Hidayah adalah penerang hati, seperti matahari yg menyinari bumi. Sementara dosa menggelapkan hati, seperti awan gelap yg menutupi matahari. Kekuatan hitam yg menunggangi syahwat manusia tinggal dalam bayangan gelapnya. Setan, sang kekuatan gelap, membisikan kejelekan dalam hati manusia.
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ . مَلِكِ النَّاسِۙ . اِلٰهِ النَّاسِۙ . مِنۡ شَرِّ الۡوَسۡوَاسِ ۙ الۡخَـنَّاسِ . الَّذِىۡ يُوَسۡوِسُ فِىۡ صُدُوۡرِ النَّاسِۙ . مِنَ الۡجِنَّةِ وَالنَّاسِ
Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhannya manusia, Raja manusia, Sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia." (QS. An-Nas: 1-5)
Bila penunggang gelap itu benar-benar menguasai syahwat, maka hawa nafsu pun menjadi kuat. Manusia, sang raja hati, menjadi berlebih-lebihan dalam segala sesuatu, hingga melabrak batasan dan jatuh ke dalam maksiat yg mendatangkan kegelapan baru. Perlahan, kekuasan berpindah, dari manusia kepada kekuatan gelap. Manusia yg masih hidup hatinya akan menyesal.
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِيٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. Yusuf: 53)
Bila kekuatan gelap berkuasa di dalam hati, nurani, sang Hakim di dalam Hati, menjadi tertutupi, seperti tawanan yg tdk dibiarkan melihat dan berkata-kata. Saat itulah hati mulai sekarat.
اسْتَفْتِ قَلْبَكَ، اسْتَفْتِ نَفْسَكَ، الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ، وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ، وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْك
Mintalah fatwa kepada hatimu, mintalah fatwa kepada jiwamu. Kebaikan adalah apa yang membuat jiwa tenang dan hati tenteram. Sedangkan dosa adalah apa yang meragukan jiwa dan menyesakkan dada, meskipun orang-orang memberikan fatwa (membenarkan) kepadamu (HR. Ahmad dan Ad-Darimi).
Manusia sangat sulit mendengarkan suara nurani dalam hatinya. Akibatnya, tidak ada perbedaan rasa antara berbuat baik dan buruk. Bahkan segala perasaan yg datangnya dari hawa nafsu terasa nikmat dan indah.
تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ
Fitnah-fitnah (godaan) akan dipaparkan ke dalam hati manusia seperti tikar (yang dianyam) seutas demi seutas. Hati mana pun yang menyerapnya (menerimanya), niscaya akan dititikkan padanya satu noda hitam. Dan hati mana pun yang mengingkarinya (menolaknya), niscaya akan dititikkan padanya satu noda putih. Hingga hati manusia terbagi menjadi dua macam: Pertama, hati yang putih bersih seperti batu yang licin, ia tidak akan lagi terkena bahaya fitnah selama masih ada langit dan bumi. Kedua, hati yang hitam legam lagi kusam, seperti bejana yang tertelungkup (terbalik), ia tidak lagi mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran, kecuali apa yang disukai oleh hawa nafsunya (HR. Muslim, no. 144).
Perlahan kegelapan mulai menyelimuti. Hawa nafsu tdk hanya menguasai hati, tetapi juga jasad. Saat hati masih sekarat, buruknya hati masih tertutupi oleh sikap lahir yg baik. Namun bila hati benar-benar telah mati, perilaku lahir akan seburuk hati, sejalan dgn hawa nafsu.
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Ingatlah, sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasadnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati (HR. Bukhari dan Muslim).
اَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَاَحْيَيْنٰهُ وَجَعَلْنَا لَهٗ نُوْرًا يَّمْشِيْ بِهٖ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَّثَلُهٗ فِي الظُّلُمٰتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكٰفِرِيْنَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, dan ia tidak dapat keluar darinya? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan. (QS. al-An'am Ayat 122)
Dekat dgn ulama adalah obat hati. Pengaruhnya seperti lentera minyak yg berhasil mengusir kegelapan dan memberi celah sedikit bagi nurani. Fatwa nurani kembali terdengar, walau lahir masih berbuat keburukan.
Fatwa nurani adalah tali pegangan yg mengarah pada jalan yg benar. Dalam kegelapan, jiwa menjadi lemah, sehingga membutuhkan pegangan utk berdiri dan berjalan menuju kebenaran. Kontras dgn kekuatan gelap yg semakin perkasa.
إِنَّ مَثَلَ الْعُلَمَاءِ فِي الْأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ، يُهْتَدَى بِهَا فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، فَإِذَا انْطَمَسَتِ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ تَضِلَّ الْهُدَاةُ
Sesungguhnya perumpamaan ulama di bumi adalah seperti bintang-bintang di langit yang menjadi petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut. Maka apabila bintang-bintang itu padam, niscaya hampir saja para penunjuk jalan (pengembara) akan kehilangan arah (tersesat) (HR. Ahmad).
Namun minyak itu dapat habis, sehingga terangnya berbatas waktu. Saat hati kembali gelap, kekuatan gelap kembali menguatkan hawa nafsu. Bila kembali gelap dan semakin gelap, kekuatan gelap bisa memadamkan cahaya lentera. Ilmu tdk lagi bisa menolong.
اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا
Maka apakah mereka tidak menghayati Al-Qur'an, ataukah hati mereka sudah terkunci? (QS. Muhammad: 24)
Taubat, iman, dan amal saleh menghapus dosa. Perlahan hati kembali terang, seperti cahaya matahari yg mulai menembus awan gelap yg perlahan sirna. Kekuatan gelap beranjak pergi, pindah ke ruang hati lain yg masih berbayang gelap.
اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. al-Furqan: 70)
وَاِنِّي لَغَفَّارٌ لِّمَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدٰى
Dan sungguh, Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar (mendapat petunjuk) (QS. Thaha: 82)
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ صُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
Sesungguhnya seorang hamba, apabila melakukan suatu dosa, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya, memohon ampun (beristigfar), dan bertaubat, maka hatinya dibersihkan (dibuat mengkilap kembali). Namun jika ia kembali berbuat dosa, maka titik hitam tersebut akan bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ar-raan (penutup) yang disebutkan Allah dalam firman-Nya (QS. Al-Mutaffifin: 14): 'Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka' (HR. Tirmidzi)
Saat hati bersinar terang, kekuatan gelap itu terbakar dan sirna. Manusia kembali menjadi Raja hati yg berkuasa. Kekuasaannya dikokohkan oleh Panglima Hati bernama ilmu. Semua amal harus tunduk kepada ilmu, sebab ilmu adalah imamnya amal. Ketundukan itu akan menguat di bawah sinaran cahaya hidayah, melemah di dalam bayangan kegelapan dosa, dan sirna dalam hati yg mati.
Muadz bin Jabal radhiyallahu 'anhu berkata:
الْعِلْمُ إِمَامُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ تَابِعُهُ
Ilmu adalah imamnya amal, sedangkan amal adalah pengikutnya.
---------------
اللَّهُمَّ نَوِّرْ قُلُوبَنَا بِنُورِ هِدَايَتِكَ كَمَا نَوَّرْتَ الْأَرْضَ بِنُورِ شَمْسِكَ أَبَدًا أَبَدًا
Ya Allah, terangilah hati kami dengan cahaya hidayah-Mu sebagaimana Engkau menerangi bumi dengan cahaya matahari-Mu selamanya.
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (karunia). (QS. Ali Imran: 8)
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي بَصَرِي نُورًا، وَفِي سَمْعِي نُورًا، وَعَنْ يَمِينِي نُورًا، وَعَنْ يَسَارِي نُورًا، وَفَوْقِي نُورًا، وَتَحْتِي نُورًا، وَأَمَامِي نُورًا، وَخَلْفِي نُورًا، وَاجْعَلْ لِي نُورًا
Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya pada penglihatanku, cahaya pada pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, dan jadikanlah cahaya untukku
(HR. Muslim).
#ratisejiwa