Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Selasa, 16 Juni 2026

Pertikaian Keturunan Orang Kanaan


A. Israel dan Palestina Berhubungan Darah

Palestina dan sebagian Israel masih satu keturunan dari Kanaan. Keduanya hidup bergenerasi-generasi di wilayah yang sejak zaman Romawi disebut Filistin. Bahkan di antara kedua suku ini sudah tercampur oleh perkawinan. Makanya masuk akal bila gen warga Palestina bisa lebih Israel daripada orang Barat yang mengaku keturunan Israel, walau tidak lagi beragama Yahudi. 

Berbagai penelitian genetika populasi, seperti studi Harry Ostrer atau Ariella Oppenheim, menunjukkan bahwa mayoritas orang Yahudi (baik Ashkenazi, Sephardi, maupun Mizrahi) dan masyarakat Arab Levantin (termasuk Palestina) memiliki kedekatan genetik yang sangat erat. Keduanya berbagi persentase DNA yang sangat tinggi dari populasi kuno Zaman Perunggu di wilayah Levant, yang secara historis dikenal sebagai orang Kanaan.

Ketika terjadi diaspora (pengusiran) bangsa Yahudi oleh Romawi, sebagian populasi tetap tinggal di tanah tersebut. Seiring waktu, berabad-abad lamanya, mereka mengalami asimilasi, berpindah keyakinan (menjadi Kristen, lalu kemudian Islam), dan bercampur dengan populasi lokal lainnya, yang kemudian membentuk garis keturunan masyarakat Palestina modern. Oleh karena itu, secara biologis, masyarakat Palestina memang memiliki keterikatan darah yang sangat kuat dengan tanah kuno tersebut dibandingkan dengan populasi imigran Yahudi yang telah berabad-abad bercampur dengan populasi Eropa (Ashkenazi).

B. Israel Dibawa Keluar

Israel diperbudak oleh penguasa Mesir. Kemudian Musa, saudara mereka, membebaskan dan membawa mereka pulang ke tanah leluhurnya yang disebut tanah yang dijanjikan. Sejak awal masa Musa, mereka tidak memenuhi syarat sehingga dijatuhi hukuman 40 tahun tidak bisa memasuki wilayah Palestina tersebut. 

Teks keagamaan mencatat bahwa karena pembangkangan dan ketakutan mereka untuk memasuki Tanah Kanaan saat diperintahkan, mereka dihukum untuk mengembara di Padang Sinabung (Sinai) selama 40 tahun hingga generasi yang membangkang tersebut digantikan oleh generasi baru.

Para sejarawan dan arkeolog modern masih mendebatkan historisitas peristiwa Exodus skala besar ini karena minimnya bukti arkeologis kontemporer di Mesir maupun Sinai. Namun, secara narasi identitas budaya dan agama, kisah ini adalah fondasi utama klaim "Tanah Perjanjian" bagi bangsa Israel.

C. Pertikaian Israel dan Palestina

Wilayah yang disebut tanah yang dijanjikan itu sebenarnya tanah air mereka bersama bangsa Palestina, tanah Kanaan. Cuma sayangnya, Israel berpikir itu tanah eksklusif, sehingga keturunan lain gak boleh memilikinya, bertindak seperti saudara yang merampas warisan dari saudara lain. 

Padahal warga Palestina menerima mereka yang saat itu mengungsi, seperti saudara sendiri. Warga Palestina tidak menyadari kalau saudaranya tersebut memiliki rencana untuk membuat negara eksklusif bagi Zionisme yang pada akhirnya membuat mereka sendiri menjadi objek pembersihan etnis. 

Dalam teologi Yahudi kuno, konsep Tanah Perjanjian memang sering diinterpretasikan secara eksklusif untuk Bani Israel. Namun, transformasi klaim teologis ini menjadi gerakan politik modern yang terjadi lewat Zionisme yang lahir di Eropa pada akhir abad ke-19.

