Dua nikmat penjagaan Allah yg sangat besar: nikmat ditutupinya kekurangan dan nikmat dipersulit jalan menuju kerusakan.
Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, nafsu seperti kuda tunggangan atau anjing buruan. Kuda atau anjing tersebut tidak boleh dibunuh, tetapi harus dilatih (riyadhah) dan dikendalikan agar penunggangnya (akal dan hati) dapat sampai ke tujuan dengan selamat.
Tanpa pengendalian itu, manusia terjerumus pada dosa yg dapat menjadi aib di dunia dan akhirat. Sekelas Nabi saja tdk bisa melenyapkan hawa nafsunya. Nabi Yusuf AS bersabda, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku..." (QS. Yusuf: 53)
Wajarlah bila manusia biasa berdoa, "Ya Allah, tutupilah auratku (keburukan/aib/kekuranganku) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut." (HR. Abu Dawud & Ibn Majah)
Semoga Allah SWT kelak mengabulkannya, sesuai firman Nya, "Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu." (HR. Bukhari & Muslim)
Namun ampunan itu tdk berlaku bagi mereka yg tdk malu dgn aibnya tsb, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan mujaharah (terang-terangan/mengumbar dosa). Dan sesungguhnya di antara bentuk mujaharah adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya—padahal Allah telah menutupi perbuatannya—dia berkata: 'Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.' Padahal semalaman Rabbnya telah menutupi aibnya, tetapi pada pagi hari dia justru menyingkap tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhari & Muslim)
Selain berdoa, kita dapat memperoleh nikmat tsb dgn menutupi aib orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)
Tertutupinya pandangan orang lain dari aib kita adalah nikmat penjagaan Allah yg besar. Cara mensyukurinya adalah seperti yg ditunjukkan oleh Ibn Athaillah, "Barangsiapa memuliakanmu, sungguh ia hanya memuliakan indahnya penutup Allah yang ada padamu. Maka pujian itu ditujukan kepada Allah yang menutupi aibmu, bukan kepada dirimu yang dipenuhi kekurangan." (al-Hikam)
Hawa nafsu selalu mengajak kpd perbuatan buruk. Kita tdk akan sepenuhnya sanggup menanganinya dan memerlukan penjagaan Allah. Hadirnya Allah membuat pintu keburukan tertutup, walau kaki telah melangkah ke sana, baik karena kesadaran berdasarkan ilmu atau rasa tdk nyaman. Sekuat apapun hawa nafsu membuka pintunya, Allah tdk membiarkannya terbuka.
"Sesungguhnya Allah SWT benar-benar menjaga hamba-Nya yang beriman dari (fitnah/kelebihan) dunia—padahal hamba itu mencintainya—sebagaimana kalian menjaga orang yang sakit di antara kalian dari makanan dan minuman (yang membahayakan baginya)." (HR. Tirmidzi)
Oleh karena itu, "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu." (HR. Tirmidzi). Di antara cara menjaga Allah adalah dgn menjaga salat wajib. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar" (QS. Al-Ankabut: 45).
#ratisejiwa