Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Rabu, 22 April 2026
Sakit Mu Black
Jumat, 03 April 2026
Kebahagiaan Seorang Pendidik
Minggu, 22 Februari 2026
Sore itu di Pasar Tumpah
Rabu, 11 Februari 2026
Penelitian: Dari Tahu Banyak Menjadi Banyak Tidak Tahu
Di awal kuliah Doktoral, saya membayangkan prosesnya seperti upaya keras menaiki bukit domain penelitian. Di setiap tingkatannya, ada banyak artikel yang harus dikumpulkan, dibaca, dipilih sesuai rencana, dan disintesis sesuai tujuan, untuk kemudian diuji dengan keras. Lelahnya luar biasa.
Namun begitu berada di atas puncak bukit, saya melihat setiap tingkatan itu seperti undakan sawah. Pengetahuan yang terungkap seupama objek apapun yang ada di setiap undakan tsb. Secara keseluruhan terlihat indah. Itu adalah perasaan yang muncul saat membaca hasil studi pustaka. Ada banyak orang yang sombong dengan kondisi seeprti itu karena merasa telah melihat lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang masih berada di bawah dan sedang merangkak naik ke atas.
Bila saja tidak ada ujian kualifikasi, saya akan terlena dan merasa sudah tahu banyak hal. Ternyata itu baru awal perjalanan. Saya harus turun kembali, memilih satu undakan yang akan ditempati. Di undakan itu saya harus melihat sesuatu yang diperlukan untuk membuat undakannya menjadi lebih indah menurut orang yang melewatinya.
Ada banyak area penelitian yang bisa dipilih. Sepupama memilih "tumbuhan", "hewan", atau "benda mati". Semuanya tersedia di undakan tersebut. Pemilihan tersebut tentunya disesuaikan dengan minat yang dipengaruhi oleh pengalaman penelitian dan pengabdian di masa lalu. Mentor berusaha mengarahkan saya ke arah yang benar. Setelah itu, barulah saya memilih objek spesifiknya apa. Pemilihan itu tdk sederhana, alasannya harus jelas. Ada banyak ahli yang berusaha melihatnya dan menguji kekokohannya. Saat itu saya sudah masuk ke usulan riset.
Proses kreasinya menyenangkan, ada banyak kritik dan masukan dari para ahli yang mengklarifikasi dan menguatkan. Prosesnya tidak instan, melewati tiga fase. Seupama membangun gubuk, mulai dari bagian pondasi kerangka kerja, bagian pilar formulasi, lalu bagian atap aplikasi dunia nyata. Semuanya harus kokoh dan satu kesatuan. Bangunan itulah yang mengisi ruang kosong di undakan tersebut. Harapannya bukan hanya terlihat bagus, tetapi juga bermanfaat bagi pengguna spesifik, khususnya bagi setiap peneliti yang sedang menaiki bukit.
Seusai itu, saya tersadar, ada banyak ruang masalah di undakan tersebut yang tidak tersentuh. Padahal di bukit domain itu ada banyak undakan yang bahkan tidak saya masuki. Ternyata kontribusi penelitian saya sangatlah kecil, dan apa yang tidak diketahui sangatlah banyak. Sementara, semua undakan dan objek di dalamnya adalah kontribusi dari banyak orang. Pengetahuan yang dimiliki ini seperti setitik air di tengah samudera yang luas.
Kondisi tersebut berbeda dengan titik di mana saya berada di puncak bukit, tempat di mana ada banyak orang yang merasa sombong dengan pengalaman dan pengetahuannya terkait banyak undakan yang sudah dilewati. Saya pernah mendengar: Orang yang merasa benar sendiri itu belum sampai. Orang yang bijak itu seperti padi yang menunduk. Saya sekarang bisa memahaminya dengan lebih jelas lagi dengan perjalanan riset yang sudah dilalui.
Jumat, 09 Januari 2026
Learning First, Leading with Heart: A Reflection on Becoming a Teacher in the Age of AI
I still remember how I felt in May 2025, sitting quietly in a training room in Banten, joining a week-long program on Coding and Artificial Intelligence (KKA). I came as a teacher who wanted to learn something new, but I also brought doubts I did not say aloud. AI sounded powerful, almost intimidating. I wondered if, one day, it would slowly push teachers to the margins of their own classrooms.
As the days passed, my fear did
not disappear, but it changed. I began to see that AI does not replace what
makes teaching meaningful. It does not notice when a student loses confidence.
It does not understand why a child suddenly goes silent. Only teachers can do
that. AI can assist, but it cannot care.
"AI does not
understand children the way teachers do."
That understanding became even
clearer when I was asked to serve as a facilitator for KKA teachers in Garut
Regency and later across West Java. Standing among fellow teachers felt
different from standing in front of students. I was not there to impress or
instruct. I was there to listen.
Some teachers spoke with honesty
and worry. They feared losing relevance. They feared becoming dependent on
machines. I did not try to convince them quickly, because resistance is often
rooted in love for the profession. I realized that fear does not mean refusal.
It means teachers care deeply about their role.
At the same time, I met teachers
who moved forward with quiet courage. One of them showed a simple attendance
system powered by AI. It was not sophisticated. It was not perfect. But it
represented something far more critical: confidence to try.
“The real change
was not in the technology, but in the teacher’s confidence."
These contrasting experiences
stayed with me. When I later facilitated a larger program in West Bandung
Regency, I brought real stories into the discussion. Interestingly, the
conversation shifted. Teachers spoke less about fear and more about reality. Limited
devices. Weak internet connections. Schools that were not equally prepared.
That was a powerful reminder that transformation must always respect context.
Through this journey, I learned
that AI literacy is not merely a technical issue. It is a human one. It
requires patience, empathy, and ongoing support. The most important work does
not end when training ends. It begins afterward.
That is why I believe deeply in
mentoring and community. Together with fellow facilitators, I helped forge a
teacher community focused on strengthening KKA. It became a safe space to
share, to fail, and to grow. When I was asked to serve as a mentor, I accepted
not because I had all the answers, but because leadership sometimes means
walking together, not walking ahead.
"Being a
teacher leader means learning alongside others, not standing above them."
This work is closely tied to my
long involvement with the ICT Volunteer (Relawan TIK) movement. Since 2002, I
have worked with communities to strengthen digital literacy. In 2025,
university students I taught joined schools to support AI literacy for younger
learners. Watching teachers, students, and volunteers learn from each other
reminded me that meaningful change is always collaborative.
Looking back, I now see that this
journey with AI is not really about artificial intelligence. It is about
identity. About courage. About reminding ourselves why we became teachers in
the first place.
We cannot stop change from
entering our classrooms. But we can choose how we respond to it. We can choose
fear, or we can choose growth. As Trainer, our role is not to master every
tool, but to model lifelong learning with humility and heart.
"AI will
never replace teachers who are willing to keep learning."
And perhaps that is the most
crucial lesson I carry forward. Before we ask our students to adapt to the
future, we must be willing to learn first. That is how we lead. That is how we
stay human in a digital world.
Senin, 03 November 2025
Smartphone
Senin, 13 Oktober 2025
Gak Sat Set
Senin, 01 September 2025
Perdebatan Guru dan Murid
Minggu, 31 Agustus 2025
Menjaga Indonesia
Kamis, 28 Agustus 2025
Selamat Jalan Bunda Inge
Beliau ibu DR. Inggriani Liem atau lebih dikenal dengan nama ibu Inge, dosen senior Informatika ITB. Perjumpaan pertama saya adalah saat mengikuti kelas beliau, Rekayasa Perangkat Lunak di ITB. Namun ada momen yg membuat saya hingga saat ini membantu upaya beliau membangun kemampuan berpikir komputasional (CT) di Indonesia.
Saat itu saya menjabat ketua program studi Informatika. Salah satu tugas yg diemban adalah memonitor tugas belajar dosen. Kebetulan pak Rickard Elsen, dosen Informatika, adalah bimbingan beliau. Saya menemui beliau di ruang dosennya. Saya memperoleh sambutan yg hangat dan promosi pengabdian.
Beliau mengajak saya makan siang bersama. Dalam pertemuan itu beliau menceritakan tentang Bebras Indonesia dan menawari saya tanggung jawab sebagai ketua biro di Garut. Akhirnya kampus di Garut menjadi Sekolah Tinggi pertama yg ada dalam jaringan Bebras Indonesia. Beliau sangat selektif memilih kampus sebagai biro Bebras, sehingga tdk serta merta menerima jaringan Relawan TIK Kampus yg saya miliki. Bebras Indonesia merupakan bagian dari kegiatan Tantangan Bebras yg berlangsung di berbagai negara.
Dalam perjalanan berikutnya saya diajak menjadi pengurus Bebras Indonesia. Salah satu usaha membantu organisasi ini adalah menjadikannya sebagai bagian dari program Google for NGO. Hingga saat ini tugas pengelolaan email masih diemban. Tugas ketua biro diserahkan kepada ibu Dewi Tresnawati.
Sebagai pengurus, saya berusaha untuk mempromosikan Bebras dan CT ke Kemenkominfo RI dan Kemenag RI. Alhamdulillah, Prof Ali Ramdhani menyambut baik dan menjalin kerjasama penerapan CT di lingkungan Madrasah. Saat menjabat sebagai ketua Saka Informatika Kwarcab Garut, saya memperoleh bantuan kegiatan dari Kemenkominfo RI dan mengundang bu Inge sebagai salah satu narasumbernya.
Dalam kesempatan sebagai narasumber tersebut, bu Inge menunjukan perhatiannya pada hemat energi. "Kamu sudah saya anggap sebagai anak. Saya menasihati kamu agar menutup jendela bila AC dinyalakan", ujar beliau. Beliau juga memberikan pemahaman tentang "smart" yg saya usung sebagai tema kegiatan dlm sesi seminar tersebut. Namun yg lebih penting, saya berhasil mempertemukan Kemenkominfo RI dengan beliau di kampus, sehingga mendapatkan insight tentang pentingnya CT.
Interaksi dgn beliau terakhir kali di WA, 30 Juli 2021, terkait studi doktoral di ITB. Beliau mendo'akan saya cepat lulus dan mengulangi do'a tsb beberapa tahun kemudian di FB. Beliau menanyakan rencana topik penelitian. "Siapa tahu bisa kasih asupan paper2 kalau aku pas nemu", ujar beliau di WA.
Beliau masih ingat video yg dikirimkan di WAG Bebras, mobil tim Bebras yg berjuang melewati jalan longsoran saat berkegiatan Bebras di Cisewu. "Memetakan kesiapan infrastruktur IT aja khususnya utk pendidikan. Akan keren tuh bikin dashboardnya 😊 Dihubungkan sama tingkatan literasi dan berpikir. Pengalamanmu nyopir honda imut2 ke daerah itu salah satu background storynya. Goalnya utk bangun small contextual smart societies.", tambah beliau.
Beliau sosok religius. Nampak beliau berdoa sebelum makan dan memberikan nasihat-nasihat baik yg universal. Beliau pernah bercerita bahwa pandemi Covid 19 membuatnya lebih dekat dengan Tuhan. Beliau juga sosok yg sangat cair dan beradaptasi dgn lingkungannya. Term Islami seperti "Alhamdulillah" atau "Insya Allah" saya dengar dlm percakapan. Demikian halnya disampaikan oleh Prof Ali saat berinteraksi di Kemenag. Hal tsb menjelaskan beliau sosok plural yg sudah menjadi pelayan bagi umat manusia.
Hari ini, 28 Agustus 2025, beliau wafat di Bandung. Pelayanan beliau kepada saya, bangsa, dan negara sangat baik. Semoga kebaikan dari pelayanan beliau dapat saya ikuti. Saya meyakini, Allah tdk mempertemukan dan mendekatkan kpd siapapun, melainkan utk menguatkan perjalanan hidup. Terima kasih bunda atas segala amal baktinya.
