"Setiap urusan penting yang tidak dimulai dengan 'Bismillahirrahmanirrahiim', maka amalan tersebut terputus (kurang berkah)." (HR. Al-Khatib dalam Al-Jami', Al-Abdul Haki dalam Al-Arba'in)
"Dengan menyebut nama" adalah tanda awal niat baik yang terlihat dari tangan dan kaki kanan yang bergerak mengawali perbuatan baik [1]. Namun, siapa nama yang harus disebut? Tentu saja "Allah". Jika bukan karena kehendak-Nya, niat dan gerakan awal tersebut tidak mungkin ada [2].
Cukup melihat wajah kebaikan Allah, tidak perlu melihat wajah siapa pun yang diciptakan-Nya. Setiap hamba yang sadar diri akan duduk menundukkan wajah keakuan dengan kekuatan rendah hati. Api Tuhan kemudian meleburkan wajah keakuannya, sehingga yang terlihat atau tersisa untuk dipikirkan dan dibaca di dalam hati hanya cahaya asma Tuhan.
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan." (QS. al-Alaq: 1)
Niat yang baik harus diwujudkan dengan cara yang baik [3], seupama tangan kiri yang mengikuti tangan kanan dan kaki kiri yang mengikuti kaki kanan. Cara baik mewujudkan perbuatan "Sang Maha Pengasih" yang bermanfaat bagi umat manusia seluruhnya dan perbuatan "Sang Maha Penyayang" yang bermanfaat bagi mereka yang beriman [4]. Memilih cara baik adalah bukti ketaatan yang hanya terwujud bila api Tuhan telah meleburkan keakuan [5].
Dengan demikian, mulai dari niat dan cara, tidak ada selain Dia yang terlihat. Hal tersebut hanya bila niat dan cara baik mengikuti Nabi Muhammad SAW [6], berserah diri, menyerahkan keakuannya, demi hak Tuhan dan Utusan-Nya yang dicinta, karena "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah".
"Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya, serta bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya… maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga bagaimanapun amal perbuatannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
#ratisejiwa
[1] "Termasuk sunnah adalah memulainya dengan kaki kananmu ketika masuk masjid, dan memulainya dengan kaki kirimu ketika keluar masjid." (HR. Al-Hakim)
[2] "(Yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir: 28-29)
[3] "Sesungguhnya Allah SWT itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik..." (HR. Muslim)
[4] Abdullah bin Abbas berkata, "Ar-Rahman artinya Yang Maha Pemurah bagi seluruh makhluk-Nya, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang khusus bagi orang-orang yang beriman."
[5] "Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: 'Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku memperoleh petunjuk di tempat api itu. Maka ketika ia datang ke tempat api itu, ia dipanggil: 'Hai Musa. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua sandalmu; sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Tuwa. Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu). Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 11–14)
[6] "Katakanlah (Muhammad): 'Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.' Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali 'Imran: 31)
Terinspirasi gambar semasa bujang yang ditempel di papan majalah dinding Madrasah Diniyah Bahrul Ulum. Saat itu, sahabat Generasi Muslim al-Muhajirin bertanya maksudnya, dan saya tdk menjawabnya. Tahun ini saya baru menyadari, ternyata gambar tsb selaras dengan tulisan Ibn Athaillah dalam Miftahul Falah wa Misbahul Arwah, setelah membacanya. Butuh puluhan tahun utk bertemu penjelasannya dari ulama Syadziliyah ini:
Zikir tersebut terbang masuk ke dalam dirimu untuk menyadarkanmu dari kondisi tidak sadar kepada kondisi hudhûr (hadirnya kalbu). Salah satu tandanya, zikir itu akan menarik kepalamu dan seluruh organ tubuhmu sehingga seolah-olah tertarik oleh rantai. Indikasinya, zikir tersebut tak pernah padam dan cahayanya tak pernah redup. Namun, engkau menyaksikan cahayanya selalu naik turun, sementara api yang ada di sekitarmu senantiasa bersih menyala. Zikir yang masuk ke dalam sir terwujud dalam bentuk diamnya si pelaku zikir seolah-olah lisannya tertusuk jarum. Atau, semua wajahnya adalah lisan yang sedang berzikir dengan cahaya yang mengalir darinya.
0 comments :
Posting Komentar
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya