Semua konsep dari tulisan tergambar dalam pikiran. Konsep tsb tdk bisa diindera, namun tulisan mewujudkannya, membuktikan konsep itu ada [1]. Begitupun bila Tuhan tdk terindera, bukan berarti Dia tdk ada. Dia bisa dikenali dari perbuatan Nya yg terindera, sebagai bukti Dia ada.
Saat wujud pertama muncul di semesta, maka tiada wujud lain yg ada bersamanya, sebab dia adalah wujud yg pertama kali ada. Secara logis, hanya boleh ada sosok lain yg ada sebelum wujud tersebut ada, yakni Tuhan sebagai akar penciptaan yg tdk diciptakan oleh siapapun [2, 3].
Seseorang mungkin menjangkau Tuhan hanya sebatas konsep logis tsb [4, 5]. Namun jgn lupa, setiap konsep selalu mungkin ada perwujudannya. Terlebih suatu konsep dapat sesuai dgn kenyataan pada dimensi ruang dan waktu berbeda, sehingga kenyataan tsb tdk perlu diciptakan. Hanya perlu menunggu ruang dan waktu pertemuan. Itulah sebab kenapa kalangan Bertuhan meyakini kelak dapat menyaksikan Tuhan dalam wujud yg sesuai dgn konsep Ketuhanan yg diyakininya.
Manusia menggunakan angka 1 biner utk menyatakan kondisi hidup/ada dan 0 biner utk mati/tdk ada. Gerak sesuatu dapat dilogikakan dgn keduanya. Artinya, semua yg bergerak menghasilkan pola biner tsb. Bergerak tsb hanya terjadi dlm dimensi ruang dan waktu yg diciptakan Tuhan.
Sementara Tuhan tdk terikat oleh keduanya, sebab hanya ciptaan yg terikat oleh penciptanya. Oleh krn nya, saat Tuhan berkata, "Jadilah", akibat yg terjadi ("Maka Jadi") adalah perubahan dari kondisi tidak ada (0) menjadi ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu. Di sisi sebab ("Jadilah") adalah tak didefinisikan (~) karena tdk ada dimensi ruang dan waktu yg dapat mengukurnya. Dengan demikian ~ => {0, 1}, bukan sebaliknya.
Sesuatu yg tidak ada (0) dibagikan kepada yg ada (1) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya tidak ada yg dibagikan (0). Namun, bila sesuatu yg ada (1) dibagikan kepada yang tidak ada (0) dalam dimensi ruang dan waktu, hasilnya hanya Tuhan yg tahu (~) sebab manusia sampai saat ini belum mendefinisikannya.
--------
[1] Plato (427–347 SM) mencetuskan Theory of Forms (Teori Idea). Menurutnya, dunia fisik yang kita indera ini hanyalah bayangan atau refleksi dari dunia "Idea" yang abstrak, sempurna, dan abadi di dalam pikiran.
[2] Ibnu Sina / Avicenna (980–1037 M) membagi wujud menjadi dua: yang mungkin ada (alam semesta, yang butuh pencipta) dan yang wajib ada (Tuhan, yang ada dengan sendirinya tanpa awal).
[3] Aristoteles (384–322 SM) mengatakan bahwa sesuatu di alam semesta bergerak karena ada yang menggerakkan, dan rantai sebab-akibat ini tidak boleh mundur tanpa batas (infinite regress). Harus ada satu titik absolut yang memulai segalanya.
[4] Immanuel Kant (1724–1804) menjelaskan bahwa manusia tidak bisa melihat realitas sejati (Tuhan/Noumena) secara langsung karena keterbatasan struktur rasio kita yang terpenjara oleh dimensi ruang dan waktu (Phenomena).
[5] Ibnu Arabi (1165–1240 M) menyatakan bahwa setiap manusia membayangkan Tuhan sesuai dengan kapasitas, batasan, dan kesiapan spiritualnya sendiri.
#persepsicahyana
0 comments :
Posting Komentar
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya