Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Kamis, 15 September 2016

Romantika Candori 2016 Yogyakarta


Pada bulan September 2016 saya ditanya oleh teh Hani - teman Relawan TIK dari Bogor, apakah sudah dikonfirmasi kehadirannya melalui telepon oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk menghadiri Festival TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Candori 2016? Saya bilang sempat ada telepon dari jakarta tetapi tidak ada suaranya, mungkin karena handphone nya saat itu sedang terhubung ke internet. 

Beberapa waktu kemudian konfirmasi yang dimaksud muncul melalu email. Karena kegiatan Relawan TIK Indonesia selama ini menjadi bagian dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian, maka saya menyanggupi untuk hadir. Sebagai penghuni pulau Jawa saya diarahkan untuk menempuh jalur darat dengan kereta api atau lainnya. Syukurlah uang sertifikasi dosen cair tepat waktu sehingga saya bisa segera membeli tiket kereta api. Simpang siur jadwal acara membuat saya mengambil tiket pulang pada hari Senin, sehingga saya akan cukup lama di Yogyakarta karena diminta untuk datang oleh Kementrian pada hari Kamis.

Pagi hari tanggal 14 September 2016, saya mencetak x-Banner Relawan TIK Garut yang saya buat dengan Microsoft Power Point tengah malam tadi. Tidak ada uang kas Relawan TIK Garut, uang pribadi pun jadi. Biar nanti kwitansinya saya kasihkan ke Bendahara agar minus saldo kasnya bertambah, xixixixi. Minus itu dicatat sebagai dana talangan dari saya yang nanti diganti oleh organisasi kapan-kapan kalau dapat uang. Entah sekarang minusnya sudah berapa rupiah, saya tidak berusaha untuk mengingatnnya. 

   
Selepas mengambil x-Banner dan mengisi bensin, mobil yang akan saya gunakan ke Statsiun Bandung mati mendadak. Agak panik karena waktu sudah menuju malam, dan kalau mobil ini tidak bisa dihidupkan kemungkinan tiket berangkat besok hangus. Syukurlah kakaknya istri datang membantu. Ternyata masalahnya pada sambungan ACCU. Orang yang bisa troubleshooting komputer tidak jamin bisa troubleshooting mobil, hahaha.

Sekitar pukul tiga pagi lebih saya berangkat menuju Statsiun Bandung. Pagi itu saya sarapan nasi di statsiun kereta api. Alhamdulillah keretanya datang tepat waktu. Gerbong Eksekutifnya lumayan nyaman walau jauh kalau dibandingkan kabin pesawat Garuda, hahaha. Kenyamanan itu sedikit terganggu saat hidung ini mulai menunjukan masalahnya. Beberapa bulan ini saya memang mengidap Alergi Kronis di mana dua lubang hidung ini menyempit kalau terkena debu atau kedinginan.  

Sayangnya kereta api Lodaya Pagi ini mengalami masalah di roda sehingga perjalanannya menjadi delay satu jam. Selain itu air di toiletnya tidak berfungsi. Tadinya mau sms petugasnya, tidak jadi karena lupa isi pulsa, hehehe. Beberapa jam sebelum tiba di Statsiun, saya sempat dihubungi bang Mihram - Relawan TIK Papua yang sama-sama turun di Statsiun Yogyakarta kalau ia pergi menuju lokasi inap duluan. Kasihan juga sih kalau nunggu lama, gara-gara delay. 


Akhirnya sore itu saya tiba di statsiun. Saya menghubungi kang Ipan - ketua Relawan TIK Tasikmalaya yang tiba bersama dengan kereta api Lodaya Pagi melalui Whatsapp dan mengatakan akan salat dulu di masjid. Dalam perjalanan menuju masjid saya melewati warung nasi Gudeg Jogja. Langsung saja rencana dibuat untuk kembali ke sana setelah salat. Tidak lupa saya memberi tahu kepada kang Ipan kalau lokasi pertemuannya di rumah makan tersebut.


Lepas salat saya menunaikan hajat mencicipi Gudeg Jogja. Beberapa saat kemudian saya menerima informasi kalau kang Ipan ternyata sudah berangkat ke lokasi inap. Akhirnya diputuskan untuk merubah jadwal kepulangan dulu menjadi Minggu, karena kebetulan sebelum turun dari kereta api saya mendapatkan informasi kalau jadwal kegiatan dari Jum'at sampai Sabtu. Agak lama antri di loket sambil menggendong tas yang berat. Tapi akhirnya tiket pulang berubah dengan membayar sekitar 80 ribu atau 20% dari harga tiketnya. Bang Mihram menghubungi kembali menanyakan di mana posisi saya. Saya sampaikan kalau saya masih di Statsiun Kereta Api untuk memperbaiki tiket pulang.

Di statsiun itu saya memilih ojeg untuk sampai ke lokasi inap. Pilihan keliru karena saya harus menahan beban tas yang berat dan mempertahankan kantung x-Banner dengan tangan kiri dari dorongan angin dari depan saat motornya melaju kencang. Dengan kelelahan akhirnya sampai di hotel tempat Relawan TIK menginap. Di depan pintu sudah menunggu wa Aboer, Relawan TIK dari Majalengka. Beliau yang didaulat sebagai koordinator pemondokan menyerahkan kunci kamarnya ke saya. Kebetulan saat dalam perjalanan kereta api sebelumnya, melalui Whatsapp beliau menawarkan diri untuk tidur sekamar. Selain dengan beliau, bang Semy - Relawan TIK Ambon juga mengonfirmasi melalui Whatsapp saat saya di kereta api siap satu kamar dengan kita berdua. 

Rasanya lelah sekali dan ingin tidur, tetapi malam itu saya sebagaimana teman-teman Relawan TIK lainnya harus berangkat menuju Graha Pustaka tempat penyelenggaraan Festival TIK. Di lokasi kita berbincang informal dengan teman-teman dari Direktorat Pemberdayaan Informatika seputar pemanfaatan TIK di desa. Ada kepala desa dan pegiat perempuan yang hadir dalam diskusi ringan malam itu. Beberapa saat kemudian datang ibu Septriana Tangkari, Direktur Pemberdayaan Informatika menyalami kami dan mengemukakan pendapat dan harapannya terhadap Relawan TIK indonesia. 



Beliau juga mengenalkan Relawan TIK Indonesia kepada staf ahli menteri bidang TIK yang menyarankan agar ke depannya Relawan TIK ini diberikan insentif seperti pendamping desa pada umumnya. Gagasan tersebut bukan hanya sekali saya dengar, tetapi pada bulan-bulan sebelumnya saya juga mendengar gagasan tersebut dari Asisten Deputi Menko Ekuin saat diskusi dalam forumnya kepala Dinas Usaha Kecil Menengah dan Koperasi provinsi Jawa Barat. Soal insentif ini saya berpegang pada literatur yang pernah saya baca pada tahun 2012 saat membuat konsep Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK untuk Direktorat Pemberdayaan Informatika, bahwa insentif itu terkadang dicari oleh mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap, dan terkadang juga mengganggu semangat relawan. Bagi pelajar, insentif yang dikejar itu berbentuk peningkatan kapasitas gratis, bukan uang. Bagi saya, untuk mewujudkan gagasan satu desa satu relawan TIK yang disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, diperlukan pengelolaan kegiatan kaderisasi dan pelayanan relawan TI yang serius. Jika pekerjaan serius ini dilakukan oleh relawan TIK pendamping desa, maka insentif tersebut merupakan hal yang masuk akal, sebagaimana masuk akalnya insentif bagi pendamping desa, walaupun umumnya relawan dapat bekerja tanpa insentif. Saya melihat penerapan insentif ini kondisional. 


Keesokan harinya saya bergegas memasang standing banner Relawan TIK Garut di lokasi. Ternyata di sana sudah berdiri sejumlah standing banner milik Relawan TIK Indonesia, pengurus wilayah, dan pengurus cabang. Juga ada standing banner milik saka Telematika yang dirintis oleh Relawan TIK Jawa Barat. Berbeda dari banner lainnya, yang saya buat ini menampilkan luaran kegiatan Relawan TIK di Garut yang dibagi ke dalam empat bagian sesuai komponen layanan pada framework tiga lapis infrastruktur pembangunan masyarakat informasi yang tertuang dalam artikel penelitian saya. Bagian tersebut meliputi kerja kolaborasi, kerja teknologi informasi, kerja literasi digital, dan kerja informasi. 



Lepas salat Jum'at, di hotel saya berbincang dengan teman-teman Relawan TIK dari Papua, Ambon, dan Lampung. Saya juga akhirnya bertemu dengan teman Relawan TIK yang mengira saya itu perempuan. Padahal namanya sudah diubah jadi Cahyana dan fotonya diganti jadi gambar Festival TIK Candori, tetap saja masih dianggap perempuan ... nasib, hahaha. Secara mendadak tiba-tiba kami berfikir untuk menggunakan sebagian waktu untuk menjelajahi Yogyakarya, karena tidak ada waktu yang disediakan oleh panitia untuk melakukan hal penting tersebut. Akhirnya kami patungan dan melaju ke Perambahan untuk kemudian berakhir di Malioboro. Mbak Nova - Relawan TIK Bojonegoro juga ikut jalan bersama kami. Ceritanya Malioboro ini makan siang yang tertunda bari Relawan TIK Garut, Papua, Lampung, dan Bojonegoro, karena pada saat berangkat kami melewatkan makan siang di Graha Pustaka. Perjalanan tersebut cukup menguras tenaga dan membuat kami semua kehausan. 

  


Malam harinya pak FED (Fajar Eri Dianto) - Ketua Relawan TIK Jawa Barat sekaligus ketua bidang literasi pusat mengumpulkan kami semua untuk mendiskusikan tentang calon ketua umum baru. Kang Gery dari Jawa Barat sudah ramai sebelumnya di grup Whatsapp Relawan TIK Indonesia untuk diangkat jadi calon ketua umum. Saya adalah satu-satunya di grup yang menyuarakan #FED2016 di saat banyak orang memasang tagar #Gery2016. Maklumlah, karena pak FED ini pernah mempengaruhi saya sehingga kata Pecinta dalam nama Kelompok Pecinta TIK saya ubah menjadi Penggerak. Saya juga melihat Relawan TIK Jawa Barat solid di bawah kepemimpinan beliau. Jadi, walau banyak orang bilang beliau terlalu senior untuk maju jadi calon ketua umum, saya melihat dalam kondisi ini beliaulah yang tepat menjadi ketua umum.  

Tentang bursa calon ketua umum ini saya jadi ingat perbincangan dengan teh Meti - Relawan TIK Bandung saat kereta api mulai berangkat. Waktu itu saya menyatakan dukungan terhadap pak FED dan bertanya bagaimana pendapatnya tentang kang Gery sebagai calon ketua umum?. Teh Meti mengatakan dua-duanya diharapkan oleh relawan TIK Jawa Barat. Kalau kang Gery maju pun di belakangnya tetap ada pak FED, hehehe. Kemudian teh Meti mendorong saya untuk juga masuk bursa ketum, karena katanya Jabar memikirkan kang Gery atau saya yang maju. Jawabannya sama seperti yang pernah disampaikan kepada pak Bambang, pak FED, dan pak Yamin, bahwa saya tidak bisa karena ingin tahun depan fokus kuliah strata tiga. 


Malam itu pak Yamin dari Yayasan Nawala Nusantara datang dan mendorong saya untuk maju jadi calon ketum. Bahkan beliau mengajak saya bicara bertiga dengan pak FED agar saya bersedia maju. Tetapi jawaban saya tetap sama dan saya mengatakan kepada pak FED kalau saya istiqomah mendukung beliau. Lepas itu, dalam kumpulan tersebut pak Yamin masih saja mengatakan kalau saya bersedia menjadi calon ketum, hahaha. Melalui Whatsapp saya memberi penjelasan kepada beliau berdua, point penting penjelasannya adalah sebagai berikut :
  • Pada prinsipnya saya sebagaimana kawan RTIK Universitas lainnya selalu ingin jadi dan membesarkan RTIK Id. Oleh krn nya saya membutuhkan dan akan mendukung siapapun caketum yg terbuka dan mampu menyatukan semua kekuatan yg Indonesia miliki dgn melepaskan segala sekat2nya. 
  • Saya melihat kawan2 yg telah sukses memimpin banyak relawan utk melaksanakan kegiatan RTIK di daerahnya (baik dgn atau tanpa konsep) adalah manusia Indonesia terbaik yg dapat dipilih utk Caketum ke depan. 
  • Selama masih ada yg lebih baik dari saya utk jadi Caketum, maka saya akan senantiasa seperti sekarang, selalu memberi dukungan dgn apa saja yg saya miliki.
  • Dengan senang hati saya membantu RTIK Id sebagai apapun, seperti sekarang ini yg walau hanya ketua RTIK Cabang kota kecil Garut secara de facto, saya senantiasa berbagi konsep yg dijalankan di Garut. 
  • Saya siap membantu sepanjang kemampuan, karena saya tahu bhw menjadi Relawan itu baik personal atau pemimpin tim hrs memiliki komitmen waktu dan kemampuan.   


Sebenarnya saya tidak ingin bersikap tidak sopan menolak dorongan para senior ini. Tetapi saya melihat tanda-tanda kalau tahun depan fikiran saya harus mantap studi strata tiga, di mana Prof Iping sudah membukakan pintu, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendorong saya untuk memikirkan kuliah strata tiga. Prof Ali Ramdhani sebagai penasihat Relawan TIK Garut mengatakan jika semua pilihan mengandung kemaslahatan dan memiliki konsekuensi, beliau mempercayakan kepada saya untuk memilih sendiri apa yang dianggap terbaik.

Malam hari itu saya berbincang dengan pak Deo Rindengan - Relawan TIK Menado yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Samratulangi. Sama seperti saya, beliau pun ada yang dorong menjadi calon ketum. Dan beliau menolak dengan alasan yang sama seperti saya, karena sudah diminta oleh Dekan untuk segera kuliah strata tiga. Sejak Rakernas Bandung tahun lalu, saya sebenarnya berkeyakinan kalau rekan dari Indonesia Timur punya kapasitas untuk menjadi calon ketum. Namun pak Deo mengubah keyakinan saya malam itu, beliau mengatakan keberadaan ketum dekat dengan Jakarta sangatlah penting. Beliau mendorong saya untuk jadi calon ketum. Kali ini menjawabnya relatif mudah karena jawaban penolakannya sama persis dengan jawaban pak Deo, hehehe. Malam itu kita sama-sama bersepakat kalau di struktur kepengurusan pusat harus ada wakil dari Perguruan Tinggi, karena Perguruan Tinggi seperti Universitas Samratulangi ataupun Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendukung budaya relawan dan menyediakan sumber daya relawan yang sangat banyak. Kita mendukung kalau pak Said dapat mewakili unsur Perguruan Tinggi, sekiranya beliau tidak sibuk dengan S3 nya, hehehe.

Keesokan harinya saya kembali mendapatkan dorongan dari beberapa pengurus Wilayah. Tetapi saya tetap tidak bergeming dari pendirian. Saya meminta semuanya satu suara untuk mendorong pak FED. Saya sempat merasa kaget saat pak Deo di sesi break menunjukan foto pertemuan Munas, karena nama saya masih muncul di daftar calon ketua umum. Tetapi semua sesuai dengan yang saya harapkan, pak FED mendapatkan suara mayoritas, yes !. Saya jadi teringat malam itu saat pak FED berusaha mempengaruhi banyak relawan TIK untuk mendukung saya ... saya berhasil membalikan dukungan relawan TIK kepada beliau, hahaha. Saat ini hanya pak FED menurut saya ketua umum yang tepat untuk membawa perubahan pada Relawan TIK Indonesia. Saya merasa yakin bukan hanya Relawan TIK di Jawa Barat saja yang berfikir demikian. 


Saat sesi ramah tamah, perkenalan Relawan TIK Jawa Barat dipimpin oleh kang Fajar yang jadi pelaksana harian Relawan TIK Jawa Barat. Dan ya ampun, kembali lagi Relawan TIK Jawa Barat mengeluh soal penolakan pengurus pusat Relawan TIK Indonesia terhadap konsep Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK yang saya buat. Saya berbisik kepada pak FED untuk menanyakan kenapa kang Fajar mengungkin lagi masalah itu? Saya serasa kembali ke masa lalu saat Rakernas di Bandung tahun lalu, saat pak FED selaku ketua Relawan TIK Jawa Barat juga mengungkit masalah tersebut. Waktu itu saya bilang ke beliau, "ya ampun pak, tidak perlu diungkit lagi". 


Bagi saya, penolakan "politis" tersebut tidak menjadi masalah. Ada banyak kepala di dalam Relawan TIK Indonesia yang berbeda pemikiran dan bahkan meragukan hal-hal berbau kajian. Saya boleh meyakini kajian dapat menstrukturkan gerakan, tetapi banyak kawan yang berfikir gerakan itu tidak perlu terstruktur, cukup lakukan apa yang bisa dilakukan. Itulah sebab kenapa saya berkata, "Saya lebih suka memimpin diri sendiri dalam kegiatan berfikir dari pada memimpin masa dengan pemikiran yang banyak". Saya lebih senang melakukan kajian dari pada berhadapan dengan perdebatan. Menerima sikap penolakan terhadap hasil kajian walau itu politis adalah lebih baik dari pada berderbat. Setidaknya itu yang saya pelajari dari kasus penolakan tersebut. Bagi saya, di dalam atau di luar, di terima atau diusir dari Relawan TIK Indonesia, aktivitas relawan akan tetap saya jalani, karena ia merupakan sedekah pembersih dosa, relawan adalah tarikat yang saya lalui untuk "membentuk hati".  

Senin, 12 September 2016

Merubah tombol Start Windows dengan logo STTG



Bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang ingin menggantu tombol Start Windows dengan logo kampus, berikut ini langkah yang bisa dilakukan :

  • Unduh dan instal aplikasi Start Menu 8 di sini
  • Unduh dan ekstrak ikon-nya di sini
  • Salin tiga gambar ikonnya ke C:\Program Files (x86)\IObit\Classic Start\StartButtonSkin
  • Jalankan Start Menu Setting, lalu pilih Start Button Icon, dan pilih ikonnya

Untuk mengubah ikonnya dengan logo Relawan TIK Indonesia, unduh ikon-nya di sini, lalu lakukan tahap ke 3 dan 4.

Sabtu, 10 September 2016

Bisa Ping tapi Tidak Tampil di Browser

Seharian ini saya memperbaiki Laptop punya teman kantor. Problem terakhir yang ditangani adalah tidak dapat dibukanya halaman situs web oleh browser manapun. Herannya kalau di ping alamat situs webnya, ada repply dari alamat tersebut. Artinya sistem berhasil menerjemahkan DNS menjadi alamat Protokol Internet nya dan mengirimkan paket untuk beberapa saat kemudian menerima balasan dari alamat tersebut. Kesimpulannya tidak ada masalah konseksi antara Laptop ini dengan internet. 

Setelah membaca beberapa pembahasan tentang kasus tersebut, diketahui solusi untuk masalah tersebut adalah dengan melakukan reset terhadap winsock. Caranya :
  1. Klik tombol Start / Mulai
  2. Ketuk Cmd dalam kotak teks pencarian Start
  3. Tekan Ctrl+Shift+Enter sehingga Cmd dijalankan sebagai Administrator
  4. Ketik netsh winsock reset dalam Command Prompt shell, lalu tekan Enter
  5. Restart komputer


Perintah tersebut menyebabkan katalog Winsock dikembalikan ke konfigurasi awal / default. Perintah tersebut menghapus semua Winsock LSP (Layered Service Providers) sebelumnya yang terpasang, termasuk LSP yang berpotensi tidak berfungsi yang menyebabkan hilangnya transmisi paket. Klik di sini untuk membaca sumber aslinya.

Rabu, 10 Agustus 2016

Saresehan KIM se BKPP Wilayah IV

Kepala Diskominfo Jawa Barat

Garut, 10 Agustus 2016 saya menyajikan materi Melek Digital dalam acara Saresehan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) se BKPP (Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan) wilayah IV Jawa Barat yang meliputi kabupaten Bandung, kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, kabupaten Sumedang, kabupaten Tasikmalaya, kabupaten Ciamis, kota Bandung, kota Cimahi, kota Tasikmalaya, dan kota Banjar. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat. Surat permohonan kesediaan sebagai narasumber disampaikan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut pada tanggal 8 Agustus 2016. Saresehan dengan tema Pemanfaatan Akses Informasi dalam Mengembangkan KIM tersebut menjadi tantangan karena saya hanya memiliki waktu satu hari untuk mempelajari KIM dan menyusun slide presentasi. Sukurlah presentasi sebelumnya yang saya sampaikan dalam acara Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah kabupaten Garut memberi gagasan materi yang akan saya sampaikan esok hari. Saya memilih judul Melek Digital karena kondisi tersebut penting dimiliki oleh individu KIM agar dapat menangani segala ancaman dan hambatan dalam pemanfaatan akses informasinya.

Seharian itu saya memodelkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia tentang Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial. Saya mendapatkan gagasan bahwa internet selain digunakan sebagai jejaring informasi nasional oleh KIM juga harus dimanfaatkan sebagai forum, question and answer, pembelajaran, data repository, dan portal web untuk studi banding. Artinya ada interaksi antar KIM melalui TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam rangka berbagi konten, pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan terkait manajemen, sumber daya manusia, kelembagaan, dan kegiatan KIM. Studi banding sebagai salah satu kegiatan KIM dapat dilakukan secara online dengan melihat luaran kegiatan KIM melalui situs web KIM yang jalan masuknya melalui portal web. 


Saya coba gambarkan bentuk TIK nya dengan menggunakan model analisis Sistem Informasi KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) yang pernah disampaikan dalam kegiatan e-Indonesia Initiative di Institut Teknologi Bandung tahun lalu. Rupanya gagasan TIK tersebut dipengaruhi secara tidak sadar oleh model analisis tersebut. Saya hanya perlu mengganti entitas Relawan dengan KIM. Melalui model analisis ini saya memberi masukan tentang kegiatan online yang harus meliputi interaksi KIM dengan KIM lainnya, masyarakat pengguna informasi, dan stakeholders.    


Lebih jauh saya berbagi impian dengan para peserta tentang KIM yang berpangkal di lembaga pendidikan yang saya usahakan dari tahun 2012 hingga sekarang. KIM yang dimaksud adalah KPMI sebagai kelompok relawan teknologi informasi dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Komunitas TIK Sekolah dengan kemampuan melaksanakan layanan penyediaan informasi dan TIK serta pengajaran TIK bagi masyarakat sekitar. Komunitas TIK Sekolah dan / atau KPMI nya dapat dirintis dan dihimpunkan di dalam Komunitas TIK Garut untuk kemudian didata, diberdayakan, ditingkatkan kapasitasnya, dan dinilai. Sementara Relawan TIK Garut menyediakan kesempatan bagi setiap anggota KPMI untuk terlibat dalam kegiatan relawan TIK Indonesia dan program pemerintah yang dikawal pelaksanaannya, serta mendapatkan bantuan pendanaan serta ekspos nasional.

