Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Luaran Jabatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Luaran Jabatan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Desember 2020

Atap Kompetensi


Thn 2019 silam, saya merancang struktur kurikulum dgn filosofi seperti bangunan. Ada pondasi, tiang, pondasi atap, dan atap. Paket Konsentrasi 21 SKS berisi mata kuliah di luar bidang prodi (informatika) dlm lingkup Komputasi utk mengakomodasi minat mahasiswa dan kompetensi dosen, serta mengikuti perkembangan kekinian berdasarkan masukan alumni dan pengguna lulusan. Ada lebih dari satu paket konsentrasi yg bisa dipilih oleh mahasiswa. 

Sekarang ini, pemerintah mendorong Perguruan Tinggi utk dapat memenuhi hak mahasiswa menggunakan 20 SKS kegiatan di luar prodinya (40 SKS bila di luar perguruan tinggi) dlm beragam kegiatan KMMB (Kampus Merdeka - Merdeka Belajar). Bila tdk ada syarat harus belajar di prodi lain, sebenarnya paket Konsentrasi di luar bidang prodi ini sdh memenuhi syarat utk disebut KMMB, karena mahasiswa berkesempatan utk menghabiskan 21 SKS mengikuti pembelajaran mata kuliah dalam bidang yg diminatinya di luar bidang prodi. 

Pengguna struktur kurikulum juga dapat menambahkan paket konsentrasi KMMB 21 SKS, misalnya paket Proyek Kemanusiaan, Kewirausahaan, Proyek di Desa, dan lain sebagainya. 8 Paket Konsentrasi / KMMB ini dapat dipilih oleh mahasiswa sesuai minatnya. Paket ini menempati struktur atap utk membuat bangunan kompetensi dlm diri peserta didik berfungsi penuh, seperti bangunan yg telah diberi atap.

Selasa, 13 Agustus 2019

Proses Skripsi Harus Berdasarkan Rencana Pembelajaran


Sumber Gambar: Palmer

Dijelaskan dalam Permen 44 tahun 2015 tentang SNPT bahwa proses penelitian yang dilaksanakan oleh mahasiswa dalam rangka melaksanakan skripsi meliputi tiga bagian, yakni perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan. Luaran perencanaan akan mengisi bagian 1 hingga 3 skripsi dan berujung pada seminar proposal. Luaran pelaksanaan akan mengisi bagian 4 dan 5 skripsi. Aktivitas pelaporan meliputi penyusunan, serta penilaian skripsi dalam ujian atau sidang skripsi. Skripsi menurut rumusan keterampilan dalam lampiran Permen tersebut adalah deskripsi saintifik. Deskripsi menurut KBBI adalah pemaparan atau penggambaran dengan kata-kata secara jelas dan terperinci. Dengan demikian dalam skripsi tidak boleh hanya menyajikan / menunjukan hasil / data penelitian, tetapi harus ada pembahasan berupa pemaparan jawaban pertanyaan penelitian dan penyelesaian masalah penelitian berdasarkan data penelitian secara jelas dan rinci. 

Karena skripsi merupakan deskripsi saintifik, maka pembelajaran penelitian ini menggunakan pendekatan saintifik. Dalam pendekatan saintifik Mahasiswa mengikuti pembelajaran penelitian sesuai rancangan kegiatan pembelajaran (Rusman, 2015) yang dibuat oleh dosen pembimbing, yang dikenal dengan istilah RKPS (Rencana Kegiatan Pembelajaran Semester). Dengan demikian setiap dosen pembimbing membawa mahasiswa ke dalam proses pembelajaran yang terencana dan bukan terserah mahasiswa maunya apa. Disebutkan dalam Permen tersebut, bahwa hasil penelitian mahasiswa harus memenuhi capaian pembelajaran lulusan yang dituangkan dalam silabus.

Ada indikator capaian pembelajaran yang harus muncul pada peserta didik yang dicapai dengan strategi, metode, dan media tertentu selama satu semester. Absensi mahasiswa dalam proses bimbingan setiap minggunya sama halnya dengan absensi dalam proses pembelajaran mata kuliah lainnya. Untuk menjamin ketercapaian rencana pembelajaran selama satu semester, perguruan tinggi dapat menerapkan aturan yang sama dengan pembelajaran mata kuliah lain, berupa penambahan semester atau nilai E bagi mahasiswa yang bimbingannya selama satu semester kurang dari sekian persen. Aturan tsb dapat membangun perhatian pada mahasiswa untuk memenuhi indikator capaian pembelajaran setiap minggu.  

Menurut Hosnan (2014), pendekatan saintifik adalah suatu proses pembelajaran yang dirancang supaya peserta didik secara aktif mengkonstruk konsep, hukum, atau prinsip melalui kegiatan mengamati, merumuskan masalah, mengajukan/merumuskan hipotesis, mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan, dan mengkomunikasikan. Disebutkan dalam rumusan keterampilan umum, bahwa mahasiswa sarjana harus mampu mengambil keputusan secara tepat dalam konteks penyelesaian masalah di bidang keahliannya, berdasarkan analisis data dan informasi. 

Rabu, 01 November 2017

Evaluasi Masukan Lulusan 2017

Saya memulai evaluasi ini dengan mengutip kalimat Imam Syafi'i r.m, "Jika kau tdk bisa menahan lelahnya belajar, maka kau hrs bisa menahan perihnya kebodohan." Ketahuilah bahwa dimensi belajar itu luas dan proses belajar itu harus dilalui manusia dari mulai dalam buaian hingga liang kubur.

Tahun ini lebih dari seratus lulusan prodi (program studi) Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dilepas dalam acara wisuda sarjana. Prodi menerima pernyataan dari para lulusan, di mana 44 % di antaranya menyatakan permasalahan pelayanan, kemahasiswan, pembelajaran, dan kebijakan; sementara 56 % tidak menyatakan permasalahan. Dalam kaitannya dengan permasalahan, satu orang mahasiswa dapat menyatakan lebih dari satu permasalahan. Walau suara pernyataan masalahnya tidak besar, namun saya akan berusaha memberikan tanggapan. Sebagian tanggapan sudah disampaikan oleh saya baik secara online di media sosial ataupun offline di kantor program studi dan tempat lainnya. Pengulangannya diharapkan dapat bermanfaat bagi lulusan yang mungkin belum sampai kepadanya tanggapan tersebut atau belum memahami penjelasan di dalamnya. Berikut ini statistik permasalahan berdasarkan pernyataan pesan lulusan prodi Informatika dalam buku Wisuda Sarjana XVI Sekolah Tinggi Teknologi Garut :


A. PELAYANAN

Komunikasi Antar Personal

Masukan dengan persentase pernyataan 10 % adalah terkait komunikasi lembaga, prodi, dosen, dan staf dengan mahasiswa, dalam upaya menjalin hubungan baik antara semua pihak. Komunikasi pertama prodi dengan mahasiswa adalah pada saat MABIM (Masa Bimbingan) prodi Informatika pada semester pertama. Dalam kesempatan tersebut mahasiswa diberikan ruang untuk menyampaikan permasalahan dalam pengalaman pertama mereka mengikuti perkuliahan di kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Prodi dan lembaga / pihak kampus memberikan penjelasan sebagai jawaban atas permasalahan yang disampaikan.

Kesempatan lainnya diperoleh mahasiswa melalui BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa). Beberapa pertemuan lembaga dengan mahasiswa telah digelar dalam rangka membahas permasalahan yang dihadapi oleh mahasiswa dalam proses pembelajarannya. Organisasi mahasiswa memainkan peranan penting sebagai medium atau jembatan komunikasi mahasiswa dengan lembaga. Tidak terkecuali Himpunan Mahasiswa. Sebagaimana dijelaskan oleh saya kepada Himpunan Mahasiswa Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam kesempatan MABIM pada bulan Februari 2016. Pesan tersebut diulang oleh saya dalam Musyawarah Besar pada bulan Oktober 2016 agar pengurus baru dapat melaksanakan arahan yang saya tuangkan dalam slide presentasi MABIM 2016.


Dalam MABIM 2016 tersebut, saya menjelaskan bahwa Himpunan Mahasiswa dalam kaitannya dengan ketuntasan kuliah mahasiswa harus berperan aktif mendampingi mahasiswa informatika selaku anggotanya dalam mengatasi habatan perkuliahan melalui kelompok belajar, forum komunikasi himpunan mahasiswa, serta advokasi masalah prodi dan kampus. Himpunan mahasiswa harus secara pro aktif dapat mencatat permasalahan mahasiswa melalui komunikasi lintas angkatan, menyampaikannya kepada prodi untuk permasalahan terkait prodi, dan menyampaikannya kepada BEM untuk permasalahan terkait kampus. Himpunan mahasiswa tidak boleh membiarkan permasalahan mahasiswa menjadi kegelisahan luas yang tidak kunjung selesai dan meluap ke luar kampus. Pengurus Himpunan harus berusaha membantu anggotanya seoptimal mungkin.  

Dengan demikian permasalahan komunikasi ini tidak hanya menggambarkan kelemahan kampus, prodi, dosen, atau staf, tetapi juga kelemahan mahasiswa itu sendiri terkait peran BEM dan Himpunan Mahasiswa. Prodi informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut menyediakan beragam cara bagi mahasiswa untuk menyampaikan permasalahannya dan mendapatkan jawabannya, melalui dosen wali selaku konselornya, melalui organisasi himpunan mahasiswa selaku perkumpulan yang menaunginya, atau langsung kepada ketua atau sekretaris prodi baik secara offline ataupun online. Artinya pintu komunikasi dibuka lebar oleh prodi, hanya perlu keberanian saja untuk menyampaikan permasalahan tersebut dan kedewasaan dalam menerima jawabannya. Dengan dua sikap tersebut hubungan baik kampus, prodi, dosen, dan staf dengan mahasiswa bisa terjaga.

Fasilitas Kampus

Sekitar 7 % pernyataan adalah terkait fasilitas kampus, yang secara khusus menyoroti area parkir dan toilet pria. Hampir setengah populasi mahasiswa kampus Sekolah Tinggi Teknologi Garut adalah mahasiswa prodi Informatika, dan populasi ini berkembang pesat. Rata-rata jumlah mahasiswa prodi Informatika per tahunnya adalah 124 orang, dan jumlah populasinya lima tahun terakhir adalah 2,489 orang mahasiswa. Tentunya apabila tingkat kepemilikan kendaraan tinggi hal ini membuat ruang parkir di dalam kampus semakin sempit. Oleh karenanya mulai tahun 2017 ini, khusus untuk kendaraan roda empat milik mahasiswa sudah mulai diarahkan untuk menempati ruang parkir di luar kampus, tepatnya di dalam kompleks yayasan al-Musaddadiyah yang terpisah jalan kecil dengan kompleks kampus. Area kompleks yayasan al-Musaddadiyah, tepatnya di depan gedung olah raga, memiliki ruang parkir yang cukup dan dijaga oleh aparat keamanan profesional dari Red Guard. Dengan demikian kampus sudah berusaha untuk menyediakan area parkir yang memadai untuk mahasiswa. Mungkin sebagian dari lulusan yang memberi pernyataan 7 % ini ada yang belum mencoba parkir di area leluasa tersebut. Boleh jadi sebabnya adalah karena harus berjalan sekian meter ke kompleks kampus.

Populasi juga mempengaruhi kebutuhan toilet. Semakin banyak mahasiswa, semakin banyak pula jumlah toilet yang dibutuhkan. Sementara ini pekerjaan terkait fasilitas yang dilaksanakan oleh bidang sarana prasarana banyak sekali. Sejumlah pekerjaan yang sudah dilaksanakan antara lain pembangunan ruang laboratorium, masjid kampus, sarana olah raga, serta perbaikan gedung berikut ruangan di dalamnya. Sekarang setiap ruang kelas sudah dilengkapi proyektor dan AC seperti ruang laboratorium komputer. Tentu saja toilet menjadi perhatian kampus, mulai dari perbaikan ruangannya hingga penambahan jumlahnya. Hanya saja penambahan toilet ini belum dilaksanakan karena waktu pelaksanaannya belum tiba.

Layanan Kampus
   
Sekitar 3 % menyatakan persoalan layanan kampus, khususnya internet gratis dan kinerja staf. Sebenarnya internet gratis sudah disediakan oleh kampus melalui dua sumber. Sumber pertama adalah jalur Wifi ID yang merupakan kerjasama kampus dengan PT Telekomunikasi Indonesia, dan sumber kedua adalah jalur internet milik kampus. Titik aksesnya tersebar di beberapa lokasi kumpul mahasiswa. Barangkali yang dimaksud oleh mahasiswa bukan pada jumlah titik akses, tetapi kecepatan / bandwidth nya. Tentu saja kampus sangat senang apabila mahasiswa mendapatkan internet berkecepatan tinggi, tetapi layanan tersebut akan berpengaruh terhadap biaya perkuliahan. Sementara ini kampus tidak ingin menjadikan internet sebagai beban pembiayaan besar bagi mahasiswa. Beban internet sendiri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan kegiatan mandiri mahasiswa, tetapi juga untuk kebutuhan praktikum dan pelayanan.

Cita rasa layanan kampus bergantung kepada kinerja staf. Kinerja ini berkaitan dengan ketepatan dan kecepatan kerja layanan. Terbatasnya sumber daya manusia dan teknologi informasi lah barangkali yang menyebabkan kerja layanan tidak sangat cepat. Namun kampus telah berusaha untuk memenuhi kebutuhan tersebut, seperti dengan menyediakan situs web, anjungan informasi mandiri, dan aplikasi mobile yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk mendapatkan informasi akademik lebih cepat di mana saja dan kapan saja. Prodi informatika sendiri sementara ini hanya memiliki satu staf yang melayani sekitar 200 an yang terdiri dari dosen dan mahasiswa, khususnya untuk urusan praktikum, kerja praktek, dan skripsi. Hal ini barangkali berpengaruh terhadap kecepatan pelayanan. Karena suara persoalannya hanya 3 %, maka besar kemungkinan mahasiswa secara umum menganggap kinerja staf ini sudah memadai. Persoalan kinerja staf ini barangkali dihadapi oleh mahasiswa dengan keadaan yang tidak umum.

Kelas untuk Karyawan

Istilah kelas karyawan / non reguler sebenarnya tidak dikenal di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Prodi informatika hanya menyelenggarakan kelas reguler saja. Hanya saja memang ada kelas khusus yang umumnya diisi oleh karyawan dan jadwal kuliahnya didesain agar sesuai dengan waktu kerja karyawan. Walau demikian waktu kuliah tatap muka, praktikum, dan lainnya tetap memperhatikan SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi). Karenanya perkuliahannya dilaksanakan sampai masuk waktu lembur / di luar rentang jam kerja. Idealnya untuk karyawan ini kampus menyelenggarakan Pendidikan Jarak Jauh yang telah ada payung hukumnya. Hanya saja untuk sementara ini kampus belum dapat / siap melaksanakannya.

Pada tahun 2017, di saat populasi mahasiswa semakin bertambah, prodi informatika merasa tidak lagi dapat menyelenggarakan jadwal khusus bagi mahasiswa karyawan. Akhirnya diputuskan tidak lagi akan menyediakan jadwal khusus mahasiswa karyawan mulai tahun 2017. Dengan demikian, harapan yang tercermin dari 1 % suara ini mungkin tidak dapat dilaksanakan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam waktu dekat ini. Perlu waktu bagi kampus untuk menyediakan sistem pendidikan jarak jauh bagi karyawan yang ingin melanjutkan pendidikan bidang informatika di Garut.

KEMAHASISWAAN

Dalam kaitannya dengan fasilitasi kegiatan UKM, khususnya yang berelasi dengan program pengabdian kepada masyarakat, prodi telah memberikan dukungan penuh. Prodi membantu UKM Relawan / Komunitas TIK atau Pramuka dalam berbagai tindakan, termasuk bantuan dana kegiatan, untuk program Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi, Forum Masyarakat Informasi Garut, Olimpiade Komunias TIK se Garut, dan lain sebagainya. Prodi secara aktif membagikan informasi perlombaan di grup Himpunan Mahasiswa dengan harapan ada mahasiswa yang ikut serta. Tentunya juga siap membantu pembiayaannya sekiranya diajukan oleh mahasiswa yang bersangkutan. Hanya saja memang belum ada mahasiswa yang mengajukan pembiayaan tersebut kepada prodi.

Prodi tahun 2017 ini tengah menjalin kerjasama dengan Himpunan Alumni Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk penyediaan dana kemahasiswa tersebut. Tidak hanya untuk keperluan akomodasi mengikuti lomba, dapat juga digunakan untuk memberikan apresiasi terhadap mahasiswa informatika yang meraih juara kesatu dalam kegiatan lomba. Sekarang ini penggalangan dana sumbangan dari alumni tengah berjalan sebagaimana diketahui dari situs webnya. Rencananya dana yang terkumpul dapat dialokasikan untuk bantuan kuliah, kemahasiswaan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, serta fasilitas belajar.  Usaha tersebut telah disosialisasikan pada tanggal 26 Agustus 2016 kepada seluruh peserta skripsi / calon alumni dari angkatan 2013 dan 2015.  Langkah ini semoga dapat memenuhi harapan lulusan pemilik suara 2 % ini.     


PEMBELAJARAN

Peningkatan Materi Perkuliahan

Suara yang menyatakan masalah pembelajaran hanya 9 %. Walau minor, prodi sangat memperhatikan mengingat pembelajaran ini menentukan tercapainya luaran pembelajaran. Usaha peningkatan materi perkuliahan dilaksanakan oleh prodi dengan cara mengikutsertakan dosen dalam pelatihan dan sertifikasi kompetensi level internasional secara bertahap. Satu dosen telah dilatih oleh Google, dan tiga lainnya telah mendapatkan gelar Microsoft Technology Associate. Selain itu prodi juga telah menjalin kerjasama dengan Oracle Academy dan menggelar webinar bagi dosen dan mahasiswa pada 28 September 2017 silam dalam acara Inaugurasi Alumni. Oracle Academy sebagaimana Google juga menyediakan kurikulum yang dapat diadopsi oleh prodi dalam matakuliah terkait. Hal tersebut diharapkan dapat memberi masukan atau gagasan terkait materi perkuliahan.

Cara lainnya adalah dengan mendorong dosen agar dapat mengajarkan pengetahuan dan teknologi terkini, seperti menyediakan matakuliah pilihan pemrograman mobile yang pemafaatan teknologinya sekarang ini sangat banyak dan luas. Selain itu prodi memanfaatkan dana sumbangan alumni 2015 dan 2016 sebesar Rp 10,030,000 untuk dibelikan 78 buku yang mengandung pengetahuan terkini dan dapat dirujuk oleh dosen dalam perkuliahannya.  Yang pasti prodi telah mengupayakan adanya peningkatan materi perkuliahan bagi dosen. Tinggal dilakukan evaluasi untuk melihat apakah ada pembaruan rencana perkulian semesternya.   

Peningkatan Waktu Praktikum

Sekitar 2 % suara mempersoalkan waktu praktikum yang belum memadai. Barangkali pendapat minoritas ini muncul karena adanya hambatan pada sebagian kecil lulusan dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan dalam bidang informatika.

Menurut SNPT di antara hak lulusan adalah mendapatkan sertifikat kompetensi yang tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan teoritis saja, tetapi juga keterampilan "lapangan" dalam menggunakan metode atau perangkat. Tentunya kegiatan praktikum memberi kontribusi besar selain tatap muka terhadap pemenuhan sertifikasi kompetensi tersebut. Oleh karenanya praktikum ini diberikan perhatian khusus oleh prodi, termasuk dengan menyediakan sks khusus untuk matakuliah praktikum. Pelaksanaannya sks nya pada tahun ini sama dengan kuliah tatap muka. Prodi tidak dapat membuat besar SKS nya berubah hingga dilakukan perubahan kurikulum. Oleh karenanya prodi hanya berusaha mengoptimalkan pemanfaatan waktu praktikumnya saja. Pelaksanaannya sangat bergantung kepada dosen dan pengawasan prodi.

Dosen wajib memberikan kuliah tatap muka sebagai pengantar praktikum untuk 1 SKS matakuliah praktikum yang diampunya selama 50 menit, kemudian 170 menit sisanya digunakan untuk praktikum dibantu oleh asisten praktikum. Dosen wajib melaksanakan ujian dan memberikan tugas sebagaimana kuliah tatap muka. Dan prodi telah membuat standar pembagian waktu ujian sebagai berikut : 5 menit digunakan untuk persiapan, 40 menit untuk ujian online, 60 menit praktek, dan 5 menit untuk menutup ujian.  Hal tersebut dikarenakan peserta praktikum dalam satu laboratorium dibagi dua kelompok, yang masing2 kelompok memiliki waktu 110 menit untuk ujian praktikum. Pengaturan waktu ini diharapkan memberikan waktu yang memadai bagi mahasiswa untuk mendapatkan keterampilan sesuai dengan capaian pembelajaran yang diharapkan.

Proses Skripsi yang Ketat

Mungkin proses ketat yang dimaksud adalah terkait kendali standar tata tulis laporan skripsi yang dilakukan oleh prodi. Kendali ini dilakukan saat adanya temuan lolosnya laporan skripsi yang tidak memenuhi standar tata tulis dari dosen pembimbingnya. Dan beberapa mahasiswa mengatakan kalau mereka mencontoh laporan sebelumnya dan bukan merujuk buku pedoman skripsi dalam menyusun laporan skripsinya. Kalau prodi tidak melibatkan diri dalam kendali standar tata tulis laporan skripsi, masalah ini akan terulang tahun depan. Kendali ini seharusnya dilaksanakan oleh dosen pembimbing, namun dalam kondisi seperti ini prodi berpandangan harus menerapkan kendali dua lapis. Jangan sampai ada lagi mahasiswa tahun depan yang mengatakan kesalahan tata tulisnya adalah disebabkan mencontoh laporan skripsi tahun lalu yang kenyataannya tidak memenuhi standar.

Memang benar bahwa yang esensi dari penelitian adalah isi laporannya. Namun tata tulis yang baik mencerminkan kemampuan mahasiswa dalam menyusun sebuah laporan yang baik. Oleh karenanya prodi mengambil peran kendali tersebut. Dan bagi sebagian lulusan, kendali tersebut dianggap merepotkan. Bagi prodi, pendapat 2 % yang mengeluhkan pengendalian ini menggambarkan hanya sebagian kecil lulusan saja yang tidak memiliki sikap tanggung jawab terhadap almamater sekaligus serius dalam melaksanakan penelitian atau belajar. Dan hal tersebut menunjukan bahwa umumnya lulusan memiliki rasa memiliki terhadap almamaternya. Mereka rela menempuh proses skripsi yang ketat karena barangkali menyadari proses tersebut sudah seharunya dilaluinya sebagai bagian dari proses kelulusannya, dan menyadari kualitas penelitian skripsi di masa depan bergantung kepada hasil kerja penelitian mereka.

Selama perbaikan skripsi ini belum selesai, maka syarat mendapatkan ijazah belum terpenuhi. Bagi sebagian peserta sidang skripsi, memperbaiki isi dan tata tulis skripsi itu dipersyaratkan dalam sidang. Seharusnya mereka yang belum memperbaikinya belum dapat mengikuti wisuda karena nilai akhir skripsinya ditahan hingga perbaikannya selesai. Apalagi terhadap mahasiswa yang lulus skripsi dengan nilai A dan B, prodi tentu saja tidak akan membiarkannya selesai dengan kualitas tata tulis yang tidak standar, seperti misalnya daftar pustaka yang tidak sesuai dengan gaya APA. Pun demikian apabila syarat lainnya seperti keuangan, serta sertifikat kompetensi dan pengabdian kepada masyarakat yang diwajibkan SNPT belum terpenuhi, mereka tidak dapat mengikuti wisuda atau tidak dapat mengambil ijazah. Kampus atau prodi memiliki kebijakan yang ada kalanya memudahkan proses skripsi, tanpa kehilangan kendalinya akan kualitas.

Peningkatan Kualitas Pembelajaran

Sekitar 3 % pernyataan menunjukan adanya masalah dalam kualitas pembelajaran. Tetapi kita tahu 87 % tidak menyatakannya demikian. Walau demikian prodi memperhatikan masalah ini. Dan sebenarnya prodi telah mengupayakan agar ada jaminan kualitas pembelajaran.

Sebagian suara minor tersebut menyatakan adanya masalah karena dosen yang tidak hadir tepat waktu. Prodi telah membuat aturan kelas, di mana dalam kaitannya dengan Pembentukan Sikap Disiplin, aturan menyatakan bahwa dosen memiliki waktu 15 menit dari awal waktu perkuliahan untuk hadir di kelas. Apabila tidak berhasil atau tidak hadir tanpa konfirmasi dalam rentang waktu tersebut, maka perkuliahan pada minggu itu diangap gagal diselenggarakan. Walau demikian mungkin saja ada dosen yang tidak mentaati aturan tersebut, sekalipun prodi telah  mensosialisasikannya pada tanggal 22 Agustus 2017 kepada seluruh dosen informatika. Mahasiswa yang juga telah mendapatkan sosialisasi melalui papan aturan atau dosen sebenarnya dapat mengingatkan dosen terhadap aturan tersebut. Kalau tidak mampu, dapat menyampaikan persoalan tersebut kepada prodi.

Soal metode dan objektivitas penilaian bergantung kepada dosen. Tentunya prodi dan lembaga penjamin mutu melakukan pengawasan terhadap metode tersebut. Prodi atau lembaga memang belum secara khusus menyelenggarakan pelatihan Program Peningkatan Keterampilan Dasar Teknik Intruksional untuk semua dosen. Walau demikian, sejumlah dosen telah mengikuti program tersebut sehingga memahami bagaimana metode pengajaran dan teknik penilaiannya. Barangkali ke depan semua dosen pemula akan diberikan program ini untuk memastikan dapat melaksanakan pengajaran secara profesional.

KEBIJAKAN

Suara yang menyoroti persoalan kebijakan ini kalau ditotalkan sekitar 13 % saja. Artinya ada sebagian kecil lulusan yang merasa kebijakan prodi bermasalah bagi mereka. Sementara mayoritas lulusan tidak merasa perlu menyampaikannya sebagai persoalan penting untuk disampaikan atau tidak menganggapnya sebagai persoalan.

Keterbukaan Kebijakan Prodi dan Sosialisasinya 

Hanya 1 % saja yang menganggap prodi tidak terbuka soal kebijakannya. Pada dasarnya prodi hanya melaksanakan kebijakan strategis kampus. Prodi membuat kebijakan taktis agar kebijakan strategis yang ditetapkan oleh ketua dan / atau wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat dilaksanakan. Kebijakan taktis yang berkaitan dengan mahasiswa selalu disosialisasikan kepada mahasiswa. Sebagai contoh kebijakan sertifikasi kompetensi, program studi mensosialisasikannya sebelum memberlakukannya.

Menurut SNPT, sertifikasi kompetensi ini wajib diberikan oleh penyelengara pendidikan kepada lulusan, selain ijazah, gelar akademik, dan sertifikat pendamping ijazah. Kebijakan strategis dibuat oleh kampus agar SNPT tersebut terpenuhi dan bahkan terlampaui. Maka pada tahun 2016, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut mewajibkan semua prodi untuk mengupayakan sertifikasi kompetensi tersebut bagi lulusannya. Selama setahun itu prodi informatika berusaha mencari lembaga sertifikasi kompetensinya. Dalam perjalanan setahun itu, sebagian mahasiswa berhasil mengikuti sertifikasi kompetensi gratis yang diselenggarakan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia di Garut. Dan pada tahun itu prodi mendapatkan kesempatan mendirikan lembaga sertifikasi, namun biayanya sangat mahal. Karena hal tersebut akan dapat membebani mahasiswa, maka prodi dengan persetujuan kampus setuju untuk menunda penyediaan serifikasi kompetensi tersebut bagi lulusan. Dan usaha tersebut diceritakan oleh saya dalam matakuliah Riset Teknologi Informasi kepada perserta kuliah yang merupakan calon peserta skripsi.

Barulah beberapa hari setelah diingatkan kembali oleh ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada tahun 2017, prodi menemukan lembaga sertifikasi yang biayanya terjangkau oleh mahasiswa di Garut. Sebelum semester Ganjil 2017/2018 dimulai, prodi mensosialisasikan syarat wajib sertifikasi kompetensi tersebut kepada peserta skripsi. Bagaimanapun sertifikasi ini harus dilaksanakan pada tahun 2017 karena merupakan kesempatan terakhir sebelum prodi melaksanakan reakreditasi. Kalau dilaksanakan tahun depan maka prodi selama masa berlaku akreditasi tidak pernah melaksanakan sertifikasi kompetensi tersebut yang diwajibkan oleh SNPT, artinya tidak layak mendapat nilai C dalam memenuhi hak lulusan. 

8 % suara menganggap sosialisasi tersebut mendadak. Bagi prodi, dengan mempertimbangkan kepentingan reakreditasi, lebih baik mendadak dari pada tidak disosialisasikan atau tidak melaksanakan sertifikasi kompetensi. Mereka mempersoalkannya karena terkait dana yang harus merek keluarkan. Padahal kita tahu untuk dapat lulus hingga mengikuti wisuda setiap mahasiswa rela mengeluarkan dana agar segala syaratnya dapat dipenuhi. Jangankan tidak mampu mengikuti sertifikasi yang biayanya 500 ribu, tidak punya uang untuk mencetak dua laporan skripsi saja menjadi sebab tidak dapat diambilnya ijazah.

Prodi menetapkan sertifikat kompetensi tersebut sebagai syarat untuk mendapatkan ijazah. Kebijakan teknis tersebut untuk menjamin seluruh lulusan mendapatkan sertifikat kompetensi sebagaimana yang dikehendaki oleh SNPT. Prodi dengan nilai akreditasi C saja wajib menjalankan SNPT, apalagi yang nilai akreditasinya B. Sebagian dari mereka mengatakan bahwa mereka hanya membutuhkan gelar dan ijazah saja, sehingga bersikukuh menolak ikut sertifikasi tersebut. Mereka tidak faham bahwa lulusan di masa depan bergantung kepada diberikan atau tidaknya hak sertifikasi kompetensi kepada mereka. Kita faham bahwa sebagian kecil dari kita ini sedang terkungkung oleh egosime yang menjauhkan diri mereka dari semangat kebersamaan, ingin menyelamatkan diri sendiri dan membiarkan adik tingkatnya menjadi korban. Saya berkata demikian dalam posisi sebagai kakak tingkat.

Mereka juga menganggap kebijakan tersebut baik strategis ataupun taktis disebut sebagai kebijakan sepihak yang diputuskan tanpa mendengarkan keinginan mahasiswa. Pada dasarnya kebijakan dibuat memang harus memperhatikan masukan dari mahasiswa, tetapi bagaimana mungkin kampus melanggar SNPT karena mengikuti keinginan mahasiswa? Bukankah mengikuti SNPT itu adalah juga untuk kebaikan atau masa depan kampus, prodi, mahasiswa, dan lulusan?

Bagi sebagian kecil lulusan, kebijakan taktis seperti itu dianggap memaksakan kehendak. Padahal kita tahu sebagai prodi dengan akreditasi melampaui SNPT, kita memang harus mengikuti kehendak SNPT. Sivitas akademik harus memaksa kehendaknya sendiri, tidak perlu dipaksa oleh kehendak orang lain untuk mengikuti SNPT tersebut. Bagaimana mungkin seorang lulusan yang merasa senang dengan nilai akreditasi B prodi nya itu merasa terpaksa memenuhi SNPT, memangnya nilai akreditasi tersebut diperoleh sesuai dengan kehendak mereka? Atau mungkin mereka adalah kelompok kecil individualistis yang hanya perduli kebutuhan mereka sendiri, dan tidak memperdulikan masa depan lulusan berikutnya yang mewarisi nilai akreditasi baru berdasarkan nilai pelaksanaan SNPT pada masa mereka.

Pada akhirnya prodi tetap melaksanakan kebijakan tersebut. Hampir setengah dari peserta skripsi ikut sertifikasi kompetensi internasional dengan hasil memuaskan. Sisanya mengikuti sertifikasi kompetensi gratis yang disediakan oleh kampus, hasil kerjasama dengan Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia dan Lembaga Sertifikasi Kompetensi di Garut. Sebagian yang sudah mendaftar sertifikasi kompetensi internasional yang diselenggarakan oleh prodi dan PKSTI, uangnya dikembalikan kembali karena mereka semua diarahkan prodi untuk mengikuti sertifikasi kompetensi gratis. Keputusan memilih sertifikasi kompetensi internasional dengan biaya termurah dan pembatalan sertifikasi tersebut agar mahasiswa mengikuti sertifikasi gratis cukuplah sebagai bukti bahwa prodi tidak seperti tuduhan mereka. Prodi tidak mencari untung dari kegiatan sertifikasi kompetensi tersebut. Seandainya sertifikasi tersebut boleh tidak dilaksanakan, maka prodi akan memilih untuk tidak melaksanakannya agar energi ini bisa dioptimalkan untuk pekerjaan lainnya yang membutuhkan perhatian.

Kebijakan yang Tidak Konsisten

Di antara 3 % suara itu, ada yang menganggap kebijakan prodi tidak konsisten. Beberapa dari mereka yang sedikit itu mempersoalkan perubahan pedoman, padahal perubahan pedoman itu diperlukan untuk memperbaiki kualitas penelitian. Perubahannya sendiri sudah disosialisasikan saat mereka mengikuti perkuliahan riset teknologi informasi satu tahun sebelum mereka melaksanakan skripsi. Ada juga yang mengatakan kepada saya bahwa alasannya selalu salah dalam tata tulis skripsi adalah karena pedomannya yang diterbitkan oleh prodi selalu berubah, padahal perubahan itu bukan pada tata tulisnya tetapi pada isi pembahasan setiap bagian laporannya.

Mereka juga mempersoalkan banyaknya formulir yang harus mereka lengkapi, padahal formulir yang diberlakukan oleh ketua prodi itu hanya satu, yakni formulir skripsi. Sementara formulir satunya lagi diterbitkan oleh unit kerja lain sebagai sistem kendali yang terpisah dari prodi. Mereka juga merasa marah ijazahnya ditarik kembali karena nama prodi dan gelarnya tercetak belum sesuai dengan edaran dari Kementrian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Padahal mereka telah mendapat sosialisasi dalam perkuliahan satu semester sebelumnya bahwa nama prodi dan gelar akan ada perubahan. Secara keseluruhan sikap sebagian kecil lulusan ini didasarkan kepada dugaan dan keinginan sepihak - diri mereka sendiri. Padahal mereka harus sadar, bukan kampus yang harus ikut aturan atau keinginan mereka, tetapi merekalah yang harus mengikuti aturan kampus dan keinginan SNPT.

PENUTUP

Demikianlah tanggapan prodi terhadap 44 % masukan lulusan 2017. Pada dasarnya saya memaklumi kondisi tidak fahamnya lulusan terhadap landasan berfikir kebijakan yang dibuat oleh kampus atau prodi. Saya juga tidak mempermasalahkan segala masukan yang mungkin datangnya lebih karena emosi atau prasangka buruk. Namun saya merasa senang karena sebagian besar dari 44 % itu memberikan masukan konstruktif. Dan uraian masukan dan tanggapan ini semoga menjadi masukan bagi sivitas akademik di lingkungan prodi informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar hubungan kita di masa depan tetap terjaga dengan baik. Bagaimanapun yang menyebabkan hubungan memburuk adalah penyakit hati, seperti tergesa-gesa, ikut-ikutan orang lain tanpa pengetahuan, bersangka buruk, dan lain sebagainya. Semoga kita semua terhindar dari padanya dan tetap hidup dalam tradisi kebersamaan. 

Sabtu, 28 Oktober 2017

Sumpah Alumni Informatika STT Garut


Tanggal 28 Oktober 2017 ini merupakan hari Sumpah Pemuda, di mana pada masa lalu sejumlah pemuda dari berbagai daerah berikrar untuk mewujudkan semangat kebersamaan dalam satu Indonesia. Pada tanggal yang sama, saya menyaksikan inisiatif alumni informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dari berbagai angkatan mewujudkan cita-cita satu gerak dalam satu perkumpulan bernama HALIF (Himpunan Alumni Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah dibangun landasannya satu tahun yang silam oleh beberapa alumni lintas angkatan dengan disaksikan oleh Himpunan Mahasiswa Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Inisiatif ini tercermin dalam penyerahan KTA (Kartu Tanda Anggota) sebagai bukti komitmen alumni untuk aktif berkontribusi selama periode pengabdian 2017/2018, dari satu reuni ke reuni lainnya. 

Sebagai ketua program studi informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya berkepentingan dengan kontribusi alumni ini. Karena menurut SNPT (Standar Nasional Pendidikan Tinggi) lembaga pendidikan dapat mengusahakan sumber eksternal untuk biaya pendidikan di antaranya dari dana lestari alumni. Dan sebagai alumni informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut saya selalu tergerak hati untuk berusaha membesarkan almamater, termasuk ingin membantu persoalan yang dihadapi adik tingkat terkait fasilitas dan biaya pendidikan. 

Sejak masih kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya telah berusaha membangun almamater secara sukarela seperti memasang dan memperbaiki komputer dan jaringannya, karena ingin infrastruktur teknologi informasinya tidak tertinggal dari perguruan tinggi lainnya. Saya pun dengan senang hati membangun aplikasi sistem informasi untuk kampus dan tidak mengambil melampaui 10 % dari biaya pengembangannya, serta menggratiskan biaya pemeliharaan tahunan dan insidental. Hal tersebut dilakukan selama kurang lebih 13 tahun sejak tahun 2002 hingga 2015. Dalam rentang waktu tersebut saya juga mengajak serta adik tingkat untuk melakukan kegiatan relawan tersebut, dan mereka mengambil manfaat ilmu dan silaturahmi dari padanya yang memudahkan jalan rizkinya.  

Oleh karena adanya ikatan hati dengan almamater itulah yang membuat satu tahun yang silam, tepatnya 4 Juli 2016 saya mengupayakan pertemuan dengan alumni lintas angkatan untuk menyampaikan gagasan perlunya membentuk HALIF Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai upaya mengajak serta alumni informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar dapat bergerak bersama mewujudkan kontribusi alumni bagi almamater. Alhamdulillah beberapa alumni memberikan respon, hingga akhirnya terbentuklah Komite HALIF Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang diketuai oleh Devi Hilsa Farida, alumni angkatan pertama 1997. Penggalangan dana pertama kali dilakukan oleh beberapa dosen informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang juga alumni. Dananya disisihkan dari insentif sebagai instruktur pelatihan TIK yang diselenggarakan oleh Kementrian Agama Republik Indonesia pada tahun 2017. Dana tersebut dianggap sebagai dana registrasi anggota HALIF. Menyusul kemudian ketua Komite Halif yang merintis sumbangan sukarela. 

Saya berusaha mendorong HALIF untuk dapat berkontribusi pengetahuan. Pada tanggal 12 Juni 2017, saya menyediakan waktu bagi wakil HALIF untuk menyampaikan materi bagi adik tingkat khususnya dan masyarakat umum dalam kegiatan Pesantren Teknik Tujuh Hari. Saya memberi kesempatan demikian karena berpandangan alumni dapat membantu dengan pengetahuan, keterampilan, dana, dan lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam pertemuan 4 Juli 2016

Sebagai pembuat kebijakan taktis, saya membantu mewujudkan kebijakan strategis terkait biaya pendidikan yang harus diusahakan oleh lembaga pendidikan. Kebijakan tersebut di antaranya adalah dengan menjadikan keanggotaan HALIF sebagai syarat untuk mendapatkan ijazah. Syarat tersebut dapat mewujudkan sumber biaya pendidikan eksternal, sekaligus mewujudkan kontribusi alumni yang memberikan point tersendiri untuk akreditasi program studi atau institusi. Dan nilai akreditasi ini sangat penting bagi alumni, mengingat badan publik atau beberapa badan usaha mensyaratkan nilai akreditasi tertentu sebagai syarat masuk seleksi lowongan kerja. Artinya alumni didorong oleh program studi untuk ikut terlibat memenuhi kebutuhan kolektifnya tersebut. Alumni tidak dibiasakan untuk menuntut, tetapi bahu membahu dengan almamaternya dalam memenuhi kebutuhannya. 

Tidak lupa saya mensosialisasikan HALIF dan kebijakan tersebut kepada mahasiswa tingkat akhir yang sedang melaksanakan skripsi pada tanggal 26 Agustus 2017. Hingga kemudian beberapa mahasiswa mulai mendaftarkan dirinya sebagai anggota HALIF. Tidak lupa saya sosialisasikan pula di grup alumni baik di facebook ataupun di whatsapp. Alhamdulillah, beberapa alumni memberikan respon dengan mendaftarkan dirinya sebagai anggota HALIF. Total anggota hingga 28 Oktober 2017 ini adalah 41 orang alumni sebagaimana tersebut dalam laporan keuangan HALIF.

Penyerahan prototipe KTA dilakukan dalam acara Inaugurasi Alumni pada tanggal 28 September 2017 yang diisi oleh Oracle Academy Virtual Student Day. HALIF saat itu diwakili oleh Sri Rahayu, wakil Komite HALIF. Prototipe KTA diberikan kepada alumni baru oleh wakil Komite HALIF, kepala Pusat Pengembangan Karir Sekolah Tinggi Teknologi Garut, dan perwakilan dosen informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Prototipe saya buat mendadak saat itu berdasarkan data pendaftar dari bendahara Komite HALIF, karena berfikir hari itu merupakan hari yang tepat untuk menyerahkannya. Saya membantu tidak dalam kapasitas sebagai ketua program studi tetapi alumni.



Dan KTA aslinya dibagikan pada tanggal 28 Oktober 2017. Proses pencetakannya mengalami masalah teknis sehingga pihak percetakan tidak bisa memenuhi janjinya untuk menyelesaikan KTA sebelum jam 10 pagi. Akibatnya pagi itu saya tidak mengikuti acara ramah tamah dengan calon wisudawan. Dan KTA itu baru selesai mendekati pukul 13.30, sehingga saya harus melewatkan acara gladi. Melewatkannya sebenarnya tidak menjadi soal bagi saya mengingat proses gladinya dari tahun ke tahun masih seperti itu, apalagi tidak semua anggota senat ikut dalam gladi tersebut. 

Dan syukurlah saya tidak melewatkan sesi foto bersama calon wisudawan informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya masuk aula beberapa saat setelah dua program studi lainnya selesai sesi foto. Saya tidak segera ke lokasi ambil foto karena melihat sesi tersebut belum dimulai. Sementara beberapa calon wisudawan meminta foto bersama yang tentu saja tidak bisa saya tolak. Tidak ada yang memberi tahu saya bahwa sesi itu akan dimulai, hingga kemudian ketua dan wakil ketua bidang akademik memanggil begitu keduanya melihat saya. 

Apapun yang terjadi hari itu, setidaknya saya memiliki sesuatu yang layak untuk disyukuri, karena saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk membantu lembaga pendidikan tempat saya bekerja mendapatkan sumber biaya pendidikan eksternal dan membantu alumni mendapatkan KTA yang merupakan wujud sumpahnya untuk berkontribusi kepada masyarakat internal dan eksternal kampus. Dan saya menganggap pekerjaan tersebut sebagai bagian dari tugas jabatan, dan bagian pengabdian saya selaku alumni. 

Mungkin bagi sebagian orang, saya bukanlah orang yang layak untuk mendapatkan sangkaan baik atau kepercayaan bahwa seluruh tindakan yang saya perbuat untuk almamater itu bernilai. Karenanya semua feed back buruk dari keputusan atau tindakan yang saya lakukan harus dapat saya terima dengan tanpa merasa sakit, karena untuk sesuatu yang maslahat saya harus rela mengorbankan diri.

Setidaknya saya memiliki niat, rencana, dan tindakan dengan tujuan yang baik. Dan sebaik-baiknya orang adalah yang memberi kemaslahatan bagi orang banyak walau jalan yang ditempuh penuh dengan duri. Saya tidak perlu menuntut orang yang tidak tahu untuk faham atau bersangka baik.

Dan saya bersumpah untuk tetap menjadi alumni yang perduli dengan almamaternya, walau mungkin ada orang yang tidak suka. 

Kamis, 19 Januari 2017

Pembentukan Kepanitiaan Antar Lembaga Olimpiade TIK Garut 2017


Pagi itu saya menerima telpone dari Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Beliau menanyakan waktu pertemuan untuk pembahasan persiapan kegiatan TIK yang telah dibicarakan pada hari-hari sebelumnya. Saya sampaikan kemungkinan sekitar jam 11 siang, karena pagi ini saya harus hadir di kelas ujian akhir semester matakuliah yang saya ampu. Dan pada pukul 11 kurang sekian menit saya baru bisa berangkat dengan Leni Fitriani mewakili Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan Sri Rahayu mewakili Komunitas TIK Garut. Kehadiran kami mewakili lembaga yang telah saling menjalin kerjasama secara formal sejak tahun 2012.  

Setelah mencari lokasi baru kantor Dinasnya, akhirnya saya merasa yakin telah berada di kantor Dinas tersebut setelah melihat sosok tinggi besar yang hanya satu-satunya di lingkungan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, yakni pak Diar Cahdiar Antadireja yang menghubungi saya pagi tadi. Kami disambut hangat oleh beliau seperti biasanya dan dipersilahkan masuk ke ruang kantor beliau. 

Dalam pertemuan yang juga dihadiri oleh seluruh kepala bidang di lingkungan Dinas tersebut, pak Diar menyampaikan harapannya bahwa ke depan hubungan antara Relawan / Komunitas TIK Garut dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut harus selalu cair dan tidak masing-masing. Bahkan kalau perlu beliau menjadi bagian dari Relawan TIK Indonesia di Garut. Model hubungan idealnya adalah seperti dalam kesempatan kegiatan bersama Hackathon Merdeka dengan Kode se Priangan Timur yang kepanitiaannya diisi oleh Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan, dan Masyarakat. 



Hal yang disampaikan oleh pak Sekretaris Dinas tentu saja diinginkan oleh Relawan TIK Indonesia cabang Garut. Sebagai wakil Relawan TIK Indonesia di Garut saya telah berusaha mendorong agenda bersama dalam Konferensi Komunitas TIK Garut kedua, membuat model kegiatan yang dilaksanakan bersama seperti Olimpiade Komunitas TIK serta Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi 2016. Saya mendorong personel Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk duduk dalam kepengurusan Relawan TIK Indonesia cabang Garut dan Komunitas TIK Garut, dan memindahkan sekretariat Relawan TIK Indonesia cabang Garut dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut ke Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. 

Pertemuan ini merupakan pelaksanaan agenda bersama Olimpiade Komunitas TIK yang diminta oleh pak Dikdik Hendrajaya dalam masa kepemimpinannya di Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dulu agar dapat dilaksanakan dalam ranga Milad Garut. Sebelumnya kegiatan ini dilaksanakan setiap akhir tahun dalam rangka Milad Relawan TIK Garut. Pada tahun 2016 silam pak Dikdik Hendrajaya berhasil mewujudkan keinginan Komunitas TIK Garut agar Olimpiade ini memperebutkan Tropi bergilir Bupati Garut. Oleh sebab itu Olimpiade Komunitas TIK Garut yang ketiga ini juga isya Allah akan memperebutkan Tropi bergilir Bupati Garut. 


Olimpiade ini dibagi menjadi tiga kelompok lomba, yakni informasi, teknologi informasi, dan pengguna. e-Garut yang merupakan lomba Hackathon masuk dalam kelompok lomba teknologi informasi. Sebagaimana Hackathon, lomba ini diikuti oleh tim untuk membuat aplikasi skala kecil yang ditentukan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) dalam rentang waktu pengembangan selama satu bulan sesuai rekomendasi dari dosen Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Lomba tersebut menguji kemampuan rekayasa perangkat lunak. Selain itu saya mewakili Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut merekomendasikan kategori kedua, yakni lomba untuk aplikasi dengan fungsi yang lebih banyak dan dikerjakan lebih dari satu bulan dengan pemanfaatan bebas di SKPD manapun. Hal ini untuk membuka peluang keluaran dari kegiatan magang dan penelitian untuk diserap oleh Pemerintah Garut. Syarat pesertanya adalah relawan, sehingga aplikasi yang dibuat dengan swadaya sendiri oleh peserta akan diberikan kepada Pemerintah Garut secara sukarela demi amal.  

Olimpiade juga akan melanjutkan kegiatan lomba-lomba bidang teknologi informasi dan komunikasi yang telah diselenggarakan sebelumnya baik oleh Komunitas TIK Garut ataupun Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Seperti lomba Blog dan Poster yang akan masuk kelompok lomba informasi, perakitan komputer dan jaringan yang akan masuk kelompok lomba teknologi informasi, serta penyuluh literasi digital yang akan masuk kelompok lomba pengguna. Kandidat lomba yang akan diselenggarakan oleh panitia adalah sebagai berikut : 
  1. Kelompok Lomba Informasi, meliputi : Blog, Vlog, Poster, dan Video untuk kampanye "Demi Kamu" dan lainnya.
  2. Kelompok Lomba Teknologi Informasi, meliputi : e-Garut untuk kategori aplikasi ditentukan dan bebas, Perakitan Personal Computer dan Jaringan
  3. Kelompok Lomba Pengguna, meliputi Penyuluh "Demi Kamu" dan Cepat Tepat Teknologi Informasi dan Komunikasi Online
Selain lomba, saya mengusulkan dilaksanakannya Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi yang fokus pada Smart Villages. Pemateri dan instruktur sebagaimana biasa akan diisi oleh Akademisi, Masyarakat Pegiat Desa Cerdas, dan Pemerintahan. 

Bentuk kepanitian yang disepakati adalah Kepanitiaan Antar Lembaga yang diisi oleh perwakilan dari Pemerintah, Perusahaan, Perguruan Tinggi, dan Komunitas (Relawan / Komunitas TIK Garut). Saya mengusulkan agar ketua panitia untuk Olimpiade kali ini adalah dari Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut atau Telkom. Karena baik Sekolah Tinggi Teknologi Garut ataupun Relawan / Komunitas TIK Garut telah sering mengisi jabatan ketua pelaksana dalam banyak kegiatan bersama. Akhirnya disepakati ketua pelaksana adalah pak Diar Cahdiar Antadireja mewakili badan publik, wakil ketua adalah pak Undang mewakili badan usaha milik negara, sekretaris adalah saya mewakili lembaga pendidikan tinggi. Seksi-seksi diisi oleh personal dari badan publik, badan usaha, lembaga pendidikan tinggi, dan komunitas. 

Waktu kegiatan yang disepakati adalah minggu akhir bulan Februari 2017, dengan peserta bebas, utamanya dari Sekolah dan Perguruan Tinggi bidang Informatika atau Teknologi Informasi dan Komunikasi. Dengan demikian saya harus mempersiapkan proposal dan kelengkapan lainnya satu minggu ke depan, agar cukup waktu untuk sosialisasi kegiatan, kegiatan dana usaha, dan pendaftaran. 

Senin, 21 November 2016

Menutup MABIM HIMATIF STT Garut 2016


Senin 21 November 2016 saya menghadiri penutupan MABIM (Masa Bimbingan Mahasiswa) HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut di pusat bela negara Yonif 303 Cibuluh. Sebelum upacara penutupan tidak lupa saya menyarankan kepada ketua HIMATIF agar mahasiswa baru peserta MABIM dikukuhkan sebagai anggota HIMATIF dan memberikan nomor anggota. Ketua HIMATIF memperhatikan saran tersebut dan menyatakan di dalam upacara penutupan bahwa semua peserta MABIM dinyatakan sebagai anggota HIMATIF.


Dalam kesempatan menutup acara tersebut saya menjelaskan pentingnya mahasiswa menjadi anggota HIMATIF. Mahasiswa harus memiliki kehidupan sosial yang diantaranya ditunjukan dengan kehendaknya untuk menjadi bagian dari HIMATIF.

MABIM adalah tradisi inagurasi yg dibangun oleh mahasiswa Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut angkatan pertama (1996). Saya mewakili alumni mengucapkan terima kasih kepada HIMATIF yang telah menjaga tradisi tersebut dan melakukan pengembangan prosesi inagurasinya hingga sekarang.


Sebagai ketua Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya berharap HIMATIF mulai menjadikan MABIM sebagai proses yang harus dilalui oleh mahasiswa untuk mendapatkan nomor anggota HIMATIF, di mana nomor anggota tersebut menjadi syarat untuk mendapatkan layanan atau mengikuti kegiatan HIMATIF. Setiap anggota harus memiliki nomor anggota untuk menjadi pengurus atau panitia kegiatan HIMATIF.

Program studi siap memberlakukan kewajiban memiliki nomor anggota HIMATIF bagi calon asisten dosen dari kalangan mahasiswa, dan akan mendukung program kelompok belajar yang diselenggarakan HIMATIF di Laboratorium Teknik Informatika dibawah bimbingan Dosen. Saya berharap kelompok belajar ini menjadi sarana pendampingan kakak tingkat kepada adik tingkatnya dalam penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, serta menjadi jalan untuk dapat menghasilkan karya ilmiah atau keterampilan yg dapat dikompetisikan, dan menjadi medium kaderidasi calon asisten dosen.

Setelah disahkannya peserta MABIM sebagai anggota baru, HIMATIF wajib melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak anggota, yakni mendapatkan pelayanan dan kegiatan peningkatan kapasitas. Saya berharap ke depan HIMATIF dapat mempublikasikan program kerja sebelum puncak MABIM dilaksanakan, agar mahasiswa dapat menyimpulkan penting atau tidak pentingnya menjadi anggota HIMATIF.


MABIM kali ini mengingatkan saya kepada kegiatan Inagurasi yg diikuti oleh angkatan kami (97). Beberapa keadaan sama, seperti lokasi di lapangan terbuka, tidur di tenda peleton, dan ada acara jelajahnya yg dilengkapi post test.


Minggu, 20 November 2016

Mengenang Kuliah di Garut


Tanggal 21 November 2016 saya memenuhi permintaan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyampaikan materi tentang kuliah dalam acara Masa Bimbingan (MABIM) yang diselenggarakan di Aula Yonif 303. Saya membukanya dengan menanyakan kepada peserta MABIM tentang pengertian kuliah. Hari itu saya berniat untuk memberikan gambaran kuliah berdasarkan pengalaman sendiri saat kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar peserta MABIM yang juga kuliah di tempat yang sama dapat merasakan pengalaman yang saya sampaikan tersebut.

Setelah lulus dari SMA Negeri 1 Subang pada tahun 1997, Bapak mendorong saya untuk mengikuti proses seleksi STPDN. Bapak sangat ingin saya bersekolah Ikatan Dinas dan menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Tetapi seleksinya terasa ekstrem dalam kondisi saya saat itu, seperti misalnya ditelanjangi masal dan dikumpulkan dalam satu ruangan saat pemeriksaan kesehatan. Oleh karenanya saya memutuskan untuk meninggalkan proses seleksi tersebut. 

Setelah pelarian diri tersebut, saya dikirim orang tua untuk bersekolah di program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut sambil ngaji di Pondok Pesantrennya. Saya sempat mendengar penjelasan Bapak, pilihan Teknik Informatika itu karena berdasarkan banyaknya lowongan kerja bidang tersebut di surat kabar. Artinya Bapak memilihkan program studi terbaik yang diharapkan dapat menjamin kehidupan saya di masa depan. Dari tahun pertama hingga ketiga saya belum terlalu menikmati perkuliahan. 

Walau demikian saya tidak kesulitan mengikuti matakuliah terkait pemrograman karena ditunjang pengalaman memprogram kalkulator Casio FX warisan dari kakak (Retti Sulistiawati) yang dulu digunakan saat kuliah di jurusan Matematik Komputasi Institut Pertanian Bogor. Belajarnya otodidak, hanya berbekal sampel program yang dibuat oleh teman kakak dan buku petunjuk penggunaan dalam bahasa asing. Alhamdulillah, saat itu saya berhasil membuat program animasi lampu mobilnya Knight Raider, salah satu film favorit waktu kecil. 

Dengan pengalaman tersebut saya berhasil menyelesaikan tugas pemrograman dari almarhum K.H. Dr Maman Abdurrahman Musaddad walau banyak menggunakan perintah loncat label-goto sehingga jumlah baris kodenya lebih banyak dari jawaban yang beliau tunjukan. Walau demikian karena yang saya buat hasilnya benar, beliau memberikan point A untuk tugas tersebut. Dan saya sampaikan kepada peserta MABIM, bahwa saat itu kami mengerjakannya dengan pendekatan mental pemrograman, yang artinya kami tulis dan periksa sendiri validitas instruksinya, mengingat akses komputer masih agak sulit saat itu. 

K.H. Dr Maman Abdurrahman, lulusan Perancis yang saat itu juga menjabat sebagai ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus ketua Pondok Pesantrennya, adalah sosok membumi yang sangat memperhatikan mahasiswa / santrinya. Saya ceritakan kepada adik-adik bahwa pernah suatu ketika di Koperasi Pondok Pesantren beliau bertanya apakah saya telah menerima beasiswa?. Karena saya tidak merasa mengajukan, saya jawab tidak. Lalu beliau memberi tahu kalau bulan depan saya mulai mendapatkan beasiswa dari kampus, beliau mengajukannya untuk saya. Beliau mengatakan agar saya berkenan menerima beasiswa tersebut yang sementara ini dibagi dua dengan kang Abdulkholiq, santri lainnya yang merupakan kakak tingkat saya. Tentu saja saya tidak keberatan dan berterima kasih kepada beliau. 

Dengan beasiswa tersebut saya bisa membeli buku-buku bacaan mulai dari keagamaan hingga informatika. Banyak teman mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang singgah di kobong untuk ikut membaca buku tersebut. Bahkan ada yang sengaja meminjam untuk keperluan skripsi. Jadi mirip perpustakaan, padahal ada perpustakaan Ponpes di sebelah kamar. Lemari bukunya memang kosong karena pak Kyai meninggal sebelum merampungkan Perpustakaan. Tetapi akhirnya lemari itu berisi buku juga saat saya memutuskan tinggal di sana. Saya memberikan kamar kepada mahasiswa STAI al-Musaddadiyah yang ingin tidur di kamar.   


Saya menasihati mahasiswa baru yang jadi peserta MABIM agar mereka lebih semangat dalam belajar. Saya selaku kakak tingkat mereka saja bisa belajar dalam situasi tidak kuliah atas dasar pilihan sendiri, hanya tersedia buku panduan berbahasa asing, dan tidak ada komputer, apalagi mereka yang sekarang sudah memiliki akses mudah menuju sumber pengetahuan dengan memanfaatkan internet, komputer harganya sudah sangat murah, sudah seharusnya dapat lebih sukses belajar dari pada saya. Mereka tidak perlu mencari buku ke luar kota seperti saya, karena sumber pengetahuan bisa mereka peroleh dengan mudah saat tiduran di rumah sekalipun melalui internet. 

Saya menggambarkan tentang bagaimana dulu belajar memasang perangkat lunak secara otodidak. Suatu saat komputer pribadi saya rusak sistem operasinya. Lalu saya meminta ke kang Uli pemilik toko dan klinik komputer MALIBU untuk memasangkan sistem operasinya. Tetapi saat itu kang Uli menyuruh saya pasang sendiri dengan meminjamkan CD installernya. Dengan berbekal CD tersebut saya mulai memahami bagaimana cara memasang perangkat lunak.

Dengan cerita tersebut saya hendak memberi wawasan kepada adik-adik bahwa belajar itu tidak selalu harus di kampus atau sendiri, kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain yang sarat pengalaman teknis, seperti kang Uli. Jaman sekarang mahasiswa mudah menemukan forum di internet dan mengambil pengetahuan dari banyak orang yang memiliki pengalaman beragam. 

Dengan komputer saya semakin produktif menulis. Semasa kuliah saya menjadi penulis sekaligus redaktur dua buletin yang saya jalankan sendiri secara swadaya. Saya ingat buletin pertama yang saya buat adalah saat kelas tiga di SMP Negeri 2 Subang, ditulis di atas kertas dan diberi tema Pramuka. Ketertarikan buletin ini juga mungkin dipengaruhi buletin Islam yang kakak bawa dari Bogor ke rumah, atau kegiatan buletin yang dilakukan mas Muriyanto di Generasi Muslim al-Muhajirin pada saat SMA. Karena kegiatan buletin tersebut, Sofian Munawar selaku ketua BEM Sekolah Tinggi Teknologi Garut mempercayakan divisi Jurnalistik dan Pengambangan Masjid kepada saya. Saat itu saya menerbitkan buletin Suara Mahasiswa yang berisi liputan kegiatan dan pemikiran mahasiswa. Salah satu masukan yang direspon oleh bapak Abdusy-Syakur Amin adalah tentang menggunungkan pengetahuan, yang kemudian diwujudkan dalam kewajiban wisudawan untuk menyumbangkan buku untuk adik-adiknya.

