Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Jumat, 10 April 2026

Logika Ketulusan


Pamrih itu tidak terlarang dan tanpa pamrih itu keutamaan. Namun, bila tanpa pamrih membuat jiwa terancam, maka pilihan pamrih menjadi kewajiban.

Ungkapan ini merupakan sebuah refleksi filosofis mengenai keseimbangan antara idealisme (ketulusan) dan realisme (pertahanan diri). Secara sederhana, kalimat tersebut membedah tingkatan moralitas manusia dalam bertindak.

Berikut adalah penjelasan tiap poinnya:

"Pamrih itu tidak terlarang"

Memiliki pamrih (menginginkan imbalan, keuntungan, atau balasan) adalah hal yang manusiawi dan wajar. Dalam konteks profesional atau sosial, bekerja untuk mendapatkan gaji atau membantu orang dengan harapan mendapat perlakuan baik kembali bukanlah sebuah dosa. Ini adalah bentuk pertukaran nilai yang sehat agar roda kehidupan tetap berjalan.

"Tanpa pamrih itu keutamaan"

Bertindak secara altruistik atau murni karena ketulusan tanpa mengharap apa pun adalah level moralitas yang lebih tinggi. Ini disebut sebagai keutamaan (virtue) karena menunjukkan kekayaan jiwa seseorang. Di sinilah letak kemuliaan manusia: ketika ia bisa memberi tanpa merasa harus menerima kembali.

"Namun, bila tanpa pamrih membuat jiwa terancam..."

Ini adalah batasan penting. Terkadang, saking "tulusnya" seseorang, ia membiarkan dirinya dieksploitasi, diperas, atau diperlakukan tidak adil oleh orang lain. Jika ketulusanmu justru membuat kesehatan mentalmu rusak, fisikmu hancur, atau martabatmu diinjak-injak, maka keikhlasan tersebut telah kehilangan maknanya.

"...maka pilihan pamrih menjadi kewajiban"

Ketika situasi sudah mengancam keberlangsungan hidup atau integritas diri, kamu wajib menetapkan syarat (pamrih). Dalam konteks ini, "pamrih" bisa berarti: Menuntut hak yang seharusnya diterima, memasang batasan (*boundaries*) agar tidak dimanfaatkan, meminta kompensasi yang layak atas pengorbanan yang dilakukan.

Kesimpulan
Kalimat ini berpesan agar kita tidak menjadi "orang baik yang naif"

Filosofinya: Menjadi tulus itu mulia, tetapi menjaga diri sendiri adalah kewajiban. Jangan sampai atas nama "pengabdian" atau "ketulusan", kamu membiarkan dirimu hancur. Kamu tidak bisa menolong orang lain jika dirimu sendiri tidak selamat.

#persepsicahyana

0 comments :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya