Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Rabu, 25 Februari 2026

Refleksi Ramadhan: Mengingkari Syahwat


Melawan keinginan terhadap perkara mubah merupakan disiplin yg dijalani orang saleh utk menundukkan hawa nafsu. Kisah Malik bin Dinar dipenuhi oleh disiplin tsb. Beliau terkenal dgn disiplinnya dlm mengingkari kehendak syahwat. 

Beliau pernah menginginkan makanan tertentu, namun keinginan tsb dihindari sekuat tenaga. Setelah dorongannya mereda, beliau mencicipinya, namun malah timbul penyesalan, sehingga kemudian benar-benar meninggalkan keinginan tsb selamanya. Seperti seseorang yg berkomitmen menjadi vegetarian selamanya. 

Beliau juga pernah ditawari menikah dgn seorang gadis yg membutuhkan imam yg saleh. Namun beliau mengatakan telah bercerai dgn dunia, dan wanita adalah bagian dari dunia itu. Umumnya orang menghindari pernikahan krn patah hati, melawan syahwat dgn hawa nafsu. Namun, beliau mengingkari keinginan syahwat agar tdk muncul rasa penyesalan. 

Mengingkari syahwat itu memang menyenangkan. Pernah dulu saya merasa rindu utk bertemu seseorang. Namun orang tsb tdk ditemui hingga gejolak keinginan bertemunya mereda. Saat bertemu, hati lebih tenang dan terjaga. Saya bisa merindukan tanpa melihat wajahnya, tdk terikat raga, cukup sebatas jalinan hati. Cintanya beranjak dari jasadiah menjadi ruhiyah yg jauh dari gejolak syahwat.

Namun mengingkari syahwat juga menyiksa. Pernah dulu saya disiplin makan sehari sekali, sampai tubuh kering kerontang. Syahwat selalu membujuk utk makan, tetapi saya selalu mengingkari. Rengekannya begitu menyiksa, krn syahwat memang dorongan alamiah yg berfungsi menjaga kelangsungan hidup manusia. 

Tuhan menjadikan saya mempraktekkan itu semua bukan semata krn terpengaruh oleh pengetahuan, tetapi utk menaikan level keyakinan dari keyakinan berbasis pengetahuan menjadi keyakinan berbasis pengalaman, beranjak dari penglihatan konseptual ke penglihatan aplikatif. 

Mulia dan hina manusia tergantung pada kemampuan dalam membatasi keinginan syahwat dan menundukkan hawa nafsu. Kalangan awam cukup menghindari perkara haram, dan menghabiskan waktu dgn perkara mubah jauh lebih baik dari pada menghabiskan waktu tsb dgn perkara haram. Sementara para pejuang dari kalangan khusus, seperti Malik bin Dinar, sangat membatasi perkara mubah, dan bahkan terkesan memposisikan perkara mubah yg halal tsb sebagai perkara haram. 

Kalangan awam di maqam asbab akan tersiksa bila mengikuti cara kalangan khusus. Bahkan keinginan tsb masuk kategori syahwat halus menurut standar Ibn Athaillah. Demikian pula kalangan khusus di maqam tajrid, akan tersiksa bila mengikuti cara kalangan awam. Memenuhi kebutuhan yg mubah adalah hal biasa bagi kalamgan awam, tetapi bisa menjadi penuh penyesalan bagi kalangan khusus. Keinginan tsb merupakan penurunan semangat bagi kalangan khusus. 

Namun Tuhan memberi pengalaman disiplin kalangan khusus kpd kalangan awam dgn Puasa wajib. Sifat wajib tsb menujukan Puasa ini merupakan latihan bagi orang yg mendekati Tuhan. Berbeda dgn latihan orang yg Mencintai, disiplinnya bukan krn kewajiban, tapi krn dorongan cinta. 

Di bulan Ramadhan ini, segala kehendak syahwat makan dan bersetubuh dicegah dari waktu subuh hingga maghrib. Bila pencegahan itu dijalani dgn ikhlas dan bahkan melahirkan kenikmatan ruhani, hal itulah sebagian kecil yg dirasakan oleh kalangan khusus dari disiplin hariannya. Bagi kalangan awam, cukup sebulan dalam setahun saja memasuki dan menikmati sebagian dunia kalangan khusus. Tuhan maha tahu, setiap hambanya hanya akan baik bila hidup di maqam yg sesuai. 

#persepsicahyana

0 comments :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya