Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sabtu, 25 Juli 2026

Tiga Imam yang Tidak Saya Sukai

Saya suka melaksanakan salat Jum'at di masjid yg berbeda. Hingga saat ini, setidaknya ada tiga jenis khatib sekaligus imam salat Jum'at yg tdk saya sukai: 

1. TUKANG PAMER

Khatib ini yg tenggelam dgn kondisinya sendiri, memamerkan kondisi spiritualnya dlm tangisan dan lamanya gerakan atau bacaan, lupa kondisi jema'ahnya.

Padahal Nabi SAW bersabda, "Jika salah seorang dari kalian menjadi imam bagi manusia, maka ringankanlah (salatnya). Karena di antara mereka ada orang yang lemah, orang sakit, dan orang tua. Dan jika salah seorang dari kalian salat sendiri, maka panjangkanlah sesukanya." (HR. Bukhari no. 703 & Muslim no. 467).

Al-Hasan Al-Bashri (Wafat 110 H) mengkritik fenomena orang yang sengaja memperlihatkan tangisan dan khusyuknya di depan publik: "Dahulu, seorang laki-laki menangis karena takut kepada Allah di dalam rumahnya, sementara istrinya yang berada di sisinya tidak mengetahuinya. Ada pula orang yang menghafal Al-Qur'an, tetapi tetangganya tidak menyadarinya... Namun sekarang, aku melihat orang-orang menjadikan kesedihan dan tangisannya sebagai barang dagangan untuk diperlihatkan kepada manusia." (Kitab Az-Zuhd karya Imam Ahmad)

Ibnu Al-Jauzi (Wafat 597 H) dalam kitab fenomenalnya, Talbis Iblis (Tipu Daya Iblis), beliau menguliti secara khusus tipu daya setan pada para imam, khatib, dan ahli ibadah: "Di antara tipu daya Iblis kepada para imam dan penceramah adalah membuat mereka merasa bahwa tangisan keras dan suara parau mereka di atas mimbar adalah tanda keikhlasan dan kedekatan dengan Allah. Padahal, sering kali itu hanyalah jubah kesombongan yang ingin disaksikan jemaah agar mereka dianggap wali yang lembut hatinya."

2. TUKANG PUKUL

Khatib ini sibuk menghakimi jema'ah yg telah didudukkan oleh Allah di dalam masjid. 

Dia lupa ajaran Nabi SAW, "Mudhahkanlah dan jangan menyusahkan, gembirakanlah dan jangan membuat orang lari/benci."(HR. Bukhari no. 69 & Muslim no. 1734). 

Sufyan ats-Tsauri (Wafat 161 H) menegaskan pentingnya kualifikasi emosional dan spiritual seorang penceramah/pemberi nasihat: "Tidak boleh menyeru kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran kecuali orang yang memiliki tiga sifat: bersikap lembut atas apa yang ia perintahkan, bersikap lembut atas apa yang ia larang, adil atas apa yang ia perintahkan, dan mengetahui (paham) apa yang ia perintahkan."

Sheikh 'Ali Thantawi (Ulama Besar Syam/Arab Saudi, Wafat 1999 M) memberikan pesan tajam yang sangat populer bagi para penceramah yang suka "menyerang" jemaah masjid: "Jangan sampai engkau menjadi penceramah yang berdiri di depan orang-orang yang sudah mau melangkahkan kakinya ke masjid, lalu engkau cambuk mereka dengan celaan seolah-olah mereka adalah penghuni neraka. Orang yang sudah datang ke masjid itu adalah orang yang sedang mencari penawar/obat, maka berikan mereka obat dengan kelembutan, bukan racun dengan amarahmu."

3. TUKANG ADU

Khatib ini gemar mengadu domba umat berdasarkan afiliasi ormas atau politik, bahkan dgn bahasa tdk pantas. 

Dia lupa pada sabda Nabi SAW, "Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadu domba (nammam)." (HR. Bukhari no. 6056 & Muslim no. 105), "Bukanlah seorang mukmin orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji, dan suka berkata kotor." (HR. Tirmidzi no. 1977, Shahih)

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani (Wafat 852 H) dalam kitab Fathul Bari, beliau menjelaskan syarat dan adab khotbah: "Khotbah disyariatkan untuk memberi peringatan (Tadzkir), mengajak taat kepada Allah, dan menasihati manusia dengan kebaikan. Menggunakan mimbar untuk mencela musuh politik atau menyerang kelompok muslim lain adalah penyimpangan dari maksud utama khotbah."

#persepsicahyana

0 comments :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya