Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Keislaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keislaman. Tampilkan semua postingan

Jumat, 09 April 2021

Ibrahim Nabi Periset

Nabi Ibrahim A.S. melakukan riset dalam topik agama dengan menetapkan pertanyaan penelitian, hipotesis, dan pembuktiannya secara empiris. Beliau mempertanyakan ketuhanan objek2 di langit, sebagaimana diceritakan di dalam al-Qur'an.

"Ketika malam telah gelap, Dia melihat sebuah bintang (lalu) Dia berkata: 'Inilah Tuhanku', tetapi tatkala bintang itu tenggelam Dia berkata: 'Saya tidak suka kepada yang tenggelam'. Kemudian tatkala Dia melihat bulan terbit Dia berkata: 'Inilah Tuhanku'. Tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata: 'Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat'. Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, Dia berkata: 'Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar'. Maka tatkala matahari itu terbenam, Dia berkata: 'Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.'" (QS. Al-An'am:77-78)

Beliau mendeskripsikan hipotesanya yang bila dibahasakan secara umum adalah seperti ini H1: "Bintang, bulan, dan matahari adalah tuhan", H2: "Bintang, bulan, dan matahari bukan tuhan". Hipotesa tersebut sesuai dengan pernyataan beliau: "Inilah Tuhanku" dan "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar". Beliau mendasarkan hipotesanya kepada teori yang berkembang di tengah masyarakatnya yang menyatakan objek2 di langit tersebut adalah tuhan. 

Kemudian beliau merumuskan prosedur risetnya yang membuat beliau mengobservasi objek2 tersebut. Dengan mengikuti prosedur tersebut, beliau memperoleh data dan menganalisisnya, sehingga diperoleh pengetahuan empiris bahwa objek2 langit tersebut bukanlah tuhan.

Setelah itu beliau menyatakan kesimpulannya yang dapat dibahasakan demikian:

  1. Tuhan tidak meninggalkan manusia, sebagaimana perkataan beliau, "Saya tidak suka kepada yang tenggelam";
  2. Manusia perlu mengevaluasi kembali sifat ketuhanan bintang, bulan, dan matahari untuk memastikan lurus tidaknya penuhanannya, sebagaimana perkataan beliau, "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat";

Beliau juga menyatakan sarannya agar kaumnya tidak menjadikan bintang, bulan, dan matahari sebagai tuhan, sebagaimana perkataan beliau, "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan"

Kamis, 01 April 2021

Terorisme dan Firqah Islam

Teroris muslim itu beraksi berdasarkan pemahaman keagamaan, tapi menyimpang. Hal tersebut tdk mengherankan, sebab umat ini sudah dipastikan oleh Nabi akan terpecah menjadi puluhan kelompok pemahaman keagamaan atau firqah, di mana hanya satu saja yg lurus. 

Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan umatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu.” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku.” (HR. Tirmidzi)

Firqah yg pertama kali ada dalam sejarah Islam adalah Khawarij.

Mereka keluar (khuruj) (muncul) ketika terjadi perpecahan di tengah-tengah kaum muslimin.” (HR. Bukhari no. 3414, 5810, 6534 dan Muslim no. 1064)

Terorisme memiliki pemahaman sebagaimana firqah Khawarij, membenturkan masyarakat dgn pemerintah dan berniat menggulingkan pemerintahan dgn menghalalkan darah sesama muslim.

"Setiap orang yang keluar menentang pemimpin yang sah yang telah diputuskan oleh masyarakat disebut sebagai Khawarij,  baik penentangan itu terjadi di masa sahabat terhadap para Khulafaur Rasyidin atau terjadi setelah mereka terhadap para tabiin yang baik dan para pemimpin di setiap zaman". (as-Syahrastani, al-Milal wan-Nihal, juz I, halaman 114).

Kamis, 21 Januari 2021

Membela Nabi Tidak Dengan Perkataan Keji

Dikutip dari Imam Bukhari, dalam Al-Jami’ Ash-Shahih:

Dari Aisyah RA bahwa sekelompok yahudi datang kepada Nabi SAW sambil berkata, “Kebinasaan atasmu”. 

Maka Aisyah berkata, “Semoga atas kalian juga dan semoga laknat dan kemurkaan Allah kepada kalian”. 

Beliau bersabda: “Tenanglah wahai aisyah, berlemahlembutlah dan jangan kamu berkata keji”. 

Aisyah berkata, “Apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan?".

Beliau bersabda: “Tidakkah engkau mendengar apa yang aku ucapkan, aku telah membalasnya. Adapun jawabanku akan dikabulkan sementara doa mereka tidak akan dikabulkan".

Minggu, 17 Januari 2021

Melawan Dakwah Keras

Golongan keras dan lembut senantiasa ada di setiap kurun masa, sebagaimana terekam dalam Adab an-Nafs dan Riyadhat an-Nafs karya Hakim at-Tarmidzi:

Rasyid ibn Abu Rasyid berjalan bersama Khalid ibn Abu Ma'dan di salah satu pasar kota Hamasha. Tiba2 keduanya melihat orang Nasrani menampakan kemusyrikannya kepada Allah SWT. Khalid berkata kepada Rasyid, "Lepaskan zirahmu lalu hantamkan ke hidung orang itu!". 

Rasyid segera melakukan perintah Khalid. Mendapatkan perlakuan buruk orang Nasrani tersebut pergi menemui saudaranya untuk membalaskan sakit hatinya. 

"Mengapa kau lakukan itu kepadanya?", tanya saudara Nasrani tersebut. 

"Allahlah yang mencederai hidungnya dan hidung oranng-orang yang tidak disukai-Nya, supaya mereka tidak menampakan kemusyrikan dan salib kepada kita. Allah melakukan itu supaya mereka tidak lagi mempertontonkan kemusyrikannya di muka umum", jawab Khalid. 

(Diriwayatkan oleh Abd al-Karim ibn Abd Allah dari Ali ibn al-Hasan, dari Abd Allah, dari Abu Bakr ibn Abu Maryam) 

Melihat kafir dzimmi teraniaya, Amir ibn Abd Qays (Tabi'i di Basrah hidup tahun 661-680) segera menyelamatkan orang itu lalu berkata, "Demi Allah, tidak boleh ada kafir dzimmi teraniaya selama aku masih hidup"

(Diriwayatkan Abd Allah ibn Abu Ziyad dari Sayyar, dari Hafs ibn Sulayman, dari Malik ibn Dinar)

Minggu, 03 Januari 2021

Kecelakaan karena Fanatisme Sesat

Yusuf al-Qaradhawi dalam As-Shahwah al-Islamiyyah baina al-Juhud wa at-Tatharruf berkata, bahwa umat muslim yang beriman kepada Allah SWT oleh sebagian kalangan disamakan dengan orang kafir, yang ingkar dan tidak memiliki keimanan hanya karena perbedaan dalam hal furu'. Sikap takfiri tersebut menurut Muhammad al-Bahiy dalam Al-Fikr al Islami al Hadist wa Silatuhu fi al Isti`mar al Gharbi timbul karena fanatisme yang berlebihan terhadap kelompok. 

Banyak ulama mengingatkan kita untuk tidak mudah menuduh saudara muslimnya yang tidak sama pendapatnya dalam soal furu' (apalagi dalam soal yang tidak furu' sama sekali) sebagai kafir. Sebab bila dalil kalangan yang dikafirkan itu ternyata benar di sisi Allah dan Rasul-Nya, maka khawatirnya kekafiran itu akan kembali kepada dirinya sendiri. 

Nabi SAW mengingatkan kita, “Janganlah seseorang menuduh orang lain dengan tuduhan fasik dan jangan pula menuduhnya dengan tuduhan kafir, karena tuduhan itu akan kembali kepada dirinya sendiri jika orang lain tersebut tidak sebagaimana yang dia tuduhkan.” (HR. Bukhari: 6045). 

Kamis, 31 Desember 2020

Sujud dengan Semurni-murninya Ketaatan

Dlm Thawasin, al-Hallaj menuangkan fikirannya yg menyatakan bhw ketidaktaatan Iblis thd perintah sujud kpd Adam sebagai ekspresi tauhid yg tdk bersujud kpd selain Allah. 

"Dia diperintahkan utk bersujud; lantas dia menjawab, 'Tdk kpd selain Engkau'. Dikatakan kpdnya, 'Engkau diperintahkan!'; dia menjawab, 'Tdk kpd selain Engkau. Penolakanku adalah demi Kebesaran Mu, demi Kesucian Mu. Alasan penolakanku adalah kegilaanku kpd Mu. Aku tdk mengenal siapapun selain Engkau, dan Adam adalah selain Engkau. Di antara Engkau dan aku, tdk ada yg lain. Jika harus ada, maka yg lain itu adalah Aku (yg tdk lain adalah Engkau juga)."

Dlm pemahaman saya, bila Iblis tdk dlm kondisi "gila", sikapnya tsb keliru krn ketidaktaatannya melawan hak Allah utk ditaati; menjaga hak Allah sebagai satu-satunya yg disembah, tetapi tdk memenuhi hak Allah sebagai satu-satunya yg ditaati. Dlm hal tsb iblis mengabaikan ketaatan kpd Allah krn mentaati keinginannya utk hanya sujud kpd Allah; Iblis mensekutukan dirinya sendiri dgn Allah dlm hak utk ditaati. Tetapi siapakah yg bisa menghukumi mahluk yg menyatakan dirinya telah gila krn Allah, kehilangan kemampuan utk membedakan dirinya dgn Tuhannya?

Pemikiran al-Hallaj bagi saya merupakan kritik kpd manusia yg telah disujudi oleh mahluk, tetapi merasa berat utk bersujud kpd Allah. Padahal derajatnya telah ditinggikan dari Iblis yg enggan bersujud kpd selain Allah. Sujudnya manusia adalah semurni-murninya ketaatan, sebab ia tdk perlu menolak bersujud kpd selain Allah.

Rabu, 30 Desember 2020

Permata Keluhuran Budi

 
Ada orang yg merasa heran dgn Nabi Adam AS yg tertipu perkataan Iblis, dan Nabi Yusuf AS yg sempat memiliki kecenderung berbuat tdk baik kpd Zulaikha. Padahal dia belum tentu dapat seperti Nabi Adam AS yg ikhlas meninggalkan surga krn menerima keputusan hukum dari Allah, atau seperti Nabi Yusuf AS yg mampu menghentikan kecenderungannya saat ada kesempatan yg hampir mustahil utk ditolak. Hal demikian menunjukan keluhuran budi beliau semua.

Pernyataan Nabi SAW yg akan menghukum sendiri puterinya bila terbukti bersalah merupakan sikap yg tdk selalu mudah dilakukan. Buktinya ada orang yg jangankan kpd darah dagingnya sendiri, kpd siapapun dari kalangannya yg tdk ada hubungan keluarga, ia gigih melindungi kesalahannya, padahal tdk ada satupun dalil kebenaran yg dapat menghindarkannya dari kesalahan tsb. Ketidakmudahan tsb menunjukan keluhuran budi Nabi SAW dan pengikut sunnahnya.

