Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kemahasiswaan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Maret 2017

Rikza pun Berangkat ke Thailand


Dahulu saya punya beberapa orang mahasiswa yang membantu penyediaan TIK, informasi, dan pengguna terlatih di Unit Sistem Informasi secara sukarela, di antaranya adalah Muhammad Rikza Nasrulloh dan Iqbal M. Hikmat. Keduanya selalu ikut dalam kegiatan Relawan TIK Indonesia yang saya buat bersama pegiat TIK lainnya di kabupaten Garut, termasuk menemani Korea IT Volunteers. 


Suatu ketika ada pengumuman dari Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika di dalam grup Relawan TIK Indonesia tentang rencana memberangkatkan Relawan TIK Indonesia sebagai Relawan TIK Internasional ke Thailand. Saya kemudian mendorong kedua mahasiswa yang sudah teruji penguasaan bahasa Inggrisnya untuk mendaftarkan diri. Alhamdulillah mereka ternyata mau dan mengirimkan lamarannya kepada Kementrian mewakili Relawan TIK Garut.

Setelah itu saya tidak mengikuti perkembangan rencana keberangkatan ke Thailand tersebut. Tiba-tiba pak Boni dari Kementrian menghubungi dan menanyakan apakah Rikza merupakan Relawan TIK Garut? Beliau menjelaskan Kementrian telah memilih empat delegasi Relawan TIK Indonesia untuk berangkat ke Thailand, hanya saja satu di antaranya mengundurkan diri. Beliau menawarkan kesempatan mengganti satu personel tersebut kepada Rikza melalui saya. Namun Rikza harus bisa menyiapkan segala kebutuhannya, termasuk Passpor dalam waktu yang sangat singkat. Semuanya saat itu bergantung kepada jawaban saya di hand phone. Bismillah, sayapun memutuskan untuk menyanggupinya, sehingga tercatatlah Rikza sebagai pengganti salah satu delegasi. 

Kabar tersebut kemudian saya diskusikan dengan Prof Ali Ramdhani, beliau membantu menghubungi kolega di Pemerintah Kabupaten Garut untuk mendapatkan bantuan pengurusan Passpor yang cepat. Saya sama sekali tidak berfikir pengurusan itu memerlukan uang. Namun alhamdulillah, kampus memberi pinjam uang sehingga pengurusan passpor nya lancar. Saya berjanji akan mengembalikan pinjaman tersebut sepulangnya Rikza dari Thailand. 

Keberangkatan Rikza tersebut bukan hanya kebahagiaan saya selaku Dosennya, tetapi juga Relawan TIK Garut. Syukurnya orang tua Rikza mendukung keberangkatan anaknya ke Thailand. Rikza di Thailand melaksanakan tugas Relawan TIK yang juga pengabdian kepada masyarakat selama dua bulan dari tanggal 17 Oktober hingga 11 Desember 2013. Otomatis Rikza tidak ikut kuliah hampir setengah semester. Saya yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Teknik Informatika meminta kepada pak Eri Satria selaku Ketua Program Studi untuk memberikan dispensasi untuk Rikza yang akan menjalankan tugas negara tersebut.


Syukuran Relawan TIK Garut untuk Keberangkatan Rikza 

Akhirnya bertepatan dengan hari ulang tahun saya, Rikza pun berangkat ke Thailan bersama tiga relawan TIK lainnya, setelah mendapatkan pengarahan dari Direktorat Pemberdayaan Informatika. Di Thailand Rikza bersama Relawan TIK Indonesia lainnya membantu beberapa pekerjaan di International Telecommunication Union selain juga mengunjungi beberapa lembaga pendidikan. 


Rikza pulang ke Garut dan tiba malam hari. Pertama kali yang dituju adalah rumah saya. Dia meminta saya untuk memilih oleh-oleh yang dibawanya itu dari Thailand. Keesokan harinya saya berbicara kepada bu Rina Kurniawati, wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang keuangan, meminta beliau untuk bersedia menggunakan uang pinjaman yang akan dikembalikan untuk syukuran. Alhamdulillah beliau menyetujuinya, sehingga uang itu akhirnya dibelikan nasi tumpeng. Semua pejabat struktural di kampus dan juga staf sangat gembira.


Satu hal yang paling menggembirakan saya adalah, Rikza memenuhi permintaan saya untuk tidak melupakan kampus di Thailand. Kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut ini banyak membantu Relawan TIK Indonesia di Garut, mulai dari fasilitas hingga pembiayaan kegiatan.  


Tentang pak Boni, beliau sangat antusias terhadap kegiatan KPTIK (Kelompok Penggerak Teknologi Informasi dan Komunikasi) di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, termasuk kegiatan ICT4Pesantren. Mungkin hal tersebut yang menyebabkan beliau memutuskan Relawan TIK Garut yang menjadi pengganti untuk berangkat ke Thailand, dan memasukan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam daftar kandidat penerima hibah Internet Access Center lebih dari satu Milyar dari Korea Selatan.   


Kunjungan NIA terkait hibah IAC ke STT Garut

Ke depan Insya Allah saya akan bercerita tentang bagaimana konsep KPTIK ini didorong oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika untuk diadopsi oleh Relawan TIK Indonesia, yang dalam perkembangan berikutnya menyebabkan Relawan TIK Garut mengibarkan dua bendera pegiat TIK dalam melaksanan misi pembangunan masyarakat informasi yang diembannya sejak tahun 2012 saat pengukuhannya sebagai Relawan TIK Garut. Cerita tersebut diharapkan dapat menghilangkan sak wasangka yang selama ini berkembang di Relawan TIK Indonesia. 

Senin, 21 November 2016

Menutup MABIM HIMATIF STT Garut 2016


Senin 21 November 2016 saya menghadiri penutupan MABIM (Masa Bimbingan Mahasiswa) HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut di pusat bela negara Yonif 303 Cibuluh. Sebelum upacara penutupan tidak lupa saya menyarankan kepada ketua HIMATIF agar mahasiswa baru peserta MABIM dikukuhkan sebagai anggota HIMATIF dan memberikan nomor anggota. Ketua HIMATIF memperhatikan saran tersebut dan menyatakan di dalam upacara penutupan bahwa semua peserta MABIM dinyatakan sebagai anggota HIMATIF.


Dalam kesempatan menutup acara tersebut saya menjelaskan pentingnya mahasiswa menjadi anggota HIMATIF. Mahasiswa harus memiliki kehidupan sosial yang diantaranya ditunjukan dengan kehendaknya untuk menjadi bagian dari HIMATIF.

MABIM adalah tradisi inagurasi yg dibangun oleh mahasiswa Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut angkatan pertama (1996). Saya mewakili alumni mengucapkan terima kasih kepada HIMATIF yang telah menjaga tradisi tersebut dan melakukan pengembangan prosesi inagurasinya hingga sekarang.


Sebagai ketua Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya berharap HIMATIF mulai menjadikan MABIM sebagai proses yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk mendapatkan nomor anggota HIMATIF, di mana nomor anggota tersebut menjadi syarat untuk mendapatkan layanan atau mengikuti kegiatan HIMATIF. Setiap anggota harus memiliki nomor anggota untuk menjadi pengurus atau panitia kegiatan HIMATIF.

Program studi siap memberlakukan kewajiban memiliki nomor anggota HIMATIF bagi calon asisten dosen dari kalangan mahasiswa, dan akan mendukung program kelompok belajar yang diselenggarakan HIMATIF di Laboratorium Teknik Informatika dibawah bimbingan Dosen. Saya berharap kelompok belajar ini menjadi sarana pendampingan kakak tingkat kepada adik tingkatnya dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta menjadi jalan untuk dapat menghasilkan karya ilmiah atau keterampilan yg dapat dikompetisikan, dan menjadi medium kaderidasi calon asisten dosen.

Setelah disahkannya peserta MABIM sebagai anggota baru, HIMATIF wajib melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak anggota, yakni mendapatkan pelayanan dan kegiatan peningkatan kapasitas. Saya berharap ke depan HIMATIF dapat mempublikasikan program kerja sebelum puncak MABIM dilaksanakan, agar mahasiswa dapat menyimpulkan penting atau tidak pentingnya menjadi anggota HIMATIF.


MABIM kali ini mengingatkan saya kepada kegiatan Inagurasi yg diikuti oleh angkatan kami (97). Beberapa keadaan sama, seperti lokasi di lapangan terbuka, tidur di tenda peleton, dan ada acara jelajahnya yg dilengkapi post test.


Minggu, 20 November 2016

Mengenang Kuliah di Garut


Tanggal 21 November 2016 saya memenuhi permintaan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyampaikan materi tentang kuliah dalam acara Masa Bimbingan (MABIM) yang diselenggarakan di Aula Yonif 303. Saya membukanya dengan menanyakan kepada peserta MABIM tentang pengertian kuliah. Hari itu saya berniat untuk memberikan gambaran kuliah berdasarkan pengalaman sendiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar peserta MABIM yang juga kuliah di tempat yang sama dapat merasakan pengalaman yang saya sampaikan tersebut.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Subang pada tahun 1997, Bapak mendorong saya untuk mengikuti proses seleksi STPDN. Bapak sangat ingin saya bersekolah Ikatan Dinas dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi seleksinya terasa ekstrem dalam kondisi saya saat itu, seperti misalnya ditelanjangi masal dan dikumpulkan dalam satu ruangan saat pemeriksaan kesehatan. Oleh karenanya saya memutuskan untuk meninggalkan proses seleksi tersebut. 

Setelah pelarian diri tersebut, saya dikirim orang tua untuk bersekolah di program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut sambil ngaji di Pondok Pesantrennya. Saya sempat mendengar penjelasan Bapak, pilihan Teknik Informatika itu karena berdasarkan banyaknya lowongan kerja bidang tersebut di surat kabar. Artinya Bapak memilihkan program studi terbaik yang diharapkan dapat menjamin kehidupan saya di masa depan. Dari tahun pertama hingga ketiga saya belum terlalu menikmati perkuliahan. 

Walau demikian saya tidak kesulitan mengikuti matakuliah terkait pemrograman karena ditunjang pengalaman memprogram kalkulator Casio FX warisan dari kakak (Retti Sulistiawati) yang dulu digunakan saat kuliah di jurusan Matematik Komputasi Institut Pertanian Bogor. Belajarnya otodidak, hanya berbekal sampel program yang dibuat oleh teman kakak dan buku petunjuk penggunaan dalam bahasa asing. Alhamdulillah, saat itu saya berhasil membuat program animasi lampu mobilnya Knight Raider, salah satu film favorit waktu kecil. 

Dengan pengalaman tersebut saya berhasil menyelesaikan tugas pemrograman dari almarhum K.H. Dr Maman Abdurrahman Musaddad walau banyak menggunakan perintah loncat label-goto sehingga jumlah baris kodenya lebih banyak dari jawaban yang beliau tunjukan. Walau demikian karena yang saya buat hasilnya benar, beliau memberikan point A untuk tugas tersebut. Dan saya sampaikan kepada peserta MABIM, bahwa saat itu kami mengerjakannya dengan pendekatan mental pemrograman, yang artinya kami tulis dan periksa sendiri validitas instruksinya, mengingat akses komputer masih agak sulit saat itu. 

K.H. Dr Maman Abdurrahman, lulusan Perancis yang saat itu juga menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus ketua Pondok Pesantrennya, adalah sosok membumi yang sangat memperhatikan mahasiswa / santrinya. Saya ceritakan kepada adik-adik bahwa pernah suatu ketika di Koperasi Pondok Pesantren beliau bertanya apakah saya telah menerima beasiswa?. Karena saya tidak merasa mengajukan, saya jawab tidak. Lalu beliau memberi tahu kalau bulan depan saya mulai mendapatkan beasiswa dari kampus, beliau mengajukannya untuk saya. Beliau mengatakan agar saya berkenan menerima beasiswa tersebut yang sementara ini dibagi dua dengan kang Abdulkholiq, santri lainnya yang merupakan kakak tingkat saya. Tentu saja saya tidak keberatan dan berterima kasih kepada beliau. 

Dengan beasiswa tersebut saya bisa membeli buku-buku bacaan mulai dari keagamaan hingga informatika. Banyak teman mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang singgah di kobong untuk ikut membaca buku tersebut. Bahkan ada yang sengaja meminjam untuk keperluan skripsi. Jadi mirip perpustakaan, padahal ada perpustakaan Ponpes di sebelah kamar. Lemari bukunya memang kosong karena pak Kyai meninggal sebelum merampungkan Perpustakaan. Tetapi akhirnya lemari itu berisi buku juga saat saya memutuskan tinggal di sana. Saya memberikan kamar kepada mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang ingin tidur di kamar.   


Saya menasihati mahasiswa baru yang jadi peserta MABIM agar mereka lebih semangat dalam belajar. Saya selaku kakak tingkat mereka saja bisa belajar dalam situasi tidak kuliah atas dasar pilihan sendiri, hanya tersedia buku panduan berbahasa asing, dan tidak ada komputer, apalagi mereka yang sekarang sudah memiliki akses mudah menuju sumber pengetahuan dengan memanfaatkan internet, komputer harganya sudah sangat murah, sudah seharusnya dapat lebih sukses belajar dari pada saya. Mereka tidak perlu mencari buku ke luar kota seperti saya, karena sumber pengetahuan bisa mereka peroleh dengan mudah saat tiduran di rumah sekalipun melalui internet. 

Saya menggambarkan tentang bagaimana dulu belajar memasang perangkat lunak secara otodidak. Suatu saat komputer pribadi saya rusak sistem operasinya. Lalu saya meminta ke kang Uli pemilik toko dan klinik komputer MALIBU untuk memasangkan sistem operasinya. Tetapi saat itu kang Uli menyuruh saya pasang sendiri dengan meminjamkan CD installernya. Dengan berbekal CD tersebut saya mulai memahami bagaimana cara memasang perangkat lunak.

Dengan cerita tersebut saya hendak memberi wawasan kepada adik-adik bahwa belajar itu tidak selalu harus di kampus atau sendiri, kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain yang sarat pengalaman teknis, seperti kang Uli. Jaman sekarang mahasiswa mudah menemukan forum di internet dan mengambil pengetahuan dari banyak orang yang memiliki pengalaman beragam. 

Dengan komputer saya semakin produktif menulis. Semasa kuliah saya menjadi penulis sekaligus redaktur dua buletin yang saya jalankan sendiri secara swadaya. Saya ingat buletin pertama yang saya buat adalah saat kelas tiga di SMP Negeri 2 Subang, ditulis di atas kertas dan diberi tema Pramuka. Ketertarikan buletin ini juga mungkin dipengaruhi buletin Islam yang kakak bawa dari Bogor ke rumah, atau kegiatan buletin yang dilakukan mas Muriyanto di Generasi Muslim al-Muhajirin pada saat SMA. Karena kegiatan buletin tersebut, Sofian Munawar selaku ketua BEM Sekolah Tinggi Teknologi Garut mempercayakan divisi Jurnalistik dan Pengambangan Masjid kepada saya. Saat itu saya menerbitkan buletin Suara Mahasiswa yang berisi liputan kegiatan dan pemikiran mahasiswa. Salah satu masukan yang direspon oleh bapak Abdusy-Syakur Amin adalah tentang menggunungkan pengetahuan, yang kemudian diwujudkan dalam kewajiban wisudawan untuk menyumbangkan buku untuk adik-adiknya.

  
Melalui buletin saya menyampaikan kritik dan masukan kepada kampus dengan bahasa tidak langsung. Cerita ini disampaikan agar mahasiswa baru memahami kalau mereka harus perduli dengan kampusnya yang ditunjukan dengan cara yang baik. Saya berharap mahasiswa minimalnya perduli dengan kebutuhan diri mereka sendiri, jangan sampai misalnya proyektor dirasakan mengganggu proses belajar tetapi mereka mengabaikan hal tersebut atau tidak bersikap pro aktif mengupayakan perbaikan kondisi. Saya mengingatkan bahwa mereka itu adalah agen perubahan yang sudah seharunya perduli kebutuhan sendiri dan orang lain dengan turun tangan mewujudkan perubahan kondisi menjadi lebih baik. 

Sebagai mahasiswa biasa saya juga memperhatikan hiburan. Saat mahasiswa saya terobsesi ingin memiliki Pemutar Kaset (Radio Tape). Tetapi karena namanya juga anak kost yang terbatas dananya, saya pun mencari Tape di loakan jalan Pramuka. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil membeli Tape bekas yang masih layak pakai, sekalian beli juga kaset nasyid bekas yang lagunya saya dengar diputar di Ponpes. Sejak saat itu saya mulai mengoleksi banyak kaset Nasyid. Saya punya koleksi Raihan lengkap dari album pertama hingga akhir, pun demikian Snada, dan lainnya. Rasanya ini dipengaruhi oleh kakak yang juga sama mengoleksi kaset Nasyid. Sebagian kasetnya diwariskan kepada saya. Sampai kemudian terjadi kebakaran tengah malam itu di kobong saya yang diisi oleh teman STAI yang menyebabkan pemutar kasetnya tidak bisa digunakan. Saya hanya tersenyum dan percaya itu semua sudah Allah kehendaki, Ia memberi dan mengambil ciptaan-Nya yang Ia kehendaki dari hamba-Nya. 

Dengan cerita tersebut saya memberi petunjuk bahwa mahasiswa tidak perlu mengisi seluruh waktunya dengan kegiatan belajar ilmu teknik. Mereka perlu menyeimbangkan dirinya, memberdayakan otak sisi lainnya dengan berbagai kegiatan seperti menikmati musik misalnya. Satu cerita yang saya lupakan saat itu adalah tentang bagaimana mendengarkan musik tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan penyiaran di Radio Yamusa FM yang mengarahkan kepada kegiatan pembuatan jingle dan Nasyid sendiri. Cerita tersebut penting agar mahasiswa dapat mendorong dirinya dari konsumen menjadi produsen dengan mengoptimalkan kreatifitas yang terbentuk saat mengkonsumsi apa yang digemarinya. Mahasiswa harus dapat sampai pada level produktif tidak hanya dalam kegiatan kurikuler tetapi juga di luar kegiatan tersebut, yang bahkan kalau memungkinkan menghasilkan prestasi yang bermanfaat bagi diri dan kampusnya.


Saya mulai menikmati kuliah di informatika begitu kakak tingkat memilih saya untuk melanjutkan tugas relawan di Laboratorium Komputer. Entah apa pertimbangannya, yang pasti saya tidak bisa menolak permintaan bapak Abdus-Syakur Amin saat itu. Pada awalnya saya merasa khawatir kegiatan tersebut akan mengganggu kegiatan aurod, tetapi kemudian kekhawatiran tersebut sirna setelah saya merasa yakin kegiatan tersebut dapat dijadikan sarana amal yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan berat amal kebaikan. Dan benar saja, ternyata mengganggu aurod. Namun ada banyak keterampilan penting yang diperoleh dari sana, yang menjadi bekal saat wawancara di PT Pratita Prama Nugraha. 

Di Laboratorium Komputer saya diminta untuk membantu bapak Drs Wahyudin yang menjabat sebagai Koordinator Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan bapak Asep Deddy Supriatna selaku stafnya. Di bawah tangga itu saya belajar secara otodidak terkait jaringan komputer, server, dan Linux. Sekolah Tinggi Teknologi Garut membelikan majalah Chip sebulan sekali, dan memberikan buku teknis untuk perpustakaan Laboratorium Komputer dan perangkat lunak yang bisa saya nikmati untuk pembelajaran gratis. Di tempat itu saya memulai inisiatif mahasiswa membangun infrastruktur teknologi informasi kampus secara sukarela dan kaderisasi relawan dalam bidang teknologi informasi hingga terbentuk Kelompok Penggerak TIK.

Walau saya saat itu adalah mahasiswa, tetapi almarhum K.H., Ir. Abdullah Margani Musaddad - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut selalu meminta pendapat apabila ada pengadaan perangkat komputer di kampus. Kampus selalu membelikan apa yang diperlukan dalam kegiatan relawan, seperti kabel jaringan dan lain sebagainya. Akhirnya seluruh komputer di kampus terhubung dengan jaringan, dan jaringan kantor dan laboratorium terhubung melalui file server. Inilah yang mungkin menyebabkan Dr Muhammad Ali Ramdhani percaya saya bisa membangun Internet Hotspot di kampus. Padahal saya baru tahu istilahnya dari lisan beliau. Tetapi atas dasar kepercayaan itu saya belajar dan berhasil mengadakan internet hotspot di kampus. Saya juga diminta pak Wahyudin untuk ikut memelihara komputer di laboratorium SMA Ciledug. Diminta juga oleh pak Nahdi Hadiyanto untuk membangun internet hotspot di lingkungan Yayasan, bahkan malah menjadi metro area network di tiga kecamatan. 

Cerita relawan tersebut saya sampaikan kepada peserta MABIM agar mereka terlibat dalam kegiatan praktik tanpa perlu menunggu masa Kerja Praktek tiba. Kegiatan relawan dapat dijadikan sarana mengasah kemampuan dan menggali pengalaman. Banyak relawan di kampus yang sukses diterima kerja karena ditunjang keterampilan yang diperoleh dari kegiatan relawan, termasuk saya dan sejumlah adik-adik atau mahasiswa yang saya asuh. Dengan kegiatan relawan mereka juga dapat berkontribusi kepada kampus. Mahasiswa harus turun tangan memajukan kampusnya sendiri. Sebagian dari relawan itu sekarang menjadi Dosen di Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, seperti Sri Rahayu dan Rickard Elsen.


Selama jadi mahasiswa dan relawan di kampus, orientasi mereka adalah pengalaman yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan memperkuat sikap kerja yang baik. Selepas lulus kuliah barulah mereka dapat membicarakan hal terkait insentif dengan kampus. Seperti yang saya alami, di mana selepas lulus saya diminta untuk membuat aplikasi keuangan oleh kampus. Dan dari aplikasi itu saya berhasil membeli mesin cuci, lumayan untuk meringankan pekerjaan saya selaku juru kunci Laboratorium Komputer, heheheh.

Kebaikan kita sebagai relawan akan berbuah baik. Banyak relawan TIK di kampus yang diminta kerja bahkan sebelum mereka lulus oleh kampus dan juga kampus lainnya. Termasuk saya yang pada akhirnya harus menjadi PNS Dosen Teknik Informatika, pekerjaan yang tidak pernah terbayang di dalam fikiran. Pada tahun 2003 saat saya berjalan hendak ke luar kompleks Yayasan Musaddadiyah, almarhum K.H. Abdullah Margani Musaddad memanggil dan bertanya rencana saya selepas lulus. Saat itu saya menjawab dengan tidak pasti, karena saya tidak terfikir akan mencari kerja di mana. Beliau meminta saya untuk mengajar di kampus. Tetapi saya tidak memberikan jawaban menerima atau menolak, hanya mengekpresikan kebingungan harus menjawab apa. 

Hingga akhirnya siang itu ibu Dini Destiani - Ketua Program Studi Teknik Informatika mendatangi saya dan menanyakan apakah saya siap diplot ngajar? Saya menjelaskan kepada beliau bahwa saya tidak memiliki rencana pasti, mungkin masih akan di Garut atau pulang ke Subang. Tapi karena jawabannya harus jelas, maka saya menjawab boleh diplot tetapi meminta beliau berkenan apabila suatu saat saya undur di tengah jalan karena harus kembali ke Subang. 

Maklumlah, saat itu memang sedang galau karena ditinggal seseorang yang memilih untuk menikah dengan pria lain dengan alasan telah bekerja sebagai PNS. Syukurlah galaunya terjadi setelah lulus, tidak terbayang apa yang akan terjadi kalau kejadiannya sebelum lulus. Banyak teman kuliah yang berhenti kuliah karena masalah seperti itu. Namun galaunya memang berat, maklumlah cinta pertama, hehehe. Sampai pernah menyengajakan diri ke almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad untuk meminta air zam zam untuk menghilangkan rasa gundah. Beliau malah menjawab, obatnya adalah perempuan lagi, hehehe.

Saya pernah mengikuti saran guru saya tersebut, tetapi tidak berhasil. Pun demikian saat beliau menelpon dan meminta saya datang ke rumah beliau untuk bertemu dengan seseorang yang hari minggu itu katanya ada di rumah beliau, saya menyatakan tidak siap karena merasa tidak memiliki kelayakan untuk memiliki dan dimiliki oleh siapapun. Beliau sering mengirim lagu ke Radio Yamusa FM untuk saya yang katanya sedang galau. Ya ampun, jadi pada tahu, hehehe. Beliau benar-benar menjadi penghibur dan pelindung dalam masa galau tersebut, hingga akhir hayat beliau. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu 

Siang itu pak Wahyu, guru SMA Ciledug yang juga tinggal di kobong dengan saya memberi informasi kalau Kopertis membuka lowongan PNS. Saya kemudian berniat mengabarkan ini kepada Dosen-Dosen di STTG. Ternyata kabar itu sudah diterima dan semuanya sedang mengurus kelengkapan syaratnya. Entah bagaimana ceritanya saya pun akhirnya ikut mengurus kelengkapan tersebut, jalannya dimudahkan oleh Dr Muhammad Ali Ramdhani. 

Saat proses seleksi, saya sempat mau mundur tetapi ditahan oleh pak Eri Satria yang juga ikut melamar. Beliau mengatakan, mungkin saja rasa malas itu pertanda ada rizqinya. Dan benar saja, saya diterima sebagai PNS. Almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad mengupayakan sejumlah dosen kampus yang diterima masuk agar dapat diperbantukan kembali di kampus, dan akhirnya saya pun kembali bertugas di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ibu saya merasa bahagia dan berkata kepada Bapak kalau Allah telah menjadikan PNS sebagai jalan hidup anaknya, maka tidak ada penghalang yang dapat mencegah. Tahun 2004 itu, saya dan kakak (Retti Sulistiawati) diangkat sebagai CPNS, di mana saya menjadi Dosen PNS dan kakak menjadi Guru PNS. Ibu saya bercanda dengan mengatakan, anak kita tidak perlu dipukuli di STPDN untuk menjadi PNS. Bapakpun tersenyum. 

Saat itu panitia memberi isyarat waktu saya sudah habis. Lalu saya segera menutup cerita tersebut dengan membuat kesimpulan. Saya berharap adik-adik dapat mengambil pelajaran dari cerita tersebut dan menjadi sosok mahasiswa dan lulusan yang lebih baik dan sukses dari pada saya. 

Minggu, 06 Maret 2016

Silaturahim dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono


Pada hari minggu, tanggal 6 Maret 2016, bertempat di rumah makan Asep Stoberi Limbangan - Garut saya menghadiri undangan kak Makmul untuk bersilaturahim dengan Presiden Indonesia sebelum pak Jokowi, yakni Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Satu hari sebelumnya pada malam hari kak Makmul menyampaikan undangannya dengan maksud agar saya dapat menyampaikan masukan kepada beliau terkait peran penting komunitas / relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam pendampingan masyarakat hingga ke perdesaan dalam pemanfaatan TIK. Untuk keperluan tersebut saya menyiapkan beberapa lembar yang berisi konsep dan capaian kegiatan pemberdayaan desa yang dilakukan di Garut. Pengerjaaannya hingga pukul setengah dua pagi. 


Sesuai dengan undangan, saya tiba ke lokasi pukul 08.00, namun ternyata rombongannya akan tiba agak siang. Dalam masa menunggu tersebut, kak Makmul memperkenalkan saya kepada ibu Siti, legislator dari fraksi partai tertentu di DPR. Saya kemudian menjelaskan rencana kegiatan relawan untuk pendampingan masyarakat dalam pemanfaatan TIK yang akan dilakukan oleh Saka (Satuan Karya) Pramuka Telematika Garut. Beliau mengapresiasi rencana tersebut. Beberapa minggu sebelumnya dalam kesempatan melaksankaan uji kompetensi di SMK IT Nurul Amien, kak Makmul menjanjikan pertemuan dengan beliau untuk kepentingan kegiatan Saka Telematika Garut. 

Saya juga bertemu dengan bapak-bapak pendidik di wilayah Utara Garut. Ternyata beberapa di antaranya adalah pengurus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) seperti saya. Pak Bambang yang merupakan pimpinan sekolah di Yayasan Pondok Pesantren al-Ghaniyyah kecamatan Selaawi menjelaskan usahanya merintis HIPMI Pesantren. Saya kemudian menawarkan kepada beliau untuk memanfaatkan luaran program Ipteks bagi Masyarakat tahun 2014 yakni situs web ict4pesantren yang salah satu fiturnya adalah etalase bisnis Pondok Pesantren. Pondok Pesantren anggota HIPMI Pesantren dapat memanfaatkan fitur tersebut untuk mengembangkan bisnis antar Pondok Pesantren.  

Selain itu saya pun bertemu dengan pak Temy yang juga pejabat di lingkungan Yayasan tersebut. Menariknya, beliau memiliki Saung Net di mana kebutuhan informasi atau pengetahuan para petani disediakan melalui sambungan internet Smartfren di tengah lahan pertanian. Bagi saya ini temuan luar biasa, karena pada akhirnya saya bertemu dengan Komunitas Petani yang menggunakan TIK untuk keperluan pertanian. Saya sampaikan kepada beliau ketertarikan untuk mengunjungi dan membantu teknologi Saung Net. Saya sampaikan komitmen untuk mendampingi Komunitas ini hingga diusulkan mewakili Garut ke Komunitas TIK Award Jawa Barat. 

