Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 12 November 2022

Tuhan dan Sistem Biner Nya


Tuhan menciptakan sesuatu secara berpasangan. 

"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)" (QS. Az Zariyat: 49).

Sebagai anak informatika saya menyebutnya sistem biner yg dapat tersaji dalam bentuk hidup dan mati, terang dan gelap, kebenaran dan kebatilan, golongan kanan dan kiri, jalan lurus dan menyimpang, atau semisal lainnya. Setiap unit terkecil nya dapat terbagi menjadi dua, seperti jalan menyimpang terbagi menjadi jalan yg ditempuh kluster sesat dan dimurkai.

"Tunjukilah kami jalan yg lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” (QS. al-Fatihah: 7)

Setiap unit terkecil memiliki intensitas positif atau negatif minimum hingga maksimum, sehingga intensitas biner nya akan membentuk polaritas negatif dan positif. Sebagai contoh gelap yg berangsur menghilang krn digantikan oleh terang yg meningkat intensitasnya secara bertahap, dan demikian pula sebaliknya. Proses tersebut menciptakan gradasi yg indah. Dalam contoh pelangi, rentang polarisasi itu membentuk beragam warna. Lapisan yg rapi itu utk mewujudkan keseimbangan, sebagaimana hal nya lapisan langit.

“Dia (Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk : 3)

Demikian pula manusia dlm proses pembentukannya, berubah dari pendek atau kecil menjadi tinggi atau besar, dan dalam rentang usia tertentu manusia diberikan pelayanan dan tempat yg khusus. Dgn adanya sistem biner dan polaritasnya, kita dapat memahami kenapa manusia tdk dapat menjadi satu kelompok saja di dunia ini. Bahkan di akhirat sana, Tuhan menyediakan 7 surga dan 7 neraka yg akan diisi oleh kelompok berbeda. Semua terjadi karena sistem biner yg Tuhan ciptakan agar manusia melihat kehebatan Nya.

"Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan". (QS. an-Nahl: 93)

Sistem biner itu hanya ada dua dan tdk ada yg ketiga. Keduanya saling bertentangan, sehingga tdk ada sesuatu yg memiliki keadaan bertentangan sekaligus. Sebagaimana kebenaran yg berlawanan dgn kebatilan dan tdk dapat tercampur.

"Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. Padahal kalian menyadarinya,” (QS. Al-Baqarah: 42).

Larangan mencampur menunjukan sifat keduanya yg berlawanan. Salah satu unsurnya memiliki dua kondisi yg berlawanan, yakni tersembunyi dan terekspos. Setiap unitnya memiliki polaritas dgn rentang sangat tersembunyi hingga sangat terekspos. 

Aturan tersebut merupakan tiga kaidah berfikir, mencakup 1) law of identity, di mana A=A, dan B=B, tdk mungkin A=B; 2) Law of Non-Contradiction, di mana tdk mungkin kondisinya A dan B; dan 3) Law of Ecluded Middle, di mana salah satunya harus benar, tdk mungkin ada yg ketiga. 

Pilihan banyak itu hanya ada dalam A atau B. Bila A adalah kebenaran, maka a1, a2, ... an mewarisi kebenaran tsb, sehingga kita bisa memilih lebih dari satu a. Walau a1 berbeda dgn a2, tetapi nilai keduanya sama, yakni benar. Seperti kita boleh memilih lebih dari satu cara hidup, tetapi tdk boleh memilih satu pun cara utk mati (bunuh diri). 

"Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Senin, 07 November 2022

Kemudahan yang tidak bisa Dipaksakan


Kemarin ada seorang pria datang ke rumah dan meminta nasi utk anaknya. Saya lihat dia bersama istri dan anak-anaknya. Istri dan anak perempuannya bercadar, sementara dia dan anak laki-lakinya mengenakan pakaian khas tertentu. Kemudian saya meminta istri untuk segera menyajikan nasi dan lauk di ruang tamu.

Saya memanggil dia utk datang bersama keluarganya. Pria berlogat Jawa tersebut menceritakan musibah yg menimpanya. Tasnya yg berisi uang hilang diambil orang saat berada di kendaraan umum. Dia berniat pulang ke Solo dgn berjalan kaki atau menumpang truk. Saya pun iba mendengarnya, terlebih dia membawa anak  kecil.

Setelah selesai salat Dzuhur, saya menghampirinya. Saya menawarkan bantuan, mengantarkannya dgn kendaraan. Saya berniat membelikan tiket bus utk mereka. Saya berkata, "Ikutlah dgn saya agar perjalanan pulangnya lebih ringan".

Tetapi pria itu menolak dan mengatakan hidangan nasi saja sudah sangat cukup. Saya mencoba meminta istrinya utk menjawab tawaran saya, tetapi istrinya tdk berkata apa-apa. Kemudian saya berkata, "Baiklah, setidaknya saya sudah menawarkan bantuan".

Sebenarnya secara alami, manusia akan cenderung pada kemudahan. Saat manusia berada dlm kesulitan dan melihat ada kemudahan, manusia akan melihatnya sebagai kemudahan dari Allah. Tetapi tdk semua orang terbiasa menerima sesuatu dari orang lain.

Saya bisa saja memaksanya utk menerima bantuan ini, terlebih saya mengharapkan kemudahan yg Allah janjikan bagi siapa saja yg memberi kemudahan bagi orang lain. Tetapi saya merasa khawatir paksaan itu malah menjadi kesulitan bagi dirinya, sehingga saya dgn berat hati membiarkannya berjalan bersama keluarganya.

#BiografiCahyana

Minggu, 30 Oktober 2022

Nikmat Berlebih

Saya membaca kutipan perkataan kyai Gus Baha. Kemudian saya mulai berfikir bahwa semua yg kita nikmati, baik kecukupan atau kebahagiaan, hakikatnya adalah pemberian Allah. Hal tsb mengharuskan kita utk lebih berharap kpd Allah dari pd harapan kpd siapapun, krn selain Allah pastinya memiliki keterbatasan dlm memenuhi semua harapan. 

Apa yg kita nikmati, mungkin akan terasa tdk layak bagi kita, terlalu mewah, bila mengingat segala kekurangan yg ada pada diri, sehingga pemberian Nya itu benar-benar merupakan pemberian berlebih. Bila pemberian itu kemudian terasa kurang atau berkurang, kita tdk berani mengeluhkannya krn merasa malu kpd Nya.

#PersepsiCahyana

Kamis, 27 Oktober 2022

Peran Agen Teroris dalam Kampanye Distrust


Kemenangan terorisme itu ternyata tdk perlu meletuskan peluru, cukup meletuskan prasangka. Di saat aksi teroris digagalkan oleh aparat keamanan di dunia nyata, akan ada netizen yg melanjutkan serangan mereka kpd aparat keamanan di dunia maya dgn beragam prasangka. Netizen tsb menjadi agen yg melaksanakan kampanye distrust meluas di media sosial secara sukarela. Teroris akan merasa senang bila distrust dapat melemahkan pemerintah.

Kampanye tsb merupakan dukungan secara tdk langsung terhadap terorisme. Netizen yg menjadi agen boleh jadi tdk terafiliasi dgn organisasi teroris dan hanya sekedar memanfaatkan pemberitaan utk meluapkan emosi. Aparat keamanan harus menangani terorisme dgn baik agar tdk ada peluang kesalahan yg dimanfaatkan oleh para agen sebagai bahan kampanye distrust. Agen yg tengah melakukan kampanye buruk dlm kondisi mabuk emosi harus segera disiram dgn air pengetahuan.

#PersepsiCahyana

Jumat, 21 Oktober 2022

Kembali lah sebagai Nyai


Beberapa tahun ke belakang saya bertemu dgn seorang mantan nyai - istri kyai. Ia bercerita bahwa pada awalnya ia adalah seorang mualaf, bertemu dgn kyai di pesantren, dan dinikahkan sebagai istri ke sekian. Ia memutuskan utk berhenti jadi nyai krn tdk cocok dgn lingkungan pesantren yg berbeda dgn lingkungan keluarganya. Perbedaan itu membuatnya merasa tdk bebas, sehingga akhirnya memutuskan utk berhenti menjadi nyai. Padahal kyai dan anak tiri nya sangat sayang dan berharap ia kembali. Namun dlm kebebasan yg dijalani nya ia merasa tdk bahagia. Ia merasa tdk nyaman dgn sikap santri yg menurutnya terasa feodal dan ia tdk siap dimadu.

Saya jelaskan kpd nya bahwa sikap santri itu bukan feodal, tetapi sikap hormat kpd orang yg memiliki keutamaan ilmu. Hal berbeda dgn sikap merendah seseorang kpd penguasa krn jabatan atau kpd hartawan krn kekayaannya yg merupakan sikap feodal yg tdk diperbolehkan di dalam Islam. Saya pun menjelaskan kpd nya bahwa kyai yg sejalan dgn Nabi itu menikahi banyak wanita bukan krn memperturutkan hawa nafsu, tetapi utk menyambung tali kekerabatan dgn keluarga besar pesantren lainnya atau dgn kelompok masyarakat tertentu yg dipandang berpengaruh, dan tujuan lain yg mengarah kpd syiar Islam.

Setelah ia memahami penjelasan tsb dan dapat menerimanya, saya menyarankannya utk kembali kpd kyai dan anak tiri yg disayanginya. Saya katakan, kembali lah sebagai nyai dan lupakan pria lain yg ingin mempersuntingnya sebagai istri ke sekian. Saat itu ia kaget karena saya menyebut nama pria yg bermaksud mempersuntingnya. Saya memberi nasihat demikian karena berhasil diyakinkan oleh dirinya kalau kyai selalu menanti kepulangannya ke pondok pesantren. Dan Alhamdulillah, beberapa hari kemudian ia mengabarkan akan kembali, dijemput oleh anak tirinya. Ia berjanji akan mengundang saya ke pesantren apabila sudah kembali ke sana.

Sebenarnya saya tdk ingin mengingat pengalaman tsb, sehingga saya tdk menyimpan nomor kontak nya atau akun facebook nya. Dan saya tdk memandang penting janjinya, krn yg penting bagi saya ia dapat kembali ke lingkungan yg jauh lebih baik dari lingkungan bebas nya. Dalam cerita ini saya tdk menyebutkan nama pesantren dan lokasinya di mana, sebab yg terpenting adalah pelajaran yg dapat saya petik dari pengalaman tsb, bahwa seseorang dapat merasa tdk cocok dgn lingkungan karena belum memahaminya dgn baik, dan lingkungan lain yg menurutnya baik belum tentu menyediakan kasih sayang yg tulus dan masa depan yg baik.

Selamat Hari Santri Nasional
#BiografiCahyana

Minggu, 09 Oktober 2022

Kesetaraan dan Daya Tarik

Sabtu, 8 Oktober 2022, saya menghadiri acara Alumni GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin). Sebelum berangkat ke sana, saya memikirkan kalam Allah tentang kemuliaan orang bertakwa di sisi Allah dan kisah Adam dan Iblis di surga. Kisah tersebut ternyata menjadi bahasan mas Mury dalam acara tsb, hanya saja firman Allah tersebut tdk masuk dlm materi ttg sifat sombong. 

Selepas sesi materi tsb, saya diminta oleh mas Lucky untuk menyampaikan pendapat ttg komunitas Alumni GMA. Saya mengawalinya dgn pengertian kata komunitas dari Kamus Besar yg berarti sekumpulan orang yang meminati sesuatu. Apa yg alumni minati terganbar dari perjalanan mereka dari awal bergabung. Saya pribadi dari awal bergabung sangat tertarik dgn pengkayaan pengetahuan, sehingga sampai sekarang masih sering membagikan tulisan dan membangun diskusi keilmuan di WAG GMA. Pengkayaan tsb bagi saya merupakan jalan mencintai diri sendiri dan teman diskusi yg meminati ilmu.

Selanjutnya saya fokus pada isi materi pembahasan dlm dua pertemuan alumni yg mengangkat pesan tentang kesetaraan. Kebetulan pesan tsb berkaitan dgn ayat al-Qur'an yg relevan namun belum muncul di dua pertemuan tsb. Saya kutip firman Allah SWT tentang kedudukan mulia dari ayat berikut: 

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS al-Hujurat: 13)

Saya sampaikan bahwa atribut terpenting dari alumni bukanlah atribut keduniaan seperti harta atau jabatan, sehingga atribut tersebut seharusnya tdk menjadi gangguan dlm interasi. Atribut terpenting adalah takwa yg hanya diketahui secara persis oleh diri masing-masing dan Allah selaku penilai. Sekalipun setiap orang dapat beramal takwa dan berlomba-lomba di dalamnya, tetapi tdk ada seorang pun yg dapat merasa paling bertakwa dari orang lain sebab tdk ada yg bisa menilai secara persis kecuali Allah saja. 

Demikianlah alumni dari awal bergabung dan seharusnya sampai sekarang, yakni senantiasa beramal takwa semata krn mengharap ridha Allah, sebagaimana diajarkan oleh al-maghfurllah mas Yudho semasa kepemimpinannya di GMA. Dlm pertemuan terakhir sebelum meninggal beliau berpesan dgn mengutip firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim: 6)

Pesan itu bagi saya pribadi merupakan isyarat agar alumni GMA yg telah berkeluarga mulai berperan sebagaimana beliau di GMA, yakni mengajarkan mardhatillah kpd keluarga masing-masing, menjadikan rumah sebagai representasi GMA di level keluarga. Peran alumni tdk lagi menjadi pendengar pesan mardhatillah, terlebih sumber pesannya telah melanjutkan perjalanan di alam lain, tetapi sebagai penyampai pesan berdasarkan pengalaman yg selama ini diperoleh di GMA.

Selepas acara saya singgah di rumah mas Lucky. Bagian yg selalu saya sukai dari interaksi dgn nya adalah diskusi. Sebagian besar anggota GMA berbagi pengetahuan tdk dgn menjadi pemateri, tetapi menjadi mitra diskusi. Malam itu kami mendiskusikan banyak persoalan, mulai dari pemikiran ulama dlm garis keilmuan syadziliyyah, seperti syekh Ibn Athoillah dan Imam al-Ghazali, hingga pembelajaran mesin yg menjadi topik riset saya. 

Kami bersepakat dgn berdasarkan pendapat Ibn Athaillah bahwa menjadi hamba Allah itu dimulai dari meniatkan semua amal baik krn Allah. Ini sejalan dgn konsep mardhatillah yg secara luas dapat merubah amal baik apapun sebagai ibadah. Sebagai anak informatika, saya akan menjadi hamba Allah dgn meniatkan semua amal profesi semata krn mardhatillah. Imam al-Ghazali secara khusus menyusun tangga-tangganya dalam kitab Minhajul Abidin. 

Dulu ibu berharap setelah saya menimba ilmu di pondok dapat melaksanakan tugas keagamaan. Sebagai orang yg lebih mendalam dlm bidang informatika, saya menghindari tugas yg tdk dikuasai secara keilmuan. Saya memilih tugas relawan TIK atau literasi digital yg secara substantif sejalan dgn ajaran Islam. Melawan ujaran kebencian dan hoax adalah amal ibadah yg saya lakukan sebagai anak informatika. Mengingatkan keluarga besar GMA di WAG alumni akan bahaya konten hoax merupakan pengamalan pesan menjaga keluarga dari api neraka. Terkadang saya harus berdebat utk melaksanakan tugas tersebut.

Saya mengutip pendapat Imam al-Ghazali dalam Ayyuhal Walad, bahwa berdebat itu boleh dgn niat utk menyampaikan kebenaran dan mengambil kebenaran dari siapapun. Kebenaran manusia itu nisbi, sehingga kebenaran itu menjadi kebenaran selama belum ada yg meruntuhkannya. Oleh karena itu, sikap saya yg meyakini suatu kebenaran harus memastikan kebenaran tsb kokoh sampai ada argumentasi yg meruntuhkannya. Dalam upaya tersebut, orang mungkin akan merasa saya sedang memaksakan kebenaran yg diyakini. Padahal sebenarnya bukan memaksakan pendapat, tetapi menunjukan kekokohan argumentasi yg mendasari kebenaran yg diyakini. 

Keyakinan itu harus kokoh, sehingga setiap orang harus memiliki argumentasi yg kuat. Apabila nampak ketidak kokohannya, seseorang harus memilih utk merevisi kebenaran yg diyakininya atau memperbaiki argumentasinya. Revisi pengetahuan merupakan bagian dari daur hidup manajemen pengetahuan. Di fase tersebut manusia menyadari sifat nisbi pengetahuannya, sehingga dapat berendah hati, mengamalkan ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk. 

Dalam kaitan ujaran buruk, mas Lucky menolak siapapun yg berharap musibah bagi orang lain. Ia mengatakan bahwa semua manusia adalah hamba Allah Yang Maha Pengasih kepada umat Manusia. Kita tdk bisa membayangkan bagaimana Allah saat mendengar seorang hamba memohon kebinasaan bagi mahluk ciptaan yg selalu ditunggu Nya di pintu ampunan dan hidayah. Saya mengatakan kpd mas Lucky bahwa menurut ulama (imam al-Ghazali dalam Bidayah al-Hudayah), di akhirat sana Allah tdk akan bertanya apakah kita sudah menghujat Iblis, tetapi kenapa kita menghujat sesama manusia?. 

... Bahkan seandainya pun kau tidak pernah mengutuk Iblis sepanjang hidupmu, dan tidak menyebutnya sekalipun, engkau pun tidak akan ditanyai dan tidak akan dituntut oleh Allah nanti di hari kiamat. Tetapi jika kau pernah mengutuk seseorang makhluk Allah, kelak kau akan dituntut (pertanggung jawabannya oleh Allah SWT)

Oleh karenanya hamba Allah harus baik dlm menggunakan lisan ini agar tdk menimbulkan ketidakridhaan Allah dan konsekuensi buruk. 

Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam (HR Bukhari dan Muslim)

Diskusi tersebut saya pungkas dgn pembahasan tentang pembelajaran mesin. Saya berpendapat bahwa di masa depan, saat manusia mengendalikan kualitas mesin dgn ketat, mesin akan tampil sebagai contoh perilaku baik bagi manusia. Di masa lalu, manusia menarik mesin yg berperilaku buruk sebagai akibat interaksinya dgn perilaku buruk manusia di media sosial. Hal tsb menunjukan kecenderungan manusia utk menjadikan mesin sebagai karya ciptanya yg bermanfaat bagi umat manusia, mesin sebagai cerminan manusia yg rahmatan lil alamin. 

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam (QS al-Anbiya: 107)

#BiografiCahyana

Jumat, 07 Oktober 2022

Kesaksian dan Pensucian


Seseorang bertanya di dalam mimpi, apakah saya sudah dibaptis? Saya menjawab, bahwa "pembaptisan" bagi (dlm pemahaman saya selaku) seorang muslim terjadi di alam Azali ketika ruh bersaksi atas Ketuhanan Allah, sehingga ia terlahir dalam keadaan suci dan memiliki satu Tuhan.

Pertanyaannya cukup menarik, sebab seharian kemarin saya tdk berinteraksi dgn istilah tsb atau persoalan terkait. Biasanya mimpi saya itu mengulang apa yg saya lalui seharian hingga aktivitas terakhir sebelum tidur, setelah itu bangun. Selepas salat Subuh saya buka internet utk mengetahui istilah tsb, sehingga saya memahami kenapa jawabannya seperti itu. Tentu saja istilah tsb tdk dikenal dlm Islam, namun ada rutinitas muslim yg mirip dgn tujuan kesaksian dan pensucian yg berbeda. 

Aktivitas salat merupakan realisasi pengakuan atas Ketuhanan tsb di alam dunia ini, di mana seorang abid berdo'a atau bersujud hanya kepada Ma'bud nya dalam keadaan telah bersuci atau berwudhu. Sebelum salat seorang muslim berwudhu, membasuh anggota tubuh dari tangan hingga kaki. Menurut suatu riwayat, dosa seorang muslim terhapus saat berwudhu. Seorang muslim yg baik melakukan aktivitas tsb minimal lima kali dalam sehari.

Aktivitas tsb sangat bermanfaat bagi seorang muslim. Seorang bayi atau mualaf yg awalnya suci dari dosa suatu saat pasti akan melanggar larangan Tuhan atau melakukan dosa kembali, sehingga ia memerlukan penghapusan dosa atau pahala kebaikan yg dapat mengalahkan beban dosa. Ada banyak fasilitas selain wudhu dan salat yg disediakan Tuhan utk kebutuhan tsb. Dosa dan fasilitas tsb menjadi pengingat sepanjang hidup di dunia bahwa seorang abid akan selalu membutuhkan Ma'bud nya dlm segala kelemahan atau kekurangan dirinya.

#BiografiCahyana