Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 22 April 2026

Sakit Mu Black

Di Leles, tiba-tiba indikator mesin menyala. Tenaga ilang. Dicabut ACCU, kemudian indikatornya mati setelah ACCU dipasang lagi. Tapi selang beberapa saat indikator nyala lagi. Sudah tiga kali trik tsb dilakukan, tdk ada perubahan. Akhirnya menepi di depan bank. 


Selang beberapa saat, satpam bank mengetuk pintu, bertanya apakah masih lama. Saya bilang mobilnya bermasalah. Satpamnya berpendapat barangkali overheat, sambil meminta saya maju sedikit ke depan. Saya pun melajukan kendaraannya melewati pintu perlintasan kereta dan menepi di minimarket. Coba dinginkan mesin sebelum cek sistem pendingin mesinnya. 


Di teras minimarket saya memikirkan apa yg disampaikan satpam tersebut. Dua titik yg saya periksa: air radiator aman, kipas aman. Saya perlu strategi karena jalan balik harus melewati tanjakan panjang. Keputusannya, matikan AC dan sound system. Alhamdulillah, sampai di bengkel juga. Belum usai penyakitmu, Black.


#biograficahyana

Jumat, 03 April 2026

Kebahagiaan Seorang Pendidik

Salah satu kebahagiaan atau ciri kesuksesan seorang pendidik adalah bila anak didik yg didorongnya dari belakang dapat lebih sukses atau lebih baik dari dirinya. Bahkan bila anak didiknya merendahkan dan menyombongkan diri atas pencapaiannya itu, sebab dia baru mampu bersyukur dgn cara seperti itu.

Sebagaimana pengalaman beberapa minggu yg lalu dan sore tadi, saya bertemu dgn beberapa anak didik yg menunjukkan sikap bersyukurnya dan memperlakukan saya seperti orang tuanya sendiri. Di antaranya ada yg begitu berterima kasih atas fasilitasi dan bimbingan selama masa pendidikan yg membuatnya dapat memiliki perusahaan teknologi sendiri. Anak lainnya, seorang pemilik perusahaan bangunan, menolak uang pembelian dari saya dan memberikan barang yg saya beli dgn cuma-cuma. Utk nya saya do'akan, Barakallah, semoga usahanya terus berkembang.

Saya tdk pernah bercita-cita menjadi tenaga pendidik. Namun di jalan profesi yg Tuhan berikan ini, saya mulai melihat berbagai keindahan, mendapatkan hikmah dari perilaku peserta didik yg bersyukur dgn cara sesuai kondisi dan kemampuannya. Semoga saya dapat belajar dari mereka semua dlm penghormatan dan kesyukuran kepada orang tua biologis dan akademis, dan kpd Tuhan yg memberikan kedudukan dlm hati hamba-hamba Nya. 

#biograficahyana

Minggu, 22 Februari 2026

Sore itu di Pasar Tumpah


Sore itu saya berada di pasar tumpah yg biasanya ada setiap week-end. Namun di bulan Ramadhan ini, pasar tsb hadir setiap sore. Seperti biasa lapak pedagang berjejer di sepanjang jalan. Kendaraan melaju lambat krn setengah bagian jalan digunakan oleh warga yg sedang membeli atau mencari makanan yg disukainya. 

Saya berdiri di samping gerobak penjual makanan. Nampak seorang pemuda mendatangi penjual dan memberikan botol air mineral, seraya berkata, "nanti saja ya." Kemudian satu botol lagi dia berikan ke pedagang lain di sampingnya. Pastinya air dalam botol kemasan itu tdk akan diminum oleh para pedagang saat berjualan krn sedang berpuasa. 

Kejadian tsb mengingatkan saya pada pengalaman di masa lalu. Seorang bapak sopir angkutan umum merasa jengkel krn terus diberikan botol air mineral oleh pemuda di jalan yg dilaluinya. Dia menunjuk ke arah tumpukan botol yg masih utuh, sambil berkata, "Ini masih banyak!." Tapi itu hanya pikiran yg muncul sesaat krn kesamaan pola antara pengalaman baru dgn pengalaman lama. 

#biograficahyana

Rabu, 11 Februari 2026

Penelitian: Dari Tahu Banyak Menjadi Banyak Tidak Tahu

Di awal kuliah Doktoral, saya membayangkan prosesnya seperti upaya keras menaiki bukit domain penelitian. Di setiap tingkatannya, ada banyak artikel yang harus dikumpulkan, dibaca, dipilih sesuai rencana, dan disintesis sesuai tujuan, untuk kemudian diuji dengan keras. Lelahnya luar biasa. 

Namun begitu berada di atas puncak bukit, saya melihat setiap tingkatan itu seperti undakan sawah. Pengetahuan yang terungkap seupama objek apapun yang ada di setiap undakan tsb. Secara keseluruhan terlihat indah. Itu adalah perasaan yang muncul saat membaca hasil studi pustaka. Ada banyak orang yang sombong dengan kondisi seeprti itu karena merasa telah melihat lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang masih berada di bawah dan sedang merangkak naik ke atas. 

Bila saja tidak ada ujian kualifikasi, saya akan terlena dan merasa sudah tahu banyak hal. Ternyata itu baru awal perjalanan. Saya harus turun kembali, memilih satu undakan yang akan ditempati. Di undakan itu saya harus melihat sesuatu yang diperlukan untuk membuat undakannya menjadi lebih indah menurut orang yang melewatinya. 

Ada banyak area penelitian yang bisa dipilih. Sepupama memilih "tumbuhan", "hewan", atau "benda mati". Semuanya tersedia di undakan tersebut. Pemilihan tersebut tentunya disesuaikan dengan minat yang dipengaruhi oleh pengalaman penelitian dan pengabdian di masa lalu. Mentor berusaha mengarahkan saya ke arah yang benar. Setelah itu, barulah saya memilih objek spesifiknya apa. Pemilihan itu tdk sederhana, alasannya harus jelas. Ada banyak ahli yang berusaha melihatnya dan menguji kekokohannya. Saat itu saya sudah masuk ke usulan riset. 

Proses kreasinya menyenangkan, ada banyak kritik dan masukan dari para ahli yang mengklarifikasi dan menguatkan. Prosesnya tidak instan, melewati tiga fase. Seupama membangun gubuk, mulai dari bagian pondasi kerangka kerja, bagian pilar formulasi, lalu bagian atap aplikasi dunia nyata. Semuanya harus kokoh dan satu kesatuan. Bangunan itulah yang mengisi ruang kosong di undakan tersebut. Harapannya bukan hanya terlihat bagus, tetapi juga bermanfaat bagi pengguna spesifik, khususnya bagi setiap peneliti yang sedang menaiki bukit. 

Seusai itu, saya tersadar, ada banyak ruang masalah di undakan tersebut yang tidak tersentuh. Padahal di bukit domain itu ada banyak undakan yang bahkan tidak saya masuki. Ternyata kontribusi penelitian saya sangatlah kecil, dan apa yang tidak diketahui sangatlah banyak. Sementara, semua undakan dan objek di dalamnya adalah kontribusi dari banyak orang. Pengetahuan yang dimiliki ini seperti setitik air di tengah samudera yang luas. 

Kondisi tersebut berbeda dengan titik di mana saya berada di puncak bukit, tempat di mana ada banyak orang yang merasa sombong dengan pengalaman dan pengetahuannya terkait banyak undakan yang sudah dilewati. Saya pernah mendengar: Orang yang merasa benar sendiri itu belum sampai. Orang yang bijak itu seperti padi yang menunduk. Saya sekarang bisa memahaminya dengan lebih jelas lagi dengan perjalanan riset yang sudah dilalui. 


Jumat, 09 Januari 2026

Learning First, Leading with Heart: A Reflection on Becoming a Teacher in the Age of AI

I still remember how I felt in May 2025, sitting quietly in a training room in Banten, joining a week-long program on Coding and Artificial Intelligence (KKA). I came as a teacher who wanted to learn something new, but I also brought doubts I did not say aloud. AI sounded powerful, almost intimidating. I wondered if, one day, it would slowly push teachers to the margins of their own classrooms.

Keterangan foto tidak tersedia.

As the days passed, my fear did not disappear, but it changed. I began to see that AI does not replace what makes teaching meaningful. It does not notice when a student loses confidence. It does not understand why a child suddenly goes silent. Only teachers can do that. AI can assist, but it cannot care.

"AI does not understand children the way teachers do."

Keterangan foto tidak tersedia.

That understanding became even clearer when I was asked to serve as a facilitator for KKA teachers in Garut Regency and later across West Java. Standing among fellow teachers felt different from standing in front of students. I was not there to impress or instruct. I was there to listen.

Keterangan foto tidak tersedia.

Some teachers spoke with honesty and worry. They feared losing relevance. They feared becoming dependent on machines. I did not try to convince them quickly, because resistance is often rooted in love for the profession. I realized that fear does not mean refusal. It means teachers care deeply about their role.

Keterangan foto tidak tersedia.

At the same time, I met teachers who moved forward with quiet courage. One of them showed a simple attendance system powered by AI. It was not sophisticated. It was not perfect. But it represented something far more critical: confidence to try.

“The real change was not in the technology, but in the teacher’s confidence."

These contrasting experiences stayed with me. When I later facilitated a larger program in West Bandung Regency, I brought real stories into the discussion. Interestingly, the conversation shifted. Teachers spoke less about fear and more about reality. Limited devices. Weak internet connections. Schools that were not equally prepared. That was a powerful reminder that transformation must always respect context.

Keterangan foto tidak tersedia.

Through this journey, I learned that AI literacy is not merely a technical issue. It is a human one. It requires patience, empathy, and ongoing support. The most important work does not end when training ends. It begins afterward.

Keterangan foto tidak tersedia.

That is why I believe deeply in mentoring and community. Together with fellow facilitators, I helped forge a teacher community focused on strengthening KKA. It became a safe space to share, to fail, and to grow. When I was asked to serve as a mentor, I accepted not because I had all the answers, but because leadership sometimes means walking together, not walking ahead.

"Being a teacher leader means learning alongside others, not standing above them."

Mungkin gambar satu orang atau lebih, mimbar dan teks

This work is closely tied to my long involvement with the ICT Volunteer (Relawan TIK) movement. Since 2002, I have worked with communities to strengthen digital literacy. In 2025, university students I taught joined schools to support AI literacy for younger learners. Watching teachers, students, and volunteers learn from each other reminded me that meaningful change is always collaborative.

Looking back, I now see that this journey with AI is not really about artificial intelligence. It is about identity. About courage. About reminding ourselves why we became teachers in the first place.

We cannot stop change from entering our classrooms. But we can choose how we respond to it. We can choose fear, or we can choose growth. As Trainer, our role is not to master every tool, but to model lifelong learning with humility and heart.

"AI will never replace teachers who are willing to keep learning."

And perhaps that is the most crucial lesson I carry forward. Before we ask our students to adapt to the future, we must be willing to learn first. That is how we lead. That is how we stay human in a digital world.

Senin, 03 November 2025

Smartphone


Setelah berkendara setengah jam, kendaraan harus terhenti oleh antrian panjang krn bertemu dgn kemacetan di turunan. Saat mau mengambil foto, ternyata smartphone nya tertinggal di rumah. Akhirnya putar balik krn SIM, e-Tol, e-Wallet, semuanya ada di smartphone. 

Setibanya di rumah, ternyata kunci rumah dibawa istri keluar. Menghubunginya susah krn tdk ada smartphone. Akhirnya manjat rumah, naik ke lantai dua pake tangga. Kebetulan ada tukang yg lagi kerja di atas sana. 

Smartphone adalah dompet jaman sekarang. Berbagai urusan bisa terkendala dan gagal hanya karena tdk ada smrtphone. Jaman sekarang, tertinggal smartphone lebih bermasalah dari pada tertinggal dompet. 

#biograficahyana

Senin, 13 Oktober 2025

Gak Sat Set


Mau ngisi BBM dgn kartu debit atau QRIS, katanya tdk bisa krn masih pagi. Ada yg bisa, harus balik melawan arah tujuan. Ketemu beberapa tempat lainnya di depan, ternyata semua tdk melayani cashless sama sekali. 

Ambil uang di ATM, mesinnya rusak. Ketemu di tempat lain, mesinnya nolak mengeluarkan uang sebelum buka helm dan tentu saja berikut maskernya. Keluar dari ATM ada jukir menanti, mana susah ngambil uang klo pake sarung tangan, duh. Bepergian pake motor ribetnya duh, gak bisa sat set, bikin bad mood.

Btw, SPBU yg itu bikin males ke sana lagi. Pengalaman pertama, petugasnya bikin aplikasi keblokir. Pengalaman kedua, dah ngantri lama malah mobil lain yg baru datang yg diisi, ya sudah langsung cabut tanpa nunggu diisi. Pengalaman ketiga, ga bisa ngisi pake debit atau QRIS krn masih pagi. 

 #cahyanatrip

Senin, 01 September 2025

Perdebatan Guru dan Murid


Seseorang yg pernah menjadi mhs saya di masa lalu dinasihati agar melakukan ricek sebelum menuduh orang lain yg bukan-bukan agar tdk tertipu kalangan fasiq yg suka menyebarkan hoax. Dia malah berpaling dan menuduh sikap saya tsb sebagai balas budi kpd Jkw yg telah mengangkat saya sebagai dosen. Tuduhannya keliru krn saya berbakti utk negeri ini sudah 20 thn lamanya. Tanpa diberi tahu, dia seharusnya faham bila nasihat itu kalau bukan sebagai balas budi sama Jkw tentunya krn dia adalah anak didik sepanjang hayat. Pendidikan terus saya jalankan, kapanpun saya bertemu dgn mahasiswa, dan dlm kondisi apapun. 

Saya sudah terbiasa didebat mhs yg tdk sefaham, mulai dari urusan platform teknologi hingga soal pandangan politik. Terkadang saya berhadapan dgn perkataan yg menyinggung. Tetapi saya adalah pendidik dan mereka adalah anak-anak saya. Saya tdk menaruh rasa benci, dan selalu ingin berbuat baik utk mereka. Perdebatan guru dan murid memberikan ujian komitmen pada ilmu pengetahuan dan adab, bukan pada hawa nafsu. Guru dan murid yg lulus ujian akan tetap saling menyayangi dan tdk menaruh rasa dendam. 

#biograficahyana

Minggu, 31 Agustus 2025

Menjaga Indonesia

MENJAGA INDONESIA

Malam Sabtu itu saya nongkrongin Tiktok sampai setengah dua dini hari, bepergian dari satu Live ke Live lainnya. Bukan hanya utk melihat apa yg dilakukan oleh Gubernur dintengah demonstran dan perusuh, tapi memerangi para penjahat yg menghasut kejahatan. Mereka ingin Gd Sate terbakar dgn terus menerus mengulang pesan tentang apa yg terjadi di Makasar.

Saya hanya mampu berusaha membangun kesadaran kepada penonton live Tiktok utk menjaga bangunan bersejarah bersama-sama dgn mengirim pesan dari satu live ke live Tiktok lainnya. Syukurlah saya tdk sendirian, ada banyak yg meminta bangunan tsb tdk diganggu. Komunitas motor bahkan merespon dgn mengatakan akan bergerak mengamankan gedung ikon Jabar tsb. 

Si Penghasut melawan dgn bahasa menyinggung bahwa itu bukan bangunan rakyat, tapi simbol feodalisme. Si Penjahat ini ga faham kalau pejuang telah berkorban darah dan air mata utk mendapatkannya. Namun para penjahat ini memang menang, mereka berhasil membuat perusuh menghancurkan cagar budaya lain, dengan tambahan hancur dan dijarahnya rumah makan hingga lapak warung nasi rakyat kecil. Di daerah lain bahkan musium ikut dirusak, banyak artefak yg dicuri. Yg menyesakkan, Graha bersejarah bagi arek Surabaya tdk luput juga. 

Marah boleh, tapi jgn merusak aset rakyat, seperti anak tantrum yg merusak motornya sendiri saat ditilang Polisi. Mereka bilang, rakyat boleh merusak asetnya sendiri. Padahal dana perbaikan aset yg dirusak itu bisa membantu banyak rakyat kecil. Ngakunya bela rakyat, tapi ga sensitif dgn kebutuhan rakyat. Merusak aset rakyat tanpa alasan yg benar itu sama dengan mencuri uang rakyat utk kepentingannya sendiri.

Saya melihat orang jahat bahu membahu dalam kejahatannya. Saling menghasut utk melakukan kejahatan dan berbagi lokasi target kejahatan di media sosial. Dari sederet nama yg disebut oleh mereka di medsos, hanya satu yg tdk mengalami penjarahan. Entah bagaimana hal demikian seperti tdk dapat diantisipasi, sehingga hasutan tindak kriminal pencurian lebih banyak berhasilnya. 

Sampai saat ini saya jengah dgn kedunguan netizen yg mau saja dibodohi oleh para penjahat. Melabeli pencurian sebagai perampasan aset. Padahal jelas asetnya tdk diserahkan ke negara, tapi dibawa sendiri seperti maling pada umumnya. Dan korban ini bukan koruptor. Seharusnya dicek dulu, apakah mereka korup, supaya tdk tergolong kalangan fasiq.

 "Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu seorang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya, lalu kamu menjadi menyesal atas perbuatanmu itu". (Q.S. Surat Al-Hujurat: 6)

Mereka bilang, rakyat akhirnya mengesahkan UU Perampasan Aset. Saya katakan, UU tsb untuk menghukum pencuri, bukan untuk melegalkan pencurian. Janganlah kebencian kpd seseorang membuat tdk bersikap adil. 

Orang yg melakukan kejahatan dan menghasutnya, atau siapapun yg berada dekat dgn nya namun mendukungnya, sampai timbul kerugian pribadi atau bahkan korban jiwa, memperoleh dosa yg sama dan berdampak sempit pintu rejekinya. Para pendukungnya malah marah diingatkan seperti itu. Sebagian malah melabeli buzzer. Ya, saya adalah pendengung pesan yg benar menurut apa yg saya yakini, seperti mendengungkan perlawanan terhadap siapapun yg menyusahkan rakyat dgn mengatasnamakan rakyat. 

Rakyat wajar marah atas perilaku menyinggung, tetapi jgn manfaatkan kemarahan itu utk membenarkan pencurian. Mencuri itu mutlak salahnya, mencuri adalah mencuri, mau banyak atau sedikit. Sementara perilaku menyinggung itu relatif, tergantung persepsi audien terhadap perilaku tsb. Oleh krn nya, mencuri itu lebih buruk dari pada perilaku menyinggung. Apakah baik melawan keburukan dgn tindakan yg lebih buruk menurut orang baik? 

Sebagai warga negara tugas saya menjaga negeri. Semua rakyat pasti mendukung apapun yg baik dan disampaikan oleh demonstran secara damai, tdk merugikan rakyat. Rakyat yg akalnya sehat pasti akan melawan para penjahat yg membuat kerusakan, mengganggu kepentingan umum dan usaha rakyat, serta melakukan perbuatan melampui batas. 

#BiografiCahyana

Kamis, 28 Agustus 2025

Selamat Jalan Bunda Inge

Beliau ibu DR. Inggriani Liem atau lebih dikenal dengan nama ibu Inge, dosen senior Informatika ITB. Perjumpaan pertama saya adalah saat mengikuti kelas beliau, Rekayasa Perangkat Lunak di ITB. Namun ada momen yg membuat saya hingga saat ini membantu upaya beliau membangun kemampuan berpikir komputasional (CT) di Indonesia. 

Saat itu saya menjabat ketua program studi Informatika. Salah satu tugas yg diemban adalah memonitor tugas belajar dosen. Kebetulan pak Rickard Elsen, dosen Informatika, adalah bimbingan beliau. Saya menemui beliau di ruang dosennya. Saya memperoleh sambutan yg hangat dan promosi pengabdian. 

Beliau mengajak saya makan siang bersama. Dalam pertemuan itu beliau menceritakan tentang Bebras Indonesia dan menawari saya tanggung jawab sebagai ketua biro di Garut. Akhirnya kampus di Garut menjadi Sekolah Tinggi pertama yg ada dalam jaringan Bebras Indonesia. Beliau sangat selektif memilih kampus sebagai biro Bebras, sehingga tdk serta merta menerima jaringan Relawan TIK Kampus yg saya miliki. Bebras Indonesia merupakan bagian dari kegiatan Tantangan Bebras yg berlangsung di berbagai negara.

Dalam perjalanan berikutnya saya diajak menjadi pengurus Bebras Indonesia. Salah satu usaha membantu organisasi ini adalah menjadikannya sebagai bagian dari program Google for NGO. Hingga saat ini tugas pengelolaan email masih diemban. Tugas ketua biro diserahkan kepada ibu Dewi Tresnawati. 

Sebagai pengurus, saya berusaha untuk mempromosikan Bebras dan CT ke Kemenkominfo RI dan Kemenag RI. Alhamdulillah, Prof Ali Ramdhani menyambut baik dan menjalin kerjasama penerapan CT di lingkungan Madrasah. Saat menjabat sebagai ketua Saka Informatika Kwarcab Garut, saya memperoleh bantuan kegiatan dari Kemenkominfo RI dan mengundang bu Inge sebagai salah satu narasumbernya. 

Dalam kesempatan sebagai narasumber tersebut, bu Inge menunjukan perhatiannya pada hemat energi. "Kamu sudah saya anggap sebagai anak. Saya menasihati kamu agar menutup jendela bila AC dinyalakan", ujar beliau. Beliau juga memberikan pemahaman tentang "smart" yg saya usung sebagai tema kegiatan dlm sesi seminar tersebut. Namun yg lebih penting, saya berhasil mempertemukan Kemenkominfo RI dengan beliau di kampus, sehingga mendapatkan insight tentang pentingnya CT.

Interaksi dgn beliau terakhir kali di WA, 30 Juli 2021, terkait studi doktoral di ITB. Beliau mendo'akan saya cepat lulus dan mengulangi do'a tsb beberapa tahun kemudian di FB. Beliau menanyakan rencana topik penelitian. "Siapa tahu bisa kasih asupan paper2 kalau aku pas nemu", ujar beliau di WA. 

Beliau masih ingat video yg dikirimkan di WAG Bebras, mobil tim Bebras yg berjuang melewati jalan longsoran saat berkegiatan Bebras di Cisewu. "Memetakan kesiapan infrastruktur IT aja khususnya utk pendidikan. Akan keren tuh bikin dashboardnya 😊 Dihubungkan sama tingkatan literasi dan berpikir. Pengalamanmu nyopir honda imut2 ke daerah itu salah satu background storynya. Goalnya utk bangun small contextual smart societies.", tambah beliau. 

Beliau sosok religius. Nampak beliau berdoa sebelum makan dan memberikan nasihat-nasihat baik yg universal. Beliau pernah bercerita bahwa pandemi Covid 19 membuatnya lebih dekat dengan Tuhan. Beliau juga sosok yg sangat cair dan beradaptasi dgn lingkungannya. Term Islami seperti "Alhamdulillah" atau "Insya Allah" saya dengar dlm percakapan. Demikian halnya disampaikan oleh Prof Ali saat berinteraksi di Kemenag. Hal tsb menjelaskan beliau sosok plural yg sudah menjadi pelayan bagi umat manusia. 

Hari ini, 28 Agustus 2025, beliau wafat di Bandung. Pelayanan beliau kepada saya, bangsa, dan negara sangat baik. Semoga kebaikan dari pelayanan beliau dapat saya ikuti. Saya meyakini, Allah tdk mempertemukan dan mendekatkan kpd siapapun, melainkan utk menguatkan perjalanan hidup. Terima kasih bunda atas segala amal baktinya. 

#biograficahyana

Senin, 18 Agustus 2025

Nasihat Hati Beruban

Sore ini saya mengantar istri ke pondok. Kendaraan saya terhenti tepat di gerbang masuk, tertahan oleh kendaraan yg berhenti di depan pos penjagaan. Nampak pengemudinya turun utk menyapa seorang bapak yg duduk di pos satpam. Saya sangat mengenal beliau. Saya tdk bisa turun krn posisi setengah kendaraan berada di jalan besar. 

Di dalam pondok, kendaraan beliau berhenti. Nampak beberapa santri turun dan mencium tangannya. Saya menghentikan kendaraan agak jauh supaya beliau tdk terganggu dan cukup waktu berinteraksi dgn para santri. Arah kendaraan beliau sama, ke area pondok yg saya tuju. 

Setelah kendaraan diparkirkan di depan gedung pondok, saya bergegas menemui beliau yg merupakan dosen agama dan ustadz akhlak saya semasa kuliah sarjana dan mondok dulu. Lama sekali tdk berjumpa, sampai beliau memastikan beberapa kali kalau saya adalah muridnya. 

Beliau bertanya, kemana saja? Saya jawab, sedang kuliah. Selama kuliah, aktivitas saya lebih banyak di rumah dan di kampus Bandung. Beliau mendo'akan agar kuliah selesai, dan mengatakan orang seperti saya diperlukan. Semoga do'a dan pernyataan beliau dikaruniakan Allah kpd saya yg bukan siapa-siapa. 

"Saya sudah beruban tadz", guyon saya pada beliau. 

Kapasitas beliau sebagai guru akhlak tercermin dari jawabannya, "Tidak apa-apa rambut beruban, yang penting hati tidak beruban". 

Tentunya saya perlu berhati-hati dalam memahaminya, tdk mengintepretasikannya secara keliru atau tdk masuk akal. Misalnya, bila uban adalah kebaikan bagi muslim, tentu saja maksud beliau bukan hati tdk boleh berhias kebaikan. 

Hati beruban adalah kiasan ttg kondisi psikologis yg dipenuhi tekanan. Beliau mengingatkan agar saya membawa hati agar jauh dari kondisi tsb. Nasihat beliau menguatkan do'a yg selalu dilajimkan setiap salat wajib:

اللَّÙ‡ُÙ…َّ Ø£َعِÙ†ِّÙ‰ عَÙ„َÙ‰ ذِÙƒْرِÙƒَ ÙˆَØ´ُÙƒْرِÙƒَ ÙˆَØ­ُسْÙ†ِ عِبَادَتِÙƒَ

Ya Allah, tolonglah aku agar selalu berdzikir/mengingat-Mu, bersyukur pada-Mu, dan memperbagus ibadah pada-Mu.

Karena saya tahu, hanya dgn mengingat Allah hati menjadi tenang (Q.S. Ar-Rad ayat 28). Namun dzikr itu tdk akan menenangkan bila Allah tdk mengaruniakan ketenangan. Oleh krn nya, do'a tersebut disempurnakan dgn

اللهم نور قلوبنا بنور هدايتك كما نورت الارض بنور شمسك ابدا ابدا برحمتك يا ارحم الراحمين

Ya Allah terangilah hati-hati kami dengan cahaya hidayah Mu seperti telah Kau terangkan bumi dengan cahaya matahari selama-lamanya, dengan rahmatMu Ya Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

رَبَّÙ†َا Ù„َا تُزِغْ Ù‚ُÙ„ُÙˆْبَÙ†َا بَعْدَ اِذْ Ù‡َدَÙŠْتَÙ†َا ÙˆَÙ‡َبْ Ù„َÙ†َا Ù…ِÙ†ْ Ù„َّدُÙ†ْÙƒَ رَØ­ْÙ…َØ©ً ۚاِÙ†َّÙƒَ اَÙ†ْتَ الْÙˆَÙ‡َّابُ

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.

Demikian hikmah perjumpaan dgn beliau pada hari ini. Nama beliau sama dgn saya, "Suryo-No". Sementara saya "Cahya-Na" yg bagi seorang hamba dapat dimaknai harapan utk senantiasa beroleh "cahaya hidayah Nya". Dlm perspektif lain, segala "cahaya" sirna dlm cahaya Nya. Tdk ada aku yg mengaku-aku, hanya Dia yg Ada. Itulah sebab saya bukan siapa-siapa. 

#biograficahyana

Minggu, 10 Agustus 2025

Toilet Sekolah


Siswa adalah manusia yg berhak memperoleh layanan prima sebagaimana orang dewasa. Termasuk layanan MCK yg layak atau nyaman. Teringat dulu di SD dan SMA, kondisi toilet murid sangat tdk nyaman. Mulai dari kotoran yg teronggok, hingga kondisi toilet yg sempit dan bau. Di SMA beberapa siswa nekad menggunakan toilet guru yg lebih layak. Baru kemarin lalu saya terpaksa menggunakan toilet sekolah yg rusak kuncinya krn kebelet pipis. 

Sewaktu SD dan SMP, saya lebih memilih pulang ke rumah bila ingin buang hajat. Kebetulan rumahnya dekat. Di SMA, saya memilih utk menggunakan toilet masjid di luar sekolah yg terbuka tetapi bersih. Syukurlah guru piket tdk pernah melarang, mungkin krn menganggap saya tdk akan bolos sekolah atau krn saya aktif di organisasi. 

Gubernur KDM berencana menyediakan satu toilet utk satu kelas. Saya berharap agar toilet tdk bersatu dgn kelas krn tdk akan nyaman buat siswa yg ingin BAB. Sediakan toilet dekat dgn kelas dan jumlahnya memadai. Yg terpenting, toiletnya wajib bersih dan harum, kuncinya berfungsi dgn baik, gayung nya tersedia, ada sabun cuci tangan. Guru dan murid merasa nyaman menggunakan toilet yg sama. Sudah saat nya tdk membedakan toilet pendidik dan peserta didiknya. 

#biograficahyana

Kamis, 07 Agustus 2025

Petunjuk Seorang Pendidik

PETUNJUK SEORANG PENDIDIK

Di masa lalu, saya pernah memberi saran kpd mhs agar mereka dapat menjalani proses kuliah dgn penuh kesadaran dan jgn sampai terpaksa. Sebagaimana saya dulu dipilihkan kuliah di informatika oleh orang tua, bukan pilihan sendiri, dan secara perlahan mencoba utk menerimanya dgn berusaha memahami pertimbangan orang tua yg baik utk masa depan. 

Setelah itu, ada orang tua mhs yg datang menghampiri dan menyalahkan krn anaknya tdk mau kuliah gara-gara saya. Mungkin anaknya dipaksa kuliah dan menggunakan pernyataan saya sebagai dalil utk melawan ortunya. Padahal maksud saya, kuliah dgn kesadaran sendiri itu penting, dan biarpun dipaksa, tetapi perlahan rasa terpaksa itu harus sirna krn sadar pilihan ortu adalah yg terbaik. 

Sayangnya, ortu mhs memilih utk melihat saya tdk sebagai seorang pendidik dan mencoba mendegradasi dgn jabatan suaminya. Padahal bagi mereka yg faham, tdk ada kedudukan yg berarti kecuali abdi yg bertaqwa. Saya tdk melawan dan cukup tersenyum saja krn yg dilakukan oleh beliau pertama kali adalah bukan meminta penjelasan tetapi menyalahkan. 

Setiap orang memang punya rejekinya masing-masing dlm beroleh pemahaman, bisa sesuai harapan kita, bisa juga melenceng jauh. Namun yg harus difahami, seorang pendidik yg benar-benar pendidik tdk mungkin menunjuk ke arah yg salah. Bila ada yg langsung menganggap buruk petunjuk tsb, maka ia tdk melihat seorang pendidik sebagai pendidik, sehingga seorang pendidik dapat memilih utk diam krn anggapan tsb bukan utk dirinya. 

Sangat penting bagi siapapun, terutama murid utk menghormati guru dgn tdk bersangka buruk padanya, mencoba memahami perkataannya dgn benar atau menafsirkannya ke arah yg benar. Walau demikian, memposisikan tafsiran murid sebagai kebenaran di atas pemahaman guru yg pernyataannya ditafsirkan adalah kekeliruan, sehingga tafsiran murid tetap harus divalidasi oleh gurunya atau setidaknya oleh orang terdekatnya.

#biograficahyana

Senin, 30 Juni 2025

Jejak Pengabdian Rinda Cahyana

Menutup tahun akademi 2024/2025, evaluasi diri dengan Gemini, Jejak Pengabdian Rinda Cahyanasebuah buku yang mendokumentasikan perjalanan dan kontribusi Rinda Cahyana sebagai seorang dosen PNS di Institut Teknologi Garut dan aktivis Relawan TIK.

Buku ini merupakan hasil riset Gemini yang menceritakan Rinda Cahyana sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi yang mengintegrasikan keahlian akademis dengan peran aktif sebagai Relawan TIK, bertujuan untuk mencerdaskan bangsa dan memberdayakan komunitas melalui TIK.

Kiprah sebagai Pendidik dan Peneliti: Menjelaskan profil akademik Rinda Cahyana, termasuk jabatannya sebagai dosen di Institut Teknologi Garut, latar belakang pendidikan Magister Informatika, dan statusnya sebagai mahasiswa doktoral di ITB. Dokumen ini juga merinci fokus penelitiannya yang relevan dengan tantangan digital kontemporer, seperti deteksi ujaran kebencian otomatis, literasi digital, smart village, pemanfaatan TIK untuk UMKM, dan teknologi pariwisata. Disebutkan pula 85 publikasinya yang mencerminkan kontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.

Kiprah Pengabdian sebagai Relawan TIK: Menguraikan perjalanan Rinda Cahyana dari pendiri Komunitas TIK Garut (yang meraih penghargaan sebagai "Komunitas TIK terbaik se-Jawa Barat"), hingga menjadi Ketua Komunitas TIK Jawa Barat, dan kemudian memimpin Bidang Pengembangan SDM dan Penelitian di kepengurusan nasional Relawan TIK periode 2024-2028. Bagian ini juga memperkenalkan filosofi "Isme Relawan" dan "Filosofi Radio" yang dianutnya, serta program dan inisiatif utama Relawan TIK di bawah kepemimpinannya, seperti GNLD, respons COVID-19, akses digital, pengembangan digital pedesaan, pemberdayaan pemuda, penanggulangan bahaya digital, dan adopsi teknologi keuangan.

Kolaborasi, Penghargaan, dan Pengaruh: Menyoroti jaringan kolaborasi Rinda Cahyana dengan pemerintah (lokal dan internasional), institusi akademik, serta komunitas dan industri. Dokumen ini juga menyebutkan penghargaan yang diterima Komunitas TIK Garut dan pengakuan selama Festival Literasi Digital Jawa Barat 2021 sebagai bukti dampak kepemimpinannya. Pengaruhnya dalam ekosistem TIK dan literasi digital nasional juga dijelaskan, terutama dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan kebutuhan komunitas.

Visi Masa Depan dan Warisan Pengabdian: Mengemukakan visi Rinda Cahyana untuk masa depan TIK dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada literasi dan keamanan digital, pertumbuhan strategis kerelawanan, serta integrasi mendalam antara penelitian dan praktik. Warisannya digambarkan sebagai model teladan "akademisi-aktivis" yang telah menanamkan kerelawanan dan keterlibatan komunitas dalam struktur akademik, serta berperan penting dalam memajukan literasi digital dan pengembangan TIK berbasis komunitas di Indonesia.

Secara keseluruhan, dokumen ini menggambarkan Rinda Cahyana sebagai figur sentral yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam transformasi digital Indonesia melalui perpaduan keahlian akademis, penelitian terapan, dan pengabdian masyarakat yang berdedikasi.

Kamis, 26 Juni 2025

Memahamkan Anak

Malam itu di selasar toko, si kecil merengek ingin membeli sesuatu. Hampir saja dia menangis. Kemudian saya memeluk dan membisikan ke telinganya berkali-kali, alasan kenapa ia tidak bisa membeli apa yg diinginkannya saat ini. Ia pun berhenti merengek dan mulai membicarakan objek lain dengan wajah ceria. 

Hal tersebut menunjukan si kecil menerima alasan dan percaya kepada ayahnya. Dari respon tersebut saya memahami bahwa menghentikan keinginan anak cukup dengan memahamkan dan membangun kepercayaan dalam suasana hangat, tidak perlu memberinya ancaman hilang kasih sayang.

#biograficahyana

Jumat, 16 Mei 2025

Perasaan Ahli Kubur

Selepas mengantar istri bersama anak bungsu menyiramkan air ke makam mertua, malamnya saya mimpi bertemu mertua. Beliau dgn wajah gembira memberi uang lima ribu pada anak bungsu dan meminta kami utk datang kembali. 

Semoga saja mimpi tsb merupakan isyarat beliau merasa senang dgn kunjungan kami ke kuburnya dan meridhai doa yg kami kirimkan bersama guru dan keluarganya, serta warga. Ibnu Hajar al-Haitami dlm Irsyadul 'Ibad mengatakan bahwa sesenang-senangnya ahli kubur adalah ketika diziarahi oleh orang yang dicintainya semasa di dunia.

Seandainya setiap anak dari orang tua yg telah tiada masing-masing membawa air do'a dan berkunjung ke makam, hal tsb akan membuat orang tuanya bahagia. Namun apabila kemudian datang kabar keburukan anaknya, baik perselisihan atau lain sebagainya, hal itu akan membuatnya bersedih. Sebagaimana hadits Nabi SAW, 

"Sesungguhnya amal-amal kamu sekalian diperlihatkan kepada keluarga dan kerabat-kerabatmu yang telah meninggal dunia. Jika amalmu baik, mereka senang. Dan jika tidak baik, maka mereka berkata, 'Ya Allah, jangan matikan mereka sebelum Engkau tunjuki mereka kepada apa-apa yang Engkau tunjuki kami." (HR. At-Tirmidzi)

Sesekali saya berhadapan dgn kesalahfahaman dlm keluarga yg diakibatkan noise semantik, masalah pemaknaan kalimat. Saya selalu dapat menyelesaikannya hanya dgn pelurusan makna kalimat. Usaha tsb tdk sulit krn semua kalimat yg keluar dari lisan saya timbul dari rasa sayang, tdk didasari niat atau pikiran buruk. 

Kami tdk menanggapi kesalahfahaman secara emosional. Dialognya sebagaimana mahasiswa dan dosen penguji dlm seminar penelitian yg mengedepankan argumentasi dan tujuan pengetahuan, menjauhi serangan pada pribadi (ad hominem). Kakak mendengarkan penjelasan dgn baik krn memiliki rasa sayang kpd adiknya. 

Saya memahami kesalahfahaman sangat mungkin terjadi, sehingga cenderung utk tersenyum dari pada bersikap emosional. Masa kanak-kanak yg emosional sudah berlalu. Kini saya adalah sosok dewasa yg lebih menikmati kedamaian dari pada perselisihan. Hal tsb dapat membuat orang tua jauh dari perselisihan anak-anaknya. Orang tua pasti bahagia bila anak-anaknya rukun dan saling mengasihi. Membahagiakan orang tua dgn amal baik merupakan keharusan.

#biograficahyana

Senin, 28 April 2025

Belajar dengan Bersahaja dan Rendah Hati

Waktu kuliah paska, saya ke kampus naik motor sekitar 2 jam perjalanan. Kondisinya terpaksa demikian krn ingin menimba ilmu dlm kondisi keuangan yg terbatas. Gaji dosen PNS tdk cukup utk keperluan mukim di Bandung. Teringat waktu mengejar kelas pagi, saya berangkat sebelum subuh, mandi di toilet kampus atau di Gasibu. Sekalinya bangun kesiangan krn bergadang mengerjakan tugas, saya pasti akan terjebak macet panjang di Cibiru, dan akhirnya tdk bisa masuk kelas. 

Guru saya, Dr Husni Sastramihardja dalam candaannya di kelas menyebut saya sudah khatam jalan Garut - Bandung. Beliau benar, saya mengetahui waktu berangkat dari rumah dan pulang dari kampus yg nyaman dan tdk nyaman, tahu alternatif jalan yg nyaman. Nyaman dlm arti bebas macet. Saya memilih waktu atau jalan yg nyaman utk mengelola stress. 