KPMI menjadikan kampusnya sebagai PPMI (Pusat Pembangunan Masyarakat Informasi) dan berperan sebagai penyampai informasi seputar kampusnya yang diterbitkan di situs web kampus (ac.id) dan seputar desanya yang diterbutkan di situs web desa (desa.id). Situs-situs web tersebut membangun jejaring informasi nasional yang akan mudah ditemukan oleh pengguna informasi apabila dibuatkan jalan masuknya melalui portal web. Konsep ini didukung oleh Bupati Garut dalam kesempatan Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi tahun 2014 yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Media dan masyarakat akan memanfaatkan portal web ini untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya. Media akan membawa informasi menarik yang diterbitkan oleh KPMI kepada para pengguna informasi melalui surat kabar, dan medi masa lainnya. Ditindaklanjutinya informasi oleh media atau dikonsumsinya informasi oleh masyarakat menjadi indikator keberhasilan promosi kampus atau desa yang dilakukan oleh KPMI.       

  
Tidak lupa saya sampaikan pula daur hidup pengembangan masyarakat informasi yang perlu dilaksanakan oleh KIM. Antar KIM harus saling membantu agar pemanfaatan akses informasi dapat meningkatkan taraf kehidupan KIM. Saya memberi masukan agar anggota KIM harus CAKAP (cerdas, kreatif, dan produktif). Anggota KIM dapat mengetahui kondisinya dengan memperhatikan indikator CAKAP yang saya sampaikan dalam slide.  


Penyaji dalam acara tersebut tidak hanya saya, tetapi juga Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si - Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dan Anton dari Pikiran Rakyat. Menjadi mitra Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat dimulai sejak Dinas tersebut dipimpin oleh Dr Dudi Sudrajat Abdurrachim yang sekarang menjabat sebagai kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro Kecil Menengah provinsi Jawa Barat. Beliau sering mengajak saya untuk hadir dalam pertemuan di Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah provinsi Jawa Barat. Ajakan tersebut disampaikan beliau melalui kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Kesempatan tersebut membuat saya dapat mendengarkan rencana atau capaian program pemerintah bidang Komunikasi dan Informatika serta berbagi konsep pembangunan masyarakat informasi yang melibatkan relawan teknologi informasi. Seperti dalam kesempatan Rapat Koordinasi Evaluasi Program dan Kegiatan bidang Komunikasi dan Informatika se Jawa Barat tahun 2015 di Pangandaran. Setelah di Dinas Koperasi pun beliau masih memberi saya kesempatan untuk dapat tukar fikiran dengan tim beliau seperti pertemuan tanggal 27 Mei 2016.     

Brainstorming di Dinas KUMKM Jabar   

Liputan Pikiran Rakyat, 11 Agustus 2016



Senin, 08 Agustus 2016

Gembel di Akhirat karena Gila di Dunia


Gila itu kondisi tdk mampunya akal menolak dorongan jiwa. Jika jiwanya terdorong kuat utk berjalan ke arah tertentu, akalnya tdk bisa digunakan utk menolak dorongannya walau banyaknya godaan yg menariknya keluar dari jalan tsb. Cinta buta salah satu contoh gila, di mana akal tdk bisa digunakan utk menolak dorongan cinta.

Org yg menyepelekan solat itu akan gembel di akherat nanti. Orang yg menyepelekan solat itu gila di dunia ini karena tdk mampu menggunakan akalnya utk memahami pahitnya konsekuensi kegembelannya di akhirat kelak.

Gembel itu melarat. Orang yg menyia-nyiakan salat itu akan melarat di akhirat, karena masa depan seseorang itu di antaranya bergantung kepada baik dan buruk solatnya. Seseorang yg sudah tahu pentingnya solat tetapi menyia-nyiakannya, ngerinya akibat menyia-nyiakan solat di akhirat namun tidak membuat solatnya menjadi baik, adalah pemilik akal dan nurani yg lemah. Tidak mampu melawan kecenderungan yg menyalahi akal dan nurani merupakan tanda kegilaan. 

