Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 20 Oktober 2018

Seminar dan Pelatihan Nasional Masyarakat Informasi XII


SPNMI (Seminar dan Pelatihan Nasional Masyarakat Informasi) merupakan agenda tahunan Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang dilaksanakan oleh Prodi (Program Studi) Teknik Informatika. Tahun ini kegiatan tersebut masuk pelaksanaan yang ke-12 (dua belas). Untuk tahun ini kami berkolaborasi dengan Ikatan Guru TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dan EPSON. 

Pada tanggal 3 September 2018, pak Wijaya Kusumah menghubungi saya melalui Telegram. Beliau menawarkan kerjasama pelaksanaan workshop elearning di Garut dengan target peserta 100 orang. Tawaran ini saya sambut dengan baik, karena kebetulan tahun ini saya merencanakan akan menyelenggarakan kegiatan dengan topik elearning. Saya menganggapnya sebagai jalan kemudahan yang Allah berikan. 


Seperti yang telah disampaikan pak Wijaya, koordinasi kami dengan Ikatan Guru TIK melalui ibu Wiwin. Dan malam itu saya dihubungi oleh ibu Wiwin melalui WhatsApp. Dalam kesempatan komunikasi tersebut saya menanyakan apa yang harus disiapkan oleh panitia lokal. Beliau menjelaskan bahwa kami hanya perlu menyiapkan peserta dan tempat tidur untuk pemateri. Insentif pemateri sudah ditanggung oleh EPSON, termasuk 3 (tiga) unit printer yang dua diantaranya disediakan untuk peserta dan satu untuk kami selaku panitia lokal. Melalui media sosial itu kami menyepakati tanggal pelaksanaannya yakni 20 Oktober 2018. 

Seperti kebiasaan saya, pengelolaan kegiatan Prodi Teknik Informatika saya tawarkan kepada dosen. Untuk tahun ini SPNMI saya percayakan kepada ibu Leni Fitriani. Saya buatkan proposal kegiatan sampai estimasi waktunya, dan ibu Leni Fitriani selaku ketua pelaksana melengkapi estimasi biayanya. Hasil diskusi saya dengan ketua pelaksana, kami memutuskan pematerinya yang sedianya diisi oleh pak Aldy yang akan menyampaikan materi tentang Revolusi Industri 4.0, digantikan oleh ibu Dewi Tresnawati agar kegiatan Bebras Challenge tanggal 15 November 2018 tersosialisasikan kepada para guru yang hadir sebagai peserta. 

Dalam proses pembuatan proposal tersebut, saya mengajak ketua pelaksana SPNMI dan ibu Dewi Tresnawati selaku ketua pelaksana Bebras Challenge untuk berkoordinasi dengan ketua PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia), serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk mendapatkan dukungan dan bantuan penyebaran informasi. Komunikasi kami dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dibantu oleh ibu Kiki Aisyah yang merupakan alumni Prodi Teknik Informatika, sementara komunikasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika melalui pak Diar Cahdiar Antadireja - Sekretaris Dinas. 


Dalam komunikasi dengan ibu Kiki, beliau siap membantu mengkomunikasikan kebutuhan surat rekomendasi kegiatan dan penyediaan piala untuk Bebras Challenge kepada Pelaksana Harian Dinas. Dalam komunikasi dengan Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, beliau siap membantu kegiatan kompetisi informatika tahunan NBO Bebras Indonesia di Garut dan akan mengupayakan piala bergilir dari Bupati Garut. Sementara ketua PGRI Garut siap membantu menyebarkan informasi kegiatan di lingkungannya. Setelah adanya partisipasi dari tiga institusi tersebut, kami letakan logo PGRI Garut dan Pemerintah Daerah Garut di dalam poster kegiatan.

Tinggal dua minggu lagi menuju pelaksanaan, kami masih menunggu surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta surat rekomendasi dari Ikatan Guru TIK. Dalam masa menunggu itu kami mengandalkan poster untuk menyampaikan informasi kegiatan kepada masyarakat yang disebarkan di grup Whatsapp, grup Facebook dan Instagram. Surat rekomendasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan keluar beberapa hari setelah surat rekomendasi dari Ikatan Guru TIK disampaikan ke ibu Kiki. Dengan berbekal surat rekomendasi tersebut, kami sebarkan surat ke sekolah di sekitar Garut. Penyebarannya dibantu oleh mahasiswa Prodi Teknik Informatika. 

Pemateri dari Ikatan Guru TIK adalah ketua dan bidang humas pengurus pusat. Pematerinya mengonfirmasi kedatangannya pada hari kamis, 18 Oktober 2018, pukul 2 dini hari di Stasiun Kadungora. Saya memutuskan agar ketua Pelaksana menginapkan tamu pemateri tersebut di Area 306. Karena jumlah tamu yang datang sebanyak tiga orang, maka saya memberi arahan agar ruangan yang digunakan untuk menginap adalah ruang biru. Hari Rabu sore hingga maghrib itu, saya, ketua pelaksana, dan mahasiswa membereskan ruangan. Kasur dan bantal dari ruang tamu dipindahkan ke ruang biru Area 306. Siang hari sebelumnya saya mengintruksikan kepada Office Boy untuk memasang kipas angin di ruang biru tersebut. 

Lepas Maghrib saya meminta ibu Dewi Tresnawati datang untuk membicarakan sponsorship Bebras Challenge dengan Ipan Setiawan yang datang sore itu ke Area 306. Untuk mempersingkat waktu, pembicaraannya dilakukan di dalam mobil ibu Dewi Tresnawati yang mengarah ke Ramayana Mal. Malam itu ketua Pelaksana saya arahkan untuk membeli sejumlah kebutuhan tamu, mulai dari makanan, alat mandi dan selimut. Pukul 8 malam lebih seluruh selesai dibeli. Belanja kebutuhan tersebut menggunakan dana pengabdian kepada masyarakat untuk SPNMI dari STTG. 


Pagi harinya, ketua Pelaksana dan suaminya menjemput tamu. Saya ketiduran dan terbangun menjelang pukul 4. Saya buka WhatsApp dan melihat status aktif terakhir ketua Pelaksana. Saya lega setelah melihat status aktif nya pukul 3, artinya tamu sudah ditangani. Kepada mahasiswa yang menginap di Area 306 saya berpesan agar pagi itu mereka memasak sarapan untuk mereka dan tamu yang menginap. Bahan masakannya kami belikan di Ramayana. 

Pagi hari itu saya menghubungi mahasiswa agar memandu pak Bambang, pak Youri, dan temannya yang menginap di ruang biru menuju ruang Prodi Teknik Informatika. Pertemuan yang direncanakan pukul 9 itu mundur karena kami masih sibuk mengurus surat ke sekolah. Kami bertemu pukul 10 lebih. Dan setelah berbincang sebentar saya mengajak tamu, bu Leni Fitriani, dan bu Dewi Tresnawati untuk mengunjungi ketua PGRI. Karena hari itu Jum'at dan waktu salat Jum'at telah tiba, saya serahkan mobil ke ibu Dewi Tresnawati setelah saya dan tamu turun di area Masjid Agung Garut. Sebelum berangkat saya mengarahkan ibu Dewi dan ibu Leni untuk membeli kebutuhan lain untuk SPNMI sambil menunggu kami salat. Hari itu saya meminjam mobil milik mertua untuk kebutuhan kegiatan. Mobil kampus kebetulan sedang digunakan oleh mahasiswa Prodi Teknik Informatika dalam acara Masa Bimbingan di Cikajang.

Lepas salat Jum'at, saya ajak tamu untuk menuju Pendopo dan mengenalkan Babancong yang merupakan salah satu bangunan penciri Garut. Di sana saya menerima telepon dari ibu Dewi yang menanyakan keberadaan kami. Setelah diskusi sebentar saya putuskan bertemu di Chochodot. Saya ingin mengenalkan salah satu produk kuliner di Garut berbahan coklat dengan kemasan unik. Untunglah ibu Leni membekali saya uang sehingga saya bisa membelikan oleh-oleh untuk semua tamu. 


Selanjutnya bu Dewi membawa kami semua ke Wisma PGRI untuk menemui ketua PGRI di sana. Kami berempat masuk ke wisma, sementara ibu-ibu memutuskan untuk menunggu di mobil. Di sana saya merencanakan agar pertemuannya tidak lebih dari setengah jam. Saya tinggalkan sebentar pertemuan itu untuk menemui ibu-ibu di luar. Rupanya ibu-ibu sudah ingin segera kembali karena dari EPSON sudah akan datang ke kampus untuk persiapan tempat. Tadinya mereka mau pulang naik Grab, tapi saya minta mereka menunggu sebentar.



Dan kami pun tiba di kampus. Tamu kami arahkan ke Area 306 untuk makan siang. Malam sebelumnya ibu Leni mendapat kiriman cumi dari mahasiswa asal Selatan Garut. Ibu Leni menyerahkan cumi itu ke ibu Dewi Tresnawati untuk jadi santapan makan siang tamu di Area 306. Dalam kegiatan ini, ibu Dewi menangani makanan untuk pembicara, panitia, dan peserta. 

Beberapa menit setelah kami tiba, EPSON datang ke kampus. Syukurlah ruangan sudah tertata, hanya tinggal kursi tamu dan pasokan listrik untuk peserta yang belum siap. Saya menghubungi ketua Prodi Teknik Sipil untuk peminjaman kursi tamu. Selanjutnya saya intruksikan office boy untuk mengangkut kursi tamu dari ruang Prodi Teknik Informatika dan Teknik Sipil, serta meminta ketua Pelaksana untuk menghubungi petugas instalasi listrik untuk segera memasang listrik. 

Saya menyempatkan diri untuk bertanya kepada pak Youri tentang Area 306 yang diinapi semalam. Beliau menilai fasilitas tersebut sangat cukup dan mewah. Saat saya tawarkan lokasi menginap yang lain, beliau mengatakan tempat tidur di Area 306 ini sudah sangat memadai sehingga tidak perlu pindah ke tempat lain. Area 306 memang dirancang untuk kegiatan kreatif bidang Informatika di lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Di dalamnya tersedia kamar tidur dan dapur. Area 306 menjadi semacam rumah singgah bagi pegiat TIK nasional yang singgah di Garut. Mas Noviyanto dari Relawan TIK Jawa Timur sering menyempatkan diri istirahat di sana dalam kegiatannya di Jakarta. Area 306 juga sejak 2013 telah menjadi rumah bagi Komunitas TIK yang ada di Garut. 

Setelah diskusi dengan ibu Leni dan ibu Dewi, kami memutuskan makan malam bersama tamu dilaksanakan di Rumah Makan Cibiuk, sekalian mengenalkan sambal Cibiuk yang berasal dari kecamatan Cibiuk Garut. Dana yang digunakan adalah dari alokasi untuk penginapan pemateri. Kami membawa serta ketua MGMP Garut dalam acara makan malam tersebut yang kebetulan ada agenda pertemuan dengan ketua Ikatan Guru TIK. 



Tibalah saatnya kegiatan dilaksanakan. Kegiatan mundur 45 menit menunggu seluruh peserta hadir. Malam itu saya memberi masukan kepada ketua Pelaksana melalui Whatsapp apa saja yang harus disampaikan dalam dalam laporan kegiatannya. Point penting yang saya pesankan untuk disampaikan adalah tentang SPNMI, Bebras Challenge, serta asal peserta dan mitra kegiatan. 


Turut memberikan sambutan dalam acara tersebut ketua PGRI Garut, ketua Ikatan Guru TIK, dan perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Garut. Dr Hilmi Aulawi, Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut selaku tuan rumah memberikan sambutan, apresiasi untuk panitia, dan membuka acara tersebut. Sesi pembukaan ditutup oleh penandatanganan kerjasama antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Ikatan Guru TIK. Dinas Komunikasi dan Informatika tidak kami undang karena peran mitranya ada di acara Bebras Challenge 15 November mendatang. 



Sesi materi pertama diisi oleh EPSON. Dalam kesempatan tersebut EPSON menyerahkan secara simbolis satu unit printer untuk panitia lokal. EPSON juga menyediakan door prizes bagi peserta, termasuk satu unit printer EPSON. Satu unit printer lagi diserahkan oleh pak Youri di penghujung acara kepada peserta terbaik dalam pembuatan soal dan materi online. Saya memutuskan printer untuk panitia lokal akan digunakan untuk menunjang kegiatan dosen Teknik Informatika di Area 306. 




Setelah materi EPSON dimulai, saya berangkat ke Cikajang untuk mengisi materi Prodi di acara Masa Bimbingan. Pagi itu saya tidak bisa hadir membuka program tahunan untuk mahasiswa baru, karena harus mengawal SPNMI. Ibu Leni yang sedianya diundang untuk memberikan materi kemahasiswaan dan ibu Sri Rahayu yang memberikan materi Bantuan Alumni di Masa Bimbingan saya putuskan tetap di lokasi SPNMI. Sebelumnya ibu Dini Destiani yang sedianya memberikan materi seputar akademik di Masa Bimbingan mengonfirmasi tidak bisa hadir karena sakit. Akhirnya saya putuskan, materi sosialisasi Proker Prodi dan Kemahasiswaan saya tangani, materi layanan Prodi dan Bantuan Alumni ditangani oleh Sekretaris saya, dan materi akademik diganti dengan motivasi dan disampaikan oleh pak Eri Satria, ketua Prodi Teknik Informatika periode sebelum saya. 




Karena mengejar penutupan SPNMI, saya dan pak Eri Satria bergegas meninggalkan lokasi acara Masa Bimbingan. Di tengah perjalanan kami memutuskan untuk mengisi perut dulu. Pak Eri mentraktir saya dengan insentif pemateri Masa Bimbingan. Sesaat setelah masuk ke dalam mobil, pak Eri menerima telepon dari bu Dewi yang menanyakan keberadaan kami, karena acara telah selesai dan pak Youri menanyakan saya. Saya melewatkan materi bu Dewi Tresnawati tentang Bebras Challenge dan pak Youri tentang Elearning selama kegiatan di Cikajang tersebut. Dan rupanya Prof Ali Ramdhani, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut periode sebelumnya juga menyempatkan nengok kegiatan tersebut dan berbincang dengan teman-teman dari Ikatan Guru TIK. Alhamdulillah, kegiatan tersebut jadi istimewa dengan hadirnya pimpinan Kampus dan Prodi periode sebelumnya.




Setelah sampai di lokasi dan beres-beres lokasi sebentar, kami memutuskan untuk melaksanakan pembubaran panitia sambil makan Bakso. Makan baksonya selesai selepas Isya. Untuk terakhir kalinya saya sempatkan membawa pak Youri melihat Garut malam hari, menuju pusat Industri kulit. Begitu sampai di kampus, saya sempat menawarkan diri untuk mengantar pulang ketua Panitia. Tapi ibu Leni katanya sudah memesan ojek online. Sebagai pimpinannya saya merasa khawatir, tetapi saya tidak pernah memaksakan pilihan yang diberikan kepada bawahan. 

Malam itu saya menyempatkan diri pulang dulu ke rumah menemui anak dan istri. Dan sesuai rencana, pukul 9 malam itu saya menjemput teman-teman Ikatan Guru TIK dari Area 306 yang akan pulang dengan kereta api di Stasiun Kadungora. Dalam perjalanan saya mengucapkan terima kasih kepada Ikatan Guru TIK karena telah bermitra dalam program pengabdian kepada masyarakat. Teman-teman menyapaikan ucapan terima kasihnya atas pelayanan baik kami selama di Garut.

Pulang mengantar, saya sempatkan diri dulu untuk jalan-jalan menikmati malam Garut untuk menghilangkan penat seharian. Tidak ada tempat yang disinggahi, tetapi lagu dari JOOQ yang pas cukup membuat perjalanan malam sendirian itu sedikit menghibur. Dan sesampainya di rumah, ternyata radiator mobil bocor. Syukurlah mesinnya tidak saya matikan saat teman-teman turun di Statsiun. Kalau dimatikan, mungkin mobil tidak akan bisa dijalankan seperti di rumah. 

Alhamdulillah, kegiatan yang menjadi program kerja Prodi yang saya pimpin ini berhasil terlaksana. Agak sedih juga mendengar ketua Pelaksana jatuh sakit, sekalipun telah menerima penjelasan sakitnya itu sebagai akumulasi kelelahan pekerjaan sebelumnya. Saya merasa bangga karena sebagai alumni Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagaimana saya, ibu Leni sudah melaksanakan pekerjaan dengan total. Tidak lupa saya sampaikan ucapan terima kasih di WAG kepada EPSON, teman-teman Ikatan Guru TIK, dan peserta. WAG peserta selanjutnya saya ubah menjadi Grup Akademisi Informatika. Dalam melaksanakan Prokernya, Prodi memang membuat rencana pembentukan dua Forum, yakni Forum Masyarakat Informatika Garut untuk akademisi bidang Informatika, dan Forum Masyarakat Informasi Garut untuk pengguna TIK di Garut. 



Senin, 10 September 2018

Arti Penting Partisipasi Masyarakat bagi Perusahaan


Garut, 10 September 2018. Saat dalam perjalanan menuju Sekolah Tinggi Teknologi Garut, tepatnya di persimpangan jalan Mayor Syamsu dan jalan Subyadinata desa Jayaraga, saya melihat kabel membentang merintangi jalan. Kendaraan melaju perlahan karena khawatir tersangkut kabel dan memutuskan kabelnya. Saya pun menepikan motor dan mulai memotretnya dengan smartphone. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan. Saat melewati kabel tersebut, ternyata kabel itu hampir menyentuh helmet yang dikenakan. 

Setelah tiba di kantor, saya mulai mengunggah foto tersebut ke WAG (Whatsapp Group) Beranda KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Garut, dengan harapan ada anggota KIM yang dapat menyampaikan informasi tersebut kepada pihak terkait. Saat itu saya tidak yakin kabel tersebut apakah milik PLN atau Telkom.  


Kiriman tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh kang Tisna dengan menanyakannya kepada PLN di WAG Area Garut 2018. Dari WAG tersebut diperoleh informasi bahwa kabel tersebut bukan kabel listrik milik PLN, tetapi kabel fiber optic milik Telkom. 


Sementara itu saya pun mencoba mencari informasi dari kolega di Telkom, dan mendapat respon yang baik. Sekitar dua jam kemudian saya menerima kabar bahwa pihak Telkom telah memperbaiki bentangan kabel fiber optik tersebut. kemudian saya sampaikan di WAG KIM Garut. Informasi tersebut sekaligus membenarkan informasi yang diperoleh dari WAG Area Garut 2018.


Dalam teori manajemen jaringan, penanganan masalah jaringan komputer dilakukan melalui dua gaya, yakni menunggu laporan dari pelanggan dan sebaliknya. Perangkat lunak Network Monitoring digunakan untuk mendeteksi masalah jaringan sehingga dapat ditindaklanjuti sebelum mendapat laporan dari pelanggan. Pemanfaatan teknologi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan mutu layanan atau kenyamanan pelanggan. 

Namun mungkin masalah bentangan kabel yang tidak terdeteksi oleh perangkat lunak tersebut membuat tidak ada satupun pelanggan yang melapor. Dalam kondisi demikian, sumber laporan yang dapat diharapkan oleh pengelola jaringan adalah masyarakat. Masalahnya bisa membesar bila tidak segera ditangani. Kabel yang menjadi terputus karena tertabrak kendaraan menyebabkan penurunan tingkat kenyamanan pelanggan. Kecelakaan yang disebabkan karena jeratan kabel menyebabkan penurunan tingkat kenyamanan masyarakat umum.  

Potret komunikasi yang melibatkan masyarakat dan perusahaan yang diceritakan sebelumnya menggambarkan perhatian masyarakat terhadap dampak aset perusahaan dan pemanfaatan informasi yang baik oleh perusahaan. Setiap individu masyarakat yang terlibat dalam penyelesaian masalah melalui penyampaian / layanan informasi secara sukarela demi kepentingan umum dapat disebut sebagai relawan informasi. Layanan informasi terkait TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) tersebut dapat diperankan oleh anggota KIM atau relawan TIK. Perusahaan terbantu dengan layanan sukarela tersebut karena dengannya kenyamanan pelanggan atau masyarakat umum tetap terjaga. 

Minggu, 09 September 2018

Mahasiswa Informatika Garut Berwirausaha


Tidak terasa sudah hari minggu lagi. Seminggu yang lalu saya bersama keluarga mengunjungi objek wisata Situ Bagendit - Banyuresmi, tepatnya tanggal 2 September 2018. Anak-anak mengajak saya menaiki wahana air. Istri saya menyarankan untuk beli rujak dulu sebelum menaiki wahana tersebut. 

Di dekat tukang rujak itu fikiran saya terbang ke masa lalu saat membaca informasi di media sosial tentang mahasiswa informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang berjualan rujak untuk membiayai kuliahnya. Tapi saya lupa namanya, dan susah juga menemukan informasinya di media sosial. Tadinya mau tanya ke bapak tukanng rujak tersebut, tapi urung dilakukan karena beliau sedang sibuk melayani pelanggan. Hari ini baru saya temukan nama mahasiswanya di internet, yakni Asep Rohimat.



Saking sibuknya penjual rujak itu melayani pelanggan, kamipun terpaksa meninggalkannya, membuyarkan bayangan nikmatnya makan rujak beubeuk di situ Bagendit. Dalam perjalanan ke sisi lain situ Bagendit, saya melihat dari kejauhan ada es kepal Milo yang sempat viral di media sosial. Saya tawarkan ke anak-anak apakah mereka mau mencobanya (seperti maunya saya)?. Dan syukurlah mereka mau, hahaha. 

Begitu mendekat ternyata pedagangnya menyambut, dan saya mengenalnya. Dia adalah mahasiswa saya yang sekarang ini tengah akan melaksanakan sidang skripsi. Di tengah kesibukannya menyiapkan skripsi dia menyediakan waktu untuk menjalankan kegiatan wirausahanya. Pepatah bilang, "waktu adalah uang". 

Namanya Ridwan Nurdin, hari itu dia berjualan di situ Bagendit. Dia bercerita bahwa lapaknya juga dibuka di kampus. Dia sempat dihubungi teman-teman HIPMI untuk diajak bergabung. Saya sendiri pernah diajak dan menjadi pengurus HIPMI periode tahun sebelumnya. 

Syukurlah ada jajanan kesukaan istri saya juga di sana, sehingga kami sekeluarga jajan di lapak tersebut. Saya mengeluarkan uang 50 ribu untuk membayar jajanan yang dibeli dan tidak berniat mengambil kembaliannya karena merasa sebagai kakak tingkat dan wali prodi. Tetapi ternyata niat tersebut ditolak, setidaknya pahalanya sudah saya dapatkan. Mungkin Ridwan hanya ingin bersikap profesional. 

Mahasiswa berwirausaha bukan merupakan pemandangan asing di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sering kali saya melihat beberapa mahasiswi menawarkan jajanan ke kantor dan kelas yang sampai hari ini belum pernah saya beli karena dompetnya sering tidak terbawa ke kantor, hehehe. Beberapa organisasi kemahasiswaan juga membuka lapak dagang di sekretariatnya, termasuk Himpunan Mahasiswa Informatika yang saya bina. Wirausaha itu memang harus dipupuk sedari mahasiswa, bukan hanya karena persoalan kebutuhan biaya kuliah saja, tetapi juga untuk membangun pengalaman bisnis yang bermanfaat sebagai bekal di masa depan. 

Tetap semangat berjualan adik-adik semua !

Sabtu, 01 September 2018

Mengikuti Workshop Bebras Indonesia 2018


Jum'at, 31 Agustus 2018, saya bersama bu Dewi Tresnawati menghadiri undangan workshop dari Bebras Indonesia yang pada tahun ini diselenggarakan di Universitas Bina Nusantara. Kami berangkat dari Garut pukul 03.30 lebih agar dapat menghadiri acara pembukaan pukul 09.00. Kampus memberikan bantuan akomodasi untuk kami berdua agar dapat mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari. Sudah dua tahun ini Sekolah Tinggi Teknologi Garut selaku Biro Bebras Indonesia telah melaksanakan Computational Thinking Challenge bagi siswa se Garut. 

Beberapa hari sebelumnya saya membantu komisariat kampus Relawan TIK Indonesia agar berkesempatan untuk menjadi biro Bebras Indonesia seperti Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Beberapa komisariat diundang oleh Bebras Indonesia, yakni Universitas Islam Nusantara, Universitas Singaperbangsa Karawang, Universitas Sains al-Qur'an Wonosobo, dan Universitas Lampung. Pada hari pelaksanaan, komisariat kampus Universitas Lampung berhalangan hadir. 

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kami masih merupakan satu-satunya Sekolah Tinggi yang masuk di dalam daftar Biro Bebras Indonesia. Kebanyakan perguruan tinggi yang ditunjuk sebagai Biro adalah Universitas dan Institut. Sekolah Tinggi Teknologi Garut merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta di Priangan Timur yang ditunjuk sebagai pengelola kegiatan informatika bertaraf nasional tersebut. 

PERJALANAN MENJADI BIRO

Penunjukan Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai biro berawal dari silaturahmi. Saat itu saya masih menjadi sekretaris program studi Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dalam kegiatan workshop kurikulum informatika di Institut Teknologi Bandung saya berkesempatan untuk becengkrama dengan ibu Inggriani Liem atau yang lebih banyak dikenal oleh mahasiswanya dengan nama ibu Ingeu. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan kepada beliau bahwa Sekolah Tinggi Teknologi Garut setiap tahunnya mengundang dosen informatika Institut Teknologi Bandung sebagai pemateri Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi tahunan. Kami berniat mengundang beliau sebagai pemateri di kesempatan berikutnya. 

Pada tahun 2016, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia meminta kami untuk menjadi mitra penyelenggara kegiatan Agen Perubahan Informatika untuk pelajar di Garut. Sebagai Relawan TIK Indonesia saya selalu siap membantu program Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia tersebut. Dan karena saat itu saya sudah menjadi ketua pengurus Satuan Karya Pramuka Informatika Garut, maka saya mengemas kegiatannya menjadi kegiatan kolaboratif antara Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, Sekolah Tinggi Teknologi Garut, Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut, Relawan TIK Indonesia, dan Satuan Karya Pramuka Informatika. Selain akan ada sosialisasi Agen Perubahan Informatika dari Direktur Pemberdayaan Informatika, juga akan ada sosialisasi Satuan Karya Pramuka Informatika dari saya. Agar ruang amaliah Agen Perubahan Informatika dan Satuan Karya Pramuka Informatika dapat difahami oleh para pelajar, saya mengundang ibu Inggriani Liem untuk memaparkan materi tentang Desa Pintar. Topik tersebut dipilih karena Agen Perubahan Informatika dan Satuan Karya Pramuka Informatika memiliki misi membangun masyarakat informasi dari desa. 


Beberapa waktu setelah kegiatan kolaboratif tersebut, saya silaturahmi ke bu Inggriani Liem, sekalian menanyakan kinerja studi lanjut salah satu dosen yang menjadi bimbingan tesis beliau. Dalam kesempatan tersebut beliau menawarkan Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai biro Bebras Indonesia. Saat itu saya menyatakan kesiapan untuk menjadi Biro. Dan setelah itu saya membentuk tim dari kalangan dosen untuk menyelenggarakan Computational Thinking Challenge tingkat nasional pertama untuk wilayah Garut. 

ROMANTIKA BIRO

Di hari pertama Workshop, setiap Biro angkatan I (2016) dan II (2017) diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman dan masukannya kepada Bebras Indonesia. Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendapat kesempatan tersebut pada urutan ketiga belas. 


Di depan biro lainnya saya menjelaskan kronologis penunjukan Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai biro. Saya juga menjelaskan bahwa pada tahun 2016 itu Garut sedang mengalami musibah bencana banjir bandang, dan Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjalankan program Relawan TIK untuk Bencana yang menangani perangkat TIK terdampak bencana. Ada dua sekolah yang menjadi fokus utama bantuan, yakni SMP dan SMA PGRI Garut. Untuk membangun semangat kembali, kami mengundang siswa dari dua sekolah tersebut untuk ikut serta dalam Computational Thinking Challenge 2016.


Garut saat itu merupakan salah satu kabupaten tertinggal di provinsi Jawa Barat. Ibu Dewi Tresnawati menyampaikan kepada saya bahwa siswa SMAN 1 Garut berhasil masuk 10 besar Computational Thinking Challenge 2016. Informasi dari guru koordinator lokal Bebras SMAN 1 Garut, siswi yang berhasil masuk di posisi 10 besar tersebut kini merupakan mahasiswa pertambangan Institut Teknologi Bandung. Informasi tersebut sebagian di antaranya saya sampaikan di dalam kesempatan tersebut untuk menunjukan adanya semangat kompetitif putera daerah dalam kompetisi nasional. 

Peserta Computational Thinking Challenge tahun 2016 dan 2017 semuanya berasal dari sekolah swasta dan negeri. Kunci sukses pelibatan peserta adalah relasi tim dengan guru yang dibangun melalui kegiatan kampus atau karena adanya ikatan lainnya. Dan saya menjelaskan manfaat Bebras bagi dosen tersertifikasi, yakni dapat dituliskan dalam Beban Kerja Dosen sebagai pengabdian kepada masyarakat dalam wujud pendampingan sekolah, atau kegiatan penunjang dalam wujud kepanitiaan antar lembaga.

MASA DEPAN BIRO

Ada beberapa pemateri yang tampil dalam kegiatan workshop tersebut, di antaranya bapak Totok Suprayitno - Kepala Puslitbang Kemendikbud Republik Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pertemuannya dengan ibu Inggriani Liem di Pelatihan Nasional Tim Olimpiadi Komputer Indonesia Bogor menginsfirasi kelahiran kembali Mata Pelajaran TIK dalam bentuk baru, yakni Mata Pelajaran Informatika yang diberlakukan sebagai mata pelajaran pilihan dari tingkat PAUD sampai dengan kelas 12. Kampus yg menjadi Biro Bebras Indonesia diminta utk membantu proses pembelajaran Mata Pelajaran Informatika atau mendampingi guru mata pelajaran tersebut. Beliau akan mengusulkan perekrutan 100 ribu guru Informatika untuk melaksanakan pembelajaran mata pelajaran tersebut.  


Hal tersebut jika terwujud menjadi angin segar bagi perguruan tinggi penyelenggara program studi Informatika, khususnya yang menjadi Koordinator Wilayah / Biro Bebras Indonesia. Perguruan tinggi akan memiliki jejaring dengan sekolah terkait pendampingan tersebut. Selain membuka kesempatan branding, juga membukakan pintu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan penunjang dalam bidang informatika secara berkelanjutan. Ibu Inggriani Liem menambahkan, bahwa diharapkan Komunitas Bebras menyediakan kegiatan Tridharma, termasuk penelitian dalam topik Computational Thinking.


Dalam pemaparannya tentang bangunan mata pelajaran Informatika, ibu Inggriani Liem menunjukan skemanya di mana TIK sebagai atap dan Computational Thinking sebagai landasan dilengkapi sejumlah pilar. Di antara pilarnya adalah berkaitan dengan dampak pemanfaatan informasi dan TIK / media yang menjadi fokus Relawan TIK Indonesia dan Kelompok Informasi Masyarakat. Dengan demikian, mata pelajaran informatika ini membawa aktivitas literasi informasi yang dilakukan oleh Kelompok Informasi Masyarakat, dan literasi digital (informasi dan media / TIK) oleh Relawan TIK Indonesia ke dalam kurikulum sekolah. Dengan kata lain, pengajaran literasi digital menjadi terintegrasi dengan sistem sekolah. Hal ini sejalan dengan deklarasi Brussels, di mana pendidikan dan pelatihan TIK dapat diintegrasikan dengan sistem sekolah reguler. 


JALAN BARU MENUJU SURGA

Di hari kedua tanggal 1 September 2017, bapak Adi Mulyanto menanyakan kesediaan saya untuk bergabung dalam Organizing Committee Bebras Indonesia. Saya menyatakan kesiapan selama tugasnya bisa saya kerjakan. Dan akhirnya saya masuk dalam daftar kepengurusan 2018 - 2021 sebagai anggota tidak tetap Organizing Committee yang direkrut dari Biro. Tugas relawan ini tentu saja akan menyita kegiatan penunjang lainnya seperti di Relawan TIK Indonesia, Satuan Karya Pramuka Informatika Garut, Forum Kelompok Informasi Masyarakat Garut, dan Forum Dosen Indonesia. Saya harus mengelola waktu dengan baik agar kepercayaan yang diamanatkan dari berbagai organisasi tersebut dapat saya tunaikan dengan baik sehingga memudahkan perjalanan saya menuju Surga. Sebagai relawan saya bekerja demi amal untuk kepentingan umum. 


Senin, 27 Agustus 2018

Temu Darat Pertama Saya di Munas Semarang


Forum Dosen Indonesia adalah perkumpulan dosen berbadan hukum yang digagas pendiriannya oleh sejumlah pegiat Facebook GDI (Grup Dosen Indonesia). Berdiri pada tanggal 24 Agustus 2013. Sebagai anggota komunitas maya GDI, saya menyediakan diri secara sukarela membantu organisasi ini dalam pekerjaan terkait TIK. Dalam rentang waktu dari tanggal 18 - 22 Januari 2014 saya membantu pembuatan logo dan situs web FDI. Didorong oleh totalitas kerelawanan, saya gratiskan semuanya untuk FDI, termasuk sewa hosting web nya. Saya memahami bahwa relawan tidak hanya bersedekah waktu dan keterampilan saja, tetapi juga uang. 

Pada awalnya logo FDI hanya lingkaran merah dengan teks FDI di tengahnya. Dalam perjalanan perancangan logo tersebut saya menawarkan penambahan tiga warna di sekeliling lingkaran merah tersebut yang mewakili Tridharma. Tidak lupa saya sampaikan makna relasi warna dengan Tridharma nya sebagai berikut : 1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia. 


Tidak berhenti di logo dan situs web, saya juga ikut serta dalam diskusi perancangan terkait grafis lainnya, seperti rancangan bendera / panji FDI pada tanggal 13 April 2015 yang ternyata bermanfaat dan disetujui oleh pengurus pusat. Saya juga membantu mendaftarkan FDI ke Techsoup Asia sehingga FDI dapat memanfaatkan bantuan Google for Nonprofit. Semua itu saya lakukan semata karena kesadaran bahwa saya adalah relawan TIK. Tidak perlu temu darat untuk beramal sukarela, selama layanan relawa TIK bisa dilaksanakan secara online. 


Bertepatan dengan Milad FDI yang ke-2 diselenggarakan MUNAS (Musyawarah Nasional) FDI di Bandung, tanggal 24 - 25 Agustus 2015. Walau saya ikut terlibat dalam pembuatan situs web MUNAS nya, namun saya belum bisa hadir dalam temu darat anggota FDI yang kedua tersebut. Mungkin karena amal relawan tersebut nama saya dituliskan dalam jajaran Dewan Pengurus Pusat FDI yang diputuskan pada tanggal 25 September 2015. Sebenarnya dengan atau tanpa menjadi pengurus, insya Allah saya membantu FDI selama mampu. 

Usulan grafis terakhir pada tahun 2017 adalah rancangan sampul buku antologi berjudul : "Sang Pendidik : Jalan Terang Penuh Cinta". Alhamdulillah, rancangan tersebut digunakan oleh perancang sampulnya dengan perbaikan pada beberapa bagian hingga buku tersebut diterbitkan. Tulisan pengalaman dosen dari berbagai perguruan tinggi, termasuk saya, ada di dalam buku tersebut.


Tanggal 12 Juli 2018, serta 18, 23, dan 24 Agustus 2018, bu Irma, sekretaris FDI menanyakan kepastian saya hadir di MUNAS FDI Semarang. Saya menjawab, diupayakan datang. Saya dikondisikan sekamar dengan pak Yanuardi Syukur yang akan menjadi salah satu pemateri di MUNAS FDI. Saat itu saya merasa perlu datang karena selain belum pernah temu darat, juga karena laptop bu Irma belum berhasil dipasangi Office 365 yang dibeli melalui saya, walau sudah dicoba dipasang di mana-mana.

Alhamdulillah, ada bantuan dana dari Area 306 untuk akomodasi saya ke Semarang. Saya harus singgah dulu ke Subang satu hari sebelum berangkat ke Semarang. Ada acara reuni GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin) yang harus saya ikuti di Subang, di mana saya dipercaya untuk menyampaikan pengalaman sebagai anggota dan pengurusnya. 

Acara GMA tersebut bersamaan harinya dengan keberangkatan saya ke Semarang. Kakak saya membantu menguruskan tiket Pesawat pulang-pergi Semarang-Bandung. Dan seperti biasa pesawatnya delay hingga satu jam lebih. Saya segera menghubungi bu Irma bahwa kemungkinan datang setelah pak Yanuardi mendarat di Semarang sehingga mungkin tidak bisa memenuhi permintaan bu Irma untuk pergi bersama-sama ke Hotel Gracia. 

Setibanya di Semarang, saya dihubungi oleh bu Irma. Beliau menanyakan posisi saya di Bandara, karena beliau dan yang lainnya setelah menjemput pak Yanuardi terus jalan untuk mencari makan. Saya sampaikan bahwa saya sudah tiba dan tidak perlu menjemput ke Bandara. Teman saya dari Relawan TIK Semarang batal menjemput karena istrinya sakit. Tadinya saya mau memanfaatkan voucher Taksi yang saya peroleh di acara Sebangsa. Namun taksi yang ditunggu tidak terlihat. Akhirnya saya menggunakan taksi lainnya.

Setibanya di hotel langsung saya menanyakan harga kamar. Lalu saya hubungi kakak untuk membantu booking melalui internet supaya harganya lebih murah. Hari itu akan ada banyak peserta MUNAS yang datang, dan mungkin saja jumlah kamar hotel yang disiapkan oleh panitia belum memadai. Dan ternyata benar saja, ada beberapa peserta yang tidak tertampung. 

Kamar yang saya pesan bermanfaat sehingga ada dua peserta yang bisa memanfaatkannya. Saya terbangun dari tidur yang kedua saat pak Djadja masuk ke kamar selepas subuh. Setelah salat subuh saya berbincang dengan pak Djadja, mulai dari kepemimpinan di Perguruan Tinggi hingga kepemimpinan di FDI. Beliau menyarankan agar saya ikut bursa calon ketua FDI atau menjadi sekretaris FDI. Namun saya sampaikan ke beliau bahwa saya merasa nyaman membantu FDI di bidang teknologi informasi. Lagi pula saya tidak bisa menghadiri MUNAS karena harus menghadiri rapat kampus.  

Temu darat pertama saya adalah dengan bu Irma. Beliau menunggu saya di depan hotel yang di belakang. Baru keesokan harinya saya bertemu dengan pengurus FDI lainnya yang selama ini berinteraksi di media sosial Facebook dan Whatsapp. Hari pertama MUNAS diisi oleh seminar. Sepanjang hari tersebut saya gunakan untuk memasang Office 365 di laptop nya bu Irma. Alhamdulillah, setelah berjam-jam berusaha akhirnya terpasang juga. 

Setelah mencicipi empek-empek Palembangnya bu Raden Ayu, saya pamit kepada semuanya karena harus segera menuju Bandara. Saya sampai di Bandung lepas Maghrib. Setelah itu saya menjalankan motor NMAX agak santai ke Garut, dan menyempatkan makan malam di Ampera. Sayangnya, makanan yang saya inginkan tidak ada, udang galah yang biasanya tersedia di rumah makan tersebut. Temu darat tersebut semoga memberikan tambahan rasa silaturahmi, yang tidak sekedar bertemu raga, tetapi tersampaikannya amaliah kasih di alam nyata. Dapat tersenyum di alam nyata merupakan tambahan sedekah bagi seorang relawan TIK. 


Minggu, 26 Agustus 2018

Temu Kangen Generasi Muslim al-Muhajirin


Subang, 26 Agustus 2018. Hari ini saya memenuhi undangan panitia Temu Kangen GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin) di kolam renang Ciheuleut Subang. Ada tugas yang harus ditunaikan dalam acara tersebut, yakni menyampaikan pengalaman selama aktif di Generasi Muslim al-Muhajirin. Karena itulah saya menyempatkan diri untuk ke Subang sebelum siangnya berangkat ke Semarang untuk menghadiri Musyawarah Nasional Forum Dosen Indonesia. 

Ternyata hari itu juga merupakan Milad GMA yang ke-25. Panitia sudah menyiapkan kue, lengkap dengan angka 25. Potongan pertama dilakukan oleh kang Heri yang dianggap yang paling dituakan oleh semua anggota GMA yang hadir. Potongan pertama tersebut diberikannya kepada ketua umum GMA pertama yang juga merupakan founder, mas Yudho Hertono Rifangi. 


Di dalam acara tersebut, saya menceritakan kronologis bergabung dengan GMA, pengalaman, serta pengaruh GMA bagi diri sendiri dan masyarakat. Diceritakan pada sore hari di tahun 1993 itu saya pulang dari kegiatan Pramuka dengan fikiran kalut oleh sebab konflik kubu-kubuan dalam kepengurusan penggalang yang saya pimpin. Tepat depan jembatan masjid al-Muhajirin, mas Yudho yang tengah duduk di jembatan tersebut memanggil saya untuk berbincang. Saya lupa isi lengkap pembicaraannya, hanya yang saya ingat, itulah kali pertama saya diberikan jalan untuk mengenal Islam sebagai solusi untuk keluar dari kekalutan tersebut.

Melalui mas Yudho saya dikenalkan sebuah buku berjudul Minhajul Abidien karya Imam al-Ghazali r.m. Buku tersebut sangat berpengaruh dalam perjalanan spiritual awal saya pada masa studi saya di SMA Negeri 1 Subang. Buku tersebut merupakan buku pembuka, sebelum buku-buku karangan guru-guru tarikat Syadziliyyah berdatangan saat saya kuliah di Garut. Saya menyebut fase tersebut sebagai fase langit, karena kekhasannya dalam "ketidakhadirannya" di "dunia".

Yang membuat saya begitu terikat dengan pemikiran tarikat ini adalah buku kedua yang ditunjukan oleh mas Yudho, yakni al-Hikam karya Ibnu Athoillah r.m. Buku itu sangat menakjubkan, sehingga walau dikhatamkan berulang-ulang selalu ingin mebacanya lagi. Karya spiritual ini ajaib karena mampu "menggerakan ruh". Dan karena penyaksian inilah saya semakin terikat dengan pemikiran tarikat ini. Oleh karena itulah anak lelaki saya yang kedua diberi nama Syazwan Asy-Syadziliyyah sebagai monumen kecintaan saya kepada para guru tarikat ini, khususnya Ibnu Athaillah r.m. 

Selama menjadi anggota GMA saya lebih banyak menghabiskan waktu di masjid al-Muhajirin dan di rumah mas Yudho dari pada di rumah. Bahkan sering kali saya baru pulang malam hari ke rumah atau menginap di rumah mas Yudho. Di rumah itu saya sering mendengar pemikiran Cak Nun dari tape dan menyanyikan lagu Kyai Kanjengnya yang berjudul Tombo Ati. Dakwah Islam dengan pendekatan socio-kulturan memang menjadi penciri GMA.

GMA tumbuh di tengah masyarakat yang saat itu sangat partisipatif. Kalangan mudanya aktif di organisasi kepemudaan (karang taruna), dan kalangan tua nya aktif di DKM. GMA menjadi jembatan antara kalangan muda dan tua. Sebagian tokoh kalangan tuanya ada yang tidak sejalan dengan pendekatan socio-cultural, sehingga saat GMA membawa keseniaan berupa nasyid gamelan atau teater ke dalam lingkungan masjid, hal tersebut menimbulkan persoalan. Tetapi GMA berhasil menjaga silaturahmi, walau disebut sebagai anak muda yang "mempermainkan agama".

Pengalaman memanfaatkan media itulah yang juga mempengaruhi saya saat menjadi santri di Ponpes Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut al-Musaddadiyah. Saya ingat kala itu organisasi santri yang saya pimpin mengundang santri siswa untuk menyimak video keislaman yang diputar melalui TV milik KH Asep Saepudin Musaddad - ketua Ponpes di pelataran masjid kecil al-Musaddadiyah. Beberapa waktu kemudian, KH Abdullah Margani Musaddad - ketua Ponpes Siswa al-Musaddadiyah membeli proyektor dan layarnya untuk kegiatan nobar santri mingguan di aula mini Ponpes. Penggunaan media (proyektor) / multimedia dalam dakwah ini sebenarnya merupakan penciri Prof KH Anwar Musaddad. 

Beberapa tahun yang silam saya mendorong mahasiswa pegiat TIK di kampus untuk melebarkan manfaatnya ke luar kampus. Saya ingin agar manfaat relawan dalam bidang TIK bagi institusi juga dirasakan institusi lainnya melalui relawan pelajar. Kumpulan relawan mahasiswa dan pelajar tersebut disebut Kelompok Penggerak TIK dan Kelompok Pengembang Platform TIK yang kemudian dilebur dalam satu wadah bernama Komunitas TIK dan bersatu di bawah Komunitas TIK Garut. Atas peranannya di tengah masyarakat, Komunitas TIK Garut mendapatkan penghargaan sebagai Komunitas TIK terbaik se Jawa Barat dari Gubernur Jawa Barat dan Bupati Garut. Upaya membangun jejaring pegiat TIK dari kalangan pelajar tersebut terinsfirasi dari Ikatan Pelajar Muslim Subang yang merupakan underbow nya bidang Pendidikan dan Dakwah GMA. 

Walau demikian, ada masa di mana saya keluar dari kebiasaan praktik socio-culture GMA saat mulai membaca karya pemikiran Ibnu Taimiah, Ibnul Qayyim Jauziyah, Ibnul Jauzi, dan lain sebagainya. Di antara praktik yang saat itu mulai saya tidak sepakati adalah tentang bersatunya ikhwan dan akhwat dalam pengajian cahaya. Saya adalah satu-satunya anggota dan pengurus GMA yang hadir dalam pengajian tersebut di belakang hijab dengan niat menghijabi diri dari akhwat. Era tersebut saya sebut sebagai era bumi. 

Namun syukurlah ikatan hati dengan Ibnu Athaillah ini yang membuat saya kembali bisa bersikap lunak terhadap tradisi dan memahami bahwa Islam dapat tumbuh di dalam local socio-culture. Walau demikian, perjalanan saya mengembara di alam pemikiran langit dan bumi memberi bekal dalam berinteraksi dengan kedua kelompok yang dianggap saling besebrangan ini. Saya mempelajari sikap moderat di tengah perbedaan dua kelompok ini dari Ibnul Qayyim Jauziyah melalui karyanya Madarijus-Salikin dan dari KH Choer Affandy saat mengaji buku Akidah Islamiyahnya di Ponpes al-Musaddadiyah, walau dalam praktiknya di media sosial banyak dimusuhi oleh kedua kelompok tersebut karena disalahfahami sebagai keberpihakan kepada salah satu kelompok.

Alhamdulillah, hari itu saya merasa senang menyampaikan ucapan terima kasih kepada mas Yudho dan anggota lainnya yang ikut membentuk Keislaman saya selama di GMA. Saya menyampaikan bahwa sedekah jariyah yang berbuah amal kebajikan penerimanya menjadi pahala atau investasi akhirat yang tidak terputus, yang harus disyukuri. Selepas salat Dzuhur dan makan siang, saya mohon pamit kepada semua anggota GMA yang hadir karena harus berangkat ke Bandung untuk mengejar waktu boarding di Bandara Husein. Dalam perjalanan menuju Bandung, saya mengingat tanggapan mas Yudho atas pemaparan pengalaman saya tersebut, bahwa manfaat GMA bagi kehidupan akan dicapai oleh mereka (anggota GMA) yang ikhlas berbuat semata mengharap ridha Allah. Mardhatillah ini merupakan ajaran utama beliau di GMA yang sangat diingat oleh banyak anggota dan pengurus GMA hingga kini. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa Mardhatillah. Amin. 


Senin, 06 Agustus 2018

Kurikulum Informatika untuk Mewujudkan Gagasan Kyai Anwar Musaddad


Kurikulum Prodi (Program Studi) Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang baru dibuat untuk membangun sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa sesuai visi atau luaran pembelajaran Prodi. Beberapa matakuliah di dalamnya ada yang membentuk pondasi, pilar, dan atap bangunan tersebut. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan pondasi bangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa. Tahun kedua hingga ketiga difokuskan pada pembangunan pilar bangunannya. Dan tahun keempat difokuskan pada pembangunan atap bangunan yang merupakan puncak bangunannya.  

Pemahaman mahasiswa terhadap kehidupan sosial khas dan ragam budaya di Indonesia dibangun melalui matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang berada dalam kelompok matakuliah Penciri Perguruan Tinggi. Mahasiswa didorong secara aktif untuk turut serta memetakan aktivitas sosial dan warisan budaya lokal Garut dengan menggunakan teknologi. Pengetahuan dan pengalaman lapangan tersebut diharapkan dapat mendekatkan mahasiswa kepada kearifan lokal sehingga dapat menjadi insfirasi atau pegangan dalam menghasilkan luaran pengajaran atau pemanfaatan teknologi / aplikasi informatika. Hal ini selaras dengan visi PS yang menekankan luaran harus berbasis kearifan lokal. Matakuliah penciri perguruan tinggi ditentukan memperhatikan visi PS. 

Visi : Menjadi Penyelenggara Program Studi Informatika Yang Unggul di Bidang Rekayasa Perangkat Lunak dengan Luaran Yang Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal pada Tahun 2030

Pengetahuan dan pengalaman lapangan tersebut diharapkan dapat memudahkan mahasiswa untuk memahami Pancasila yang merupakan konsensus hidup bersama dari bangsa Indonesia yang memiliki karakteristik sosial khas nusantara dan budaya yang beragam. Penerimaan terhadap kekhasan karakteristik sosial dan keragaman budaya Indonesia menguatkan penerimaan mahasiswa terhadap Pancasila. 

Budaya masyarakat Indonesia tentu saja berkembang sebagaimana budaya bangsa lainnya, di antaranya dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi. Indonesia sebagaimana bangsa lainnya tengah memasuki era revolusi industri 4.0 dengan struktur budaya baru yang dikenal dengan masyarakat informasi. Tujuan umum masyarakat informasi adalah mendapatkan keuntungan kompetitif dari informasi yang tersedia secara global menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Penyediaan informasinya melibatkan berbagai jenis sistem informasi yang aktivitasnya ditunjang oleh komponen sumber daya teknologi informasi (perangkat lunak, perangkat keras, perangkat jaringan, dan perangkat data), serta sumber daya manusia (pengguna akhir dan pengguna spesialis). 

Untuk melengkapi pemahaman mahasiswa terhadap budaya Indonesia yang berkembang, khususnya terhadap masyarakat informasi Indonesia sebagai budaya baru di Indonesia, maka diberikan matakuliah Komputer dan Masyarakat yang menjelaskan bagaimana masyarakat memanfaatkan komputer dalam kehidupannya sehari-hari. Pemahaman mahasiswa terhadap sistem informasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat informasi secara personal atau di dalam organisasi sebagai sumber informasi dibangun melalui matakuliah Sistem dan Teknologi Informasi. Keterampilan teknologi informasi dan komunikasi dasar yang dikuasai oleh pengguna akhir diberikan melalui matakuliah praktikum Sistem dan Teknologi Informasi agar mahasiswa dapat menjadi bagian masyarakat informasi atau berperilaku sebagaimana halnya individu dalam masyarakat informasi. Dengan demikian mahasiswa telah menempuh dua tahapan penting dalam membangun struktur budaya masyarakat informasi, yakni penyadaran serta pelatihan teknologi informasi dan komunikasi dasar. Hal tersebut sejalan dengan semboyan Prodi yakni the Power of Digital Culture

Visi PS mengamanatkan agar luaran pembelajaran mahasiswa berdaya saing global. Sementara budaya baru masyarakat informasi di era revolusi industry 4.0 mengkondisikan setiap individu untuk menguasai dan mengendalikan informasi di dunia nyata dan maya agar mendapatkan kesuksesan atau daya saing global. Matakuliah Bahasa Inggris diberikan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang memudahkan akses serta penyebaran data dan informasi global.

Prof KH Anwar Musaddad merupakan tokoh nasional yang ikut serta merumuskan gagasan Pesantren Luhur. Beliau mendirikan Yayasan al-Musaddiyah untuk mewujudkannya gagasan tersebut. Gagasannya diwujudkan dalam boarding schools dengan tujuan untuk mencetak socio-religious leader. Prodi Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang berada di bawah naungan Yayasan al-Musaddadiyah mengemban amanat mewujudkan gagasan tersebut. Mahasiswanya harus dibentuk sebagai pemimpin di tengah masyarakatnya yang selalu mempertimbangkan faktor atau melibatkan kombinasi elemen sosial dan agama. Prof KH Anwar Musaddad menyebutkan sifat pemimpin tersebut, antara lain : tidak emosional, terbuka, berorientasi ke depan, tidak “kurung batok”, efisien, dan produktif. Hal tersebut dapat mewujudkan pribadi Pancasilais yang Berketuhanan YME dan berkeadilan sosial. 

Matakuliah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah merupakan landasan bagi pembangunan pribadi socio-religious leader. Matakuliah kelompok penciri perguruan tinggi ini disediakan upaya untuk mempertahankan Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar senantiasa menjadi boarding school, sebagai upaya Prodi dalam melanjutkan gagasan Pesantren Luhur Prof KH Anwar Musaddad selaku pendiri Yayasan al-Musaddadiyah. Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dipilih oleh Prof KH Anwar Musaddad sebagai elemen agama yang membentuk socio-religious leader. Karakteristik pribadinya dibangun oleh sikap, pengetahuan, dan keterampilan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang meliputi akidah, akhlak / adab, dan ibadah / amaliah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

Elemen sosialnya diidentifikasi oleh mahasiswa dari matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Komputer dan Masyarakat, dan Pancasila. Pemahaman terhadap struktur budaya baru yang dibentuk oleh matakuliah Komputer dan Masyarakat serta penempatan diri di dalamnya melalui matakuliah Sistem dan Teknologi Informasi membantu penciptaan karakter socio-religious leader yang berorientasi ke depan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi membentuk karakter efisien dalam bertindak. 

Komunikasi efektif sangat penting bagi semua pemimpin. Agar menjadi efektif, pesan yang mengalir antara pengirim dan penerima dalam proses komunikasi harus bebas dari semantic noise. Matakuliah Bahasa Inggris dan Indonesia disediakan untuk mengatasi noise tersebut. Kesuksesan mahasiswa dalam mengentaskan noise tersebut dapat menjadikan dirinya sebagai socio-religious leader yang efisien dan produktif. Kondisi tanpa semantic noise menjauhkan mahasiswa dari kesalahfahaman yang dapat memicu emosi. Idealnya mahasiswa atau lulusan sebagai socio-religious leader mampu bersikap tidak emosional, namun setidaknya socio-religious leader dapat menghindarkan diri dari segala kemungkinan yang dapat memicu emosi. 

Penguasaan Bahasa Indonesia dan Inggris memberi bekal bagi mahasiwa untuk bepergian jauh di dunia nyata dan maya sehingga tidak “kurung batok”. Penguasaan tersebut juga menunjang produktifitas dan kualitas publikasi luaran pembelajaran dan lainnya. Matakuliah Bahasa diletakan pada semester pondasi bangunan (satu dan dua) karena menunjang pembangunan pilar dan atap bangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa. Pengalaman  dan pemahaman terhadap keragaman dapat membentuk sifat terbuka.