Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 13 Juni 2026

Bismillah


"Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan 'Bismillahirrahmanirrahiim', maka amalan tersebut terputus (kurang berkah)." (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami', Al-Abdul Haki dalam Al-Arba'in)

"Dengan menyebut nama" adalah tanda awal niat baik yang terlihat dari tangan dan kaki kanan yang bergerak mengawali perbuatan baik [1]. Namun, siapa nama yang harus disebut? Tentu saja "Allah". Jika bukan karena kehendak-Nya, niat dan gerakan awal tersebut tidak mungkin ada [2]. 

Cukup melihat wajah kebaikan Allah, tidak perlu melihat wajah siapa pun yang diciptakan-Nya. Setiap hamba yang sadar diri akan duduk menundukkan wajah keakuan dengan kekuatan rendah hati. Api Tuhan kemudian meleburkan wajah keakuannya, sehingga yang terlihat atau tersisa untuk dipikirkan dan dibaca di dalam hati hanya cahaya asma Tuhan. 

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. al-Alaq: 1)

Niat yang baik harus diwujudkan dengan cara yang baik [3], seupama tangan kiri yang mengikuti tangan kanan dan kaki kiri yang mengikuti kaki kanan. Cara baik mewujudkan perbuatan "Sang Maha Pengasih" yang bermanfaat bagi umat manusia seluruhnya dan perbuatan "Sang Maha Penyayang" yang bermanfaat bagi mereka yang beriman [4]. Memilih cara baik adalah bukti ketaatan yang hanya terwujud bila api Tuhan telah meleburkan keakuan [5].  

Dengan demikian, mulai dari niat dan cara, tidak ada selain Dia yang terlihat. Hal tersebut hanya bila niat dan cara baik mengikuti Nabi Muhammad SAW [6], berserah diri, menyerahkan keakuannya, demi hak Tuhan dan Utusan-Nya yang dicinta, karena "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".

"Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, serta bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya… maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimanapun amal perbuatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

#ratisejiwa

[1] "Termasuk sunnah adalah memulainya dengan kaki kananmu ketika masuk masjid, dan memulainya dengan kaki kirimu ketika keluar masjid." (HR. Al-Hakim)
[2] "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir: 28-29)
[3] "Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik..." (HR. Muslim)
[4] Abdullah bin Abbas berkata, "Ar-Rahman artinya Yang Maha Pemurah bagi seluruh makhluk-Nya, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang khusus bagi orang-orang yang beriman."
[5] "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku memperoleh petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: 'Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 11–14)
[6] "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)

Terinspirasi gambar semasa bujang yang ditempel di papan majalah dinding Madrasah Diniyah Bahrul Ulum. Saat itu, sahabat Generasi Muslim al-Muhajirin bertanya maksudnya, dan saya tdk menjawabnya. Tahun ini saya baru menyadari, ternyata gambar tsb selaras dengan tulisan Ibn Athaillah dalam Miftahul Falah wa Misbahul Arwah, setelah membacanya. Butuh puluhan tahun utk bertemu penjelasannya dari ulama Syadziliyah ini:
Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhûr (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

Rabu, 03 Juni 2026

Ketaatan Beragama

Agama adalah pedoman hidup untuk mewujudkan tatanan hidup yang baik. Diperlukan ketaatan pada pedoman tersebut untuk mewujudkannya. Ketaatan dengan cara apa pun dicapainya adalah baik karena berkontribusi mewujudkan tatanan tersebut pada level individu atau sosial. 

Pahala dan siksa adalah metode pendidikan umum yang paling awal dikenal untuk menciptakan ketaatan pada manusia dan hewan. Namun, ketaatan tidak lagi membutuhkan metode tersebut bila sudah menjelma menjadi kebiasaan atau timbul karena kesadaran. 

Di level tercerahkan, seseorang termotivasi untuk taat karena cinta, bukan lagi karena takut akan siksa yang tidak akan sanggup dihadapi atau mengharapkan pahala yang tidak layak diperoleh, atau bukan semata karena kebiasaan. Seseorang harus mengenal dan sadar sehingga cinta dan taat dengan sendirinya. Untuk itu, seseorang memerlukan material berupa ilmunya dan instrumen untuk mengukur capaiannya, yang semuanya itu juga disediakan oleh agama. 

Dengan demikian, tatanan hidup yang baik dapat diwujudkan dengan ketaatan beragama. Ketaatan tersebut dapat bertransformasi dari level awal yang digerakkan oleh takut akan siksa dan harap akan pahala, naik ke level menengah yang didasarkan pada kebiasaan dan kesadaran, hingga mencapai level tercerahkan yang sepenuhnya dimotivasi oleh ilmu dan cinta murni.

#persepsicahyana

Sabtu, 16 Mei 2026

Alien dan Kendaraan Besar


Keberadaan alien itu bukannya tidak diketahui oleh manusia, bahkan sudah lama diketahui.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk melata (dābbah) yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia menghendaki. (QS. Asy-Syura: 29)

Ada yg menarik dari ayat berikut:

Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak (dābbah) yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia selama ini tidak yakin pada ayat-ayat Kami (QS. An-Naml: 82)

Terlepas dari beragam tafsir, khususnya yang menganggapnya sebagai hewan besar, ulama sepakat bahwa makhluk ini bukan manusia, namun memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa manusia. Artinya, kecerdasan makhluk ini sangat tinggi. Namun, lain cerita bila hewan besar itu difahami saat ini sebagai kendaraan besar yang memiliki teknologi translasi bahasa.

Saat Perang Dunia II, suku-suku pedalaman di Pasifik yang belum pernah melihat teknologi menganggap pesawat tempur sebagai "burung raksasa". Dalam konteks ini, dābbah, yakni manusia, berada di dalam burung raksasa/pesawat. Apakah makhluk besar yang di masa depan akan keluar dari bumi itu, dābbah, atau kendaraannya, Allahu 'alam.

Tentang kendaraan besar yg dibahasakan hewan, menarik juga utk menyimak hadits berikut ini:

Dajjal akan keluar pada waktu merosotnya pemahaman agama dan mundurnya ilmu pengetahuan. Dia memiliki waktu selama 40 malam untuk menjelajahi bumi. Satu hari (pertama) masanya seperti setahun, satu hari (kedua) masanya seperti sebulan, satu hari (ketiga) masanya seperti satu pekan (Jumat), kemudian hari-hari sisanya sama seperti hari-hari kalian ini. Dan dia memiliki seekor keledai yang dia tunggangi, yang mana jarak (lebar) di antara kedua telinganya adalah empat puluh hasta. (HR. Imam Ahmad)

Lebar antartelinga mencapai 40 hasta (20 hingga 22 meter). Dalam perspektif masa kini, telinga sepanjang itu lebih mirip sayap pesawat. Dalam industri penerbangan modern, ukuran bentang sayap selebar itu tergolong dalam kategori pesawat ukuran sedang hingga kecil, seperti jet pribadi Falcon 8X/Bombardier Challenger dan taksi terbang buatan Cina V5000. Dengan tambahan hadits berikut ini, kita melihat sosok Dajal ini seperti seorang eksekutif yg bepergian dgn jet pribadinya, dan membuat banyak orang melayani segala kepentingannya karena ketergantungan pada teknologi rekayasa alam yang dimilikinya:

"Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?'' Beliau menjawab: 'Seperti hujan yang didorong oleh angin kencang. Ia mendatangi kaum, lalu mengajak mereka, dan mereka beriman serta mematuhinya. Ia memerintahkan langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman, membuat ternak mereka kembali dengan punuk lebih panjang, susu lebih penuh, dan lambung lebih lebar." (HR. Muslim)

Kecepatan badai atau awan yang didorong angin kencang umumnya berkisar antara 60 hingga 120 km/jam. Teknologi penerbangan manusia saat ini tidak hanya setara, tetapi juga telah melompat jauh melampaui kecepatan analogi angin tersebut. Misalnya, pesawat komersial: berkecepatan jelajah rata-rata 850–900 km/jam (lebih cepat dari badai tornado terkuat sekalipun).

Keyakinan rasionalis bahwa yg ditunggangi Dajjal adalah pesawat dikuatkan oleh kitab eskatologi Bihar al-Anwar karya Ulama Al-Majlisi:

"Ia (keledai Dajjal) akan berhenti pada suatu tempat, lalu diserukan kepada manusia: 'Kemarilah dan masuklah ke dalam perut keledai ini!'' Maka orang-orang pun masuk ke dalam lambungnya melalui sebuah pintu, dan ketika kendaraan itu hendak berangkat, keberangkatannya akan diumumkan dengan suara keras…"

Semua ulama sepakat bahwa Dajjal adalah manusia, bukan alien. Namun, apa yang dikendarainya masih bisa diperdebatkan, sehubungan dengan keterbatasan masyarakat di masa lalu dalam menjangkau pencapaian manusia saat ini dan di masa depan. Sementara Tuhan berbicara melalui perantaraan lisan utusan Nya dgn bahasa yg difahami oleh manusia saat ini:

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka ..." (QS. Ibrahim: 4)

Jika pada abad ke-7 Nabi SAW bersabda bahwa Dajjal akan mengendarai "kendaraan berbahan baja yang digerakkan oleh mesin jet berbahan bakar avtur dan terbang di atas awan", masyarakat Arab Jahiliyah saat itu tidak akan bisa memahaminya. Penyebutan istilah modern yang belum ada wujudnya justru akan membuat wahyu dianggap sebagai kegilaan atau omong kosong, sehingga merusak esensi ujian keimanan. 

Oleh karena itu, ketika menggambarkan kendaraan masa depan yang memiliki bentang sayap lebar, bergerak sangat cepat, dan membawa manusia di dalamnya, metafora yang paling logis dan mudah dibayangkan oleh imajinasi manusia zaman itu adalah "keledai raksasa yang bentang telinganya puluhan hasta dan bisa melompat ke awan".

Allah sengaja tidak menyebut nama teknologi modern secara spesifik, melainkan memberikan isyarat umum yang fleksibel agar maknanya baru terbukti ketika teknologinya sudah tercipta. Contoh nyata ada pada Surat An-Nahl Ayat 8:

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya... Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”

Frasa "apa yang tidak kamu ketahui" adalah ruang linguistik yang Allah sediakan bagi manusia masa depan untuk mengisi ruang tersebut dengan penemuan seperti mobil, kereta, kapal selam, hingga pesawat terbang.

Kembali ke makhluk cerdas yang keluar dari perut bumi, ada teori yang menyatakan bahwa alien atau makhluk cerdas non-manusia hidup bersembunyi di dalam perut bumi atau di bawah samudra yang dikenal secara ilmiah dalam studi ufologi sebagai Cryptoterrestrial Hypothesis. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh penulis Mac Tonnies pada tahun 2010. Inti teorinya, makhluk cerdas yang kita sangka "alien dari luar angkasa" sebenarnya adalah ras asli Bumi (indigenous) yang telah berevolusi secara paralel atau mendahului manusia. Karena kalah jumlah populasi dengan manusia, mereka memilih bersembunyi di bawah tanah (underground) atau di gua-gua raksasa yang tidak terjamah. Mereka sengaja menggunakan teknologi kamuflase dan membiarkan manusia mengira mereka datang dari bintang jauh agar rumah asli mereka di dalam Bumi tidak diusik.

Hanya waktu yang akan menunjukkan bagaimana pertanyaan terkait nubuwahan akhir zaman akan terjawab. 

#persepsicahyana

Kamis, 07 Mei 2026

Rambut Bercat


Guru mempersoalkan rambut bercat untuk siswi berhijab sampai mengguntingnya itu berlebihan bila tidak ada aturan sekolah yang melarang. Memperkarakan tindakan tersebut sampai ke pengadilan itu juga berlebihan, karena niat gurunya pasti baik. 

Bersolek itu sifat alami perempuan; tidak perlu dipersepsikan negatif. Bila dengan bersolek kaum perempuan mau bersekolah, maka biarkan saja begitu. Lebih baik bersolek untuk ke sekolah daripada ke tempat yang buruk. Perempuan mau bersekolah sampai jenjang atas itu sudah luar biasa. Tinggal bagaimana memahamkan kepada mereka bahwa kecantikan itu harus seiring sejalan dengan kemampuan dan digunakan untuk kebaikan.

Buat para ortu, ga usah berkepanjangan dengan kasus seperti ini. Niat guru selalu baik, walau caranya tdk tepat. Muliakan niat baiknya. Anak saya juga pernah dibilang merusak citra sekolah gara-gara sepatunya berlubang. Saya tidak mempersoalkannya, walau pernyataannya tidak baik, semata karena memuliakan guru.

Ortu siswa lebih baik fokus saja pada masalah yang lebih penting dan terjadi di banyak sekolah negeri, seperti besarnya biaya sumbangan yang diminta oleh komite dari ortu dan bahkan menyaingi sumbangan kampus, diskriminasi siswa berdasarkan uang sumbangan dan pelunasannya, arahan bagi lulusan yang lebih disesuaikan dengan kepentingan sekolah daripada minat anak dan kepentingan keluarganya, dan lainnya.

#persepsicahyana
#biograficahyana

Minggu, 26 April 2026

Patuh dan Tawadhu


Seorang hamba selalu menerima dan menaati perintah Tuhan di saat senang maupun susah. Semua perintah ini bertujuan untuk membangkitkan ilmu dan kebijaksanaannya, sehingga muncul keutamaan dan kelayakannya sebagai pemimpin di Bumi.

A servant always accepts and obeys God's commands, in times of joy and sorrow. All these commands are intended to awaken his knowledge and wisdom, thereby revealing his virtue and worthiness as a leader on Earth.

يتقبل العبد أوامر الله ويطيعها دائماً، في السراء والضراء. وكل هذه الأوامر تهدف إلى إيقاظ علمه وحكمته، فتُظهر بذلك فضائله وجدارته كقائد على الأرض.

#persepsicahyana

Dalam menerima ujian-Nya, hamba Tuhan akan patuh dan tawadhu, sehingga tidak seperti Iblis yang membangkang dan menyombongkan diri. Kepatuhan dan tawadhu merangkum semua keutamaan makhluk, termasuk malaikat.

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 30). Kemudian, Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!" (QS. Al-Baqarah: 31). Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana" (QS. Al-Baqarah: 32).

Dia (Allah) berfirman, "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!" Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, dia berfirman, "Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 33). Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri sehingga ia termasuk golongan kafir (QS. Al-Baqarah: 34).

#ratisejiwa

Sabtu, 25 April 2026

Dekat dan Jauh


Jarak dapat menyebabkan prasangka dan konflik, sementara saling pengertian dan memberi dapat menumbuhkan kedekatan.

Distance can lead to prejudice and conflict, while mutual understanding and giving can foster closeness.

قد يؤدي البُعد إلى التحيّز والصراع، بينما يُمكن للتفاهم المتبادل والعطاء أن يُعزّزا التقارب.

Orang beriman mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari & Muslim). Ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain (HR. Bukhari), atau satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR. Muslim). 

Bila kecintaan itu telah luntur dan bahkan tergantikan oleh kebencian, maka saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian (HR. Tirmidzi) dan membuat saling mencintai (HR. Bukhari). Berjamaah (bersatu) dan menjauhi perpecahan adalah keharusan, karena setan bersama orang yang sendirian (HR. Tirmidzi). Setan itu menimbulkan perselisihan dan musuh yang nyata (QS. Al-Isra': 53).

#persepsicahyana #ratisejiwa

Jumat, 24 April 2026

Lintasan Pikiran Adalah Perintah


Dari sudut pandang seorang hamba Tuhan, apa pun yang terlintas dalam pikiran adalah perintah yang harus dilaksanakan dengan cara atau dalam batasan yang dikehendaki Tuhan. 

From the perspective of a servant of God, whatever comes to mind is a command that must be carried out in the manner or within the limits that God desires.

من منظور خادم الله، فإن كل ما يخطر على البال هو أمر يجب تنفيذه بالطريقة أو ضمن الحدود التي يريدها الله.

#persepsicahyana

Bagi hamba Tuhan, semua lintasan pikiran adalah isyarat perintah Tuhan, bahkan bila lintasan itu timbul dari syahwat atau seperti penyakit hati.

Contohnya:

"Apabila salah seorang di antara kalian melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatinya, maka segeralah datangi istrinya! Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu." (HR. Muslim no. 1403, At-Tirmidzi)

Isyarat perintah Nya: terpikat hati oleh wanita lain. Pelaksanaannya: mendatangi istrinya untuk beroleh pahala dari Tuhan. 

"Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkan syahwatnya pada tempat yang haram (zina), bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada jalan yang halal (istri), maka ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim no. 1006)

Contoh lain:

“Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: (1) Seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia menghabiskannya di jalan yang benar, dan (2) Seseorang yang diberikan hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 1409 & Muslim no. 1352)

Isyarat perintah-Nya: hasad pada seseorang. Pelaksanaannya: berdoa atau berharap, bahkan bila dia tidak termasuk keduanya.

"Jika salah seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya." (HR. Ahmad).

"Hamba yang dikaruniai Allah ilmu namun tidak dikaruniai harta, lalu ia jujur niatnya dengan berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal seperti amalan si fulan (orang pertama).' Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama … Hamba yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu, lalu ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal (buruk) seperti si fulan (orang ketiga)'. Maka dengan niatnya itu, dosa keduanya sama." (HR. At-Tirmidzi)

Konsep tsb adalah kimia spiritual—mengubah "logam rendah" (dorongan nafsu atau penyakit hati) menjadi "emas" (amal saleh dan pahala) melalui pemahaman koridor syariat. Dari sudut pandang seorang hamba, pikiran tidak lagi dianggap sebagai gangguan acak, melainkan sebagai sinyal navigasi. Ketika pikiran muncul, seorang hamba tidak sekadar mengikuti arus pikiran tersebut, melainkan bertanya: "Ke arah mana Tuhan ingin aku mengalihkan energi ini?"

Dalam teologi Islam, fenomena ini sering disebut dengan manajemen lintasan pikiran (khawatir). Saya menggambarkannya sebagai "perintah" yang harus dieksekusi melalui kanal yang tepat. Imam al-Ghazali membahasnya secara khusus di dalam Minhajul Abidin, mengkategorikannya menjadi lintasan yang baik dan yang buruk. 

Esensi dari hadis-hadis yang dikutip menunjukkan bahwa manusia tidak diminta untuk mematikan perasaannya secara total, melainkan untuk merekayasa arahnya. Islam mengakui bahwa manusia punya rasa lapar, syahwat, dan rasa iri. Tuhan tidak menghukum munculnya perasaan tersebut selama tidak diubah menjadi tindakan haram. Seorang hamba yang memahami ini tidak akan tenggelam dalam rasa bersalah saat pikiran buruk muncul. Sebaliknya, ia langsung beraksi melawan pikiran tersebut.

Dengan paradigma ini, hidup menjadi sangat dinamis. Tidak ada ruang kosong. Setiap detik, "lintasan pikiran" adalah bahan baku untuk membangun istana di akhirat. Ini adalah bentuk optimisme tingkat tinggi: bahwa setiap gerakan batin, sekecil apa pun, adalah peluang untuk meraih ridha-Nya jika dikelola dengan ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali, lintasan ini bersumber dari Tuhan bila tentang Ketuhanan Nya, dari Malaikat bila tentang amal saleh, dari Setan bila tentang keburukan yg mudah dihilangkan dgn dzikr, dan dari Syahwat bila dorongannya sulit dihilangkan. Lintasan tsb menguji arah ketaatan kita, apakah kepada Tuhan atau selain Nya? Bila semua lintasan dipersepsi sebagai perintah Tuhan, maka kita harus mengambil cara pelaksanaan yang sesuai dengan-Nya agar terbukti menaati-Nya. 

#ratisejiwa