Banyak orang gila seperti itu di dunia yg kelak di akhirat menyesal dan meminta kembali ke dunia utk melawan kegilaannya tsb. Tetapi Allah telah membuat penyesalan seperti itu tdk berguna lagi, karena hidup di dunia tdk ada dua kalinya. 

Minggu, 07 Agustus 2016

Satu Slide untuk Satu Pengetahuan

Dalam penyiapan slide ini saya selalu mengamalkan ajaran guru saya Dr Husni Sastramiharja dalam kesempatan kuliah dulu di ITB untuk dapat menyampaikan banyak hal hanya dengan menggunakan slide minimalis. Beliau dalam kesempatan pembelajaran tatap muka di kelas memberi contoh dengan membahas topik berbeda hanya dengan menggunakan slide yang sama selama lebih dari satu pertemuan. Dari pengajaran beliau saya faham bahwa bakat yang saya dapatkan pada saat SMA dulu bisa digunakan untuk mengamalkan ajaran beliau, yakni membuat model rancangan organisasi yang membahas kelengkapan organisasi hanya dalam satu gambar saja. 

Sejak mendapatkan pengajaran tersebut saya membiasakan diri untuk menyampaikan satu tema pengetahuan menggunakan bahasa visual hanya satu slide saja. Memodelkan pengetahuan ini juga terbantu oleh pengetahuan dan keterampilan pemodelan analisis dan desain yang diperoleh saat kuliah strata satu Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ajaran Dr Husni "Satu bab tesis satu slide" saya ajarkan kembali kepada mahasiswa bimbingan, sehingga saya selalu protes jika mahasiswa bimbingan menyalin kalimat yang ada dalam laporan Tugas Akhir ke slide presentasi mereka.  

Slide bab I Tesis

Sabtu, 06 Agustus 2016

Memisahkan Lagu Format mp3 yang Bersatu

Mungkin anda pernah mendapatkan berkas mp3 yang berisi sejumlah lagu dalam satu album. Adakalanya anda ingin memutar sebagian lagu saja dan tidak ingin mendengarkan satu album. Untuk mewujudkan keinginan tersebut anda memerlukan alat pemotong berkas mp3. Ada dua pendekatan yang disediakan oleh perangkat lunak aplikasi pemotong mp3, yakni manual di mana anda memotong-motong berkas secara manual, dan otomatis di mana aplikasi memotongkan untuk anda berdasarkan kondisi tertentu. Di antara pernagkat lunak aplikasi yang tersedia untuk memotong berkas mp3 dengan dua pendekatan tersebut adalah mp3splt-gtk yang dapat diunduh di Sourceforce. Apabila aplikasinya sudah tidak tersedia, anda bisa mengunduhnya dari repository saya pada folder Software | Multimedia.

Setelah anda mengunduh dan menjalankan aplikasinya, masuklah ke tab Batch & automatic split, lalu tambahkan berkas mp3 nya, dan pilih Silence di mana aplikasi akan memotong otomatis begitu terdeteksi threshold level senyap yang secara default ditentukan -48 dB. Proses pemotongan otomatis terjadi setelah anda menekan tombol Batch split !. 


Hasil pemotingan berkasnya seperti tampak pada gambar berikut ini :


Mungkin anda ingin mengubah format namanya untuk semua berkas yang dihasilkan. Cara umumnya adalah dengan cara manusia, di mana satu persatu anda ubah berkas dengan menggunakan fungsi rename yang disediakan pada Windows Ekspoler. Namun cara tersebut lumayan memakan waktu apabila jumlah berkasnya banyak. Cara termudah adalah dengan menggunakan aplikasi yang dapat merubah nama sejumlah berkas dalam format tertentu secara otomatis. Aplikasi apakah itu, ikuti kiriman selanjutnya.