Jumat, 18 Desember 2020

Cinta dan Benci Karena Allah

Aku bertanya, "Bagaimana cara memusuhi dan mencintai krn Allah?"

Syekh Abu al-Hasan Asy-Syadzili menjawab, "Semuanya dilakukan dgn bergantung kpd Allah, bukan krn nafsu dan keinginan. Jika kamu membenci dan marah krn ilmu, maka berikanlah hak utk ilmu tersebut. Jgnlah kamu jadikan setan sebagai teman. Orang yg menjadikan setan sebagai teman, dia mendapatkan kerugian yg nyata. Jika kamu mencintai seseorang dgn ilmu, temanilah dia selama dia selalu menjalankan ketaatan. Jika dia menyimpang, maka bencilah dgn ilmu selama dia masih berada dlm penyimpangannya".

(Risalah al-Amin)

Jumat, 11 Desember 2020

Jalan Cinta Nabi yang Sebenarnya

Syekh Ibnu Atha'illah atau Syekh Ahmad ibnu Muhammad Ibnu Atha’illah As-Sakandari (1250-1309 M) adalah tokoh Tarekat Syadziliyah. Gurunya yang paling dekat adalah Abu Al-Abbas Ahmad ibnu Ali Al-Anshari Al-Mursi, murid dari Abu Al-Hasan Al-Syadzili, pendiri tarikat Al-Syadzili. Dalam bidang fiqih ia menganut dan menguasai Mazhab Maliki.

Menurut Ibn Athaillah di dalam Bahjat an-Nufus, kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah SWT dicapai dgn mengikuti sunnah Muhammad SAW dlm aspek lahiriah seperti salat, dan batiniah seperti khusyu. Allah SWT berfirman, "Katakanlah (wahai Muhammad), 'Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian'. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS Al Imran: 31). 

Sebelumnya lewat lisan Ibrahim AS, Allah SWT pun berfirman, "Siapa yg mengikutiku, sesungguhnya ia termasuk golonganku" (QS Ibrahim: 36). Dengan demikian siapapun yg tdk mengikuti Nabi, ia tdk termasuk golongannya, bahkan keluarga Nabi sekalipun. Saat Nuh AS berkata, "Sesungguhnya anak ku termasuk keluarga ku" (QS Hud: 45), Allah menjawab, "Hai Nuh, dia bukan termasuk keluarga mu. Sesungguhnya perbuatannya adalah perbuatan orang yg tidak baik" (QS Hud: 46)

Kamis, 10 Desember 2020

Akibat Mengutuk

Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al Ghazali ath-Thusi asy-Syafi'i (450-505 H) adalah seorang filsuf dan teolog muslim Persia, yang dikenal sebagai Algazel di dunia Barat abad Pertengahan. Beliau berkata dalam Bidayah al-Hidayah:

Janganlah engkau memvonis syirik, kafir atau munafik kepada seseorang ahli kiblat (orang Islam). Karena yang mengetahui apa yang tersembunyi dalam hati manusia hanyalah Allah SWT. 

Jangan pula engkau ikut campur dalam urusan hamba-hamba Allah dengan Allah SWT. Ketahuilah, bahwa pada hari kiamat kelak engkau tidak akan ditanya, "mengapa engkau tidak mau mengutuk si Anu? Mengapa engkau diam saja tentang dia?"

Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. 

Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggungjawabannya oleh Allah SWT)

Hukum Membunuh karena Membela Diri

Syekh Wahbah Az-Zuhaili atau Wahbah bin Musthofa Az-Zuhaili adalah salah satu sosok ulama fiqh ahlussunnah abad ke-20 yang terkenal dari Syiria. Namanya sebaris dengan tokoh-tokoh fiqh yang telah berjasa dalam dunia keilmuan Islam abad ke-20. Dalam Fiqhul Islamiy Wa Adillatuha (6/597) beliau menjelaskan hukum membunuh krn membela diri sebagai berikut:

Orang yang merasa bahwa kehormatan, harta, dan dirinya dalam bahaya, secara syar’iy berhak melakukan pembelaan (ad-difaa’ as-syar’iy). Sebagai contoh, ketika seseorang berhadapan dengan pelaku kriminal yang mengarahkan senjata api atau menghunus senjata tajam, bermaksud membunuhnya atau mengambil harta miliknya atau merenggut kehormatannya, maka ia disyariatkan untuk melakukan pembelaan.

Begitupun, ketika seseorang melihat orang lain dalam kondisi tersebut, maka ia pun berhak melakukan pembelan terhadapnya. Namun, pembelaan tersebut harus dilakukan sesuai dengan kadar bahaya yang dihadapinya. Kalau seseorang yang bermaksud jahat itu cukup diingatkan dengan kata-kata, seperti memintanya beristigfar,  atau teriakan meminta pertolongan kepada orang di sekitar tempat kejadian, maka haram bagi korban melakukan pemukulan.

Begitu pun jika ia dapat melakukan pembelaan itu cukup dengan memukul, maka ia tidak dibenarkan untuk menggunakan senjata. Namun bila pembelaan atas dirinya tidak mungkin dilakukan kecuali dengan senjata yang dapat melumpuhkannya, seperti dengan pentungan misalnya, maka ia boleh melakukannya, namun tidak dibenarkan baginya untuk membunuh. Akan tetapi, bila pembelaan itu hanya mungkin dilakukan dengan membunuhnya, seperti dalam kondisi yang di contohkan di atas, dimana pelaku sudah menghunus senjata tajam atau mengacungkan pistol misalnya, maka bagi korban berhak untuk membunuhnya

Jumat, 13 November 2020

Budaya Memudahkan Pemahaman

Allah berfirman dgn memperhatikan budaya lokal, agar hamba Nya dapat memahami firman Nya dgn cepat. Ia memilih bahasa Arab yg difahami Nabi dan masyarakatnya. 

"Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya" (QS Yusuf: 2)

Bahasa adalah bagian dari budaya. Suryadi (2009), dalam makalahnya "Hubungan Antara Bahasa dan Budaya" menyebutkan, bahwa bahasa adalah produk budaya pemakai bahasa. Penyampaian Islam dgn memperhatikan budaya lokal, memudahkan Islam utk difahami dan mudah diterima. 

Saat firman Nya dibawah ke wilayah Nusantara, firman itu "dibunyikan" oleh pelafalnya dgn budaya nusantara, sehingga masyarakat nusantara memahaminya dgn cepat dan dapat menerimanya dgn mudah. Bunyi-bunyian itu berwujud kesenian, bahasa perilaku lokal, dls. Dlm hal ini para pelafal mengikuti Allah saat pertama Islam diperkenalkan di lingkungan masyarakat Arab.

Rabu, 11 November 2020

Tidak Harus Selalu Mengikuti Keturunan Nabi


Keturunan Nabi itu tdk harus selalu diikuti. Bila kita mengikuti jalan kedurhakaan seperti jalannya putera Nabi Nuh AS, maka dipastikan kita akan ikut celaka. Membenarkan atau melindungi kedurhakaannya sama dgn menghianati Nabi. 

Tidaklah mengherankan bila ada keturunan Nabi yg akhlaknya tdk disukai Allah krn keras, rakus, suka menghina dan sombong.

Orang yang paling saya cintai dan paling dekat dengan tempat saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang memiliki akhlak mulia. Sementara orang yang paling saya benci dan tempatnya paling jauh dari saya kelak di hari kiamat adalah mereka yang keras dan rakus, suka menghina dan sombong.” (HR. Tirmizi)

Menurut Habib Luthfi bin Yahya, keturunan Nabi dapat seperti itu krn tidak ma’shum. Pernyataan Nabi Muhammad SAW yg akan menghukum puterinya bila mencuri menunjukan tdk ma'shum nya keturunan Nabi. 

"... Demi Allah, sungguh jika Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya" (HR. Bukhari dan Muslim)

Sikap yg menyelisihi Nabi tdk boleh diikuti. Hanya Nabi ma'shum saja yg bisa diikuti dgn tanpa ragu. Beliau adalah teladan kebaikan.

Sabtu, 31 Oktober 2020

Pekerjaan Berat Umat Islam Menangkal Kartun Nabi

Dlm artikel berita ini dikabarkan bhw Imam Prancis memohon maaf krn pemenggalan terjadi atas nama agama Islam. Dia juga meminta maaf kepada keluarga korban. Selain itu, dia mengatakan pelaku atas kejadian ini bukanlah seseorang yang beriman karena berani melakukan kejahatan.

Selama sebagian bangsa barat menganggap kelompok ekstremis itu merepresentasikan Islam, pembuatan kartun Nabi ini susah dihentikan. Dan kurang ajarnya, setelah kalangan ekstremis ini melakukan tindakan ekstrem yg memicu respon berupa kartun Nabi, mereka membalasnya dgn tindakan ekstrem lainnya, sehingga Islamophobia semakin meningkat dan membuat sebagian bangsa barat mendukung kartun tsb. Ngerinya, di medsos ditemukan banyak muslim yg mendukung tindak kejahatan tsb. 

Konteks status ini bukan soal sebab akibat, tapi soal ketidaksahan seseorang melakukan pembunuhan atas nama agama yg tdk dibenarkan oleh agama itu sendiri. Tindakannya tsb hanya menjadi citra buruk bagi agamanya, sehingga non muslim salah memahami islam krn mengira yg dilakukan kriminal tsb adalah ajaran islam. Tindakan tsb juga menjadi talbis atau tipu daya, sehingga banyak org awam membenarkan kejahatan yg tdk dibenarkan agama tsb.

Pada tahun 2015 silam, seseorang bertanya kepada Dr. Soleh al-Fauzan (anggota ulama senior dan majlis fatwa Kerajaan Saudi Arabia) ttg boleh tidaknya membunuh kartunis kafir yg menghina Nabi SAW. 

Beliau menjawab bhw pembunuhan tsb bukan merupakan langkah yang tepat. Melakukan pembantaian hanya akan menambah keburukan dan kemarahan mereka kepada kaum muslimin. Sikap yang bijak adalah membantah penyimpangan mereka dan menjelaskan perbuatan mereka yang sangat memalukan tersebut. Membela Nabi SAW dengan tangan dan senjata (di masa sekarang lebih mengedepankan diplomasi) harus oleh pemerintah kaum muslimin.

Umat Islam sangat berhak utk kecewa dan marah dgn pembuatan kartun tsb. Namun pekerjaan terberatnya bukan mengekpresikan marah, tetapi merubah pemahaman sebagian bangsa barat yg keliru ttg Islam sampai muncul kesadaran tanpa paksaan bhw apa yg dilakukan kalangan ekstremis itu bukan ajaran Islam yg lurus; dan memerangi kalangan ekstremis. Pekerjaannya menjadi berat krn mendapat perlawanan sengit dari kalangan ekstremis dan fans nya atau kaum fakir ilmu yg terkena talbisnya.

Rabu, 28 Oktober 2020

Jalan Ekstrem Pembajak Agama


Kata Ekstremis dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) bermakna "orang yang melampaui batas kebiasaan (hukum dan sebagainya) dalam membela atau menuntut sesuatu"

Ibn Qayyim Al Jauziyah dalam Madârij as Sâlikîn baina Manâzil Iyyâka Na’budu wa Iyyâka Nasta’în berkata, "Allah tidak memerintahkan sesuatu melainkan setan mempunyai dua bisikan, kepada keteledoran dan pengabaian atau kepada berlebih-lebihan dan ghuluw. Agama Allah ada di antara keduanya, antara yang teledor dan yang ghuluw".

Dengan memperhatikan pendapat beliau dalam Madârij as Sâlikîn dan pengertian kata ekstremis dalam KBBI dapat difahami bahwa orang yang ekstrem dalam beragama adalah mereka yang melampaui batas hukum Islam atau perintah Allah karena mengikuti bisikan setan ke jalan pengabaian atau berlebihan. Dari sanalah muncul istilah ekstrem kiri dan ekstrem kanan.

Ibn Katsir dalam tafsirnya mengatakan bahwa jalan orang yang beriman atau Islam itu mencakup pengetahuan akan kebenaran dan pengamalannya, sehingga Allah memurkai kaum Yahudi karena tidak memiliki amal dan menyesatkan kaum Nasrani karena tidak memiliki pengetahuan. Ibnu Mardawih meriwayatkan dari Abu Dzar, dia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang orang-orang yang dimurkai, beliau bersabda, 'kaum Yahudi'. Saya bertanya tentang orang-orang yang sesat, beliau bersabda, 'Kaum Nasrani'"

Jalan pengabaian yang disebut oleh Ibn Qayyim, merupakan jalan ekstremis kanan, yakni orang yang tidak memiliki amal sehingga dimurkai Allah, seperti kaum Yahudi. Sementara jalan berlebihan merupakan jalan ekstremis kiri, yakni orang yang tidak memiliki pengetahuan, jalannya orang-orang yang sesat, seperti kaum Nasrani. Adapun jalan pertengahan merupakan jalan moderat yang ditempuh oleh para pengamal pengetahuan. 

Oleh karenanya Allah mengingatkan kepada kaum Yahudi dan Nasrani dengan firman-Nya, "Katakanlah: 'Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulu (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus'”. (QS al-Mâ`idah:77). 

Allah melarang kita menjadi ekstremis yang melampaui batas hukum, sebagaimana firman-Nya, "Itulah batasan-batasan hukum Allah, maka janganlah kalian melampauinya." (al-Baqarah:187). Sikap ekstrem / tanaththuu membuat kita celaka di dunia dan akhirat. Abdullah bin Mas’ûd r.a. meriwayatkan dari Rasulullah SAW, beliau bersabda: "Celakalah al-Mutanaththi'un (orang-orang yang ekstrim) !” Beliau mengucapkannya tiga kali (HR Muslim). 

Dengan demikian, istilah terkait ekstremis kiri dan kanan sudah dikenal oleh umat Islam sejak Allah menurunkan wahyu Nya kepada Rasululah SAW yang terekam dalam mushaf Utsmani pada ayat  6 dan 7 surat al-Fatihah. Pemahaman tersebut jauh sebelum penjajah Belanda menggunakan istilah ekstremis yang ditemukan Orientalis dari sumber pustaka Islam. Orang yang pertama kali mengetahui adanya ekstremis dalam agama adalah Abu Dzar, di mana Rasulullah SAW menunjukan ekstremis Yahudi dan Nasrani. Permintaan ahli kiblat kepada Allah dalam setiap salatnya untuk diberi hidayah atau petunjuk kepada jalan yang lurus sebagaimana tertuang dalam ayat 5 surat al-Fatihah menunjukan bahwa umat Islam sangat mungkin berbelok arah ke jalan ekstrem.

Di antara sikap yang sering dihubungkan dengan ekstrimisme adalah ghuluw. Berdasarkan hasil penelusuran dalam sejarah Islam, serta al-Quran dan Hadits, Afroni dalam Jurnal Wawasan berpendapat bahwa secara etimologi ghuluw berarti berlebih-lebihan dalam suatu perkara, dan secara istilah adalah model atau tipe keberagamaan yang mengakibatkan seseorang melenceng dari agama tersebut. Beliau mencontohkan beberapa sikap yang dikategorikan sebagai ghuluw di antaranya adalah fanatik terhadap suatu pandangan tertentu, berprasangka buruk terhadap orang/kelompok lain dan bahkan bisa sampai kepada mengkafirkan orang lain.

Dengan demikian, siapapun dari umat Islam, baik yang bercelana cingkrang atau tidak, bercadar atau tidak, membawa bendera hitam/putih atau tidak, bila beramal tanpa ilmu sehingga melenceng dari agama Islam dan bersikap ghuluw, mereka itu disebut eksremis. Oleh karenanya, sayidina Ali r.a. mengingatkan umat Islam agar mewaspadai pembajak simbol-simbol agama ini. Beliau berkata, “Jika kalian melihat bendera hitam, maka bertahanlah di bumi. Jangan gerakkan tangan dan kaki kalian. Kemudian akan muncul kaum lemah yang tidak dihiraukan (rendahan). Hati mereka seperti batangan baja (kaku, keras). Mereka (mengaku) pemegang daulah (Islamiyyah). Mereka tidak menepati janji dan kesepakatan. Mereka mengajak kepada kebenaran sedangkan mereka bukan orang yang benar. Nama mereka menggunakan kunyah dan nisbat mereka menggunakan nama daerah. Rambut mereka terurai seperti wanita, hingga mereka berselisih diantara mereka. Kemudian Allah mendatangkan kebenaran kepada yang Allah kehendaki” (Riwayat Abu Nuaim) 

Ekstremis kiri ini ada di dalam umat Islam, di antaranya adalah kalangan Khawarij yang membunuh Khalifah Ali r.a. Sekarang ini kalangan Khawarij melakukan banyak teror di berbagai tempat, sehingga muncul istilah terorisme. Kalangan inilah yang selama ini membawa-bawa simbol Islam dalam sikap dan perbuatannya yang berlebihan, melampaui atau menyalahi hukum Islam. Ekstremis ini telah mencoreng citra Islam di mata non muslim awam dan menjadi talbis (tipu daya) bagi muslim awam. Sangat wajar bila umat Islam menolak ekstrimisme dalam beragama yang dipraktekan oleh kalangan ini dan lainnya.

Minggu, 25 Oktober 2020

Jalmi Sadar Sareng Gelo

Sok emut kanu cariosan Syekh Abdul Qadir Jailani r.m. nu dicatet ku murid na dina Fathu Rabbani, di mana jalmi nu disebut gelo teh nyaeta jalmi nu hilap ka Gusti Allah, ngalabrak pituduh Na, sok sanaos luhung elmu na sareng luhur pangkat na, komo deui nu handap sagala rupi na. 

Dina Minhajul Abidien, Imam al-Ghazali r.m. ngisahkeun tukang mabok nu gaduh elmu agama. Hiji waktos aya setan nu ngangge raksukan mewah teras ngaku2 diri na Gusti Allah. Seeur jalmi bodo nu teu gaduh elmu agama nu katipu. Eta setan nepangan tukang mabok, terus nyarios payuneun, ngaku diri na Gusti Allah sareng miwarang ninggalkeun salat. Tukang mabok langsung ambek terus ngaluarkeun bedog ka eta setan.  

Ningal jalmi nu sadar sareng gelo mah ku jaman kiwari teu tiasa ditingal ku tampilan hungkul, tapi kedah ditingal tina amal na. Sautami-utamina jalmi nu dipikaresep ku Gusti Allah, nyaeta jalmi nu seeur mangfaat na sareng perilaku na sae. Mugi urang sadaya na dipaparin karunia janten jalmi nu utami dina kondisi teu ngaraos utami. Amin.

Sabtu, 22 Agustus 2020

Menyentuh Allah dalam Takdir Nya

Saat seseorang merendahkan manusia lainnya, ia tidak malu pada Allah karena tidak bisa melihat Khalik pada mahluk yg direndahkannya. 

Takdir yg ditetapkan Allah atas mahluk Nya akan berlaku pd saat yg Allah tetapkan, bukan pd saat yg dikehendaki mahluk Nya. Seorang yg melihatnya tdk akan merasa ikut mengatur berlakunya takdir pada saat tersebut. Semua gerak yg dipilihnya adalah takdir Allah, baik dgn atau tanpa merencanakannya. Tdk ada satupun mahluk yg dapat melawan pilihannya sendiri yg merupakan takdir Allah. 

Semua yg nampak adalah takdir Allah, sehingga (perbuatan) Allah nampak pd segalanya, pada mahluk yg ada di dalam takdir tersebut. Seseorang yg melihatnya bisa menyentuh (perbuatan) Allah, sehingga ia menyadari Allah tdk lah jauh. Hal tersebut membuatnya merasa senang. 

Semoga kita senantiasa berada pada pilihan takdir yg mendekatkan kpd Allah, melihat dan mensyukuri perbuatan Nya tersebut.

Pelajaran yg dipetik dari Gus Javar

Senin, 11 Mei 2020

Pemimpin yang Hidup dalam Hati Rakyatnya


Di masa lalu, ada Amir / Pemimpin yg wilayah kekuasaannya meliputi suku-suku Arab serta taklukan Romawi dan Persia yg terbentang luas. Di kisahkan, beliau melakukan peninjauan utk melihat kondisi rakyatnya. Beliau tdk dikawal pasukan bersenjata krn belum lazim dalam praktik kesukuan saat itu. Beliau hanya ditemani Aslam ra. Beliau adalah Amirul Mu'minin Umar bin Khathab ra.

Singkat cerita, beliau mendengar curhatan warganya yg kekurangan makanan. Ibu yg anaknya kelaparan itu tdk mengenal sang Amir, dan mengungkapkan kekesalannya dgn menyebut kondisinya itu disebabkan krn kejahatan beliau yg tdk mau turun melihat rakyatnya. Aslam ra merasa tdk nyaman dgn perkataan tsb dan hendak menegurnya, tetapi dicegah oleh beliau. 

Sekalipun beliau tdk seperti yg dituduhkan warganya tsb, tetapi beliau merasakan beban kesalahan di dalam hatinya. Beliau tdk menghukum warga tsb krn kelancangannya, tetapi "menghukum" dirinya sendiri. Beliau memutuskan utk mengambil sekarung gandum dari Baitul Maal. Kalau jaman sekarang, sembako dari anggaran negara. Beliau sendiri yg dgn kepayahan memikul karung tsb.

Waktu memikul karung itu, beliau ra masih ditemani oleh Aslam ra. Krn tdk tega melihatnya, Aslam ra meminta agar karung itu dipikulnya saja. Tetapi Amirul Mu'minin menolak krn tdk ingin ada orang lain yg memikul beban tsb kelak di akhirat. Beliau dgn dibantu Aslam ra kemudian memasak utk keluarga tsb. Praktiknya klo di jaman sekarang ini seperti memberi nasi kotak dan kardus sembako. 

Soal bantuannya dibawakan sendiri atau ada yg membawakannya, tergantung berapa banyak yg akan menerimanya. Utk kasus satu keluarga itu, beliau membawakannya sendiri. Tapi dlm kasus bencana kekeringan yg memicu kelaparan, beliau melibatkan sejumlah Gubernur dan para pegawainya dlm membawakan makanan kpd rakyat di wilayah bencana.

Sabtu, 24 Juni 2017

Islam dan Budaya


Menurut pemahaman saya, Islam itu bukan Arab sehingga untuk islami tidak perlu menjadi orang Arab. Nabi Muhammad SAW sendiri mengatakan bahwa pada awalnya Islam itu asing di tempat kelahirannya, banyak menyalahi budaya dan kepercayaan masyarakat Arab saat itu. Hal ini menunjukan bahwa Islam sama sekali tidak berakar dari Arab, tetapi bersumber dari Allah SWT.
Budaya Islam merupakan turunan dari atau sisi manusia yang berinteraksi dengan ajaran orisinil Allah SWT yang keorsinilannya muncul tanpa merujuk sama sekali kepada pemikiran manusia. Islam diturunkan sebagai ajaran universal, yang flexible terhadap budaya masyarakat manapun, bersifat meluruskan agar sejalan dengan ajaran Tuhan. Islam sebagaimana agama lainnya mencelupi budaya manusia.

Kalau ada usaha mengislamikan budaya, maka usaha tersebut bukan menjadikan budayanya bergeser menjadi serba Arab tetapi menjadi lurus sejalan dengan ajaran Islam. Namun usaha ini akan membawa kepada akulturasi, sehingga sangat wajar jika bahasa dan ajaran agama terserap di dalam budaya. Serapan ini tercermin dalam kata serapan asing, pakaian, prosesi, dan lain sebagainya. Sangat wajar jika al-Quran yang menggunakan bahasa Arab terserap dalam bahasa percakapan sehari-hari muslim dan tetangganya di berbagai belahan dunia, terlebih jika kata itu tidak ada padanan katanya dalam kata yang berkembang di tempatnya diamalkan. Bahkan nama Tuhan YME disebut berbeda saat nama-Nya terucap dalam berbagai budaya manusia. Akulturasi ini merupakan proses pemilihan dan peningkatan, di mana manusia dapat sampai kepada tingkat budaya yang sangat maju melalui akulturasi.

Semangat fasis yang menganggap pencapaian budaya bisa dicapai dengan hanya mengembangkan budaya sendiri dan mengisolasi dari kebaikan atau keunggulan budaya asing hanya akan menciptakan manusia asosial, lupa dari kenyataan bahwa manusia itu satu sehingga hakikat budayanya pun satu, dan diciptakan berbangsa-bangsa dan berbudaya agar saling mengenal dan belajar untuk melengkapi diri, melengkapi budayanya. Islam mengajarkan kepada ummat melalu lisan Nabi Muhammad SAW untuk mempelajari sesuatu hingga negeri Cina, sehingga umat Islam tidak menutup diri dari budaya yang sejalan atau dapat lurus dengan ajaran Islam. Allah SWT tidak mengharamkan budaya, akulturasi budaya, selama budaya tersebut sejalan dan tidak menyalahi ajaran-Nya.

Budaya dibangun oleh manusia dan sangat dipengaruhi dan bahkan dibentuk oleh pemikiran, seni, atau keyakinan mereka. Oleh karenanya hal yang sangat wajar apabila Indonesia mewarisi budaya yang sangat beragam termasuk mewarisi hasil akulturasi budaya yang sangat banyak, apakah akulturasi itu sebagai usaha memperkaya budaya yang ada atau sebagai usaha hidup bersama budaya yang ada. Ini merupakan suatu karunia. 

Yang pasti, manusia Indonesia memiliki kehendak memilih dalam usahanya tersebut, berdasarkan pengetahuan atau keyakianannya, sehingga boleh jadi tidak semua bagian dari budaya itu menyatu atau bercampur dengan budayanya. Oleh karenanya hal yang wajar apabila sebagian kelompok menolak dan menerima sebagian dari budaya kelompok lain, seperti misalnya menolak penyerapan bahasa arab ke dalam bahasa sehari-hari dan menerima penyerapan pakaian barat dalam pekerjaan sehari-hari. 

Walau demikian, setiap manusia Indonesia hidup dalam semangat bhineka tunggal ika, sikap toleransi yang menjadi komitmen hidup berbangsa, sehingga sikap penolakan tersebut tidak boleh mencegah kecuali menyalahi Pancasila dan khususnya ketuhanan YME yang menjadi dasar berbangsa dan bernegara. Dalam konteks penyerapan bahasa Arab misalnya, karena tidak menyalahi Pancasila maka sikap penolakan tidak boleh mencegah, dan cukup penolakan itu di dalam dirinya saja. Mencegah dalam bentuk apapun baik secara langsung atau tidak langsung, yang dinyatakan di ruang publik, sama saja menyalahi prinsip Bhineka Tunggal Ika, menyalahi Pancasila, dan merupkan wujud praktik rasial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

Kita sadar, budaya ini terus berkembang seiring dengan perubahan yang terjadi di dalam masyarakat Indonesia, dan perkembangan budaya Indonesia ini sejatinya tidak akan menyalahi Pancasila. Budaya Pancasila inilah yang menjadi jati diri budaya Indonesia. Namun sayangnya, sebagian dari bangsa kita, mempersoalkan bagian budaya yang sama sekali tidak menyalahi Pancasila seperti bahasa yang plural namun melupakan budaya yang menyalahi Pancasila seperti sekulerisme, plurasilme, dan liberalisme. Bahasa "semakin arab semakin islami" misalnya menurut pemahaman saya memiliki dua kesalahan, pertama karena penyerapan bahasa yang bersumber dari apa yang dikonsumsi bangsa (baik kitab suci, karya sastra, dls) merupakan hal yang terakomodasi dalam kehidupan plural / bhineka tunggal ika, dan kedua karena penggunaan bahasa yang bersumber dari apa yang dikonsumsi bangsa merupakan hak asasi yang tidak menyalahi Pancasila dan bahkan dilindungi UUD 45

Sabtu, 15 April 2017

Non Muslim boleh disebut Sunan atau Santri ?



Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), Sunan memiliki dua pengertian, 1 sebutan raja untuk keraton Surakarta (di Jawa); 2 penyebutan nama untuk para wali: -- Kalijaga; Secara umum kita memahami bahwa sunan itu tidak selalu waliyullah tetapi mungkin juga hanya seorang pemimpin pemerintahan yang disebut kesunanan. 

Sunan Bagus yang tersebut dalam buku Mistik Kejawen pujangga Ronggowarsito yang ditulis oleh Purwadi dan Mendamaikan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang ditulis oleh A.M. Waskito tidak lain adalah Sri Susuhunan Pakubuwana IV atau Raden Mas Subadya. Beliau adalah raja pengusung gagasan Persatuan Kerajaan Mataram yang tertarik dengan ajaran Wahabi. Dengan memperhatikan fakta sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa Sunan dapat merupakan gelar pemimpin pemerintahan, yang tidak harus Ahlus-Sunnah wal Jama'ah. Gelar ini berbeda dengan Sunan untuk Walisongo yang merupakan pemimpin agama yang memiliki karomah, sebagian di antaranya adalah juga pemimpin pemerintahan, dan mengikuti ajaran Ahlus-Sunnah wal Jama'ah. Dengan memperhatikan ini, maka gelar Sunan menurut pendapat saya dapat disematkan kepada pejabat pemerintahan non muslim. 

Adapun Santri, KBBI mengartikannya sebagai 1 orang yang mendalami agama Islam; 2 orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh; Disebutkan dalam buku Pribadi Akhlakul Karimah yang ditulis oleh A. Fatih Syuhud disebutkan bahwa Santri secara etimologis adalah seorang pelajar yang sedang menimba ilmu di Pesantren, sehingga yang tidak mukim di pondok Pesantren tidaklah disebut santri. Walau demikian dalam konteks sosiologis Santri dapat difahami lebih luas lagi, yakni setiap orang Islam yang relatif taat dalam menjalankan ajaran Islam, baik dia alumnus pesantren atau bukan. Dengan kata lain Santri adalah mereka yang dalam perilaku kesehariannya menjalankan ajaran Islam, baik mereka itu santri mukim ataupun santri kalong (tidak mukim). 

Ada juga yang berpendapat Santri itu berasal dari kata cantrik yang berarti pembantu resi (yang dalam Islam disebut Kyai atau Ulama) yang diberi upah berupa ilmu. Dengan bahasa umum kita bisa memahami bahwa santri ini adalah mereka yang berkhidmat kepada pimpinan agama demi ilmu. Artinya siapa saja yang mencari ilmu dari pemimpin / guru agama disebut sebagai santri, karena syarat disebut santri adalah adanya interaksi dengan pemimpin agama tersebut, bukan sebarapa dalam atau mampu mengamalkan ilmunya. Seseorang yang datang ke hadapan guru agama / ulama / kyai untuk mendapatkan ilmu disebut sebagai santri. Sepulangnya dari sana dia tidak disebut santri seandainya tidak berusaha mengamalkan ilmu yang sudah diperolehnya, dan baru disebut santri lagi setelah dia kembali menghadap atau mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari.       

Dalam salah satu pengertian disebutkan orang yang dimaksud harus beragama Islam. Tetapi kita tahu yang mempelajari islam tidak harus seorang muslim, dan seorang muslim disebut santri walau menimba ilmu sebentar dari guru agama. Artinya non muslim yang menghadap kyai, mendengarkan ilmu agama Islam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, dia boleh disebut sebagai santri. Kita ingat pada abad pertengahan di masa kejayaan Islam, lembaga pendidikan Islam tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga ilmu duniawi berbasis agama, di mana peserta didiknya tidak hanya muslim tetapi juga non muslim yang datang dari berbagai penjuru dunia. Tidak berbeda dengan apa yang sudah berjalan di masa lampau, Pondok Pesantren di Indonesia pun membuka kesempatan bagi non muslim untuk menjadi santri