Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Informasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2012

Kekuatan LMS masa depan : jejaring sosial, mesin pencari, dan sumber terbuka

Aktivitas TI sekarang ini dari sisi manusianya mengarah kepada colaborative work (CW) dan dari sisi teknologinya mengarah kepada berbagi layanan. Dorongan utama ke arah sana menurut saya adalah adanya kesuksesan bisnis sejumlah perusahaan seperti raksasa Google melalui sumber terbuka / open source yang merupakan implementasi pendekatan CW dan komunitas militan yang ambil bagian dalam CW perusahaan tersebut. Di lain sisi jejaring sosial merevolusi cara berkomunikasi masyarakat global. jejaring membantu setiap orang menemukan orang yang ingin dihubunginya. Berbeda dengan mesin pencari Google yang memungkinkan orang hanya menemukan data dari orang yang dicarinya. Jika data dan pembuatnya berhasil ditemukan melalui media yang sama, maka menurut dugaan saya kecepatan pengetahuan akan meningkat dibandingkan sebelumnya. Dan kecepatan ini akan lebih meningkat lagi apabila media untuk menemukan orang dan data berkembang lebih cepat dengan pendekatan CW. Kesimpulan dugaan saya adalah, jejaring sosial, mesin pencari, dan sumber terbuka bisa mendorong perkembangan pengetahuan lebih kuat.

LMS seharusnya bukan sekedar mengelola pengetahuan dalam lingkup terbatas tetapi harus dapat mendorong penyebaran pengetahuan global. Karenanya LMS harus mengakomodasi tiga kekuatan abad ini, yakni jejaring sosial, mesin pencari, dan sumber terbuka.

Minggu, 15 Mei 2011

Saluran Informasi Akademik Self-Service


Self-service adalah praktik atau suatu usaha di mana pelanggan melayani dirinya sendiri (www23), seperti misalnya Automatic Teller Machines (ATM) di mana orang mengambil dan menyimpan uangnya sendiri (www24). Salira self-service dapat difahami sebagai media informasi elektronik yang hanya menampilkan informasi akademik digital yang diminta oleh dan kepada penggunanya. Dengan kata lain hanya pengguna yang mengendalikan informasi akademik digital apa yang harus ditampilkan oleh Salira kepada dirinya.

Institut Teknologi Nasional (www17) dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Alma Ata Yogyakarta (www18) menerapkan Salira self-service yang disebut sebagai Anjungan Informasi Mandiri (AIM) dalam bentuk terminal komputer berbasis sistem local area network (www17), atau seperangkat komputer lengkap yang diletakan dalam lemari khusus yang terkoneksi dengan jaringan internet dan intranet kampus (www18). AIM dapat ditemukan di depan ruang Biro Administrasi Akademik dan Kemahasiswaan (www17), di tiap gedung (www19), atau di berbagai sudut kampus (www18).

Salira self-service hanya melayani pengguna yang dikenalnya. Mahasiswa memperkenalkan diri kepada Salira self-service sebagai penggunanya dengan menggunakan:
  1. Smart card, seperti di Universitas Kristen Maranatha (www20).
  2. Barcode, seperti di Universitas Kristen Satya Wacana (www19).  
  3. Cara manual dengan mengetikan nama pengguna atau nomor tanda pengenal dan password, seperti di Politeknik Pos Indonesia (www21), baik dengan menggunakan keyboard (www17) ataupun touchscreen (www22).

Salira self-service mengambil alih fungsi orang dalam proses bisnis layanan informasi akademik, di mana tugas menerima dan memproses permintaan, serta menyampaikan informasi akademik kepada penggunanya dilakukan sepenuhnya oleh agent. Salira self-service diterapkan dalam basis teknologi yang beragam, seperti misalnya:
  1. Basis teknologi SMS, seperti di Institut Teknologi Bandung (www09), Universitas Sumatra Utara (www06), Universitas Komputer Indonesia (www10), dan lain sebagainya. Pengguna mengirimkan pesan singkat permintaan informasi menggunakan perangkat seluler melalui jaringan seluler kepada server SMS untuk kemudian informasinya disiapkan berdasarkan data yang terkandung dalam basis data (Pramsane dan Sanjaya, 2006) dan hasilnya dikirim kepada pengguna oleh agent yang beroperasi dalam server SMS.
  2. Basis teknologi web, seperti di Universitas Islam Indonesia (www03), Institut Teknologi Bandung (www14), Universitas Sumatera Selatan (www06), Bina Sarana Informatika (www15), University of California (www11), Harvard (www16), dan lain sebagainya. Pengguna memilih sendiri informasi akademik dari situs web melalui web browser pada komputer ataupun perangkat seluler, untuk kemudian disiapkan berdasarkan data yang terkandung dalam basis data dan dikirim informasinya kepada pengguna oleh agent yang beroperasi dalam server web.
  3. Basis teknologi Windows, seperti di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, di mana pengguna mengakses langsung Salira melalui touchscreen. Sama seperti Salira lainnya, informasi disiapkan berdasarkan data yang terkandung dalam basis data.
Dengan demikian dapat disimpulkan tiga karakteristik Salira self-service sebagai berikut :
  1. Salira self-service adalah perangkat otomatis, yang melaksanakan tugas menerima dan memproses permintaan, serta menyampaikan informasi akademik kepada penggunanya.
  2. Salira self-service adalah media informasi elektronik yang menyampaikan informasi akademik digital kepada penggunanya.
  3. Salira self-service adalah perangkat online yang terhubung dengan data dan penggunanya melalui media transmisi.

Saluran Informasi Akademik adalah Media Informasi Elektronik


 Salira (Saluran informasi) adalah media apapun yang mengandung informasi dan menyediakan “pipa” di mana informasi mengalir satu arah dari satu ruang informasi ke ruang informasi lainnya (Ringland, 2008). Dengan demikian saluran informasi dapat difahami sebagai media informasi karena mengandung informasi serta memiliki kelengkapan dan kemampuan untuk mengirimkan informasi. Media informasi adalah sarana (Depdikbud, 1995) seperti koran, radio, atau televisi (www12) yang dirancang untuk mendistribusikan informasi (Peters, 1994) dalam bentuk berita, pesan (Depdikbud, 1995), konsep, dan ide (www13), dari aktor sosial (Perets, 1994) kepada audien umum ataupun khusus (www13). Low (2000) menggunakan istilah media informasi elektronik untuk menyatakan sarana yang berfungsi untuk memproses permintaan dan menampilkan informasi digital.

Istilah Salira berkaitan dengan ruang lingkup informasi yang didistribusikan yakni akademik atau yang berhubungan dengan pendidikan, khususnya belajar di sekolah dan universitas (Hornby, 2000). Jika Salira adalah media informasi elektronik, maka dengan mengikuti pengertian Low (2000) Salira dapat difahami sebagai sarana yang berfungsi untuk memproses permintaan dan menampilkan informasi akademik digital kepada pengguna umum atau khusus. Sebagai agent, Salira dapat hanya menyediakan dan menampilkan informasi akademik yang diminta oleh penggunanya saja, dengan kata lain pengguna mengendalikan informasi akademik apa saja yang harus disampaikan Salira kepada dirinya. Salira dalam kapasitas seperti ini diistilahkan sebagai Salira self-service.

Selasa, 17 Agustus 2010

Solusi SOA Untuk Fleksibilitas Bisnis Perguruan Tinggi Terhadap Perubahan


SOA adalah kerangka kerja (Proteans, 2009) atau arsitektur teknologi yang menganut prinsip-prinsip berorientasi layanan (Erl, 2005), yang menghubungkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan perusahaan dengan tanpa memperhatikan lanskap teknologi dan batasan organisasi (Gabhart dan Bhattacharya, 2008). SOA adalah gaya arsitektural yang memodularisasi sistem informasi (SI) ke dalam layanan (Erl, 2005), yang menyediakan fungsionalitas bisnis terstandarisasi sebagai sekumpulan layanan yang umum dan dapat digunakan kembali (Proteans, 2009).

Sebelum konsep SOA muncul, dalam rangka memenuhi kebutuhan bisnis yang baru, organisasi berhadapan dengan masalah pemborosan waktu dan biaya karena para pengembang perangkat lunak harus melakukan modifikasi maksimum terhadap komponen sistem (Miller, dkk, 2002). Hashimi (2003) menjelaskan bagaimana kesulitan dihadapi pemrogram saat menggunakan pendekatan demi pendekatan komputasi sebagaimana tampak pada tabel II.1 sehingga kemudian masalahnya sekarang dapat diselesaikan dengan SOA dan web services.

(Sumber : Gabhart dan Bhattacharya, 2008)
Approach
Time Frame
Programming Model
Business Motivation
Mainframe timesharing
1960s-1980s
Procedural (COBOL)
Automated Business
Client/Server
1980s-1990s
Database (SQL) and fat client (VB, Powerbuilder, etc.)
Computing power on the desktop
N-Tier/Web
1990s-2000s
Object-oriented (Java, PHP, COM, etc.)
Internet/eBusiness
Service Oriented
2000s
Message-oriented (XML)
Business Agility

Hashimi (2003) menjelaskan, bahwa pada awalnya menulis kode program dilakukan dengan tanpa dapat menghindari penulisan kode yang sama berulang-ulang. Hingga kemudian muncul konsep desain modular, di mana kode yang sama ditulis dalam modul sub-routine, procedure, atau function. Namun saat terjadi masalah pada modul tersebut, pemrogram harus menelusuri seluruh unit yang menggunakannya, sebuah pekerjaan yang menghamburkan waktu dan biaya. Pemrogram lebih menyukai high level abstraction, sehingga kemudian munculah classes dan perangkat lunak Object Oriented. Saat kompleksitas perangkat lunak dan perangkat keras semakin meningkat, munculah perangkat lunak berbasis komponen untuk penggunaan kembali, pemeliharaan, dan mempertahankan fungsi, bukan hanya kode. Namun tentu saja tawaran ini tidak berlaku untuk semua kompleksitas yang dihadapi pengembang saat ini seperti perangkat lunak terdistribusi, integrasi aplikasi, keragaman platform, keragaman protokol, keragaman perangkat, internet dan lain sebagainya. SOA bersama dengan Web Services menjawab persoalan tersebut. Dengan SOA kerumitan protokol dan platform dapat dikurangi dan aplikasi dapat diintegrasikan.

SOA merepresentasikan pergeseran dalam organisasi dari SI yang monolotik dan silo menuju fleksibilitas di mana sistem memberikan solusi bagi pelanggan dengan menggunakan sejumlah variasi rakitan layanan (Gabhart dan Bhattacharya, 2008). Layanan yang saling berkomunikasi, melibatkan data yang sederhana, dan berkordinasi dengan beberapa aktivitas (www.service-architecture.com) dapat didistribusikan (Erl, 2005), dikonfigurasi ulang (Sprott, 2005), dikombinasi ulang dengan berbagai cara (Brown, 2008), dan rantai layanan dapat disusun kembali setiap saat sesuai dengan kebutuhan perubahan bisnis (Sprott, 2005) untuk menerapkan proses bisnis yang baru atau untuk meningkatkannya (Brown, 2008). Layanan SOA yang flexible, reusable, dan configurable (Gabhart dan Bhattacharya, 2008) menyebabkan bisnis dapat merespon perubahan secara cepat (Sprott, 2005).

Layanan dan dapat digunakan pada beragam proyek atau oleh sejumlah aplikasi layanan multi-platform (Proteans, 2009). Layanan tersedia untuk setiap permintaan layanan yang disampaikan dari lokasi manapun dalam jaringan kerja tanpa dibatasi oleh sistem operasi, bahasa pemrograman, atau platform teknologi. Orientasi layanan memungkinkan bisnis menggunakan layanan yang tersedia di luar organisasi melalui jaringan komputer (Sprott, 2005)

Untuk mendapatkan keuntungan dari TI, perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya untuk pembaruan infrastruktur dan penyampaian layanan TI (Educause, 2003). Weil dan Ross (2004) menemukan fakta bahwa pengeluaran TI mencapai 50% dari total biaya belanja organisasi. Beban tersebut dapat diringankan dengan SOA yang membantu peningkatan kegesitan bisnis (business agility) dan efektifitas biaya (Erl, 2009). Menghindari biaya pengembangan di masa depan dapat dilakukan dengan cara penggunaan kembali layanan (Brown, 2008). 

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa fleksibilitas bisnis terhadap perubahan dapat dicapai melalui pengembangan berorientasi layanan dengan pendekatan SOA. Sekolah dan universitas yang sebelumnya mendapatkan kekuatan dan keuntungan bisnis Salira, setelah menerapkan SOA diharapkan mendapatkan tambahan kemampuan berupa business agility, yakni kemampuan organisasi untuk fleksibel, responsive, adaptif, dan menunjukan inisiatif saat terjadi perubahan dan ketidakpastian (dictionary.bnet.com), serta kemampuan untuk menghindari (Brown, 2008) atau mencapai efektifitas biaya (Erl, 2009). Di dalam Wikipedia1 disebutkan bahwa business agility adalah kemampuan bisnis untuk beradaptasi secara cepat dengan biaya yang efisien dalam menanggapi perubahan dalam lingkungan bisnis.

Sabtu, 07 Agustus 2010

Pusat Informasi Sebagai Saluran Informasi Publik

Pusat informasi berkaitan dengan user services yang dilaksanakan departemen Teknologi Informasi (TI), yakni sebagai sebuah divisi dalam departemen TI yang mendukung end-user (www.pcmag.com). Sekarang istilah pusat informasi didefinisikan lebih luas lagi, sebagai tempat dimana informasi dapat diperoleh (www.macmillandictionary.com). Pusat informasi berbeda makna dengan layanan informasi. Perbedaan ini tampak dalam kalimat yang digunakan Bank Dunia (web.worldbank.org) : “Saat ini, Bank menjalankan layanan informasi publik di hampir 100 negara dan menawarkan akses langsung ke lebih dari 230 pusat informasi”.
Sebagaimana web-site Pusat Informasi Boston University yang menyediakan data statistik akademik yang bersifat umum (www.bu.edu), web-site Pusat Informasi Universitas Negeri Malang menyediakan menyediakan akses kepada siapa saja yang berminat mendapatkan informasi seputar kampus, baik akademik, kepegawaian, maupun data statistik lainnya yang bersifat umum (pusinfo.um.ac.id). Adapun informasi akademik yang bersifat privat atau khusus bagi mahasiswa, Universitas Negeri Malang menyediakan web-site Sistem Informasi Akademik Online (pusinfo.um.ac.id).
Purdue University memiliki web-site Pusat Informasi bernama Visitor Information Center. Informasi yang disediakan web-site ini berkaitan dengan sejumlah perguruan tinggi, sekolah dan program di Purdue University, serta layanan komunikasi yang menanggapi pertanyaan yang diajukan oleh pengunjung (www.purdue.edu). Menurut Harvard University misi dari Pusat Informasi adalah untuk melayani sebagai pintu depan universitas yang memberikan informasi historis dan umum tentang kampus kepada pengunjung, tetangga, dan publik (www.harvard.edu). Dengan demikian secara umum, pusat informasi adalah saluran informasi akademik yang mendistribusikan informasi bersifat umum tentang kampus kepada orang yang membutuhkannya.

Kamis, 29 Juli 2010

Layanan Informasi Akademik

Istilah layanan informasi akademik dikenal di Indonesia seperti di Universitas Islam Indonesia (www05) dan Universitas Sumatera Utara (www06). Layanan informasi akademik terdiri dari tiga kata :
  1. Layanan yang berarti perihal atau cara melayani atau membantu menyiapkan apa-apa yang diperlukan seseorang (Depdikbud, 1995).
  2. Informasi yang berarti komponen hasil dari proses (Loose, 1997) memberi tahu (Machlup, 1980), atau data yang berarti dan berguna yang disampaikan kepada pengguna tertentu (O’Brien dan Marakas, 2008).
  3. Akademik yang berarti berhubungan dengan pendidikan, khususnya belajar di sekolah dan universitas (Hornby, 2000).

Di dalam Hornby (2000) dijelaskan bahwa layanan sepenuhnya tersedia untuk digunakan oleh seseorang, untuk membantunya, atau untuk menyediakan sesuatu yang diperlukannya. Jika sesuatu yang diperlukan seseorang adalah informasi akademik dan seseorang tersebut adalah mahasiswa, maka layanan informasi akademik sepenuhnya tersedia untuk digunakan oleh mahasiswa, untuk membantunya, atau untuk menyediakan informasi akademik yang diperlukannya.

Tentang siapa yang menjadi pelayan disebutkan dalam pengertian layanan lainnya dalam Hornby (2000), yakni pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk organisasi. Dalam konteks layanan informasi akademik, organisasi yang dimaksud dalam pengertian tersebut adalah sekolah atau universitas. Sementara yang dimaksud dengan seseorang (someone) menurut Hornby (2000) adalah person yang berarti manusia (human being) sebagai individu. Di sekolah dan universitas diketahui staf tata usaha memiliki peran sebagai seseorang yang membantu mahasiswa menyediakan informasi akademik yang diperlukan mahasiswa. Dan setiap orang yang memiliki peran sama dengan staf tata usaha adalah seseorang yang dimaksud dalam pengertian layanan tersebut.

Sekalipun seseorang difahami sebagai manusia, namun pada masa kini bukan hanya manusia yang dapat membantu mahasiswa menyediakan informasi akademik yang dibutuhkannya. Gabhart dan Bhattacharya (2008) menjelaskan bahwa pekerjaan dapat dikerjakan oleh manusia ataupun perangkat lunak otomatisasi proses bisnis. Perangkat lunak yang dikenal sebagai agent tersebut mengambil alih fungsi orang dalam proses bisnis (Anwar dan Warnars, 2009). Oleh karenanya seseorang dalam pengertian layanan dapat difahami lebih luas lagi sebagai manusia dan agent.

Layanan informasi akademik di University of Southern Queensland dikelola oleh divisi layanan informasi akademik (www07). Di West Virginia University, layanan informasi akademik merupakan bagian dari unit layanan dukungan TI (www08). Penjelasan ini menggarisbawahi lokasi pertama atau organisasi yang dapat dituju untuk menemukan data atau literatur terkait layanan informasi akademik.

Berikut ini adalah informasi akademik yang disediakan bagi penggunanya oleh layanan informasi akademik di sejumlah perguruan tinggi :
  1. Informasi bagi sivitas akademik atau pengguna internal kampus, seperti jadwal kuliah, aktivitas kuliah, rencana studi, nilai akhir ujian, indeks prestasi semester berjalan, indeks prestasi kumulatif, atau monitoring prestasi akademik (www09; www03; www10). Informasi ini diperlukan oleh mahasiswa, orang tua / wali mahasiswa, dosen (www03), personil jurusan dan perguruan tinggi, fakultas, dan staf yang secara langsung terlibat dalam konsultasi akademik mahasiswa (www11).
  2. Informasi bagi masyarakat atau pengguna eksternal kampus, seperti informasi penerimaan mahasiswa baru, hasil ujian saringan masuk, biaya kuliah mahasiswa baru, berita seputar kampus, dan lokasi kampus (www10). Informasi ini digunakan oleh pengunjung, tetangga, dan publik (www04).

Secara keseluruhan layanan informasi akademik dapat difahami sebagai perihal atau cara melayani atau membantu menyiapkan informasi akademik yang dibutuhkan oleh pengguna internal ataupun eksternal kampus, yang dilaksanakan oleh manusia ataupun agent, yang berada di bawah tanggung jawab pengelolaan unit tertentu dalam struktur organisasi sekolah atau universitas.

Selasa, 27 Juli 2010

SOA Untuk Fleksibilitas Layanan Informasi Akademik

Informasi berkenaan dengan proses memberi tahu (Machlup, 1980) atau menyampaikan data yang berarti dan berguna kepada pengguna tertentu (O’Brien dan Marakas, 2008), yang merupakan komponen hasil dari proses (Loose, 1997). Secara bertahap informasi mulai diakui sebagai kunci sumber daya ekonomi dan merupakan salah satu asset penting perusahaan (Moody dan Walsh, 1999; Drucker 1992) yang sangat berharga (Huang, dkk, 1999). Sekarang ini orang atau bisnis yang berhasil adalah yang menguasai dan mengendalikan informasi (Fenner, 2002), di mana pengambilan keputusan dan operasi efektif sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan informasi (Price & Shanks, 2005). 

Informasi sebagai kunci sumber daya ekonomi telah mendorong organisasi pada jaman informasi sekarang ini untuk meningkatkan penguasaan dan pengendalian informasi dengan teknologi informasi (TI). Weil dan Ross (2004) menemukan fakta bahwa pengeluaran TI mencapai 50% dari total biaya belanja organisasi. Organisasi dapat memperoleh nilai bisnis dari TI seperti: fleksibilitas, peningkatan kualitas, pengurangan biaya, peningkatan produktivitas (Melvile, dkk, 2004; Dedrick, dkk, 2003; Oliner dan Sichel, 2000; Economics and Statistics Administration, 2003 ), peningkatan komunikasi dan keputusan alokasi sumber daya, serta meningkatkan 3 persen penggunaan kemampuan industry yang membawa kepada keuntungan milyaran dolar setiap tahunnya (Hubbard, 2001).

Sebagaimana bisnis lainnya, kesuksesan pendidikan masa sekarang sangat bergantung kepada teknologi dan informasi. Perguruan tinggi dan universitas bergantung kepada penggunaan TI dalam pengajaran, penelitian, dan administrasi (Educause, 2003) untuk mendapatkan nilai bisnis berupa perbaikan pengajaran dan pembelajaran yang menyebabkan peningkatan, misalnya hasil ujian siswa (European Schoolnet, 2006). Sebagai konsekuensinya, perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya untuk pembaruan infrastruktur dan penyampaian layanan TI (Educause, 2003).

Pembiayaan TI dalam dunia pendidikan telah menjadi perhatian pemerintah secara global. Menteri pendidikan Afrika telah mulai lebih proaktif dalam mengkordinasikan dan memimpin pengembangan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sistem sekolah melalui kebijakan dan penerapan rencana TIK yang sudah terbentuk (Farell, dkk, 2007). Di Eropa, semua negaranya menerapkan TIK di sekolah dan menetapkan pembiyaan untuk penerapan tersebut (European Schoolnet, 2006). Di Asia, seperti misalnya Indonesia telah menjadikan investasi TI di sekolah menjadi sesuatu yang penting. Dana alokasi khusus bidang pendidikan tahun anggaran 2010 sekitar 9 trilyun rupiah salah satunya adalah untuk sarana TIK pendidikan dan multimedia interaktif di Sekolah Dasar / Sekolah Dasar Luar Biasa (Mendiknas, 2010). Pada level pendidikan tinggi Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menyediakan Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi yang memberikan hibah pertahun sebesar 2 milyar yang salah satunya untuk pembangunan sistem manajemen yang didukung oleh sistem informasi, pangkalan data yang terintegrasi berbasis TI, dan infratruktur TI (Dikti, 2008).

Hal penting selain penguasaan teknologi dan informasi serta dukungan dana yang besar dari pemerintah adalah fleksibilitas arsitektur SI terhadap perubahan. Penyesuaian arsitektur SI suatu organisasi dilakukan seiring dengan perubahan pada organisasi (Gronau, 2003). Jika tidak sesuai dengan kondisi terkini, arsitektur akan segera menjadi sesuatu yang tidak berguna dan menyebabkan terbatasinya kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuan dan misinya, padahal ia dibuat untuk meningkatkan perusahaan dari kondisi terkini (Chorafas, 2002). Di dalam Hashimi (2003) dijelaskan bagaimana pendekatan komputasi atau arsitektural sangat mempengaruhi kecepatan dan optimasi biaya pembaruan. Pendekatan yang menyebabkan sistem atau bisnis tidak fleksibel dapat menyebabkan modifikasi maksimum terhadap komponen sistem sehingga menimbulkan pemborosan waktu dan biaya (Miller, dkk, 2002). Dan pemborosan ini tidak menguntungkan di saat perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya TI.

Service Oriented Architecture (SOA) adalah kerangka kerja (Proteans, 2009) atau gaya arsitektural yang memodularisasi SI ke dalam layanan (Erl, 2005). SOA menyediakan fleksibilitas bagi organisasi (Proteans, 2009) atau menjadikan bisnis menjadi lebih fleksibel (Sprott, 2005). Dengannya organisasi memiliki business agility (Erl, 2009), yakni dapat merespon perubahan bisnis secara cepat (Sprott, 2005). Menghindari biaya pengembangan di masa depan (Brown, 2008) atau mencapai efektifitas biaya TI di semua unit bisnis (Erl, 2009) dapat dicapai dengannya.

Salah satu proses bisnis yang dijalankan sekolah dan universitas adalah layanan informasi akademik sebagai layanan Sistem Informasi (SI) (psychology.uii.ac.id). Layanan tersebut pada masa sekarang ini menggunakan saluran informasi akademik (Salira) berupa media informasi (Ringland, 2008) baik yang berbasis teknologi Short Message Service (SMS) ataupun internet (psychology.uii.ac.id) dan disediakan bagi pengguna internal (psychology.uii.ac.id) dan eksternal kampus (www.harvard.edu). Gaya arsitektural SOA dapat menjadikan Salira menjadi fleksibel, sehingga dengannya sekolah dan universitas dapat merespon perubahan secara cepat dan dengan biaya yang efektif sehingga keuntungan bisnis dapat dipertahankan atau ditingkatkan.

Minggu, 22 November 2009

Kesuksesan Sistem Informasi yang Efisien dan Efektif

Informasi berkenaan dengan proses memberi tahu (Machlup, 1980) atau menyampaikan data yang berarti dan berguna kepada pengguna tertentu (O’Brien dan Marakas, 2008), yang merupakan komponen hasil dari proses (Loose, 1997). Secara bertahap informasi mulai diakui sebagai kunci sumber daya ekonomi dan merupakan salah satu aset penting perusahaan (Moody dan Walsh, 1999; Peter Drucker 1992). Sekarang ini orang atau bisnis yang berhasil adalah yang menguasai atau mengendalikan informasi. (Fenner, 2002).

Ketersediaan dan nilai informasi bagi organisasi sekarang ini ditunjang oleh keberadaan atau penerapan Information and Communication Technology (ICT) dalam organisasi. ICT adalah konvergensi komunikasi dan komputasi yang meliputi perangkat keras, perangkat lunak, jaringan, dan sistem informasi (Shapira dkk., 2004), yang mencakup perangkat untuk melakukan komputasi, jaringan, transmisi, dan menampilkan informasi digital. ICT membantu mengkonversi pengetahuan ke dalam data dengan berbagai cara penyimpanan, pengambilan dan transmisi. Juga membantu dalam menginterprestasi dan menganalisis data yang tersedia (Low, 2000).

Pada jaman informasi, banyak ditemukan organisasi yang menghargakan informasi dengan sangat tinggi dan beinvestasi untuk Teknologi Informasi (TI) dalam rangka mencapai berbagai keuntungan, antara lain seperti yang disebutkan oleh Melville, Kraemer, dan Gurbaxani (2004) setelah keduanya menelaah lebih dari 200 artikel tentang nilai bisnis TI, yakni: fleksibilitas, peningkatan kualitas, pengurangan biaya, dan peningkatan produktivitas. Weil dan Ross (2004) menemukan fakta bahwa pengeluaran TI mencapai 50% dari total biaya belanja organisasi. Investasi TI sebesar itu tidak menjadi masalah bagi perusahaan mengingat dampaknya yang signifikan terhadap keuntungan finansial. Hubbard menemukan komputerisasi meningkatkan komunikasi dan keputusan alokasi sumber daya, serta meningkatkan 3 persen penggunaan kemampuan industri yang membawa kepada keuntungan milyaran dolar setiap tahunnya (Hubbard, 2001).

Berdasarkan studi kasus dalam berbagai konteks industri, Markus and Robey (1988), Roach (1989) dan Weill (1990) melihat hubungan positif yang kecil antara investasi TI dengan keseluruhan performa keuangan perusahaan. Bahkan dalam beberapa kasus, investasi TI memberikan pengaruh negatif bagi performa perusahaan (Moody dan Walsh, 1999). Namun beberapa tahun kemudian, setelah meninjau lebih dari 50 studi empiris tentang hubungan antara investasi TI dan produktivitas, Dedrick, Gurbaxani, dan Kraemer (2003) menemukan bahwa penelitian baru-baru ini menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan antara investasi TI dan produktivitas tenaga kerja di tingkat perusahaan. Oliner dan Sichel memperkirakan rentang produktivitas pekerja berkembang dari 2 persen hingga ke 2 ¾ persen pertahun hasil dari investasi ICT yang berkelanjutan (Oliner dan Sichel, 2000). Biro Sensus Pusat Studi Ekonomi menunjukan sekitar 50 % dari manufaktur Amerika Serikat yang memiliki jaringan komputer memiliki produktivitas yang tinggi dibandingkan manufaktur yang tidak memiliki jaringan (Economics dan Statistics Administration, 2003).

Investasi TI bisa menguntungkan dan juga merugikan organisasi. Untuk mendapatkan nilai dari TI, butuh lebih dari sekedar investasi (Weill dan Ross, 2004), diperlukan kecerdasan TI. Weill & Aral (2006) menemukan bahwa hasil keuangan secara signifikan dipengaruhi oleh tingkat kecerdasan TI perusahaan. Perusahaan dengan kecerdasan TI yang tinggi memperoleh laba bersih yang lebih tinggi di tahun-tahun berikutnya untuk investasi, sedangkan perusahaan dengan kecerdasan TI yang rendah memperoleh laba bersih yang lebih rendah. Salah satu bentuk kecerdasan TI adalah tata kelola TI sebagaimana ditunjukan oleh Weill & Ross (2004), bahwa tata kelola TI yang efektif berpengaruh bagi kinerja keuangan, sehingga perusahaan yang mengejar strategi bisnis tertentu dengan tata kelola TI yang baik ROA-nya 20% lebih tinggi daripada perusahaan lain mengejar strategi yang sama namun dengan tata kelola TI yang rendah. Dan tata kelola harus membawa organisasi kepada kesuksesan SI yang dapat diukur dengan (O’Brian dan Marakas, 2008) : (1) Efisiensi dalam minimalisasi biaya, waktu, dan penggunaan sumber daya informasi, (2) Keefektifan TI dalam mendukung strategi bisnis organisasi, sebagai enabler bagi proses bisnis, meningkatkan struktur dan budaya organisasi, dan meningkatkan nilai pelanggan dan bisnis perusahaan.

Dengan pengeluaran TI yang besar, organisasi harus memiliki kecerdasan TI agar dapat mencapai kesuksesan SI. Perhatian organisasi tidak hanya pada efisiensi dan efektivitas kerja setelah penerapan TI, tetapi juga efisiensi dan efektifitas dalam proses pengembangan TI. Menurut Peter Drucker dalam Menuju SDM Berdaya (Kisdarto, 2002), efektifitas adalah melakukan hal yang benar sedangkan efisiensi adalah melakukan hal secara benar, dan melakukan hal yang benar lebih penting daripada melakukan hal secara benar. Efektifitas berarti sejauhmana kita mencapai sasaran dan efisiensi berarti bagaimana kita mencampur sumber daya secara cermat. Minimalisasi biaya, waktu, dan penggunaan sumber daya informasi sebagai cara efisiensi sekalipun penting tetapi tidak boleh merintangi tercapainya tujuan TI sebagai pedukung strategi bisnis organisasi dan enabler bagi proses bisnis, juga sebagai cara meningkatkan struktur dan budaya organisasi dan meningkatkan nilai pelanggan dan bisnis perusahaan. Dengan demikian, dalam pengembangan TI sasaran pengembangan wajib dicapai, namun untuk memaksimalkan keuntungan sebaiknya dilaksanakan secara efisien.


REFERENSI


  • Fenner, A. (2002). Placing Value of Information. Library Philosofy and Practice Vol. 4, No. 2. ISSN 1522-0222
  • Moody, D. & Walsh, P. (1999). Measuring the Value of Information: an Asset Valuation Approach. European Conference of Information System (ECIS ‘99).
  • Dedrick, J., Gurbaxani, V., & Kraemer, K. L.(2003). Information technology and economic performance: A critical review of the empirical evidence. ACM Computing Surveys, 35(1), 1-28.
  • Drucker, P. (1992). The Economy’s Power Shift. Wall Street Journal, September 24.
  • Economics and Statistics Administration (2003). Digital Economy 2003. U.S. Department of Commerce.
  • Galster, M., Eberlein, A., Moussavi, M. (2006). From Enterprise Architecture to Software Architecture using Requirement Engineering. University of Calgary. Canada.
  • Hubbard, T. (2001). Information, Decisions, and Productivity: On-Board Computers and Capacity Utilization in Trucking. NBER working papers, w8525.
  • ITGI. (2009). Board Briefing on IT Governance. 2nd Edition. IT Governance Institute.
  • Kisdarto, A. (2002). Menuju SDM Berdaya – Dengan Kepemimpinan Efektif dan Manajemen Efisien. PT. Elex Media Komputindo. Jakarta.
  • Loose, R.M. (1997). A Dicipline Independent Definition of Information. Journal of the American Society for Information Science 48 (3), halaman. 254-269.
  • Low, L. (2000). Economics of Information Technology and the Media. Singapore. University Press.
  • Machlup, F. (1980). The Production and Distribution of Knowledge in the United States (Princeton, 1962, 1972, 1980)
  • Melville, N., Kraemer, K., & Gurbaxani, V. (2004). Review: Information technology and organizational performance: An integrative model of IT business vslur. MIS Quarterly, 28(2), 283-322.
  • O’Brian, J. A., Marakas, G. M. (2008). Management Information System. 8th Edition. Mc-Graw-Hill Companies, Inc. New York..
  • Oliner, S., and Sichel D. (2000). “The Resurgence of Growth in the Late 1990s: Is Information Technology the Story?” . Washington, D.C.: Federal Reserve Board.
  • Pressman, R. S. (2007). Software Engineering: A Practitioner’s Approach 5th Edition. The Mc Graww-Hill Companies, Inc.
  • Shapira, P., Youtie, J., Wang, J., Hegde, D., Cheney D., Franco, Q., Mohapatra, S. (2004). Assesing the Value of Information and its Impact on Productivity in Small and Midsize Manufactures. Georgia Institute of Technology dan SRI International.
  • Sichel, D. (1997). The Computer Revolution: an Economic Perspective. Washington, D.C.: Brookings Institution Press.
  • Webster's New World College Dictionary. (2005) Wiley Publishing, Inc., Cleveland, Ohio.
  • Weill, P., & Aral, S. (2006). Generating premium returns on your IT investments. MIT Sloan Management Review, 47(2), 39-48.
  • Weill, P. & Ross, J. W. (2004). IT governance: How top performers manage IT decision rights for superior results (Hardcover). Harvard Business School Press Books.

Minggu, 30 Agustus 2009

SMS Centre masih pentingkah?


Menurut Internet World Statistic (Herusastro, 2008), penetrasi internet di Indonesia tahun 2008 mencapai 10.5% dengan jumlah pengguna sekitar 25 juta jiwa, yang apabila dibandingkan dengan total populasi di Indonesia saat itu, 10.5 dari 100 penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Angka pengguna internet tersebut sama dengan data statistik pengguna internet tahun 2007 yang dipublikasikan oleh Asosiasi Penyelengara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada situsnya.

Sementara itu menurut Wireless Intelligent (Suryadhi, 2008) jumlah pelanggan seluler di Indonesia pada Kuartal II tahun 2008 mencapai jumlah 116,144,392 pelanggan. Adapun tingkat penetrasi seluler di Indonesia menurut The Mobile World diperkirakan hingga akhir 2008 mencapai 55%.

Dengan memperhatikan tingkat penetrasi seluler yang jauh lebih besar jika dibandingkan penetrasi internet, maka kemungkinan jumlah penerima informasi melalui layanan pesan singkat / Short Message Service (SMS) akan jauh lebih banyak dibandingkan melalui email atau halaman web. Bahkan apabila pada tahun 2008, 25 juta jiwa pengguna internet menurut data Internet World Statistic (Herusastro, 2008) mengakses internet menggunakan perangkat seluler, maka pengguna perangkat seluler yang tidak mengakses internet melalui perangkat seluler jika diselisihkan dengan data Wireless Intelligent (Suryadhi, 2008) adalah sebanyak 91,144,392 pengguna atau sekitar 78.5%.

Apabila diketahui informasi diperoleh pengguna informasi dengan sekali mengirim SMS atau membuka halaman web kurang dari 1 menit, tarif termurah tahun 2009 untuk SMS adalah Telkomsel AS yakni Rp. 6,5 / sms dan untuk mobile internet adalah Indosat (Mentari dan IM3) yakni Rp. 100 / menit, maka biaya akses informasi melalui internet pada perangkat seluler yang harus dikeluarkan pengguna masih jauh lebih mahal jika dibandingkan SMS. Jika penyedia informasi menyediakan layanan informasi melalui SMS, maka 78% pengguna perangkat seluler di Indonesia akan merasa puas karena biaya akses informasi yang harus dikeluarkannya murah. Sementara hanya sekian persen dari 21.5% pengguna internet yang selalu online saja yang akan merasa tidak puas karena harus mengeluarkan biaya selain internet sebesar Rp. 6,5.

Bagi penyedia informasi yang memiliki banyak layanan melalui web, penambahan layanan informasi melalui SMS mungkin akan menjadi beban. Namun apabila besarnya persentase kepuasan pelanggan merupakan Critical Success Factor (CSF) bagi strategi bisnisnya, maka penambahan layanan informasi melalui Pusat Layanan Pesan Singkat (PLPS) atau Call Centre tidak akan dianggap sebagai beban. Oleh sebab itu, dengan memperhatikan besarnya jumlah pengguna informasi dan persentase kepuasan mereka terhadap biaya akses informasi, banyak penyedia informasi seperti perusahaan, perguruan tinggi, dan pemerintahan tetap menjalankan PLPS sebagai alat pemenuhan informasi bagi para penggunanya hingga tahun 2009 ini.