Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Minggu, 01 Februari 2026

Fokus Manusia: Hasil, Proses, Tuhan

Surga dan neraka itu utk kalangan awam yg pamrih atau masih berada di level hewan yg berpikir (animal rationale). Mereka hanya bisa diluruskan dgn pendekatan hadiah dan hukuman, seupama hewan sirkus yg mau berproses bila diberi makanan atau diancam dgn cambukan. 

Kalangan khusus tdk perlu melihat hasil, surga dan neraka. Mereka fokus pada proses menjadi orang baik yg bermanfaat dan percaya proses tdk akan menghianati hasil, sebutir kebaikan akan dibalas kebaikan, dan setiap orang akan sampai pada apa yg diniatkannya. Namun mereka masih gelisah, dibayangi oleh takut dan harap saat mengalami kelemahan dan hambatan dlm prosesnya.  

Kalangan khusus dari yg khusus tdk lagi memiliki takut dan harap krn berfokus pada Tuhan, bukan pada proses, apalagi pada hasil. Mereka tdk terganggu dgn kelemahan atau hambatan apapun krn tahu kalau Tuhannya tdk membebani di luar kesanggupan. Mereka menjalani semua hal yg Tuhan berikan tanpa mengeluh krn penghormatan dan cinta, berusaha menjadi hamba Tuhan Yg Maha Pengasih. 

#persepsicahyana

Jumat, 09 Januari 2026

Learning First, Leading with Heart: A Reflection on Becoming a Teacher in the Age of AI

I still remember how I felt in May 2025, sitting quietly in a training room in Banten, joining a week-long program on Coding and Artificial Intelligence (KKA). I came as a teacher who wanted to learn something new, but I also brought doubts I did not say aloud. AI sounded powerful, almost intimidating. I wondered if, one day, it would slowly push teachers to the margins of their own classrooms.

Keterangan foto tidak tersedia.

As the days passed, my fear did not disappear, but it changed. I began to see that AI does not replace what makes teaching meaningful. It does not notice when a student loses confidence. It does not understand why a child suddenly goes silent. Only teachers can do that. AI can assist, but it cannot care.

"AI does not understand children the way teachers do."

Keterangan foto tidak tersedia.

That understanding became even clearer when I was asked to serve as a facilitator for KKA teachers in Garut Regency and later across West Java. Standing among fellow teachers felt different from standing in front of students. I was not there to impress or instruct. I was there to listen.

Keterangan foto tidak tersedia.

Some teachers spoke with honesty and worry. They feared losing relevance. They feared becoming dependent on machines. I did not try to convince them quickly, because resistance is often rooted in love for the profession. I realized that fear does not mean refusal. It means teachers care deeply about their role.

Keterangan foto tidak tersedia.

At the same time, I met teachers who moved forward with quiet courage. One of them showed a simple attendance system powered by AI. It was not sophisticated. It was not perfect. But it represented something far more critical: confidence to try.

“The real change was not in the technology, but in the teacher’s confidence."

These contrasting experiences stayed with me. When I later facilitated a larger program in West Bandung Regency, I brought real stories into the discussion. Interestingly, the conversation shifted. Teachers spoke less about fear and more about reality. Limited devices. Weak internet connections. Schools that were not equally prepared. That was a powerful reminder that transformation must always respect context.

Keterangan foto tidak tersedia.

Through this journey, I learned that AI literacy is not merely a technical issue. It is a human one. It requires patience, empathy, and ongoing support. The most important work does not end when training ends. It begins afterward.

Keterangan foto tidak tersedia.

That is why I believe deeply in mentoring and community. Together with fellow facilitators, I helped forge a teacher community focused on strengthening KKA. It became a safe space to share, to fail, and to grow. When I was asked to serve as a mentor, I accepted not because I had all the answers, but because leadership sometimes means walking together, not walking ahead.

"Being a teacher leader means learning alongside others, not standing above them."

Mungkin gambar satu orang atau lebih, mimbar dan teks

This work is closely tied to my long involvement with the ICT Volunteer (Relawan TIK) movement. Since 2002, I have worked with communities to strengthen digital literacy. In 2025, university students I taught joined schools to support AI literacy for younger learners. Watching teachers, students, and volunteers learn from each other reminded me that meaningful change is always collaborative.

Looking back, I now see that this journey with AI is not really about artificial intelligence. It is about identity. About courage. About reminding ourselves why we became teachers in the first place.

We cannot stop change from entering our classrooms. But we can choose how we respond to it. We can choose fear, or we can choose growth. As Trainer, our role is not to master every tool, but to model lifelong learning with humility and heart.

"AI will never replace teachers who are willing to keep learning."

And perhaps that is the most crucial lesson I carry forward. Before we ask our students to adapt to the future, we must be willing to learn first. That is how we lead. That is how we stay human in a digital world.

Pendidikan Eskalatif

Seorang suami meluruskan istrinya melalui tahapan menasihati, menjauhinya, hingga (bila terpaksa) tindakan fisik yg tdk mencederai. Terkadang pendekatan ini diterapkan di luar konteks hubungan suami-istri dan dalam konteks pendidikan secara umum dgn bentuk tindakan yg disesuaikan. Misalnya, bila bentuk menjauhi dlm konteks suami-istri itu adalah pisah ranjang, namun dalam konteks lainnya bisa dalam bentuk Al-Hajru atau mendiamkan sementara waktu. 

Lama mendiamkan secara default itu tiga hari, sesuai hadis Nabi Muhammad SAW: ​"Tidak halal bagi seorang Muslim untuk mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam..." (HR. Bukhari & Muslim). Namun Nabi SAW pernah mendiamkan tiga sahabat selama 50 hari karena tidak ikut berperang tanpa alasan sah, sampai akhirnya mereka bertaubat dan Allah menerima taubatnya. Lama waktu ditentukan secara terukur.

Pendekatan ini bersifat eskalatif, meningkat ketegasannya dgn pertimbangan efektifitas tindakan di setiap level. Dalam pendidikan modern, seorang pendidik harus menggunakan intervensi yang paling minim tekanannya sebelum beralih ke yang lebih berat. Sehingga pendidik tdk bisa loncat ke level puncak, namun harus dari level persuasif dulu (nasihat). Bila tdk efektif, dinaikan ketegasannya ke level psiko-sosial. Bila level tsb tdk efektif, baru ke fisik-edukatif. 

Struktur hierarki disiplin tsb wajib memperhatikan proporsi tindakan yg harus disesuaikan dgn level kesalahan, prediktabilitas yg mengharuskan subjek disiplin faham alasan dia didisiplinkan, dan ishlah (kasih sayang) sebagai tujuan akhir. Semuanya harus dilakukan dgn tenang atau tdk emosional dan berfokus pada perubahan perilaku. 

 #persepsicahyana

Kamis, 08 Januari 2026

Angkot dan PKL

ANGKOT DAN PKL

Kejadian gerobak rujak yg tertabrak Angkot ini mengingatkan kekhawatiran saya akan keselamatan pejalan kaki dan PKL yg berjejer di pinggir jalan dekat pabrik di daerah Leles. Kekhawatiran tsb tertulis dlm artikel Blog 15 Oktober silam dgn judul, "Kenapa Harus di Pinggir Jalan?". Cuplikan pengalaman dan pemikirannya sebagai berikut:

"Pagi tadi lewat depan pabrik besar di daerah Leles. Seperti biasa selalu macet di jam-jam tertentu. Nampak di pinggir jalan dekat pabrik tsb dipenuhi oleh PKL. Pejalan kaki hanya punya dua opsi, berjalan di belakang PKL yg sempit atau di bahu jalan bersama kendaraan. Memang belum ada kasus rem blong yg mengancam jiwa, tapi bukan berarti tdk mungkin terjadi. Entah berapa banyak asap kendaraan dan debu yg hinggap di makanan yg tersaji di gerobak-gerobak PKL tsb. Nampak kesehatan dan keselamatan jiwa dianggap bukan sesuatu yg penting".

Kita melihat warga bertaruh nyawa utk mencari nafkah, entah krn tdk ada tempat berjualan yg lebih aman, atau krn warga salah kaprah menerapkan "semakin dekat jalan semakin untung" krn mengabaikan keselamatan jiwa. Keyakinan akan pentingnya jalan ini terlihat dari banyaknya warga yg berjualan di pinggir jalan. Bahkan seminggu sekali ada beberapa jalan yg menjadi pasar tumpah, menurunkan kenyamanan pengendara, menimbulkan kemacetan. 

Sempat viral di Medsos, sopir Angkot di Garut yg kesal dgn pasar tumpah di jalanan kecil yg dilaluinya. Banyak netizen yg menyayangkan ekspresi kekesalan sopir tsb. Tetapi keluhan Sopir tsb juga dirasakan oleh banyak pengendara lainnya. Saya pribadi juga berpikir, kenapa tdk berjualan di tanah lapang saja, dan kenapa harus membahayakan diri dan menimbulkan ketidaknyamanan? 

Musibah yg menimpa penjual rujak juga krn faktor human error di sisi sopir Angkot. Banyak netizen mengeluhkan perilaku Angkot di Garut. Mobil saya juga pernah ditabrak Angkot beberapa tahun yg silam. Angkot tsb berhenti sejenak di tengah jalan perempatan utk mencari penumpang. Namun sopir tdk memperhatikan kalau kendaraan saya ada di depannya dan hendak belok, sehingga akhirnya benturan pun terjadi saat dia menjalankan mobilnya. 

Sopir sama sekali tdk meminta maaf. Sama seperti sopir Angkot yg menyerempet kendaraan saya tahun lalu. Sama juga dgn sopir ugal-ugalan yg angkot nya dinaiki oleh istri saya. Karena peduli dgn keselamatan dirinya, istri memutuskan turun walau naik angkotnya baru sesaat. Dgn kesal ia mengingatkan sopir utk tdk ugal-ugalan. Namun tdk ada permintaan maaf yg terucap. Sopirnya tdk faham soal pelayanan prima. Kalau tdk ada perubahan, jgn salahkan bila banyak orang yg beralih ke angkutan online. 

Sebaiknya pemerintah atau ORGANDA memberi pelatihan pelayanan prima kpd pengusaha atau sopir angkot, memperketat izin sopir dgn mengacu standar profesi. Demikian pula pemerintah sebaiknya memberi penyuluhan kpd PKL agar timbul kesadaran akan keselamatan diri dan pejalan kaki. Memang seharusnya PKL secara aturan tdk boleh berjualan di bahu jalan, tetapi membangun kesadaran ini jauh lebih penting dari pada penertiban yg nampaknya mustahil utk diwujudkan. 

#persepsicahyana #biograficahyana