Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Senin, 26 Januari 2009

Pemetaan Produk Informasi

Informasi kini menjadi aset yang sangat berharga bagi organisasi (Huang, Lee, & Wang, 1999), di mana pengambilan keputusan dan operasi efektif sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan informasi (Price & Shanks, 2005). Bahkan kualitas data dan informasi menentukan kepuasan customer dan keuntungan perusahaan. Misalnya dalam proses bisnis pencatatan kehadiran dan penggajian Dosen, kualitas data dan informasi merupakan jaminan kepuasan Dosen dan Biro Keuangan. Data dan informasi yang tidak berkualitas akan menyebabkan kerugian baik dari pihak Dosen ataupun Biro Keuangan.

Agar informasi dapat menjadi suatu aset atau produk yang baik, maka suatu organisasi harus mempunyai prinsip :
  • Memahami kebutuhan terhadap informasi
  • Mengelola informasi sebagai produk dari suatu proses produksi yang didefinisikan dengan baik.
  • Mengelola informasi sebagai produk dengan siklus hidup.
  • Menugaskan seorang manajer produk informasi untuk mengelola produk informasi.
Untuk menyajikan pembuatan produk informasi secara sistematis dan proses-proses yang terkait, maka digunakan Information Product – Maps atau biasa disingkat IP-Maps. Information production map (IP-Map) adalah model grafis yang dirancang sebagai alat bantu untuk memahami, mengevaluasi dan menggambarkan tentang produk informasi dirakit (Shankaranarayanan, Wang, & Ziad, 2000). Pembuatan IP-Map adalah mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
  • Memilih Produk Informasi yang akan dipetakan
  • Identifikasi kolektor data, pemelihara data, dan konsumen data.
  • Menggambarkan aliran data
  • Identifikasi peran-peran fungsional

REFERENSI
Elizabet M. Pierce (2007). Integrating IP-Map with Business Process Modeling, Idea Group.

Minggu, 18 Januari 2009

Catatanku tentang Israel

Aku melihat dalam perang ini Israel adalah:
  1. Negara yang dilindungi oleh Amerika Serikat, sehingga di saat semua anggota Dewan Keamanan PBB mengecam Israel, Amerika melindunginya.(http://www.tempo.co.id/hg/timteng/2009/01/09/brk,20090109-154482,id.html)

  2. Negara yang menyerang kepentingan Perserikatan Bangsa Bangsa (menyerang gudang bantuan kemanusiaan, sekolah, dan kendaraan PBB). (http://www.kompas.com/read/xml/2009/01/16/07252772/Gudang.PBB.Hancur.Dihantam.Bom.Fosfor.Israel)

  3. Negara yang membunuh orang hidup dari anak-anak hingga wanita tua, bahkan orang yang sudah mati pun (makamnya) dibom oleh Israel. http://www.eramuslim.com/berita/palestina/bom-israel-mengintai-anak-anak-gaza.htm

  4. Negara yang ditentang Amerika karena memiliki senjata kimia (bom fosfor) dan menggunakannya dalam pertempuran di Palestina, tetapi Amerika tidak menentangnya atau bahkan menyerangnya sebagaimana terhadap Irak. http://www.inilah.com/berita/politik/2009/01/14/75889/inilah-bukti-israel-pakai-fosfor-putih/

  5. Negara yang menyerang kemanusiaan dengan memblokade bantuan kemanusiaan, bahkan menyerang (seperti rumah sakit dan ambulan), dan tak segan-segan membunuh petugas kemanusiaan. http://www.antara.co.id/arc/2009/1/15/israel-usir-kapal-siprus-pembawa-bantuan-kemanusiaan/

Kesimpulannya:
  • ISRAEL MUSUH BANGSA PALESTINA BAIK YANG HIDUP MAUPUN YANG MATI

  • ISRAEL MUSUH AMERIKA

  • ISRAEL MUSUH BANGSA-BANGSA DI DUNIA

  • ISRAEL MUSUH KEMANUSIAAN
Tapi tentara Israel hanya menjalankan kewajiban agama mereka:
Yosua 6:21 “Mereka menumpas dengan mata pedang segala sesuatu yang di dalam kota itu, baik laki-laki maupun PEREMPUAN, baik TUA maupun MUDA, sampai kepada LEMBU, DOMBA, dan KELEDAI”

Ulangan 20:16 “Tetapi dari kota-kota bangsa-bangsa itu yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu, JANGANLAH KAU BIARKAN HIDUP APAPUN YANG BERNAFAS”

Samuel 15:3 “Jadi pergilah sekarang, kalahkanlah orang Amalek, tumpaslah segala yang ada padanya, dan janganlah ada belas kasihan padanya. Bunuhlah semuanya, laki-laki maupun PEREMPUAN, KANAK-KANAK MAUPUN ANAK-ANAK YANG MENYUSU, LEMBU maupun DOMBA, UNTA maupun KELEDAI”

Penjahat perang yang berbangga dengan darah ribuan mayat palestina di tangannya.

Wajar jika Cyber Mujahidin melakukan serangannya ke situs internet!

Jumat, 09 Januari 2009

Memperbaharui Enterprise Architecture dengan Pemeliharan, Pengawasan, dan Pengaturan


Diterjemahkan dari Enterprise Architecture and New Generation of Information System, Dimitris N. Chorafas. ST Lucie Press. 2002.

1. Pemeliharaan

Pemeliharaan EA harus dipenuhi dalam struktur pelaksanaan peraturan dan mekanisme kendali konfiguasi perusahaan. Pemeliharaan EA adalah tangung jawab Chief Information Officer (CIO), Chief Architec (CA), dan Enterprise Architecture Program Management Office (EAPMO). Tim inti arsitektur secara periodik menilai dan menyelaraskan EA dengan perubahan praktik bisnis dan menerapkan teknologi. EA harus tetap diselaraskan dengan proyek modernisasi organisasi dan begitupula sebaliknya.

1.1. Memelihara EA Dalam Rangka Meningkatkan Perusahaan

Jika EA tidak sesuai dengan kondisi terkini, maka ia akan segera menjadi sesuatu yang tidak berguna, padahal ia dibuat untuk meningkatkan perusahaan dari kondisi terkini. Jika kondisinya seperti itu perusahaan akan terbatasi kemampuannya dalam mencapai tujuan dan misinya. EA mengharuskan organisasi spesifik dan struktur proses yang menjamin muatan EA terkini berlaku sepanjang waktu. EA harus merefleksikan pengaruh dari perubahan berkelanjutan dalam fungsi bisnis dan teknologi pada perusahaan, dan dalam peralihan, mendukung perencanaan modal dan manajemen investasi dalam rangka memelihara dari perubahan tersebut. Konsekuensinya, setiap komponen dari EA – baseline architecture, target architecture, sequencing plan, dan semua produk yang membuatnya – harus dipeliharan, tetap akurat, dan terkini.

1.1.1. Menilai ulang EA Secara Periodik

Secara berkelanjutan, khususnya dalam hubunganya dengan CPIC, EA harus ditinjau ulang dan dipastikan:
  • Baseline architecture secara akurat harus dapat merefleksikan status infrastruktur TI terkini .
  • Target architecture secara akurat harus dapat merefleksikan visi bisnis perusahaan dan teknologi yang sesuai.
  • Sequencing Plan merefleksikan prioritas perusahaan yang berlaku dan sumber daya yang secara nyata tersedia.
    Penilaian harus menghasilkan pembaharuan terhadap EA dan perubahan sesuai dengan
proyek terkait. Baseline harus terus merefleksikan aksi yang diambil untuk menerapkan sequencing plan dan aksi sebaliknya yang dilakukan untuk memperbaharui lingkungan yang ada sebagai bentuk modernisasi organisasi. Penilaian EA dan pembaharuannya harus dikelola dan dijadwalkan.

1.1.2. Mengelola Produk untuk Merefleksikan Realitas

Agensi adalah entitas bisnis yang harus memperhatikan pendorong bisnis (termasuk aturan baru dan arahan eksekutif), memunculkan teknologi, dan kesempatan untuk perbaikan. EA merefleksikan perubahan dari Agensi, dan harus senantiasa merefleksikan kondisi terkini (baseline architecture), kondisi yang diharapkan (target architecture), serta strategi jangka panjang dan pendek untuk mengelola perubahan (sequencing plan).
Berikut ini adalah point penting dalam pemeliharaan EA:
  1. Pastikan selalu arah bisnis dan proses harus merefleksikan operasi.
  2. Pastikan agar arsitektur terkini merefleksikan perubahan sistem
  3. Evaluasi kebutuhan pemeliharan sistem pada sequencing plan
  4. Pemeliharaan sequencing plan sebagai perencanaan program yang terintegrasi
  5. Lanjutkan untuk mempertimbangkan proposal untuk modifikasi EA
Proposal tesebut harus dipresentasikan dan ditinjau oleh Technical Resource Connection (TRC) (untuk peninjauan dilakukan oleh tim arsitekural dan Subject Matter Experts (SME)) dan diluluskan ke Enterprise Architecture Executive Steering Committee (EAESC) melalui rekomendasi. Apabila EAESC tidak mencapai konsensus, kelompok kerja akan ditugaskan untuk melakukan investigasi dan mengajukan rekomendasi tindakan.

2. Pengawasan Dan Pengaturan Program EA Secara Berkelanjutan

Tujuan dari pengawasan dan pengaturan EA adalah untuk memastikan bahwa praktik pengembangan EA, penerapan, dan diikutinya praktik pemeliharaannya yang didefinisikan dalam panduan praktis dan panduan EA terkait yang dirujuk oleh panduan ini (misalnya framework EA), dan untuk membantu pada situasi apapun dan bagaimanapun. Pengawasan dan pengaturan dilaksanakan secara berkelanjutan, fungsi terus menerus dilakukan melalui proses daur hidup EA. 

Pengawasan dan pengaturan adalah kunci yang menjamin kesuksesan program EA. Melaluinya, informasi dikumpulkan bagi para pengambil keputusan akuntabel untuk mengetahui apakah EA yang efektif telah dikembangkan, diterapkan, dan aktivitas pemeliharaan sudah dilaksanakan dan tujuan program EA telah dicapai sesuai dengan jadwal dan anggaran. EAESC, CIO, dan CA harus teliti dalam memastikan dan memvalidasi bahwa proses EA dan standar produk telah didefinisikan, dan referensi dalam panduan ini sedang dikerjakan. 

2.1. Memastikan Pengawasan Manajemen Program EA Berfungsi 

Pengawasan diterapkan untuk menjaga agar program senantiasa berada dalam relnya. Dengan melakukannya, EAESC, CIO, dan CA akan mendapatkan laporan (berupa perkataan atau tulisan, rutin dan ad hoc, formal dan informal) dan melakukan peninjauan untuk melihat apa yang terjadi dalam program dan apa yang diharapkan. Adalah tanggung jawab dari entias yang akuntabel untuk mendefinisikan kebutuhan informasi mereka, kapan seringnya dan bagaimana mereka memerlukannya, dalam bentuk dan muatan apa informanya, apakah harus divalidasi dulu atau tidak, dan lain sebagainya. Melalui informasi, EAESC, CIO, dan CA dapat memposisikan dirinya apakah pengawasan dan pengaturan telah sudah berada di tempatnya dan berfungsi dengan baik atau belum? 

2.2. Mengidentifikasi Program EA Yang Diharapkan Yang Tidak Ditemukan 

Melalui laporan dan tinjuan aktivitas, EAESC, CIO, dan CA akan dapat mengidentifikasi program EA yang diharapkan yang tidak dtemukan. Sebagai contoh, jika manajemen resiko telah efektif diterapkan, maka daftar resiko program secara regular dibuat, strategi mitigasi resiko didefinisikan, laporan dibuat dalam menerapkan strateg tersebut, dan apakah perkembangan yang sedang terjadi berhasil menunjukan item resiko. Juga audit konfigurasi secara periodik harus dilaksanakan untuk memastikan item konfigurasi EA telah didefinisikan, diawasi, dan dilaporkan. EAESC, CIO, dan CA dapat juga mempercayakan peninjauan independen kepada fungsi jaminan kualitas atau agen verivikasi dan validasi untuk memberi penjelasan deviasi dari ekspektasi. 

Deviasi tersebut mungkin terkait dengan rencana pengelolaan program, seperti penghilangan tugas pekerjaan, delay dalam menyelesaikan tugas pekerjaan, atau biaya tambahan untuk menyelesaikan tugas pekerjaan; atau mungkin terkait dengan funsi pengelolaan, seperti tidak mengikuti prosedur kendali perubahan, tidak bertahan pada framework EA yang dipilih, atau tidak melibatkan SME dan pemilik domain dalam area bisnis dan teknis.

2.3. Mengambil Tindakan Yang Tepat Bagi Deviasi 

Manajemen harus segera mengambil dan menentukan tindakan untuk memperbaiki masalah berdasarkan prioritas. Contoh tindakan misalnya memasukan sumber daya tambahan (orang, alat, uang), membuat rencana tidak terduga, dan mendefinisikan tujuan dan lingkup EA, memperkenalkan mekanisme kontrol eksis yang hilang atau menguat dan peningkatan kesalahan.
Setiap perubahan rencana, proyek, dan / atau muatan arsitektur untuk menentukan deviasi harus dijustifiasi dalam basis biaya, keuntungan dan resiko. Dokumen perubahan harus menandai masalah, solusi, serta alternatif yang diambil dan yang ditolak karena pertimbangan prioritas.

2.4 Memastikan Peningkatan Yang Berkelanjutan

Kunci factor sukses bagi Enterprise Architecting:
  • Proses EA harus sebagai kunci elemen pendukung dar operasi agensi, dan harus membantu fungsi operasi dalam performa misinya yang difokuskan kepada pelanggan.
    Keberhasilan Enterprise Architecting tidak hanya bergantung kepada fungsi organisasi TI, tetapi juga kepada partisipasi perusahaan yang total.
  • Enterprise Architecting yang efektif memerlukan jaringan social, yakni komunikasi internal dan eksternal dan berbagi pelajaran yang dipelajari.

Minggu, 04 Januari 2009

Enterprise Architecture dan peningkatan performa TI

Definisi Enterprise Architecture (EA)

Definisi EA menurut MIT Center for Information Systems Research: “Enterprise Architecture is the organizing logic for business processes and IT infrastructure reflecting the integration and standardization requirements of the firm’s operating model”.[MIT. 2007]

Sementara menurut Federal CIO Council [CIO, 2001]:

A strategic information asset base, which defines the mission, the information necessary to perform the mission and the technologies necessary to perform the mission, and the transitional processes for implementing new technologies in response to the changing mission needs. An enterprise architecture includes a baseline architecture, target architecture, and a sequencing plan.

Menurut John Zachman: “The set of primitive, descriptive artifacts that constitute the knowledge infrastructure of the enterprise.” [CIO, 2001]

Seringkali praktek bisnis EA muncul untuk membuat struktur system eksplisit dalam abstrak deskripsi arsitektur. Para praktsi menyebutnya sebagai “enterprise architects." Dalam praktik “enterprise architects.", dihasilkan dokumen dan model yang keduanya kemudian disebut artifak. Artifak menjelaskan organisasi logika dari strategi bisnis, metric, kemampuan bisnis, proses bisnis, sumber data informasi, sistem bisnis, infrastruktur jaringan dalam perusahaan.

EA menggunakan berbagai metode bisnis dan alat untuk memahami dan mendokumentasikan stuktu perusahaan. Framework EA adalah koleksi peralatan, model proses, dan panduan yang digunakan oleh arsitek dalam membuat deskripsi arsitektural organisasi secara spesifik.

Kebanyakan framework EA diturunkan dalam praktik pengembangan artifak ke dalam empat area praktik. Ini memungkinkan perusahaan untuk menjelaskan dari empat sudut pandang yang penting. Dengan pendekatan ini, arsitek perusahaan dapat meyakinkan business stakeholder mereka bahwa mereka memiliki ketersediaan informasi yang cukup untuk membuat kebijakan efektif.


Keuntungan dan Kegunaan

EA dapat [CIO, 2007]:
  • Menangkap fakta tentang misi, fungsi, dan landasan bisnis dalam bentuk yang difahami untuk mendukung perencanaan dan pengambilan keputusan yang baik.
  • Memperbaiki komunikasi di antara organisasi TI dan bisnis dalam perusahaan menggunakan kosa kata standar.
  • Memberikan pandangan arsitektural yang membantu mengkomunikasikan kompleksitas sistem besar dan memfasiltasi manjemen luas dengan lingkungan kompleks.
  • Fokus pada penggunaan strategi dari tekologi yang muncul untuk pengelolaan informasi perusahaan yang baik dan konsistesi dalam penerapan teknologi tersebut di perusahaan.
    Meningkatkan konsistesi, akurasi, tepat waktu, integritas, kualitas, ketersedian, akses, dan berbagi informasi pengelolaan TI di perusahaan.
  • Mendukung proses CPIC dengan menyediakan alat untuk mengukur keuntungan, akibat, dan ukuran investasi dana dan mendukung analisa altenatif, resiko dan tradeoff.
    Menggarisbawahi peluang untuk membangun kualitas yang lebih baik dan fleksibilitas dalam aplikasi tanpa peningkatan biaya.
  • Mencapai skala ekonomi dengan menyediakan mekanisme berbagi layanan di seluruh bagian perusahaan.
  • Mempercepat integrasi sistem yang eksis, migrasi, dan yang baru.
  • Memastikan pemenuhan hukum dan regulasi.
Kegunaan primer dari EA adalah menginformasikan, memandu, dan membatasi keputusan bagi perusahaan, khususnya yang terkat dengan investasi TI. EA merupakan jalan untuk meningkatkan efisiensi Teknologi informasi (TI) pada saat inovasi bisnis dikembangkan. Organisasi dapat menggunakan EA framework untuk mengelola system yang kompleks dan menyelaraskan bisnis dengan TI. [Kourdi, 2007], sekaligus mengungkap inovasi dalam struktur organisasi, proses bisnis terpusat atau federasi, kualitas dan ketepatan waktu informasi bisnis, atau memastikan uang yang dibelanjakan untuk teknologi informasi (TI) dapat dipertanggungjawabkan [Wikipedia, 2009].
Alasan penggunaan EA secara umum dan esensial [CIO, 2007] antara lain sebagai berikut:
  • Penyelarasan. Memastikan kenyataan perusahaan yang diimplementasikan selaras dengan maksud manajemen.
  • Integrasi. Mengungkapkan konsistensi penerapan aturan dalam perusahaan, bahwa data dan penggunaannya adalah untuk selamanya, antarmuka dan aliran informasi terstadarisasikan, koneksi dan interoperabilitas dalam perusahaan terkelola.
  • Perubahan. Memfasilitasi dan mengelola perubahan pada aspek apapun di perusahaan.
  • Time-to-market. Mengurangi pengembangan sistem, pembangkitan aplikasi, modernisasi timeframe, dan kebutuhan sumber daya.
  • Konvergensi. Mengarahkan agar portofolio produk standar TI terkandung dalam Technical Reference Model (TRM)
Bagaimana EA Meningkatkan Performa TI
dalam presentasinya si Spanyol Profesor Peter Weill memberi gambaran tentang bagaimana peranan EA dalam meningkatkan performa [WEILL, 2007] sebagai berikut :

Apa yang penting bagi perusahaan ? Operating model, yakni level dari integrasi dan standarisasi proses bisnis yang diinginkan untuk mengirimkan barang dan jasa kepada pelanggan.

Bagaimana mencapainya?
  • EA, yakni organisasi logika untuk kunci proses bisnis dan kemampuan TI yang merefleksikan integrasi dan standarisasi kebutuhan model operasi perusahan.
  • IT Governance, yakni keputusan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan untuk penggunaan TI yang efektif
Modal pencapaiannya? Foundation for execution, yakni infrasrukur TI dan otomatisasi proses bisnis digital dari kemampuan inti perusahaan.

Hasil yang dicapai? Lebih tangkas, keuntungan tinggi, resiko TI yang rendah, manajer senior lebih terpenuhi kebutuhannya.
DAFTAR PUSTAKA
  • Federal Chief Information Officer Council (FCIOC). A Practical Guide to Federal Enterprise Architecture. Februari 2007.
  • MIT Center for Information Systems Research, Peter Weill, Director, as presented at the Sixth e-Business Conference, Barcelona Spain, 27 March 2007
  • Shah, H. Kourdi, M.E. Framework for Enterprise Archiecture. IEEE Xplore, sept 2007.
    Prof. Peter Weill, J. Ross, D. Robertson. Enterprise Architcture as Strategy: Creating Foundation for Business Execution. Harvard Business School Press, 2006.
  • Wikipedia. Enterprise Architecture. Diakses tanggal 4 Januari 2009.

Rabu, 31 Desember 2008

Cyber Environtment


Di UPT SI STT-Garut, aku dikepung jiwa-jiwa digital

Lingkungan kerja itu terkadang mempengaruhi prikologi kita. Dalam salah satu referensi disebutkan bahwa terkadang orang teknik terkena dampak karena kesehariaannya bergaul dengan perangkat teknik. Salah satu pengaruh itu misalnya ia bergaul dengan manusia sebagaimana ia bergaul dengan perangkat kerja di di kantor. Oleh karenanya sangat perlu bagi orang teknik, khususnya orang yang bergaul di lingkungan kerja yang serba perangkat untuk menambah kesempatannya untuk dapat membangun interaksi dengan sesamanya.

Apabila tempat duduk kita dikelilingi komputer, maka satu-satunya cara untuk melepaskan diri dari kepungan perangkat cyber itu adalah masuk ke dalam cyber, menemui orang melalui dunia cyber. Itu masih bagus dibandingkan harus terus-menerus bercengkrama dengan komputer melalui pesan dialog dan tombol-tombol navigasi. Yang paling bagus, menyeimbangkan ritme pergaulan kita, antara kita dengan manusia dan dengan perangkat kerja. Dan yang terpenting adalah mengeluarkan keringat, yang pastinya hanya sedikit bisa kita keluarkan jika hanya mengandalkan komputer. Kita harus keluar dari kantor sesekali, berjalan-jalan, atau mungkin sedikit berlari kecil, membiasakan naik turun gedung dengan tangga, dan aktivitas lainnya yang dapat membakar energi.

Minggu, 28 Desember 2008

Vertigo


Ujian dalam ibadah menuntut ilmu selain lelah yang menghambat konsentrasi belajar, terakhir datang juga vertigo yang membuat tubuh ini tidak bisa beranjak selama satu minggu karena pandangan mata tidak fokus (puyeng). Mungkin gara-gara ngajak ngebut kuda tungganganku sampe 100 km pulang pergi Garut Bandung buat ngejar solat di al-Musaddadiyah pada hari Jum'at itu. Atau mungkin terpicu oleh naiknya adrenalin sewaktu manufer di depan bus dan truk besar bersama orang yang ngemudiin kawasaki ninja ke arah Bandung itu ya? Ya, ceritanya aku mau nyusul mobil truk di belakang pengendara motor satria, di depan kawasaki ninja maksa mau nyusul bus yang sedang datang ke arahku. Untung Alloh memberi pertolongan dan secara reflek tubuh ini bergerak mengarahkan tungganganku ke depan mobil truk. Kalau tabrakan, wah ceritanya rame dan mungkin tia da nyawa lagi. Masalahnya semuanya yang terlibat, motor atau mobil pada ngebut. Waktu itu sih tiak ada perasaan apa-apa, mungkin sedang dalam kondisi extrem mud ya .. ha4x .

Mungkin karena tidak ada ujian dari kejadian itu, datanglah vertigo yang menyebabkan apa yang dilihat berputar-putar. Setiap kali tidur terlentang pasti muter ... pengen muntah. Sampai bangkit jugab tidak bisa. Vertigo sendiri saya dengar dari teman kerja saya. Setelah googling dan membaca artikel tentang vetigo, panik juga ... akhirnya senin pagi itu diputuskan konsultasi ke spesialis syaraf. Dr Natsir mengiyakan. Selama hampir seminggu saya tidak bisa mengerjakan tugas UAS. Untung ada teh Ismi yang baik hati mau share ... trims ya.

Belum sembuh dari vertigo malam jum'at itu jam 12 malam perut ini rasanya sakit sekali. Saking tidak bisa nahan sakitnya dari mulut keluar erangan kesakitan. Benar2 jeritan malam jum'at, hi4x. Istri ynag panik segera memanggil dokter (thanks ya say) dan untung doternya mau datang.

Rabb berusaha membuat saya takut dengan kematian. Karena insiden kawasaki ninja tidak memuat saya takut, didatangkanlah vertigo yang mulai terasa sangat menakutkan. Saat didera pening luar biasa itu saya sempat membayankan mungkinkan ini sakaratul maut? Tapi sayangnya tubuh ini masih bisa bertahan dan ketakutan sirna begitu rasa pening berputar-putarnya lenyap. Akhirnya, datang ujian yang benar2 membuat saya menyerah kepada Rabb, keram usus. Malam itu saya menyerah dan mengerang kesakitan dan panik. Sampai di saat itu saya berfikir akan mati dan mencoba mengajak diri untuk menyampaikan wasiat kepada istri yang saat itu tengah panik. Istri sendiri melihat saya panik dan ingat alm ayahnya yang meninggal karena sakit di malam hari.

Wahai Rabb, aku tahu sekarang bahwa kembaliku kepada-Mu bukan oleh tangan-Mu, tapi oleh tanganku. Maafkan aku yang telah menyerah kepada takdir-Mu namun mencercanya pula. Kini aku sadar kebanggaan Mu atas manusia adalah karena manusia telah berusaha ... Maafkan hamba-Mu yang lemah.

Rabu, 03 Desember 2008

Generasi Muslim al-Muhajirin




Generasi Muslim al-Muhajirin (GMA) merupakan organisasi masyarakat yang dibangun oleh para pemuda di lingkungan tempat tinggal saya sewaktu di Subang. Organisasi berbasis keagamaan ini diprakarsai berdirinya oleh Yudho Hertono Rifangi yang kemudian menjadi ketua umumnya yang pertama. Saya termasuk angkatan ke-3 dan bergabung sewaktu duduk di kelas 3 SMP pada masa-masa kejenuhan saya dengan lingkungan kepanduan yang saat itu didominasi oleh isme senioritas.

GMA merupakan awal perjalanan saya dalam kegiatan organisasi masjid. Langkah kaki pertama dimulai sewaktu saya berdialog dengan mas Yudho di masjid al-Muhajirin tentang kepemimpinan islami dalam perspektif beliau. Namun yang membuat saya terlempar masuk ke dalam organisasi ini adalah sebuah buku yang dipinjam dari mas Yudho karangan Imam al-Ghazali yang berjudul Minhajul Abidien. Buku ini menawarkan dunia lain yang lebih terang dibandingkan kegelapan suasana jenuh kegiatan kepanduan di SMP.

Hal unik yang ditemukan pada organisasi ini adalah kemampuannya dalam menerapkan kultur islami melalui dialog dari hati ke hati. Sebagian besar pengurus akhwat yang awalnya kebanyakan tidak berjilbab, lambat laun kemudian dapat berjilbab karena keberhasilan dialog. Namun hal terpenting yang membuat organisasi ini berhasil adalah kratifitas para personilnya. Banyak kegiatan berorientasi dakwah yang kreatif dan di kalangan aktifiis masjid Subang saat itu dianggap baru. Seperi misalnya yang dianggap berhasil adalah kegiatan dakwah dengan teater yang digerakan oleh aktivis seni yang kebetulan bergabung di GMA, pesantren alam sebagai formulasi antara implementasi pramuka yang dilakukan oleh aktivis pramuka yang kebetulan menjadi pengrus GMA dengan kegiatan dakwah, dan tadabur alam yang merupakan kegiatan silaturahmi di alam terbuka.

Kreatifitas tersebut menjadi daya tarik yang kuat dan opportunity bagi GMA, bahkan menyebabkan GMA pada suatu masa menjadi referensi kegiatan masjid di Subang. Beberapa sekolah setingkat SMP dan SMA seringkali bekerja sama menyelenggarakan kegiatan teater dan pesantren ramadhan.

Satu hal yang saya anggap fenomenal adalah saat GMA menyelenggarakan pesantren ramadhan di Masjid Agung Subang. Malam itu, gabungan antara tradisi jurit malam pramuka, teater, dan dakwah dihadirkan di lorong menara masjid. Peserta pesantren berjalan dari titik tengah menara ke lantai dasar, dan lorong menara masjid pada malam itu bersuara, dipenuhi energi muhasabah.

Perkembangan oganisasi GMA juga baik. Pengembangan GMA menjadi sistem lembaga membuat GMA lebih berkembang karena bidang-bidang tertentu digarap secara khusus oleh lembaga. Hasilnya, sejumlah kegiatan yang menguntungkan kepentingan rekrutment dan dakwah organisasi hadir dengan rating market luar biasa. Bahkan beberapa diantaranya menjadi bidang bisnis yang menguntungkan, seperti tour & travel. Semua lembaga dikelola kualitas informasi dan proses bisnisnya oleh lembaga yang saya pimpin, yakni Badan Pelaksana Harian.

Khusus untuk penjaminan kualitas dan kelengkapan organisasi, digunakan sebuah framework. Sejujurnya framework tersebut merupakan sebuah gambar yang tidak sengaja tapi kemudian dapat diterjemahkan menjadi kelengkapan dan aturan organisasi. Melalui framework tersebut tergambar relasi antar unsur organisasi, aturan relasi, media koordinasi yang terkategori, dan lain sebagainya. Berbagai aturan pelengkap diadopsi dari sistem pemerintahan Islam, seperti Pakistan misalnya. Sementara sistem administrasi BPH dibangun mengikuti sistem adminsitrasi Indonesia.



Sketsa Logo BPH


Saat pesantren alam rutin digelar, kelompok pengamanan yang disebut Satuan Jihad dibentuk untuk mengamankan. Penggunaan istilah Jihad dan slogan Takbir di GMA sebenarnya tidak untuk membangkitkan semangat militan para anggotanya tetapi untuk menguatkan semangat dalam menyukseskan kegiatan dakwah semata. Terminologi perang yang selalu dikaitkan dengan istilah Jihad sangat jauh dalam pembicaraan di antara anggota ataupun pengurus. Walau demikian, saya merasa yakin dengan seringnya GMA menyelenggarakan kegiatan masa pada malam hari saat itu, dan sering dikumandangkannya Takbir dan salam Jihad, GMA pernah menjadi daftar pengawasan dari pihak Kepolisian.


Sketsa Logo Laskar

Masalah muncul di GMA begitu sejumlah anggota GMA mulai mencapai pemahaman yang mendalam seputar fiqh dan bahkan cenderung fanatik. Sementara GMA tetap bertahan pada status quo untuk tidak menerapkan sistem fanatis dalam aturan dan kultur organisasi. BPH melalui laporan pertanggung jawabannya telah menyarankan agar dibentuk dua wilayah yang dikelola oleh lembaga Pendidikan dan Dakwah, di mana wilayah pertama untuk anggota yang fanatik dengan kegiatan khusus, dan wilayah kedua untuk anggota yang masih berjalan menuju pemahaman dengan kegiatan umumnya untuk menangani masalah tersebut. Tapi karena gejolak begitu besar dan mulai ada perbedaan pendapat, semangat, dan cara berfikir sejumlah anggota dengan kepemimpinan organisasi, maka friksipun tidak dapat dihindarkan. Friksi ini berakhir dengan dibentuknya kepengurusan baru dengan pimpinan yang baru dengan harapan semoga saja sejumlah anggota yang tidak sefaham dengan kepemimpinan sebelumnya menjadi tenang.

Namun peralihan kepemimpinan dan perginya sebagian besar anggota untuk keperluan studi dan bekerja membuat GMA kehilangan api. Barangkali yang bertahan hingga kini adalah organisasi Ikatan Pelajar Muslim (IPM) yang kelahirannya dibidani oleh Lembaga Pendidikan dan Dakwah. Masjid al-Muhajirin sudah lama tidak diramaikan oleh aktivitas GMA lagi. Bahkan kegiatan IPM atau GMA mulai diselenggarakan ditempat lain, seperti masjid al-Amien dan lain sebagainya. Sangat disayangkan masjid besar dengan menara yang tinggi itu kini sepi kegiatan besar yang biasa diselenggarakan oleh para pemuda. Mudah-mudahan, masjid ini kembali ramai seperti semua.


Bersama istri di Masjid al-Muhajirin Subang