#biograficahyana
Senin, 18 Agustus 2025
Nasihat Hati Beruban
Minggu, 10 Agustus 2025
Toilet Sekolah
Kamis, 07 Agustus 2025
Petunjuk Seorang Pendidik
Senin, 30 Juni 2025
Jejak Pengabdian Rinda Cahyana
Menutup tahun akademi 2024/2025, evaluasi diri dengan Gemini, Jejak Pengabdian Rinda Cahyana, sebuah buku yang mendokumentasikan perjalanan dan kontribusi Rinda Cahyana sebagai seorang dosen PNS di Institut Teknologi Garut dan aktivis Relawan TIK.
Buku ini merupakan hasil riset Gemini yang menceritakan Rinda Cahyana sebagai pendidik, peneliti, dan pengabdi yang mengintegrasikan keahlian akademis dengan peran aktif sebagai Relawan TIK, bertujuan untuk mencerdaskan bangsa dan memberdayakan komunitas melalui TIK.
Kiprah sebagai Pendidik dan Peneliti: Menjelaskan profil akademik Rinda Cahyana, termasuk jabatannya sebagai dosen di Institut Teknologi Garut, latar belakang pendidikan Magister Informatika, dan statusnya sebagai mahasiswa doktoral di ITB. Dokumen ini juga merinci fokus penelitiannya yang relevan dengan tantangan digital kontemporer, seperti deteksi ujaran kebencian otomatis, literasi digital, smart village, pemanfaatan TIK untuk UMKM, dan teknologi pariwisata. Disebutkan pula 85 publikasinya yang mencerminkan kontribusi pada ilmu pengetahuan dan masyarakat.
Kiprah Pengabdian sebagai Relawan TIK: Menguraikan perjalanan Rinda Cahyana dari pendiri Komunitas TIK Garut (yang meraih penghargaan sebagai "Komunitas TIK terbaik se-Jawa Barat"), hingga menjadi Ketua Komunitas TIK Jawa Barat, dan kemudian memimpin Bidang Pengembangan SDM dan Penelitian di kepengurusan nasional Relawan TIK periode 2024-2028. Bagian ini juga memperkenalkan filosofi "Isme Relawan" dan "Filosofi Radio" yang dianutnya, serta program dan inisiatif utama Relawan TIK di bawah kepemimpinannya, seperti GNLD, respons COVID-19, akses digital, pengembangan digital pedesaan, pemberdayaan pemuda, penanggulangan bahaya digital, dan adopsi teknologi keuangan.
Kolaborasi, Penghargaan, dan Pengaruh: Menyoroti jaringan kolaborasi Rinda Cahyana dengan pemerintah (lokal dan internasional), institusi akademik, serta komunitas dan industri. Dokumen ini juga menyebutkan penghargaan yang diterima Komunitas TIK Garut dan pengakuan selama Festival Literasi Digital Jawa Barat 2021 sebagai bukti dampak kepemimpinannya. Pengaruhnya dalam ekosistem TIK dan literasi digital nasional juga dijelaskan, terutama dalam menjembatani kesenjangan antara pengetahuan teoretis dan kebutuhan komunitas.
Visi Masa Depan dan Warisan Pengabdian: Mengemukakan visi Rinda Cahyana untuk masa depan TIK dan pengabdian masyarakat yang berfokus pada literasi dan keamanan digital, pertumbuhan strategis kerelawanan, serta integrasi mendalam antara penelitian dan praktik. Warisannya digambarkan sebagai model teladan "akademisi-aktivis" yang telah menanamkan kerelawanan dan keterlibatan komunitas dalam struktur akademik, serta berperan penting dalam memajukan literasi digital dan pengembangan TIK berbasis komunitas di Indonesia.
Secara keseluruhan, dokumen ini menggambarkan Rinda Cahyana sebagai figur sentral yang telah memberikan kontribusi signifikan dalam transformasi digital Indonesia melalui perpaduan keahlian akademis, penelitian terapan, dan pengabdian masyarakat yang berdedikasi.