Sementara bapak Kyai menjelaskan kepada saya fasilitas yang dimiliki Yayasan, termasuk di antaranya Rumah Susun Sewa. Saya kemudian mencoba menghubungkan fasilitas dan kegiatan Komunitas di Utara tersebut dengan forum Quadruple Helix tahunan dan Koordinasi Komunitas TIK wilayah Utara. Saya mengajukan agar Yayasan yang berlokasi di desa Cigawir kecamatan Selaawi tersebut dapat menjadi Pusat Komunitas TIK wilayah Utara Garut, di mana bapak-bapak tersebut menjadi pengurus Koordinasinya. Usulan saya tersebut disambut baik. Pak Bambang rencananya akan mengundang saya dalam kesempatan kegiatan mendatang di Yayasan tersebut, yang tentu saja dengan senang hati akan saya penuhi untuk melihat potensi pengembagan Komunitas / Relawan TIK atau partisipasi masyarakat dalam bidang TIK di wilayah utara Garut. 

Saya juga bertemu dengan kang Uce yang merupakan jurnalis TV9 di lokasi. Beliau adalah salah satu personal yang merintis e-Kecamatan di Selaawi, yang pertama di Garut. Beberapa hari sebelumnya saya membaca berita tentang e-Kecamatan yang diluncurkan oleh Bupati Garut ini dan menyempatkan diri untuk mencarinya di internet walau tidak ditemukan. Di lokasi ternyata saya dapat bertemu dengan penggeraknya. Beliau menjelaskan bahwa e-Kecamatan merupakan bukanlah situs web, tetapi aplikasi yang menghubungkan layanan desa dengan layanan kecamatan. Oleh karenanya wajar saya tidak berhasil menemukan keberadaan aplikasinya di internet. Beliau menjelaskan bahwa pemerintah di Lampung tertarik untuk mempelajari aplikasi ini. Saya sampaikan kepada beliau keinginan untuk menjadikan kecamatan Selaawi sebagai sampel daerah layanan relawan TIK di wilayah utara Garut. Ini akan melengkapi layanan relawan TIK di wilayah selatan Garut yang telah mulai dijalankan sejak tahun 2015. 

Tibalah saat pertemuan dengan pak Susilo Bambang Yudhoyono. Di rumah makan itu, kami berempat adalah orang yang pertama kali disalami beliau sesaat setelah beliau mengucapkan salam kepada semua orang yang ada. Saya melihat dalam rombongan tersebut ada ibu Ani Yudhoyono dan anaknya pak Ibas. Saya juga sempat menyapa mas Roy Suryo yang merupakan salah satu menteri dalam kabinet sebelumnya. Saat melihat ada kang Dede Yusuf, saya teringat Saka Telematika Garut yang saya pimpin. Saka ini merupakan rintisan Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat dengan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Barat dan didorong oleh kang Dede. Saya hanya sempat memperkenalkan diri kepada beliau sebagai ketua Saka Telematika di Garut namun tidak sempat berbincang karena beliau nampak sibuk sekali. 


Lokasi pertemuan pak Susilo Bambang Yudhoyono dengan masyarakat Garut sangatlah padat. Tadinya saya mau menyampaikan masukan yang sudah dipersiapkan, namun melihat kondiri rasanya tidak memungkinkan. Bahkan saya sempat berfikir untuk pulang duluan saja setelah menitipkan lembaran usulan ke kak Makmul, namun urung dilakukan. Lalu kemudian saya berfikir untuk menyerahkan lembaran usulan tersebut ke mas Roy saja. Akhirnya saya bisa menyerahkannya dan menjelaskan isi lembaran tersebut. Beliau membawa lembaran tersebut dan berjanji akan mengkomunikasikannya kepada komisi terkait di DPR. 


Lepas kegiatan tersebut, saya melaporkan temuan-temuan dalam diskusi dan sejumlah komitmen dengan pegiat TIK di wilayah utara Garut kepada pak Dik Dik Hendrajaya, kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Beliau mengapresiasi dan ingin membicarakan banyak hal dengan saya di kampus. Komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut terkait Komunitas / Relawan TIK di Garut ini telah terbentuk sejak tahun 2014 sebelum Dinas ini ada. Saat itu Komunitas / Relawan TIK Garut didampingi oleh bidang Informatika Sekretaris Daerah kabupaten Garut yang dipimpin oleh pak Basuki Eko. Hingga kini Komunitas / Relawan TIK telah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan bersama Dinas Komunitas dan Informatika kabupaten Garut. 

Minggu, 21 Februari 2016

Pengantar Himpunan Mahasiswa


Minggu, 22 Februari 2016, hingga pukul setengah satu pagi presentasi ini diselesaikan untuk disampaikan dalam acara Mabim (Masa Bimbingan) mahasiswa baru Prodi (Program Studi) Teknik Informatika STTG (Sekolah Tinggi Teknologi Garut) yang diselenggarakan oleh HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika). Sebagai ketua Prodi saya ingin memberikan gambaran kepada mahasiswa dan pengurus HIMATIF tentang bentuk kegiatan seperti apa yang harus dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa agar sejalan dengan kebijakan pemerintah dan kepentingan akreditasi Prodi. Melalui presentasi ini saya berusaha mendorong mahasiswa agar turut serta bersama Prodi dalam memenuhi standar kemahasiswan dengan melakukan kegiatan relevan dibawah pengelolaan HIMATIF. 

Karena pengerjaan presentasi ini hingga pagi, saya memerlukan waktu tidur tambahan di pagi hari. Memastikan tubuh bugar diperlukan mengingat lokasi pelaksanaan Mabim lumayan jauh, yakni di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional Pameungpeuk, sekitar perjalanan 3 jam dari pusat kota. Saya berencana pulang pergi mengingat anak bungsu dari kemarin hingga hari ini demam, khawatir memburuk dan perlu dibawa ke klinik. Selain itu besok harinya di STTG ada pertemuan untuk mengenalkan Prodi Teknik Informatika kepada calon mahasiswa.

Jam 10 an saya mengontak pak Eri Satria, berharap beliau punya waktu untuk menemani ke lokasi Mabim. Alhamdulillah, walau sudah menjelang siang ternyata beliau bisa menemani, sehingga saya tidak perlu sendirian menyusuri jalan ke Pameungpeuk yang berkelok. Namun perlu perjuangan untuk menjemput beliau. Jarak tempuh yang diperlukan ke rumah beliau biasanya sekitar belasan menit, kini harus hampir satu jam. Jalanan dikepung oleh kemacetan karena hari ini adalah pawai milad Garut. Dari jalan pembangunan saya memutar ke copong, bunderan Tarogong, hingga ke hampor. Dalam perjalanan sempat melihat dan berusaha menyapa sekretaris Dinas Komunikasi Informatika Garut yang berada di barisan depan dan mengayuh sepeda ontel bersama komunitasnya. Sempat bertanya di dalam hati, kapan Komunitas / Relawan TIK Garut ikut konvoi atau pameran dalam milad Garut. Tapi pikiran itu buyar setelah menyadari perkumpulan ini belum didaftarkan ke Kesbangpol Garut. Masih perlu waktu untuk bisa melakukan itu, sementara cukup puas dengan kesanggupan menjalankan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Akhirnya jam 12 siang berhasil keluar dari kecamatan Samarang, dan perjalanan menuju Pameungpeuk pun lancar. Acara Mabim dibuka siang hari tanpa kehadiran saya. Syukurlah ada ketua STTG didampingi Wakil Ketua II STTG dan Sekretaris saya membuka acara tersebut. Sementara itu saya masih di daerah Batu Numpang, istirahat sebentar di rumah makan dan menyantap makanan dengan lahapnya saking enaknya masakan di sana. Sampai di lokasi jam 15 an. Setelah berbincang sebentar dengan Wakil Ketua II STTG dan Sekretaris saya, waktu menuju Maghrib dimanfaatkan untuk melengkapi materi presentasi. 

Sekretaris saya menginformasikan kalau materi saya dilaksanakan sekitar jam tujuh malam. Waktu menunggu dimanfaatkan untuk makan Seafood bersama pak Eri di tepi pantai. Satu jam kemudian panitia menghubungi melalui sms dan telpon menginformasikan sesi saya sudah akan dimulai. Makanan enak tersebut pun segera dihabiskan untuk dapat kembali ke lokasi. Ternyata ada dua orang alumni sudah menunggu, yang salah satunya adalah Koordinator Komunitas TIK wilayah Selatan Garut. Saya yang mengundang untuk mengevaluasi pelaksanaan Olimpiade Komunitas TIK se Garut bulan lalu. Karena waktunya bertepatan dengan sesi materi tersebut, saya ajak keduanya untuk menemani penyampaian materi di depan mahasiswa baru dan HIMATIF.

Dalam sesi tersebut saya jelaskan semua bagian Slide, di mana HIMATIF perlu menjalankan tiga kegiatan yakni 1) Kaderisasi anggota dan pengurus HIMATIF yang akan menjamin keberlanjutan program kemahasiswaan, 2) Mewujudkan prestasi akademik dan non akademik, serta 3) Melaksanakan pelayanan kepada masyarakat internal dan eksternal kampus sebagai usaha mendorong ketuntasan kuliah mahasiswa dan bagian dari promosi Prodi. Dan yang terpenting dari itu semua adalah HIMATIF harus mewujudkan transparansi kepengurusan, di mana laporan pertanggung jawaban kepengurusan, pengurus bidang, dan panitia ad-hoc disimpan di Cloud Storage, diterbitkan di situs web HIMATIF, dan disebarluaskan di media sosial. Keterbukaan dokumen di internet dan banyaknya akses kepadanya diharapkan dapat meningkatkan rangking Webometric STTG dari posisi terakhir 1 se Garut, 114 se Indonesia, dan 8010 se dunia. Selain itu juga untuk menjamin tidak terputusnya pengetahuan dari generasi ke generasi sehingga diharapkan ada peningkatan kualitas kegiatan setiap generasinya. 

Presentasi ditutup dengan yel-yel "Informatika, Satu !", dengan makna bersatu untuk menjadi nomor satu. Berikut adalah slide presentasi yang disampaikan :