Beliau menceritakan pengalaman pergi belajar dgn berjalan kaki, utk menunjukan bahwa perjuangan utk bisa belajar itu baik. Beliau meminta saya utk menularkan semangat belajar seperti itu kpd mahasiswa. Amanat tsb selalu saya ingat dan dijalankan di sesi motivasi dlm kegiatan pembelajaran, 

Saat ini Gubernur Jabar ingin agar siswa pergi ke sekolah dgn berjalan kaki. Teringat dulu waktu SD dan SMP, saya berjalan kaki sekitar 9 menit ke sekolah yg berjarak sekitar 700 meter dari rumah. Istri saya lebih jauh lagi, hampir dua kilo dgn waktu perjalanan sekitar 20 menitan. 

Anak saya yg paling besar juga sama, suka berjalan kaki sejak SMP dgn jarak dan waktu yg hampir sama dgn ibunya. Sebagai orang tua, sekalipun punya pengalaman yg sama, tapi kami tdk tega anak berjalan kaki sejauh itu. Itulah sebabnya kami berupaya memasukan anak ke SMA terdekat. Namun sayang, sekolah yg jaraknya kurang dari 1 km dan masih satu desa tdk bisa diakses krn aturan Zonasi. Jarak tersebut dianggap oleh sekolah terlalu jauh. Akhirnya dia masuk ke SMA yg jaraknya lebih jauh dgn jarak tempuh yg hampir sama dgn sekolah sebelumnya.

Kami selalu menyarankannya utk tdk berjalan kaki dan menggunakan sepeda. Sekalipun usia nya sdh cukup utk memiliki SIM, saya lebih senang dia naik angkutan umum atau naik sepeda. Namun hati ibunya lebih lembut, sehingga anak sesekali diizinkan naik motor ke sekolah. Saat gubernur berencana melarang siswa naik motor ke sekolah, saya sedikit gembira. Bagi saya, berjuang utk belajar itu penting, sesuai juga dgn pesan Dr Husni.

Berjalan kaki atau naik sepeda selain baik utk kesehatan, juga menjadi latihan jiwa agar hidup bersahaja dan rendah hati. Teringat teman SMA saya, seorang anak Bupati. Dia ke sekolah naik angkutan kota. Selain mendekatkan diri dgn warga, itu adalah cara terbaik utk hidup bersahaja dan berendah hati. 

#biograficahyana

Jumat, 18 April 2025

Keluhan dan Tangisan

Garut, 18 April 2025. Sebelum salat Jum'at saya berbincang dgn keluarga tentang keluhan, bahwa mengeluh itu tiada guna bila tdk memunculkan solusi. Mengeluhkan ujian Nya kpd Nya yg ingin menaikan derajat dgn ujian tsb juga nampak seperti kelancangan. Sehingga yg diperlukan adalah meminta pertolongan kpd Nya.

Saat jum'atan, khatib juga membahas tentang keluhan dgn nada emosional. Sampai saat membaca ayat suci dalam salat pun menangis. Selepas salat saya sempat berpikir, seharusnya beliau jgn memimpin salat bila sedang emosional. 

Teringat dulu pernah memutar kaset murotal qur'an di ruang publik (lupa apa di masjid atau di radio) yg qari nya membaca sambil menangis. Saat bertemu pak Kyai, beliau meminta saya tdk memutarnya lagi krn tdk menyukainya dan mengganti dgn murotal quran yg biasa saja, tdk perlu ada tangisannya. 

Sejak saat itu saya memahami bahwa tangisan yg timbul krn perasaan kpd Allah tdk perlu terjadi di ruang publik krn khawatir menimbulkan sanjungan atau kedengkian orang. Semakin tersembunyi kondisi kedekatan  dgn Allah semakin baik. Wali yg dekat dgn Allah saja bersedih hati bila terbesit pikiran merasa dirinya wali atau saat status kewaliannya terbongkar. Bagi saya, lebih baik disangka orang tdk baik tapi berkedudukan baik di sisi Allah dari pada disangka orang baik tapi tdk berkedudukan baik di sisi Allah. 

#biograficahyana

Minggu, 23 Maret 2025

Ketukan Keras saat Macet

Sore itu mobil terjebak macet sehingga banyak berhenti dan berjalan perlahan. Tiba-tiba kaget karena ada pengendara motor yg memukul kaca dgn kencang. 

Saya bukakan pintu sambil tersenyum dan bertanya, "Ada apa kang?". 

Dia dgn wajah emosi protes, katanya kakinya tergilas ban mobil saya. 

Saya agak bingung krn tdk merasakan ada sesuatu yg tergilas. Posisi dia juga jauh dari spion yg artinya tdk mepet-mepet amat dgn mobil. Ada banyak motor yg mepet di kanan kiri mobil dan hanya bapak itu yg mengaku tergilas. 

Saya sampaikan kpd nya agar jaga jarak. Biasanya saya kalau mengendarai motor dan mepet dgn mobil selalu jaga kaki. Arah posisi kaki selalu ke depan dan tdk ke luar. Sopir kendaraan punya blind spot, termasuk ke arah ban, sehingga siapapun yg berada dekat dgn kendaraan harus berhati-hati. 

#cahyanatrip

Rabu, 12 Maret 2025

Solawat Pembuka Mata

Seperti kemarin, mata ini perlahan susah dibuka, padahal tdk mengantuk. Hal tsb cukup merepotkan, mengingat saya harus melajukan kendaraan selama dua jam menuju rumah. 

Bila kemarin saya menepi utk membeli tisu basah dan membasahi wajah utk menyegarkan mata, kali ini saya coba dgn solawat. Alhamdulullah, secara perlahan mata menjadi normal kembali. Saya merasa perlu bersyukur, sehingga solawat itu terus dilantunkan hingga sampai rumah.

Saya meyakini Nabi "tdk mati" walau jasadnya terkubur. Beliau senantiasa hadir utk menjawab solawat yg disampaikan kpd nya dan memintakan pertolongan kpd Allah atas segala kesulitan. Bagi hamba yg do'a nya tdk makbul krn terhijab dosa, permintaan ini sangatlah berarti, "Adrikni ya Rasulullah ..."

#biograficahyana