Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 15 Agustus 2026

Lenyap


Makna lenyap di antara orang-orang yg menyakiti dalam konteks melayani adalah ikhlas ketika dijadikan medium tempat manusia melampiaskan keinginan utk menyakiti; atau dalam konteks merespon adalah bersikap ridha dgn melihat semua kepahitan yg dirasakan sebagai hidangan dari Nya yg harus dinikmati dgn suka cita dan tdk dicela; atau dalam konteks memperoleh adalah fana dgn menyaksikan segala tapak perbuatan Nya pada apapun, sehingga tersingkap dan terasa manis Kemahaan-Nya.

The meaning of vanishing among those who hurt, in the context of serving, is sincerity (Ikhlas) when being used as a medium for others to vent their desire to inflict pain; or in the context of responding, it is contentment (Ridha) by viewing all felt bitterness as a feast from Him to be enjoyed with joy and without complaint; or in the context of attaining, it is annihilation of self (Fana) by witnessing every trace of His actions in everything, so that the sweetness of His Supreme Majesty is unveiled and felt. 

«مَعْنَى الاِخْتِفَاءِ بَيْنَ الَّذِينَ يُؤْذُونَ فِي سِيَاقِ الخِدْمَةِ هُوَ الإِخْلَاصُ عِنْدَمَا يَكُونُ المَرْءُ وَسِيطًا لِتَفْرِيغِ رَغَبَاتِ النَّاسِ فِي الإِيذَاءِ؛ أَوْ فِي سِيَاقِ الاِسْتِجَابَةِ هُوَ الرِّضَا بِرُؤْيَةِ كُلِّ مَرَارَةٍ مَحْسُوسَةٍ كَمَائِدَةٍ مِنْهُ تُسْتَمْتَعُ بِهَا بِسُرُورٍ وَلَا تُذَمُّ؛ أَوْ فِي سِيَاقِ النَّيْلِ هُوَ الفَنَاءُ بِمُشَاهَدَةِ كُلِّ آثَارِ أَعْمَالِهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى يَنَكِشَفَ حَلَاوَةُ جَلَالِهِ وَيُحَسَّ بِهَا.»

 #persepsicahyana #ratisejiwa

Minggu, 09 Agustus 2026

Tanda-Tanda dalam Intensitas Biner

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran: 190-191)

Pasangan langit-bumi mewakili naik-turun.

"Ingatlah ketika Allah berfirman: 'Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu ke akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku...'" (QS. Ali 'Imran: 55)

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesudah dekat saatnya putra Maryam akan turun di tengah-tengah kamu sekalian sebagai hakim yang adil..." (HR Muslim)

Ibnu Katsir, At-Tabari, Al-Qurtubi, dan lainnya berpendapat bahwa diangkat dan turun itu artinya fisik dan ruh nya naik ke atas langit dan turun ke bumi. Jadi bisa difahami, kejadian tsb menggambarkan naik (+) dan turun (-). 

Pasangan malam-siang mewakili ada dan tiada tanda.

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu..." (QS. Al-Isra': 12)

Dijelaskan dalam Tafsir Jalalain, bahwa yg terhapus adalah cahaya, sementara dalam Ibn Katsir yg terhapus adalah fisik bulan. Jadi bisa difahami ada/tiada cahaya/bulan. Jika keberadaan bulan disimbolkan 1, maka ketiadaannya adalah 0. 

Bagi orang berakal, konsep ada dan tiada (1/0), serta naik-turun (+/-) yg mungkin terjadi dalam kondisi biner tsb menjadi tanda-tanda penting utk mengungkap Sunatullah. Misalnya, kaki yg bergerak merupakan kombinasi kontraksi (1) dan relaksasi (0) yg kecepatannya dipengaruhi oleh akselerasi (+), dan pelambatannya dipengaruhi oleh deselerasi (-). 

Jika dimasukkan ke dalam rumus dasar kecepatan (v), maka jarak (s) ditentukan oleh berapa banyak untaian kode biner (0/1) langkah kaki yang tercipta, sedangkan waktu (t) ditentukan oleh seberapa kuat intensitas gaya (+/-) yang mendorong atau menahan gerakan tersebut.

Jika diasumsikan sistem bekerja pada ruang dimensi keadaan (state space) terkontrol: 

B in {0, 1} : Variabel Biner Eksistensi (1 = Terang/Ada, 0 = {Gelap/Tiada}.

I in {-1, +1} : Vektor Intensitas Dinamika (-1 = {Turun/Deselerasi}, +1 = {Naik/Akselerasi}.

v0 : Kecepatan dasar sistem atau kecepatan homeostasis makhluk hidup (m/s).

delta_a : Koefisien akselerasi biolistrik otot (m/s^2).

Fungsinya: v(t) = B.(v0+I.delta_a.t)

Kode Python:

def hitung_kecepatan_ai(B, I, v0, delta_a, t):
    # Validasi input biner dan vektor intensitas
    if B not in [0, 1] or I not in [-1, 1]:
        raise ValueError("Input tidak sesuai dengan matriks biner Sunatullah.")
    # Proses pengolahan sinyal di dalam neuron saraf buatan
    z = B * (v0 + I * delta_a * t)
    # Fungsi Aktivasi Linear Terbuka (Membatasi kecepatan tidak minus secara fisik)
    v_output = max(0.0, float(z))
    return v_output

# --- SIMULASI PARAMETER SISTEM ---
# Misal: Kecepatan dasar = 2.0 m/s, Akselerasi = 0.5 m/s^2, Waktu berjalan = 4 detik
v0_dasar = 2.0
percepatan = 0.5
waktu = 4

# Tiga skenario kondisi alam biner
kecepatan_malam = hitung_kecepatan_ai(B=0, I=-1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)
kecepatan_naik = hitung_kecepatan_ai(B=1, I=1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)
kecepatan_turun = hitung_kecepatan_ai(B=1, I=-1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)

# Hasil komputasi sistem
print(f"--- HASIL SIMULASI LOGIKA BINER ---")
print(f"Kondisi Istirahat (B=0, I=-1) : {kecepatan_malam} m/s")
print(f"Kondisi Naik (B=1, I=+1) : {kecepatan_naik} m/s")
print(f"Kondisi Turun (B=1, I=-1) : {kecepatan_turun} m/s")

#persepsicahyana

Selasa, 04 Agustus 2026

Nikmat Penjagaan Allah


Dua nikmat penjagaan Allah yg sangat besar: nikmat ditutupinya kekurangan dan nikmat dipersulit jalan menuju kerusakan.

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, nafsu seperti kuda tunggangan atau anjing buruan. Kuda atau anjing tersebut tidak boleh dibunuh, tetapi harus dilatih (riyadhah) dan dikendalikan agar penunggangnya (akal dan hati) dapat sampai ke tujuan dengan selamat.

Tanpa pengendalian itu, manusia terjerumus pada dosa yg dapat menjadi aib di dunia dan akhirat. Sekelas Nabi saja tdk bisa melenyapkan hawa nafsunya. Nabi Yusuf AS bersabda, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku..." (QS. Yusuf: 53)

Wajarlah bila manusia biasa berdoa, "Ya Allah, tutupilah auratku (keburukan/aib/kekuranganku) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut." (HR. Abu Dawud & Ibn Majah)

Semoga Allah SWT kelak mengabulkannya, sesuai firman Nya, "Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu." (HR. Bukhari & Muslim)

Namun ampunan itu tdk berlaku bagi mereka yg tdk malu dgn aibnya tsb, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan mujaharah (terang-terangan/mengumbar dosa). Dan sesungguhnya di antara bentuk mujaharah adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya—padahal Allah telah menutupi perbuatannya—dia berkata: 'Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.' Padahal semalaman Rabbnya telah menutupi aibnya, tetapi pada pagi hari dia justru menyingkap tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhari & Muslim)

Selain berdoa, kita dapat memperoleh nikmat tsb dgn menutupi aib orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)

Tertutupinya pandangan orang lain dari aib kita adalah nikmat penjagaan Allah yg besar. Cara mensyukurinya adalah seperti yg ditunjukkan oleh Ibn Athaillah, "Barangsiapa memuliakanmu, sungguh ia hanya memuliakan indahnya penutup Allah yang ada padamu. Maka pujian itu ditujukan kepada Allah yang menutupi aibmu, bukan kepada dirimu yang dipenuhi kekurangan." (al-Hikam)

Hawa nafsu selalu mengajak kpd perbuatan buruk. Kita tdk akan sepenuhnya sanggup menanganinya dan memerlukan penjagaan Allah. Hadirnya Allah membuat pintu keburukan tertutup, walau kaki telah melangkah ke sana, baik karena kesadaran berdasarkan ilmu atau rasa tdk nyaman. Sekuat apapun hawa nafsu membuka pintunya, Allah tdk membiarkannya terbuka. 

"Sesungguhnya Allah SWT benar-benar menjaga hamba-Nya yang beriman dari (fitnah/kelebihan) dunia—padahal hamba itu mencintainya—sebagaimana kalian menjaga orang yang sakit di antara kalian dari makanan dan minuman (yang membahayakan baginya)." (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu." (HR. Tirmidzi). Di antara cara menjaga Allah adalah dgn menjaga salat wajib. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar" (QS. Al-Ankabut: 45). 

#ratisejiwa


Sabtu, 25 Juli 2026

Tiga Imam yang Tidak Saya Sukai

Saya suka melaksanakan salat Jum'at di masjid yg berbeda. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga jenis khatib sekaligus imam salat Jum'at yg tdk saya sukai: 

1. TUKANG PAMER

Khatib ini tenggelam dgn kondisinya sendiri, memamerkan kondisi spiritualnya dlm tangisan dan lamanya gerakan atau bacaan, lupa kondisi jema'ahnya.

Padahal Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka ringankanlah (salatnya). Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Dan jika salah seorang dari kalian salat sendiri, maka panjangkanlah sesukanya." (HR. Bukhari no. 703 & Muslim no. 467).

Al-Hasan Al-Bashri (Wafat 110 H) mengkritik fenomena orang yang sengaja memperlihatkan tangisan dan khusyuknya di depan publik: "Dahulu, seorang laki-laki menangis karena takut kepada Allah di dalam rumahnya, sementara istrinya yang berada di sisinya tidak mengetahuinya. Ada pula orang yang menghafal Al-Qur'an, tetapi tetangganya tidak menyadarinya... Namun sekarang, aku melihat orang-orang menjadikan kesedihan dan tangisannya sebagai barang dagangan untuk diperlihatkan kepada manusia." (Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad)

Ibnu Al-Jauzi (Wafat 597 H) dalam kitab fenomenalnya, Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), beliau menguliti secara khusus tipu daya setan pada para imam, khatib, dan ahli ibadah: "Di antara tipu daya Iblis kepada para imam dan penceramah adalah membuat mereka merasa bahwa tangisan keras dan suara parau mereka di atas mimbar adalah tanda keikhlasan dan kedekatan dengan Allah. Padahal, sering kali itu hanyalah jubah kesombongan yang ingin disaksikan jemaah agar mereka dianggap wali yang lembut hatinya."

2. TUKANG PUKUL

Khatib ini sibuk menghakimi jema'ah yg telah didudukkan oleh Allah di dalam masjid. 

Dia lupa ajaran Nabi SAW, "Mudhahkanlah dan jangan menyusahkan, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari/benci."(HR. Bukhari no. 69 & Muslim no. 1734). 

Sheikh 'Ali Thantawi (Ulama Besar Syam/Arab Saudi, Wafat 1999 M) memberikan pesan tajam yang sangat populer bagi para penceramah yang suka "menyerang" jemaah masjid: "Jangan sampai engkau menjadi penceramah yang berdiri di depan orang-orang yang sudah mau melangkahkan kakinya ke masjid, lalu engkau cambuk mereka dengan celaan seolah-olah mereka adalah penghuni neraka. Orang yang sudah datang ke masjid itu adalah orang yang sedang mencari penawar/obat, maka berikan mereka obat dengan kelembutan, bukan racun dengan amarahmu."

3. TUKANG ADU

Khatib ini gemar mengadu domba umat berdasarkan afiliasi ormas atau politik, bahkan dgn bahasa tdk pantas. 

Dia lupa pada sabda Nabi SAW, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (nammam)." (HR. Bukhari no. 6056 & Muslim no. 105), dan "Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor." (HR. Tirmidzi no. 1977, Shahih)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (Wafat 852 H) dalam kitab Fathul Bari, beliau menjelaskan syarat dan adab khotbah: "Khotbah disyariatkan untuk memberi peringatan (Tadzkir), mengajak taat kepada Allah, dan menasihati manusia dengan kebaikan. Menggunakan mimbar untuk mencela musuh politik atau menyerang kelompok muslim lain adalah penyimpangan dari maksud utama khotbah."

#persepsicahyana

Kamis, 25 Juni 2026

Konsep dan Realita Tuhan


Semua konsep dari tulisan tergambar dalam pikiran. Konsep tsb tdk bisa diindera, namun tulisan mewujudkannya, membuktikan konsep itu ada [1]. Begitupun bila Tuhan tdk terindera, bukan berarti Dia tdk ada. Dia bisa dikenali dari perbuatan Nya yg terindera, sebagai bukti Dia ada. 

Saat wujud pertama muncul di semesta, maka tiada wujud lain yg ada bersamanya, sebab dia adalah wujud yg pertama kali ada. Secara logis, hanya boleh ada sosok lain yg ada sebelum wujud tersebut ada, yakni Tuhan sebagai akar penciptaan yg tdk diciptakan oleh siapapun [2, 3].

Seseorang mungkin menjangkau Tuhan hanya sebatas konsep logis tsb [4, 5]. Namun jgn lupa, setiap konsep selalu mungkin ada perwujudannya. Terlebih suatu konsep dapat sesuai dgn kenyataan pada dimensi ruang dan waktu berbeda, sehingga kenyataan tsb tdk perlu diciptakan. Hanya perlu menunggu ruang dan waktu pertemuan. Itulah sebab kenapa kalangan Bertuhan meyakini kelak dapat menyaksikan Tuhan dalam wujud yg sesuai dgn konsep Ketuhanan yg diyakininya.

Manusia menggunakan angka 1 biner utk menyatakan kondisi hidup/ada dan 0 biner utk mati/tdk ada. Gerak sesuatu dapat dilogikakan dgn keduanya. Artinya, semua yg bergerak menghasilkan pola biner tsb. Bergerak tsb hanya terjadi dlm dimensi ruang dan waktu yg diciptakan Tuhan [6]. 

Sementara Tuhan tdk terikat oleh keduanya, sebab hanya ciptaan yg terikat oleh penciptanya. Oleh krn nya, saat Tuhan berkata, "Jadilah", akibat yg terjadi ("Maka Jadi") adalah perubahan dari kondisi tidak ada (0) menjadi ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu. Di sisi sebab ("Jadilah") adalah tak didefinisikan (~) karena tdk ada dimensi ruang dan waktu yg dapat mengukurnya. Dengan demikian ~ => {0, 1}, bukan sebaliknya. 

Sesuatu yg tidak ada (0) dibagikan kepada yg ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya tidak ada yg dibagikan (0). Namun, bila sesuatu yg ada (1) dibagikan kepada yang tidak ada (0) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya hanya Tuhan yg tahu (~) sebab manusia sampai saat ini belum mendefinisikannya. Artinya, manusia tdk bisa mengukur Tuhan yg tidak terdefinisi wujud Dzat Nya (~) dgn ukuran-ukuran kemahlukan yg terikat oleh ruang dan waktu (1/0).

Oleh karena itu Nabi SAW bersabda, "Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang Zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya." (HR. Abu Nu'aim).

--------

[1] Plato (427–347 SM) mencetuskan Theory of Forms (Teori Idea). Menurutnya, dunia fisik yang kita indera ini hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia "Idea" yang abstrak, sempurna, dan abadi di dalam pikiran.
[2] Ibnu Sina / Avicenna (980–1037 M) membagi wujud menjadi dua: yang mungkin ada (alam semesta, yang butuh pencipta) dan yang wajib ada (Tuhan, yang ada dengan sendirinya tanpa awal).
[3] Aristoteles (384–322 SM) mengatakan bahwa sesuatu di alam semesta bergerak karena ada yang menggerakkan, dan rantai sebab-akibat ini tidak boleh mundur tanpa batas (infinite regress). Harus ada satu titik absolut yang memulai segalanya.
[4] Immanuel Kant (1724–1804) menjelaskan bahwa manusia tidak bisa melihat realitas sejati (Tuhan/Noumena) secara langsung karena keterbatasan struktur rasio kita yang terpenjara oleh dimensi ruang dan waktu (Phenomena).
[5] Ibnu Arabi (1165–1240 M) menyatakan bahwa setiap manusia membayangkan Tuhan sesuai dengan kapasitas, batasan, dan kesiapan spiritualnya sendiri.
[6] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716), penemu sistem biner modern, memandang angka 1 sebagai representasi Tuhan (Eksistensi Absolut) dan 0 sebagai representasi ketiadaan (void). Bagi Leibniz, seluruh alam semesta adalah kombinasi dari gerak dinamis antara ketiadaan yang diisi oleh keberadaan melalui kehendak Tuhan.

#persepsicahyana

Senin, 22 Juni 2026

Perpecahan dan Perbedaan


Perpecahan itu buruk karena dapat melemahkan, perbedaan itu baik karena dapat menguatkan. Namun, perpecahan dapat timbul dalam persamaan atau perbedaan. Seseorang dapat membangun narasi perpecahan dgn mengeksploitasi perbedaan. Respon terbaik adalah membuat perbedaan, memilih utk meredam atau tdk memperbesar perpecahan.

Division is bad because it weakens, while difference is good because it strengthens. However, division can arise from similarities or differences. A divisive narrative can be constructed by exploiting differences. The best response is to effect change, choosing to mitigate the division or not exacerbate it.

الانقسام سيء لأنه يُضعف، بينما الاختلاف جيد لأنه يُقوّي. مع ذلك، قد ينشأ الانقسام من أوجه التشابه أو الاختلاف. ويمكن بناء سردية انقسامية باستغلال الاختلافات. وأفضل رد فعل هو إحداث تغيير، باختيار تخفيف حدة الانقسام أو عدم تفاقمه.

---------

Perpecahan pada hakikatnya merupakan hal yang buruk karena sifatnya yang destruktif. Ketika ego dan konflik internal dibiarkan mendominasi, energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk produktivitas justru habis terbakar dalam perselisihan. Akibatnya, ikatan sosial yang ada menjadi rapuh, fokus bersama menjadi terpecah, dan pada akhirnya seluruh tatanan yang telah dibangun akan mengalami pelemahan secara perlahan namun pasti.

Sebaliknya, perbedaan merupakan suatu hal yang baik karena menyimpan potensi besar untuk saling menguatkan. Perbedaan bukanlah sebuah ancaman, melainkan kekayaan perspektif yang memungkinkan setiap pihak untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Ketika berbagai sudut pandang dan latar belakang yang beragam tersebut dikelola dengan bijak, ia akan melahirkan kolaborasi yang jauh lebih tangguh, inovatif, dan kokoh dibandingkan dengan kelompok yang sepenuhnya seragam.

Namun, sebuah paradoks sosial menunjukkan bahwa perpecahan tidak melulu lahir secara alami dari adanya perbedaan. Potensi keretakan tersebut ternyata bisa timbul di mana saja, baik di dalam kelompok yang memiliki banyak perbedaan maupun di tengah-tengah komunitas yang dipenuhi oleh persamaan. Keberadaan kesamaan latar belakang, visi, atau keyakinan sekalipun tetap tidak menjamin suatu kelompok bebas dari ancaman perpecahan jika ego sektoral mulai mengambil alih.

Situasi ini sering kali diperparah oleh adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja membangun narasi perpecahan. Mereka secara aktif mencari celah, membesar-besarkan masalah kecil, dan mengeksploitasi perbedaan yang sebenarnya bersifat netral atau positif demi kepentingan atau keuntungan sepihak. Melalui manipulasi informasi dan provokasi, perbedaan yang awalnya menjadi sumber kekuatan diubah sedemikian rupa menjadi sumbu sentimen yang memicu kecurigaan antar sesama.

Menghadapi fenomena tersebut, respons terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan berani mengambil sikap untuk menjadi pembeda. Langkah konkret ini diwujudkan dengan memilih secara sadar untuk meredam suasana yang mulai memanas, meluruskan disinformasi, atau setidaknya menahan diri agar tidak ikut memperbesar arus perpecahan yang ada. Dengan memutus rantai penyebaran narasi provokatif, kita telah mengambil peran penting dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan di tengah dinamika kehidupan sosial.

 #persepsicahyana

Budaya Berjualan yang Berisiko


Budaya berjualan di pinggir jalan, apalagi di jalanan ramai, memiliki beberapa isu yg perlu diperhatikan, yakni terkait ancaman keselamatan pejalan kaki, kebersihan makanan yg berdampak pada kesehatan, dan kenyamanan pengguna jalan.

Saya mengamati antusias masyarakat utk mengunjungi lapak mingguan di pinggir jalan sangat bagus utk menghidupi pedagang kecil. Misalnya, di bunderan Suci. Trotoar dan bahu jalan digunakan oleh pelapak, sehingga pembeli berjalan di bahu jalan bersama kendaraan yg melintas. Jalanan tsb merupakan salah satu jalan penghubung ke Tasikmalaya, sehingga tdk jarang dilewati kendaraan besar.

Tentu saja kita tdk bisa abai dgn isu penting yg muncul dari budaya tsb. Saya berpikir, lahan parkir luas milik toko besar bangunan yg tepat berada di lokasi kegiatan lebih aman digunakan sebagai lokasi berjualan. Apalagi jam operasional toko tsb sekitar jam 9 ke atas, sehingga dari pukul 6 hingga 9 bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Semoga pemerintah memperhatikan isu ini dan ikut andil menjembatani komunikasi antara toko dan masyarakatnya guna mewujudkan ekonomi masyarakat kecil yg aman dan nyaman. 

#persepsicahyana

Menuju Ketenangan


Apa yang kita cari di dunia ini adalah kesenangan, sementara kehidupan setelah kematian menuntut ketenangan. Saat kita mulai menempuh jalan menuju kehidupan setelah kematian, fokus hidup seharusnya mulai bergeser ke arah ketenangan.

What we seek in this world is pleasure, while the afterlife demands serenity. As we begin to embark on the path of the afterlife, the focus of life should begin to shift toward serenity.

إن ما نسعى إليه في هذه الدنيا هو المتعة، بينما تتطلب الحياة الآخرة السكينة. ومع بدء رحلتنا نحو الحياة الآخرة، ينبغي أن يتحول تركيز حياتنا نحو السكينة.

-----------

Sering kali, kesenangan di dunia ini terikat pada hal-hal eksternal dan bersifat sementara. Kita cenderung memburunya dalam detail kehidupan sehari-hari, namun sifatnya fana dan kerap kali disertai rasa cemas akan kehilangannya.

Sebaliknya, kedamaian jiwa representasi dari kedamaian batin, ketenteraman, dan keridaan yang kokoh. Ia tidak mudah goyah oleh pasang surutnya keadaan duniawi, sekaligus menjadi bentuk persiapan spiritual dan mental yang matang menyambut kehidupan akhirat.

Mengalihkan fokus hidup dari sekadar mengejar kesenangan semu menuju pencarian kedamaian hakiki (sakinah) adalah sebuah bentuk evolusi kesadaran. Pada titik ini, stabilitas batin, keikhlasan dalam menerima garis hidup, serta kedekatan dengan Sang Pencipta menjadi kompas utama dalam setiap langkah dan pilihan yang diambil.

#ratisejiwa #persepsicahyana