Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Minggu, 18 Oktober 2026

Masalah Sampah


Sejak tempat pembuangan sampah dI desa Jayaraga berubah menjadi Gedung Koperasi Desa, saya harus membuang sampah lumayan jauh dari rumah, ke kontainer sampah di dekat pasar Ciawitali. Sebagian warga ada yg memilih membakar sampah yg asapnya masuk ke dalam rumah. Saya tdk berani mengikuti praktek tsb karena takut melanggar peraturan yg berlaku. 

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, yang oada Pasal 29 ayat (1) huruf g, ditegaskan bahwa setiap orang dilarang membakar sampah yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis pengelolaan sampah. Pelanggaran atas aturan ini dapat dikenai sanksi pidana dan denda.

Sebagian warga memilih utk melemparkan sampah ke dalam kompleks perumahan. Mungkin tdk faham hukum pidana (Pasal 312 UU 1/2023 / Pasal 531 KUHP Lama) yg menyatakan bahwa perbuatan melemparkan benda-benda keras atau kotor (termasuk sampah) ke pekarangan atau rumah orang lain yang dapat mendatangkan bahaya, kerugian, atau kekotoran termasuk dalam tindak pidana pelanggaran ketertiban umum. Pelaku bisa dikenakan sanksi denda atau kurungan.

Sebagian lingkungan merasa punya hak khusus dgn melarang warga lain membuang sampah ke kontainer sampah, bahkan mengancamnya dgn sanksi denda. Entah kontainer itu milik pemerintah atau warga lingkungan tsb membeli dgn swadaya sendiri. Yg jelas, pengelolaan sampah lingkungan ini sangat urgen dilakukan di level desa, sehingga warga tdk harus melanggar hukum dalam penanganan sampah. 

#persepsicahyana

Sabtu, 10 Oktober 2026

Kosong


Dalam Risalah al-Amin, Imam Syadzili berkata bahwa lisan harus dikosongkan dari selain dzikr dan hati harus dikosongkan dari selain syukur. Oleh sebab itulah beliau memandang penting lafaz Hamdallah sebagai dzikr yang dapat membanjiri hati dengan rasa syukur saat sampai di titik tafakur.

Namun, untuk mempertahankan luapannya dan mencegah kekufuran tumbuh, diperlukan kesadaran atas kekurangan diri. Saat lisan susah diajak berdzikir dan hati susah diajak bersyukur, hal tersebut menandakan ada dosa yang mesti ditaubati. Oleh karenanya, beliau memandang perlu menyempurnakan kesyukuran dengan lafaz istighfar yang dapat membersihkan kotoran dosa penyebab kesulitan tersebut.

Beliau mengatakan bahwa tubuh harus dikosongkan dari segala usaha, kecuali ibadah, yakni usaha yang diniatkan karena Allah dan dijalankan sesuai petunjuk-Nya. Tidak semua usaha berhasil dengan sempurna. Bisikan setan dan hawa nafsu datang silih berganti utk mengganggu, mengotori, dan menyimpangkan. Tak akan sanggup manusia menghadapinya tanpa pertolongan Tuhan. Utk itu, beliau menganggap penting lafadz Hauqalah, memasrahkan diri kpd Allah dalam segala usaha. 

Tanda kepasrahan itu adalah tidak jatuh dalam putus asa. Sesuai perkataan Imam Tarekat Syadziliyah, Ibn Athaillah, "Di antara tanda orang yang bersandar pada amalnya (mengandalkan diri sendiri) adalah berkurangnya rasa harap (putus asa) kepada rahmat Allah ketika ia melakukan kesalahan atau dosa."

#ratisejiwa #persepsicahyana

Jumat, 25 September 2026

Nikmat Kelayakan Mengingat Allah


Selayaknya kita bersyukur masih mampu mengingat Allah walau tidak sempurna, misal, teringat pada Nya hanya di masa sulit. Setidaknya di masa sulit itu kita tidak meminta pertolongan kepada Tuhan yg lain, dan itu sudah cukup utk tdk membuat Allah 'cemburu'. 

"Sesungguhnya Allah Ta'ala itu cemburu, dan kecemburuan Allah Ta'ala itu adalah apabila seorang manusia melakukan apa yang diharamkan oleh Allah atasnya." (HR. Bukhari no. 5223 & Muslim no. 2761).

Jika kita dianggap tidak layak oleh Allah, kemampuan mengingat Nya tidak akan dikaruniakan. Ibnu Athaillah berkata, "Dia membuatmu ingat (zikir) kepada-Nya; kalaulah bukan karena karunia-Nya, engkau tidak pantas berzikir kepada-Nya."  

#ratisejiwa

Sabtu, 05 September 2026

Ketika Takwa Lebih Tinggi Daripada Gelar dan Jabatan

Di masa lalu, saya pernah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan seseorang. Kemudian keluarganya menganggap keputusan tersebut didasarkan pada gelar akademik yang saya miliki. Saya menanggapinya dengan mengatakan bahwa gelar tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan takwa. 

Nabi Muhammad SAW dalam khutbah perpisahan pada tahun 10 H, beliau menyatakan prinsip egalitarianisme melalui sabdanya, "Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu dan ayah kalian adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula bagi orang non-Arab atas orang Arab, tidak pula bagi yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak pula bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, melainkan karena takwanya." (HR Ahmad)

Doktrin tsb sejalan dengan firman Allah SWT, "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti" (QS. Al-Hujurat: 13)

Dalil tersebut berbicara tentang kedudukan yang harus dikejar oleh hamba Tuhan, sekaligus meruntuhkan stratifikasi sosial yang didasarkan pada keturunan dan yang selama ini telah menjadi dasar diskriminasi dalam tradisi jahiliah. Thalq bin Habib al-‘Anazi (wafat sekitar 100 H), seorang ulama dari generasi Tabiin terkemuka yang berdomisili di Basrah, Irak, berkata, "Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu/petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya, dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya."

Di lingkungan kampus ditemukan stratifikasi sosial berdasarkan Modal Simbolik dan Kultural (Cultural & Symbolic Capital - Teori Pierre Bourdieu, misalnya gelar akademik dan jabatan fungsional) atau Kekuasaan dan Otoritas Formal (Power & Authority - Teori Max Weber, misalnya jabatan struktural). Stratifikasi tsb dapat membawa kepada tradisi Academic Elitism / Institutional Snobbery, misalnya, lulusan kampus non-unggulan yang dipandang sebelah mata; atau feodalisme akademik dan bias hierarki, misalnya, berbangga dengan gelar, atau mereka yang berada di bawah dianggap tidak tahu apa-apa atau bahkan pesuruh yang diberi beban tugas yang banyak dan tidak dihargai. 

Tradisi tersebut merupakan kemaksiatan hati dan kezaliman struktural yang melawan sifat takwa. Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati (tawaduk), hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat sewenang-wenang terhadap yang lain." (HR. Muslim)

Sebagian kalangan merasa tersinggung bila orang lain tidak menyebut gelar akademik, jabatan fungsional, atau jabatan strukturalnya. Hal semacam itu tidak terjadi pada teladan umat sewaktu beliau mendapat pujian berlebihan dari serombongan orang (delegasi dari Bani ‘Amir), "Engkau adalah tuan kami (sayyiduna)…". Beliau menasihati, "Ucapkanlah perkataan kalian yang biasa, jangan sampai kalian diseret oleh setan! Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan utusan-Nya." (HR. Ahmad & An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra). Imam Al-Khaththabi (wafat 388 H) dalam Ma'alim As-Sunan menjelaskan bahwa penolakan tersebut merupakan kehati-hatian agar para utusan yang baru masuk Islam itu tidak terbiasa memakai gaya sanjungan raja-raja feodal Persia atau Romawi yang mengarah pada pengultusan makhluk. 

Memanggil atau dipanggil oleh seseorang dengan gelar jabatannya itu tidak terlarang. Nabi pernah memerintahkan para sahabat saat menyambut Sa'ad bin Mu'adz: "Berdirilah untuk menyambut sayyid (pemimpin) kalian" (HR. Bukhari dan Muslim). Namun, yang terpenting adalah tidak sombong atas gelar tersebut, sesuai sunnah Nabi SAW, "Aku adalah sayyid (pemimpin) anak cucu Adam pada hari kiamat dan aku tidak sombong" (HR. Muslim). 

Saya pernah berada di dalam kelas mata kuliah tertentu di ITB. Salah seorang teman bertanya kepada dosen pengajar, menyebut beliau dengan "Pak Prof". Kemudian, dosen kami mengingatkan bahwa namanya bukan "Prof". Beliau lebih suka disebut namanya daripada gelarnya. Beliau memang profesor, tetapi tidak sombong dengan jabatannya tersebut.

Dari sini kita memahami bahwa menolak atau menuntut pemanggilan gelar atau jabatan adalah pilihan individu. Mereka yang berhati-hati atau rendah hati lebih senang melihat dirinya bukan dari gelar atau kedudukan keduniaan, tetapi dari kedudukannya di sisi Allah yang bisa dilihat dari dampak keberadaannya terhadap lingkungan, sesuai sabda Nabi SAW, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)." (HR. Ath-Thabarani). Sungguh nasihat yang baik saat pimpinan kampus kami, Ir. KH. Abdullah Marghani Musaddad mengutip hadits tersebut saat berbicara dalam acara kelulusan kami dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut tahun 2003 yang silam. 

Ditanyakan kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik (ayyun-naasi khair)?" Beliau bersabda, "Orang yang paling paham membaca Al-Qur'an, paling bertakwa kepada Allah (atqahum lillah), paling giat menyuruh kepada yang makruf, paling gigih mencegah dari yang mungkar, dan paling suka menyambung tali silaturahmi." (HR. Ahmad dan At-Thabarani dalam Al-Kabir). Dengan demikian, kondisi yang bermanfaat bagi manusia lainnya merupakan salah satu manifestasi takwa yang tampak dalam kehidupan sosial.

Akademisi yang bertakwa memahami hakikat jabatannya sebagai pengelola bumi yang harus memberi manfaat sebanyak mungkin kepada umat manusia, sebagaimana firman Allah SWT, "Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi..." (QS. Fathir: 39). Pelaksanaan jabatan tersebut harus merupakan ibadah, dijalankan karena Allah atau dengan berpedoman kepada Allah dan Rasul-Nya. Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia, sebagaimana firman-Nya, "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Takwa bukanlah gelar yang disematkan pada nama. Bahkan menunjukkan gelar takwa dengan merasa diri paling bertakwa adalah bukti ketidaktakwaan itu sendiri. Allah SWT berfirman, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci (bersih dari dosa/paling bertakwa). Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang sebenarnya bertakwa." (QS. An-Najm: 32). 

Demi gelar "atqahum lillah", seorang akademisi akan lebih berfokus pada perlombaan dalam pelayanan daripada perlombaan pamer gelar dan jabatan, sesuai firman-Nya, "… Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan…" (Al-Baqarah: 148).

Akhirnya, seorang akademisi tidak semestinya menjadikan gelar dan jabatan akademiknya sebagai sumber kemuliaan pribadi atau alat untuk membangun jarak sosial dengan sesama. Dalam lingkungan akademik, ukuran yang patut dikejar bukanlah prestise gelar atau jabatan, melainkan kontribusi nyata yang diberikan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kontribusi akademis tersebut merupakan salah satu bentuk kemanfaatan yang dapat mencerminkan ketakwaan dan amanah seorang akademisi sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Cukup berlomba-lomba dalam mengamalkan hasil belajar dan melaksanakan tugas jabatan untuk memperoleh keridhaan Allah semata. 

"Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kepuasan." (QS Al-Lail: 20–21) "...Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS At-Taubah: 72). "Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 8)

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksaan-Mu..." (HR. Muslim no. 486)

#persepsicahyana

Jumat, 28 Agustus 2026

Berpedoman dan Ketergantungan


Termasuk dalam beribadah adalah berpedoman kepada siapa yang diibadahi. Manusia sangat memerlukan pedoman untuk tetap berada di titik moderasi kenikmatan hidup, tidak kekurangan karena zalim atau berlebihan sehingga tersesat.

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" (QS. al-Fatihah: 5-7).

Namun, ada banyak pedoman yang dibuat oleh manusia. Semua perdebatan tentang pedoman yang terkesan saling berseberangan akan selesai bila sudah ada kepastian tentang keselarasan pedoman-pedoman tersebut dengan pedoman utama, standar yang merupakan "kalimat yang sama".

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (menuju) kepada satu kalimat ketetapan (kalimatun sawā’) yang sama di antara kami dan kamu ..." (QS  Ali 'Imran: 64)

Dalam menjalani hidup berpedoman, manusia tidak bisa mengandalkan dirinya dan orang lain yang terbatas dan bisa berubah menjadi kontradiktif. Hal itu masuk akal karena selalu ada kelemahan dan hambatan. Namun, manusia sering kali membutuhkan sesuatu dari ruang kosong yang tidak terjangkau oleh diri sendiri dan orang lain. Sebagian menyebutnya sebagai keajaiban, pemberian yang sesuai harapan.

Sebagian manusia yang tidak bertuhan mengakui sesuatu bisa datang dari ruang kosong tersebut, seperti semesta yang terwujud begitu saja tanpa sebab. Manusia beragama meyakini, secara konsep, hanya Tuhan yang bisa diharapkan di ruang kosong tersebut, sebab Dia adalah Sang Pencipta. Bahkan bagi sebagian filosof, konsep akar penciptaan lebih masuk akal, sekalipun mereka mendefinisikan akar tersebut dengan berbagai istilah, tidak selalu Tuhan.

Akar penciptaan alam semesta selalu memicu perdebatan seru antara sains dan filsafat. Dari sudut pandang sains modern, fisikawan top seperti Stephen Hawking dan Lawrence Krauss menyebut bahwa alam semesta muncul dari "ketiadaan" melalui penciptaan spontan dan fluktuasi kuantum berkat adanya hukum fisika. Sementara itu, Georges Lemaître mengenalnya lewat teori Big Bang sebagai ledakan dari sebuah atom purba yang superpadat.Di sisi lain, para filsuf menggunakan logika untuk menemukan titik awal ini dan menyebutnya sebagai "Tuhan". Aristoteles menamainya Penggerak yang Tidak Digerakkan, yang kemudian disempurnakan oleh Thomas Aquinas sebagai Penyebab Pertama dari segala sesuatu. Terakhir, filsuf Plotinus dan René Descartes melengkapinya dengan istilah Yang Satu serta Sebab Sempurna untuk menggambarkan sumber mutlak penciptaan semesta.

Bagi kalangan beriman, Tuhan ada di ruang kosong dan ruang berisi. Bila Tuhan mampu mewujudkan sesuatu dari ketiadaan di ruang kosong, tentu saja Dia sangat mampu memicu penciptaan dari apa yang sudah diciptakan-Nya. Sementara di dua ruang tersebut, diri sendiri dan makhluk lainnya memiliki potensi kelemahan dan hambatan. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Kekuatan tekad dan semangat yang menggebu-gebu (usaha keras manusia) tidak akan pernah mampu menembus atau merobek dinding-dinding takdir."

Oleh karenanya, meminta hanya kepada Tuhan, akar penciptaan, menjadi masuk akal saat usaha berpedoman belum membuahkan hasil. Hal tersebut membuat ketergantungan tidak pada diri sendiri (internal) atau apa pun yang ada di lingkungannya (eksternal). Tujuannya adalah agar selamat. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal-amalnya (mengandalkan kekuatan dan usaha dirinya sendiri) adalah berkurang atau hilangnya rasa harap (kecewa dan putus asa kepada rahmat Allah) ketika ia tertimpa kesalahan atau kegagalan."

Bagi mereka yang memiliki jati diri sebagai pelayan-Nya, apa yang diupayakan tidak akan melampaui batas, dan mereka tidak dibebani sesuatu oleh Tuhan di luar batas kemampuannya. Saat Tuhan memunculkan apa yang diharapkan dari ruang kosong, saat itulah manusia memulai kontribusi yang baru dalam hidupnya, menambah bekal hari akhir. Artinya, Tuhan mengizinkan, menginginkan, atau bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk berkontribusi. Apa yang diberikan kepadanya, berupa jalan keluar, adalah instruksi untuk memulai pelayanan baru. Pertanyaan pentingnya: apakah hamba memiliki kelayakan untuk menerima perintah dari tuannya, khususnya bila melihat seberapa mampunya ia bersyukur?

Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Orang yang tidak menyadari kadar karunia (nilai nikmat) Allah saat sedang menikmatinya, maka ia baru akan menyadarinya secara menyakitkan ketika karunia itu sudah raib."

Refleksi ini ditutup dengan riwayat Imam al-Bayhaqi dalam kitab Al-Jami' li Syu'ab, Allah SWT berfirman:

"Demi keagungan-Ku, kemuliaan-Ku, kemurahan-Ku, dan kedermawanan-Ku, pasti akan Aku putuskan harapan setiap orang yang berharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan (keputusasaan).Dan pasti akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan selama ia hidup di antara manusia. Dan pasti akan Aku jauhkan ia dari pintu-Ku, serta akan Aku usir ia dari hubungan dekat dengan-Ku.Apakah ia berharap kepada selain-Ku dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, padahal segala kesulitan itu berada di dalam genggaman tangan-Ku? Apakah ia berharap kepada selain-Ku dan mengetuk pintu-pintu para penguasa karena kefakirannya, padahal pintu-pintu itu tertutup rapat dan kunci-kuncinya ada di tangan-Ku?Sementara pintu-Ku selalu terbuka bagi siapa saja yang berdoa kepada-Ku. Siapakah orangnya yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan untuknya? Siapakah orangnya yang pernah berdoa kepada-Ku lalu tidak Aku kabulkan? Dan siapakah orangnya yang pernah meminta kepada-Ku lalu tidak Aku beri?"

Dari sana kita faham bahwa hamba Tuhan perlu memuji-Nya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah 2-4)

#persepsicahyana

Sabtu, 22 Agustus 2026

Epistemologi Perkembangan Kognitif Manusia Awal dalam Perspektif Rumusan Pemikiran 5W1H

Pada fase awal eksistensinya, proses pembelajaran manusia berfokus pada dimensi what (apa) melalui akselerasi pengetahuan nomenklatur yang diuji keabsahannya melalui visualisasi performa hafalan. Tahap ini menandai terjadinya transisi epistemologis dari kecenderungan naluriah (instinct) menuju penalaran konseptual (intellect).

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya ... (QS. Al-Baqarah: 31) Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini ... (QS. Al-Baqarah: 33)

Melalui konstruksi tersebut, dimensi how (bagaimana) yang telah dikuasai manusia secara biologis, seperti mekanisme mengonsumsi buah-buahan, terintegrasi secara utuh dengan dimensi what berupa identifikasi nama objek terkait. Implikasinya, manusia memiliki kemampuan kognitif untuk mengategorikan komoditas pangan yang bernilai positif maupun negatif berdasarkan standardisasi nama, bukan sekadar bersandar pada persepsi sensorik indrawi semata. Lebih jauh lagi, penguasaan terhadap dimensi what ini menuntun manusia pada pemahaman spasial murni pada dimensi where (di mana) serta pemahaman temporal pada dimensi when (kapan).

"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Baqarah Ayat 35)

Keberadaan hukum penalaran dalam bentuk larangan formal mendorong manusia untuk memasuki ruang analisis pada dimensi why (mengapa), yang secara simultan menginisiasi urgensi validitas informasi. Dalam ekosistem informasi, tidak semua artikulasi dimensi what bersifat kredibel seperti ketetapan Tuhan. Kehadiran entitas yang mengonstruksi distorsi informasi dapat mengakibatkan aktualisasi dimensi how yang berdampak destruktif. Secara teoretis, setiap interpretasi terhadap dimensi what mutlak memerlukan proses verifikasi data guna menghindari krisis validasi dan jebakan manipulasi sistemis.

"Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: 'Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (di surga)'.' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: 'Sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua'." (QS. Al-A'raf: 22)

Ketika manusia terperangkap oleh kalkulasi dimensi what, where, dan when yang tidak valid akibat menerobos batas-batas etis serta instruksi ilahi, implementasi dimensi how akan melahirkan dampak yang kontraproduktif. Ekspektasi awal untuk mempertahankan eksistensi temporal di dalam ruang surgawi justru berujung pada konsekuensi pengusiran akibat pengabaian terhadap regulasi baku.