Zionisme pada awalnya adalah gerakan nasionalis sekuler, bukan gerakan keagamaan. Para pendiri utamanya (seperti Theodor Herzl) menggunakan narasi historis dan alkitabiah tentang "Tanah Air Yahudi" sebagai solusi atas antisemitisme (persekusi terhadap Yahudi) yang merajalela di Eropa saat itu.

Pada gelombang-gelombang awal migrasi (Aliyah) di bawah mandat Inggris, masyarakat Palestina lokal awalnya menerima para imigran Yahudi yang melarikan diri dari Eropa sebagai sesama manusia atau tetangga. Namun, ketegangan mulai eskalatif ketika tujuan politik untuk mendirikan negara dengan mayoritas mutlak Yahudi (yang secara inheren membutuhkan pengosongan atau marginalisasi populasi Arab lokal) mulai menjadi jelas, yang puncaknya terjadi pada peristiwa Nakba tahun 1948.

D. Politisasi Agama

Pertikaian antara Palestina dan Israel adalah pertikaian antarsaudara seketurunan Kanaan yang menjadi lebih buruk, sampai level genosida, gara-gara politisasi agama. 

Pada dasarnya, konflik Palestina-Israel adalah konflik modern mengenai tanah, kedaulatan, hak atas penentuan nasib sendiri (self-determination), dan keadilan hukum. Konflik ini menjadi jauh lebih destruktif, tidak kompromis, dan brutal (bahkan hingga level pembersihan etnis dan genosida seperti yang disaksikan dunia saat ini) ketika narasi keagamaan yang radikal dan eskatologis (akhir zaman) digunakan untuk menjustifikasi kekerasan dan perampasan hak kemanusiaan.

Ketika hak historis dan genetik satu saudara dihilangkan demi ego eksklusivitas saudara yang lain dengan dukungan kekuatan politik-militer modern, maka ikatan "satu keturunan Kanaan" tersebut tenggelam dalam tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan.

E. Matinya Solusi Dua Negara

Saat ini, banyak negara yang mengusulkan solusi dua negara dengan batas wilayah sesuai kesepakatan awal. Bahkan negara Barat mulai mengakui eksistensi negara Palestina. Namun, Israel, sebagaimana Hamas, menolak solusi tersebut. Israel terus melakukan okupasi dan mendirikan permukiman ilegal. Zionis Israel memiliki mimpi mewujudkan Great Israel yang wilayahnya membentang dari Sungai Eufrat hingga Tigris. Hamas menganggap Palestina adalah tanah airnya, bukan tanah air para pengungsi. 

Secara teori, Solusi Dua Negara mengacu pada perbatasan tahun 1967 (sebelum Perang Enam Hari), di mana Palestina merdeka di wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Namun, visi ini ditolak oleh kelompok garis keras di kedua belah pihak.

Di bawah pemerintahan koalisi sayap kanan, Israel secara terbuka menolak berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Mereka menganggap Tepi Barat sebagai wilayah historis Yahudi (Judea and Samaria). Kontrol militer penuh atas seluruh wilayah antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania dianggap non-negosiasi untuk keamanan mereka.

Berdasarkan piagam aslinya, Hamas menolak legalitas negara Israel dan menganggap seluruh tanah dari "Sungai hingga Laut" (From the River to the Sea) sebagai tanah wakaf Islam yang tidak boleh diserahkan. Meskipun pada tahun 2017 mereka sempat memperbarui dokumen politik yang menerima perbatasan 1967 sebagai formula konsensus sementara, tujuan jangka panjang mereka tetaplah pembebasan penuh Palestina tanpa mengakui kedaulatan Israel.

Para pemukim ilegal Israel, di bawah dukungan aparat keamanan, melakukan teror yang membuat warga Palestina terbunuh dan terusir. Serangan Hamas dijadikan dalih untuk memperluas wilayah, bahkan hingga wilayah yang tidak dikuasai Hamas. Cara serupa dilakukan Israel dalam memperluas wilayah di Libanon Selatan dengan dalih melawan Hizbullah.

Okupasi dan pembangunan permukiman (settlements) di Tepi Barat dan Yerusalem Timur adalah faktor utama yang secara fisik "membunuh" peluang Solusi Dua Negara. Berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat, sebuah negara pendudukan dilarang memindahkan penduduk sipilnya ke wilayah yang diduduki. Oleh karena itu, PBB dan mayoritas negara-negara di dunia menyatakan seluruh permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal.

Laporan dari berbagai organisasi hak asasi manusia (seperti B'Tselem dan Amnesty International) mendokumentasikan bagaimana oknum pemukim radikal, sering kali dilindungi atau dibiarkan oleh pasukan keamanan Israel (IDF), melakukan intimidasi, perusakan kebun zaitun, hingga kekerasan fisik terhadap warga Palestina. Tujuannya adalah memaksa warga lokal meninggalkan tanah mereka (displacement) agar wilayah permukiman Yahudi bisa diperluas dan terhubung satu sama lain, sehingga wilayah Palestina menjadi terfragmentasi (terpecah-pecah menjadi enklaf kecil).

Konsep Greater Israel (Eretz Yisrael HaShlemah) memiliki dua dimensi yang perlu dibedakan antara retorika alkitabiah dan realitas politik modern. Dalam teks kuno Kejadian 15:18, terdapat batas teologis "dari Sungai Mesir hingga Sungai Besar, Sungai Efrat." Secara praktis-geopolitik, ambisi sebagian besar kelompok Zionis kanan hari ini bukanlah mencaplok Irak atau Suriah (wilayah Efrat-Tigris), melainkan menguasai penuh seluruh wilayah Mandat Britania atas Palestina (mencakup Israel modern, Tepi Barat, dan Gaza) ditambah sebagian Dataran Tinggi Golan. Bagi warga Palestina, kebijakan aneksasi de facto ini dirasakan sebagai bentuk ekspansionisme yang perlahan tapi pasti melenyapkan ruang hidup mereka.

Serangan Hamas dijadikan justifikasi oleh militer Israel untuk melakukan operasi skala penuh. Dampaknya tidak hanya menghancurkan infrastruktur Gaza, tetapi juga diikuti dengan peningkatan agresi, penyitaan lahan, dan penangkapan massal di Tepi Barat—wilayah yang sebenarnya dikendalikan oleh Otoritas Palestina (Fatah), bukan Hamas. Hal ini memperkuat argumen bahwa targetnya melampaui sekadar menumpas Hamas.

Garis perbatasan Israel-Libanon (Blue Line) telah lama menjadi front pertempuran. Dengan dalih menetralisir ancaman roket Hizbullah dan menciptakan "zona penyangga" (buffer zone) demi memulangkan warga Israel di utara, militer Israel kerap melakukan penetrasi ke Libanon Selatan. Bagi Lebanon dan pengamat regional, zona penyangga ini sering kali berujung pada pendudukan militer jangka panjang (seperti yang pernah terjadi pada tahun 1982 hingga 2000), yang mengikis kedaulatan negara tetangga.

Ketika geopolitik digerakkan oleh kombinasi antara doktrin keamanan absolut, pembenaran ideologis-keagamaan, dan impunitas (kekebalan) dari hukum internasional, maka siklus kekerasan, pendudukan, dan pengusiran akan terus berulang, mengorbankan hak-hak dasar kemanusiaan warga sipil di wilayah tersebut.


#persepsicahyana

Sabtu, 13 Juni 2026

Bismillah


"Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan 'Bismillahirrahmanirrahiim', maka amalan tersebut terputus (kurang berkah)." (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami', Al-Abdul Haki dalam Al-Arba'in)

"Dengan menyebut nama" adalah tanda awal niat baik yang terlihat dari tangan dan kaki kanan yang bergerak mengawali perbuatan baik [1]. Namun, siapa nama yang harus disebut? Tentu saja "Allah". Jika bukan karena kehendak-Nya, niat dan gerakan awal tersebut tidak mungkin ada [2]. 

Cukup melihat wajah kebaikan Allah, tidak perlu melihat wajah siapa pun yang diciptakan-Nya. Setiap hamba yang sadar diri akan duduk menundukkan wajah keakuan dengan kekuatan rendah hati. Api Tuhan kemudian meleburkan wajah keakuannya, sehingga yang terlihat atau tersisa untuk dipikirkan dan dibaca di dalam hati hanya cahaya asma Tuhan. 

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. al-Alaq: 1)

Niat yang baik harus diwujudkan dengan cara yang baik [3], seupama tangan kiri yang mengikuti tangan kanan dan kaki kiri yang mengikuti kaki kanan. Cara baik mewujudkan perbuatan "Sang Maha Pengasih" yang bermanfaat bagi umat manusia seluruhnya dan perbuatan "Sang Maha Penyayang" yang bermanfaat bagi mereka yang beriman [4]. Memilih cara baik adalah bukti ketaatan yang hanya terwujud bila api Tuhan telah meleburkan keakuan [5].  

Dengan demikian, mulai dari niat dan cara, tidak ada selain Dia yang terlihat. Hal tersebut hanya bila niat dan cara baik mengikuti Nabi Muhammad SAW [6], berserah diri, menyerahkan keakuannya, demi hak Tuhan dan Utusan-Nya yang dicinta, karena "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".

"Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, serta bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya… maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimanapun amal perbuatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

#ratisejiwa

[1] "Termasuk sunnah adalah memulainya dengan kaki kananmu ketika masuk masjid, dan memulainya dengan kaki kirimu ketika keluar masjid." (HR. Al-Hakim)
[2] "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir: 28-29)
[3] "Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik..." (HR. Muslim)
[4] Abdullah bin Abbas berkata, "Ar-Rahman artinya Yang Maha Pemurah bagi seluruh makhluk-Nya, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang khusus bagi orang-orang yang beriman."
[5] "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku memperoleh petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: 'Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 11–14)
[6] "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)

Terinspirasi gambar semasa bujang yang ditempel di papan majalah dinding Madrasah Diniyah Bahrul Ulum. Saat itu, sahabat Generasi Muslim al-Muhajirin bertanya maksudnya, dan saya tdk menjawabnya. Tahun ini saya baru menyadari, ternyata gambar tsb selaras dengan tulisan Ibn Athaillah dalam Miftahul Falah wa Misbahul Arwah, setelah membacanya. Butuh puluhan tahun utk bertemu penjelasannya dari ulama Syadziliyah ini:
Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhûr (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

Rabu, 03 Juni 2026

Ketaatan Beragama

Agama adalah pedoman hidup untuk mewujudkan tatanan hidup yang baik. Diperlukan ketaatan pada pedoman tersebut untuk mewujudkannya. Ketaatan dengan cara apa pun dicapainya adalah baik karena berkontribusi mewujudkan tatanan tersebut pada level individu atau sosial. 

Pahala dan siksa adalah metode pendidikan umum yang paling awal dikenal untuk menciptakan ketaatan pada manusia dan hewan. Namun, ketaatan tidak lagi membutuhkan metode tersebut bila sudah menjelma menjadi kebiasaan atau timbul karena kesadaran. 

Di level tercerahkan, seseorang termotivasi untuk taat karena cinta, bukan lagi karena takut akan siksa yang tidak akan sanggup dihadapi atau mengharapkan pahala yang tidak layak diperoleh, atau bukan semata karena kebiasaan. Seseorang harus mengenal dan sadar sehingga cinta dan taat dengan sendirinya. Untuk itu, seseorang memerlukan material berupa ilmunya dan instrumen untuk mengukur capaiannya, yang semuanya itu juga disediakan oleh agama. 

Dengan demikian, tatanan hidup yang baik dapat diwujudkan dengan ketaatan beragama. Ketaatan tersebut dapat bertransformasi dari level awal yang digerakkan oleh takut akan siksa dan harap akan pahala, naik ke level menengah yang didasarkan pada kebiasaan dan kesadaran, hingga mencapai level tercerahkan yang sepenuhnya dimotivasi oleh ilmu dan cinta murni.

#persepsicahyana

Sabtu, 16 Mei 2026

Alien dan Kendaraan Besar


Keberadaan alien itu bukannya tidak diketahui oleh manusia, bahkan sudah lama diketahui.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk melata (dābbah) yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia menghendaki. (QS. Asy-Syura: 29)

Ada yg menarik dari ayat berikut:

Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak (dābbah) yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia selama ini tidak yakin pada ayat-ayat Kami (QS. An-Naml: 82)

Terlepas dari beragam tafsir, khususnya yang menganggapnya sebagai hewan besar, ulama sepakat bahwa makhluk ini bukan manusia, namun memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa manusia. Artinya, kecerdasan makhluk ini sangat tinggi. Namun, lain cerita bila hewan besar itu difahami saat ini sebagai kendaraan besar yang memiliki teknologi translasi bahasa.

Saat Perang Dunia II, suku-suku pedalaman di Pasifik yang belum pernah melihat teknologi menganggap pesawat tempur sebagai "burung raksasa". Dalam konteks ini, dābbah, yakni manusia, berada di dalam burung raksasa/pesawat. Apakah makhluk besar yang di masa depan akan keluar dari bumi itu, dābbah, atau kendaraannya, Allahu 'alam.

Tentang kendaraan besar yg dibahasakan hewan, menarik juga utk menyimak hadits berikut ini:

Dajjal akan keluar pada waktu merosotnya pemahaman agama dan mundurnya ilmu pengetahuan. Dia memiliki waktu selama 40 malam untuk menjelajahi bumi. Satu hari (pertama) masanya seperti setahun, satu hari (kedua) masanya seperti sebulan, satu hari (ketiga) masanya seperti satu pekan (Jumat), kemudian hari-hari sisanya sama seperti hari-hari kalian ini. Dan dia memiliki seekor keledai yang dia tunggangi, yang mana jarak (lebar) di antara kedua telinganya adalah empat puluh hasta. (HR. Imam Ahmad)

Lebar antartelinga mencapai 40 hasta (20 hingga 22 meter). Dalam perspektif masa kini, telinga sepanjang itu lebih mirip sayap pesawat. Dalam industri penerbangan modern, ukuran bentang sayap selebar itu tergolong dalam kategori pesawat ukuran sedang hingga kecil, seperti jet pribadi Falcon 8X/Bombardier Challenger dan taksi terbang buatan Cina V5000. Dengan tambahan hadits berikut ini, kita melihat sosok Dajal ini seperti seorang eksekutif yg bepergian dgn jet pribadinya, dan membuat banyak orang melayani segala kepentingannya karena ketergantungan pada teknologi rekayasa alam yang dimilikinya:

"Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?'' Beliau menjawab: 'Seperti hujan yang didorong oleh angin kencang. Ia mendatangi kaum, lalu mengajak mereka, dan mereka beriman serta mematuhinya. Ia memerintahkan langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman, membuat ternak mereka kembali dengan punuk lebih panjang, susu lebih penuh, dan lambung lebih lebar." (HR. Muslim)

Kecepatan badai atau awan yang didorong angin kencang umumnya berkisar antara 60 hingga 120 km/jam. Teknologi penerbangan manusia saat ini tidak hanya setara, tetapi juga telah melompat jauh melampaui kecepatan analogi angin tersebut. Misalnya, pesawat komersial: berkecepatan jelajah rata-rata 850–900 km/jam (lebih cepat dari badai tornado terkuat sekalipun).

Keyakinan rasionalis bahwa yg ditunggangi Dajjal adalah pesawat dikuatkan oleh kitab eskatologi Bihar al-Anwar karya Ulama Al-Majlisi:

"Ia (keledai Dajjal) akan berhenti pada suatu tempat, lalu diserukan kepada manusia: 'Kemarilah dan masuklah ke dalam perut keledai ini!'' Maka orang-orang pun masuk ke dalam lambungnya melalui sebuah pintu, dan ketika kendaraan itu hendak berangkat, keberangkatannya akan diumumkan dengan suara keras…"

Semua ulama sepakat bahwa Dajjal adalah manusia, bukan alien. Namun, apa yang dikendarainya masih bisa diperdebatkan, sehubungan dengan keterbatasan masyarakat di masa lalu dalam menjangkau pencapaian manusia saat ini dan di masa depan. Sementara Tuhan berbicara melalui perantaraan lisan utusan Nya dgn bahasa yg difahami oleh manusia saat ini:

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka ..." (QS. Ibrahim: 4)

Jika pada abad ke-7 Nabi SAW bersabda bahwa Dajjal akan mengendarai "kendaraan berbahan baja yang digerakkan oleh mesin jet berbahan bakar avtur dan terbang di atas awan", masyarakat Arab Jahiliyah saat itu tidak akan bisa memahaminya. Penyebutan istilah modern yang belum ada wujudnya justru akan membuat wahyu dianggap sebagai kegilaan atau omong kosong, sehingga merusak esensi ujian keimanan. 

Oleh karena itu, ketika menggambarkan kendaraan masa depan yang memiliki bentang sayap lebar, bergerak sangat cepat, dan membawa manusia di dalamnya, metafora yang paling logis dan mudah dibayangkan oleh imajinasi manusia zaman itu adalah "keledai raksasa yang bentang telinganya puluhan hasta dan bisa melompat ke awan".

Allah sengaja tidak menyebut nama teknologi modern secara spesifik, melainkan memberikan isyarat umum yang fleksibel agar maknanya baru terbukti ketika teknologinya sudah tercipta. Contoh nyata ada pada Surat An-Nahl Ayat 8:

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya... Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”

Frasa "apa yang tidak kamu ketahui" adalah ruang linguistik yang Allah sediakan bagi manusia masa depan untuk mengisi ruang tersebut dengan penemuan seperti mobil, kereta, kapal selam, hingga pesawat terbang.

Kembali ke makhluk cerdas yang keluar dari perut bumi, ada teori yang menyatakan bahwa alien atau makhluk cerdas non-manusia hidup bersembunyi di dalam perut bumi atau di bawah samudra yang dikenal secara ilmiah dalam studi ufologi sebagai Cryptoterrestrial Hypothesis. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh penulis Mac Tonnies pada tahun 2010. Inti teorinya, makhluk cerdas yang kita sangka "alien dari luar angkasa" sebenarnya adalah ras asli Bumi (indigenous) yang telah berevolusi secara paralel atau mendahului manusia. Karena kalah jumlah populasi dengan manusia, mereka memilih bersembunyi di bawah tanah (underground) atau di gua-gua raksasa yang tidak terjamah. Mereka sengaja menggunakan teknologi kamuflase dan membiarkan manusia mengira mereka datang dari bintang jauh agar rumah asli mereka di dalam Bumi tidak diusik.

Hanya waktu yang akan menunjukkan bagaimana pertanyaan terkait nubuwahan akhir zaman akan terjawab. 

#persepsicahyana

Kamis, 07 Mei 2026

Rambut Bercat


Guru mempersoalkan rambut bercat untuk siswi berhijab sampai mengguntingnya itu berlebihan bila tidak ada aturan sekolah yang melarang. Memperkarakan tindakan tersebut sampai ke pengadilan itu juga berlebihan, karena niat gurunya pasti baik. 

Bersolek itu sifat alami perempuan; tidak perlu dipersepsikan negatif. Bila dengan bersolek kaum perempuan mau bersekolah, maka biarkan saja begitu. Lebih baik bersolek untuk ke sekolah daripada ke tempat yang buruk. Perempuan mau bersekolah sampai jenjang atas itu sudah luar biasa. Tinggal bagaimana memahamkan kepada mereka bahwa kecantikan itu harus seiring sejalan dengan kemampuan dan digunakan untuk kebaikan.

Buat para ortu, ga usah berkepanjangan dengan kasus seperti ini. Niat guru selalu baik, walau caranya tdk tepat. Muliakan niat baiknya. Anak saya juga pernah dibilang merusak citra sekolah gara-gara sepatunya berlubang. Saya tidak mempersoalkannya, walau pernyataannya tidak baik, semata karena memuliakan guru.

Ortu siswa lebih baik fokus saja pada masalah yang lebih penting dan terjadi di banyak sekolah negeri, seperti besarnya biaya sumbangan yang diminta oleh komite dari ortu dan bahkan menyaingi sumbangan kampus, diskriminasi siswa berdasarkan uang sumbangan dan pelunasannya, arahan bagi lulusan yang lebih disesuaikan dengan kepentingan sekolah daripada minat anak dan kepentingan keluarganya, dan lainnya.

#persepsicahyana
#biograficahyana

Minggu, 26 April 2026

Patuh dan Tawadhu


Seorang hamba selalu menerima dan menaati perintah Tuhan di saat senang maupun susah. Semua perintah ini bertujuan untuk membangkitkan ilmu dan kebijaksanaannya, sehingga muncul keutamaan dan kelayakannya sebagai pemimpin di Bumi.

A servant always accepts and obeys God's commands, in times of joy and sorrow. All these commands are intended to awaken his knowledge and wisdom, thereby revealing his virtue and worthiness as a leader on Earth.

يتقبل العبد أوامر الله ويطيعها دائماً، في السراء والضراء. وكل هذه الأوامر تهدف إلى إيقاظ علمه وحكمته، فتُظهر بذلك فضائله وجدارته كقائد على الأرض.

#persepsicahyana

Dalam menerima ujian-Nya, hamba Tuhan akan patuh dan tawadhu, sehingga tidak seperti Iblis yang membangkang dan menyombongkan diri. Kepatuhan dan tawadhu merangkum semua keutamaan makhluk, termasuk malaikat.

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 30). Kemudian, Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!" (QS. Al-Baqarah: 31). Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana" (QS. Al-Baqarah: 32).

Dia (Allah) berfirman, "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!" Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, dia berfirman, "Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 33). Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri sehingga ia termasuk golongan kafir (QS. Al-Baqarah: 34).

#ratisejiwa

Sabtu, 25 April 2026

Dekat dan Jauh


Jarak dapat menyebabkan prasangka dan konflik, sementara saling pengertian dan memberi dapat menumbuhkan kedekatan.

Distance can lead to prejudice and conflict, while mutual understanding and giving can foster closeness.

قد يؤدي البُعد إلى التحيّز والصراع، بينما يُمكن للتفاهم المتبادل والعطاء أن يُعزّزا التقارب.

Orang beriman mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari & Muslim). Ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain (HR. Bukhari), atau satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR. Muslim). 

Bila kecintaan itu telah luntur dan bahkan tergantikan oleh kebencian, maka saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian (HR. Tirmidzi) dan membuat saling mencintai (HR. Bukhari). Berjamaah (bersatu) dan menjauhi perpecahan adalah keharusan, karena setan bersama orang yang sendirian (HR. Tirmidzi). Setan itu menimbulkan perselisihan dan musuh yang nyata (QS. Al-Isra': 53).

#persepsicahyana #ratisejiwa