Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Pengabdian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengabdian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 31 Oktober 2024

Pengalaman Pertama Melatih Peserta Disabilitas

Kamis, 31 Oktober 2024, saya berada di Jakarta Selatan utk melaksanakan tugas dari BPPTIK Kominfo RI sebagai instruktur dlm kegiatan Pelatihan TIK bagi Peserta Disabilitas di kantor YPAC Nasional. Pengalaman pertama melatih peserta disabilitas ini memberikan pengalaman mengajar yg baru. Instruktur harus berperan sebagai ayah yang sabar, bertutur lembut, bekerja dgn ritme yg lambat agar sesuai dgn kemampuan peserta yg terbatas.

Penerjemah yg hadir adalah juru bahasa isyarat yg suka tampil di TV. Ia mengangap gaya bicara saya yg tdk cepat cukup membantunya. Saya salut sama penerjemah yang mampu menyederhanakan penjelasan saya kpd peserta. Saya sampaikan kpd nya kalau gaya tersebut memang bawaan dari dulu. Cuma kadang terpaksa suka cepat dalam menjelaskan sesuatu utk mengejar materi dgn JP terbatas, semisal pelatihan JOO bagi ASN yg membuat sedikit peserta, biasanya yg sdh berusia, meminta saya utk mengulang penjelasan.

Awalnya saya grogi krn takut ada kendala dlm menyampaikan pengetahuan. Tapi pada akhirnya bersemangat dan salut dgn peserta yg secara umum mampu menerapkan rumus excel dgn baik. Perlu kesabaran ekstra saat berinteraksi dgn peserta kategori developmental yg terkesan cuek. Sementara peserta yg terbatas visualnya berkali-kali meminta maaf krn lambat dalam mengoperasikan komputer dan ada beberapa fitur yg tdk dapat diakses. Dgn tersenyum saya jawab, "tdk apa-apa", kemudian menyuruhnya utk skip soal latihan yg dimaksud. Dari awal saya sudah siap melayani mereka dgn menyesuaikan diri krn memaklumi keterbatasannya. 

Saya begitu terharu krn mereka bersemangat dalam belajar dan berlomba. Saya berpesan kpd mereka utk mengabari bila menang lomba di Vietnam. Tahun lalu Indonesia baru menang juara ketiga. Semoga tahun ini meningkat. Amin.


Senin, 01 April 2024

Membantu NgabuburIT di Garut


Sebagai abdi negara saya berkewajiban membantu program pemerintah, salah satunya acara NgabuburIT yg dilaksanakan hari ini. Saya membantu Ketua Relawan TIK Jabar menyiapkan kegiatan tersebut. Institut Pendidikan Indonesia (IPI) Garut dipilih sebagai tempat kegiatan karena posisinya sebagai mitra Kominfo RI, serta salah satu basis Relawan TIK dan Pandu Digital di Garut. Selain itu, IPI Garut adalah peserta Konferensi Nasional Literasi Digital dan Kerelawanan (KNLDK) Akademi Relawan TIK Indonesia (ARTIKA) terbanyak pada tahun lalu. Namun pertimbangan terpentingnya adalah respon positif Prof Nizar Hamdani selaku pejabat Rektor terhadap kegiatan Komunitas dan Relawan TIK.


Teringat dulu beliau menyambut baik pembentukan Komunitas TIK dan komisariat Relawan TIK di kampusnya. Inisiatif pembentukannya saya dorong utk memenuhi syarat musyawarah cabang Relawan TIK yg harus dihadiri oleh minimal tiga komisariat. Saat itu beliau menyatakan kesiapan kampusnya utk menjadi basis Komunitas dan Relawan TIK di Garut.

Hal serupa juga saya rasakan saat membantu Kominfo RI menjalin kerjasama dgn tiga kampus besar di Garut. Beliau menawarkan diri utk menjamu dan menyediakan tempat pertemuan. Pertemuan akhirnya diselenggarakan oleh Kominfo RI di Kampung Sampireun dgn output berupa pelaksanaan kerjasama program KKN tematik literasi digital yg masih berjalan hingga sekarang.  Dengan program tsb, banyak dosen terfasilitasi sebagai Pandu Digital dan Narasumber Literasi Digital. Biasanya hanya saya dan beberapa kolega saja yg membantu pelaksanaan program Kominfo RI di Garut.

Setelah mendapat permintaan bantuan dari Relawan TIK Jabar, saya menghubungi Rektor IPI Garut utk menawarkan kegiatannya. Seperti biasa beliau merespon positif dan bahkan mengeluarkan dana utk tambahan 100 peserta. Sebenarnya target peserta yg diperlukan hanya 50 peserta dan Kominfo sudah mengalokasikan dananya. Beliau juga menyambut baik program RTIKAbdimas yg dilaksanakan oleh ARTIKA dan menyatakan kesiapannya sebagai tuan rumah KNLDK secara hibrida yg ke-2.

Saya diminta utk menjadi Narasumber lokal oleh ketua Relawan TIK Jabar dlm kegiatan tsb, tetapi saya menyarankan agar kolega Pandu Digital Madya lain yg juga pengurus Relawan TIK Jabar utk mengemban tugas pelayanan tsb. Dan hari ini, tgl 1 April 2024, saya memaksakan diri utk datang ke lokasi dlm kondisi sakit gigi utk memastikan kegiatan berjalan. Nampak seperti biasanya, persiapan dari pihak IPI Garut selalu prima, seperti kegiatan Peberdayaan Pandu Digital di Garut tahun lalu.

Saya mengucap syukur Alhamdulillah masih dikaruni kesempatan beramal di bulan suci Ramadhan, semoga pahala kebaikannya berlimpah dan dapat menutupi segala khilaf atau dosa. Saya sangat bersyukur bila memiliki banyak teman yg mendukung atau mengambil kesempatan berbuat baik secara bersama-sama, di mana kebaikan nya dapat berjalan lancar tanpa gangguan drama antagonis yg dibuat oleh siapa pun yg tdk suka, setidaknya sebelum dan pada saat kegiatan nya dilaksanakan.


#PanduDigital #RelawanTIK #LiterasiDigital #PengabdianCahyana @sorotan

Jumat, 08 Maret 2024

Efisiensi Energi Pengajar dengan P2P Learning

Memandu praktikan agar mengikuti prosedur dgn benar dan membenarkan prosedur yg keliru merupakan tindakan yg perlu dilakukan oleh instruktur dalam kegiatan praktikum atau pelatihan. Biasanya ia dibantu oleh asisten saat jumlah praktikannya banyak.

Tantangan yg saya hadapi saat menjadi instruktur dlm pelatihan di Sumedang hampir sama dgn pengalaman sebelumnya di Cimahi dan Sukabumi, yakni ketiadaan asisten dan kemampuan TIK dasar peserta yg beragam. Semakin banyak peserta, kegiatan memandu semakin melelahkan. Oleh krn nya saya memikirkan cara terbaik utk efisiensi tindakan agar tdk terlalu lelah.

Awalnya saya memandu peserta pelatihan dgn kecepatan yg ditakar sendiri. Kecepatannya dikurangi setelah peserta meminta utk memperlambat panduan. Namun ternyata ada peserta yg memerlukan kecepatan lebih lambat, bahkan perlu pengulangan prosedur. Hal tsb dapat membuat waktu penyampaian materi tdk sesuai dgn rencana waktu pembelajaran. Oleh karenanya, saya mulai menerapkan strategi yg terbukti efektif di Sukabumi, yakni mengelompokan peserta dan menjadikan peserta yg lebih dahulu menyelesaikan prosedur sebagai pemandu bagi teman kelompoknya.

Strategi pemanduan tsb membuat saya dapat lebih banyak duduk utk berfokus pada tugas mendemontrasikan pelaksanaan prosedur. Saya tdk akan beranjak bila ada peserta yg kesulitan mengikuti prosedur, kecuali tdk ada satupun anggota kelompoknya yg dapat membantu. Ini seperti level dukungan teknis yg diawali dgn menunjukan prosedur atau manual sebagai solusi masalah, kemudian memandu bila cara sebelumnya tdk berhasil, dan mendemonstrasikan bila cara sebelumnya tdk berhasil. Sesekali saya berkeliling dan memberikan pujian kepada semua peserta yg berhasil menjalankan prosedur. Dgn demikian, saya dapat menggunakan energi lebih efisien, tdk terlalu lelah, dan kegembiraan atau semangat pada diri peserta tetap hadir.

Mengelola energi itu penting agar kita dapat mempertahankan senyuman. Instruktur harus selalu nampak bahagia saat menyampaikan materi. Semakin bisa menghemat energi, semakin kita dapat menahan emosi saat berhadapan dgn peserta yg lambat dlm memahami dan mengikuti prosedur. Kesadaran akan kondisi peserta yg awam juga dapat menjadi alasan yg masuk akal utk meredakan letupan kecil emosi di dalam hati.

Pendekatan Peer to Peer (P2P) Learning, di mana peserta saling mengajarkan atau berbagi pengetahuan merupakan pendekatan yg baik. Peserta yg mengajar atau membantu menyelesaikan masalah peserta lainnya akan memperoleh pemahaman yg lebih baik dan menemukan pengetahuan baru dari masalah yg ada. Pengalaman tsb sebagaimana keterampilan yg terus menerus digunakan, lebih mudah terekam di memori utk waktu yg lama.

#PengabdianCahyana

Senin, 31 Agustus 2020

Cerita di Balik Webinar dengan KOMPAK dan KEMENDESPDTT

Pada tanggal 25 Agustus 2020, saya mendapat telpon dari mas Faun, teman Relawan TIK Bojonegoro. Mas Faun menyampaikan kepada saya bahwa tim KOMPAK (Kolaborasi Masyarakat dan Pelayanan utk Kesejahteraan Kemitraan Pemerintah Australia - Indonesia) sedang mencari narasumber yang dapat menyampaikan pengalaman KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa. Mas Faun yang selama ini menyimak kegiatan Relawan TIK Abdimas di desa yang saya bagikan di komunitas maya Relawan TIK Indonesia kemudian merekomendasikan saya untuk menjadi narasumber.

Pada tanggal yang sama, teh Oli dari tim KOMPAK kemudian menghubungi. Dalam hubungan melalui sambungan telpon tersebut, teh Oli memperkenalkan KOMPAK dan apa yang menjadi fokusnya, khususnya platform teknologinya yang menjembatani komunikasi antara Perguruan Tinggi dengan Desa. Saya diminta untuk menjadi narasumber pada tanggal 31 Agustus 2020 untuk melengkapi pengetahuan yang sebelumnya sudah diisi oleh perguruan tinggi lain di Indonesia.   

Saya menyambut baik permintaan tersebut. Kebetulan sekali tanggal tersebut merupakan akhir pelaksanaan KKN STT Garut, sehingga bisa dijadikan sebagai kegiatan penutup pelaksanaan KKN yang dihadiri oleh mitra KKN berikut para pengabdi (mahasiswa dan dosen pembimbingnya). Selanjutnya saya komunikasikan rencana kegiatan ini kepada bu Ida Farida selaku ketua pelaksana KKN sekaligus wakil ketua I yang membidangi urusan Triharma. Rencana tersebut direspon baik, lalu surat undangan mengikuti kegiatan tersebut dibuat dan dibagikan kepada para pengabdi. 

Tim KOMPAK meminta ada kepala desa yang dapat dihadirkan sebagai narasumber. Proses pencariannya tidak mudah, mengingat saya harus memastikan tim KKN nya melaksanakan kegiatan penerapan TIK di desa tersebut, agar sesuai dengan tema kegiatannya. Akhirnya ada personel tim KKN di komunitas maya KomTIK Garut yang merespon pencarian tersebut dan menginformasikan kegiatannya membangun situs web desa. Selanjutnya saya meminta staf dan kang Rikza selaku dosen pembimbingnya untuk mengawal penyiapan video dokumentasi dan kesiapan kepala desa selaku narasumber.

Perkembangan tersebut saya sampaikan kepada tim KOMPAK. Akhirnya pada hari Jum'at, 28 Agustus 2020, flyer kegiatan dibuat dengan narasumber lengkap, dibagikan di media sosial dan dikutipkan dalam surat undangan STT Garut yang dibuat untuk para pengabdi dan mitra.

Sebelumnya tim KOMPAK menunjukan antusiasnya apabila Dirjen PENDIS KEMENAG dapat hadir dalam Webinar untuk menyampaikan pengalamannya sebagai ketua STT Garut saat itu dalam mendorong pendampingan masyarakat desa melalui Relawan TIK. Pada tahun 2012, di masa beliau masih menjabat, Menteri PDT yang saat itu rencananya akan menghadiri Wisuda Sarjana STT Garut, diarahkan untuk mengukuhkan Relawan TIK Garut. Dikarenakan kesibukan beliau, posisi narasumber yang disiapkan oleh tim KOMPAK kemudian saya usulkan untuk digantikan oleh pak Hilmi selaku ketua STT Garut. Kang Rikza juga diminta oleh Tim KOMPAK untuk menyampaikan testimoninya mewakili Relawan TIK dalam webinar tersebut.

Dalam kesempatan pertemuan teknis pada hari Jum'at tersebut, saya menjanjikan untuk menyerahkan slide presentasi pada hari Minggu. Slidenya baru bisa saya serahkan pukul 10 malam setelah dibuat dari pukul 09 hari Minggu pagi.  

 
Alhamdulillah, hari Senin itu kegiatan berjalan lancar. Saya lupa menyakan durasi waktu penyampaian materinya sehingga slide saya buat utk penyampaian satu jam. Syukurlah saya hanya mengambil waktu 10 menit saja dari 20 menit yang disediakan oleh tim KOMPAK. 

Minggu, 09 Agustus 2020

Arti Penting Jalinan Silaturahmi antara Kampus Dengan Masyarakat


“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad)

Bila kampus melakukan amal baik kepada masyarakat, insya Allah masyarakat akan mengingatnya, membicarakanya, dan mungkin terus menjalin hubungan silaturahmi demi saling memberi manfaat secara berkelanjutan. Bila ada kepentingan menjaga hubungan silaturahmi, pastinya ada kepentingan utk saling tahu domisili. Dari sanalah kampus dan lokasinya menjadi dikenal masyarakat.

Dan tentu saja masyarakat akan sangat mensyukuri segala nilai yg telah diwariskan kampus melalui sivitas akademiknya. Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang telah berbuat kebaikan kepada kalian, hendaklah kalian membalasnya. Jika kalian tidak mampu membalasnya, maka berdoalah untuknya, hingga kalian tahu bahwa kalian telah bersyukur. Allah adalah Dzat Yang Mahatahu Berterimakasih dan sangat cinta kepada orang-orang yang bersyukur.” (HR. Thabrani).

Di antara wujud rezeki bagi kampus adalah mahasiswa baru, dan wujud panjang umur adalah eksistensi kampus. Semua itu dicapai dgn silaturahmi. "Siapa yang hendak dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung tali silaturahmi." (H.R. Bukhari Muslim)

Selasa, 14 Juli 2020

Meningkatkan Kapasitas Guru SMKN 2 Garut



Tanggal 13 Juli 2020 adalah hari terakhir kegiatan Pelatihan Kementrian Koperasi dan UKM Republik Indonesia. Pagi itu saya harus menyelang sebentar ke SMKN 2 Garut untuk menyampaikan materi seputar Google Classroom. Kegiatan di sekolah tersebut tidak bisa saya lewatkan mengingat undangannya telah lebih dulu datang sebelum undangan dari Kementrian. Saya langsung berangkat dari Hotel Harmoni Garut. Malam itu saya menginap di sana setelah saya memfasilitasi materi Online Marketplace hingga pukul 9 malam. 


Kegiatan yang saya hadiri di SMKN 2 Garut adalah IHT (In House Training) dengan judul Adaptasi Belajar Mengajar di Masa Pandemi Covid-19 Menuju New Normal. Sesuai surat permintaan bantuan yang dikirimkan oleh kepala sekolahnya kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya harus menjadi pengajar yang menyampaikan materi kepada peserta. Beberapa hari sebelumnya, sebelum kegiatan tiga hari Kementrian dilaksanakan, saya telah merampungkan buku saku Google Classroom dalam format pdf untuk dibagikan kepada para guru yang menjadi peserta IHT. Malam itu di kamar hotel, saya siapkan slide presentasi materi Pengantar IHT nya. Lumayan melelahkan karena maraton dengan kegiatan Kementrian, tetapi harus saya kerjakan agar berbuah manfaat sedekah ilmu yang banyak.

Dalam kesempatan tersebut, saya menjelaskan kepada para Guru yang menjadi peserta kegiatan IHT bahwa karakteristik pribumi digital yang dimiliki oleh peserta didik merupakan kekuatan dalam penerapan teknologi pembelajaran jarak jauh. Tuntutan untuk mengarahkan peserta didik menjadi CAKAP (Cerdas, Kreatif, dan Produktif) dalam memanfaatkan teknologi informasi menjadi kesempatan dalam pemanfaatannya. Saya menunjukan beberapa contoh kasus pelanggaran UU ITE oleh siswa, guru, dan kepala sekolah di beberapa daerah sebagai sampel kelemahan komunitas akademik dalam pemanfaatan internet. Kelemahan lainnya yang saya tunjukan adalah persebaran internet hotspot yang belum merata di wilayah Garut yang harus menjadi perhatian para guru. Menurut pendapat saya, guru memiliki kewajiban untuk mengingatkan peserta didiknya agar dapat memenuhi dasar etika jaringan semata karena tanggung jawabnya selaku penyelenggara kegiatan pembelajaran di internet. Lembaga pendidikan seyogyanya memastikan peserta didik yang berada di zona internet blank spot agar dapat mengikuti pembelajaran daring, agar hak belajarnya terpenuhi.

   
Slide presentasi dapat diunduh di sini
Buku Saku Google Classroom dapat diunduh di sini
 
   

Sabtu, 11 Juli 2020

Membantu Kemenkopukm RI Mengembangkan Kapasitas UMKM



Hari Sabtu, 11 Juli 2020 merupakan hari pertama Pelatihan Kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Kementrian Koperasi dan UKM di mana saya terlibat di dalamnya sebagai pemateri. Malam hari sebelumnya, tanggal 9 Juli 2020, pak Yadi dari Dinas Koperasi dan UKM kabupaten Garut menghubungi dan memberitahukan bahwa saya diminta untuk menjadi pemateri dalam kegiatan tersebut. Sebagai dosen yang memiliki kewajiban pengabdian saya menerima permintaan bantuan dari pemerintah tersebut.   

Pada tanggal 10 Juli 2020, saya bertemu dengan tim pemateri akademisi lainnya, yakni ibu Urip dan pak Hendro dari STIE Yasa Anggana Garut. Pertemuan tersebut dilaksanakan untuk merumuskan lingkup materi yang akan disampaikan kepada peserta. Saat itu saya menyanggupi untuk membuatkan formulir online test bagi peserta. Peserta akan mengisi formulir tersebut sebelum dan setelah kegiatan. Data yang terkumpul digunakan untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. 


Di hari pertama itu saya tidak mengikuti kegiatan pembukaannya sehubungan harus memberikan materi pembekalan kepada peserta KKN di kampus. Acara pembekalan tsb sudah lebih dulu diagendakan sebelum undangan dari Dinas diterima. 

Saya berusaha merampungkan formulir test pelatihan di sela-sela pembekalan. Selepas acara, saya bergegas menuju Hotel Harmoni, tempat di mana kegiatan Pelatihan dilaksanakan, bergabung dgn tim pemateri akademisi untuk memastikan kelancaran pre-test dan merekap hasilnya.


Pada hari itu pula anak bungsu saya ulang tahun. Istri mengingatkan melalui Whatsapp supaya saya tidak lupa dengan hari penting tersebut. Syukurlah sore hari pemateri akademisi bisa pulang. Saya bergegas pulang menuju rumah dan menemui istri yang tengah bersiap memberikan kejutan kue ulang tahun bagi anak bungsu.

Akhirnya seremoni ulang tahun pun dilaksanakan pada waktu sore menjelang Maghrib. Anak bungsu terlihat senang dengan kuenya karena bergambarkan Sonic, karakter kartun yang disukainya.


Beberapa bulan yang lalu anak saya menyampaikan keinginannya untuk menginap di hotel. Kebetulan panitia pelatihan memberikan fasilitas kamar hotel bagi pemateri untuk menginap. Malam itu saya ajak keluarga menginap di hotel. Anak bungsu nampak senang karena keinginannya terwujud di hari istimewanya. Ini memang sudah rejekinya dari Yang Maha Mengatur.

Kegiatan ini terasa melelahkan karena tiga sebab. Pertama, karena undangan tersebut sangat mendadak sehingga saya harus menyiapkan materi dengan waktu yang tidak banyak. Kedua, karena dalam waktu bersamaan saya harus menyiapkan buku saku dan slide pengantarnya untuk kegiatan In House Training yang diselenggarakan oleh SMKN 2 Garut. Ketiga, karena maag kronis saya belum sembuh. Kehadiran keluarga dan mamah yang melakukan pemanggilan video Whatsapp di kamar hotel pada hari pertama itu sangat menghibur. 

Di hari kedua, selepas menjadi fasilitator hingga pukul 9 malam, saya menginap sendiri. Saya meras lelahan saat memasukan data kuesioner manual dari peserta yang tidak membawa smartphone ke formulir test. Setelah selesai, hasilnya saya sampaikan kepada panitia. 


Akhirnya Pelatihan selesai di hari ketiga selepas Ashar. Acara tersebut ditutup oleh kepala Dinas. Tidak lupa kami berfoto sebagai bukti kegiatan. Agak risi juga karena harus foto berdekatan, sekalipun sudah mengenakan masker. Sepanjang kegiatan, kecuali saat menjadi pemateri, saya selalu mengenakan masker. Bagian yg akan disentuh oleh saya disemprot dgn sanitizer.

Di tengah perjalanan pulang, ibu Urip menghubungi dan mengajak saya untuk menemani pak Hendro mencicipi Soto di Simpang Lima. Sotonya gratis karena dibayari oleh ibu Urip. Makan bersama di akhir kegiatan pengabdian seperti ini merupakan kebiasaan saya besama kolega di kampus.

 
Tahun ini gaji 13 diundurkan pencairannya oleh pemerintah. Gaji tersebut sangat penting bagi ASN seperti saya untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak. Alhamdulillah, Allah mengaruniakan rejeki yang tidak disangka-sangka dari Pelatihan ini, sehingga kebutuhan sekolah anak bisa tercukupi.  

Senin, 29 Juni 2020

Pengabdian adalah Branding

Dlm Pengabdian kpd Masyarakat, sivitas akademika menyengajakan diri turun ke tengah masyarakat utk memberikan manfaat  keahlian atau luaran Tridharmanya dlm rangka memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal tsb merupakan blusukan gaya akademisi yg memberi manfaat pencitraan positif bagi kampus. 

Oleh krnnya kegiatan pengabdian merupakan bagian dari promosi kampus. Kegiatannya hrs dioptimalkan utk campus branding dgn sasaran terpenting menghasilkan intimacy antara kampus dgn masyarakat, sehingga kampus semakin dikenal dan berpengaruh.

Luaran pengabdian berupa publikasi artikel berita di media masa menjadi salah satu kunci sukses promosinya, cara personal branding yg tdk boleh dilewatkan oleh kampus, selain krn memang dapat menambah nilai kinerja di SIMLITABMAS. Setiap tim pengabdi adalah branding agent yg dapat menghasilkan citra positif kampus di tengah masyarakat dan dlm persepsi pembaca media. Semakin banyak pemberitaan pengabdian, semakin kuat upaya promosinya.

Pengelolaan media daring bisa dilakukan oleh divisi khusus di bawah unit bisnis kampus. Tentunya dikelola secara profesional dgn tim redaktur dan perizinan yg lengkap. Divisi tsb bisa menjadi medium pengembangan diri mhs dlm bidang jurnalistik, laboratorium bahasa, sekaligus menyediakan kesempatan kerja bagi alumni. Hal ini dimaksudkan agar dana mengalir di dalam lingkaran kampus.

Gambar ilustrasi: Relawan TIK Abdi Masyarakat II Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Rabu, 06 Mei 2020

Donasi untuk Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Program Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh sivitas akademik Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada bulan Mei 2020 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1441. Panitia pelaksananya adalah mahasiswa. Program ini dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2020, satu hari sebelum pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di kabupaten Garut.

Program ini berawal dari tawaran pak Eri Satria, salah satu dosen Teknik Informatika yang juga Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut di grup WhatsApp Komunitas TIK. Pada tanggal 30 April 2020 itu, beliau menawarkan masker kain gratis yang dapat dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat.   


Kemudian beliau mengajak anggota senior Komunitas TIK dari kalangan alumni dan dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut (termasuk saya) untuk berdonasi. Selanjutnya, beliau menunjuk Zoel Hilmi, mahasiswa Teknik Informatika yang menjabat selaku ketua Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk mengatur panitia kecil.  


Pak Eri Satria pada akhirnya berhasil mendapatkan masker gratis sebanyak 600 pcs. Beliau berharap anggota senior dapat berdonasi untuk menambah jumlah maskernya dengan cara membeli. Pada hari Jum'at, 1 Mei 2020, poster penggalangan dana ditampilkan di grup oleh Zoel Hilmi dengan judul Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Pada tanggal yang sama, pukul 14:37, ibu Rina Kurniawati selaku Wakil Ketua bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengirimkan poster tersebut di grup Whatsapp Pusat Informasi STTG di mana tenaga pendidik dan kependidikan berada. 


Pada pukul 15:36, saya bertanya kepada ibu Rina Kurniawati, apakah donasinya bisa melalui mekanisme pemotongan dari honorarium bulan depan? Beliau menjawab, bisa. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak diajak saja para dosen untuk turut serta berdonasi untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut?. Menurut pemikiran saya, berdonasi itu sama dengan terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut. Dan unit kerja LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) yang saya pimpin berkewajiban memfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan pengabdian. 

Pada pukul 21:00 saya bertanya kepada pak Hilmi Aulawi selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut tentang kemungkinan LPPM untuk menawarkan donasi kepada para dosen melalui mekanisme pemotongan honorarium bulan depan. Beliau mengizinkan.


Setelah mendapatkan izin tersebut, saya mengirim penawaran di grup WhatsApp Penelitian dan Pengabdian pada pukul 21:21.


Pada hari Senin, 4 Mei 2020, pukul 08.40 saya menutup donasi dari para dosen. Dan pada pukul 09:05 surat pengajuan pemotongan honorarium untuk donasi saya sampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, ditembuskan kepada semua wakil ketua.


Pada pukul 10:23, pengajuan tersebut disetujui oleh pak Hilmi Aulawi. Selanjutnya, dana dicairkan pada pukul satu siang oleh biro Pengeluaran Keuangan. Pukul 13:26 saya menghubungi ibu Leni Fitriani mewakili bagian Kemahasiswaan untuk menyerahkan uang tersebut agar dapat diteruskan kepada panitia. Total dana yang terkumpul dari para dosen, baik yang transfer langsung kepada panitia atau melalui pemotongan honorarium adalah sekitar 2,5 juta rupiah, dan 600 pcs masker kain. Kalau masker kain tersebut diuangkan, total bantuan dari dosen sekitar 5,4 juta rupiah. Alhamdulillah, semoga menjadi tambahan pahala berlipat di bulan Ramadhan Mubarak ini. 


Pada hari Selasa, 5 Mei 2020, pak Eri Satria mulai mendistribusikan masker sumbangan yang akan dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat. Di antaranya adalah masker sumbangan dari Alumni SD Kiarasantang angkatan 88 dan Alumni SMPN 2 angkatan 91. 


Setelah itu mahasiswa mulai membagikan masker di seputaran kampus dan beberapa lokasi lainnya. Adapun dana yang terkumpul dari donasi, rencananya tidak akan dibelikan masker, tetapi akan dibelanjakan sembako yang akan dibagikan pada tanggal 7 Mei 2020 kepada 50 keluarga yang perlu dibantu. 


Disebutkan dalam undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa organisasi mahasiswa paling sedikit berfungsi mengembangkan tanggung jawab sosial melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Saya merasa bersyukur, mahasiswa berhasil mewujudkan manfaat kampus bagi masyarakat sekitar melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada hari sebelumnya, Minggu tanggal 3 Mei 2020, saya memberikan masukan kepada mahasiswa di grup WhatsApp agar masyarakat seputaran kampus mendapatkan perhatian:

Btw, sekiranya dananya banyak, saya berharap perhatian kita tdk hanya kpd pemenuhan kebutuhan masker, tapi juga kpd kebutuhan yg teramat penting bagi masyarakat miskin di sekitar kampus, seperti beras dan/atau sembako. Bagaimanapun, kampus hrs terasa manfaatnya bagi masyarakat sekitar di mana kampus berada ... Mari kita perduli dgn masyarakat sekitar kampus, jgn dulu jauh2 ke daerah belasan hingga puluhan kilometer dari kampus. Berbagi itu dimulai dari keluarga terdekat dulu, dan keluarga terdekat bagi kampus adalah masyarakat sekitar kampus.


Sabtu, 02 Mei 2020

Relawan TIK Tanggap Bencana Covid-19 di Garut


Pada semester genap 2019/2020 ini, saya kembali mengampu mata kuliah Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dalam kurikulum Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, mata kulah ini merupakan mata kuliah persiapan Kuliah Kerja Nyata. Mata kuliah Relawan TIK menyiapkan mahasiswa untuk dapat memahami dan mengamalkan sikap relawan dalam menyelesaikan masalah bidang TIK di tengah masyarakat. Kuliah Kerja Nyata sendiri adalah mata kuliah berbentuk Pengabdian kepada Masyarakat yang wajib diikuti oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Relawan TIK dalam Kuliah Kerja Nyata di desa Sirnajaya (16/8/2019)

Seperti biasanya, tugas lapangan mata kuliah Relawan TIK yang diberikan kepada mahasiswa dikemas dalam program Pengabdian kepada Masyarakat bernama Relawan TIK Abdimas (Abdi Masyarakat). Publikasi kegiatannya di Facebook dapat ditelusuri dari hastag #RTIKAbdimas. Sekarang ini program Relawan TIK Abdimas telah masuk periode ketiga sejak pertama kali dilaksanakan pada semester ganjil 2018/2019. Program ini merupakan pelaksanaan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, dan Relawan TIK Indonesia.  

Penandatanganan Kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia (25/12/2018)

Pada awalnya, tujuan tugas lapangan ini adalah untuk mempromosikan potensi sumber daya manusia, industri, dan pariwisata di daerah dengan memanfaatkan TIK. Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut akan berperan sebagai Agen Perubahan Informatika yang membantu promosi tersebut sekaligus menyiapkan relawan TIK lokal untuk dapat melanjutkan usaha promosinya. Tujuan harus dapat dicapai selama 14 minggu. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut:


Metode Relawan TIK Abdi Masyarakat

Saya memanfaatkan Google Classroom dalam kegiatan pembelajarannya, dengan tetap melakukan tatap muka di kelas selama 100 menit, sesuai dengan beban belajarnya sebesar 2 SKS. Ruang kelas Relawan TIK di Google Classroom yang dibuat pada bulan Februari 2020 itu digunakan untuk menyimpan bahan ajar dan pengumpulan tugas mata kuliah. Selama setengah semester, saya menugaskan mahasiswa untuk menemukan mitra penerima manfaat tugas lapangan, menganalisa lingkungan di mana mitra itu berada, dan menyusun modul praktikum dasar kerja informasi yang tepat diberikan kepada mitra tersebut. Sebagian mitra adalah Gerakan Pramuka Kwarcab Garut, dengan koordinator lokal Relawan TIK dari purna peserta Kursus Bina Usaha. Hal tersebut untuk menunjang upaya perintisan Satuan Karya Pramuka Informatika di Garut.

Komunikasi Tim Relawan TIK dengan Calon Mitra (2/3/2020)

Untuk memperkaya pengetahuannya, saya mendatangkan dua orang praktisi yang telah memanfaatkan informasi dengan TIK untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Praktisi pertama adalah Fahmi Taufiq Zain, alumni Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan praktisi penjualan online. Praktisi kedua adalah Liswanti Pertiwi, yakni Blogger asal Garut yang telah memiliki banyak pengalaman seputar edorsement produk. Materi dari praktisi diharapkan dapat memicu ide atau gagasan pada diri mahasiswa terkait pengetahuan dan ketetampilan yang akan disampaikan kepada mitranya. 

Kuliah Umum Relawan TIK bertajuk Kerja Informasi (24/2/2020)

Pelaksanaan tugas lapangan dilakukan secara berkelompok. Dari tiga kelas mata kuliah Relawan TIK, diperoleh 20 tim dengan jumlah personel antara 4 sampai 5 orang. Setiap personel tim diberi tugas penyusunan modul oleh ketua timnya. Modul dasar kerja informasi meliputi materi berikut ini yang merupakan bagian dari daur hidup kerja informasi: 
  1. Kendali informasi, yakni acuan nilai dan norma yang harus diperhatikan oleh pencipta konten;
  2. Masukan, yakni pencarian, pengambilan, dan pemilihan material dari internet atau dunia nyata menggunakan mesin pencari atau perangkat masukan pada smartphone;
  3. Pemrosesan, yakni pengolahan material menjadi konten / informasi dalam format mulitimedia yang diperlukan oleh pengguna;
  4. Penyimpanan, yakni penyimpanan konten pada simpanan internal, transfer konten ke simpanan lainnya, termasuk pencadangan ke cloud storage; dan
  5. Keluaran, yakni penyampaian konten kepada penggunanya melalui internet.
Sebelum mereka menjadi instruktur bagi mitra, terlebih dahulu saya menguji kemampuan mereka dalam melaksanakan daur hidup kerja informasi. Dalam kesempatan peringatan Safer Internet Day, saya tugaskan mereka untuk ikut serta dalam kampanye tersebut dengan membuat dan menyebarkan konten bertemakan Internet Aman. Kampanyenya ditemukan di Facebook dengan hastag #saferinternetday dan #komtiksttgarut. Tugasnya harus dilaporkan pada tanggal 11 Februari 2020.


Pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif Corona pertama kali di Indonesia. Pada tanggal 17 Maret 2020, muncul Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Menyikapi Surat Edaran tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi Garut membuat kebijakan yang mengharuskan penundaan kegiatan pembelajaran yang melibatkan aktivitas mobilisasi orang banyak atau yang membutuhkan aktivitas survei lapangan sampai tanggal 29 Mei 2020. Kondisi tersebut mengharuskan fase Pemberdayaan dari Relawan TIK Abdimas ini harus dilaksanakan secara daring.

Saya pun merubah teknik Pemberdayaan yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa dari offline menjadi online. Pelaksanaan tugas lapangan berupa pemetaan lokasi geografis objek industri dan wisata pada Google Maps ditiadakan. Kegiatan Pemberdayan difokuskan pada pembelajaran online, di mana personel tim secara bergantian menyampaikan materi dari modul praktikum Dasar Kerja Informasi yang telah dibuatnya kepada mitra. Saya memberi contoh kepada mahasiswa bagaimana teknik tersebut dilaksanakan dengan mudah dengan menggelar Kuliah Umum Relawan TIK kedua yang mengundang pembicara dari Kemenkominfo, ICTWatch, dan beberapa pengurus Relawan TIK Indonesia dari Poliwali Mandar, Bojonegoro, dan lainnya. Terdaftarnya Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam program Google Application for Education belasan tahun yang silam menyebabkan mahasiswa dapat menyimak Kuliah Umum Daring tersebut secara Live Stream.

Kuliah Umum Daring Relawan TIK (26/3/2020)

Pada tanggal 7 April 2020, Relawan TIK Indonesia menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Darurat Covid-19. Di dalam rapat, Relawan TIK Indonesia diajak oleh Pemerintah Pusat untuk ikut melakukan sosialisasi Covid-19 kepada masyarakat. Bahan sosialisasinya disediakan oleh Gugus Tugas dan dapat diakses dengan meng-klik di sini.

Pada tanggal 7 April 2020, saya menemui Kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut di Command Center. Selain untuk bersilaturahmi dengan Kepala Dinas baru, saya juga menyampaikan informasi kerjasama yang telah terjalin antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Diskominfo Garut, dan menyatakan kesiapan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam membantu Pemerintah mensosialisasikan informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat. Dalam kesempatan itu saya berkomitmen akan memobilisasi peserta mata kuliah Relawan TIK untuk membuat dan menyebarkan konten sosialisasi terkait Covid-19 kepada masyarakat melalui media sosial.

Pertemuan dengan Kepala Diskominfo Garut di Command Center (7/4/2020)

Menindaklanjuti rapat dengan Relawan TIK Indonesia dan Diskominfo Garut tersebut, saya membuat rencana baru tugas lapangan (online) setengah semester ke depan bagi peserta mata kuliah Relawan TIK. Saya memutuskan untuk menambah spesifikasi tugas lapangan / Pemberdayaan yang dilakukan oleh mahasiswa, yakni dengan menyisipkan materi sosialisasi Covid-19 di setiap sesinya dan melaporkan kegiatan tersebut melalui form laporan yang link nya disediakan oleh Relawan TIK Indonesia.


Tugas pertama dilaksanakan oleh mahasiswa pada pertemuan ke-9 perkuliahan yang diberikan tanggal 22 April 2020.

Classwork di Salah Satu Classroom Relawan TIK

Tahapan pelaksanaan tugas individu dan kelompoknya dapat dilihat dari slide berikut ini:


Ketersediaan smartphone dan quota data serta kualitas sinyal seluler menjadi hambatan para peserta pembelajaran / pemberdayaan online yang diselenggarakan oleh tim Relawan TIK. Oleh karenanya saya memberikan keleluasaan bagi peserta untuk menggunakan teknik atau platform TIK apa saja dalam pelaksanaannya. Oleh karenanya saya menemukan banyak tim melaksanakannya dengan Whatsapp, seperti yang dilakukan oleh tim Cloud 1. Pemanfaatan platform media sosial tersebut lajim dipraktikan dalam masa pemberlakuan Belajar di Rumah di banyak jenjang pendidikan.
       

Selain berbasis teks, ada pula yang menyajikan materinya dalam bentuk video tutorial, sebagaimana yang dilakukan oleh tim Cloud 2.


Aksi Relawan TIK Tanggap Bencana ini merupakan aksi kedua, setelah sebelumnya Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut pernah melaksanakannya saat terjadi banjir bandang pada tahun 2016. Dokumentasi kegiatannya bisa ditelusuri di Facebook dengan hastag #rtiktanggapbencana. Gambar berikut ini merekam kegiatan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat menangani perangkat komputer milik sekolah yang terdampak bencana yang ditinjau oleh kepala Diskominfo Garut. 

Relawan TIK Tanggap Bencana Banjir Bandang (22/9/2016-1/10/2016)

Minggu, 23 Desember 2018

Pembekalan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut


Semester ganjil 2018/2019 ini mahasiswa program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengambil mata kuliah pada kurikulum baru yang bernama KKN (Kuliah Kerja Nyata). Dalam rancangannya, pembelajaran terkait PkM (Pengabdian kepada Masyarakat) ini meliputi fase Persiapan pada semester genap dalam mata kuliah Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi), fase Pelaksanaan pada saat libur panjang atau semester antara, dan fase Evaluasi dalam mata kuliah KKN. 








Penerapan kurikulum baru dilaksanakan pada semester ganjil 2018/2019 sehingga keseluruhan fase harus dilaksanakan pada semester berjalan. Agar tidak mengganggu perkuliahan maka fase Pelaksanaannya dilaksanakan hanya lima hari dari umumnya waktu KKN yang berkisar satu hingga dua bulan. Sebagai penanggung jawab taktis dan operasional kegiatan pengajaran, saya menyusun proposal untuk diajukan kepada lembaga untuk menjelaskan bagaimana KKN akan dilaksanakan oleh program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Proposal tersebut dibahas dalam rapat pimpinan. Dalam kesempatan tersebut saya menjelaskan bagaimana rencana kegiatan yang telah dibuat sejalan dengan Standar Nasional PkM. Merespon pengajuan tersebut, rapat menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN di Sekolah Tinggi Teknologi Garut adalah multi disiplin yang harus melibatkan mahasiswa dari seluruh program studi. Dengan mempertimbangkan kondisi di mana program studi lainnya telah mengkonversi nilai kegiatan ekstra kurikuler menjadi nilai KKN pada semester berjalan, rapat memutuskan pelaksanaan KKN pada program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dapat dilaksanakan mono disiplin dalam bentuk kegiatan serupa yang dipilih oleh program studi dan dikelola oleh kepanitiaan dari kalangan mahasiswa.

Berdasarkan keputusan rapat pimpinan tersebut, saya memutuskan untuk menjadikan nilai kegiatan ekstra kurikuler Relawan TIK Abdi Masyarakat sebagai nilai KKN sejalan dengan misi PkM program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, yakni "Menyelenggarakan layanan informasi, teknologi, dan pengguna secara mandiri atau kolaboratif dan sukarela yang memberikan kuntungan kompetitif bagi masyarakat dan pemerintah dari pemanfaatan informasi dan teknologinya". Selanjutnya pada tanggal 2 November 2018, saya mengumpulkan perwakilan kelas untuk membentuk kepanitiaan mahasiswa. Saya pun mengundang ketua Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar kegiatan tersebut sinkron dengan program kerjanya dan dapat mengakses sumber daya penting yang dibutuhkan oleh lembaga. 


Setelah menunggu hampir satu bulan, nampaknya kepanitiaan mahasiswa yg telah dibentuk belum berjalan secara efektif, sementara waktu telah menuju ke penghujung semester ganjil 2018/2019. Setelah bertemu di kantor program studi diketahui ternyata personel panitia yang efektif bekerja hanya tiga orang. Dalam pertimbangan saya hal tersebut tidak cukup baik untuk keberlangsungan kegiatan pembelajaran penting tersebut. Saya memutuskan untuk membentuk kepanitiaan dari kalangan dosen dan mahasiswa. Akhirnya diputuskan ketua tim pengusulnya / pelaksana adalah Dr Dini Destiani. Ketua Relawan TIK Indonesia yang kebetulan adalah dosen program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dimasukan sebagai anggota pengusul. Kepanitiaannya melibatkan seluruh dosen yang menjadi pengurus Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan tiga mahasiswa yang duduk di kepanitiaan sebelumnya.

Setelah berhasil mendapatkan persetujuan dari ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Sekolah Tinggi Teknologi Garut, saya dan ketua pengusul menghadap ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dijelaskan kepada beliau bahwa pelaksanaan program Relawan TIK Abdi Masyarakat ini menggunakan biaya penuh dari mahasiswa dengan nominal sama dengan biaya Kerja Praktek yang jumlah SKS nya sama. Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sempat menanyakan kecukupan dana tersebut. Saya meyakinkan beliau bahwa kepanitiaan akan berusaha sedapat mungkin untuk mencukupkan biaya kegiatan yg mencapai 22 juta lebih tersebut. Saya pun menjelaskan bahwa dana yang terkumpul dari mahasiswa dan catatan penggunaannya ditangani oleh Asri Mulyani, salah satu dosen yang menjadi bendahara. Bukti pembayarannya diperiksa oleh staf program studi dalam proses pengesahan buku kendali setiap kelompok. Setelah mendapatkan kepastian tersebut, kegiatan ekstra kurikuler yang dikelola oleh dosen dan mahasiswa tersebut pada akhirnya disetujui. 

Setelah mendapatkan kepastian waktu penyelesaian pakaian dinas lapangan Relawan TIK dari mahasiswa yang menggarapnya, dan dengan mempertimbangkan Ujian Akhir Semester yang akan dilaksanakan pada minggu akhir bulan Januari 2019, saya mengarahkan agar pelaksanaan kegiatan peningkatan kemampuan / pembekalan dilaksanakan pada saat kampus sudah diliburkan. Kegiatan pembekalan pada tanggal 23-24 Desember 2018 tersebut cita rasanya seperti kegiatan KKN yang dilaksanakan pada saat libur panjang. Sebenarnya dalam rencana awal yang dibuat oleh program studi, kegiatan pembekalan ini dilaksanakan sebelum bulan Desember 2018. Namun karena harus menunggu keputusan lembaga dan gerak kepanitiaan sebelumnya, kegiatannya menjadi mundur. Sempitnya waktu menjadikan program Relawan TIK Abdimas ini semacam Mission Impossible. Tetapi sebagai penanggung jawab kegiatan pembelajaran, saya harus tetap optimis dan memastikan program tersebut berjalan sesuai rencana.


Beberapa tamu diundang dengan beberapa pertimbangan. Ketua pengurus pusat Relawan TIK Indonesia dan ketua pengurus Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat diundang untuk memperpanjang kerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kerjasama pertama dilaksanakan pada tanggal 16 Januari 2012 dan berakhir pada tahun 2017 yang silam. Kerjasama ini penting mengingat banyaknya manfaat yang diperoleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut dari Relawan TIK Indonesia, mulai dari kerjasama nasional hingga internasional terkait pengabdian kepada masyarakat serta reputasi dalam menerima kesempatan hibah dari Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia serta National Information Society Agency South Korea. 

Tamu lainnya yang diundang adalah Ipan Zulfikri, Relawan TIK Tasikmalaya yang ikut menggiatkan Pandu Desa. Dalam pertemuan sebelumnya pada tanggal 9 Oktober 2018 dengan Solihin di rumah makan Cibiuk, saya diminta untuk menjadi instruktur Pandu Desa untuk wilayah Garut. Bulan November 2018 undangan Workship Pandu Desa di Tasikmalaya pun tiba. Saya bersama dua mahasiswi peserta mata kuliah KKN berangkat ke lokasi. Sayangnya kegiatan tersebut tidak berhasil diikuti karena lokasi kegiatanya tidak berhasil ditemukan. Maksud mahasiswi dikutsertakan adalah agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dalam kegiatan KKN. 


Tamu lainnya adalah Dr Djadja Sardjana. Pada tahun yang silam beliau mengajak program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk melaksanakan kegiatan bersama di Tasikmalaya. Kebetulan fokus kegiatan beliau adalah blended learning dan program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengusung call-sign: the Power of Digital Culture, maka saya berkepentingan mengundang beliau untuk menjelaskan kepada dosen dan mahasiswa tentang bagaimana budaya digital diterapkan dalam pembelajaran melalui elearning atau dengan cara blended learning

Tamu lainnya yang diundang adalah Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk memperpanjang kerjasama sebelumnya. Dinas Koperasi dan UMKM kabupaten Garut untuk menindaklanjuti rencana pemberdayaan UMKM secara kolaboratif di Garut. Dinas Pariwisata kabupaten Garut untuk menunjang pelaksanaan catak biru penelitian Smart TIGER program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang menjadikan Tourism dan Industri penyertanya sebagai core business yang harus dimudahkan dengan aplikasi informatika. Forum Kelompok Masyarakat Informasi kabupaten Garut untuk pemanfaatan keluaran riset Smart TIGER terkait media informasi dan komunikasi yang dapat diakses oleh masyarakat. 

Penginapan untuk empat tamu sekaligus pembicara dipesankan oleh panitia pada tanggal 13 Desember 2018 untuk tanggal inap sesuai konfirmasi kedatangannya yakni tanggal 22 Desember 2018. Tamu pertama yang datang adalah Dr Djadja Sardjana. Saya agak telat menjemput beliau, karena banyak mahasiswa bimbingan yang datang selepas kegiatan Pemodalan Nasional Madani. Sebelum ke hotel, beliau meminta untuk memeriksa konseksi internet di lokasi kegiatan. Beliau diantarkan ke hotel Cipaganti menjelang Maghrib. Malam harinya selepas Isya beliau diajak makan malam di rumah makan Cibiuk. Beberapa rencana kerjasama penerapan teknologi Ingenio dalam praktek blended learning dibahas dalam kesempatan tersebut.


Fajar Eri Dianto (ketua pengurus pusat) dan Fajar Muharom (ketua pengurus wilayah Jabar) masih terjebak macet panjang di Nagreg. Keduanya baru sampai di Garut pukul 2 pagi dan tidur pukul 4 pagi. Sementara Ipan Zulfikri membatalkan kedatangan tanggal 22 Desember 2018 karena harus mengikuti kegiatan dulu di desa Mandalamekar Tasikmalaya. Datang ke Garut sekitar pukul 6 pagi. Saya mengajaknya untuk menjemput tamu yang menginap. Sekitar pukul 8 kurang saya membawa tamu dari Cipaganti ke Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ketua Relawan TIK Jawa Barat menyusul beberapa saat kemudian.

Sambil menunggu dimulainya acara, Fajar Eri Dianto mengenalkan Relawan TIK Indonesia kepada mahasiwa peserta program Relawan TIK Abdi Masyarakat. Beberapa saat kemudian acara pembukaan dimulai dengan laporan pelaksanaan yang diwakili oleh Leni Fitriani (ketua Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut). Dr Dini Destiani selaku ketua pelaksana kebetulan sedang melaksanakan ibadah Umrah. Dalam laporannya disampaikan perjalanan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia. Disebutkan bahwa kerjasama telah memberikan manfaat bersama, seperti pengukuhan Relawan TIK Garut oleh menteri Pembangunan Daerah Tertinggal yang menandai peluncuran buku C2C (Component to Cloud) yang merupakan modul KOMTIK (Kompetensi Relawan TIK) tingkat dasar. Selain itu kerjasama telah membukakan kiprah pada tingkat internasional, seperti kerjasama Korea Information Technology Volunteers (2013, 2014, 2015, 2017) dengan National Information Society Agency South Korea, dan Indonesian ICT Volunteers di Thailand kerjasama dengan International Telecommunication Union / United Nations. Pada tingkat nasional terbuka kerjasama dengan Majelis Muwasholah baina Ulama'il Muslimin dengan luaran berupa Sistem Informasi Geografis Pondok Pesantren Indonesia yang diluncurkan di Pondok Pesantren Lirboyo.


Setelah itu sambutan dari Relawan TIK Indonesia diwakili oleh ketua umum pengurus pusat. Dalam sambutannya tersebut disampaikan bahwa Sekolah Tinggi Teknologi Garut merupakan wadah pemikir (think-tank) dengan hasil berupa konsep-konsep yang berpengaruh bagi perkembangan Relawan TIK Indonesia baik di tingkat Jawa Barat ataupun nasonal. Termasuk di antaranya adalah konsep KOMTIK yang diterapkan dalam pembekalan dalam program Relawan TIK Abdi Masyarakat di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Peserta program dianggap sebagai peserta Pendidikan dan Pelatihan TIK Nasional angkatan Pertama yang langsung menerapkan KOMTIK nya di desa dengan luaran yang bisa diukur. Beliau berharap agar Sekolah Tinggi Teknologi Garut berkenan menjadi Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional Relawan TIK Indonesia untuk pengembangan sumber daya manusia Relawan TIK di Indonesia.

Pada akhirnya sambutan disampaikan oleh Dr Hilmi Aulawi (ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut) sekaligus membuka acara. Beliau mengucapkan terima kasih atas kehadiran perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika dan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil kabupaten Garut. Kehadiran perwakilan pemerintah daerah ini menjadi penting mengingat 91 Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang mengikuti pembekalan akan turun ke pemerintahan desa, lembaga pendidikan, dan UMKM sepanjang bulan Januari 2019. Pembekalan melibatkan pihak Bukalapak sesuai permintaan Dinas Koperasi dan Usaha Kecil kabupaten Garut. Sementara pembekalan terkait internet CAKAP sejalan dengan program Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut.

Stakeholders lainnya yang penting dan telah diundang namun berhalangan hadir adalah Dinas Pariwisata kabupaten Garut, terkait aplikasi informatika yang merupakan keluaran dari peta jalan riset Smart TIGER yang meletakan Tourism dan Industri lainnya sebagai core business di Garut. Selain itu juga Forum Komunitas Informasi Masyarakat Garut yang dapat memanfaatkan keluaran yang sama terkait media informasi dan komunikasi yang dapat diakses oleh  masyarakat di area Tourism, Indusries, Government, Education, dan Religious.

Beliau juga menyampaikan apresiasi kepada Dr Dini Destiani (ketua pelaksana) dan Leni Fitriani (ketua Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut) yang telah berusaha mewujudkan kegiatan, serta kepada pemateri nasional yang telah menyediakan waktu dan tenaga untuk datang ke Garut memberikan materi pembekalan bagi peserta program. Beliau merasa senang atas kepercayaan yang diberikan kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai Pusat Pendidikan dan Pelatihan Nasional Relawan TIK Indonesia yang menunjang fokus Perguruan Tinggi pada Pengabdian kepada Masyarakat. Diharapkan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Relawan TIK Indonesia juga diarahkan untuk dapat lebih bersinergi dengan Pemerintah Daerah, menjadi motor penggerak utama pembangunan Smart City di kabupaten Garut.


Setelah dibuka, dua perwakilan peserta dikukuhkan sebagai anggota Relawan TIK Indonesia. Selanjutnya dilaksanakan penandatangan piagam kerjasama oleh ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan ketua Relawan TIK Indonesia. Diserahkan pula piagam kerjasama kepada perwakilan Dinas Komunikasi dan Informatika serta Dinas Koperasi dan Usaha Kecil kabupaten Garut. 


Hari pertama adalah pembekalan materi umum seputar Pengantar Relawan TIK Indonesia, Pengantar TIK yang mengangkat Blended Learning, Pengantar Internet CAKAP, dan Pengantar Sistem Informasi Desa dan Kawasanyang disampaikan oleh pemateri nasional. Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut menaruh perhatian kepada peningkatan penerapan Blended Learning di kampus. Sebelumnya program Google Application for Education yang diterapkan di kampus lebih dari lima tahun telah memberikan kesempatan kepada dosen program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk mempraktekan Blended Learning dengan aplikasi Classroom dan Google Cloud Apps. Pengalaman tersebut disampaikan dalam acara pembekalan kepada Relawan TIK yang akan memberikan pelayanan di lembaga pendidikan. 


Hari kedua pembekalan diisi oleh instruktur dari kalangan dosen program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan pengurus Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Setiap kelompok Relawan TIK memiliki 5 personel yang terdiri dari ketua dan wakil kelompok, serta tiga anggota yang akan mengelola pelayanan untuk kelompok mitra penerima manfaat dari unsur lembaga pendidikan, pemerintahan desa, dan UMKM. Pembekalan dilaksanakan di laboratorium Ilmu Komputer untuk materi TIK pemerintahan desa, laboratorium Rekayasa Perangkat Lunak untuk materi TIK lembaga pendidikan, serta Sistem dan Teknologi Informasi untuk materi TIK UMKM. 


Secara keseluruhan materi yang disampaikan dalam pembekalan meliputi aplikasi informatika (pengetahuan dan teknologi) milik pemerintah (Bank Indonesia serta Pemerintah Republik Indonesia), perusahaan (Bukalapak, Ingenio), kampus (MIT, STTG), dan masyarakat (Relawan TIK Indonesia). Materinya sebagai berikut :

  1. TIK Umum, yang meliputi :
    • Pengantar Relawan TIK (Relawan TIK Indonesia), disampaikan oleh Fajar Eri Dianto
    • Pengantar TIK (Ingenio), disampaikan oleh Dr Djadja Sardjana
    • Pengantar Internet CAKAP (Kementrian Komunikasi dan Informatika), disampaikan oleh Fajar Muharom
  2. TIK Khusus Lembaga Pendidikan
    • Komputasi - Scratch (MIT), disampaikan oleh Sri Rahayu, M.Kom.
    • Kampus Digital 1 - Elearning (Google), disampaikan oleh Leni Fitriani, M.Kom.
    • Kampus Digital 2 - Sistem Pembayaran (STTG), disampaikan oleh Asri Mulyani, M.Kom.
  3. TIK Khusus Desa
    • Kantor Digital 1 & 2 - Sistem Informasi Desa dan Kawasan (Pemerintah Republik Indonesia), disampaikan oleh Ipan Zulfikri dan Ridwan Setiawan, M.Kom.
    • Kantor Digital 3 - Hosting Domain dan Web Desa (STTG), disampaikan oleh Dede Kurniadi, M.Kom.
    • Kantor Digital 4 - Peta Desa (Google Earth Outreach), disampaikan oleh Dewi Tresnawati, M.T.
  4. TIK Khusus Wirausaha
    • Wirausaha Digital 1 - Ecommerce (Bukalapak), disampaikan oleh Eri Satria, M.Si.
    • Wirausaha Digital 2 - Si APIK (Bank Indonesia), disampaikan oleh Yosep Septiana, M.Kom.