah di antaranya yang menyebabkan laporan pertanggung jawaban saya sebagai ketua PMR (Palang Merah Remaja) Wira Patut saat belajar di SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 1 Subang sangat tebal. Sampai saya yang memberi masukan kepada tukang jilidnya agar laporan dengan sampul emas tersebut dipaku saja agar dapat bersatu. 

Belakangan Aria Dinda Dwi Sevta, rekan pengurus PMR menceritakan kalau Pembina PMR saat itu berfikir laporan tebal tersebut berikut apa yang tertulis di dalamnya (tata organisasi dan pasukan khas, serta dokumentasi organisasi) bukan saya yang buat, karena tidak mungkin dihasilkan oleh anak seusia saya. Padahal laporan itu benar-benar dibuat oleh saya, dalam pengaruh buku yang dipinjamkan oleh kak Endin dan buku-buku pemerintahan yang saya baca di Perpustakaan SMA Negeri 1 Subang.


Hal yang membuat kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Subang tidak mengasikan adalah saat alumni datang. Sudah jadi kebiasaan kakak-kakak ini mulai melakukan uji mental. Kami semua sangat takut saat kegiatan itu dimulai. Ujian yang masih saya ingat adalah saat satu regu yang bercampur putera dan puteri kami dibariskan. Lalu kertas dimasukan ke mulut anggota regu pertama, setelah itu berpindah ke muluh anggota regu di sebelahnya. Waktu itu mungkin karena berada dalam tekanan, saya tidak merasa jijik, atau mungkin karena kertas itu berasal dari mulut teman perempuan yang didorong-dorong alumni untuk dekat dengan saya, hehehe. Jangan berfikir macam-macam, kertas itu tentu saja bukan dipindahkan oleh mulut ke mulut, tapi dari mulut ke tangan lalu ke mulut, hehehe. Tidak ada pengalaman bersentuhan mulut dengan lawan jenis selama aktif berorganisasi, bahkan saat belajar teknik pernafasan buatan di PMR Wira Patut sekalipun. 

Hal lain yang paling tidak asik adalah saat berhadapan dengan konflik dengan sesama pengurus, mendengar kabar dari adik Pramuka saya dijelek-jelekan, dan lain sebagainya. Pengalaman seperti itu tidak asing sebenarnya bagi saya, karena di lingkungan rumah pun kumpulan anak tetangga yang nakal suka melakukan hal yang sama. Tetapi mungkin saat itu saya belum siap sehingga hal tersebut menyebabkan tekanan yang memicu amarah. Semuanya sedikit mereda setelah bertemu dengan mas Yudho di jembatan Masjid al-Muhajirin. Beliau memberi nasihat dan meminjami buku Minhajul Abidien. Buku tersebut sangat berpengaruh dan membuat orientasi hidup saya berubah. Buku itu pula yang menyebabkan saya memutuskan untuk tidak ingin bergabung lagi di Kepramukaan dan memilih PMR saat belajar di SMA Negeri 1 Subang walau dibujuk Pembina. Saking berpengaruhnya, saya membuat tulisan di atas secarik kertas dan menyisipkannya di buku tersebut. Terakhir melihat buku tersebut, kertasnya masih ada pada buku tersebut. Saya sudah tidak ingat apa isi tulisannya.

Buku tersebut membuat saya memiliki jati diri, mengagumi akhlak mulia, dan bahkan mencegah saya untuk memperhatikan rasa suka terhadap wanita semata karena berfikir merasa belum layak untuk memiliki dan dimiliki. Delapan tahun ke depan saya benar-benar menjadi Jomblo yang diniatkan, hehehe. Buku itulah yang menyebabkan saya tertarik membaca banyak literatur agama, mulai dari hadits pilihan milik teh Reti hingga buku sekelas al-Hikam. Buku yang disebut terakhir ini diberi tahu oleh mas Yudho dan saya temukan beberapa waktu kemudian di Perpustakaan Masjid SMA Negeri 1 Subang. al-Hikam mewariskan kekuatan pendorong yang membuat saya dapat berjalan di dunia spiritual tanpa perlu menggunakan kaki. Baik Minhajul Abidien dan al-Hikam, keduanya saya khatamkan berkali-kali. Rasanya tidak puas meneguk keajaiban di dalamnya. Karena dua buku ini lah Aria Dinda saat di SMA menyebut saya unik dan perlu dilestarikan (memangnya hewan langka, hehehe), dan kang Ishak saat di pelataran masjid kecil al-Musaddadiyah mengatakan pemikiran saya melampaui usia. Saat itu saya sama sekali tidak menyadarinya, semata mengikuti apa yang saya yakini dari literatur-literatur yang dibaca. 

Dua buku ini kelak pada masa-masa kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, membukakan pintu perjalanan menuju berbagai literatur di lingkungan Tarikat Syadziliyah, yang karena pengaruh dan keajaibannya itu saya memberi nama anak kedua Syazwan asy-Syadziliyah, sebagai tanda kesyukuran. Sementara nama anak pertama saya, Syauqi Ahmad Nurulloh merupakan gubahan dari Muhammad Syauq Ridha Nurulloh, nama yang saya buat untuk diri sendiri dalam perjalanan tersebut tahun 2002. Nama yang kemudian diyakini menjadi nama anak pertama saya, sehingga walau USG menunjukan anak saya perempuan, saya berkeyakinan dia pria karena namanya adalah Muhammad Syauq Ridha Nurulloh.


Saat di SMA Negeri 1 Subang saya bertekad kuat untuk membiasakan diri mengunjungi Perpustakaan. Alhamdulillah, Allah menolongnya sehingga saya rutin mengunjungi Perpustakaan dan membaca sejumlah literatur di sana, mulai dari ilmu teknik hingga pemerintahan. Bukan hanya perpustakaan umum saja, tetapi juga perpustakaan masjid. Ilmu pemerintahan yang diperoleh dari Perpustakaan membangun kemampuan saya dalam mengembangkan organisasi PMR dan BPH GMA (Badan Pelaksana Harian Generasi Muslim al-Muhajirin). Kombinasi daya hayal yang dulu membuat saya dapat membuat cerita fiksi dengan asupan pengetahuan dari Perpustakaan memunculkan kemampuan baru, yakni pemodelan konseptual. Bahkan digabungkan dengan film kartun Saint Seiya, membuat saya mendapatkan ide wujud logo Satuan Jihad GMA, hehehe.


Satuan Jihad merupakan Satuan Pengamanan untuk kegiatan Perkemahan Islami yang digelar tahunan oleh GMA. Nama Jihad nya sama sekali jauh dari gagasan Islam Esktrim, karena kenyataannya GMA merupakan kumpulan anak muda dengan pemahaman Islam tradisi. Para pemipin kepengurusannya senantiasa memerangi faham esktrim. Bahkan suatu ketiak GMA bahkan pernah bersitegang dengan tetua kampung karena memainkan alat musik ala Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib di dalam masjid. Termasuk saat saya meyakini pengajian harus terpisah antara pria dan wanita sehingga duduk di belakang dinding, mas Yudho sebagai ketua umum GMA memberikan sindiran halus. Kebetulan juga salam Jihad Allahu Akbar senantiasa digunakan panitia untuk menyemangati peserta kegiatan, sehingga nama Satuan Pengamanan ini Satuan Jihad. Orang yang tidak tahu GMA mungkin saja akan bersangka-sangka saat  melihat gambar silhuet yang saya buat untuk Satuan Jihad ini yakni Ikhwan Bertopeng dengan Pisau Komando terhunus di depan wajahnya, hehehe. 

Kegiatan sebagai ketua BPH GMA menyebabkan munculnya kegiatan menulis, mulai dari konsep organisasi, ringkasan apa yang saya baca dari literatur dan saya dengar dari pengajian, hingga buletin. Secara umum produk tulisannya tidak menggunakan mesin tik. Jika kebetulan ada akses ke mesin tik di rumah mas Yudho, saya baru punya produk tulisan dengan mesin. Kegiatan membaca dan berorganisasi mendorong saya menghasilkan banyak tulisan. Berbagai persoalan dan kebutuhan dalam organisasi membuat saya berfikir, menulis, dan menyampaikannya kepada orang lain. Dan bahkan tidak hanya sebatas itu, saya juga mengajarkan dan mengajak serta teman-teman untuk mengamalkan. GMA merupakan ruang pengalaman spiritual saya, saat pertama kali jatuh dalam kesalahan membuat bid'ah prosesi dzikir bersama, namun juga merupakan saat pertama kali menerima nikmat karunia taubat dari bid'ah dhalalah yang dengan izin Allah masih kuat tertanam dalam hati hingga sekarang. Hal itu terjadi mungkin karena sedang dipengaruh oleh literatur Thariqah yang diakses di perpustakaan Madrasah Diniyah Bahrul Ulum yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan dan Dakwah GMA. Sementara karunia taubat diperoleh karena mengingat sejumlah hadits dari buku hadits pilihan milik kakak.

 
 
Produk pertama model konseptual adalah sistem organisasi BPH GMA yang mendefinisikan berbagai tingkatan pertemuan anggota dan kepengurusan serta relasi-relasi di dalam organisasi dan antar organisasi. Kebetulan saat itu saya dipercaya mas Yudho sebagai ketua BPH GMA, sehingga model konseptual tersebut saya terapkan di dunia nyata satu persatu.Kemampuan tersebut semakin terasah saat studi Sarjana di Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan Pascasarjana di Informatika Institut Tekologi Bandung. Model konseptual yang pernah dibuat mulai dari sistem organisasi Unit Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut, sistem Relawan TIK, dan sekarang sistem Rintisan Satuan Karya Pramuka Informatika. 


Bersambung ...   

Rabu, 25 Mei 2016

Begini pengalaman ku dengan BNI, bagaimana dengan kamu ?


Saya Rinda Cahyana, PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang diperbantukan sebagai Tenaga Pendidik di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Aktif sebagai PNS sejak tahun 2006, dan sejak saat itu pula aktif sebagai nasabah BNI (Bank Negara Indonesia) Syariah. Pertama kali memilih BNI Syariah karena kantor mengirimkan gaji PNS melalui rekening BNI dan saya merasa nyaman dengan Perbankan Syariah. Walau saat mendaftar di Bandung, tetapi pelayanan tetap dapat dinikmati dengan nyaman di Garut. Saat kampus menawarkan perumahan karyawan yang dibiayai BNI, saya pun mulai membuka rekening BNI non Syariah.    

Rumah Pertama yang dibiayai BNI

Sejak awal saya tertarik dengan salah satu layanan BNI yang dikenal dengan SMS (Short Message Service) dan Internet Banking. Hal tersebut boleh jadi dipengaruhi oleh gaya hidup orang informatika yang selalu berorientasi kerja efisien dengan mesin otomatis. Kebetulan saya lulusan dan dosen informatika yang selalu mengembangkan gagasan akses informasi di mana saja dan kapan saja. Layanan elektronik dari BNI tersebut merupakan bagian dari gagasan tersebut. 

Keuntungan yang diperoleh dari SMS Banking adalah mendapatkan kabar uang masuk ke rekening, dan tentu ini kabar yang ditunggu dan menggembirakan untuk pegawai dengan sistem gaji bulanan seperti saya. Sementara internet Banking memungkinkan saya untuk melalukan transaksi perbankan, seperti membeli token PLN, pulsa seluler, transfer uang, membeli tiket kereta api, termasuk membaca riwayat transaksi dalam rekening. Semuanya bisa dilakukan melalui smartphone atau laptop, tidak perlu ke luar rumah dan menggunakan ATM (Anjungan Transaksi Mandiri). Transaksi Perbankan dalam Genggaman. 