Anomali ini terjadi karena subjek manusia pada momentum tersebut belum mengaktifkan instrumen evaluasi pada dimensi who untuk menguji otoritas narasumber dan dimensi why untuk membedah motif di balik pernyataan sumpah tersebut. Manusia menerima data mentah tanpa melalui prosedur konfirmasi substantif atau tabayyun terhadap validitas pasokan informasi. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Iblis yang merekayasa variabel what dengan mengubah status 'Pohon Terlarang' menjadi 'Pohon Keabadian' demi menjanjikan garansi kepastian pada variabel when berupa kekekalan di dalam batas variabel where, yaitu surga.
"Allah berfirman: 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lako' kontraproduktif. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka'." (QS. Thaha Ayat 123),

Pascapersitiwa tersebut, kesadaran manusia berevolusi menuju tingkat pemahaman kausalitas yang lebih tinggi. Manusia memahami signifikansi dimensi why di balik keputusan pengusiran mereka melalui penalaran silogisme yang menempatkan kegagalan mematuhi petunjuk sebagai sebab dan pengusiran sebagai akibat. Melalui pencapaian dimensi analitis ini, manusia memiliki kecakapan metodologis untuk mendeteksi potensi bahaya dari tipu daya serta ketidakabsahan parameter yang tidak berpedoman pada kebenaran sahih.

Catatan: Tulisan awal dibuat oleh penulis; AI digunakan untuk pembahasaan akademis. Seluruh tulisan di bawah kendali kualitas dan tanggung jawab penulis.  

Sabtu, 15 Agustus 2026

Lenyap


Makna lenyap di antara orang-orang yg menyakiti dalam konteks melayani adalah ikhlas ketika dijadikan medium tempat manusia melampiaskan keinginan utk menyakiti; atau dalam konteks merespon adalah bersikap ridha dgn melihat semua kepahitan yg dirasakan sebagai hidangan dari Nya yg harus dinikmati dgn suka cita dan tdk dicela; atau dalam konteks memperoleh adalah fana dgn menyaksikan segala tapak perbuatan Nya pada apapun, sehingga tersingkap dan terasa manis Kemahaan-Nya.

The meaning of vanishing among those who hurt, in the context of serving, is sincerity (Ikhlas) when being used as a medium for others to vent their desire to inflict pain; or in the context of responding, it is contentment (Ridha) by viewing all felt bitterness as a feast from Him to be enjoyed with joy and without complaint; or in the context of attaining, it is annihilation of self (Fana) by witnessing every trace of His actions in everything, so that the sweetness of His Supreme Majesty is unveiled and felt. 

«مَعْنَى الاِخْتِفَاءِ بَيْنَ الَّذِينَ يُؤْذُونَ فِي سِيَاقِ الخِدْمَةِ هُوَ الإِخْلَاصُ عِنْدَمَا يَكُونُ المَرْءُ وَسِيطًا لِتَفْرِيغِ رَغَبَاتِ النَّاسِ فِي الإِيذَاءِ؛ أَوْ فِي سِيَاقِ الاِسْتِجَابَةِ هُوَ الرِّضَا بِرُؤْيَةِ كُلِّ مَرَارَةٍ مَحْسُوسَةٍ كَمَائِدَةٍ مِنْهُ تُسْتَمْتَعُ بِهَا بِسُرُورٍ وَلَا تُذَمُّ؛ أَوْ فِي سِيَاقِ النَّيْلِ هُوَ الفَنَاءُ بِمُشَاهَدَةِ كُلِّ آثَارِ أَعْمَالِهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى يَنَكِشَفَ حَلَاوَةُ جَلَالِهِ وَيُحَسَّ بِهَا.»

 #persepsicahyana #ratisejiwa

Minggu, 09 Agustus 2026

Tanda-Tanda dalam Intensitas Biner

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran: 190-191)

Pasangan langit-bumi mewakili naik-turun.

"Ingatlah ketika Allah berfirman: 'Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu ke akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku...'" (QS. Ali 'Imran: 55)

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesudah dekat saatnya putra Maryam akan turun di tengah-tengah kamu sekalian sebagai hakim yang adil..." (HR Muslim)

Ibnu Katsir, At-Tabari, Al-Qurtubi, dan lainnya berpendapat bahwa diangkat dan turun itu artinya fisik dan ruh nya naik ke atas langit dan turun ke bumi. Jadi bisa difahami, kejadian tsb menggambarkan naik (+) dan turun (-). 

Pasangan malam-siang mewakili ada dan tiada tanda.

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu..." (QS. Al-Isra': 12)

Dijelaskan dalam Tafsir Jalalain, bahwa yg terhapus adalah cahaya, sementara dalam Ibn Katsir yg terhapus adalah fisik bulan. Jadi bisa difahami ada/tiada cahaya/bulan. Jika keberadaan bulan disimbolkan 1, maka ketiadaannya adalah 0. 

Bagi orang berakal, konsep ada dan tiada (1/0), serta naik-turun (+/-) yg mungkin terjadi dalam kondisi biner tsb menjadi tanda-tanda penting utk mengungkap Sunatullah. Misalnya, kaki yg bergerak merupakan kombinasi kontraksi (1) dan relaksasi (0) yg kecepatannya dipengaruhi oleh akselerasi (+), dan pelambatannya dipengaruhi oleh deselerasi (-). 

Jika dimasukkan ke dalam rumus dasar kecepatan (v), maka jarak (s) ditentukan oleh berapa banyak untaian kode biner (0/1) langkah kaki yang tercipta, sedangkan waktu (t) ditentukan oleh seberapa kuat intensitas gaya (+/-) yang mendorong atau menahan gerakan tersebut.

Jika diasumsikan sistem bekerja pada ruang dimensi keadaan (state space) terkontrol: 

B in {0, 1} : Variabel Biner Eksistensi (1 = Terang/Ada, 0 = {Gelap/Tiada}.

I in {-1, +1} : Vektor Intensitas Dinamika (-1 = {Turun/Deselerasi}, +1 = {Naik/Akselerasi}.

v0 : Kecepatan dasar sistem atau kecepatan homeostasis makhluk hidup (m/s).

delta_a : Koefisien akselerasi biolistrik otot (m/s^2).

Fungsinya: v(t) = B.(v0+I.delta_a.t)

Kode Python:

def hitung_kecepatan_ai(B, I, v0, delta_a, t):
    # Validasi input biner dan vektor intensitas
    if B not in [0, 1] or I not in [-1, 1]:
        raise ValueError("Input tidak sesuai dengan matriks biner Sunatullah.")
    # Proses pengolahan sinyal di dalam neuron saraf buatan
    z = B * (v0 + I * delta_a * t)
    # Fungsi Aktivasi Linear Terbuka (Membatasi kecepatan tidak minus secara fisik)
    v_output = max(0.0, float(z))
    return v_output

# --- SIMULASI PARAMETER SISTEM ---
# Misal: Kecepatan dasar = 2.0 m/s, Akselerasi = 0.5 m/s^2, Waktu berjalan = 4 detik
v0_dasar = 2.0
percepatan = 0.5
waktu = 4

# Tiga skenario kondisi alam biner
kecepatan_malam = hitung_kecepatan_ai(B=0, I=-1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)
kecepatan_naik = hitung_kecepatan_ai(B=1, I=1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)
kecepatan_turun = hitung_kecepatan_ai(B=1, I=-1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)

# Hasil komputasi sistem
print(f"--- HASIL SIMULASI LOGIKA BINER ---")
print(f"Kondisi Istirahat (B=0, I=-1) : {kecepatan_malam} m/s")
print(f"Kondisi Naik (B=1, I=+1) : {kecepatan_naik} m/s")
print(f"Kondisi Turun (B=1, I=-1) : {kecepatan_turun} m/s")

#persepsicahyana

Selasa, 04 Agustus 2026

Nikmat Penjagaan Allah


Dua nikmat penjagaan Allah yg sangat besar: nikmat ditutupinya kekurangan dan nikmat dipersulit jalan menuju kerusakan.

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, nafsu seperti kuda tunggangan atau anjing buruan. Kuda atau anjing tersebut tidak boleh dibunuh, tetapi harus dilatih (riyadhah) dan dikendalikan agar penunggangnya (akal dan hati) dapat sampai ke tujuan dengan selamat.

Tanpa pengendalian itu, manusia terjerumus pada dosa yg dapat menjadi aib di dunia dan akhirat. Sekelas Nabi saja tdk bisa melenyapkan hawa nafsunya. Nabi Yusuf AS bersabda, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku..." (QS. Yusuf: 53)

Wajarlah bila manusia biasa berdoa, "Ya Allah, tutupilah auratku (keburukan/aib/kekuranganku) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut." (HR. Abu Dawud & Ibn Majah)

Semoga Allah SWT kelak mengabulkannya, sesuai firman Nya, "Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu." (HR. Bukhari & Muslim)

Namun ampunan itu tdk berlaku bagi mereka yg tdk malu dgn aibnya tsb, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan mujaharah (terang-terangan/mengumbar dosa). Dan sesungguhnya di antara bentuk mujaharah adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya—padahal Allah telah menutupi perbuatannya—dia berkata: 'Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.' Padahal semalaman Rabbnya telah menutupi aibnya, tetapi pada pagi hari dia justru menyingkap tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhari & Muslim)

Selain berdoa, kita dapat memperoleh nikmat tsb dgn menutupi aib orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)

Tertutupinya pandangan orang lain dari aib kita adalah nikmat penjagaan Allah yg besar. Cara mensyukurinya adalah seperti yg ditunjukkan oleh Ibn Athaillah, "Barangsiapa memuliakanmu, sungguh ia hanya memuliakan indahnya penutup Allah yang ada padamu. Maka pujian itu ditujukan kepada Allah yang menutupi aibmu, bukan kepada dirimu yang dipenuhi kekurangan." (al-Hikam)

Hawa nafsu selalu mengajak kpd perbuatan buruk. Kita tdk akan sepenuhnya sanggup menanganinya dan memerlukan penjagaan Allah. Hadirnya Allah membuat pintu keburukan tertutup, walau kaki telah melangkah ke sana, baik karena kesadaran berdasarkan ilmu atau rasa tdk nyaman. Sekuat apapun hawa nafsu membuka pintunya, Allah tdk membiarkannya terbuka. 

"Sesungguhnya Allah SWT benar-benar menjaga hamba-Nya yang beriman dari (fitnah/kelebihan) dunia—padahal hamba itu mencintainya—sebagaimana kalian menjaga orang yang sakit di antara kalian dari makanan dan minuman (yang membahayakan baginya)." (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu." (HR. Tirmidzi). Di antara cara menjaga Allah adalah dgn menjaga salat wajib. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar" (QS. Al-Ankabut: 45). 

#ratisejiwa


Sabtu, 25 Juli 2026

Tiga Imam yang Tidak Saya Sukai

Saya suka melaksanakan salat Jum'at di masjid yg berbeda. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga jenis khatib sekaligus imam salat Jum'at yg tdk saya sukai: 

1. TUKANG PAMER

Khatib ini tenggelam dgn kondisinya sendiri, memamerkan kondisi spiritualnya dlm tangisan dan lamanya gerakan atau bacaan, lupa kondisi jema'ahnya.

Padahal Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka ringankanlah (salatnya). Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Dan jika salah seorang dari kalian salat sendiri, maka panjangkanlah sesukanya." (HR. Bukhari no. 703 & Muslim no. 467).

Al-Hasan Al-Bashri (Wafat 110 H) mengkritik fenomena orang yang sengaja memperlihatkan tangisan dan khusyuknya di depan publik: "Dahulu, seorang laki-laki menangis karena takut kepada Allah di dalam rumahnya, sementara istrinya yang berada di sisinya tidak mengetahuinya. Ada pula orang yang menghafal Al-Qur'an, tetapi tetangganya tidak menyadarinya... Namun sekarang, aku melihat orang-orang menjadikan kesedihan dan tangisannya sebagai barang dagangan untuk diperlihatkan kepada manusia." (Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad)

Ibnu Al-Jauzi (Wafat 597 H) dalam kitab fenomenalnya, Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), beliau menguliti secara khusus tipu daya setan pada para imam, khatib, dan ahli ibadah: "Di antara tipu daya Iblis kepada para imam dan penceramah adalah membuat mereka merasa bahwa tangisan keras dan suara parau mereka di atas mimbar adalah tanda keikhlasan dan kedekatan dengan Allah. Padahal, sering kali itu hanyalah jubah kesombongan yang ingin disaksikan jemaah agar mereka dianggap wali yang lembut hatinya."

2. TUKANG PUKUL

Khatib ini sibuk menghakimi jema'ah yg telah didudukkan oleh Allah di dalam masjid. 

Dia lupa ajaran Nabi SAW, "Mudhahkanlah dan jangan menyusahkan, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari/benci."(HR. Bukhari no. 69 & Muslim no. 1734). 

Sheikh 'Ali Thantawi (Ulama Besar Syam/Arab Saudi, Wafat 1999 M) memberikan pesan tajam yang sangat populer bagi para penceramah yang suka "menyerang" jemaah masjid: "Jangan sampai engkau menjadi penceramah yang berdiri di depan orang-orang yang sudah mau melangkahkan kakinya ke masjid, lalu engkau cambuk mereka dengan celaan seolah-olah mereka adalah penghuni neraka. Orang yang sudah datang ke masjid itu adalah orang yang sedang mencari penawar/obat, maka berikan mereka obat dengan kelembutan, bukan racun dengan amarahmu."

3. TUKANG ADU

Khatib ini gemar mengadu domba umat berdasarkan afiliasi ormas atau politik, bahkan dgn bahasa tdk pantas. 

Dia lupa pada sabda Nabi SAW, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (nammam)." (HR. Bukhari no. 6056 & Muslim no. 105), dan "Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor." (HR. Tirmidzi no. 1977, Shahih)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (Wafat 852 H) dalam kitab Fathul Bari, beliau menjelaskan syarat dan adab khotbah: "Khotbah disyariatkan untuk memberi peringatan (Tadzkir), mengajak taat kepada Allah, dan menasihati manusia dengan kebaikan. Menggunakan mimbar untuk mencela musuh politik atau menyerang kelompok muslim lain adalah penyimpangan dari maksud utama khotbah."

#persepsicahyana

Kamis, 25 Juni 2026

Konsep dan Realita Tuhan


Semua konsep dari tulisan tergambar dalam pikiran. Konsep tsb tdk bisa diindera, namun tulisan mewujudkannya, membuktikan konsep itu ada [1]. Begitupun bila Tuhan tdk terindera, bukan berarti Dia tdk ada. Dia bisa dikenali dari perbuatan Nya yg terindera, sebagai bukti Dia ada. 

Saat wujud pertama muncul di semesta, maka tiada wujud lain yg ada bersamanya, sebab dia adalah wujud yg pertama kali ada. Secara logis, hanya boleh ada sosok lain yg ada sebelum wujud tersebut ada, yakni Tuhan sebagai akar penciptaan yg tdk diciptakan oleh siapapun [2, 3].

Seseorang mungkin menjangkau Tuhan hanya sebatas konsep logis tsb [4, 5]. Namun jgn lupa, setiap konsep selalu mungkin ada perwujudannya. Terlebih suatu konsep dapat sesuai dgn kenyataan pada dimensi ruang dan waktu berbeda, sehingga kenyataan tsb tdk perlu diciptakan. Hanya perlu menunggu ruang dan waktu pertemuan. Itulah sebab kenapa kalangan Bertuhan meyakini kelak dapat menyaksikan Tuhan dalam wujud yg sesuai dgn konsep Ketuhanan yg diyakininya.

Manusia menggunakan angka 1 biner utk menyatakan kondisi hidup/ada dan 0 biner utk mati/tdk ada. Gerak sesuatu dapat dilogikakan dgn keduanya. Artinya, semua yg bergerak menghasilkan pola biner tsb. Bergerak tsb hanya terjadi dlm dimensi ruang dan waktu yg diciptakan Tuhan [6]. 

Sementara Tuhan tdk terikat oleh keduanya, sebab hanya ciptaan yg terikat oleh penciptanya. Oleh krn nya, saat Tuhan berkata, "Jadilah", akibat yg terjadi ("Maka Jadi") adalah perubahan dari kondisi tidak ada (0) menjadi ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu. Di sisi sebab ("Jadilah") adalah tak didefinisikan (~) karena tdk ada dimensi ruang dan waktu yg dapat mengukurnya. Dengan demikian ~ => {0, 1}, bukan sebaliknya. 

Sesuatu yg tidak ada (0) dibagikan kepada yg ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya tidak ada yg dibagikan (0). Namun, bila sesuatu yg ada (1) dibagikan kepada yang tidak ada (0) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya hanya Tuhan yg tahu (~) sebab manusia sampai saat ini belum mendefinisikannya. Artinya, manusia tdk bisa mengukur Tuhan yg tidak terdefinisi wujud Dzat Nya (~) dgn ukuran-ukuran kemahlukan yg terikat oleh ruang dan waktu (1/0).

Oleh karena itu Nabi SAW bersabda, "Berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan berpikir tentang Zat Allah, karena kalian tidak akan mampu mengira-ngira hakikat-Nya yang sebenarnya." (HR. Abu Nu'aim).

--------

[1] Plato (427–347 SM) mencetuskan Theory of Forms (Teori Idea). Menurutnya, dunia fisik yang kita indera ini hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia "Idea" yang abstrak, sempurna, dan abadi di dalam pikiran.
[2] Ibnu Sina / Avicenna (980–1037 M) membagi wujud menjadi dua: yang mungkin ada (alam semesta, yang butuh pencipta) dan yang wajib ada (Tuhan, yang ada dengan sendirinya tanpa awal).
[3] Aristoteles (384–322 SM) mengatakan bahwa sesuatu di alam semesta bergerak karena ada yang menggerakkan, dan rantai sebab-akibat ini tidak boleh mundur tanpa batas (infinite regress). Harus ada satu titik absolut yang memulai segalanya.
[4] Immanuel Kant (1724–1804) menjelaskan bahwa manusia tidak bisa melihat realitas sejati (Tuhan/Noumena) secara langsung karena keterbatasan struktur rasio kita yang terpenjara oleh dimensi ruang dan waktu (Phenomena).
[5] Ibnu Arabi (1165–1240 M) menyatakan bahwa setiap manusia membayangkan Tuhan sesuai dengan kapasitas, batasan, dan kesiapan spiritualnya sendiri.
[6] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646–1716), penemu sistem biner modern, memandang angka 1 sebagai representasi Tuhan (Eksistensi Absolut) dan 0 sebagai representasi ketiadaan (void). Bagi Leibniz, seluruh alam semesta adalah kombinasi dari gerak dinamis antara ketiadaan yang diisi oleh keberadaan melalui kehendak Tuhan.

#persepsicahyana

Senin, 22 Juni 2026

Perpecahan dan Perbedaan


Perpecahan itu buruk karena dapat melemahkan, perbedaan itu baik karena dapat menguatkan. Namun, perpecahan dapat timbul dalam persamaan atau perbedaan. Seseorang dapat membangun narasi perpecahan dgn mengeksploitasi perbedaan. Respon terbaik adalah membuat perbedaan, memilih utk meredam atau tdk memperbesar perpecahan.

Division is bad because it weakens, while difference is good because it strengthens. However, division can arise from similarities or differences. A divisive narrative can be constructed by exploiting differences. The best response is to effect change, choosing to mitigate the division or not exacerbate it.

الانقسام سيء لأنه يُضعف، بينما الاختلاف جيد لأنه يُقوّي. مع ذلك، قد ينشأ الانقسام من أوجه التشابه أو الاختلاف. ويمكن بناء سردية انقسامية باستغلال الاختلافات. وأفضل رد فعل هو إحداث تغيير، باختيار تخفيف حدة الانقسام أو عدم تفاقمه.

---------

Perpecahan pada hakikatnya merupakan hal yang buruk karena sifatnya yang destruktif. Ketika ego dan konflik internal dibiarkan mendominasi, energi kolektif yang seharusnya digunakan untuk produktivitas justru habis terbakar dalam perselisihan. Akibatnya, ikatan sosial yang ada menjadi rapuh, fokus bersama menjadi terpecah, dan pada akhirnya seluruh tatanan yang telah dibangun akan mengalami pelemahan secara perlahan namun pasti.

Sebaliknya, perbedaan merupakan suatu hal yang baik karena menyimpan potensi besar untuk saling menguatkan. Perbedaan bukanlah sebuah ancaman, melainkan kekayaan perspektif yang memungkinkan setiap pihak untuk saling melengkapi kekurangan satu sama lain. Ketika berbagai sudut pandang dan latar belakang yang beragam tersebut dikelola dengan bijak, ia akan melahirkan kolaborasi yang jauh lebih tangguh, inovatif, dan kokoh dibandingkan dengan kelompok yang sepenuhnya seragam.

Namun, sebuah paradoks sosial menunjukkan bahwa perpecahan tidak melulu lahir secara alami dari adanya perbedaan. Potensi keretakan tersebut ternyata bisa timbul di mana saja, baik di dalam kelompok yang memiliki banyak perbedaan maupun di tengah-tengah komunitas yang dipenuhi oleh persamaan. Keberadaan kesamaan latar belakang, visi, atau keyakinan sekalipun tetap tidak menjamin suatu kelompok bebas dari ancaman perpecahan jika ego sektoral mulai mengambil alih.

Situasi ini sering kali diperparah oleh adanya pihak-pihak tertentu yang sengaja membangun narasi perpecahan. Mereka secara aktif mencari celah, membesar-besarkan masalah kecil, dan mengeksploitasi perbedaan yang sebenarnya bersifat netral atau positif demi kepentingan atau keuntungan sepihak. Melalui manipulasi informasi dan provokasi, perbedaan yang awalnya menjadi sumber kekuatan diubah sedemikian rupa menjadi sumbu sentimen yang memicu kecurigaan antar sesama.

Menghadapi fenomena tersebut, respons terbaik yang bisa kita lakukan adalah dengan berani mengambil sikap untuk menjadi pembeda. Langkah konkret ini diwujudkan dengan memilih secara sadar untuk meredam suasana yang mulai memanas, meluruskan disinformasi, atau setidaknya menahan diri agar tidak ikut memperbesar arus perpecahan yang ada. Dengan memutus rantai penyebaran narasi provokatif, kita telah mengambil peran penting dalam menjaga stabilitas dan keharmonisan di tengah dinamika kehidupan sosial.

 #persepsicahyana

Budaya Berjualan yang Berisiko


Budaya berjualan di pinggir jalan, apalagi di jalanan ramai, memiliki beberapa isu yg perlu diperhatikan, yakni terkait ancaman keselamatan pejalan kaki, kebersihan makanan yg berdampak pada kesehatan, dan kenyamanan pengguna jalan.

Saya mengamati antusias masyarakat utk mengunjungi lapak mingguan di pinggir jalan sangat bagus utk menghidupi pedagang kecil. Misalnya, di bunderan Suci. Trotoar dan bahu jalan digunakan oleh pelapak, sehingga pembeli berjalan di bahu jalan bersama kendaraan yg melintas. Jalanan tsb merupakan salah satu jalan penghubung ke Tasikmalaya, sehingga tdk jarang dilewati kendaraan besar.

Tentu saja kita tdk bisa abai dgn isu penting yg muncul dari budaya tsb. Saya berpikir, lahan parkir luas milik toko besar bangunan yg tepat berada di lokasi kegiatan lebih aman digunakan sebagai lokasi berjualan. Apalagi jam operasional toko tsb sekitar jam 9 ke atas, sehingga dari pukul 6 hingga 9 bisa dimanfaatkan oleh masyarakat, sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Semoga pemerintah memperhatikan isu ini dan ikut andil menjembatani komunikasi antara toko dan masyarakatnya guna mewujudkan ekonomi masyarakat kecil yg aman dan nyaman. 

#persepsicahyana

Menuju Ketenangan


Apa yang kita cari di dunia ini adalah kesenangan, sementara kehidupan setelah kematian menuntut ketenangan. Saat kita mulai menempuh jalan menuju kehidupan setelah kematian, fokus hidup seharusnya mulai bergeser ke arah ketenangan.

What we seek in this world is pleasure, while the afterlife demands serenity. As we begin to embark on the path of the afterlife, the focus of life should begin to shift toward serenity.

إن ما نسعى إليه في هذه الدنيا هو المتعة، بينما تتطلب الحياة الآخرة السكينة. ومع بدء رحلتنا نحو الحياة الآخرة، ينبغي أن يتحول تركيز حياتنا نحو السكينة.

-----------

Sering kali, kesenangan di dunia ini terikat pada hal-hal eksternal dan bersifat sementara. Kita cenderung memburunya dalam detail kehidupan sehari-hari, namun sifatnya fana dan kerap kali disertai rasa cemas akan kehilangannya.

Sebaliknya, kedamaian jiwa representasi dari kedamaian batin, ketenteraman, dan keridaan yang kokoh. Ia tidak mudah goyah oleh pasang surutnya keadaan duniawi, sekaligus menjadi bentuk persiapan spiritual dan mental yang matang menyambut kehidupan akhirat.

Mengalihkan fokus hidup dari sekadar mengejar kesenangan semu menuju pencarian kedamaian hakiki (sakinah) adalah sebuah bentuk evolusi kesadaran. Pada titik ini, stabilitas batin, keikhlasan dalam menerima garis hidup, serta kedekatan dengan Sang Pencipta menjadi kompas utama dalam setiap langkah dan pilihan yang diambil.

#ratisejiwa #persepsicahyana

Selasa, 16 Juni 2026

Pertikaian Keturunan Orang Kanaan


A. Israel dan Palestina Berhubungan Darah

Palestina dan sebagian Israel masih satu keturunan dari Kanaan. Keduanya hidup bergenerasi-generasi di wilayah yang sejak zaman Romawi disebut Filistin. Bahkan di antara kedua suku ini sudah tercampur oleh perkawinan. Makanya masuk akal bila gen warga Palestina bisa lebih Israel daripada orang Barat yang mengaku keturunan Israel, walau tidak lagi beragama Yahudi. 

Berbagai penelitian genetika populasi, seperti studi Harry Ostrer atau Ariella Oppenheim, menunjukkan bahwa mayoritas orang Yahudi (baik Ashkenazi, Sephardi, maupun Mizrahi) dan masyarakat Arab Levantin (termasuk Palestina) memiliki kedekatan genetik yang sangat erat. Keduanya berbagi persentase DNA yang sangat tinggi dari populasi kuno Zaman Perunggu di wilayah Levant, yang secara historis dikenal sebagai orang Kanaan.

Ketika terjadi diaspora (pengusiran) bangsa Yahudi oleh Romawi, sebagian populasi tetap tinggal di tanah tersebut. Seiring waktu, berabad-abad lamanya, mereka mengalami asimilasi, berpindah keyakinan (menjadi Kristen, lalu kemudian Islam), dan bercampur dengan populasi lokal lainnya, yang kemudian membentuk garis keturunan masyarakat Palestina modern. Oleh karena itu, secara biologis, masyarakat Palestina memang memiliki keterikatan darah yang sangat kuat dengan tanah kuno tersebut dibandingkan dengan populasi imigran Yahudi yang telah berabad-abad bercampur dengan populasi Eropa (Ashkenazi).

B. Israel Dibawa Keluar

Israel diperbudak oleh penguasa Mesir. Kemudian Musa, saudara mereka, membebaskan dan membawa mereka pulang ke tanah leluhurnya yang disebut tanah yang dijanjikan. Sejak awal masa Musa, mereka tidak memenuhi syarat sehingga dijatuhi hukuman 40 tahun tidak bisa memasuki wilayah Palestina tersebut. 

Teks keagamaan mencatat bahwa karena pembangkangan dan ketakutan mereka untuk memasuki Tanah Kanaan saat diperintahkan, mereka dihukum untuk mengembara di Padang Sinabung (Sinai) selama 40 tahun hingga generasi yang membangkang tersebut digantikan oleh generasi baru.

Para sejarawan dan arkeolog modern masih mendebatkan historisitas peristiwa Exodus skala besar ini karena minimnya bukti arkeologis kontemporer di Mesir maupun Sinai. Namun, secara narasi identitas budaya dan agama, kisah ini adalah fondasi utama klaim "Tanah Perjanjian" bagi bangsa Israel.

C. Pertikaian Israel dan Palestina

Wilayah yang disebut tanah yang dijanjikan itu sebenarnya tanah air mereka bersama bangsa Palestina, tanah Kanaan. Cuma sayangnya, Israel berpikir itu tanah eksklusif, sehingga keturunan lain gak boleh memilikinya, bertindak seperti saudara yang merampas warisan dari saudara lain. 

Padahal warga Palestina menerima mereka yang saat itu mengungsi, seperti saudara sendiri. Warga Palestina tidak menyadari kalau saudaranya tersebut memiliki rencana untuk membuat negara eksklusif bagi Zionisme yang pada akhirnya membuat mereka sendiri menjadi objek pembersihan etnis. 

Dalam teologi Yahudi kuno, konsep Tanah Perjanjian memang sering diinterpretasikan secara eksklusif untuk Bani Israel. Namun, transformasi klaim teologis ini menjadi gerakan politik modern yang terjadi lewat Zionisme yang lahir di Eropa pada akhir abad ke-19.

Zionisme pada awalnya adalah gerakan nasionalis sekuler, bukan gerakan keagamaan. Para pendiri utamanya (seperti Theodor Herzl) menggunakan narasi historis dan alkitabiah tentang "Tanah Air Yahudi" sebagai solusi atas antisemitisme (persekusi terhadap Yahudi) yang merajalela di Eropa saat itu.

Pada gelombang-gelombang awal migrasi (Aliyah) di bawah mandat Inggris, masyarakat Palestina lokal awalnya menerima para imigran Yahudi yang melarikan diri dari Eropa sebagai sesama manusia atau tetangga. Namun, ketegangan mulai eskalatif ketika tujuan politik untuk mendirikan negara dengan mayoritas mutlak Yahudi (yang secara inheren membutuhkan pengosongan atau marginalisasi populasi Arab lokal) mulai menjadi jelas, yang puncaknya terjadi pada peristiwa Nakba tahun 1948.

D. Politisasi Agama

Pertikaian antara Palestina dan Israel adalah pertikaian antarsaudara seketurunan Kanaan yang menjadi lebih buruk, sampai level genosida, gara-gara politisasi agama. 

Pada dasarnya, konflik Palestina-Israel adalah konflik modern mengenai tanah, kedaulatan, hak atas penentuan nasib sendiri (self-determination), dan keadilan hukum. Konflik ini menjadi jauh lebih destruktif, tidak kompromis, dan brutal (bahkan hingga level pembersihan etnis dan genosida seperti yang disaksikan dunia saat ini) ketika narasi keagamaan yang radikal dan eskatologis (akhir zaman) digunakan untuk menjustifikasi kekerasan dan perampasan hak kemanusiaan.

Ketika hak historis dan genetik satu saudara dihilangkan demi ego eksklusivitas saudara yang lain dengan dukungan kekuatan politik-militer modern, maka ikatan "satu keturunan Kanaan" tersebut tenggelam dalam tragedi kemanusiaan yang berkepanjangan.

E. Matinya Solusi Dua Negara

Saat ini, banyak negara yang mengusulkan solusi dua negara dengan batas wilayah sesuai kesepakatan awal. Bahkan negara Barat mulai mengakui eksistensi negara Palestina. Namun, Israel, sebagaimana Hamas, menolak solusi tersebut. Israel terus melakukan okupasi dan mendirikan permukiman ilegal. Zionis Israel memiliki mimpi mewujudkan Great Israel yang wilayahnya membentang dari Sungai Eufrat hingga Tigris. Hamas menganggap Palestina adalah tanah airnya, bukan tanah air para pengungsi. 

Secara teori, Solusi Dua Negara mengacu pada perbatasan tahun 1967 (sebelum Perang Enam Hari), di mana Palestina merdeka di wilayah Tepi Barat, Jalur Gaza, dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya. Namun, visi ini ditolak oleh kelompok garis keras di kedua belah pihak.

Di bawah pemerintahan koalisi sayap kanan, Israel secara terbuka menolak berdirinya negara Palestina yang berdaulat. Mereka menganggap Tepi Barat sebagai wilayah historis Yahudi (Judea and Samaria). Kontrol militer penuh atas seluruh wilayah antara Sungai Yordan dan Laut Mediterania dianggap non-negosiasi untuk keamanan mereka.

Berdasarkan piagam aslinya, Hamas menolak legalitas negara Israel dan menganggap seluruh tanah dari "Sungai hingga Laut" (From the River to the Sea) sebagai tanah wakaf Islam yang tidak boleh diserahkan. Meskipun pada tahun 2017 mereka sempat memperbarui dokumen politik yang menerima perbatasan 1967 sebagai formula konsensus sementara, tujuan jangka panjang mereka tetaplah pembebasan penuh Palestina tanpa mengakui kedaulatan Israel.

Para pemukim ilegal Israel, di bawah dukungan aparat keamanan, melakukan teror yang membuat warga Palestina terbunuh dan terusir. Serangan Hamas dijadikan dalih untuk memperluas wilayah, bahkan hingga wilayah yang tidak dikuasai Hamas. Cara serupa dilakukan Israel dalam memperluas wilayah di Libanon Selatan dengan dalih melawan Hizbullah.

Okupasi dan pembangunan permukiman (settlements) di Tepi Barat dan Yerusalem Timur adalah faktor utama yang secara fisik "membunuh" peluang Solusi Dua Negara. Berdasarkan Konvensi Jenewa Keempat, sebuah negara pendudukan dilarang memindahkan penduduk sipilnya ke wilayah yang diduduki. Oleh karena itu, PBB dan mayoritas negara-negara di dunia menyatakan seluruh permukiman Israel di Tepi Barat adalah ilegal.

Laporan dari berbagai organisasi hak asasi manusia (seperti B'Tselem dan Amnesty International) mendokumentasikan bagaimana oknum pemukim radikal, sering kali dilindungi atau dibiarkan oleh pasukan keamanan Israel (IDF), melakukan intimidasi, perusakan kebun zaitun, hingga kekerasan fisik terhadap warga Palestina. Tujuannya adalah memaksa warga lokal meninggalkan tanah mereka (displacement) agar wilayah permukiman Yahudi bisa diperluas dan terhubung satu sama lain, sehingga wilayah Palestina menjadi terfragmentasi (terpecah-pecah menjadi enklaf kecil).

Konsep Greater Israel (Eretz Yisrael HaShlemah) memiliki dua dimensi yang perlu dibedakan antara retorika alkitabiah dan realitas politik modern. Dalam teks kuno Kejadian 15:18, terdapat batas teologis "dari Sungai Mesir hingga Sungai Besar, Sungai Efrat." Secara praktis-geopolitik, ambisi sebagian besar kelompok Zionis kanan hari ini bukanlah mencaplok Irak atau Suriah (wilayah Efrat-Tigris), melainkan menguasai penuh seluruh wilayah Mandat Britania atas Palestina (mencakup Israel modern, Tepi Barat, dan Gaza) ditambah sebagian Dataran Tinggi Golan. Bagi warga Palestina, kebijakan aneksasi de facto ini dirasakan sebagai bentuk ekspansionisme yang perlahan tapi pasti melenyapkan ruang hidup mereka.

Serangan Hamas dijadikan justifikasi oleh militer Israel untuk melakukan operasi skala penuh. Dampaknya tidak hanya menghancurkan infrastruktur Gaza, tetapi juga diikuti dengan peningkatan agresi, penyitaan lahan, dan penangkapan massal di Tepi Barat—wilayah yang sebenarnya dikendalikan oleh Otoritas Palestina (Fatah), bukan Hamas. Hal ini memperkuat argumen bahwa targetnya melampaui sekadar menumpas Hamas.

Garis perbatasan Israel-Libanon (Blue Line) telah lama menjadi front pertempuran. Dengan dalih menetralisir ancaman roket Hizbullah dan menciptakan "zona penyangga" (buffer zone) demi memulangkan warga Israel di utara, militer Israel kerap melakukan penetrasi ke Libanon Selatan. Bagi Lebanon dan pengamat regional, zona penyangga ini sering kali berujung pada pendudukan militer jangka panjang (seperti yang pernah terjadi pada tahun 1982 hingga 2000), yang mengikis kedaulatan negara tetangga.

Ketika geopolitik digerakkan oleh kombinasi antara doktrin keamanan absolut, pembenaran ideologis-keagamaan, dan impunitas (kekebalan) dari hukum internasional, maka siklus kekerasan, pendudukan, dan pengusiran akan terus berulang, mengorbankan hak-hak dasar kemanusiaan warga sipil di wilayah tersebut.


#persepsicahyana

Sabtu, 13 Juni 2026

Bismillah


"Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan 'Bismillahirrahmanirrahiim', maka amalan tersebut terputus (kurang berkah)." (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami', Al-Abdul Haki dalam Al-Arba'in)

"Dengan menyebut nama" adalah tanda awal niat baik yang terlihat dari tangan dan kaki kanan yang bergerak mengawali perbuatan baik [1]. Namun, siapa nama yang harus disebut? Tentu saja "Allah". Jika bukan karena kehendak-Nya, niat dan gerakan awal tersebut tidak mungkin ada [2]. 

Cukup melihat wajah kebaikan Allah, tidak perlu melihat wajah siapa pun yang diciptakan-Nya. Setiap hamba yang sadar diri akan duduk menundukkan wajah keakuan dengan kekuatan rendah hati. Api Tuhan kemudian meleburkan wajah keakuannya, sehingga yang terlihat atau tersisa untuk dipikirkan dan dibaca di dalam hati hanya cahaya asma Tuhan. 

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. al-Alaq: 1)

Niat yang baik harus diwujudkan dengan cara yang baik [3], seupama tangan kiri yang mengikuti tangan kanan dan kaki kiri yang mengikuti kaki kanan. Cara baik mewujudkan perbuatan "Sang Maha Pengasih" yang bermanfaat bagi umat manusia seluruhnya dan perbuatan "Sang Maha Penyayang" yang bermanfaat bagi mereka yang beriman [4]. Memilih cara baik adalah bukti ketaatan yang hanya terwujud bila api Tuhan telah meleburkan keakuan [5].  

Dengan demikian, mulai dari niat dan cara, tidak ada selain Dia yang terlihat. Hal tersebut hanya bila niat dan cara baik mengikuti Nabi Muhammad SAW [6], berserah diri, menyerahkan keakuannya, demi hak Tuhan dan Utusan-Nya yang dicinta, karena "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".

"Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, serta bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya… maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimanapun amal perbuatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

#ratisejiwa

[1] "Termasuk sunnah adalah memulainya dengan kaki kananmu ketika masuk masjid, dan memulainya dengan kaki kirimu ketika keluar masjid." (HR. Al-Hakim)
[2] "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir: 28-29)
[3] "Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik..." (HR. Muslim)
[4] Abdullah bin Abbas berkata, "Ar-Rahman artinya Yang Maha Pemurah bagi seluruh makhluk-Nya, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang khusus bagi orang-orang yang beriman."
[5] "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku memperoleh petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: 'Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 11–14)
[6] "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)

Terinspirasi gambar semasa bujang yang ditempel di papan majalah dinding Madrasah Diniyah Bahrul Ulum. Saat itu, sahabat Generasi Muslim al-Muhajirin bertanya maksudnya, dan saya tdk menjawabnya. Tahun ini saya baru menyadari, ternyata gambar tsb selaras dengan tulisan Ibn Athaillah dalam Miftahul Falah wa Misbahul Arwah, setelah membacanya. Butuh puluhan tahun utk bertemu penjelasannya dari ulama Syadziliyah ini:
Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhûr (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.

Rabu, 03 Juni 2026

Ketaatan Beragama

Agama adalah pedoman hidup untuk mewujudkan tatanan hidup yang baik. Diperlukan ketaatan pada pedoman tersebut untuk mewujudkannya. Ketaatan dengan cara apa pun dicapainya adalah baik karena berkontribusi mewujudkan tatanan tersebut pada level individu atau sosial. 

Pahala dan siksa adalah metode pendidikan umum yang paling awal dikenal untuk menciptakan ketaatan pada manusia dan hewan. Namun, ketaatan tidak lagi membutuhkan metode tersebut bila sudah menjelma menjadi kebiasaan atau timbul karena kesadaran. 

