Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Kamis, 08 Januari 2026

Angkot dan PKL

ANGKOT DAN PKL

Kejadian gerobak rujak yg tertabrak Angkot ini mengingatkan kekhawatiran saya akan keselamatan pejalan kaki dan PKL yg berjejer di pinggir jalan dekat pabrik di daerah Leles. Kekhawatiran tsb tertulis dlm artikel Blog 15 Oktober silam dgn judul, "Kenapa Harus di Pinggir Jalan?". Cuplikan pengalaman dan pemikirannya sebagai berikut:

"Pagi tadi lewat depan pabrik besar di daerah Leles. Seperti biasa selalu macet di jam-jam tertentu. Nampak di pinggir jalan dekat pabrik tsb dipenuhi oleh PKL. Pejalan kaki hanya punya dua opsi, berjalan di belakang PKL yg sempit atau di bahu jalan bersama kendaraan. Memang belum ada kasus rem blong yg mengancam jiwa, tapi bukan berarti tdk mungkin terjadi. Entah berapa banyak asap kendaraan dan debu yg hinggap di makanan yg tersaji di gerobak-gerobak PKL tsb. Nampak kesehatan dan keselamatan jiwa dianggap bukan sesuatu yg penting".

Kita melihat warga bertaruh nyawa utk mencari nafkah, entah krn tdk ada tempat berjualan yg lebih aman, atau krn warga salah kaprah menerapkan "semakin dekat jalan semakin untung" krn mengabaikan keselamatan jiwa. Keyakinan akan pentingnya jalan ini terlihat dari banyaknya warga yg berjualan di pinggir jalan. Bahkan seminggu sekali ada beberapa jalan yg menjadi pasar tumpah, menurunkan kenyamanan pengendara, menimbulkan kemacetan. 

Sempat viral di Medsos, sopir Angkot di Garut yg kesal dgn pasar tumpah di jalanan kecil yg dilaluinya. Banyak netizen yg menyayangkan ekspresi kekesalan sopir tsb. Tetapi keluhan Sopir tsb juga dirasakan oleh banyak pengendara lainnya. Saya pribadi juga berpikir, kenapa tdk berjualan di tanah lapang saja, dan kenapa harus membahayakan diri dan menimbulkan ketidaknyamanan? 

Musibah yg menimpa penjual rujak juga krn faktor human error di sisi sopir Angkot. Banyak netizen mengeluhkan perilaku Angkot di Garut. Mobil saya juga pernah ditabrak Angkot beberapa tahun yg silam. Angkot tsb berhenti sejenak di tengah jalan perempatan utk mencari penumpang. Namun sopir tdk memperhatikan kalau kendaraan saya ada di depannya dan hendak belok, sehingga akhirnya benturan pun terjadi saat dia menjalankan mobilnya. 

Sopir sama sekali tdk meminta maaf. Sama seperti sopir Angkot yg menyerempet kendaraan saya tahun lalu. Sama juga dgn sopir ugal-ugalan yg angkot nya dinaiki oleh istri saya. Karena peduli dgn keselamatan dirinya, istri memutuskan turun walau naik angkotnya baru sesaat. Dgn kesal ia mengingatkan sopir utk tdk ugal-ugalan. Namun tdk ada permintaan maaf yg terucap. Sopirnya tdk faham soal pelayanan prima. Kalau tdk ada perubahan, jgn salahkan bila banyak orang yg beralih ke angkutan online. 

Sebaiknya pemerintah atau ORGANDA memberi pelatihan pelayanan prima kpd pengusaha atau sopir angkot, memperketat izin sopir dgn mengacu standar profesi. Demikian pula pemerintah sebaiknya memberi penyuluhan kpd PKL agar timbul kesadaran akan keselamatan diri dan pejalan kaki. Memang seharusnya PKL secara aturan tdk boleh berjualan di bahu jalan, tetapi membangun kesadaran ini jauh lebih penting dari pada penertiban yg nampaknya mustahil utk diwujudkan. 

#persepsicahyana #biograficahyana

0 comments :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya