Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Perbandingan Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perbandingan Agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Januari 2017

Cukup Menjadi Hamba Allah untuk Menjadi Firman Nya yg Hidup : Sudut Pandang Muslim



Tuhan bukanlah kreasi imajinasi manusia sehingga menemukannya tdk dapat dgn cara membayangkan, hanya Dia sendiri yg dapat menjelaskan siapa Diri Nya menurut Diri Nya yg tdk diatur oleh keinginan manusia. Oleh karenanya Dia mengenalkan siapa diri Nya kpd manusia melalui lisan manusia yg dipilih Nya dgn bahasa terbaik yg dapat difahami.

Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami (nya).’ (QS 43:3)

Sekumpulan lisan Tuhan yg dilisankan oleh manusia itu disebut juga sebagai firman Tuhan dan dikumpulkan semuanya tanpa tercampur dgn lisan manusia dlm sebuah kitab yg diberi nama alQuran.

Tuhan kami mengajarkan dgn perantaraan kalam / perkataan yg disampaikan Jibril kepada Muhammad SAW selaku utusan yg dipilih Nya. Semua yg dikatakan oleh Muhammad SAW itu tdk datang dari hawa nafsunya tetapi merupakan firman Tuhan.

"Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS 53:4)

Dan dia tidaklah berbicara dari dorongan hawa nafsunya, akan tetapi ucapannya tiada lain adalah wahyu yang disampaikan kepadanya.” (QS. An Najm: 3-4)

Maka dia Muhammad SAW adalah firman Tuhan yg hidup di tengah-tengah manusia. Disebut hidup karena seluruh ahlaknya adalah firman Tuhan, tidak menyimpang sedikitpun. Jika Tuhan berkata A, Muhammad SAW akan berkata A.

"Akhlak Rasulullah SAW adalah Al Quran.” (HR Muslim).

Tuhan menjadikannya sebagai firman Tuhan yg hidup adalah utk memperbaiki akhlak manusia agar juga menjadi firman Tuhan yg hidup.

”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari

Tidak perlu menjadi tuhan untuk menjadi firman Tuhan yg hidup di tengah manusia, cukup tunduk patuh saja thd firman Tuhan. Dengan ketundukan dan kepatuhan itulah Tuhan menyebut utusan Nya dan seluruh ciptaan Nya sebagai hamba Allah. Tuhan menyebut mereka sebagai wali Nya, yg apabila mereka ingin menyembuhkan, maka dgn kuasa Nya akan sembuh.

"Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku mengumumkan perang terhadapnya dari-Ku. Tidak ada yang paling Aku cintai dari seorang hamba kecuali beribadah kepada-Ku dengan sesuatu yang telah Aku wajibkan kepadanya. Adapun jika hamba-Ku selalu melaksanakan perbuatan sunah, niscaya Aku akan mencintanya. Jika Aku telah mencintainya, maka (Aku) menjadi pendengarannya yang dia mendengar dengannya, (Aku) menjadi penglihatan yang dia melihat dengannya, menjadi tangan yang dia memukul dengannya, menjadi kaki yang dia berjalan dengannya. Jika dia memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan dan jika dia minta ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni, dan jika dia minta perlindungan kepada-Ku, niscaya akan Aku lindungi." (Hadits Qudsi)

Dgn demikian menjadi jelaslah siapa yang menyembah dan yg Disembah, dan seluruh permohonan dapat disampaikan langsung kepada Nya tanpa melalui perantaraan firman Nya yg hidup. Dia ada tanpa perlu diperantarai oleh sesuatu yg dpt diindera. Tuhan tdk perlu menjadi manusia karena Tuhan dapat hadir melalui hamba Nya yg menjadi firman Tuhan yg hidup di tengah manusia.

Jumat, 04 Januari 2013

Pemahamanku tentang "Bapa dan Aku satu"



Konsep "bersatu" memang dikenal di dalam Islam, seperti misalnya firman Allah dalam hadits Qudsi yang artinya ”Barangsiapa memusuhi waliku sungguh kuumumkan perang kepadanya, tiadalah hamba Ku mendekat kepada Ku dengan hal hal yg fardhu, dan Hamba Ku terus mendekat kepada Ku dengan hal hal yg sunnah baginya hingga Aku mencintainya, bila Aku mencintainya maka aku menjadi telinganya yg ia gunakan untuk mendengar, dan matanya yg ia gunakan untuk melihat, dan menjadi tangannya yg ia gunakan untuk memerangi, dan kakinya yg ia gunakan untuk melangkah, bila ia meminta pada Ku niscaya kuberi permintaannya….” (Shahih Bukhari hadits no.6137) Hadits ini senafas dengan firman Allah di dalam alQuran, "Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar" (QS 8:17) 

Pemaknaan "bersatu"-nya sangat kontras dengan Kristen, muslim tidak pernah menganggap hamba yang dipilih-Nya tersebut menjadi Allah sendiri. Pertama karena muslim memahami "persatuan" tersebut berlaku tidak hanya bagi satu orang tapi bagi siapa saja yang dianggap sebagai kekasih-Nya, dan kedua "persatuan" tersebut tidak menyebabkan para kekasih-Nya yang hanif menganggap diri sebagai Allah. Sehingga wajar jika Yesus yang diyakini juga sebagai hamba yang hanif karena menyeru kepada Tuhan yang Esa, tidak pernah menyatakan secara tegas bahwa dirinya adalah Tuhan yang Esa. 

Entah karena terlalu terpengaruh Helenis Yunani atau karena pemahaman "persatuan" dan konteks Esa ini tidak ada pada masa terbentuknya agama Kristen, sehingga sebagian penafsir yang jauh dari pemahaman tentang Keesaan ini menganggap kalimat "persatuan" seperti "Bapa dan Aku satu" (Yohanes 10:30) sebagai peryataan Yesus bahwa dirinya adalah atau sama dengan Bapa. Saya yakin saat itu, pemahaman "bersatu" dalam keesaan Tuhan memang tidak difahami secara baik, sehingga wajar jika kemudian perkataan yesus "Aku dan Bapa satu" kemudian difahami masyarakat Yahudi saat itu sebagai Yesus mengaku diri sebagai Tuhan. Tidak adanya pemahaman yang baik ini dapat dilihat dari kelompok Yahudi sendiri, dimana Orang Yahudi di situ menjawab, ‘Kami mahu merejam kamu bukan kerana perbuatanmu yang baik, tetapi kerana kamu mengkufuri Tuhan! Kamu hanya manusia, tetapi kamu mahu menjadikan dirimu Tuhan!’(Yohanes 10:33).

Lain dengan komunitas Muslim yang konsisten dengan Keesaan Tuhan, saat ada hadits Qudsi atau ayat alQuran yang bernuansa "persatuan" tersebut, mereka selalu mengembalikan kepada ayat-ayat alQuran lainnya yang mengatakan bahwa Allah itu Esa, sehingga "persatuan" disana tidak kemudian difahami "menjadi Allah". Seandainya kalimat "Aku dan Bapa satu" dikembalikan kepada agama Yesus yakni agama yang diajarkan Musa, pasti pemaknaanya tidak akan menjadi "Aku adalah Bapa". Saya yakin, kelompok Yahudi yang menganggap Yesus itu mengkufuri Tuhan tidak pernah mendengar kalau yesus menyeru kepada pengesaan Tuhan. Seandainya mereka mendengar dan tidak punya masalah dengan yesus, pasti mereka akan mengembalikan perkataan "Aku dan Bapa satu" kepada perkataan yesus yang lain "Hukum yang terutama inilah: Dengarlah olehmu, hai Israil, adapun Allah Tuhan kita, ialah Tuhan yang Esa;" (Markus 12:28) sehingga tidak akan tergesa-gesa menganggap Yesus mengkufuri Tuhan karena mengaku diri sebagai Tuhan. Banyak literatur yang mengatakan bahwa komunitas Yahudi saat itu terganggu dengan dakwah Yesus sebagai pesuruh (Nabi) Allah, "Inilah hidup yang kekal, yaitu supaya mereka itu mengenal Engkau, Allah yang Esa dan Benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu." (Yohanes 17:3)

Sampai hari ini, insya Allah Nabi Isa tidak pernah menganggap diri sebagai Tuhan, tetapi Nabi Isa tengah menyatakan kepada bangsanya bahwa Tuhan mencintai dirinya, sehingga wajar jika misalya Nabi Isa berkata, "aku adalah Dia, telingaku adalah telinga-Nya, tanganku adalah tangan-Nya, kakiku adalah kaki-Nya, dan Dia mendengar segala permintaanku", jika dikebalikan kepada syariat Musa yang diikuti beliau dan jika dikembalikan kepada keesaan Tuhan yang didakwahkan beliau.



Kamis, 30 Agustus 2012

Bukti Keislaman Ibrahim Menurut al-Quran


Bukti bahwa Ibrahim adalah seorang muslim dan menyatakan keislamannya menurut al-Quran:

Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: “Tunduk patuhlah!” Ibrahim menjawab: “Aku tunduk patuh (aslamtu) kepada Tuhan semesta alam”. (QS 2:130)

Kata “aslamtu” menunjukan Ibrahim mempersaksikan (syahadat) atas keislamannya kepada Allah.

Pengenal agama Islam adalah mengakui Tuhan tanpa sekutu, dan Ibrahim mempersaksikannya (syahadat) :

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS 6:79)

Dengan demikian Ibrahim telah mempersaksikan keislamannya dengan menyatakan dirinya sebagai seorang muslim yang Tunduk Patuh kepada Tuhan Sementas Alam (QS 2:130) dan menyatakan dirinya sebagai orang yang tidak mempersekutukan Tuhan (QS 6:79)

Selasa, 28 Agustus 2012

Makna Teman Maha Tinggi


Sunan at Tirmidzi, Kitab ad Da‟awat, hadits nomor 3418 : Memberitakan kepada kami Harun; memberitakan kepada kami Abdah, dari Hisyam bin Urwah, dari Abbad bin Abdillah bin az Zubair, dari Aisyah berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah di hari menjelang wafatnya: “Ya Allah ampunilah bagiku, rahmati diriku, dan pertemukan akudengan ar Rafiq al A‟la”. (Abu Isa at-Tirmidzi berkata: Ini adalah hadits hasan sahih)

Perkataan penulis: “Memberitakan kepada kami Harun”; dia adalah Ishaq al Hamadzani.

Perkataan penulis: “Memberitakan kepada kami Abda”; Dia adalah Ibn Sulaiman al Kullabi.

Perkataan penulis: “Dan pertemukan aku dengan ar Rafiq al A‟la”; yang dimaksud dengan arRafiq al A‟la adalah sekelompok dari para Nabi yang bertempat di A‟la Illiyyin (Tempat paling atas dari Illiyyin). Kata “ar Rafiq” adalah nama dengan bentuk kata pada wazan “fa‟il”, artinya “sekelompok” (golongan), seperti bentuk kata “as-Shadiq” dan “al-Khalith”; dapat dipakai untuk bentuk “satu/singular” atau “jamak/plural”.

Dan yang dimaksud dengan kata “ar Rafiq” di sini adalah bentuk jamak/plural, ini seperti dalam firman Allah: “Dan mereka adalah sebaik -baik teman” (taman dalam ayat ini dalam bentuk jamak). Demikian inilah pendapat yang dinyatakanoleh al Hafizh al Jazari dan lainnya.

Sementara menurut al Bukhari; dengan jalur hadits dari jalan Sa‟ad bin Urwah dari Aisyah berkata: “Aku pernah mendengar bahwa tidak ada seorang-pun dari para Nabi yang meninggal hingga ia dipersilahkan untuk memilih antara dunia dan akhirat, dan aku mendengar Rasulullah saat beliau sakit yang menjadikan beliau wafat dengannya bersabda: “Pertemukan aku dengan orang-orang yang Engkau karuniakan nikmat atas mereka”, aku menyangka itu sebagai kebaikan.

Al Hafizh Ibn Hajar berkata dalam meriwayatkan potongan hadits ini; dari Aisyah, menurut Ahmad bin Hanbal berkata: “Bersama ar Rafiq al A'la artinya bersama mereka yang diberi karunia oleh Allah dari para Nabi, para as Shiddiqin, para Syuhada, dan orang-orang saleh; dan mereka adalah sebaik-baik teman”. Ibn Hajar berkata: Ini adalah adalah hadits hasan sahih, dan telah diriwayatkan oleh Imam al Bukhari dan Imam Muslim.

Jadi ar Rafiq al A'la itu bukan Allah, tetapi mereka yang diberi karunia oleh Allah.

Senin, 27 Agustus 2012

Bukti Isra Miraj dalam Ktab Perjanjian


Prof David Benyamin Kaldani, B.D, Guru Besar Teologi sekaligus pastor Katolik Roma untuk wilayah Kaldan. Dengarkan hasil penelitian beliau yang saya kutip dari bukunya sebagai berikut :
St Paulus juga pernah menyampaikan mimpi tentang seorang lelaki yang diangkat ke langit ketiga dan kemudian ke surga firdaus. Lelaki itu melihat beberapa hal yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Pihak Gereja meyakini sosok lelaki yang dilihat Paulus itu adalah Paulus sendiri. Mereka percaya Paulus tidak menyampaikannya secara eksplisit karena kerendahan hatinya (II Korintus 12/1-4)
Akan tetapi faktanya Paulus bukanlah orang yang rendah hati. Buktinya dalam surat2 yang ditulisnya (Episties), Paulus banyak memuji dirinya sendiri. Paulus juga pernah mengunggulkan dirinya pernah mencaci st Petrus secara langsung. Kita juga mengetahui dalam surat2nya kepada orang-orang Galatia dan Romawi, Paulus menunjukan bahwa dia sangat membela keyahudiannya dan suka menyerang Hajar dan putranya Ismail.
Sesungguhnya sosok yang dilihat Paulus dalam mimpinya tersebut adalah sosok yang dilihat Nabi Daniel didalam Mimpinya, yakni Muhammad (saat Isra Mi’raj).

Minggu, 26 Agustus 2012

Islam dikenal oleh Yahudi dan Nasrani


Prof David Benyamin Kaldani, B.D, Guru Besar Teologi sekaligus pastor Katolik Roma untuk wilayah Kaldan menjelaskan tentang dikenalnya Islam di kalangan Yahudi dan Nasrani :
Lalu Yeremia berkata, Sesungguhnya seorang nabi yang menubuwatkan asy-Syalom, dapat langsung diketahui bahwa Allah telah benar-benar mengutusnya ketika nubuwat itu digenapi (Yeremia 28/9)
syalom dalam bahasa ibrani, syalama dalam bahasa suryani, dan salam dalam arab berasal dari akar kata yang sama dalam bahasa semit : Syalam yang juga memiliki arti sama. Kata Asy artinya “tentang” sehingga asy-syalom adalah “tentang salam” atau “tentang islam”
Yeremia adalah nabi sebelum al-masih (yesus) yang menggunakan kata syalom dengan arti “agama”. Kata “Islam” dan semua kata padanannya seperti syalom dan syalama sudah dikenal kalangan Yahudi dan Nasrani yang tinggal di Jazirah Arab ketika Muhammad muncul.
Kita tentu berani menantang orang untuk mencari padanan kata syalom dalam bahasa arab selain islam dan salam. Kita juga tantang mereka untuk mencari padanan kata islam dalam bahasa ibrani selain kaya syalom. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, tampaknya mereka harus rela menerima kenyataan bahwa kata syalom memang semakna dengan kata salam dalam bentuk mujarrad (abstrak), dan syalom semakna dengan kata islam atau akidah / agama dalam bentuk malmus (konkret)
Nabi (asli) itu adalah nabi yang mengabarkan tentang Islam (Kitab Yeremia 28/9)

Tentang syahadat, kita semua tahu dalam Taurat hukum yang utama itu apa, yakni persaksian tiada tuhan yang lain. Begitu pula dalam Islam, sehingga semua Nabi memiliki sahadat yang sama yakni Tiada Tuhan selain Dia. Dan apabila ada syahadat Rasul, maka setiap ummat bersaksi atas kerasulan seseorang yang membawa Islam atau syalom.
Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang dijanjikan. Namanya tertuang dalam injil Yohanes. Beliau disebut dengan nama Periqlytos dalam bahasa Yunani yang sama artinya dengan himdah dalam bahasa Ibrani dan ahmad dalam bahasa Arab.

Rabu, 01 Februari 2012

Muhammad bukanlah seorang yang kejam

Kita memiliki sejarah panjang Islamofobia dalam budaya barat yang berakar jauh sejak masa perang salib. Pada abad kedua belas, para pendeta Kristen di Eropa bersikeras bahwa Islam merupakan agama pedang yang kejam, dan bahwa Muhammad merupakan seorang penipu yang melaksanakan agamanya pada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan senjata; mereka menyebutnya seorang bernafsu besar dan berkelainan seksual. Versi menyimpang tentang kehidupan Nabi ini menjadi salah satu ide yang diterima oleh Barat, dan orang Barat selalu merasa sulit untuk memandang Muhammad dalam sorotan yang lebih objektif. Sejak penghancuran WTC pada 11 September 2001, para anggora Christian Right di Amerika Serikat dan beberapa media Barat telah melanjutkan tradisi kebencian ini, dengan menuduh bahwa Muhammad adalah seorang pecandu perang. Sebagian bahkan lebih jauh lagi menyebutnya sebagai seornag teroris dan pedofili.

Kita tidak bisa lagi membiarkan kebencian semacam itu, karena ini menguntungkan para ekstrimis yang bisa menggunakan pernyataan tersebut untuk membuktikan bahwa dunia barat memang sedang menggalang serangan perang salib baru terhadap dunia islam. Muhammad bukanlah seorang yang kejam. Kita mesti mendekati kehidupannya dalam cara yang seimbang agar dapat mengapresiasi capaian-capaiannya yang besar. Memelihara prasangka yang tak akurat bisa merusak toleransi, kebebasan, dan bela rasa yang semestinya mencirikan budaya barat

(Karen Armstrong dalam bukunya : Muhammad the Prophet of Our Time)

Minggu, 20 Maret 2011

Semua muslim masuk neraka?

Seringkali muslim disebut sebagai ahli neraka karena berkaitan dengan ayat berikut ini:

Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan. (QS 19:71)

Benarkah semua muslim akan masuk neraka?Mari kita lihat tafsir Ibnu Katsir:

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Samiyah, dia berkata, "Kami berselisih mengenai kedatangan di neraka. Sebagian dari kami mengatakan, 'Orang mukmin tidak masuk neraka'. Dan sebagian lagi mengatakan, 'Mereka semua masuk ke dalamnya. Kemudian ALLAH menyelamatkan orang yang bertakwa.' Lalu aku menemui Jabir bin Abdillah. Aku bertanya kepadanya, 'Kami berselisih mengenai kedatangan di neraka.' Dia mengatakan, 'Mereka semua akan mendatanginya.' Sulaiman bin Murah berkata, 'Mereka semua masuk neraka.' Kemudian dia mengulurkan jarinya ke telinganya dan berkata, 'Diamlah kamu berdua. Aku mengatakan demikian karena aku mendengar Rasulullah SAW bersabda:

'Tidak ada orang saleh dan orang jahat yang tersisa melainkan dia masuk neraka. Neraka itu dingin dan menyelamatkan bagi orang yang beriman, seperti halnya yang dialami Ibrahim sehingga neraka itu gaduh lantaran dinginnya mereka. Kemudian ALLAH menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut'

(HR Muslim)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud, "Dan tidak ada seorangpun darimu, melainkan mendatangi sekitar neraka itu. Rasulullah SAW bersabda, 'Seluruh manusia datang ke sekitar neraka, kemudian mereka keluar dari sana dengan amal baiknya.'" (HR Ahmad & Tirmidzi)

Dalam sahihain diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang muslim yang ketiga anaknya mati itu disentuh api neraka melainkan sekedar menggugurkan sumpah." (Muttafaq alaih)

Sehubungan dengan firman ALLAH, "Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kesemestian yang sudah ditetapkan", as-Sidi meriwayatkan dari Murah, dari Ibn Mas'ud, dia berkata, "... karena sumpah yang wajib". Mujahid menafsirkan, "Keharusan dan ketetapan." Demikian pula diriwayatkan oleh Ibnu Juraij.

Firman ALLAH, "Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa". Yakni, apabila seluruh mahluk melintasi neraka, lalu orang-orang kafir dan durhaka jatuh ke dalamnya, maka ALLAH menyelamatkan kaum mukmin yang bertakwa dari neraka sesuai dengan amalnya. Lintasan mereka di atas jembatan dan kecepatannya itu sesuai dengan amal yang dahulu dilakukan di dunia. Kemudian mukmin pelaku dosa besar menadapat syafaat. Jadi para malaikat, nabi, dan mukmin dapat memberi syafaat sehingga banyak mahluk yang telah dimakan api dapat keluar dari neraka, sedang wajah mereka, yaitu tempat sujudnya hangus.

Dikeluarkan mereka dari neraka sesuai dengan keimanan yang ada di dalam hatinya. Orang yang pertama kali keluar ialah orang yang di dalam hatinya terdapat keimanan sebesar uang dinar, kemudian orang berikutnya, kemudian yang berikutnya, kemudian yang berikutnya lagi sehingga keluarlah orang yang di dalam hatinya ada keimanan yang sangat ringan.

Kemudian ALLAH mengeluarkan dari neraka orang yang pernah mengucapkan, "Tiada Tuhan melainkan ALLAH" pada suatu hari selama hidupnya, walaupun dia tidak pernah melakukan kebaikan. Yang tersisa di dalam neraka adalah orang yang telah ditetapkan kekekalan baginya, sebagaimana hal itu ditetapkan dalam hadits-hadits sahih. Karena itu, ALLAH berfirman, "Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut." (QS 19:72)

Rabu, 16 Maret 2011

Memfitnah Muhammad SAW dan menafsirkan alQuran semaunya?

Mahmud bin Ghailan meriwayatkan kepada kami, Bisyr bin as-Sari meriwayatkan kepada kami, Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Abdul a’laa, dari Said bin Jubair, dari Ibnu Abbas radhiyAllahu ‘anhuma, ia mengatakan bahwa Rosulullah [saw] bersabda (yg artinya): “Barang siapa berkata-kata tentang al-Qur’an (menafsirkan) tanpa ilmu, maka hendaklah ia menempati tempat duduknya dari neraka” (HR.Tirmidzi,no.2950) Imam Abu Isa berkata,”Hadits ini derajatnya hasan shahih”

Sufyan bin Waki’ mengabarkan kepada kami, Suwaid bin Amru al-Kalbi mengabarkan kepada kami, Abu Awanah mengabarkan kepada kami, dari Abdul a’laa, dari Said bin Jubari, dari Ibnu Abbas radhiyAllahu ‘anhuma, dari Rosulullah [saw]. beliau bersabda (yg artinya): “Takutlah kalian berbicara tentang sesuatu yang berasal dariku melainkan pada apa yang telah kalian ketahui. Siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka hendaklah ia menyimpan tempat duduknya di dalam neraka, Dan barang siapa yang menafsirkan al-Qur’an dengan akal pikirannya, maka hendaklah ia menyiapkan tempat duduknya didalam neraka” (HR.Ahmad 1/233,269,293,323,327 An-Nasa’i No.109,110 Fadhailul Qur’ani) berkata Imam Tirmidzi “Hadits ini derajatnya hasan”

Sabtu, 12 Maret 2011

Muhammad SAW berkhitan

"Dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud bahwasanya Abdulah bin Abbas memberitahukan kepadanya bahwasanya Abu Sufyan bin Harb menceritakan kepadanya bahwa Heraklius minta kedatangannya serta rombongan dagang Quraisy di Syam pada masa Rasulullah saw. membuat gecatan senjata kepada Abu Sufyan dan kafir Quraisy. Maka mereka (rombongan itu) datang kepada Heraklius di Ilia lalu Heraklius memanggil mereka dan disekelilingnya para pembesar Rumawi kemudian ia memanggil mereka dan juga memanggil penterjemah.

Heraklius berkata: "Siapakah diatara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku dirinya Nabi?"

Lalu Abu Sufyan menjawab: "Sayalah yang paling dekat diantara mereka" Heraklius berkata: "Dekatkanlah kepadaku, dekatkanlah teman-temannya lalu jadikan mereka di belakangnya." Kemudian ia berkata kepada penterjemahnya: "Katakan lah kepada mereka bahwasanya saya bertanya kepada orang ini tentang laki-laki itu. Jika ia berdusta kepadaku maka dustakanlah ia. Demi Allah seandainya tidak malu karena menganggap saya berdusta niscaya saya berdusta tentang ia (Muhammad). Yang pertama kali ditanyakan kepada saya tentang dia adalah: "Bagaimana nasabnya diantara kalian?" Saya menjawab: "Di kalangan kami dia orang yang bernasab (bangsawan)". Ia berkata: "Pernahkah seorang diantaramu yang mengatakan perkataan ini sebelummu?" Saya menjawab:"Tidak".

Ia berkata: Apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja?".
Saya menjawab: "Tidak".
Ia berkata: "Pengikutnya orang-orang mulia atau orang-orang lemah dantara mereka?".
Saya menjawab: "Orang-orang lemah "
Ia berkata:"Apakah mereka bertambah-tambah atau berkurang-kurang?". Saya menjawab:"Bahkan mereka bertambah".
Ia berkata:"Apakah ada seseorang diantara mereka yang benci kepada agamanya sesudah ia memasukinya?".
Saya berkata:"Tidak ada". Ia berkata: " Apakah dia berkhianat?".
Saya menjawab: "Tidak, dan kami dalam masa gencatan dimana kami tidak mengetahui apa yang ia lakukan dalam masa ini, dan tidak mungkin bagi saya untuk memasukkan kalimat sedikitpun selain kalimat ini."

Ia berkata: "Bagaimanakah peperanganmu terhadapnya?." Peperangan diantara kami dan dia silih berganti, ia menang atas kami dan kami menang atasnya".
Ia berkata: "Apakah yang ia perintahkan kepadamu?."
Saya menjawab: Ia berkata: "Sembahlah Allah sendiri dan jangan menyekutukan-Nya dengan sesuatu, dan tinggakanlah apa yang dahulu selalu disembah oleh nenek moyangmu".
Ia menyuruh kami untuk shalat, jujur, menjaga diri dan menyambung (persaudaraan).

Kemudian ia berkata kepada juru bahasanya: "Katakanlah kepadanya: "Sesungguhya saya bertanya kepadamu tentang nasabnya (keturunanya), lalu kamu menyebutkan bahwa dia di kalanganmu yang yang bernasab (bangsawan), dan demikianlah para rasul itu diutus dikalangan orang-orang bernasab di kaumnya, dan saya bertanta kepadamu: "Apakah ada sesorang diataramu yang mengatakan perkataan sebelumnya? Lalu kamu sebutkan bahwa tidak ada. Dan saya katakan seandainya ada seseorang yang mengatakan perkataan ini sebelumnya, niscaya saya katakan (dia) seseorang laki-laki yang menghibur dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang sebelumnya.

Saya tanya kepadamu, apakah nenek moyangnya ada yang menjadi raja maka saya katakan (dia) seorang laki-laki yang menuntut kerajaan nenek moyangnya.

Saya bertanya kepadamu, apakah dahulu kamu menuduh ia berdusta sebelum mengatakan apa (kenabian) yang dikatakannya, lalu kamu menjawab bahwa tidak, maka saya tahu bawa dia tidak layak meninggalkanmu dusta atas manusia dan dusta atas Allah.

Saya bertanya kepadamu, pengikutnya orang-orang mulia ataukah orang-orang lemah diantara mereka, lalu kamu menyebutkan bahwa pengikutnya adalah orang-orang lemah di antara kaumnya, dan itulah pengikut para rasul. Saya bertanya kepadamu apakah mereka (pengikut-pengikut) berkurang ataukah bertambah lalu kamu menyebutkan bahwa mereka bertambah, dan memang demikianlah urusan iman sehingga sempurna."

"Saya bertanya kepadamu apakah ada salah seorang yang murtad karena benci kepada agamanya setelah ia memasukinya, lalu kami sebutkan bahwa tidak ada, dan memang demikianlah iman ketika bercampur dengan kelapangan hati. Saya bertanya kepadamu apakah dia berkhianat, lal kamu sebutkan tidak, dan memang demianlah para rasul itu tidak berkhianat.

Dan saya bertanya kepadamu dengan apakah ia menyuruh kamu, lalu kamu menyebutkan bahwa ia menyuruh kamu untuk menyembah Allah semata dan janganlah mensekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan ia melarang kamu untuk menyembah berhala dan menyuruh kamu dengan shalat, jujur, dan menjaga diri. Jika apa yang kamu katakana itu benar maka ia akan menguasai tempat dua telapak kakiku, dan saya mengetahui dia (Nabi) telah muncul padahal saya tidak menduga bahwa dia (Nabi) itu dari padamu.

Seandainya saya mengetahui bahwa saya sampai kepadanya niscaya saya senang bertemu dengannya. Seandainya saya disisinya niscaya saya mencuci telapak kakinya.

Kemudian ia minta didatangkan surat Rasulullah saw. Yang mana Dihyah diutus ke pembesar Bushro ia menyerahkannya kepada Heraklius dan dibacanya dan isinya: "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang. Dari Muhammad hamba dan utusan Allah kepada Heraklius pembesar Rumawi. Kesejahteraan atas orang yang mengikuti petunjuk. Adapun selanjutnya, maka sesungguhnya saya mengajak kepadamu dengan panggilan Islam. Masuk Islam lah maka kamu selamat, Allah memberikan pahala kepadamu dua lipat. Jika kamu berpaling maka atasmu dosa para pengikut. Wahai ahli kitab, marilah kepada kalimat yang sama antara kami dan kamu bahwa tidak kita sembah selain Allah, dan tidak kita sekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain dari pada Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah: "Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

Ia berkata: Abu Sofyan berkata: "Ketika ia mengatakan apa yang telah dikatakannya itu dan selesai mebaca surat sehingga ditempatnya, banyak kegaduhan dan suara-suara keras lalu kami dikeluarkan.

Maka kami berkata kepada teman-temanku: Sungguh urusan Putera Abi Kabsyah (gelar ayah Nabi) telah menjadi vesar, sesungguhnya ia ditakuti oleh raia Bani Ashfar (Rumawi) dan saya senantiasa meyakinkan bahwa dia (Nabi) akan menang sampai Allah memasukkan Islam atas saya.

Ibunu Nathur pemilik (Gubernur) Ilia dan Heraklius sampai pada orang-orang Nashrani di Syam menceritakan bahwa ketika Heraklius tiba di Ilia menjadi buruk jiwanya, lalu sebagian penghuninya berkata: "Kami telah mengingkari peri keadaan tuan". Ibnu Nathur berkata: " Heraklius itu seorang dukun yang mengarahkan pandanganmu ke bintang-bintang. Ia berkata kepada mereka ketika mereka bertanya kepadanya: "Sesungguhnya saya tadi malam ketika saya melihat bintang, saya berpendapat bahwa raja yang berkhitan telah muncul". Siapakah orang yang berkhitan dari umat ini? Mereka menjawab: "Yang berkhitan hanyalah orang-orang Yahudi". Urusan mereka janganlah menggelisahkanmu dan tulislah ke kota-kota kerajaanmu, lalu mereka membunuh orang-orang Yahudi yang ada di kalangan mereka. Ketika mereka mengurusi urusan mereka, didatangkan pada Heraklius seorang laki-laki yang diutus oleh Raja Ghassan yang memberitakan tentang cerita Rasulullah saw. ketika Heraklius bertanya kepadanya maka ia menjawab: "Pergilah, dan lihatlah apakah dia berkhitan atau tidak? Maka mereka melihatnya dan mereka membicarakannya bahwa Rasulullah saw. berkhiatan. Dan ia bertanya tentang bangsa Arab, lalu ia menjawab: " Mereka berkhitan".

Lalu Heraklius berkata: "Inilah (Muhammad) raja umat itu telah muncul". Kemudian Heraklius menulis surat kepada temannya di Rumiah dan ia adalah orang yang menyamai dalam bidang ilmu. Heraklius pergi ke Himsha dan ia tidak bermaksud ke Himsha sehingga datang surat kawannya yang menyetujui pendapat Heraklius atas munculnya Nabi saw. Dan sesungguhnya dia itu Nabi.

Lalu Heraklius memberi ijin kepada para pembesar Rumawi di istananya di Himsa kemudian ia mengatur pintu-pintu lalu pintu-pintu itu ditutup dan diapun menampakkan diri seraya berkata: "Wahai golongan orang-orang Rumawi. Apakah kamu ingin berbahagia dan mendapat petunjuk serta tetap kerajaanmu, maka baitlah laki-laki ini (Muhammad)". Maka mereka lari seperti larinya keledai liar ke pintu-pintu dan mereka dapati pintu-pintunya telah tertutup.

Ketika Heraklius melihat larinya mereka dan putus asa dari iman mereka maka ia berkata: "Kembalikanlah mereka atasku". Dan ia berkata: "Tadi saya katakan perkatanku itu untuk menguji kekokohan agamamu, dan saya telah melihatnya". Lalu merekapun sujud dan senang kepadanya. Itulah akhir keadaan Heraklius."
(HR: Bukhari)

Selasa, 11 Januari 2011

Semua negara Kafir harus diperangi?

Ketundukan yang dimaksudkan Islam adalah memaksa dirinya untuk menundukan diri kepada Tuhan dan bukan memaksa orang untuk tunduk kepada dirinya. Islam membebaskan manusia dari perbudakan manusia dan menjadikan manusia menjadi budak Tuhan saja. Berkeyakinan itu pilihan yang tidak dapat dipaksakan. Muslim hanya mengingatkan dan tidak memaksa, karena taufik itu karunia Tuhan dan tidak dapat diberikan oleh manusia. Semua konsep ini tersebut jelas di dalam alQuran.

Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 193)

Dalam tafsir Ibn Katsir disebutkan bahwa arti kata fitnah dalam ayat tersebut adalah syirik, bahwa syirik itu lebih kejam dan keji dari pada pembunuhan. Fitnah dalam konteks ayat tersebut adalah syirik, dan syirik itu menyekutukan Tuhan. Sangat jauh artinya dengan perlawanan, penindasan, atau hukuman, atau kerusuhan. Syirik itu sebuah keadaan dimana seseorang mempersekutukan Tuhan dengan ciptaan-Nya.

Abu Aliyah berkata, bahwa ayat ini merupakan ayat pertama yang diturunkan di Madinah mengenai perang. Setelah ayat ini, Rasulullah SAW memerangi orang yang memerangi beliau, dan menahan diri dari memerangi orang yang tidak menyerang. Hal ini berdasarkan ayat sebelumnya:

Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 190)

Sementara ayat berikutnya:

Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, .... (AL BAQARAH (Sapi betina) ayat 191)

Ibn Katsir menerangkan bahwa ayat ini mengartikan bahwa hendaklah motivasi Muslim memerangi mereka adalah sebagaimana motivasi mereka memerangi Muslim dan mengusir Muslim dari tempat mereka. Dan dalam berperang, Islam mereformasi cara berperang Arab saat itu dan cara berperang alKitab yang sadis dengan menetapkan cara perang yang tidak melampaui batas. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:

"Berperanglah kamu di jalan ALLAH. Perangilah orang yang kafir kepada ALLAH. Berperanglah namun jangan mengambil berlebih-lebihan, jangan menipu, jangan membunuh dengan sadis, membunuh anak-anak dan membunuh para penghuni rumah ibadah (biara dan gereja)" (HR Muslim)

Seandainya orang kafir terbunuh dalam usahanya membunuh muslim, maka kekafiran mereka lebih keji dari pada pembunuhan tersebut di sisi ALLAH.

Para pencaci Islam mengatakan semua negara di mana Islam belum berkuasa adalah Dar Harb, wajib diperangi. QS 2:193 menentang pernyataan mereka dengan berkata bahwa muslim tidak memerangi mereka yang tidak memerangi.

Jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.

Jadi bagaimana para pencaci Islam berfikir Muhammad SAW memerintahkan muslim menyerang negara yang tidak memerangi muslim, membunuhi non muslim yang tidak sedang berperang dengan muslim?

Mari kita perhatikan Republik Islam Iran, apakah para Mulah tidak memberikan kebebasan agama? Bahkan api yang dipuja menyala dalam kuil Majusi di bawah perlindungan negara. Demikian pula dengan kaum Yahudi dan Nasrani.

Di dalam Islam tidak dikenal kelas. Tidak ada masyarakat nomor satu dan nomor dua. Semua manusia sejajar. Islam mengharuskan muslim bersilaturahmi dengan semua manusia dari semua kalangan. Silaturahmi ini menunjukan kesejajaran derajat manusia.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha mengenal. (AL HUJURAAT (KAMAR-KAMAR) ayat 13)

Kelas itu di dunia hanya dalam pandangan ALLAH dan hanya terdapat di akhirat, di mana para pendosa masuk kelas rendahan di neraka dan para pemuja Tuhan YME masuk kelas tinggi di syurga.

Adapun ketidakadilan yang terlihat dalam beberapa kasus di sejumlah negara Islam, hal itu merupakan sebuah kewajaran mengingat manusia adalah mahluk yang lemah. Boleh jadi pemerintah Islam lemah dalam menegakan keadilan berdasarkan hukum, atau penduduknya yang tidak taat kepada hukum dan kesepakatan bersama tetapi merasa diperlakukan tidak adil. Dan Islam adalah sistem nilai dan tidak selalu tercermin dari pelaksanaannya. Karena yang melaksanakan nilai tersebut adalah manusia yang lemah, bukan Nabi atau ALLAH yang sempurna.

Islam mempromosikan damai yang sesungguhnya dan tidak bermaksud menipu. Bahkan seandainya muslim dalam keadaan berperang, Rasulullah SAW dalam hadisy yang lalu melarang muslim untuk menipu. Sebaiknya para pencaci Islam berhenti dari pelaku dosa menuduh tanpa dasar dan mulai memahami agama Islam secara baik, untuk mengusahakan amanat cinta kasih sebagai hukum utama yang kedua. KARENA PEMAHAMAN YANG MENIMBULKAN PERDAMAIAN lEBIH BERHARGA DARI PADA PRASANGKA YANG MEMBAWA KEPADA PERTIKAIAN

Sabtu, 14 Agustus 2010

Fitnah terhadap Istri Rasulullah SAW


Soal Aisyah, coba lihat kultur Arab saat itu, apakah pernikahan dengan wanita di bawah umur dianggap tidak lajim? Pedhofil itu ketertarikan kepada anak di bawah umur, sementara Muhammad menikahi Aiysah tidak berangkat dari ketertarikan, tetapi dari penghormatan kepada ayahnya Abu Bakar yang meminta Muhammad menikahi Aisyah untuk mengikatkan tali kekerabatan. Pedhofil itu terkait hubungan badan dengan anak yang belum baligh, memangnya Muhammad mencampuri Aiysah dalam kondisi belum baligh?
Tentang Maria Qibthiyah r.a. yang berasal dari desa Anshina, beliau adalah hadiah dari Raja Muqauqis seorang penguasa suku Qibthi di Alexandria Mesir. Nabi bermalam bersama Maria dengan status milk al-yamin (hamba sahaya), dan hal itu diperkenankan dalam kultur Arab saat itu atau bukan merupakan sesuatu yang menyimpang. Kemudian Muhammad mengubah statusnya menjadi istri. Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini.
Tentang Zainab r.a., sangat jelas bahwa Zainab adalah bekas istri Zaid anak angkat Muhammad. Di dalam Islam, anak angkat adalah orang lain dan bukannya anak sendiri, sehingga bekas istri anak angkat sama dengan bekas istri orang lain. Muhammad menikahi Zainab yang sudah bercerai dari Zaid. Pernikahan itu tercela jika dilakukan dengan wanita yang masih menjadi istri orang lain, dan Muhammad tidak melakukannya. Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini.
Tentang Raihanah r.a. yang pada awalnya merupakan tawanan dari bani Quraizah. Muhammad pernah bermalam bersama Raihanah dengan status milk al-yamin (hamba sahaya), dan hal itu diperkenankan dalam kultur Arab saat itu atau bukan merupakan sesuatu yang menyimpang. Setelah Raihanah memeluk Islam, Muhammad membebaskannya dan menikahinya pada bulan Muharam 6 H di rumah Salma binti Qais al-Najjariyah. Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini.
Tentang Safiyah r.a., beliau memiliki garis keturunan dari Nabi Harun A.S. Para lelaki kaumnya dijatuhi hukuman mati oleh Sa’ad mengikuti hukum konvensional Arab saat itu atas kesalahan penghianatan yang tidak termaafkan. Dalam bukunya, Karen Armstrong menuliskan bahwa hukuman konvensional seperti itu difahami dan bisa diterima oleh orang Arab saat itu, dan hukuman mati atas suku Quraizah atas dasar politik (yakni penghianatan) dan bukan perintah agama. Sebelumnya Muhammad tidak menjatuhi suku Nadhir dan Qaunika dengan hukuman konvensional tersebut melainkan hukuman pengusiran dari Madinah.
Pada awalnya Safiyah sebagai tawanan perang dengan status milk al-yamin diberikan Muhammad kepada Dihyah namun setelah dinasihati oleh seseorang tentang keutamaan Safiyah akhirnya Muhammad menyuruh Dihyah untuk mengambil selain Safiyah.
Anas berkata bahwa Muhammad menikahi Safiyah setelah dibebaskan dari status tawanan perang bukan sebagai ummul walad (hamba sahaya) tetapi sebagai istri. Tatkala Muhammad menawarkan dibebaskan atau masuk Islam, Safiyah memilih, “Aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya” (Riwayat Jabir).
Tamam ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Ja’far ibn Abdullah al-Junaid menyebutkan dalam kitab Fawa’id, dari Anas dia mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah berkata kepada Safiyah, “Apakah engkau mau bersamaku?”. Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, itulah yang aku harapkan selama aku masih berada dalam kemusyrikan. Bagaimana tidak, Allah ternyata membukakan jalan itu kepadaku setelah aku masuk Islam.”
Abi Ya’la meriwayatkan dengan sanad hadist sahih, dari Safiyah r.a. dia berkata, “Ketika Rasulullah menawanku, tidak ada orang yang paling aku benci selain dia. Betapa tidak, dia adalah orang yang telah membunuh ayah dan suamiku dalam perang (Khaibar). Setelah kejadian tersebut, beliau tidak henti-hentinya meminta maaf dan mengatakan ‘Wahai Safiyah, sesungguhnya ayahmu adalah orang yang senantiasa mencekoki orang-orang Arab untuk terus menentangku.’ Hingga akhirnya, kebencianku terhadap Rasulullah menjadi luntur dan hilang. Maka saat ini, tidak ada datupun orang yang paling aku cintai kecuali Nabi SAW.”
Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini, sekalipun orang kafir dan munafik tidak menyukainya.
Sebagai catatan Karen Armstrong mengatakan bahwa hukum konvensional / tradisional yang berlaku di Arab saat itu kepada penghianat adalah membantai para lelaki dan menjual perempuan dan anak mereka sebagai budak atau dipaksa untuk melakukan kegiatan prostitusi. Tragedi Quraizah sekalipun tidak dapat diterima pada masa kini, tetapi merupakan hal yang tidak terelakan pada masa itu di dalam kultur Arab yang memiliki hukum konvensional. Dan Muhammad bersikap sebagai kepala suku Arab yang menghormati hukum tradisional sekaligus meluruskannya (seperti misalnya menghilangkan praktik mutilasi terhadap mayat yang menjadi korban perang dalam hukum perang Islam).

Perkataan Allah Bagi Para Pencela Agama

Perhatikan firman Allah berikut ini:
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa´ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.(An Nisaa :46)
Perbuatan para pencela agama pengikut fasisme ini sekalipun mereka oknum Kristen sesungguhnya mereka mewarisi perilaku Yahudi di masa lalu.
Kita bisa melihat di sini bagaimana mereka membajak al-Qur’an dengan merubah perkataan dari tempatnya sehingga tafsir atau pemahaman yang terbentuk menjadi sesuatu yang menghinakan agama. Selaras dengan firman Allah tersebut:
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.
Mereka membuka komentar dan bersedia berkomunikasi dengan muslim, tetapi sejatinya tidak mau mendengar apa yang disampaikan muslim, karena setiap argumen mereka terbantahkan, mereka tetap saja berketetapan dalam kesesatan pemahaman mereka dan mengesampingkan kemuliaan akal fikiran yang telah membangun argumentasi logis yang meruntuhkan pemahaman keliru mereka tentang Islam. Keadaan mereka digambarkan jelas oleh Allah dalam ayat tersebut:
Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.
Itikad mereka bukanlah mencari kebenaran, tetapi mencela agama, mengikuti fasisme yang meninggikan ras mereka dan merendahkan ras Islam. Perbuatan mencela agama yang dilakukan digambarkan Allah dalam ayat tersebut:
Dan (mereka mengatakan): “Raa´ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.
Terhadap penjelasan dan kebenaran yang telah disampaikan Allah melalui bantahan dan penjelasan muslim berdasarkan kepada ajaran agama Islam yang sebenarnya, seharusnya mereka dapat menerima sekiranya mereka adalah orang yang berkehendak mencari kebenaran dan bukan hendak mencela agama. Allah memberi komentar tentang mereka dalam ayat tersebut:
Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis
Allah mengutuk anda wahai para pencela agama, sehingga tidak dapat melihat kebenaran dan berketetapan dalam kesesatan pemahaman semata untuk mencela agama, karena kekafiran (pengingkaran) terhadap ajaran agama yang telah memberi jalan yang lebih baik dari pada situs ini untuk menjelaskan kebenaran dan cara dialog yang lebih baik dibandingkan apa yang kalian lakukan di sini.
Dan untuk anda yang membajak ajaran Islam dari pemahaman yang sebenarnya menjadi pemahaman yang menistakan agama Islam, semata untuk mencari uang dan menggunakannya, Allah mengingatkan:
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (Al Baqarah :174)

Minggu, 11 April 2010

Kata siapa Islam adalah agama Ibrahim ?

Rinda Cahyana Says:
March 27, 2010 at 12:53 am

Allah berfirman:

Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al Baqarah :132) Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.(Al Baqarah :120)

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”. (Al Baqarah :135) ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Isma´il, Ishaq, Ya´qub dan anak cucunya, adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani?” Katakanlah: “Apakah kamu lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?” Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.(Al Baqarah :140)

Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.(Ali Imran :19)

Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan.(li Imran :83)Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.(Ali Imran :85)

ridwan Says:
April 2, 2010 at 3:27 pm

Ibrahim itu ada kira2 2000 thn sebelum muhamad… gak masuk akal kalo dia menyebutkan islam yg belum ada pada waktu itu…ayat2 yg dipaksakan…!!!

Rinda Cahyana Says:
April 6, 2010 at 4:54 am

Pernyataannya terkait dengan firman Allah, “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya´qub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam”. (Al Baqarah :132)

Pernyataannya: “gak masuk akal kalo dia (Ibrahim) menyebutkan islam yg belum ada pada waktu itu” Memang yang menyebutkan Islam dalam konteks ayat tersebut bukan Ibrahim, tetapi Allah. Pernyataan Ibrahim tersebut disampaikan Allah kepada Muhammad dengan bahasa Arab yang difahami Muhammad. Dan saudara Ridwan meragukan kemampuan Allah mengetahui perkataan Ibrahim, serta mentranslasikan satu bahasa yang diciptakan-Nya ke dalam bahasa lain yang diciptakan-Nya pula, padahal “Tuhanku mengetahui semua perkataan di langit dan di bumi dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al Anbiyaa :4)

Demikian pula dalam kitab lainnya, misalnya Injil, saat Allah menceritakan perkataan Adam “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” (Kejadian 3: 10) dalam bahasa Injil saat itu, apakah kemudian dalam keimanan kepada Allah, kita meragukan kata taman, telanjang, takut, dan bersembunyi dalam ayat tersebut hanya karena keyakinan bahwa bahasa Adam tidak sama dengan bahasa Injil dan Allah mentranslasikannya? Kalau anda ragu, berarti ada ragu terhadap seluruh firman Tuhan, karena keraguan terhadap kesesuaian makna firman-Nya dengan bahasa manusia yang berbeda dengan bahasa Injil. Kami Muslim, sangat percaya kepada Allah, dan tidak meragukan sama sekali pengalihbahasaan yang dilakukan oleh Allah di dalam al-Qur’an, ataupun kitab Musa dan Isa.

Kalau mas Ridwan berasal dari masa 2000 thn sebelum Muhammad, dan hadir disetiap masa sebagaimana Allah hadir sehingga tahu secara persisis sebutan untuk agama Ibrahim dan maknanya, pernyataan mas tidak akan dianggap sebagai pernyataan yang dangkal.

Islam itu akar katanya dari bahasa Arab, seandainya Ibrahim tidak menggunakan bahasa arab pastinya katanya bukan “Islam” tetapi kata senada dalam bahasa saat itu. Melalui firman-Nya Allah ingin menjelaskan bahwa agama Ibrahim adalah agama dengan makna yang sama dengan Nabi dan Rasul sebelum dan sesudahnya, yakni penyerahan diri kepada-Nya, yang dibahasakan oleh Allah kepada orang Arab dengan kata “Islam”. Kenapa Allah membahasakannya ke dalam bahasa arab? Allah menjawab, “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (Az Zukhruf :3, Yusuf: 2)

Pernyataan: “ayat2 yg dipaksakan…!!!”. Mungkin maksud pernyataan tersebut, kenapa tidak menggunakan bahasa Ibrahim untuk menyebut agamanya, Allah malah menggunakan bahasa Arab sehingga kemudian agama Ibrahim disebut dengan “Islam” ?

Seandainya memang sebutan bagi agama Ibrahim bukan “Islam” karena bukan bahasa Arab yang berlaku saat itu, maka pembahasaan ke dalam bahasa Arab oleh Allah tepatnya bukan “dipaksakan”, tetapi “disesuaikan” oleh Allah agar firman-Nya difahami oleh Muhammad yang berbahasa Arab. Allah menjelaskan, “Apakah (patut Al Quran) dalam bahasa asing sedang (rasul adalah orang) Arab?” Katakanlah: “Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”. Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Musa Taurat lalu diperselisihkan tentang Taurat itu. Kalau tidak ada keputusan yang telah terdahulu dari Rabb-mu, tentulah orang-orang kafir itu sudah dibinasakan. Dan Sesungguhnya mereka terhadap Al Quran benar-benar dalam keragu-raguan yang membingungkan. (Al Fushilat :44,45)

Saya percaya translasi yang dilakukan oleh Allah adalah benar, mengingat Allah adalah Tuhan Pencipta, yang senantiasa hadir disepanjang kurun jaman, yang tidak berfirman dalam kedustaan, sekalipun bagi-Nya tidak rugi apakah manusia beriman atau tidak. Jika Tuhan menyatakan firman-Nya sebagai petunjuk, maka tidak ada kedustaan di dalamnya. Sehingga saat Tuhan mentranslasikan perkataan Ibrahim (agamanya) dengan bahasa arab menjadi “islam”, kami beriman sepenuhnya karena yang diajarkan Ibrahim, Musa, dan Isa adalah penyerahan diri kepada Allah.

Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri”. (Yunus :84) Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail) berkatalah dia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: “Kamilah penolong-penolong (agama) Allah, kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri. (Ali Imran :52)

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. Mengapa kami tidak akan bertawakkal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja orang-orang yang bertawakkal itu, berserah diri”. (Ibrahim 11, 12)

Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (Ali Imran :64)

Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya Al Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)? (Huud :14) Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (Ar Ruum :53)


Kamis, 25 Maret 2010

ISLAM MEMANG AGAMA DAMAI!!!

Muhammad Atta 911 Says:

March 13, 2010 at 1:16 am

Berita paling mutakhir:
* 45 tewas di Pakistan akibat aksi 2 bom bunuh diri.

* ratusan orang mengungsi di Mogadishu (Somalia) karena peperangan.

* 500 orang dari suku Berom yang Kristen di Nigeria dibantai saat tertidur lelap, oleh suku Fulani yang Muslim.

ISLAM MEMANG AGAMA DAMAI!!!

Rinda Cahyana Says:

March 14, 2010 at 2:31 pm

Atta, Islam tidak bisa dijustifikasi dengan perilaku pengikutnya, karena manusia memiliki sifat khilaf yang dapat menyebabkannya berbuat dosa karena melalaikan ketentuan agama. Kedamaian Islam hanya bisa difahami dan disimpulkan dari ajarannya.

Seakan anda menyatakan bahwa “45 tewas di Pakistan (adalah) akibat aksi 2 bom bunuh diri ( yang dilakukan Muslim).” Lalu anda berkata, Islam memang agama damai!.

Coba perhatikan sumber ajaran Islam berikut ini:

“Oleh karena itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israel, bahwa: barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, ataubukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh seluruhnya”. (QS Al Maidah 32)

Ketika Ummu Hani’ memberikan perlindungan pada seorang musyrikin pada tahun penaklukan (Fathu Makkah), maka Ali bin Abi Tahlib ingin membunuhnya, lalu Ummu Hani’ pergi ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan memberitahukan tentang hal tersebut, maka Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,”Kami memberikan perlindungan terhadap siapa saja yang kau memberikan perlindungan padanya, wahai Ummu Hani’” (Riwayat Al Bukhari dan Muslim). Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,”Barangsiapa yang membunuh seseorang yang telah mempunyai perjanjian dengan kaum muslimin, maka dia tidak akan mencium bau surga, walaupun baunya itu tercium dari jarak 40 tahun” (Riwayat Al Bukhari)

“Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannnya ialah jahannam, Kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya”. (QS An Nisa 93). Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salllam, “Barangsiapa membunuh dirinya sendiri di dunia dengan cara apapun, maka Allah akan menghukum dia dengan hal yang sama (yang dia lakukan yang menyebabkan dia terbunuh) di hari kiamat” (Diriwayatkan oleh Abu ‘Awanah dalam Mustakhraj-nya, dari Tsabit bin Ad Dhahak radhiyallahu ‘anhu) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,”Dia yang melakukan bunuh diri dengan menikam dirinya dengan besi (pedang) yang ada ditangannya, maka dia akan ditikam dengan pedang dengan pedang itu pada tubuhnya di neraka, dan dia tetap didalamnya (di neraka) selamanya. Dan barangsiapa yang mengambil racun dan membunuh diri dengannya, maka dia akan meminum racun itu di neraka, dan dia tetap berada didalamnya (di neraka) selamanya. Dan barangsiapa melemparkan dirinya dari atas gunung dan membunuh dirinya dengannya, maka dia akan jatuh di dalam neraka, dan dia tetap didalamnya (di neraka) selamanya” (Riwayat Al Bukhari)

Jadi dalam Islam, bom bunuh diri yang tidak membedakan mana musuh peperangan dan mana yang bukan, adalah dosa besar. Jika ada dari kaum muslimin yang melakukannya, maka itu dosa mereka dan bukan karena Islam mengajarkan demikian kepada mereka.

Tentang para teroris pembajak Islam, yang menggunakan nama Allah dan Rasulullah SAW dalam perjuangannya namun perilakunya jauh dari Islam, Rasulullah SAW mengingatkan, “Akan tiba suatu masa dalam ummat ketika orang membaca Al Qur’an, namun hanya sebatas tenggorokannya saja (tidak masuk ke dalam hatinya)” (HR. Muslim). Dan, “Akan datang suatu masa untuk ummatku ketika tidak lagi tersisa dari Al Qur’an kecuali mushafnya dan tidak tersisa Islam kecuali namanya dan mereka tetap saja menyebut diri mereka dengan nama ini meskipun mereka adalah orang yang terjauh darinya” (Ibnu Babuya, Tsawab ul-A mal).

Yang patut dicatat adalah bahwa Teroris itu bukan Islam, karena perilaku teroris bukan hanya terdapat pada Muslim yang menyimpang saja, tetapi kaum lainnya pun ada yang tindakannya seperti teroris. Lihat perilaku tentara Amerika sebagaimana yang dirilis oleh Liputan6.com: Dua pekan silam, tentara AS juga menembaki kerumunan massa di sebuah sekolah di Faluja, 50 kilometer sebelah barat Baghdad. Sebanyak 13 warga sipil tewas dan 75 lainnya mengalami luka-luka. Perilaku mereka seperti Teroris dengan bom bunuh dirinya.

Selanjutnya anda memberitakan, “Ratusan orang mengungsi di Mogadishu (Somalia) karena peperangan (yang dilakukan Muslim)”. Kondisi seperti itu adalah akibat peperangan. Karenanya kaum Muslim membenci Amerika dan sekutunya yang melancarkan peperangan dan menyebabkan penderitaan di Iraq dan Afganistan. Lihatlah Israel yang menyerobot tanah Palestina sehingga banyak warga yang terusir dari rumahnya sendiri. Koran Israel Ha’aretz edisi Jum’at (20/02), menyebutkan Pemerintah Kota penjajah Israel di kota al Quds berupaya mengusir 1500 warga Palestina di al Quds dari kampung Silwan.

Penderitaan bukan hanya milik non Muslim saja, perhatikan berita ini: Lembaga pengungsi internasional, UNHCR, mengatakan militer Thailand telah melanggar hukum hak asasi internasional karena menangkap dan menahan pengungsi Rohingya (etnis Muslim) di Laut Andaman lalu melepaskan mereka untuk mencari perlindungan sendiri di zona laut internasional.

Berita dari anda: “500 orang dari suku Berom yang Kristen di Nigeria dibantai saat tertidur lelap, oleh suku Fulani yang Muslim”. Seandainya tindakan suku Fulani benar, maka kondisinya adalah sedang dalam keadaan perang antara mereka dengan suku Berom. Di dalam Islam, penyerangan di waktu malam disebut al-Bayat dan termasuk bagian dari siasat perang. Penjuang kita dulu menyebutnya dengan Serangan Fajar. Israel pun melakukan serangan di malam hari terhadap Palestina, demikian pula dengan Operasi Moshtarek yang dilaksanakan Amerika malam hari di Afganistan. NATO mendukung operasi malam hari yang dilakukan Amerika di Afganistan.

Namun seandainya penyerangan itu bukan karena peperangan, maka pembunuhan suku Berom adalah dosa besar suku Fulani. Islam mengutuk dosa besar tersebut.

Muhammad Berkompromi Dengan Berhala ?

Adeng Hudaya Says:
March 23, 2010 at 1:04 pm

Ayat-ayat Setan (Satanic Verses)

Lagi, kita dapatkan dari sumber-sumber Muslim yang diandalkan (al- Tabari; Waqidi), kisah merusak dari ayat-ayat setan (sebuah ungkapan yang dipakai oleh Muir pada akhir tahun 1850an, dan sekarang dikenal luas). Selama hari-harinya di Mekah, sebelum pindah ke Medina, Muhammad duduk bersama-sama para orang terkenal Mekah disebelah Kabah, ketika dia mulai mengucapkan Surat 53, yang menjelaskan kunjungan pertama Jibril pada Muhammad dan lalu berlanjut pada kunjungan keduanya:

Dia juga melihatnya (Jibril) dilain waktu Pada pohon Lote di bagian jauhnya Dekatnya ada surga
Ketika pohon Lote menutupi apa yang ditutupinya
Pandangannya tidak berpaling, tidak juga berpindah
Dan sesungguhnya dia membawa tanda-tanda kebesaran Auwloh
Bagaimana pendapatmu mengenai Lat dan Uzza dan Manat?

Pada titik ini, kita diberitahu bahwa Setan telah menaruh perkataan tersebut di mulutnya (Muhammad), perkataan rekonsiliasi dan kompromi: Mereka (Al-Lat, Al-Uzza, dan Al-Manat; dewi-dewi padang pasir Arabia) adalah para perempuan mulia // Dimana intersesinya dimohonkan (maksudnya; Muhammad mengeluarkan ayat tersebut di atas yang mengakomodir dewa-dewi berhala Arab)

Tentu saja, orang-orang Mekah senang dengan dikenalnya dewi-dewi mereka dan diucapkan dalam doa-doa oleh orang muslim. Tapi Muhammad sendiri lalu dikunjungi Jibril yang membatalkan semua itu dan dikatakan bahwa ayat itu seharusnya berakhir demikian:

Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Auwloh (anak) perempuan? // Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. // Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya.

(Maksud ayat di atas adalah, bila manusia saja dapat anak laki-laki, maka alangkah tidak terhormatnya auwloh dapat anak perempuan. Karena nilai anak lelaki dianggap lebih tinggi nilainya daripada anak perempuan)

Muslim selalu tidak nyaman dengan kisah ini, tidak mau percaya bahwa nabinya bisa membuat kompromi untuk menyembah berhala. Tapi jika kita terima keaslian sumber-sumber Muslim ini secara umum, tidak ada alasan untuk menolak kisah ini. Kelihatannya tidak masuk akal bahwa kisah demikian direkayasa oleh muslim saleh seperti al-Tabari, atau bahwa dia bisa menerima begitu saja sumber-sumber yang tak jelas.[25] Lagipula, hal ini menjelaskan fakta kenapa para muslim yang lari ke Abyssinia banyak yang kembali diterima: Karena mereka mendengar orang-orang Mekah telah masuk Islam. Sepertinya jelas bahwa tidak ada kisah yang loncat tentang Muhammad disini, malah secara hati-hati hal ini telah diperhitungkan untuk memenangkan dukungan orang-orang Mekah. Hal ini juga menimbulkan keraguan hebat akan kejujuran Muhammad; Meski jika benar Setan menaruh perkataan itu dimulut Muhammad, lalu gimana bisa kita percaya pada orang yang begitu mudah disesatkan oleh setan? Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Darimana kita tahu bahwa tidak ada lagi ayat- ayat lain dari Muhammad yang disesatkan oleh Setan?

Answer :Rinda Cahyana Says:
March 23, 2010 at 4:31 pm

Kesalahan anda tiga, 1) menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa Indonesia dengan tidak benar, 2) memaksakan tafsiran yang aneh dan tidak dikenal dalam ajaran Islam yang sebenarnya, 3) Memahami Islam sebagai agama penyembah berhala Auwloh dan bukannya Allah yang Maha Esa. Oleh karenanya wajar jika pemahaman anda terhadap firman Allah dalam surat an-Najm jauh dari pemahaman ahli tafsir Islam.

Firman Allah, “Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? Yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. (An-Najm :21-22) Ibnu Katsir menafsirkan, yakni apakah kamu menisbatkan seorang putra untuk-Nya sedang putra itu perempuan, padahal kalian memilih untuk diri kalian sendiri anak laki-laki. Kalau saja kamu membagi dengan pembagian ini antara kamu dengan mahluk seperti yang kamu lakukan, pastilah pembagian itu merupakan “suatu pembagian yang tidak adil”, yakni aniaya dan batil. Maka, bagaimana mungkin kamu memberikan pembagian kepada Allah (yang bukan mahluk) dengan pembagian seperti ini?

Jadi maksudnya bukan “bila manusia saja dapat anak laki-laki, maka alangkah tidak terhormatnya auwloh dapat anak perempuan. Karena nilai anak lelaki dianggap lebih tinggi nilainya daripada anak perempuan”.

Dalam Islam anak laki-laki atau perempuan adalah sama, sehingga manusia tidak akan turun kehormatannya jika mendapatkan salah satu dari keduanya. Dan Allah dalam Islam adalah Tuhan yang tidak beranak dan diperanakan, sehingga Allah merasa tidak terhormat jika manusia menetapkan anak apakah laki-laki maupun perempuan kepada diri-Nya. Sungguh berdosa besar orang yang menetapkan bagi Allah anak dan menyangka Allah merasa terhormat jika diberi anak laki-laki. Firman Allah, “Maka apakah patut Tuhan memilihkan bagimu anak-anak laki-laki sedang Dia sendiri mengambil anak-anak perempuan di antara para malaikat? Sesungguhnya kamu benar-benar mengucapkan kata-kata yang besar (dosanya).” (Al Israa’ :40)

Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan): “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan.” (Al An’am :100) Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, dan bahwasanya Maha Tinggi kebesaran Tuhan kami, Dia tidak beristeri dan tidak (pula) beranak (Al Jin :1-3)dan tidak pula diperanakkan(Al Ikhlash :3)

Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak”. Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kamu menetapkan? Maka apakah kamu tidak memikirkan? Atau apakah kamu mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kamu memang orang-orang yang benar.(Ash-Shaaff :151-157) Katakanlah, jika benar Tuhan Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu). Maha Suci Tuhan Yang empunya langit dan bumi, Tuhan Yang empunya ´Arsy, dari apa yang mereka sifatkan itu. Maka biarlah mereka tenggelam (dalam kesesatan) dan bermain-main sampai mereka menemui hari yang dijanjikan kepada mereka. (Az Zukhruf :81-83)

Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih, Isa putera Maryam itu, adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan) kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan: “(Tuhan itu) tiga”, berhentilah (dari ucapan itu). (Itu) lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara. (An Nisaa :171) Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.(Al An’am :101) Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.(Al Israa’ :111) Tidak layak bagi Allah mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia. (Maryam :35)

Jelas dengan banyak ayat yang mensucikan Allah dari memiliki anak, maka mustahil tafsir surat an-Najm yang dimaksud adalah kompromi antara Muhammad dengan berhala karena Muhammad mensucikan Allah melalui ucapannya “Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak, segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya. Cukuplah Allah menjadi Pemelihara.” (An Nisaa :171). Setelah anda tersesat karena kebodohan dalam mamahami tafsir ayat tersebut, anda kemudian meyakini bahwa firman tersebut adalah firman Setan melalui perkataan, “Meski jika benar Setan menaruh perkataan itu dimulut Muhammad”. Tidak dapat dibayangkan betapa merasa tidak terhormat dan murkanya Allah karena anda mengatakan firman-Nya sebagai firman setan. Allah berfirman kepada anda, “kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. (An-Najm :1-5) Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (Asy Syuura :51)

Setelah anda meyakini firman Allah sebagai firman setan, tentu saja Allah menutup pintu hati anda sehingga anda tidak percaya kepada Muhammad dengan berkata, “lalu gimana bisa kita percaya pada orang yang begitu mudah disesatkan oleh setan?”. Allah mengajarkan kepada Muslim, “Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.”

Kemudian anda bertanya, “Kenapa Tuhan membiarkan ini terjadi? Darimana kita tahu bahwa tidak ada lagi ayat- ayat lain dari Muhammad yang disesatkan oleh Setan?” Tuhan membiarkannya karena perkataan-Nya adalah benar dan pemahaman anda keliru, bahwa tidak layak bagi orang Musyrik menetapkan anak perempuan bagi Allah dan tidak layak pula bagi anda menetapkan anak laki-laki bagi Allah. Sampai di sini saya dapat meyakini bahwa pertanyaan Allah dalam firman-Nya tersebut adalah benar dan bukan kompromi dengan berhala, dan Muhammad yang telah diajarkan Allah dan mengajarkan kepada umatnya bahwa Allah tidak beranak dan dipernakan tidak akan menghianati-Nya dengan berkompromi dengan berhala sehingga tidak akan pernah dapat disesatkan oleh Setan, dan saya mengetahui sekarang siapa sebenarnya yang disesatkan oleh Setan.