Di level tercerahkan, seseorang termotivasi untuk taat karena cinta, bukan lagi karena takut akan siksa yang tidak akan sanggup dihadapi atau mengharapkan pahala yang tidak layak diperoleh, atau bukan semata karena kebiasaan. Seseorang harus mengenal dan sadar sehingga cinta dan taat dengan sendirinya. Untuk itu, seseorang memerlukan material berupa ilmunya dan instrumen untuk mengukur capaiannya, yang semuanya itu juga disediakan oleh agama. 

Dengan demikian, tatanan hidup yang baik dapat diwujudkan dengan ketaatan beragama. Ketaatan tersebut dapat bertransformasi dari level awal yang digerakkan oleh takut akan siksa dan harap akan pahala, naik ke level menengah yang didasarkan pada kebiasaan dan kesadaran, hingga mencapai level tercerahkan yang sepenuhnya dimotivasi oleh ilmu dan cinta murni.

#persepsicahyana

Sabtu, 16 Mei 2026

Alien dan Kendaraan Besar


Keberadaan alien itu bukannya tidak diketahui oleh manusia, bahkan sudah lama diketahui.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta makhluk-makhluk melata (dābbah) yang Dia sebarkan pada keduanya (langit dan bumi). Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia menghendaki. (QS. Asy-Syura: 29)

Ada yg menarik dari ayat berikut:

Dan apabila perkataan (ketentuan masa kehancuran alam) telah berlaku atas mereka, Kami keluarkan makhluk bergerak (dābbah) yang bernyawa dari bumi yang akan mengatakan kepada mereka bahwa manusia selama ini tidak yakin pada ayat-ayat Kami (QS. An-Naml: 82)

Terlepas dari beragam tafsir, khususnya yang menganggapnya sebagai hewan besar, ulama sepakat bahwa makhluk ini bukan manusia, namun memiliki kemampuan berbicara dengan bahasa manusia. Artinya, kecerdasan makhluk ini sangat tinggi. Namun, lain cerita bila hewan besar itu difahami saat ini sebagai kendaraan besar yang memiliki teknologi translasi bahasa.

Saat Perang Dunia II, suku-suku pedalaman di Pasifik yang belum pernah melihat teknologi menganggap pesawat tempur sebagai "burung raksasa". Dalam konteks ini, dābbah, yakni manusia, berada di dalam burung raksasa/pesawat. Apakah makhluk besar yang di masa depan akan keluar dari bumi itu, dābbah, atau kendaraannya, Allahu 'alam.

Tentang kendaraan besar yg dibahasakan hewan, menarik juga utk menyimak hadits berikut ini:

Dajjal akan keluar pada waktu merosotnya pemahaman agama dan mundurnya ilmu pengetahuan. Dia memiliki waktu selama 40 malam untuk menjelajahi bumi. Satu hari (pertama) masanya seperti setahun, satu hari (kedua) masanya seperti sebulan, satu hari (ketiga) masanya seperti satu pekan (Jumat), kemudian hari-hari sisanya sama seperti hari-hari kalian ini. Dan dia memiliki seekor keledai yang dia tunggangi, yang mana jarak (lebar) di antara kedua telinganya adalah empat puluh hasta. (HR. Imam Ahmad)

Lebar antartelinga mencapai 40 hasta (20 hingga 22 meter). Dalam perspektif masa kini, telinga sepanjang itu lebih mirip sayap pesawat. Dalam industri penerbangan modern, ukuran bentang sayap selebar itu tergolong dalam kategori pesawat ukuran sedang hingga kecil, seperti jet pribadi Falcon 8X/Bombardier Challenger dan taksi terbang buatan Cina V5000. Dengan tambahan hadits berikut ini, kita melihat sosok Dajal ini seperti seorang eksekutif yg bepergian dgn jet pribadinya, dan membuat banyak orang melayani segala kepentingannya karena ketergantungan pada teknologi rekayasa alam yang dimilikinya:

"Kami bertanya: 'Wahai Rasulullah, bagaimana kecepatannya di bumi?'' Beliau menjawab: 'Seperti hujan yang didorong oleh angin kencang. Ia mendatangi kaum, lalu mengajak mereka, dan mereka beriman serta mematuhinya. Ia memerintahkan langit menurunkan hujan dan bumi menumbuhkan tanaman, membuat ternak mereka kembali dengan punuk lebih panjang, susu lebih penuh, dan lambung lebih lebar." (HR. Muslim)

Kecepatan badai atau awan yang didorong angin kencang umumnya berkisar antara 60 hingga 120 km/jam. Teknologi penerbangan manusia saat ini tidak hanya setara, tetapi juga telah melompat jauh melampaui kecepatan analogi angin tersebut. Misalnya, pesawat komersial: berkecepatan jelajah rata-rata 850–900 km/jam (lebih cepat dari badai tornado terkuat sekalipun).

Keyakinan rasionalis bahwa yg ditunggangi Dajjal adalah pesawat dikuatkan oleh kitab eskatologi Bihar al-Anwar karya Ulama Al-Majlisi:

"Ia (keledai Dajjal) akan berhenti pada suatu tempat, lalu diserukan kepada manusia: 'Kemarilah dan masuklah ke dalam perut keledai ini!'' Maka orang-orang pun masuk ke dalam lambungnya melalui sebuah pintu, dan ketika kendaraan itu hendak berangkat, keberangkatannya akan diumumkan dengan suara keras…"

Semua ulama sepakat bahwa Dajjal adalah manusia, bukan alien. Namun, apa yang dikendarainya masih bisa diperdebatkan, sehubungan dengan keterbatasan masyarakat di masa lalu dalam menjangkau pencapaian manusia saat ini dan di masa depan. Sementara Tuhan berbicara melalui perantaraan lisan utusan Nya dgn bahasa yg difahami oleh manusia saat ini:

"Kami tidak mengutus seorang rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya agar dia dapat memberi penjelasan kepada mereka ..." (QS. Ibrahim: 4)

Jika pada abad ke-7 Nabi SAW bersabda bahwa Dajjal akan mengendarai "kendaraan berbahan baja yang digerakkan oleh mesin jet berbahan bakar avtur dan terbang di atas awan", masyarakat Arab Jahiliyah saat itu tidak akan bisa memahaminya. Penyebutan istilah modern yang belum ada wujudnya justru akan membuat wahyu dianggap sebagai kegilaan atau omong kosong, sehingga merusak esensi ujian keimanan. 

Oleh karena itu, ketika menggambarkan kendaraan masa depan yang memiliki bentang sayap lebar, bergerak sangat cepat, dan membawa manusia di dalamnya, metafora yang paling logis dan mudah dibayangkan oleh imajinasi manusia zaman itu adalah "keledai raksasa yang bentang telinganya puluhan hasta dan bisa melompat ke awan".

Allah sengaja tidak menyebut nama teknologi modern secara spesifik, melainkan memberikan isyarat umum yang fleksibel agar maknanya baru terbukti ketika teknologinya sudah tercipta. Contoh nyata ada pada Surat An-Nahl Ayat 8:

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, agar kamu menungganginya... Dan Dia menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”

Frasa "apa yang tidak kamu ketahui" adalah ruang linguistik yang Allah sediakan bagi manusia masa depan untuk mengisi ruang tersebut dengan penemuan seperti mobil, kereta, kapal selam, hingga pesawat terbang.

Kembali ke makhluk cerdas yang keluar dari perut bumi, ada teori yang menyatakan bahwa alien atau makhluk cerdas non-manusia hidup bersembunyi di dalam perut bumi atau di bawah samudra yang dikenal secara ilmiah dalam studi ufologi sebagai Cryptoterrestrial Hypothesis. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh penulis Mac Tonnies pada tahun 2010. Inti teorinya, makhluk cerdas yang kita sangka "alien dari luar angkasa" sebenarnya adalah ras asli Bumi (indigenous) yang telah berevolusi secara paralel atau mendahului manusia. Karena kalah jumlah populasi dengan manusia, mereka memilih bersembunyi di bawah tanah (underground) atau di gua-gua raksasa yang tidak terjamah. Mereka sengaja menggunakan teknologi kamuflase dan membiarkan manusia mengira mereka datang dari bintang jauh agar rumah asli mereka di dalam Bumi tidak diusik.

Hanya waktu yang akan menunjukkan bagaimana pertanyaan terkait nubuwahan akhir zaman akan terjawab. 

#persepsicahyana

Kamis, 07 Mei 2026

Rambut Bercat


Guru mempersoalkan rambut bercat untuk siswi berhijab sampai mengguntingnya itu berlebihan bila tidak ada aturan sekolah yang melarang. Memperkarakan tindakan tersebut sampai ke pengadilan itu juga berlebihan, karena niat gurunya pasti baik. 

Bersolek itu sifat alami perempuan; tidak perlu dipersepsikan negatif. Bila dengan bersolek kaum perempuan mau bersekolah, maka biarkan saja begitu. Lebih baik bersolek untuk ke sekolah daripada ke tempat yang buruk. Perempuan mau bersekolah sampai jenjang atas itu sudah luar biasa. Tinggal bagaimana memahamkan kepada mereka bahwa kecantikan itu harus seiring sejalan dengan kemampuan dan digunakan untuk kebaikan.

Buat para ortu, ga usah berkepanjangan dengan kasus seperti ini. Niat guru selalu baik, walau caranya tdk tepat. Muliakan niat baiknya. Anak saya juga pernah dibilang merusak citra sekolah gara-gara sepatunya berlubang. Saya tidak mempersoalkannya, walau pernyataannya tidak baik, semata karena memuliakan guru.

Ortu siswa lebih baik fokus saja pada masalah yang lebih penting dan terjadi di banyak sekolah negeri, seperti besarnya biaya sumbangan yang diminta oleh komite dari ortu dan bahkan menyaingi sumbangan kampus, diskriminasi siswa berdasarkan uang sumbangan dan pelunasannya, arahan bagi lulusan yang lebih disesuaikan dengan kepentingan sekolah daripada minat anak dan kepentingan keluarganya, dan lainnya.

#persepsicahyana
#biograficahyana

Minggu, 26 April 2026

Patuh dan Tawadhu


Seorang hamba selalu menerima dan menaati perintah Tuhan di saat senang maupun susah. Semua perintah ini bertujuan untuk membangkitkan ilmu dan kebijaksanaannya, sehingga muncul keutamaan dan kelayakannya sebagai pemimpin di Bumi.

A servant always accepts and obeys God's commands, in times of joy and sorrow. All these commands are intended to awaken his knowledge and wisdom, thereby revealing his virtue and worthiness as a leader on Earth.

يتقبل العبد أوامر الله ويطيعها دائماً، في السراء والضراء. وكل هذه الأوامر تهدف إلى إيقاظ علمه وحكمته، فتُظهر بذلك فضائله وجدارته كقائد على الأرض.

#persepsicahyana

Dalam menerima ujian-Nya, hamba Tuhan akan patuh dan tawadhu, sehingga tidak seperti Iblis yang membangkang dan menyombongkan diri. Kepatuhan dan tawadhu merangkum semua keutamaan makhluk, termasuk malaikat.

"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Aku hendak menjadikan khalifah di bumi." Mereka berkata, "Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?" Dia berfirman, "Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui" (QS. Al-Baqarah: 30). Kemudian, Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya, kemudian Dia memperlihatkannya kepada para malaikat seraya berfirman, "Sebutkan kepada-Ku nama-nama (benda) ini jika kamu benar!" (QS. Al-Baqarah: 31). Mereka menjawab, "Mahasuci Engkau. Tidak ada pengetahuan bagi kami, selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana" (QS. Al-Baqarah: 32).

Dia (Allah) berfirman, "Wahai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda itu!" Setelah dia (Adam) menyebutkan nama-nama itu, dia berfirman, "Bukankah telah Aku katakan kepadamu bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan Aku mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang selalu kamu sembunyikan?" (QS. Al-Baqarah: 33). Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka, mereka pun sujud, kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri sehingga ia termasuk golongan kafir (QS. Al-Baqarah: 34).

#ratisejiwa

Sabtu, 25 April 2026

Dekat dan Jauh


Jarak dapat menyebabkan prasangka dan konflik, sementara saling pengertian dan memberi dapat menumbuhkan kedekatan.

Distance can lead to prejudice and conflict, while mutual understanding and giving can foster closeness.

قد يؤدي البُعد إلى التحيّز والصراع، بينما يُمكن للتفاهم المتبادل والعطاء أن يُعزّزا التقارب.

Orang beriman mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri (HR. Bukhari & Muslim). Ibarat bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain (HR. Bukhari), atau satu tubuh, yang jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam (HR. Muslim). 

Bila kecintaan itu telah luntur dan bahkan tergantikan oleh kebencian, maka saling memberi hadiah dapat menghilangkan kebencian (HR. Tirmidzi) dan membuat saling mencintai (HR. Bukhari). Berjamaah (bersatu) dan menjauhi perpecahan adalah keharusan, karena setan bersama orang yang sendirian (HR. Tirmidzi). Setan itu menimbulkan perselisihan dan musuh yang nyata (QS. Al-Isra': 53).

#persepsicahyana #ratisejiwa

Jumat, 24 April 2026

Lintasan Pikiran Adalah Perintah


Dari sudut pandang seorang hamba Tuhan, apa pun yang terlintas dalam pikiran adalah perintah yang harus dilaksanakan dengan cara atau dalam batasan yang dikehendaki Tuhan. 

From the perspective of a servant of God, whatever comes to mind is a command that must be carried out in the manner or within the limits that God desires.

من منظور خادم الله، فإن كل ما يخطر على البال هو أمر يجب تنفيذه بالطريقة أو ضمن الحدود التي يريدها الله.

#persepsicahyana

Bagi hamba Tuhan, semua lintasan pikiran adalah isyarat perintah Tuhan, bahkan bila lintasan itu timbul dari syahwat atau seperti penyakit hati.

Contohnya:

"Apabila salah seorang di antara kalian melihat seorang wanita, lalu ia memikat hatinya, maka segeralah datangi istrinya! Sesungguhnya istrimu memiliki seluruh hal yang dimiliki oleh wanita yang engkau lihat itu." (HR. Muslim no. 1403, At-Tirmidzi)

Isyarat perintah Nya: terpikat hati oleh wanita lain. Pelaksanaannya: mendatangi istrinya untuk beroleh pahala dari Tuhan. 

"Bagaimana pendapat kalian jika ia menyalurkan syahwatnya pada tempat yang haram (zina), bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia menyalurkannya pada jalan yang halal (istri), maka ia mendapatkan pahala." (HR. Muslim no. 1006)

Contoh lain:

“Tidak boleh hasad (iri hati) kecuali pada dua orang: (1) Seseorang yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia menghabiskannya di jalan yang benar, dan (2) Seseorang yang diberikan hikmah (ilmu), lalu ia mengamalkannya dan mengajarkannya kepada orang lain.” (HR. Bukhari no. 1409 & Muslim no. 1352)

Isyarat perintah-Nya: hasad pada seseorang. Pelaksanaannya: berdoa atau berharap, bahkan bila dia tidak termasuk keduanya.

"Jika salah seorang dari kalian melihat pada diri saudaranya sesuatu yang menakjubkan, maka hendaklah ia mendoakan keberkahan untuknya." (HR. Ahmad).

"Hamba yang dikaruniai Allah ilmu namun tidak dikaruniai harta, lalu ia jujur niatnya dengan berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal seperti amalan si fulan (orang pertama).' Maka dengan niatnya itu, pahala keduanya sama … Hamba yang tidak dikaruniai Allah harta maupun ilmu, lalu ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan beramal (buruk) seperti si fulan (orang ketiga)'. Maka dengan niatnya itu, dosa keduanya sama." (HR. At-Tirmidzi)

Konsep tsb adalah kimia spiritual—mengubah "logam rendah" (dorongan nafsu atau penyakit hati) menjadi "emas" (amal saleh dan pahala) melalui pemahaman koridor syariat. Dari sudut pandang seorang hamba, pikiran tidak lagi dianggap sebagai gangguan acak, melainkan sebagai sinyal navigasi. Ketika pikiran muncul, seorang hamba tidak sekadar mengikuti arus pikiran tersebut, melainkan bertanya: "Ke arah mana Tuhan ingin aku mengalihkan energi ini?"

Dalam teologi Islam, fenomena ini sering disebut dengan manajemen lintasan pikiran (khawatir). Saya menggambarkannya sebagai "perintah" yang harus dieksekusi melalui kanal yang tepat. Imam al-Ghazali membahasnya secara khusus di dalam Minhajul Abidin, mengkategorikannya menjadi lintasan yang baik dan yang buruk. 

Esensi dari hadis-hadis yang dikutip menunjukkan bahwa manusia tidak diminta untuk mematikan perasaannya secara total, melainkan untuk merekayasa arahnya. Islam mengakui bahwa manusia punya rasa lapar, syahwat, dan rasa iri. Tuhan tidak menghukum munculnya perasaan tersebut selama tidak diubah menjadi tindakan haram. Seorang hamba yang memahami ini tidak akan tenggelam dalam rasa bersalah saat pikiran buruk muncul. Sebaliknya, ia langsung beraksi melawan pikiran tersebut.

Dengan paradigma ini, hidup menjadi sangat dinamis. Tidak ada ruang kosong. Setiap detik, "lintasan pikiran" adalah bahan baku untuk membangun istana di akhirat. Ini adalah bentuk optimisme tingkat tinggi: bahwa setiap gerakan batin, sekecil apa pun, adalah peluang untuk meraih ridha-Nya jika dikelola dengan ilmu.

Menurut Imam al-Ghazali, lintasan ini bersumber dari Tuhan bila tentang Ketuhanan Nya, dari Malaikat bila tentang amal saleh, dari Setan bila tentang keburukan yg mudah dihilangkan dgn dzikr, dan dari Syahwat bila dorongannya sulit dihilangkan. Lintasan tsb menguji arah ketaatan kita, apakah kepada Tuhan atau selain Nya? Bila semua lintasan dipersepsi sebagai perintah Tuhan, maka kita harus mengambil cara pelaksanaan yang sesuai dengan-Nya agar terbukti menaati-Nya. 

#ratisejiwa

Kamis, 23 April 2026

Error P2138: Efek Throttle Manipulator?

Dalam perjalanan pulang dari Bandung, indikator mesin menyala lagi. Kali ini saya tidak mencabut aki, sesuai saran teknisi. Alhamdulillah, gasnya normal, walau lampu indikatornya menyala. Setelah dipindai, ketahuan masalahnya di sensor yg berkaitan dengan throttle. 

Entah error ini ada hubungannya dengan Throttle Manipulator yg saya pasang atau tidak. Saya lupa menanyakannya. Namun Gemini menjelaskan demikian:

Kode DTC P2138 pada Honda Mobilio 2018 menunjukkan adanya masalah korelasi tegangan antara dua sensor posisi pedal akselerator (APP Sensor A/B atau Sensor D/E). Mobil biasanya akan masuk ke "limp mode" (mode darurat) di mana tenaga mesin sangat dibatasi untuk keamanan. 

Gejala yang mungkin dirasakan: lampu Check Engine menyala, mobil tiba-tiba kehilangan tenaga atau tidak mau lari saat digas (limp mode), mesin tersendat, idle tidak stabil, atau bahkan mati mendadak. (Persis seperti yg saya rasakan)

Sangat besar kemungkinannya alat throttle manipulator (seperti throttle controller atau piggyback throttle) tersebut berkaitan langsung dengan munculnya kode P2138. Alat ini bekerja dengan cara mencegat sinyal dari pedal gas (APP Sensor) dan mengubah voltasenya sebelum dikirim ke ECU untuk memberikan respons yang lebih instan atau lebih hemat. Kode P2138 muncul karena ECU mendeteksi perbedaan tegangan (mismatch) antara dua jalur sinyal pedal yang dianggap tidak wajar atau tidak sesuai dengan standar pabrikan

Beberapa mode agresif pada manipulator mengubah kurva voltase secara ekstrem. ECU Honda sangat sensitif terhadap keamanan; jika perubahan voltase dianggap terlalu melonjak atau tidak sinkron antarsensor, ECU akan langsung masuk ke limp mode untuk mencegah mobil melaju tanpa kendali.


#cahyanatrip