Saat melakukan restorasi dan modifikasi mobil jenis Jeep, saya banyak mendengar informasi dan berdiskusi di grup Facebook, memperoleh masukan seputar suku cadang dan aksesoris apa yang diperlukan. Kemudian saya membeli suku cadang dan aksesoris tersebut secara online dari toko online. Pembayarannya melalui Internet Banking. Prosesnya cepat sehingga barang cepat sampai di rumah dan mobil pun cepat berubah. Semua kemudahan ini terwujud karena layanan BNI, yang mampu mengikuti kebutuhan gaya hidup digital jaman sekarang. Terima kasih BNI. 

         

Kamis, 17 Maret 2016

Panggilan-Nya


Setelah mengaruniakan komitmen kembali kepada-Nya, Dia tidak perlu mengaruniakan kata siap dari lisan hamba-Nya saat berkehendak mengundang hamba-Nya yang penuh dosa.


Hari ini 17 Maret 2016, merupakan hari yang tidak bisa dilupakan. Hari di mana Allah menunjukan cara-Nya menjawab kelelahan ini. Seakan Dia berkata, "Engkau telah memahami bagaimana seharusnya keinginan untuk kembali itu yang sebenarnya, yakni dengan tidak memenuhi kehendak nafsumu dan kehendakmu untuk memilih. Sekarang datanglah ke rumah-Ku, tunaikan kewajiban mu, semoga engkau terbebaskan". 

Di awal perjalanan dari Garut, memenuhi panggilan Allah merupakan topik pembicaraan dengan pak Eri Satria. Di awal pembicaraan saya menyatakan tidak siap untuk memenuhi panggilannya. Namun di tengah perjalanan pak Eri merasa ada panggilan Allah yang dekat. Dan ternyata di ruangan itu, Allah memanggil dengan lisan hamba-Nya, "Rinda Cahyana". 

Untuk sesaat saya mengalami keheningan, kemudian tubuh ini beranjak dari kursi dan kaki ini melangkah menuju sumber suara. Sementara itu mata saya melihat kembali semua yang telah dikatakan oleh hati, sehingga tidak melihat ke dunia nyata. 

"Saya berharap mendapat Laptop (untuk bekerja)", 
"Saya berharap mendapat sepeda yang diinginkan Syauqi selama ini", 
"Saya tidak boleh memilih, biarkan Allah yang memilihkan". 
"Akankah Allah memanggil hamba berdosa ini ke rumah-Nya?". 

Lamunan itu terpecahkan saat saya diminta untuk menunjukan kertas pengenal. Pertanyaan apakah saya sudah haji tidak berhasil saya jawab, karena terjebak oleh rasa tidak percaya. Dalam hati ini berkata, "Tuhan benar-benar memanggil pendosa ini ke rumah-Nya". Lalu mata ini pun berkaca-kaca. Saya tidak berani untuk bahagia, saya merasa malu akan menjadi tamu-Nya.

Saya takjub kepada-Nya karena Dia telah mengatakan pada bulan-bulan sebelumnya melalui lisan hamba-Nya bahwa Dia akan mengundang dua tahun kemudian dan Dia memenuhinya. Dia pun mengabarkan kebahagiaan yang besar itu, dan semoga itu adalah ampunan dan ridha-Nya. 

Sahabatku berkata, "Mungkin karunia ini karena engkau berniat kembali kepada-Nya. Padahal dulu yang terbayang akulah yang menjadi tamu-Nya dan akan berdo'a untuk engkau". 

Aku berkata kepadanya, "Mungkin karena engkau mengatakan tidak siap untuk kembali kepada-Nya sekarang sehingga akulah yang dipanggil-Nya" 

Saat saya mencoba memilih seseorang untuk menjadi teman menuju rumah-Nya, ternyata Dia tidak mengabulkannya. Seakan Dia berkata, "Datanglah sendiri, jika memang engkau bersungguh-sungguh untuk kembali"