Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Persepsi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Persepsi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 25 Juli 2026

Tiga Imam yang Tidak Saya Sukai

Saya suka melaksanakan salat Jum'at di masjid yg berbeda. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga jenis khatib sekaligus imam salat Jum'at yg tdk saya sukai: 

1. TUKANG PAMER

Khatib ini tenggelam dgn kondisinya sendiri, memamerkan kondisi spiritualnya dlm tangisan dan lamanya gerakan atau bacaan, lupa kondisi jema'ahnya.

Padahal Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka ringankanlah (salatnya). Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Dan jika salah seorang dari kalian salat sendiri, maka panjangkanlah sesukanya." (HR. Bukhari no. 703 & Muslim no. 467).

Al-Hasan Al-Bashri (Wafat 110 H) mengkritik fenomena orang yang sengaja memperlihatkan tangisan dan khusyuknya di depan publik: "Dahulu, seorang laki-laki menangis karena takut kepada Allah di dalam rumahnya, sementara istrinya yang berada di sisinya tidak mengetahuinya. Ada pula orang yang menghafal Al-Qur'an, tetapi tetangganya tidak menyadarinya... Namun sekarang, aku melihat orang-orang menjadikan kesedihan dan tangisannya sebagai barang dagangan untuk diperlihatkan kepada manusia." (Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad)

Ibnu Al-Jauzi (Wafat 597 H) dalam kitab fenomenalnya, Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), beliau menguliti secara khusus tipu daya setan pada para imam, khatib, dan ahli ibadah: "Di antara tipu daya Iblis kepada para imam dan penceramah adalah membuat mereka merasa bahwa tangisan keras dan suara parau mereka di atas mimbar adalah tanda keikhlasan dan kedekatan dengan Allah. Padahal, sering kali itu hanyalah jubah kesombongan yang ingin disaksikan jemaah agar mereka dianggap wali yang lembut hatinya."

2. TUKANG PUKUL

Khatib ini sibuk menghakimi jema'ah yg telah didudukkan oleh Allah di dalam masjid. 

Dia lupa ajaran Nabi SAW, "Mudhahkanlah dan jangan menyusahkan, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari/benci."(HR. Bukhari no. 69 & Muslim no. 1734). 

Sheikh 'Ali Thantawi (Ulama Besar Syam/Arab Saudi, Wafat 1999 M) memberikan pesan tajam yang sangat populer bagi para penceramah yang suka "menyerang" jemaah masjid: "Jangan sampai engkau menjadi penceramah yang berdiri di depan orang-orang yang sudah mau melangkahkan kakinya ke masjid, lalu engkau cambuk mereka dengan celaan seolah-olah mereka adalah penghuni neraka. Orang yang sudah datang ke masjid itu adalah orang yang sedang mencari penawar/obat, maka berikan mereka obat dengan kelembutan, bukan racun dengan amarahmu."

3. TUKANG ADU

Khatib ini gemar mengadu domba umat berdasarkan afiliasi ormas atau politik, bahkan dgn bahasa tdk pantas. 

Dia lupa pada sabda Nabi SAW, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (nammam)." (HR. Bukhari no. 6056 & Muslim no. 105), dan "Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor." (HR. Tirmidzi no. 1977, Shahih)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (Wafat 852 H) dalam kitab Fathul Bari, beliau menjelaskan syarat dan adab khotbah: "Khotbah disyariatkan untuk memberi peringatan (Tadzkir), mengajak taat kepada Allah, dan menasihati manusia dengan kebaikan. Menggunakan mimbar untuk mencela musuh politik atau menyerang kelompok muslim lain adalah penyimpangan dari maksud utama khotbah."

#persepsicahyana

Kamis, 25 Juni 2026

Konsep dan Realita Tuhan


Semua konsep dari tulisan tergambar dalam pikiran. Konsep tsb tdk bisa diindera, namun tulisan mewujudkannya, membuktikan konsep itu ada [1]. Begitupun bila Tuhan tdk terindera, bukan berarti Dia tdk ada. Dia bisa dikenali dari perbuatan Nya yg terindera, sebagai bukti Dia ada. 

Saat wujud pertama muncul di semesta, maka tiada wujud lain yg ada bersamanya, sebab dia adalah wujud yg pertama kali ada. Secara logis, hanya boleh ada sosok lain yg ada sebelum wujud tersebut ada, yakni Tuhan sebagai akar penciptaan yg tdk diciptakan oleh siapapun [2, 3].

Seseorang mungkin menjangkau Tuhan hanya sebatas konsep logis tsb [4, 5]. Namun jgn lupa, setiap konsep selalu mungkin ada perwujudannya. Terlebih suatu konsep dapat sesuai dgn kenyataan pada dimensi ruang dan waktu berbeda, sehingga kenyataan tsb tdk perlu diciptakan. Hanya perlu menunggu ruang dan waktu pertemuan. Itulah sebab kenapa kalangan Bertuhan meyakini kelak dapat menyaksikan Tuhan dalam wujud yg sesuai dgn konsep Ketuhanan yg diyakininya.

Manusia menggunakan angka 1 biner utk menyatakan kondisi hidup/ada dan 0 biner utk mati/tdk ada. Gerak sesuatu dapat dilogikakan dgn keduanya. Artinya, semua yg bergerak menghasilkan pola biner tsb. Bergerak tsb hanya terjadi dlm dimensi ruang dan waktu yg diciptakan Tuhan [6]. 

Sementara Tuhan tdk terikat oleh keduanya, sebab hanya ciptaan yg terikat oleh penciptanya. Oleh krn nya, saat Tuhan berkata, "Jadilah", akibat yg terjadi ("Maka Jadi") adalah perubahan dari kondisi tidak ada (0) menjadi ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu. Di sisi sebab ("Jadilah") adalah tak didefinisikan (~) karena tdk ada dimensi ruang dan waktu yg dapat mengukurnya. Dengan demikian ~ => {0, 1}, bukan sebaliknya. 

Sesuatu yg tidak ada (0) dibagikan kepada yg ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya tidak ada yg dibagikan (0). Namun, bila sesuatu yg ada (1) dibagikan kepada yang tidak ada (0) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya hanya Tuhan yg tahu (~) sebab manusia sampai saat ini belum mendefinisikannya. Artinya, manusia tdk bisa mengukur Tuhan yg tidak terdefinisi wujud Dzat Nya (~) dgn ukuran-ukuran kemahlukan yg terikat oleh ruang dan waktu (1/0).

Oleh karena itu Nabi SAW bersabda, "Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang Zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya." (HR. Abu Nu'aim).

--------

[1] Plato (427–347 SM) mencetuskan Theory of Forms (Teori Idea). Menurutnya, dunia fisik yang kita indera ini hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia "Idea" yang abstrak, sempurna, dan abadi di dalam pikiran.
[2] Ibnu Sina / Avicenna (980–1037 M) membagi wujud menjadi dua: yang mungkin ada (alam semesta, yang butuh pencipta) dan yang wajib ada (Tuhan, yang ada dengan sendirinya tanpa awal).
[3] Aristoteles (384–322 SM) mengatakan bahwa sesuatu di alam semesta bergerak karena ada yang menggerakkan, dan rantai sebab-akibat ini tidak boleh mundur tanpa batas (infinite regress). Harus ada satu titik absolut yang memulai segalanya.
[4] Immanuel Kant (1724–1804) menjelaskan bahwa manusia tidak bisa melihat realitas sejati (Tuhan/Noumena) secara langsung karena keterbatasan struktur rasio kita yang terpenjara oleh dimensi ruang dan waktu (Phenomena).
[5] Ibnu Arabi (1165–1240 M) menyatakan bahwa setiap manusia membayangkan Tuhan sesuai dengan kapasitas, batasan, dan kesiapan spiritualnya sendiri.
[6] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716), penemu sistem biner modern, memandang angka 1 sebagai representasi Tuhan (Eksistensi Absolut) dan 0 sebagai representasi ketiadaan (void). Bagi Leibniz, seluruh alam semesta adalah kombinasi dari gerak dinamis antara ketiadaan yang diisi oleh keberadaan melalui kehendak Tuhan.

#persepsicahyana

Senin, 22 Juni 2026

Perpecahan dan Perbedaan


Perpecahan itu buruk karena dapat melemahkan, perbedaan itu baik karena dapat menguatkan. Namun, perpecahan dapat timbul dalam persamaan atau perbedaan. Seseorang dapat membangun narasi perpecahan dgn mengeksploitasi perbedaan. Respon terbaik adalah membuat perbedaan, memilih utk meredam atau tdk memperbesar perpecahan.

Division is bad because it weakens, while difference is good because it strengthens. However, division can arise from similarities or differences. A divisive narrative can be constructed by exploiting differences. The best response is to effect change, choosing to mitigate the division or not exacerbate it.

الانقسام سيء لأنه يُضعف، بينما الاختلاف جيد لأنه يُقوّي. مع ذلك، قد ينشأ الانقسام من أوجه التشابه أو الاختلاف. ويمكن بناء سردية انقسامية باستغلال الاختلافات. وأفضل رد فعل هو إحداث تغيير، باختيار تخفيف حدة الانقسام أو عدم تفاقمه.

---------

Perpecahan pada hakikatnya merupakan hal yang buruk karena sifatnya yang destruktif. Ketika ego dan konflik internal dibiarkan mendominasi, energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk produktivitas justru habis terbakar dalam perselisihan. Akibatnya, ikatan sosial yang ada menjadi rapuh, fokus bersama menjadi terpecah, dan pada akhirnya seluruh tatanan yang telah dibangun akan mengalami pelemahan secara perlahan namun pasti.

Sebaliknya, perbedaan merupakan suatu hal yang baik karena menyimpan potensi besar untuk saling menguatkan. Perbedaan bukanlah sebuah ancaman, melainkan kekayaan perspektif yang memungkinkan setiap pihak untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Ketika berbagai sudut pandang dan latar belakang yang beragam tersebut dikelola dengan bijak, ia akan melahirkan kolaborasi yang jauh lebih tangguh, inovatif, dan kokoh dibandingkan dengan kelompok yang sepenuhnya seragam.

Namun, sebuah paradoks sosial menunjukkan bahwa perpecahan tidak melulu lahir secara alami dari adanya perbedaan. Potensi keretakan tersebut ternyata bisa timbul di mana saja, baik di dalam kelompok yang memiliki banyak perbedaan maupun di tengah-tengah komunitas yang dipenuhi oleh persamaan. Keberadaan kesamaan latar belakang, visi, atau keyakinan sekalipun tetap tidak menjamin suatu kelompok bebas dari ancaman perpecahan jika ego sektoral mulai mengambil alih.

Situasi ini sering kali diperparah oleh adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja membangun narasi perpecahan. Mereka secara aktif mencari celah, membesar-besarkan masalah kecil, dan mengeksploitasi perbedaan yang sebenarnya bersifat netral atau positif demi kepentingan atau keuntungan sepihak. Melalui manipulasi informasi dan provokasi, perbedaan yang awalnya menjadi sumber kekuatan diubah sedemikian rupa menjadi sumbu sentimen yang memicu kecurigaan antar sesama.

Menghadapi fenomena tersebut, respons terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan berani mengambil sikap untuk menjadi pembeda. Langkah konkret ini diwujudkan dengan memilih secara sadar untuk meredam suasana yang mulai memanas, meluruskan disinformasi, atau setidaknya menahan diri agar tidak ikut memperbesar arus perpecahan yang ada. Dengan memutus rantai penyebaran narasi provokatif, kita telah mengambil peran penting dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan di tengah dinamika kehidupan sosial.

 #persepsicahyana

Budaya Berjualan yang Berisiko


Budaya berjualan di pinggir jalan, apalagi di jalanan ramai, memiliki beberapa isu yg perlu diperhatikan, yakni terkait ancaman keselamatan pejalan kaki, kebersihan makanan yg berdampak pada kesehatan, dan kenyamanan pengguna jalan.

Saya mengamati antusias masyarakat utk mengunjungi lapak mingguan di pinggir jalan sangat bagus utk menghidupi pedagang kecil. Misalnya, di bunderan Suci. Trotoar dan bahu jalan digunakan oleh pelapak, sehingga pembeli berjalan di bahu jalan bersama kendaraan yg melintas. Jalanan tsb merupakan salah satu jalan penghubung ke Tasikmalaya, sehingga tdk jarang dilewati kendaraan besar.

Tentu saja kita tdk bisa abai dgn isu penting yg muncul dari budaya tsb. Saya berpikir, lahan parkir luas milik toko besar bangunan yg tepat berada di lokasi kegiatan lebih aman digunakan sebagai lokasi berjualan. Apalagi jam operasional toko tsb sekitar jam 9 ke atas, sehingga dari pukul 6 hingga 9 bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Semoga pemerintah memperhatikan isu ini dan ikut andil menjembatani komunikasi antara toko dan masyarakatnya guna mewujudkan ekonomi masyarakat kecil yg aman dan nyaman. 

#persepsicahyana

Menuju Ketenangan


Apa yang kita cari di dunia ini adalah kesenangan, sementara kehidupan setelah kematian menuntut ketenangan. Saat kita mulai menempuh jalan menuju kehidupan setelah kematian, fokus hidup seharusnya mulai bergeser ke arah ketenangan.

What we seek in this world is pleasure, while the afterlife demands serenity. As we begin to embark on the path of the afterlife, the focus of life should begin to shift toward serenity.

إن ما نسعى إليه في هذه الدنيا هو المتعة، بينما تتطلب الحياة الآخرة السكينة. ومع بدء رحلتنا نحو الحياة الآخرة، ينبغي أن يتحول تركيز حياتنا نحو السكينة.

-----------

Sering kali, kesenangan di dunia ini terikat pada hal-hal eksternal dan bersifat sementara. Kita cenderung memburunya dalam detail kehidupan sehari-hari, namun sifatnya fana dan kerap kali disertai rasa cemas akan kehilangannya.

Sebaliknya, kedamaian jiwa representasi dari kedamaian batin, ketenteraman, dan keridaan yang kokoh. Ia tidak mudah goyah oleh pasang surutnya keadaan duniawi, sekaligus menjadi bentuk persiapan spiritual dan mental yang matang menyambut kehidupan akhirat.

Mengalihkan fokus hidup dari sekadar mengejar kesenangan semu menuju pencarian kedamaian hakiki (sakinah) adalah sebuah bentuk evolusi kesadaran. Pada titik ini, stabilitas batin, keikhlasan dalam menerima garis hidup, serta kedekatan dengan Sang Pencipta menjadi kompas utama dalam setiap langkah dan pilihan yang diambil.

#ratisejiwa #persepsicahyana

Selasa, 16 Juni 2026

Pertikaian Keturunan Orang Kanaan


A. Israel dan Palestina Berhubungan Darah

Palestina dan sebagian Israel masih satu keturunan dari Kanaan. Keduanya hidup bergenerasi-generasi di wilayah yang sejak zaman Romawi disebut Filistin. Bahkan di antara kedua suku ini sudah tercampur oleh perkawinan. Makanya masuk akal bila gen warga Palestina bisa lebih Israel daripada orang Barat yang mengaku keturunan Israel, walau tidak lagi beragama Yahudi. 

Berbagai penelitian genetika populasi, seperti studi Harry Ostrer atau Ariella Oppenheim, menunjukkan bahwa mayoritas orang Yahudi (baik Ashkenazi, Sephardi, maupun Mizrahi) dan masyarakat Arab Levantin (termasuk Palestina) memiliki kedekatan genetik yang sangat erat. Keduanya berbagi persentase DNA yang sangat tinggi dari populasi kuno Zaman Perunggu di wilayah Levant, yang secara historis dikenal sebagai orang Kanaan.

Ketika terjadi diaspora (pengusiran) bangsa Yahudi oleh Romawi, sebagian populasi tetap tinggal di tanah tersebut. Seiring waktu, berabad-abad lamanya, mereka mengalami asimilasi, berpindah keyakinan (menjadi Kristen, lalu kemudian Islam), dan bercampur dengan populasi lokal lainnya, yang kemudian membentuk garis keturunan masyarakat Palestina modern. Oleh karena itu, secara biologis, masyarakat Palestina memang memiliki keterikatan darah yang sangat kuat dengan tanah kuno tersebut dibandingkan dengan populasi imigran Yahudi yang telah berabad-abad bercampur dengan populasi Eropa (Ashkenazi).

B. Israel Dibawa Keluar

Israel diperbudak oleh penguasa Mesir. Kemudian Musa, saudara mereka, membebaskan dan membawa mereka pulang ke tanah leluhurnya yang disebut tanah yang dijanjikan. Sejak awal masa Musa, mereka tidak memenuhi syarat sehingga dijatuhi hukuman 40 tahun tidak bisa memasuki wilayah Palestina tersebut. 

Teks keagamaan mencatat bahwa karena pembangkangan dan ketakutan mereka untuk memasuki Tanah Kanaan saat diperintahkan, mereka dihukum untuk mengembara di Padang Sinabung (Sinai) selama 40 tahun hingga generasi yang membangkang tersebut digantikan oleh generasi baru.

Para sejarawan dan arkeolog modern masih mendebatkan historisitas peristiwa Exodus skala besar ini karena minimnya bukti arkeologis kontemporer di Mesir maupun Sinai. Namun, secara narasi identitas budaya dan agama, kisah ini adalah fondasi utama klaim "Tanah Perjanjian" bagi bangsa Israel.

C. Pertikaian Israel dan Palestina

Wilayah yang disebut tanah yang dijanjikan itu sebenarnya tanah air mereka bersama bangsa Palestina, tanah Kanaan. Cuma sayangnya, Israel berpikir itu tanah eksklusif, sehingga keturunan lain gak boleh memilikinya, bertindak seperti saudara yang merampas warisan dari saudara lain. 

Padahal warga Palestina menerima mereka yang saat itu mengungsi, seperti saudara sendiri. Warga Palestina tidak menyadari kalau saudaranya tersebut memiliki rencana untuk membuat negara eksklusif bagi Zionisme yang pada akhirnya membuat mereka sendiri menjadi objek pembersihan etnis. 

Dalam teologi Yahudi kuno, konsep Tanah Perjanjian memang sering diinterpretasikan secara eksklusif untuk Bani Israel. Namun, transformasi klaim teologis ini menjadi gerakan politik modern yang terjadi lewat Zionisme yang lahir di Eropa pada akhir abad ke-19.

Zionisme pada awalnya adalah gerakan nasionalis sekuler, bukan gerakan keagamaan. Para pendiri utamanya (seperti Theodor Herzl) menggunakan narasi historis dan alkitabiah tentang "Tanah Air Yahudi" sebagai solusi atas antisemitisme (persekusi terhadap Yahudi) yang merajalela di Eropa saat itu.

Pada gelombang-gelombang awal migrasi (Aliyah) di bawah mandat Inggris, masyarakat Palestina lokal awalnya menerima para imigran Yahudi yang melarikan diri dari Eropa sebagai sesama manusia atau tetangga. Namun, ketegangan mulai eskalatif ketika tujuan politik untuk mendirikan negara dengan mayoritas mutlak Yahudi (yang secara inheren membutuhkan pengosongan atau marginalisasi populasi Arab lokal) mulai menjadi jelas, yang puncaknya terjadi pada peristiwa Nakba tahun 1948.

D. Politisasi Agama

Pertikaian antara Palestina dan Israel adalah pertikaian antarsaudara seketurunan Kanaan yang menjadi lebih buruk, sampai level genosida, gara-gara politisasi agama. 

Pada dasarnya, konflik Palestina-Israel adalah konflik modern mengenai tanah, kedaulatan, hak atas penentuan nasib sendiri (self-determination), dan keadilan hukum. Konflik ini menjadi jauh lebih destruktif, tidak kompromis, dan brutal (bahkan hingga level pembersihan etnis dan genosida seperti yang disaksikan dunia saat ini) ketika narasi keagamaan yang radikal dan eskatologis (akhir zaman) digunakan untuk menjustifikasi kekerasan dan perampasan hak kemanusiaan.

Ketika hak historis dan genetik satu saudara dihilangkan demi ego eksklusivitas saudara yang lain dengan dukungan kekuatan politik-militer modern, maka ikatan "satu keturunan Kanaan" tersebut tenggelam dalam tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan.

E. Matinya Solusi Dua Negara

Saat ini, banyak negara yang mengusulkan solusi dua negara dengan batas wilayah sesuai kesepakatan awal. Bahkan negara Barat mulai mengakui eksistensi negara Palestina. Namun, Israel, sebagaimana Hamas, menolak solusi tersebut. Israel terus melakukan okupasi dan mendirikan permukiman ilegal. Zionis Israel memiliki mimpi mewujudkan Great Israel yang wilayahnya membentang dari Sungai Eufrat hingga Tigris. Hamas menganggap Palestina adalah tanah airnya, bukan tanah air para pengungsi. 

Secara teori, Solusi Dua Negara mengacu pada perbatasan tahun 1967 (sebelum Perang Enam Hari), di mana Palestina merdeka di wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Namun, visi ini ditolak oleh kelompok garis keras di kedua belah pihak.

Di bawah pemerintahan koalisi sayap kanan, Israel secara terbuka menolak berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Mereka menganggap Tepi Barat sebagai wilayah historis Yahudi (Judea and Samaria). Kontrol militer penuh atas seluruh wilayah antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania dianggap non-negosiasi untuk keamanan mereka.

Berdasarkan piagam aslinya, Hamas menolak legalitas negara Israel dan menganggap seluruh tanah dari "Sungai hingga Laut" (From the River to the Sea) sebagai tanah wakaf Islam yang tidak boleh diserahkan. Meskipun pada tahun 2017 mereka sempat memperbarui dokumen politik yang menerima perbatasan 1967 sebagai formula konsensus sementara, tujuan jangka panjang mereka tetaplah pembebasan penuh Palestina tanpa mengakui kedaulatan Israel.

Para pemukim ilegal Israel, di bawah dukungan aparat keamanan, melakukan teror yang membuat warga Palestina terbunuh dan terusir. Serangan Hamas dijadikan dalih untuk memperluas wilayah, bahkan hingga wilayah yang tidak dikuasai Hamas. Cara serupa dilakukan Israel dalam memperluas wilayah di Libanon Selatan dengan dalih melawan Hizbullah.

Okupasi dan pembangunan permukiman (settlements) di Tepi Barat dan Yerusalem Timur adalah faktor utama yang secara fisik "membunuh" peluang Solusi Dua Negara. Berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat, sebuah negara pendudukan dilarang memindahkan penduduk sipilnya ke wilayah yang diduduki. Oleh karena itu, PBB dan mayoritas negara-negara di dunia menyatakan seluruh permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal.

Laporan dari berbagai organisasi hak asasi manusia (seperti B'Tselem dan Amnesty International) mendokumentasikan bagaimana oknum pemukim radikal, sering kali dilindungi atau dibiarkan oleh pasukan keamanan Israel (IDF), melakukan intimidasi, perusakan kebun zaitun, hingga kekerasan fisik terhadap warga Palestina. Tujuannya adalah memaksa warga lokal meninggalkan tanah mereka (displacement) agar wilayah permukiman Yahudi bisa diperluas dan terhubung satu sama lain, sehingga wilayah Palestina menjadi terfragmentasi (terpecah-pecah menjadi enklaf kecil).

Konsep Greater Israel (Eretz Yisrael HaShlemah) memiliki dua dimensi yang perlu dibedakan antara retorika alkitabiah dan realitas politik modern. Dalam teks kuno Kejadian 15:18, terdapat batas teologis "dari Sungai Mesir hingga Sungai Besar, Sungai Efrat." Secara praktis-geopolitik, ambisi sebagian besar kelompok Zionis kanan hari ini bukanlah mencaplok Irak atau Suriah (wilayah Efrat-Tigris), melainkan menguasai penuh seluruh wilayah Mandat Britania atas Palestina (mencakup Israel modern, Tepi Barat, dan Gaza) ditambah sebagian Dataran Tinggi Golan. Bagi warga Palestina, kebijakan aneksasi de facto ini dirasakan sebagai bentuk ekspansionisme yang perlahan tapi pasti melenyapkan ruang hidup mereka.

Serangan Hamas dijadikan justifikasi oleh militer Israel untuk melakukan operasi skala penuh. Dampaknya tidak hanya menghancurkan infrastruktur Gaza, tetapi juga diikuti dengan peningkatan agresi, penyitaan lahan, dan penangkapan massal di Tepi Barat—wilayah yang sebenarnya dikendalikan oleh Otoritas Palestina (Fatah), bukan Hamas. Hal ini memperkuat argumen bahwa targetnya melampaui sekadar menumpas Hamas.

Garis perbatasan Israel-Libanon (Blue Line) telah lama menjadi front pertempuran. Dengan dalih menetralisir ancaman roket Hizbullah dan menciptakan "zona penyangga" (buffer zone) demi memulangkan warga Israel di utara, militer Israel kerap melakukan penetrasi ke Libanon Selatan. Bagi Lebanon dan pengamat regional, zona penyangga ini sering kali berujung pada pendudukan militer jangka panjang (seperti yang pernah terjadi pada tahun 1982 hingga 2000), yang mengikis kedaulatan negara tetangga.

Ketika geopolitik digerakkan oleh kombinasi antara doktrin keamanan absolut, pembenaran ideologis-keagamaan, dan impunitas (kekebalan) dari hukum internasional, maka siklus kekerasan, pendudukan, dan pengusiran akan terus berulang, mengorbankan hak-hak dasar kemanusiaan warga sipil di wilayah tersebut.


#persepsicahyana

Rabu, 03 Juni 2026

Ketaatan Beragama

Agama adalah pedoman hidup untuk mewujudkan tatanan hidup yang baik. Diperlukan ketaatan pada pedoman tersebut untuk mewujudkannya. Ketaatan dengan cara apa pun dicapainya adalah baik karena berkontribusi mewujudkan tatanan tersebut pada level individu atau sosial. 

Pahala dan siksa adalah metode pendidikan umum yang paling awal dikenal untuk menciptakan ketaatan pada manusia dan hewan. Namun, ketaatan tidak lagi membutuhkan metode tersebut bila sudah menjelma menjadi kebiasaan atau timbul karena kesadaran. 

Di level tercerahkan, seseorang termotivasi untuk taat karena cinta, bukan lagi karena takut akan siksa yang tidak akan sanggup dihadapi atau mengharapkan pahala yang tidak layak diperoleh, atau bukan semata karena kebiasaan. Seseorang harus mengenal dan sadar sehingga cinta dan taat dengan sendirinya. Untuk itu, seseorang memerlukan material berupa ilmunya dan instrumen untuk mengukur capaiannya, yang semuanya itu juga disediakan oleh agama. 

Dengan demikian, tatanan hidup yang baik dapat diwujudkan dengan ketaatan beragama. Ketaatan tersebut dapat bertransformasi dari level awal yang digerakkan oleh takut akan siksa dan harap akan pahala, naik ke level menengah yang didasarkan pada kebiasaan dan kesadaran, hingga mencapai level tercerahkan yang sepenuhnya dimotivasi oleh ilmu dan cinta murni.

#persepsicahyana

Sabtu, 16 Mei 2026

Alien dan Kendaraan Besar


Keberadaan alien itu bukannya tidak diketahui oleh manusia, bahkan sudah lama diketahui.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk melata (dābbah) yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia menghendaki. (QS. Asy-Syura: 29)

Ada yg menarik dari ayat berikut:

Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak (dābbah) yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia selama ini tidak yakin pada ayat-ayat Kami (QS. An-Naml: 82)

Terlepas dari beragam tafsir, khususnya yang menganggapnya sebagai hewan besar, ulama sepakat bahwa makhluk ini bukan manusia, namun memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa manusia. Artinya, kecerdasan makhluk ini sangat tinggi. Namun, lain cerita bila hewan besar itu difahami saat ini sebagai kendaraan besar yang memiliki teknologi translasi bahasa.

Saat Perang Dunia II, suku-suku pedalaman di Pasifik yang belum pernah melihat teknologi menganggap pesawat tempur sebagai "burung raksasa". Dalam konteks ini, dābbah, yakni manusia, berada di dalam burung raksasa/pesawat. Apakah makhluk besar yang di masa depan akan keluar dari bumi itu, dābbah, atau kendaraannya, Allahu 'alam.

Tentang kendaraan besar yg dibahasakan hewan, menarik juga utk menyimak hadits berikut ini:

Dajjal akan keluar pada waktu merosotnya pemahaman agama dan mundurnya ilmu pengetahuan. Dia memiliki waktu selama 40 malam untuk menjelajahi bumi. Satu hari (pertama) masanya seperti setahun, satu hari (kedua) masanya seperti sebulan, satu hari (ketiga) masanya seperti satu pekan (Jumat), kemudian hari-hari sisanya sama seperti hari-hari kalian ini. Dan dia memiliki seekor keledai yang dia tunggangi, yang mana jarak (lebar) di antara kedua telinganya adalah empat puluh hasta. (HR. Imam Ahmad)

Lebar antartelinga mencapai 40 hasta (20 hingga 22 meter). Dalam perspektif masa kini, telinga sepanjang itu lebih mirip sayap pesawat. Dalam industri penerbangan modern, ukuran bentang sayap selebar itu tergolong dalam kategori pesawat ukuran sedang hingga kecil, seperti jet pribadi Falcon 8X/Bombardier Challenger dan taksi terbang buatan Cina V5000. Dengan tambahan hadits berikut ini, kita melihat sosok Dajal ini seperti seorang eksekutif yg bepergian dgn jet pribadinya, dan membuat banyak orang melayani segala kepentingannya karena ketergantungan pada teknologi rekayasa alam yang dimilikinya:

"Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?'' Beliau menjawab: 'Seperti hujan yang didorong oleh angin kencang. Ia mendatangi kaum, lalu mengajak mereka, dan mereka beriman serta mematuhinya. Ia memerintahkan langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman, membuat ternak mereka kembali dengan punuk lebih panjang, susu lebih penuh, dan lambung lebih lebar." (HR. Muslim)

Kecepatan badai atau awan yang didorong angin kencang umumnya berkisar antara 60 hingga 120 km/jam. Teknologi penerbangan manusia saat ini tidak hanya setara, tetapi juga telah melompat jauh melampaui kecepatan analogi angin tersebut. Misalnya, pesawat komersial: berkecepatan jelajah rata-rata 850–900 km/jam (lebih cepat dari badai tornado terkuat sekalipun).

Keyakinan rasionalis bahwa yg ditunggangi Dajjal adalah pesawat dikuatkan oleh kitab eskatologi Bihar al-Anwar karya Ulama Al-Majlisi:

"Ia (keledai Dajjal) akan berhenti pada suatu tempat, lalu diserukan kepada manusia: 'Kemarilah dan masuklah ke dalam perut keledai ini!'' Maka orang-orang pun masuk ke dalam lambungnya melalui sebuah pintu, dan ketika kendaraan itu hendak berangkat, keberangkatannya akan diumumkan dengan suara keras…"

Semua ulama sepakat bahwa Dajjal adalah manusia, bukan alien. Namun, apa yang dikendarainya masih bisa diperdebatkan, sehubungan dengan keterbatasan masyarakat di masa lalu dalam menjangkau pencapaian manusia saat ini dan di masa depan. Sementara Tuhan berbicara melalui perantaraan lisan utusan Nya dgn bahasa yg difahami oleh manusia saat ini:

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka ..." (QS. Ibrahim: 4)

Jika pada abad ke-7 Nabi SAW bersabda bahwa Dajjal akan mengendarai "kendaraan berbahan baja yang digerakkan oleh mesin jet berbahan bakar avtur dan terbang di atas awan", masyarakat Arab Jahiliyah saat itu tidak akan bisa memahaminya. Penyebutan istilah modern yang belum ada wujudnya justru akan membuat wahyu dianggap sebagai kegilaan atau omong kosong, sehingga merusak esensi ujian keimanan. 