  
Melalui buletin saya menyampaikan kritik dan masukan kepada kampus dengan bahasa tidak langsung. Cerita ini disampaikan agar mahasiswa baru memahami kalau mereka harus perduli dengan kampusnya yang ditunjukan dengan cara yang baik. Saya berharap mahasiswa minimalnya perduli dengan kebutuhan diri mereka sendiri, jangan sampai misalnya proyektor dirasakan mengganggu proses belajar tetapi mereka mengabaikan hal tersebut atau tidak bersikap pro aktif mengupayakan perbaikan kondisi. Saya mengingatkan bahwa mereka itu adalah agen perubahan yang sudah seharunya perduli kebutuhan sendiri dan orang lain dengan turun tangan mewujudkan perubahan kondisi menjadi lebih baik. 

Sebagai mahasiswa biasa saya juga memperhatikan hiburan. Saat mahasiswa saya terobsesi ingin memiliki Pemutar Kaset (Radio Tape). Tetapi karena namanya juga anak kost yang terbatas dananya, saya pun mencari Tape di loakan jalan Pramuka. Alhamdulillah, akhirnya saya berhasil membeli Tape bekas yang masih layak pakai, sekalian beli juga kaset nasyid bekas yang lagunya saya dengar diputar di Ponpes. Sejak saat itu saya mulai mengoleksi banyak kaset Nasyid. Saya punya koleksi Raihan lengkap dari album pertama hingga akhir, pun demikian Snada, dan lainnya. Rasanya ini dipengaruhi oleh kakak yang juga sama mengoleksi kaset Nasyid. Sebagian kasetnya diwariskan kepada saya. Sampai kemudian terjadi kebakaran tengah malam itu di kobong saya yang diisi oleh teman STAI yang menyebabkan pemutar kasetnya tidak bisa digunakan. Saya hanya tersenyum dan percaya itu semua sudah Allah kehendaki, Ia memberi dan mengambil ciptaan-Nya yang Ia kehendaki dari hamba-Nya. 

Dengan cerita tersebut saya memberi petunjuk bahwa mahasiswa tidak perlu mengisi seluruh waktunya dengan kegiatan belajar ilmu teknik. Mereka perlu menyeimbangkan dirinya, memberdayakan otak sisi lainnya dengan berbagai kegiatan seperti menikmati musik misalnya. Satu cerita yang saya lupakan saat itu adalah tentang bagaimana mendengarkan musik tersebut kemudian berkembang menjadi kegiatan penyiaran di Radio Yamusa FM yang mengarahkan kepada kegiatan pembuatan jingle dan Nasyid sendiri. Cerita tersebut penting agar mahasiswa dapat mendorong dirinya dari konsumen menjadi produsen dengan mengoptimalkan kreatifitas yang terbentuk saat mengkonsumsi apa yang digemarinya. Mahasiswa harus dapat sampai pada level produktif tidak hanya dalam kegiatan kurikuler tetapi juga di luar kegiatan tersebut, yang bahkan kalau memungkinkan menghasilkan prestasi yang bermanfaat bagi diri dan kampusnya.


Saya mulai menikmati kuliah di informatika begitu kakak tingkat memilih saya untuk melanjutkan tugas relawan di Laboratorium Komputer. Entah apa pertimbangannya, yang pasti saya tidak bisa menolak permintaan bapak Abdus-Syakur Amin saat itu. Pada awalnya saya merasa khawatir kegiatan tersebut akan mengganggu kegiatan aurod, tetapi kemudian kekhawatiran tersebut sirna setelah saya merasa yakin kegiatan tersebut dapat dijadikan sarana amal yang dapat menghapus dosa dan meningkatkan berat amal kebaikan. Dan benar saja, ternyata mengganggu aurod. Namun ada banyak keterampilan penting yang diperoleh dari sana, yang menjadi bekal saat wawancara di PT Pratita Prama Nugraha. 

Di Laboratorium Komputer saya diminta untuk membantu bapak Drs Wahyudin yang menjabat sebagai Koordinator Laboratorium Komputer Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan bapak Asep Deddy Supriatna selaku stafnya. Di bawah tangga itu saya belajar secara otodidak terkait jaringan komputer, server, dan Linux. Sekolah Tinggi Teknologi Garut membelikan majalah Chip sebulan sekali, dan memberikan buku teknis untuk perpustakaan Laboratorium Komputer dan perangkat lunak yang bisa saya nikmati untuk pembelajaran gratis. Di tempat itu saya memulai inisiatif mahasiswa membangun infrastruktur teknologi informasi kampus secara sukarela dan kaderisasi relawan dalam bidang teknologi informasi hingga terbentuk Kelompok Penggerak TIK.

Walau saya saat itu adalah mahasiswa, tetapi almarhum K.H., Ir. Abdullah Margani Musaddad - ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut selalu meminta pendapat apabila ada pengadaan perangkat komputer di kampus. Kampus selalu membelikan apa yang diperlukan dalam kegiatan relawan, seperti kabel jaringan dan lain sebagainya. Akhirnya seluruh komputer di kampus terhubung dengan jaringan, dan jaringan kantor dan laboratorium terhubung melalui file server. Inilah yang mungkin menyebabkan Dr Muhammad Ali Ramdhani percaya saya bisa membangun Internet Hotspot di kampus. Padahal saya baru tahu istilahnya dari lisan beliau. Tetapi atas dasar kepercayaan itu saya belajar dan berhasil mengadakan internet hotspot di kampus. Saya juga diminta pak Wahyudin untuk ikut memelihara komputer di laboratorium SMA Ciledug. Diminta juga oleh pak Nahdi Hadiyanto untuk membangun internet hotspot di lingkungan Yayasan, bahkan malah menjadi metro area network di tiga kecamatan. 

Cerita relawan tersebut saya sampaikan kepada peserta MABIM agar mereka terlibat dalam kegiatan praktik tanpa perlu menunggu masa Kerja Praktek tiba. Kegiatan relawan dapat dijadikan sarana mengasah kemampuan dan menggali pengalaman. Banyak relawan di kampus yang sukses diterima kerja karena ditunjang keterampilan yang diperoleh dari kegiatan relawan, termasuk saya dan sejumlah adik-adik atau mahasiswa yang saya asuh. Dengan kegiatan relawan mereka juga dapat berkontribusi kepada kampus. Mahasiswa harus turun tangan memajukan kampusnya sendiri. Sebagian dari relawan itu sekarang menjadi Dosen di Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, seperti Sri Rahayu dan Rickard Elsen.


Selama jadi mahasiswa dan relawan di kampus, orientasi mereka adalah pengalaman yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan, dan memperkuat sikap kerja yang baik. Selepas lulus kuliah barulah mereka dapat membicarakan hal terkait insentif dengan kampus. Seperti yang saya alami, di mana selepas lulus saya diminta untuk membuat aplikasi keuangan oleh kampus. Dan dari aplikasi itu saya berhasil membeli mesin cuci, lumayan untuk meringankan pekerjaan saya selaku juru kunci Laboratorium Komputer, heheheh.

Kebaikan kita sebagai relawan akan berbuah baik. Banyak relawan TIK di kampus yang diminta kerja bahkan sebelum mereka lulus oleh kampus dan juga kampus lainnya. Termasuk saya yang pada akhirnya harus menjadi PNS Dosen Teknik Informatika, pekerjaan yang tidak pernah terbayang di dalam fikiran. Pada tahun 2003 saat saya berjalan hendak ke luar kompleks Yayasan Musaddadiyah, almarhum K.H. Abdullah Margani Musaddad memanggil dan bertanya rencana saya selepas lulus. Saat itu saya menjawab dengan tidak pasti, karena saya tidak terfikir akan mencari kerja di mana. Beliau meminta saya untuk mengajar di kampus. Tetapi saya tidak memberikan jawaban menerima atau menolak, hanya mengekpresikan kebingungan harus menjawab apa. 

Hingga akhirnya siang itu ibu Dini Destiani - Ketua Program Studi Teknik Informatika mendatangi saya dan menanyakan apakah saya siap diplot ngajar? Saya menjelaskan kepada beliau bahwa saya tidak memiliki rencana pasti, mungkin masih akan di Garut atau pulang ke Subang. Tapi karena jawabannya harus jelas, maka saya menjawab boleh diplot tetapi meminta beliau berkenan apabila suatu saat saya undur di tengah jalan karena harus kembali ke Subang. 

Maklumlah, saat itu memang sedang galau karena ditinggal seseorang yang memilih untuk menikah dengan pria lain dengan alasan telah bekerja sebagai PNS. Syukurlah galaunya terjadi setelah lulus, tidak terbayang apa yang akan terjadi kalau kejadiannya sebelum lulus. Banyak teman kuliah yang berhenti kuliah karena masalah seperti itu. Namun galaunya memang berat, maklumlah cinta pertama, hehehe. Sampai pernah menyengajakan diri ke almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad untuk meminta air zam zam untuk menghilangkan rasa gundah. Beliau malah menjawab, obatnya adalah perempuan lagi, hehehe.

Saya pernah mengikuti saran guru saya tersebut, tetapi tidak berhasil. Pun demikian saat beliau menelpon dan meminta saya datang ke rumah beliau untuk bertemu dengan seseorang yang hari minggu itu katanya ada di rumah beliau, saya menyatakan tidak siap karena merasa tidak memiliki kelayakan untuk memiliki dan dimiliki oleh siapapun. Beliau sering mengirim lagu ke Radio Yamusa FM untuk saya yang katanya sedang galau. Ya ampun, jadi pada tahu, hehehe. Beliau benar-benar menjadi penghibur dan pelindung dalam masa galau tersebut, hingga akhir hayat beliau. Allahummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fuanhu 

Siang itu pak Wahyu, guru SMA Ciledug yang juga tinggal di kobong dengan saya memberi informasi kalau Kopertis membuka lowongan PNS. Saya kemudian berniat mengabarkan ini kepada Dosen-Dosen di STTG. Ternyata kabar itu sudah diterima dan semuanya sedang mengurus kelengkapan syaratnya. Entah bagaimana ceritanya saya pun akhirnya ikut mengurus kelengkapan tersebut, jalannya dimudahkan oleh Dr Muhammad Ali Ramdhani. 

Saat proses seleksi, saya sempat mau mundur tetapi ditahan oleh pak Eri Satria yang juga ikut melamar. Beliau mengatakan, mungkin saja rasa malas itu pertanda ada rizqinya. Dan benar saja, saya diterima sebagai PNS. Almarhum K.H. Ir. Abdullah Margani Musaddad mengupayakan sejumlah dosen kampus yang diterima masuk agar dapat diperbantukan kembali di kampus, dan akhirnya saya pun kembali bertugas di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ibu saya merasa bahagia dan berkata kepada Bapak kalau Allah telah menjadikan PNS sebagai jalan hidup anaknya, maka tidak ada penghalang yang dapat mencegah. Tahun 2004 itu, saya dan kakak (Retti Sulistiawati) diangkat sebagai CPNS, di mana saya menjadi Dosen PNS dan kakak menjadi Guru PNS. Ibu saya bercanda dengan mengatakan, anak kita tidak perlu dipukuli di STPDN untuk menjadi PNS. Bapakpun tersenyum. 

Saat itu panitia memberi isyarat waktu saya sudah habis. Lalu saya segera menutup cerita tersebut dengan membuat kesimpulan. Saya berharap adik-adik dapat mengambil pelajaran dari cerita tersebut dan menjadi sosok mahasiswa dan lulusan yang lebih baik dan sukses dari pada saya. 

Selasa, 08 November 2016

Mengkoordinasikan Tantangan Bebras Indonesia di Garut


Hari ini tanggal 8 November 2016 saya mempimpin pelaksanaan kegiatan Tantangan Bebras Indonesia di Garut. Selaku Koordinator Site yang ditunjuk oleh Panitia Pusat, saya berusaha memastikan kegiatan ini berjalan dengan baik di Garut. Syukurlah Dr Dini Destiani selaku wakil Koordinator Site berhasil mengkondisikan sejumlah Dosen lintas program studi untuk turut serta melaksanakan peran penting kegiatan, seperti berkomunikasi dengan sekolah dan menjadi pengawas saat pelaksanaan. 

Ini adalah kegiatan perdana yang belum banyak diketahui sekolah, sehingga saya menggunakan pendekatan promosi dengan membebaskan biaya registrasi lokakarya dan tantangannya. Dosen yang terlibat dan juga Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjadikan kegiatan ini sebagai pelaksanaan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat secara swadaya sendiri. Hal ini sejalan dengan Standar Nasional Pendidikan Tinggi yang mewajibkan Perguruan Tinggi menyediakan dana internal untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Tidak ada honorarium yang diterima Dosen untuk kegiatan ini sebagaimana dalam pelaksanaan hibah Dikti, karena Dosen telah digaji untuk melaksanakan Tridharma Perguruan Tinggi. 


Lokakarya Tantangan Bebras Indonesia
(Dari kiri ke kanan : Saya, Dr Hilmi Aulawi, Dr Dini Destiani)

Pada putaran berikutnya biaya registrasi ini akan diberlakukan dan mungkin juga akan dilibatkan pihak sponsor, sehingga biaya operasional tidak seluruhnya ditanggung oleh kampus. Dalam kegiatan awal yang bersifat promosi ini, saya tidak bisa mengupayakan sponsor sehubungan dengan keterbatasan waktu. Biasanya sponsor meminta proposal paling cepat satu bulan sebelum pelaksanaan. Pemikiran saya bahwa kegiatan ini dapat dibiayai oleh dana Pengabdian kepada Masyarakat yang wajib disediakan oleh kampus setiap tahunnya disampaikan oleh Dr Dini Destiani selaku panitia pelaksana kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Alhamdulillah, kampus yang setiap tahunnya menyediakan dana Pengabdian kepada Masyarakat mengeluarkan dana tersebut untuk menjalankan Tantangan Bebras Indonesia. Inilah salah satu sebab kenapa Program Studi Teknik Informatika memperoleh akreditasi B yang dianggap telah melampaui Standar Nasional Pendidikan Tinggi. Dengan alokasi dana ini Program Studi Teknik Informatika yang saya pimpin dan pada periode kepemimpinan sebelumnya dapat melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat baik dengan atau tanpa mitra. Ada jaminan dari Dr Hilmi Aulawi, M.T. selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar Tridharma yang tidak hanya sekedar pengajaran ini dapat ditunaikan setiap tahunnya oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dalam kurikulum baru yang dipersiapkan, saya menyiapkan matakuliah Relawan Informatika, sebagai pelaksanaan Tridharma yang menurut Standar Nasional Pendidikan Tinggi juga wajib dilaksanakan oleh mahasiswa yang mengambil program strata satu.

Melalui kegiatan ini saya bermaksud juga untuk mengenalkan Program Studi Teknik Informatika khususnya, serta Sekolah Tinggi Teknologi Garut umumnya kepada sekolah dan juga masyarakat umum. Perguruan tinggi dapat mengenalkan dirinya melalui karya nyata di tengah masyarakat sebagai wujud pelaksanaan dharma Pengabdian kepada Masyarakat. Saya berpendapat bahwa pengeluaran untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat itu sama dengan pengeluaran promosi kampus, yang keuntungannya diperoleh jangka panjang baik oleh masyarakat yang dilayani ataupun oleh kampus itu sendiri. Pengabdian kepada masyarakat adalah salah satu jalan promosi kampus di tengah masyarakat umum. 

Dalam kesempatan berkumpul dengan peserta Bebras dan guru pendampingnya selepas kegiatan, saya menjelaskan bahwa Tantangan Bebras ini menggambarkan sebagian pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang digali oleh mahasiswa Teknik Informatika di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kegiatan di dalamnya merupakan upaya untuk menyelesaikan masalah secara terurut dan logis yang dikenal dengan istilah Algoritma. Tinggal satu langkah lagi untuk menerapkannya menjadi sebuah program komputer, yakni menerapkan Struktur Data sebagaimana disampaikan oleh Niklaus Wirth. 

Sebelumnya saya pernah memimpin Hackathon Merdeka Dengan Kode 2.0 se Priangan Timur yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut bekerjasama dengan PT Telekomunikasi Indonesia Regional III / Tasikmalaya. Ini adalah kompetisi membuat Program bagi mereka yang telah mampu menggabungkan Algoritma dengan Struktur Data dan menguasai Platform. Dengan demikian Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah merasakan pengalaman menyelenggarakan lomba pada area Algoritma hingga Program, mencerminkan pelaksanaan Tridharma dalam bidang Teknik Informatika. Hal ini saya upayakan atas dasar tanggung jawab sebagai ketua Program Studi (diamanatkan oleh ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut melalu Surat Keputusan) yang harus mengawal Tridharma yang sesuai dengan bidang Teknik Informatika, dan tidak mungkin terwujud jika Tuhan tidak membukakan pintu silaturahim di dunia maya dengan mas Ainun Najib untuk Hackathon dan Dr Inggriani Liem untuk Bebras yang kunci semuanya adalah pergaulan dan kegiatan di Relawan TIK Indonesia. Dengan demikian kerjasama yang saya dorong antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia pada tahun 2012 telah sejalan dengan Tridharma Perguruan Tinggi. 

Minggu, 30 Oktober 2016

Peran HIMATIF STT Garut


Pada hari Minggu 30 Oktober 2016 saya diminta untuk membuka acara Mubes (Musyawarah Besar) HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika) Sekolah Tinggi Teknologi Garut di Area 306. Satu hari sebelumnya, saya memberi izin penggunaan Area 306 untuk kegiatan Mubes dengan alasan kampus yang berada di jalan Mayor Syamsu no. 1 tidak buka pada hari Minggu. Area 306 yang berada di jalan Mayor Syamsu no 2 ini merupakan Pusat Pembelajaran, Kajian, dan Layanan Profesi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Dalam kesempatan membuka acara tersebut saya mengawalinya dengan mengutip kalam Allah yang artinya bahwa sesungguhnya Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Dan ciptaan terbaik itu mereka yang banyak berbuat baik kepada sesama manusia, karena saya mengetahui kemuliaan itu bukan dari kedudukan atau rupa tetapi dari ketaqwaan yang tercermin dari perbuatan baik atau ahlak mulia. HIMATIF merupakan medium yang dapat digunakan oleh mahasiswa Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk melaksanakan amal kebaikan dan membina kemuliaan akhlak Teknokrat Informatika.

Himpunan bisa difahami sebagai Himpunan Besar (Semesta) dan Himpunan Kecil (Sub). HIMATIF sebagai sebuah organisasi dapat difahami sebagai himpunan kecil yang memberikan pelayanan kepada himpunan besar. Himpunan besar ini menyediakan kader yang melanjutkan tongkat estafet kepengurusan HIMATIF. Tetapi tidak boleh bersandar pada harapan bahwa kader-kader ini sudah memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai untuk memimpin dan mengelola organisasi, HIMATIF harus menyelenggarakan kursus Kepemimpinan dan Organisasi untuk memastikan kondisi organisasi modern tetap terjaga. 


Saya mengingatkan kembali beragam pelayanan HIMATIF yang pernah disampaikan pada Masa Bimbingan tahun lalu di LAPAN Pameungpeuk, yang meliputi 1) Pelayanan kepada mahasiswa untuk mengisi kekosongan pengetahuan, keterampilan, dan sikap melalui kegiatan intra kurikuler berbentuk kelompok belajar, dan untuk menyelesaikan permasalahan antar personal baik di antara mahasiswa, dengan tenaga pendidik, tenaga kependidikan, atau dengan Lembaga melalui kegiatan Advokasi, dan 2) Pelayanan kepada masyarakat dalam rangka mengenalkan HIMATIF berikut Program Studinya melalui kegiatan usaha dan amal, semisal penyuluhan atau kursus terbuka bagi masyarakat di Car Free Day sambil menjual produk wirausaha seperti Kaos, CD koleksi program, dan lain sebagainya. 


Saya menjelaskan indikator kesuksesan HIMATIF adalah berdasarkan pelayanan tersebut, seperti seberapa banyak seberapa banyak prestasi mahasiswa yang berhasil diusahakan, seberapa banyak masalah antar personal dan dengan lembaga yang berhasil diselesaikan, dan seberapa banyak amal pengabdian yang sudah diperbuat di tengah masyarakat. Saya berharap pelayanan tersebut menjadi perhatian kepengurusan HIMATIF ke depan, sehingga ada divisi khusus yang menangani pelayanan tersebut. 

Pada akhirnya sambutan ditutup dengan do'a semoga pengurus HIMATIF yang akan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan diberikan pahala berlimpah atas amal sukarelanya demi almamater, dan pengurus masa depan diberikan kemampuan untuk membawa organisasi lebih maju dan berkembang.