Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Kamis, 26 Februari 2026

Metode Beriman


Di masa lalu, Tuhan menerapkan metode hadiah dan hukuman utk mendidik manusia melalui firman Nya terkait pahala dan siksa atau surga dan neraka. Metode tsb merupakan metode pendidikan paling awal yg efektif bukan hanya bagi manusia, namun juga bagi hewan sirkus yg taat perintah bila diberi makanan. 

Metode pembelajaran terus berkembang, bahkan metode hadiah dan hukuman mendapat banyak kritik. Hal ini menguji klaim firman Tuhan yg tdk lekang waktu. Tentu saja metode yg digunakan Tuhan saat itu sangat relevan, tetapi mungkin saat ini banyak manusia yg ingin terdidik sebagai orang beriman dgn metode kekinian.

 #persepsicahyana

Rabu, 25 Februari 2026

Refleksi Ramadhan: Mengingkari Syahwat


Melawan keinginan terhadap perkara mubah merupakan disiplin yg dijalani orang saleh utk menundukkan hawa nafsu. Kisah Malik bin Dinar dipenuhi oleh disiplin tsb. Beliau terkenal dgn disiplinnya dlm mengingkari kehendak syahwat. 

Beliau pernah menginginkan makanan tertentu, namun keinginan tsb dihindari sekuat tenaga. Setelah dorongannya mereda, beliau mencicipinya, namun malah timbul penyesalan, sehingga kemudian benar-benar meninggalkan keinginan tsb selamanya. Seperti seseorang yg berkomitmen menjadi vegetarian selamanya. 

Beliau juga pernah ditawari menikah dgn seorang gadis yg membutuhkan imam yg saleh. Namun beliau mengatakan telah bercerai dgn dunia, dan wanita adalah bagian dari dunia itu. Umumnya orang menghindari pernikahan krn patah hati, melawan syahwat dgn hawa nafsu. Namun, beliau mengingkari keinginan syahwat agar tdk muncul rasa penyesalan. 

Mengingkari syahwat itu memang menyenangkan. Pernah dulu saya merasa rindu utk bertemu seseorang. Namun orang tsb tdk ditemui hingga gejolak keinginan bertemunya mereda. Saat bertemu, hati lebih tenang dan terjaga. Saya bisa merindukan tanpa melihat wajahnya, tdk terikat raga, cukup sebatas jalinan hati. Cintanya beranjak dari jasadiah menjadi ruhiyah yg jauh dari gejolak syahwat.

Namun mengingkari syahwat juga menyiksa. Pernah dulu saya disiplin makan sehari sekali, sampai tubuh kering kerontang. Syahwat selalu membujuk utk makan, tetapi saya selalu mengingkari. Rengekannya begitu menyiksa, krn syahwat memang dorongan alamiah yg berfungsi menjaga kelangsungan hidup manusia. 

Tuhan menjadikan saya mempraktekkan itu semua bukan semata krn terpengaruh oleh pengetahuan, tetapi utk menaikan level keyakinan dari keyakinan berbasis pengetahuan menjadi keyakinan berbasis pengalaman, beranjak dari penglihatan konseptual ke penglihatan aplikatif. 

Mulia dan hina manusia tergantung pada kemampuan dalam membatasi keinginan syahwat dan menundukkan hawa nafsu. Kalangan awam cukup menghindari perkara haram, dan menghabiskan waktu dgn perkara mubah jauh lebih baik dari pada menghabiskan waktu tsb dgn perkara haram. Sementara para pejuang dari kalangan khusus, seperti Malik bin Dinar, sangat membatasi perkara mubah, dan bahkan terkesan memposisikan perkara mubah yg halal tsb sebagai perkara haram. 

Kalangan awam di maqam asbab akan tersiksa bila mengikuti cara kalangan khusus. Bahkan keinginan tsb masuk kategori syahwat halus menurut standar Ibn Athaillah. Demikian pula kalangan khusus di maqam tajrid, akan tersiksa bila mengikuti cara kalangan awam. Memenuhi kebutuhan yg mubah adalah hal biasa bagi kalamgan awam, tetapi bisa menjadi penuh penyesalan bagi kalangan khusus. Keinginan tsb merupakan penurunan semangat bagi kalangan khusus. 

Namun Tuhan memberi pengalaman disiplin kalangan khusus kpd kalangan awam dgn Puasa wajib. Sifat wajib tsb menujukan Puasa ini merupakan latihan bagi orang yg mendekati Tuhan. Berbeda dgn latihan orang yg Mencintai, disiplinnya bukan krn kewajiban, tapi krn dorongan cinta. 

Di bulan Ramadhan ini, segala kehendak syahwat makan dan bersetubuh dicegah dari waktu subuh hingga maghrib. Bila pencegahan itu dijalani dgn ikhlas dan bahkan melahirkan kenikmatan ruhani, hal itulah sebagian kecil yg dirasakan oleh kalangan khusus dari disiplin hariannya. Bagi kalangan awam, cukup sebulan dalam setahun saja memasuki dan menikmati sebagian dunia kalangan khusus. Tuhan maha tahu, setiap hambanya hanya akan baik bila hidup di maqam yg sesuai. 

#persepsicahyana

Minggu, 22 Februari 2026

Sore itu di Pasar Tumpah


Sore itu saya berada di pasar tumpah yg biasanya ada setiap week-end. Namun di bulan Ramadhan ini, pasar tsb hadir setiap sore. Seperti biasa lapak pedagang berjejer di sepanjang jalan. Kendaraan melaju lambat krn setengah bagian jalan digunakan oleh warga yg sedang membeli atau mencari makanan yg disukainya. 

Saya berdiri di samping gerobak penjual makanan. Nampak seorang pemuda mendatangi penjual dan memberikan botol air mineral, seraya berkata, "nanti saja ya." Kemudian satu botol lagi dia berikan ke pedagang lain di sampingnya. Pastinya air dalam botol kemasan itu tdk akan diminum oleh para pedagang saat berjualan krn sedang berpuasa. 

Kejadian tsb mengingatkan saya pada pengalaman di masa lalu. Seorang bapak sopir angkutan umum merasa jengkel krn terus diberikan botol air mineral oleh pemuda di jalan yg dilaluinya. Dia menunjuk ke arah tumpukan botol yg masih utuh, sambil berkata, "Ini masih banyak!." Tapi itu hanya pikiran yg muncul sesaat krn kesamaan pola antara pengalaman baru dgn pengalaman lama. 

#biograficahyana

Minggu, 15 Februari 2026

Sambut Ramadhan dengan Mengunjungi Orang Tua

Beberapa waktu yg silam, seusai pembangunan rumah selesai, istri bermimpi melihat alm ibunya, mertua saya, berada di atas rumah dan memberi isyarat "love you". Hal tsb menggambarkan kerinduan anak kpd ibunya. 

Kemudian beliau menepuk pundak saya, namun memanggil saya dgn nama anak sulung, Uqi. Hal tsb menggambarkan kesan istri bahwa saya sdh dianggap anak sendiri oleh ibunya. Beliau berkata, sudah lama saya tdk berkunjung. 

Sepulang berkunjung dari orang tua di Subang, istri mengajak semuanya berkunjung ke makam mertua. Alhamdulillah, hari ini semua orang tua telah dikunjungi. Semoga menjadi awal yg baik, menyambut tamu agung, Ramadhan.

 
#keluargacahyana

Rabu, 11 Februari 2026

Penelitian: Dari Tahu Banyak Menjadi Banyak Tidak Tahu

Di awal kuliah Doktoral, saya membayangkan prosesnya seperti upaya keras menaiki bukit domain penelitian. Di setiap tingkatannya, ada banyak artikel yang harus dikumpulkan, dibaca, dipilih sesuai rencana, dan disintesis sesuai tujuan, untuk kemudian diuji dengan keras. Lelahnya luar biasa. 

Namun begitu berada di atas puncak bukit, saya melihat setiap tingkatan itu seperti undakan sawah. Pengetahuan yang terungkap seupama objek apapun yang ada di setiap undakan tsb. Secara keseluruhan terlihat indah. Itu adalah perasaan yang muncul saat membaca hasil studi pustaka. Ada banyak orang yang sombong dengan kondisi seeprti itu karena merasa telah melihat lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang masih berada di bawah dan sedang merangkak naik ke atas. 

Bila saja tidak ada ujian kualifikasi, saya akan terlena dan merasa sudah tahu banyak hal. Ternyata itu baru awal perjalanan. Saya harus turun kembali, memilih satu undakan yang akan ditempati. Di undakan itu saya harus melihat sesuatu yang diperlukan untuk membuat undakannya menjadi lebih indah menurut orang yang melewatinya. 

Ada banyak area penelitian yang bisa dipilih. Sepupama memilih "tumbuhan", "hewan", atau "benda mati". Semuanya tersedia di undakan tersebut. Pemilihan tersebut tentunya disesuaikan dengan minat yang dipengaruhi oleh pengalaman penelitian dan pengabdian di masa lalu. Mentor berusaha mengarahkan saya ke arah yang benar. Setelah itu, barulah saya memilih objek spesifiknya apa. Pemilihan itu tdk sederhana, alasannya harus jelas. Ada banyak ahli yang berusaha melihatnya dan menguji kekokohannya. Saat itu saya sudah masuk ke usulan riset. 

Proses kreasinya menyenangkan, ada banyak kritik dan masukan dari para ahli yang mengklarifikasi dan menguatkan. Prosesnya tidak instan, melewati tiga fase. Seupama membangun gubuk, mulai dari bagian pondasi kerangka kerja, bagian pilar formulasi, lalu bagian atap aplikasi dunia nyata. Semuanya harus kokoh dan satu kesatuan. Bangunan itulah yang mengisi ruang kosong di undakan tersebut. Harapannya bukan hanya terlihat bagus, tetapi juga bermanfaat bagi pengguna spesifik, khususnya bagi setiap peneliti yang sedang menaiki bukit. 

Seusai itu, saya tersadar, ada banyak ruang masalah di undakan tersebut yang tidak tersentuh. Padahal di bukit domain itu ada banyak undakan yang bahkan tidak saya masuki. Ternyata kontribusi penelitian saya sangatlah kecil, dan apa yang tidak diketahui sangatlah banyak. Sementara, semua undakan dan objek di dalamnya adalah kontribusi dari banyak orang. Pengetahuan yang dimiliki ini seperti setitik air di tengah samudera yang luas. 

Kondisi tersebut berbeda dengan titik di mana saya berada di puncak bukit, tempat di mana ada banyak orang yang merasa sombong dengan pengalaman dan pengetahuannya terkait banyak undakan yang sudah dilewati. Saya pernah mendengar: Orang yang merasa benar sendiri itu belum sampai. Orang yang bijak itu seperti padi yang menunduk. Saya sekarang bisa memahaminya dengan lebih jelas lagi dengan perjalanan riset yang sudah dilalui. 


Minggu, 01 Februari 2026

Fokus Manusia: Hasil, Proses, Tuhan

Surga dan neraka itu utk kalangan awam yg pamrih atau masih berada di level hewan yg berpikir (animal rationale). Mereka hanya bisa diluruskan dgn pendekatan hadiah dan hukuman, seupama hewan sirkus yg mau berproses bila diberi makanan atau diancam dgn cambukan. 

Kalangan khusus tdk perlu melihat hasil, surga dan neraka. Mereka fokus pada proses menjadi orang baik yg bermanfaat dan percaya proses tdk akan menghianati hasil, sebutir kebaikan akan dibalas kebaikan, dan setiap orang akan sampai pada apa yg diniatkannya. Namun mereka masih gelisah, dibayangi oleh takut dan harap saat mengalami kelemahan dan hambatan dlm prosesnya.  

Kalangan khusus dari yg khusus tdk lagi memiliki takut dan harap krn berfokus pada Tuhan, bukan pada proses, apalagi pada hasil. Mereka tdk terganggu dgn kelemahan atau hambatan apapun krn tahu kalau Tuhannya tdk membebani di luar kesanggupan. Mereka menjalani semua hal yg Tuhan berikan tanpa mengeluh krn penghormatan dan cinta, berusaha menjadi hamba Tuhan Yg Maha Pengasih. 

#persepsicahyana

Jumat, 09 Januari 2026

Learning First, Leading with Heart: A Reflection on Becoming a Teacher in the Age of AI

I still remember how I felt in May 2025, sitting quietly in a training room in Banten, joining a week-long program on Coding and Artificial Intelligence (KKA). I came as a teacher who wanted to learn something new, but I also brought doubts I did not say aloud. AI sounded powerful, almost intimidating. I wondered if, one day, it would slowly push teachers to the margins of their own classrooms.

Keterangan foto tidak tersedia.

As the days passed, my fear did not disappear, but it changed. I began to see that AI does not replace what makes teaching meaningful. It does not notice when a student loses confidence. It does not understand why a child suddenly goes silent. Only teachers can do that. AI can assist, but it cannot care.

"AI does not understand children the way teachers do."

Keterangan foto tidak tersedia.

That understanding became even clearer when I was asked to serve as a facilitator for KKA teachers in Garut Regency and later across West Java. Standing among fellow teachers felt different from standing in front of students. I was not there to impress or instruct. I was there to listen.

Keterangan foto tidak tersedia.

Some teachers spoke with honesty and worry. They feared losing relevance. They feared becoming dependent on machines. I did not try to convince them quickly, because resistance is often rooted in love for the profession. I realized that fear does not mean refusal. It means teachers care deeply about their role.

Keterangan foto tidak tersedia.

At the same time, I met teachers who moved forward with quiet courage. One of them showed a simple attendance system powered by AI. It was not sophisticated. It was not perfect. But it represented something far more critical: confidence to try.

“The real change was not in the technology, but in the teacher’s confidence."

These contrasting experiences stayed with me. When I later facilitated a larger program in West Bandung Regency, I brought real stories into the discussion. Interestingly, the conversation shifted. Teachers spoke less about fear and more about reality. Limited devices. Weak internet connections. Schools that were not equally prepared. That was a powerful reminder that transformation must always respect context.

Keterangan foto tidak tersedia.

Through this journey, I learned that AI literacy is not merely a technical issue. It is a human one. It requires patience, empathy, and ongoing support. The most important work does not end when training ends. It begins afterward.

Keterangan foto tidak tersedia.

That is why I believe deeply in mentoring and community. Together with fellow facilitators, I helped forge a teacher community focused on strengthening KKA. It became a safe space to share, to fail, and to grow. When I was asked to serve as a mentor, I accepted not because I had all the answers, but because leadership sometimes means walking together, not walking ahead.

"Being a teacher leader means learning alongside others, not standing above them."

Mungkin gambar satu orang atau lebih, mimbar dan teks

This work is closely tied to my long involvement with the ICT Volunteer (Relawan TIK) movement. Since 2002, I have worked with communities to strengthen digital literacy. In 2025, university students I taught joined schools to support AI literacy for younger learners. Watching teachers, students, and volunteers learn from each other reminded me that meaningful change is always collaborative.

Looking back, I now see that this journey with AI is not really about artificial intelligence. It is about identity. About courage. About reminding ourselves why we became teachers in the first place.

We cannot stop change from entering our classrooms. But we can choose how we respond to it. We can choose fear, or we can choose growth. As Trainer, our role is not to master every tool, but to model lifelong learning with humility and heart.

"AI will never replace teachers who are willing to keep learning."

And perhaps that is the most crucial lesson I carry forward. Before we ask our students to adapt to the future, we must be willing to learn first. That is how we lead. That is how we stay human in a digital world.