Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Senin, 26 Januari 2009

Aku Adalah Hijab Yang Diam Diantara Segala Gerakan

Aku bersaksi bahwa Alloh meliputi (menguasai segala hal dalam diri) hamba-Nya. Tidak ada yang lepas dari genggaman-Nya. Ku saksikan dengan pandangan lahirku, bahwa mahluk adalah bukan Alloh. Dan aku tak dapat mengungkapkan pandangan batinku, karena aku tidak memiliki kelayakan untuk mengemukakan pandangan tersebut.

Kekuasaan Alloh meliputi bagian terluar (lahir) ku hingga bagian terdalam (batin). Walaupun demikian, aku bukanlah Dia. Aku adalah mahluk-Nya, sebagai manifestasi perbuatan, kekuasaan, dan kemampuan-Nya. Dan Alloh adalah pemilik perbuatan, kekuasaan, dan kemampuan yang sempurna dan tak terhingga.

Pada saat aku melihat segala hal pada diriku adalah gerakan-Nya, aku tersadar, kemudian melihat bahwa selama ini diriku terhijabi. Hijaban ini telah menyebabkan aku melihat bahwa diri ini tidak digerakan oleh Alloh.

Yang terlihat dalam hijaban hanya semata wilayah terluar, yang meliputi diriku, langit dengan gugusan bintangnya, dan bumi dengan hamparan tanah dan samuderanya. Sementara wilayah terdalam, yakni batinku, dan alam Ghaib seringkali tidak tersaksikan.

Jika hijab yang menutupi ku dari wilayah terdalam dihilangkan, maka akan tampak oleh ku bahwa diri ini adalah hijab yang tidak menghijabi1, bahwa diri ini adalah sesuatu yang menyaksikan dirinya sendiri, sehingga sampailah aku kepada esensi diri ini.

Dalam penyaksian tersebut, aku melihat bahwa diri ini bukanlah sesuatu yang hilang bersama hilangnya wilayah luar ataupun dengan wilayah dalam2. Bahkan keadaan diri ini menjadi lebih nyata setelah hilangnya kedua wilayah tersebut.

Dalam penyaksian ini, aku melihat bahwa diriku adalah sesuatu yang terdiam, seumpama kain hijab yang diam karena angin tidak meniupnya. Tatkala Alloh menghendaki agar aku bergerak (sehingga kemudian bergerak), tetapi dalam penyaksian setelah hilangnya kedua wilayah tersebut, aku tidak melihat dirinya bergerak sedikitpun. Aku telah lepas dari ikatan ruang dan waktu yang ikut hilang bersama wilayah dalam dan wilayah luar. Untuk melihat gerakan dirinya, maka aku harus terikat oleh ruang dan waktu (memasuki salah satu dari kedua wilayah tersebut) yang tidak bebas (dibatasi oleh Alloh).

Kenyataan ini membuat ku merasa bahwa diri ini seakan tidak ke mana-mana (tidak bergerak). Aku hanya menyaksikan kepada citra diri yang tidak bergerak dan bukan kepada realita diri yang bergerak. Aku melihat bahwa esensi diriku bukan diri yang bergerak, tetapi diri yang tidak bergerak. Seakan-akan aku seumpama matahari yang planet-planet berputar mengelilinginya. Tubuhku, fikiran, alam semesta, serta segala sesuatu selain diriku adalah sesuatu yang bergerak disekitarku.

Setelah penyaksian tersebut, aku melihat dua hal sebagai berikut:Pertama, esensi diriku berada dalam ruang, dan tidak bersatu dengan ruang. Esensi tersebut adalah dzat ku, sementara ruang bukanlah diriku. Jika tanpa dikuasakan oleh Penguasa ruang dan waktu, maka mustahil ruang dapat menguasai ku dan aku menguasai ruang.Kedua, aku memang terikat oleh waktu, tetapi waktu bukanlah diriku dan aku bukan sang waktu.
Catatan :1 Dalam kesadaran sebagai hijab, aku yang melihat ke wilayah terdalam tidak lagi melihat diri ini sebagai hijab.2 Aku tidak lagi menyaksikan wilayah dalam atau wilayah luar, tetapi menyaksikan sesuatu yang tidak dapat dilihat lagi kecuali diriku sendiri.

5 komentar :

  1. Haduh..haduhh
    berat nian postingannya.
    no komen ah

    BalasHapus
  2. ruang dan waktu...dimensi yang nyata ada tapi tersamar dalam pandangan...

    yang kutahu...aku tak miliki waktu tapi aku bisa mengaturnya meski dalam batas yang teramat tipis....

    BalasHapus
  3. Sayangnya, pengaturan yang dilakukan hamba tidak merubah waktu yang diperuntukan Tuhan baginya. Hamba tidak keluar dari waktu yang ditentukan Tuhan untuk dirinya, sekalipun dia menganggap telah mengatur waktu. Batas itu hanya pada penglihatan ...

    BalasHapus
  4. pilkada DKI putaran ke 2
    semoga jaya selalu yah pariwisata indonesia di daerah daerah

    BalasHapus
  5. Teori Instein mengatakan, kecepatan cahaya menembus ruang dan waktu

    BalasHapus

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya