Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Minggu, 01 Februari 2026
Fokus Manusia: Hasil, Proses, Tuhan
Jumat, 09 Januari 2026
Learning First, Leading with Heart: A Reflection on Becoming a Teacher in the Age of AI
I still remember how I felt in May 2025, sitting quietly in a training room in Banten, joining a week-long program on Coding and Artificial Intelligence (KKA). I came as a teacher who wanted to learn something new, but I also brought doubts I did not say aloud. AI sounded powerful, almost intimidating. I wondered if, one day, it would slowly push teachers to the margins of their own classrooms.
As the days passed, my fear did
not disappear, but it changed. I began to see that AI does not replace what
makes teaching meaningful. It does not notice when a student loses confidence.
It does not understand why a child suddenly goes silent. Only teachers can do
that. AI can assist, but it cannot care.
"AI does not
understand children the way teachers do."
That understanding became even
clearer when I was asked to serve as a facilitator for KKA teachers in Garut
Regency and later across West Java. Standing among fellow teachers felt
different from standing in front of students. I was not there to impress or
instruct. I was there to listen.
Some teachers spoke with honesty
and worry. They feared losing relevance. They feared becoming dependent on
machines. I did not try to convince them quickly, because resistance is often
rooted in love for the profession. I realized that fear does not mean refusal.
It means teachers care deeply about their role.
At the same time, I met teachers
who moved forward with quiet courage. One of them showed a simple attendance
system powered by AI. It was not sophisticated. It was not perfect. But it
represented something far more critical: confidence to try.
“The real change
was not in the technology, but in the teacher’s confidence."
These contrasting experiences
stayed with me. When I later facilitated a larger program in West Bandung
Regency, I brought real stories into the discussion. Interestingly, the
conversation shifted. Teachers spoke less about fear and more about reality. Limited
devices. Weak internet connections. Schools that were not equally prepared.
That was a powerful reminder that transformation must always respect context.
Through this journey, I learned
that AI literacy is not merely a technical issue. It is a human one. It
requires patience, empathy, and ongoing support. The most important work does
not end when training ends. It begins afterward.
That is why I believe deeply in
mentoring and community. Together with fellow facilitators, I helped forge a
teacher community focused on strengthening KKA. It became a safe space to
share, to fail, and to grow. When I was asked to serve as a mentor, I accepted
not because I had all the answers, but because leadership sometimes means
walking together, not walking ahead.
"Being a
teacher leader means learning alongside others, not standing above them."
This work is closely tied to my
long involvement with the ICT Volunteer (Relawan TIK) movement. Since 2002, I
have worked with communities to strengthen digital literacy. In 2025,
university students I taught joined schools to support AI literacy for younger
learners. Watching teachers, students, and volunteers learn from each other
reminded me that meaningful change is always collaborative.
Looking back, I now see that this
journey with AI is not really about artificial intelligence. It is about
identity. About courage. About reminding ourselves why we became teachers in
the first place.
We cannot stop change from
entering our classrooms. But we can choose how we respond to it. We can choose
fear, or we can choose growth. As Trainer, our role is not to master every
tool, but to model lifelong learning with humility and heart.
"AI will
never replace teachers who are willing to keep learning."
And perhaps that is the most
crucial lesson I carry forward. Before we ask our students to adapt to the
future, we must be willing to learn first. That is how we lead. That is how we
stay human in a digital world.
Pendidikan Eskalatif
Kamis, 08 Januari 2026
Angkot dan PKL
Senin, 03 November 2025
Smartphone
Sabtu, 25 Oktober 2025
Masyarakat Informasi
Abstrak
Perkembangan pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah melahirkan struktur sosial baru yang dikenal sebagai Masyarakat Informasi. Dalam masyarakat ini, informasi tidak hanya dipandang sebagai data mentah, tetapi sebagai sumber daya ekonomi dan aset strategis perusahaan yang paling berharga. Artikel ini menganalisis definisi dan urgensi Masyarakat Informasi, serta menyoroti peran mendasar dari komponen inti TIK, yaitu hardware dan software, dalam mendukung dan menggerakkan seluruh proses operasional bisnis modern. Tujuan utama dalam Masyarakat Informasi adalah untuk mencapai keunggulan kompetitif melalui penguasaan dan pemanfaatan TIK yang efektif.
A. Landasan Konseptual: Dari Data Menjadi Nilai
Masyarakat Informasi didasarkan pada penciptaan, distribusi, akses, dan penggunaan informasi secara bebas (Karvalics, 2007). Untuk memahami pondasi masyarakat ini, penting untuk membedakan antara data dan informasi.
Data adalah materi fakta mentah, seperti huruf, angka, simbol, atau suara (O’Brien & Marakas, 2008, hlm. 33, 4). Data mewakili kejadian atau transaksi yang dicatat dan disimpan sebelum diorganisasi menjadi bentuk yang berguna (Laudon & Laudon, 2012, hlm. 479). Sebaliknya, informasi adalah data yang telah dirangkum, dimanipulasi, atau diproses sehingga menjadi bermakna dan berguna bagi pengguna tertentu (Loose, 1997; O’Brien & Marakas, 2008, hlm. 3, 34).
Dalam konteks bisnis, tujuan utama sebuah sistem adalah memproses data menjadi informasi yang dapat digunakan untuk pengambilan keputusan (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 36; O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 35). Informasi yang berkualitas harus memiliki atribut seperti akurasi, relevansi, kelengkapan, dan ketepatan waktu (timeliness) agar bernilai (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 354, 355).
B. Teknologi Informasi dan Komunikasi
Masyarakat Informasi mustahil terbentuk tanpa TIK atau Infotech . TIK didefinisikan sebagai konvergensi teknologi telekomunikasi atau komunikasi dan komputer (Bouwman et al., 2005; ITU, 2002). TIK adalah istilah umum yang mencakup semua teknologi yang membantu memproduksi, memanipulasi, menyimpan, mengomunikasikan, dan/atau menyebarkan informasi (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 30). TIK menggabungkan komputasi dengan tautan komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 30).
Fondasi fisik TIK—yaitu hardware dan software —adalah yang memungkinkan pemrosesan data menjadi informasi, serta mendukung tiga peran vital sistem informasi dalam bisnis: mendukung operasi, mendukung pengambilan keputusan, dan mendukung strategi keunggulan kompetitif (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 8, 213).
Peran Fundamental Hardware
Hardware didefinisikan sebagai semua mesin dan peralatan fisik dalam sistem komputer (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 38). Hardware berfungsi sebagai infrastruktur IT yang memungkinkan semua fungsi digital terlaksana (Rainer & Cegielski, 2016, hlm. 520).
Hardware mendukung aktivitas dasar sistem informasi (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 35; Williams & Sawyer, 2011, hlm. 26-27):
- Input: Perangkat seperti keyboard , mouse , atau pemindai (scanner) menangkap data mentah (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 255).
- Processing: Central Processing Unit memanipulasi data dan mengontrol komponen lain, mengubah data menjadi informasi (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 212; O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 35).
- Output: Perangkat seperti monitor atau printer menerjemahkan hasil pemrosesan ke bentuk yang dapat digunakan manusia (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 281; O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 35).
- Storage: Perangkat penyimpanan sekunder (seperti hard disk atau flash memory ) menyimpan data dan program secara permanen (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 224).
- Control: Mekanisme untuk memastikan semua aktivitas sistem berjalan sesuai standar dan prosedur (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 36).
Tanpa hardware, pemrosesan data, yang merupakan tujuan utama komputer, tidak dapat dilakukan (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 38, 244). Perkembangan terus-menerus membuat hardware menjadi lebih kecil, lebih cepat, lebih murah, dan lebih kuat, memungkinkan mobilitas dan personalisasi perangkat seperti smartphone dan PC tablet (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 364, 379; Laudon & Laudon, 2012, hlm. 202).
Peran Krusial Software
Meskipun hardware menyediakan sirkuit untuk pemrosesan, ia "tidak berguna tanpanya" (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 38). Software adalah kumpulan program dan prosedur yang memberikan instruksi kepada hardware tentang cara memproses data (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 33, 217; Rainer & Cegielski, 2016, hlm. 528).
Software terbagi dua jenis utama:
- System Software: Mengelola dan mendukung operasi sistem komputer, termasuk sistem operasi ( Operating System - OS) yang mengontrol dan mengarahkan aktivitas sistem, seperti Windows atau Linux (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 121, 140; Laudon & Laudon, 2012, hlm. 51).
- Application Software: Program yang dirancang untuk mendukung tugas atau proses bisnis tertentu (Rainer & Cegielski, 2016, hlm. 529). Contohnya termasuk perangkat lunak produktivitas (seperti word processing , spreadsheet , database software ), hingga sistem yang lebih canggih seperti sistem manajemen basis data ( Database Management System - DBMS) (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 154, 161, 164; O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 196).
Software, khususnya DBMS, sangat penting dalam Masyarakat Informasi karena mengelola sumber daya data —kumpulan terintegrasi dari elemen data yang saling terkait (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 33, 409). DBMS (seperti Oracle atau Access ) memungkinkan organisasi mengakses dan memanipulasi data dari basis data relasional (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 413; O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 197).
Peran Jaringan dan Cyberspace
TIK juga mencakup Network Resources, yaitu media komunikasi dan dukungan jaringan (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 34). Jaringan menghubungkan dua atau lebih komputer, menciptakan lingkungan yang disebut Cyberspace —dunia maya yang dibentuk oleh komputer dan telekomunikasi (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 1, 18).
Jaringan, terutama Internet, Intranet, dan Extranet, memungkinkan bisnis menjalankan e-business dan e-commerce , menghubungkan operasi internal dengan pelanggan dan pemasok (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 12, 218). Fenomena ini memastikan informasi tidak hanya didistribusikan lebih cepat, tetapi juga dikumpulkan, disimpan, diarsipkan, dan diakses kapan pun dan di mana pun (Gudauskas, 2011).
C. Keunggulan Kompetitif dan Kebutuhan Literasi
Dalam Masyarakat Informasi, orang atau bisnis yang berhasil adalah mereka yang menguasai dan mengendalikan informasi (Fenner, 2002). Penggunaan TIK yang strategis membantu perusahaan mencapai keunggulan kompetitif (O’Brien & Marakas, 2010, hlm. 8, 201).
Namun, untuk memanfaatkan TIK ini, individu harus memiliki beberapa kemampuan penting:
- Computer Savvy: Mengetahui apa yang dapat dan tidak dapat dilakukan oleh komputer, bagaimana komputer memberikan keuntungan atau kerugian, dan kapan harus mencari bantuan teknis (Williams & Sawyer, 2011, hlm. 2).
- ICT Literacy: Kemampuan menggunakan TIK yang diperlukan oleh kebanyakan pengguna (Acevendo, 2005).
- Digital Literacy: Kemampuan untuk mengetahui informasi yang dibutuhkan, serta mengakses, menemukan, dan memprosesnya untuk menciptakan nilai dengan TIK (Árpád, 2007; Andretta, 2005). Literasi digital mencakup kemampuan teknis dan sosial, seperti membuat dan membagikan konten, mengelola identitas digital, dan menjaga privasi online (Wheeler, 2012, hlm. 5, 6).
Kesimpulan
Masyarakat Informasi adalah realitas yang didorong oleh konvergensi teknologi, di mana komponen inti IT— hardware sebagai pondasi fisik dan software sebagai instruksi cerdas—berinteraksi melalui jaringan untuk memproses data menjadi informasi yang strategis. Keberhasilan dalam Masyarakat Informasi bergantung pada sejauh mana organisasi dan individu dapat mengadopsi TIK dan mengembangkan literasi yang diperlukan untuk menciptakan, mengelola, dan memanfaatkan aset informasi ini guna mencapai keunggulan kompetitif global.
Daftar Pustaka
- Acevendo, V. (2005). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Andretta, S. (2005). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Árpád, P. (2007). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Bouwman, H., R. F. W. Van B. P., & Van Der W. (2005). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Drucker, P. F. (1992). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Fenner, G. (2002). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Gudauskas, R. (2011). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Huang, K. T., Y. W. L., & Wang, J. (1999). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- ITU. (2002). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Karvalics, L. Z. (2007). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Laudon, K. C., & Laudon, J. P. (2012). Management Information Systems: Managing the Digital Firm (13th ed.). Pearson Education Limited.
- Loose, M. (1997). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Moody, D. L., & Walsh, P. (1999). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- O’Brien, J. A., & Marakas, G. M. (2008). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- O’Brien, J. A., & Marakas, G. M. (2010). Introduction to Information Systems (15th ed.). McGraw-Hill/Irwin.
- Rainer, R. K., & Cegielski, C. G. (2016). Introduction to Information Systems (3rd ed.). John Wiley & Sons, Inc.
- Wheeler, S. (2012). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Williams, B. K., & Sawyer, S. C. (2010). [Dikutip dalam 01 Masyarakat Informasi.pdf].
- Williams, B. K., & Sawyer, S. C. (2011). Using Information Technology: A Practical Introduction to Computers & Communication: Complete Version (9th ed.). McGraw-Hill Companies, Inc.