Oleh karena itu, ketika menggambarkan kendaraan masa depan yang memiliki bentang sayap lebar, bergerak sangat cepat, dan membawa manusia di dalamnya, metafora yang paling logis dan mudah dibayangkan oleh imajinasi manusia zaman itu adalah "keledai raksasa yang bentang telinganya puluhan hasta dan bisa melompat ke awan".

Allah sengaja tidak menyebut nama teknologi modern secara spesifik, melainkan memberikan isyarat umum yang fleksibel agar maknanya baru terbukti ketika teknologinya sudah tercipta. Contoh nyata ada pada Surat An-Nahl Ayat 8:

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya... Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”

Frasa "apa yang tidak kamu ketahui" adalah ruang linguistik yang Allah sediakan bagi manusia masa depan untuk mengisi ruang tersebut dengan penemuan seperti mobil, kereta, kapal selam, hingga pesawat terbang.

Kembali ke makhluk cerdas yang keluar dari perut bumi, ada teori yang menyatakan bahwa alien atau makhluk cerdas non-manusia hidup bersembunyi di dalam perut bumi atau di bawah samudra yang dikenal secara ilmiah dalam studi ufologi sebagai Cryptoterrestrial Hypothesis. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh penulis Mac Tonnies pada tahun 2010. Inti teorinya, makhluk cerdas yang kita sangka "alien dari luar angkasa" sebenarnya adalah ras asli Bumi (indigenous) yang telah berevolusi secara paralel atau mendahului manusia. Karena kalah jumlah populasi dengan manusia, mereka memilih bersembunyi di bawah tanah (underground) atau di gua-gua raksasa yang tidak terjamah. Mereka sengaja menggunakan teknologi kamuflase dan membiarkan manusia mengira mereka datang dari bintang jauh agar rumah asli mereka di dalam Bumi tidak diusik.

Hanya waktu yang akan menunjukkan bagaimana pertanyaan terkait nubuwahan akhir zaman akan terjawab. 

#persepsicahyana

Kamis, 07 Mei 2026

Rambut Bercat


Guru mempersoalkan rambut bercat untuk siswi berhijab sampai mengguntingnya itu berlebihan bila tidak ada aturan sekolah yang melarang. Memperkarakan tindakan tersebut sampai ke pengadilan itu juga berlebihan, karena niat gurunya pasti baik. 

Bersolek itu sifat alami perempuan; tidak perlu dipersepsikan negatif. Bila dengan bersolek kaum perempuan mau bersekolah, maka biarkan saja begitu. Lebih baik bersolek untuk ke sekolah daripada ke tempat yang buruk. Perempuan mau bersekolah sampai jenjang atas itu sudah luar biasa. Tinggal bagaimana memahamkan kepada mereka bahwa kecantikan itu harus seiring sejalan dengan kemampuan dan digunakan untuk kebaikan.

Buat para ortu, ga usah berkepanjangan dengan kasus seperti ini. Niat guru selalu baik, walau caranya tdk tepat. Muliakan niat baiknya. Anak saya juga pernah dibilang merusak citra sekolah gara-gara sepatunya berlubang. Saya tidak mempersoalkannya, walau pernyataannya tidak baik, semata karena memuliakan guru.

Ortu siswa lebih baik fokus saja pada masalah yang lebih penting dan terjadi di banyak sekolah negeri, seperti besarnya biaya sumbangan yang diminta oleh komite dari ortu dan bahkan menyaingi sumbangan kampus, diskriminasi siswa berdasarkan uang sumbangan dan pelunasannya, arahan bagi lulusan yang lebih disesuaikan dengan kepentingan sekolah daripada minat anak dan kepentingan keluarganya, dan lainnya.

#persepsicahyana
#biograficahyana

Minggu, 26 April 2026

Patuh dan Tawadhu


Seorang hamba selalu menerima dan menaati perintah Tuhan di saat senang maupun susah. Semua perintah ini bertujuan untuk membangkitkan ilmu dan kebijaksanaannya, sehingga muncul keutamaan dan kelayakannya sebagai pemimpin di Bumi.

A servant always accepts and obeys God's commands, in times of joy and sorrow. All these commands are intended to awaken his knowledge and wisdom, thereby revealing his virtue and worthiness as a leader on Earth.

يتقبل العبد أوامر الله ويطيعها دائماً، في السراء والضراء. وكل هذه الأوامر تهدف إلى إيقاظ علمه وحكمته، فتُظهر بذلك فضائله وجدارته كقائد على الأرض.

#persepsicahyana

Dalam menerima ujian-Nya, hamba Tuhan akan patuh dan tawadhu, sehingga tidak seperti Iblis yang membangkang dan menyombongkan diri. Kepatuhan dan tawadhu merangkum semua keutamaan makhluk, termasuk malaikat.

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 30). Kemudian, Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!" (QS. Al-Baqarah: 31). Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana" (QS. Al-Baqarah: 32).

Dia (Allah) berfirman, "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!" Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, dia berfirman, "Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 33). Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri sehingga ia termasuk golongan kafir (QS. Al-Baqarah: 34).

#ratisejiwa

Sabtu, 25 April 2026

Dekat dan Jauh


Jarak dapat menyebabkan prasangka dan konflik, sementara saling pengertian dan memberi dapat menumbuhkan kedekatan.

Distance can lead to prejudice and conflict, while mutual understanding and giving can foster closeness.

قد يؤدي البُعد إلى التحيّز والصراع، بينما يُمكن للتفاهم المتبادل والعطاء أن يُعزّزا التقارب.

Orang beriman mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari & Muslim). Ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain (HR. Bukhari), atau satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR. Muslim). 

Bila kecintaan itu telah luntur dan bahkan tergantikan oleh kebencian, maka saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian (HR. Tirmidzi) dan membuat saling mencintai (HR. Bukhari). Berjamaah (bersatu) dan menjauhi perpecahan adalah keharusan, karena setan bersama orang yang sendirian (HR. Tirmidzi). Setan itu menimbulkan perselisihan dan musuh yang nyata (QS. Al-Isra': 53).

#persepsicahyana #ratisejiwa

Jumat, 24 April 2026

Lintasan Pikiran Adalah Perintah


Dari sudut pandang seorang hamba Tuhan, apa pun yang terlintas dalam pikiran adalah perintah yang harus dilaksanakan dengan cara atau dalam batasan yang dikehendaki Tuhan. 

From the perspective of a servant of God, whatever comes to mind is a command that must be carried out in the manner or within the limits that God desires.

من منظور خادم الله، فإن كل ما يخطر على البال هو أمر يجب تنفيذه بالطريقة أو ضمن الحدود التي يريدها الله.

#persepsicahyana

Bagi hamba Tuhan, semua lintasan pikiran adalah isyarat perintah Tuhan, bahkan bila lintasan itu timbul dari syahwat atau seperti penyakit hati.

Contohnya:

"Apabila salah seorang di antara kalian melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatinya, maka segeralah datangi istrinya! Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu." (HR. Muslim no. 1403, At-Tirmidzi)

Isyarat perintah Nya: terpikat hati oleh wanita lain. Pelaksanaannya: mendatangi istrinya untuk beroleh pahala dari Tuhan. 

"Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkan syahwatnya pada tempat yang haram (zina), bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada jalan yang halal (istri), maka ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim no. 1006)

Contoh lain:

“Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: (1) Seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia menghabiskannya di jalan yang benar, dan (2) Seseorang yang diberikan hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 1409 & Muslim no. 1352)

Isyarat perintah-Nya: hasad pada seseorang. Pelaksanaannya: berdoa atau berharap, bahkan bila dia tidak termasuk keduanya.

"Jika salah seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya." (HR. Ahmad).

"Hamba yang dikaruniai Allah ilmu namun tidak dikaruniai harta, lalu ia jujur niatnya dengan berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal seperti amalan si fulan (orang pertama).' Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama … Hamba yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu, lalu ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal (buruk) seperti si fulan (orang ketiga)'. Maka dengan niatnya itu, dosa keduanya sama." (HR. At-Tirmidzi)

Konsep tsb adalah kimia spiritual—mengubah "logam rendah" (dorongan nafsu atau penyakit hati) menjadi "emas" (amal saleh dan pahala) melalui pemahaman koridor syariat. Dari sudut pandang seorang hamba, pikiran tidak lagi dianggap sebagai gangguan acak, melainkan sebagai sinyal navigasi. Ketika pikiran muncul, seorang hamba tidak sekadar mengikuti arus pikiran tersebut, melainkan bertanya: "Ke arah mana Tuhan ingin aku mengalihkan energi ini?"

Dalam teologi Islam, fenomena ini sering disebut dengan manajemen lintasan pikiran (khawatir). Saya menggambarkannya sebagai "perintah" yang harus dieksekusi melalui kanal yang tepat. Imam al-Ghazali membahasnya secara khusus di dalam Minhajul Abidin, mengkategorikannya menjadi lintasan yang baik dan yang buruk. 

Esensi dari hadis-hadis yang dikutip menunjukkan bahwa manusia tidak diminta untuk mematikan perasaannya secara total, melainkan untuk merekayasa arahnya. Islam mengakui bahwa manusia punya rasa lapar, syahwat, dan rasa iri. Tuhan tidak menghukum munculnya perasaan tersebut selama tidak diubah menjadi tindakan haram. Seorang hamba yang memahami ini tidak akan tenggelam dalam rasa bersalah saat pikiran buruk muncul. Sebaliknya, ia langsung beraksi melawan pikiran tersebut.

Dengan paradigma ini, hidup menjadi sangat dinamis. Tidak ada ruang kosong. Setiap detik, "lintasan pikiran" adalah bahan baku untuk membangun istana di akhirat. Ini adalah bentuk optimisme tingkat tinggi: bahwa setiap gerakan batin, sekecil apa pun, adalah peluang untuk meraih ridha-Nya jika dikelola dengan ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali, lintasan ini bersumber dari Tuhan bila tentang Ketuhanan Nya, dari Malaikat bila tentang amal saleh, dari Setan bila tentang keburukan yg mudah dihilangkan dgn dzikr, dan dari Syahwat bila dorongannya sulit dihilangkan. Lintasan tsb menguji arah ketaatan kita, apakah kepada Tuhan atau selain Nya? Bila semua lintasan dipersepsi sebagai perintah Tuhan, maka kita harus mengambil cara pelaksanaan yang sesuai dengan-Nya agar terbukti menaati-Nya. 

#ratisejiwa

Jumat, 10 April 2026

Logika Ketulusan


Pamrih itu tidak terlarang dan tanpa pamrih itu keutamaan. Namun, bila tanpa pamrih membuat jiwa terancam, maka pilihan pamrih menjadi kewajiban.

Ungkapan ini merupakan sebuah refleksi filosofis mengenai keseimbangan antara idealisme (ketulusan) dan realisme (pertahanan diri). Secara sederhana, kalimat tersebut membedah tingkatan moralitas manusia dalam bertindak.

Berikut adalah penjelasan tiap poinnya:

"Pamrih itu tidak terlarang"

Memiliki pamrih (menginginkan imbalan, keuntungan, atau balasan) adalah hal yang manusiawi dan wajar. Dalam konteks profesional atau sosial, bekerja untuk mendapatkan gaji atau membantu orang dengan harapan mendapat perlakuan baik kembali bukanlah sebuah dosa. Ini adalah bentuk pertukaran nilai yang sehat agar roda kehidupan tetap berjalan.

"Tanpa pamrih itu keutamaan"

Bertindak secara altruistik atau murni karena ketulusan tanpa mengharap apa pun adalah level moralitas yang lebih tinggi. Ini disebut sebagai keutamaan (virtue) karena menunjukkan kekayaan jiwa seseorang. Di sinilah letak kemuliaan manusia: ketika ia bisa memberi tanpa merasa harus menerima kembali.

"Namun, bila tanpa pamrih membuat jiwa terancam..."

Ini adalah batasan penting. Terkadang, saking "tulusnya" seseorang, ia membiarkan dirinya dieksploitasi, diperas, atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Jika ketulusanmu justru membuat kesehatan mentalmu rusak, fisikmu hancur, atau martabatmu diinjak-injak, maka keikhlasan tersebut telah kehilangan maknanya.

"...maka pilihan pamrih menjadi kewajiban"

Ketika situasi sudah mengancam keberlangsungan hidup atau integritas diri, kamu wajib menetapkan syarat (pamrih). Dalam konteks ini, "pamrih" bisa berarti: Menuntut hak yang seharusnya diterima, memasang batasan (*boundaries*) agar tidak dimanfaatkan, meminta kompensasi yang layak atas pengorbanan yang dilakukan.

Kesimpulan
Kalimat ini berpesan agar kita tidak menjadi "orang baik yang naif"

Filosofinya: Menjadi tulus itu mulia, tetapi menjaga diri sendiri adalah kewajiban. Jangan sampai atas nama "pengabdian" atau "ketulusan", kamu membiarkan dirimu hancur. Kamu tidak bisa menolong orang lain jika dirimu sendiri tidak selamat.

#persepsicahyana

Kamis, 26 Februari 2026

Metode Beriman


Di masa lalu, Tuhan menerapkan metode hadiah dan hukuman utk mendidik manusia melalui firman Nya terkait pahala dan siksa atau surga dan neraka. Metode tsb merupakan metode pendidikan paling awal yg efektif bukan hanya bagi manusia, namun juga bagi hewan sirkus yg taat perintah bila diberi makanan. 

Metode pembelajaran terus berkembang, bahkan metode hadiah dan hukuman mendapat banyak kritik. Hal ini menguji klaim firman Tuhan yg tdk lekang waktu. Tentu saja metode yg digunakan Tuhan saat itu sangat relevan, tetapi mungkin saat ini banyak manusia yg ingin terdidik sebagai orang beriman dgn metode kekinian.

 #persepsicahyana

Rabu, 25 Februari 2026

Refleksi Ramadhan: Mengingkari Syahwat


Melawan keinginan terhadap perkara mubah merupakan disiplin yg dijalani orang saleh utk menundukkan hawa nafsu. Kisah Malik bin Dinar dipenuhi oleh disiplin tsb. Beliau terkenal dgn disiplinnya dlm mengingkari kehendak syahwat. 

Beliau pernah menginginkan makanan tertentu, namun keinginan tsb dihindari sekuat tenaga. Setelah dorongannya mereda, beliau mencicipinya, namun malah timbul penyesalan, sehingga kemudian benar-benar meninggalkan keinginan tsb selamanya. Seperti seseorang yg berkomitmen menjadi vegetarian selamanya. 

Beliau juga pernah ditawari menikah dgn seorang gadis yg membutuhkan imam yg saleh. Namun beliau mengatakan telah bercerai dgn dunia, dan wanita adalah bagian dari dunia itu. Umumnya orang menghindari pernikahan krn patah hati, melawan syahwat dgn hawa nafsu. Namun, beliau mengingkari keinginan syahwat agar tdk muncul rasa penyesalan. 

Mengingkari syahwat itu memang menyenangkan. Pernah dulu saya merasa rindu utk bertemu seseorang. Namun orang tsb tdk ditemui hingga gejolak keinginan bertemunya mereda. Saat bertemu, hati lebih tenang dan terjaga. Saya bisa merindukan tanpa melihat wajahnya, tdk terikat raga, cukup sebatas jalinan hati. Cintanya beranjak dari jasadiah menjadi ruhiyah yg jauh dari gejolak syahwat.

Namun mengingkari syahwat juga menyiksa. Pernah dulu saya disiplin makan sehari sekali, sampai tubuh kering kerontang. Syahwat selalu membujuk utk makan, tetapi saya selalu mengingkari. Rengekannya begitu menyiksa, krn syahwat memang dorongan alamiah yg berfungsi menjaga kelangsungan hidup manusia. 

Tuhan menjadikan saya mempraktekkan itu semua bukan semata krn terpengaruh oleh pengetahuan, tetapi utk menaikan level keyakinan dari keyakinan berbasis pengetahuan menjadi keyakinan berbasis pengalaman, beranjak dari penglihatan konseptual ke penglihatan aplikatif. 

Mulia dan hina manusia tergantung pada kemampuan dalam membatasi keinginan syahwat dan menundukkan hawa nafsu. Kalangan awam cukup menghindari perkara haram, dan menghabiskan waktu dgn perkara mubah jauh lebih baik dari pada menghabiskan waktu tsb dgn perkara haram. Sementara para pejuang dari kalangan khusus, seperti Malik bin Dinar, sangat membatasi perkara mubah, dan bahkan terkesan memposisikan perkara mubah yg halal tsb sebagai perkara haram. 

Kalangan awam di maqam asbab akan tersiksa bila mengikuti cara kalangan khusus. Bahkan keinginan tsb masuk kategori syahwat halus menurut standar Ibn Athaillah. Demikian pula kalangan khusus di maqam tajrid, akan tersiksa bila mengikuti cara kalangan awam. Memenuhi kebutuhan yg mubah adalah hal biasa bagi kalamgan awam, tetapi bisa menjadi penuh penyesalan bagi kalangan khusus. Keinginan tsb merupakan penurunan semangat bagi kalangan khusus. 

Namun Tuhan memberi pengalaman disiplin kalangan khusus kpd kalangan awam dgn Puasa wajib. Sifat wajib tsb menujukan Puasa ini merupakan latihan bagi orang yg mendekati Tuhan. Berbeda dgn latihan orang yg Mencintai, disiplinnya bukan krn kewajiban, tapi krn dorongan cinta. 

Di bulan Ramadhan ini, segala kehendak syahwat makan dan bersetubuh dicegah dari waktu subuh hingga maghrib. Bila pencegahan itu dijalani dgn ikhlas dan bahkan melahirkan kenikmatan ruhani, hal itulah sebagian kecil yg dirasakan oleh kalangan khusus dari disiplin hariannya. Bagi kalangan awam, cukup sebulan dalam setahun saja memasuki dan menikmati sebagian dunia kalangan khusus. Tuhan maha tahu, setiap hambanya hanya akan baik bila hidup di maqam yg sesuai. 

#persepsicahyana

Minggu, 01 Februari 2026

Fokus Manusia: Hasil, Proses, Tuhan

Surga dan neraka itu utk kalangan awam yg pamrih atau masih berada di level hewan yg berpikir (animal rationale). Mereka hanya bisa diluruskan dgn pendekatan hadiah dan hukuman, seupama hewan sirkus yg mau berproses bila diberi makanan atau diancam dgn cambukan. 

Kalangan khusus tdk perlu melihat hasil, surga dan neraka. Mereka fokus pada proses menjadi orang baik yg bermanfaat dan percaya proses tdk akan menghianati hasil, sebutir kebaikan akan dibalas kebaikan, dan setiap orang akan sampai pada apa yg diniatkannya. Namun mereka masih gelisah, dibayangi oleh takut dan harap saat mengalami kelemahan dan hambatan dlm prosesnya.  

Kalangan khusus dari yg khusus tdk lagi memiliki takut dan harap krn berfokus pada Tuhan, bukan pada proses, apalagi pada hasil. Mereka tdk terganggu dgn kelemahan atau hambatan apapun krn tahu kalau Tuhannya tdk membebani di luar kesanggupan. Mereka menjalani semua hal yg Tuhan berikan tanpa mengeluh krn penghormatan dan cinta, berusaha menjadi hamba Tuhan Yg Maha Pengasih. 

#persepsicahyana

Jumat, 09 Januari 2026

Pendidikan Eskalatif

Seorang suami meluruskan istrinya melalui tahapan menasihati, menjauhinya, hingga (bila terpaksa) tindakan fisik yg tdk mencederai. Terkadang pendekatan ini diterapkan di luar konteks hubungan suami-istri dan dalam konteks pendidikan secara umum dgn bentuk tindakan yg disesuaikan. Misalnya, bila bentuk menjauhi dlm konteks suami-istri itu adalah pisah ranjang, namun dalam konteks lainnya bisa dalam bentuk Al-Hajru atau mendiamkan sementara waktu. 

Lama mendiamkan secara default itu tiga hari, sesuai hadis Nabi Muhammad SAW: ​"Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam..." (HR. Bukhari & Muslim). Namun Nabi SAW pernah mendiamkan tiga sahabat selama 50 hari karena tidak ikut berperang tanpa alasan sah, sampai akhirnya mereka bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Lama waktu ditentukan secara terukur.

Pendekatan ini bersifat eskalatif, meningkat ketegasannya dgn pertimbangan efektifitas tindakan di setiap level. Dalam pendidikan modern, seorang pendidik harus menggunakan intervensi yang paling minim tekanannya sebelum beralih ke yang lebih berat. Sehingga pendidik tdk bisa loncat ke level puncak, namun harus dari level persuasif dulu (nasihat). Bila tdk efektif, dinaikan ketegasannya ke level psiko-sosial. Bila level tsb tdk efektif, baru ke fisik-edukatif. 

Struktur hierarki disiplin tsb wajib memperhatikan proporsi tindakan yg harus disesuaikan dgn level kesalahan, prediktabilitas yg mengharuskan subjek disiplin faham alasan dia didisiplinkan, dan ishlah (kasih sayang) sebagai tujuan akhir. Semuanya harus dilakukan dgn tenang atau tdk emosional dan berfokus pada perubahan perilaku. 

 #persepsicahyana

Kamis, 08 Januari 2026

Angkot dan PKL

ANGKOT DAN PKL

Kejadian gerobak rujak yg tertabrak Angkot ini mengingatkan kekhawatiran saya akan keselamatan pejalan kaki dan PKL yg berjejer di pinggir jalan dekat pabrik di daerah Leles. Kekhawatiran tsb tertulis dlm artikel Blog 15 Oktober silam dgn judul, "Kenapa Harus di Pinggir Jalan?". Cuplikan pengalaman dan pemikirannya sebagai berikut:

"Pagi tadi lewat depan pabrik besar di daerah Leles. Seperti biasa selalu macet di jam-jam tertentu. Nampak di pinggir jalan dekat pabrik tsb dipenuhi oleh PKL. Pejalan kaki hanya punya dua opsi, berjalan di belakang PKL yg sempit atau di bahu jalan bersama kendaraan. Memang belum ada kasus rem blong yg mengancam jiwa, tapi bukan berarti tdk mungkin terjadi. Entah berapa banyak asap kendaraan dan debu yg hinggap di makanan yg tersaji di gerobak-gerobak PKL tsb. Nampak kesehatan dan keselamatan jiwa dianggap bukan sesuatu yg penting".

Kita melihat warga bertaruh nyawa utk mencari nafkah, entah krn tdk ada tempat berjualan yg lebih aman, atau krn warga salah kaprah menerapkan "semakin dekat jalan semakin untung" krn mengabaikan keselamatan jiwa. Keyakinan akan pentingnya jalan ini terlihat dari banyaknya warga yg berjualan di pinggir jalan. Bahkan seminggu sekali ada beberapa jalan yg menjadi pasar tumpah, menurunkan kenyamanan pengendara, menimbulkan kemacetan. 

Sempat viral di Medsos, sopir Angkot di Garut yg kesal dgn pasar tumpah di jalanan kecil yg dilaluinya. Banyak netizen yg menyayangkan ekspresi kekesalan sopir tsb. Tetapi keluhan Sopir tsb juga dirasakan oleh banyak pengendara lainnya. Saya pribadi juga berpikir, kenapa tdk berjualan di tanah lapang saja, dan kenapa harus membahayakan diri dan menimbulkan ketidaknyamanan? 

Musibah yg menimpa penjual rujak juga krn faktor human error di sisi sopir Angkot. Banyak netizen mengeluhkan perilaku Angkot di Garut. Mobil saya juga pernah ditabrak Angkot beberapa tahun yg silam. Angkot tsb berhenti sejenak di tengah jalan perempatan utk mencari penumpang. Namun sopir tdk memperhatikan kalau kendaraan saya ada di depannya dan hendak belok, sehingga akhirnya benturan pun terjadi saat dia menjalankan mobilnya. 

Sopir sama sekali tdk meminta maaf. Sama seperti sopir Angkot yg menyerempet kendaraan saya tahun lalu. Sama juga dgn sopir ugal-ugalan yg angkot nya dinaiki oleh istri saya. Karena peduli dgn keselamatan dirinya, istri memutuskan turun walau naik angkotnya baru sesaat. Dgn kesal ia mengingatkan sopir utk tdk ugal-ugalan. Namun tdk ada permintaan maaf yg terucap. Sopirnya tdk faham soal pelayanan prima. Kalau tdk ada perubahan, jgn salahkan bila banyak orang yg beralih ke angkutan online. 

Sebaiknya pemerintah atau ORGANDA memberi pelatihan pelayanan prima kpd pengusaha atau sopir angkot, memperketat izin sopir dgn mengacu standar profesi. Demikian pula pemerintah sebaiknya memberi penyuluhan kpd PKL agar timbul kesadaran akan keselamatan diri dan pejalan kaki. Memang seharusnya PKL secara aturan tdk boleh berjualan di bahu jalan, tetapi membangun kesadaran ini jauh lebih penting dari pada penertiban yg nampaknya mustahil utk diwujudkan. 

#persepsicahyana #biograficahyana

Rabu, 15 Oktober 2025

Kenapa Harus di Pinggir Jalan?

Pagi tadi lewat depan pabrik besar di daerah Leles. Seperti biasa selalu macet di jam-jam tertentu. Nampak di pinggir jalan dekat pabrik tsb dipenuhi oleh PKL. Pejalan kaki hanya punya dua opsi, berjalan di belakang PKL yg sempit atau di bahu jalan bersama kendaraan. Memang belum ada kasus rem blong yg mengancam jiwa, tapi bukan berarti tdk mungkin terjadi. Entah berapa banyak asap kendaraan dan debu yg hinggap di makanan yg tersaji di gerobak-gerobak PKL tsb. Nampak kesehatan dan keselamatan jiwa dianggap bukan sesuatu yg penting.

Belakangan ini ramai di medsos wacana pemilihan jalan di Garut utk CFD. Saya pribadi mendukung CFD, namun di jalan yg jika ditutup tdk berdampak pada kemacetan atau bukan jalan utk mengurai kemacetan. Di beberapa titik ada pasar tumpah yg dilabeli CFD, seperti di Jln Sukarno Hatta yg biasa digunakan utk mengurai kemacetan daerah Kadungora, dan Jln Ibrahim Adjie yg dapat mengurai kemacetan di wilayah Tarogong. 

Gubernur pernah menyindir, Garut termasuk penerima dana pembangunan jalan terbesar. Apa kira-kira pendapat Gubernur kalau jalan yg dibangun dgn biaya mahal tsb malah dipakai pasar tumpah atau CFD? Sementara di tempat lain masih banyak jalan yg kondisinya masih rusak. 

Kenapa agenda week end yg bagus seperti itu tdk di lapang saja. Biar jalan dipakai kendaraan, serta trek joging dan pesepeda. Jgn normalisasi atau membiasakan berjualan di pinggir jalan. Kebiasaan tsb beresiko thd kesehatan dan keselamatan jiwa. Kesejahteraan bisa diupayakan dgn cara yg lebih baik.

#persepsicahyana

Jumat, 03 Oktober 2025

Konten Negatif Warisan Iblis


Tdk mengherankan bila konten ujaran kebencian dan hoax kita temui di media sosial. Ujaran kebencian dan hoax muncul di awal sejarah manusia. Ujaran negatif tersebut mungkin menimbulkan trauma dan terekam dalam gen manusia, sehingga ada yg secara tdk sadar melampiaskannya dgn melakukan ujaran yg sama kpd sesamanya, dan ada juga yg menolak krn sangat membencinya. 

Iblis tercatat dalam teks al-Qur'an sebagai pelaku ujaran kebencian pertama dgn perkataannya, "Aku lebih baik daripadanya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah" (Q.S. al-A'raf: 12 dan Shad: 76). Ujaran ini menargetkan karakteristik antar golongan. Pernyataan "aku lebih baik" telah mendiskriminasi golongan tanah (manusia). 

Di media sosial, ujaran lain yg bermasalah adalah hoax, semacam kabar bohong. Sama hal nya dgn ujaran kebencian, hoax pertama kali dilakukan oleh Iblis dgn perkataannya, "Tuhanmu tidak melarang kamu berdua mendekati pohon ini, melainkan agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga)." (Q.S. al-A'raf: 20). Padahal dgn mendekatinya, manusia terusir dari surga. 

Hoax masih menyesatkan sampai saat ini, bahkan dilakukan oleh manusia. Seburuk-buruknya manusia adalah mereka yg membuat hoax, padahal hoax menjadi sebab dirinya terusir dari Surga. Sebodoh-bodohnya manusia adalah mereka yg terhasut oleh hoax. Hoax adalah dosa yg dapat mematikan hati. Tanda matinya hati adalah tdk timbulnya rasa penyesalan menjadi orang yg buruk dan bodoh.

Banyak hoax tersebar dgn motif kebencian. Sebagaimana Iblis yg mengawali kejahatannya kpd manusia dgn ujaran kebencian dan mengalahkan manusia yg dibencinya dgn hoax. Iblis menyadari, manusia menjadi sosok utama krn lebih tahu setelah diberi tahu. "Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya ... " (Q.S. al-Baqarah: 31). Namun, Iblis melihat kelemahan di dalam kelebihan manusia tersebut, yakni ketidaktahuan akan informasi bohong. Manusia bisa dijebak dgn informasi bohong krn manusia hanya diajari Tuhan tentang informasi benar. Manusia membayar pengetahuan tentang informasi bohong dgn sangat mahal, diusir dari surga. 

Ujaran kebencian dan hoax adalah warisan Iblis. Masih banyak manusia yg meyakini hoax sebagai senjata mematikan utk mengalahkan sesama yg dibencinya. Hoax dapat memperbesar dampak ujaran kebencian yg mencakup diskriminasi hingga konflik sosial. Walau demikian, ada banyak manusia yg menyadari bahayanya, sehingga menangani ujaran kebencian sebagai akar masalah hoax dgn pendekatan preventif dan represif.

Indonesia memiliki undang-undang yg mencegah ujaran kebencian, salah satunya utk kasus di ranah digital. Ujaran kebencian di ranah digital yg tdk mengandung hasutan memang tdk dijerat hukum. Namun, langkah penanganannya telah dilakukan secara preventif dgn pendidikan, pemblokiran, atau kontra ujaran yg melibatkan partisipasi masyarakat. Pelaku yg menghasut pun dipertimbangkan tingkat pengaruhnya. Semakin besar pengaruhnya, semakin besar kemungkinan ditangani secara represif oleh aparat hukum. 

#persepsicahyana