Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Minggu, 22 Februari 2026

Sore itu di Pasar Tumpah


Sore itu saya berada di pasar tumpah yg biasanya ada setiap week-end. Namun di bulan Ramadhan ini, pasar tsb hadir setiap sore. Seperti biasa lapak pedagang berjejer di sepanjang jalan. Kendaraan melaju lambat krn setengah bagian jalan digunakan oleh warga yg sedang membeli atau mencari makanan yg disukainya. 

Saya berdiri di samping gerobak penjual makanan. Nampak seorang pemuda mendatangi penjual dan memberikan botol air mineral, seraya berkata, "nanti saja ya." Kemudian satu botol lagi dia berikan ke pedagang lain di sampingnya. Pastinya air dalam botol kemasan itu tdk akan diminum oleh para pedagang saat berjualan krn sedang berpuasa. 

Kejadian tsb mengingatkan saya pada pengalaman di masa lalu. Seorang bapak sopir angkutan umum merasa jengkel krn terus diberikan botol air mineral oleh pemuda di jalan yg dilaluinya. Dia menunjuk ke arah tumpukan botol yg masih utuh, sambil berkata, "Ini masih banyak!." Tapi itu hanya pikiran yg muncul sesaat krn kesamaan pola antara pengalaman baru dgn pengalaman lama. 

#biograficahyana

Minggu, 15 Februari 2026

Sambut Ramadhan dengan Mengunjungi Orang Tua

Beberapa waktu yg silam, seusai pembangunan rumah selesai, istri bermimpi melihat alm ibunya, mertua saya, berada di atas rumah dan memberi isyarat "love you". Hal tsb menggambarkan kerinduan anak kpd ibunya. 

Kemudian beliau menepuk pundak saya, namun memanggil saya dgn nama anak sulung, Uqi. Hal tsb menggambarkan kesan istri bahwa saya sdh dianggap anak sendiri oleh ibunya. Beliau berkata, sudah lama saya tdk berkunjung. 

Sepulang berkunjung dari orang tua di Subang, istri mengajak semuanya berkunjung ke makam mertua. Alhamdulillah, hari ini semua orang tua telah dikunjungi. Semoga menjadi awal yg baik, menyambut tamu agung, Ramadhan.

 
#keluargacahyana

Rabu, 11 Februari 2026

Penelitian: Dari Tahu Banyak Menjadi Banyak Tidak Tahu

Di awal kuliah Doktoral, saya membayangkan prosesnya seperti upaya keras menaiki bukit domain penelitian. Di setiap tingkatannya, ada banyak artikel yang harus dikumpulkan, dibaca, dipilih sesuai rencana, dan disintesis sesuai tujuan, untuk kemudian diuji dengan keras. Lelahnya luar biasa. 

Namun begitu berada di atas puncak bukit, saya melihat setiap tingkatan itu seperti undakan sawah. Pengetahuan yang terungkap seupama objek apapun yang ada di setiap undakan tsb. Secara keseluruhan terlihat indah. Itu adalah perasaan yang muncul saat membaca hasil studi pustaka. Ada banyak orang yang sombong dengan kondisi seeprti itu karena merasa telah melihat lebih banyak jika dibandingkan dengan orang yang masih berada di bawah dan sedang merangkak naik ke atas. 

Bila saja tidak ada ujian kualifikasi, saya akan terlena dan merasa sudah tahu banyak hal. Ternyata itu baru awal perjalanan. Saya harus turun kembali, memilih satu undakan yang akan ditempati. Di undakan itu saya harus melihat sesuatu yang diperlukan untuk membuat undakannya menjadi lebih indah menurut orang yang melewatinya. 

Ada banyak area penelitian yang bisa dipilih. Sepupama memilih "tumbuhan", "hewan", atau "benda mati". Semuanya tersedia di undakan tersebut. Pemilihan tersebut tentunya disesuaikan dengan minat yang dipengaruhi oleh pengalaman penelitian dan pengabdian di masa lalu. Mentor berusaha mengarahkan saya ke arah yang benar. Setelah itu, barulah saya memilih objek spesifiknya apa. Pemilihan itu tdk sederhana, alasannya harus jelas. Ada banyak ahli yang berusaha melihatnya dan menguji kekokohannya. Saat itu saya sudah masuk ke usulan riset. 

Proses kreasinya menyenangkan, ada banyak kritik dan masukan dari para ahli yang mengklarifikasi dan menguatkan. Prosesnya tidak instan, melewati tiga fase. Seupama membangun gubuk, mulai dari bagian pondasi kerangka kerja, bagian pilar formulasi, lalu bagian atap aplikasi dunia nyata. Semuanya harus kokoh dan satu kesatuan. Bangunan itulah yang mengisi ruang kosong di undakan tersebut. Harapannya bukan hanya terlihat bagus, tetapi juga bermanfaat bagi pengguna spesifik, khususnya bagi setiap peneliti yang sedang menaiki bukit. 

Seusai itu, saya tersadar, ada banyak ruang masalah di undakan tersebut yang tidak tersentuh. Padahal di bukit domain itu ada banyak undakan yang bahkan tidak saya masuki. Ternyata kontribusi penelitian saya sangatlah kecil, dan apa yang tidak diketahui sangatlah banyak. Sementara, semua undakan dan objek di dalamnya adalah kontribusi dari banyak orang. Pengetahuan yang dimiliki ini seperti setitik air di tengah samudera yang luas. 

Kondisi tersebut berbeda dengan titik di mana saya berada di puncak bukit, tempat di mana ada banyak orang yang merasa sombong dengan pengalaman dan pengetahuannya terkait banyak undakan yang sudah dilewati. Saya pernah mendengar: Orang yang merasa benar sendiri itu belum sampai. Orang yang bijak itu seperti padi yang menunduk. Saya sekarang bisa memahaminya dengan lebih jelas lagi dengan perjalanan riset yang sudah dilalui. 


Minggu, 01 Februari 2026

Fokus Manusia: Hasil, Proses, Tuhan

Surga dan neraka itu utk kalangan awam yg pamrih atau masih berada di level hewan yg berpikir (animal rationale). Mereka hanya bisa diluruskan dgn pendekatan hadiah dan hukuman, seupama hewan sirkus yg mau berproses bila diberi makanan atau diancam dgn cambukan. 

Kalangan khusus tdk perlu melihat hasil, surga dan neraka. Mereka fokus pada proses menjadi orang baik yg bermanfaat dan percaya proses tdk akan menghianati hasil, sebutir kebaikan akan dibalas kebaikan, dan setiap orang akan sampai pada apa yg diniatkannya. Namun mereka masih gelisah, dibayangi oleh takut dan harap saat mengalami kelemahan dan hambatan dlm prosesnya.  

Kalangan khusus dari yg khusus tdk lagi memiliki takut dan harap krn berfokus pada Tuhan, bukan pada proses, apalagi pada hasil. Mereka tdk terganggu dgn kelemahan atau hambatan apapun krn tahu kalau Tuhannya tdk membebani di luar kesanggupan. Mereka menjalani semua hal yg Tuhan berikan tanpa mengeluh krn penghormatan dan cinta, berusaha menjadi hamba Tuhan Yg Maha Pengasih. 

#persepsicahyana