Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Jumat, 28 Agustus 2026

Berpedoman dan Ketergantungan


Termasuk dalam beribadah adalah berpedoman kepada siapa yang diibadahi. Manusia sangat memerlukan pedoman untuk tetap berada di titik moderasi kenikmatan hidup, tidak kekurangan karena zalim atau berlebihan sehingga tersesat.

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" (QS. al-Fatihah: 5-7).

Namun, ada banyak pedoman yang dibuat oleh manusia. Semua perdebatan tentang pedoman yang terkesan saling berseberangan akan selesai bila sudah ada kepastian tentang keselarasan pedoman-pedoman tersebut dengan pedoman utama, standar yang merupakan "kalimat yang sama".

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (menuju) kepada satu kalimat ketetapan (kalimatun sawā’) yang sama di antara kami dan kamu ..." (QS  Ali 'Imran: 64)

Dalam menjalani hidup berpedoman, manusia tidak bisa mengandalkan dirinya dan orang lain yang terbatas dan bisa berubah menjadi kontradiktif. Hal itu masuk akal karena selalu ada kelemahan dan hambatan. Namun, manusia sering kali membutuhkan sesuatu dari ruang kosong yang tidak terjangkau oleh diri sendiri dan orang lain. Sebagian menyebutnya sebagai keajaiban, pemberian yang sesuai harapan.

Sebagian manusia yang tidak bertuhan mengakui sesuatu bisa datang dari ruang kosong tersebut, seperti semesta yang terwujud begitu saja tanpa sebab. Manusia beragama meyakini, secara konsep, hanya Tuhan yang bisa diharapkan di ruang kosong tersebut, sebab Dia adalah Sang Pencipta. Bahkan bagi sebagian filosof, konsep akar penciptaan lebih masuk akal, sekalipun mereka mendefinisikan akar tersebut dengan berbagai istilah, tidak selalu Tuhan.

Akar penciptaan alam semesta selalu memicu perdebatan seru antara sains dan filsafat. Dari sudut pandang sains modern, fisikawan top seperti Stephen Hawking dan Lawrence Krauss menyebut bahwa alam semesta muncul dari "ketiadaan" melalui penciptaan spontan dan fluktuasi kuantum berkat adanya hukum fisika. Sementara itu, Georges Lemaître mengenalnya lewat teori Big Bang sebagai ledakan dari sebuah atom purba yang superpadat.Di sisi lain, para filsuf menggunakan logika untuk menemukan titik awal ini dan menyebutnya sebagai "Tuhan". Aristoteles menamainya Penggerak yang Tidak Digerakkan, yang kemudian disempurnakan oleh Thomas Aquinas sebagai Penyebab Pertama dari segala sesuatu. Terakhir, filsuf Plotinus dan René Descartes melengkapinya dengan istilah Yang Satu serta Sebab Sempurna untuk menggambarkan sumber mutlak penciptaan semesta.

Bagi kalangan beriman, Tuhan ada di ruang kosong dan ruang berisi. Bila Tuhan mampu mewujudkan sesuatu dari ketiadaan di ruang kosong, tentu saja Dia sangat mampu memicu penciptaan dari apa yang sudah diciptakan-Nya. Sementara di dua ruang tersebut, diri sendiri dan makhluk lainnya memiliki potensi kelemahan dan hambatan. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Kekuatan tekad dan semangat yang menggebu-gebu (usaha keras manusia) tidak akan pernah mampu menembus atau merobek dinding-dinding takdir."

Oleh karenanya, meminta hanya kepada Tuhan, akar penciptaan, menjadi masuk akal saat usaha berpedoman belum membuahkan hasil. Hal tersebut membuat ketergantungan tidak pada diri sendiri (internal) atau apa pun yang ada di lingkungannya (eksternal). Tujuannya adalah agar selamat. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal-amalnya (mengandalkan kekuatan dan usaha dirinya sendiri) adalah berkurang atau hilangnya rasa harap (kecewa dan putus asa kepada rahmat Allah) ketika ia tertimpa kesalahan atau kegagalan."

Bagi mereka yang memiliki jati diri sebagai pelayan-Nya, apa yang diupayakan tidak akan melampaui batas, dan mereka tidak dibebani sesuatu oleh Tuhan di luar batas kemampuannya. Saat Tuhan memunculkan apa yang diharapkan dari ruang kosong, saat itulah manusia memulai kontribusi yang baru dalam hidupnya, menambah bekal hari akhir. Artinya, Tuhan mengizinkan, menginginkan, atau bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk berkontribusi. Apa yang diberikan kepadanya, berupa jalan keluar, adalah instruksi untuk memulai pelayanan baru. Pertanyaan pentingnya: apakah hamba memiliki kelayakan untuk menerima perintah dari tuannya, khususnya bila melihat seberapa mampunya ia bersyukur?

Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Orang yang tidak menyadari kadar karunia (nilai nikmat) Allah saat sedang menikmatinya, maka ia baru akan menyadarinya secara menyakitkan ketika karunia itu sudah raib."

Refleksi ini ditutup dengan riwayat Imam al-Bayhaqi dalam kitab Al-Jami' li Syu'ab, Allah SWT berfirman:

"Demi keagungan-Ku, kemuliaan-Ku, kemurahan-Ku, dan kedermawanan-Ku, pasti akan Aku putuskan harapan setiap orang yang berharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan (keputusasaan).Dan pasti akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan selama ia hidup di antara manusia. Dan pasti akan Aku jauhkan ia dari pintu-Ku, serta akan Aku usir ia dari hubungan dekat dengan-Ku.Apakah ia berharap kepada selain-Ku dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, padahal segala kesulitan itu berada di dalam genggaman tangan-Ku? Apakah ia berharap kepada selain-Ku dan mengetuk pintu-pintu para penguasa karena kefakirannya, padahal pintu-pintu itu tertutup rapat dan kunci-kuncinya ada di tangan-Ku?Sementara pintu-Ku selalu terbuka bagi siapa saja yang berdoa kepada-Ku. Siapakah orangnya yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan untuknya? Siapakah orangnya yang pernah berdoa kepada-Ku lalu tidak Aku kabulkan? Dan siapakah orangnya yang pernah meminta kepada-Ku lalu tidak Aku beri?"

Dari sana kita faham bahwa hamba Tuhan perlu memuji-Nya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah 2-4)

#persepsicahyana

Sabtu, 22 Agustus 2026

Epistemologi Perkembangan Kognitif Manusia Awal dalam Perspektif Rumusan Pemikiran 5W1H

Pada fase awal eksistensinya, proses pembelajaran manusia berfokus pada dimensi what (apa) melalui akselerasi pengetahuan nomenklatur yang diuji keabsahannya melalui visualisasi performa hafalan. Tahap ini menandai terjadinya transisi epistemologis dari kecenderungan naluriah (instinct) menuju penalaran konseptual (intellect).

"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya ... (QS. Al-Baqarah: 31) Allah berfirman: 'Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini ... (QS. Al-Baqarah: 33)

Melalui konstruksi tersebut, dimensi how (bagaimana) yang telah dikuasai manusia secara biologis, seperti mekanisme mengonsumsi buah-buahan, terintegrasi secara utuh dengan dimensi what berupa identifikasi nama objek terkait. Implikasinya, manusia memiliki kemampuan kognitif untuk mengategorikan komoditas pangan yang bernilai positif maupun negatif berdasarkan standardisasi nama, bukan sekadar bersandar pada persepsi sensorik indrawi semata. Lebih jauh lagi, penguasaan terhadap dimensi what ini menuntun manusia pada pemahaman spasial murni pada dimensi where (di mana) serta pemahaman temporal pada dimensi when (kapan).

"Dan Kami berfirman: 'Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu mendekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.'" (QS. Al-Baqarah Ayat 35)

Keberadaan hukum penalaran dalam bentuk larangan formal mendorong manusia untuk memasuki ruang analisis pada dimensi why (mengapa), yang secara simultan menginisiasi urgensi validitas informasi. Dalam ekosistem informasi, tidak semua artikulasi dimensi what bersifat kredibel seperti ketetapan Tuhan. Kehadiran entitas yang mengonstruksi distorsi informasi dapat mengakibatkan aktualisasi dimensi how yang berdampak destruktif. Secara teoretis, setiap interpretasi terhadap dimensi what mutlak memerlukan proses verifikasi data guna menghindari krisis validasi dan jebakan manipulasi sistemis.

"Maka setan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya dan setan berkata: 'Tuhan kamu tidak melarangmu dari mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (di surga)'.' Dan dia (setan) bersumpah kepada keduanya: 'Sesungguhnya aku termasuk orang yang memberi nasihat kepada kamu berdua'." (QS. Al-A'raf: 22)

Ketika manusia terperangkap oleh kalkulasi dimensi what, where, dan when yang tidak valid akibat menerobos batas-batas etis serta instruksi ilahi, implementasi dimensi how akan melahirkan dampak yang kontraproduktif. Ekspektasi awal untuk mempertahankan eksistensi temporal di dalam ruang surgawi justru berujung pada konsekuensi pengusiran akibat pengabaian terhadap regulasi baku.

Anomali ini terjadi karena subjek manusia pada momentum tersebut belum mengaktifkan instrumen evaluasi pada dimensi who untuk menguji otoritas narasumber dan dimensi why untuk membedah motif di balik pernyataan sumpah tersebut. Manusia menerima data mentah tanpa melalui prosedur konfirmasi substantif atau tabayyun terhadap validitas pasokan informasi. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh Iblis yang merekayasa variabel what dengan mengubah status 'Pohon Terlarang' menjadi 'Pohon Keabadian' demi menjanjikan garansi kepastian pada variabel when berupa kekekalan di dalam batas variabel where, yaitu surga.
"Allah berfirman: 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lako' kontraproduktif. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka'." (QS. Thaha Ayat 123),

Pascapersitiwa tersebut, kesadaran manusia berevolusi menuju tingkat pemahaman kausalitas yang lebih tinggi. Manusia memahami signifikansi dimensi why di balik keputusan pengusiran mereka melalui penalaran silogisme yang menempatkan kegagalan mematuhi petunjuk sebagai sebab dan pengusiran sebagai akibat. Melalui pencapaian dimensi analitis ini, manusia memiliki kecakapan metodologis untuk mendeteksi potensi bahaya dari tipu daya serta ketidakabsahan parameter yang tidak berpedoman pada kebenaran sahih.

Catatan: Tulisan awal dibuat oleh penulis; AI digunakan untuk pembahasaan akademis. Seluruh tulisan di bawah kendali kualitas dan tanggung jawab penulis.  

Sabtu, 15 Agustus 2026

Lenyap


Makna lenyap di antara orang-orang yg menyakiti dalam konteks melayani adalah ikhlas ketika dijadikan medium tempat manusia melampiaskan keinginan utk menyakiti; atau dalam konteks merespon adalah bersikap ridha dgn melihat semua kepahitan yg dirasakan sebagai hidangan dari Nya yg harus dinikmati dgn suka cita dan tdk dicela; atau dalam konteks memperoleh adalah fana dgn menyaksikan segala tapak perbuatan Nya pada apapun, sehingga tersingkap dan terasa manis Kemahaan-Nya.

The meaning of vanishing among those who hurt, in the context of serving, is sincerity (Ikhlas) when being used as a medium for others to vent their desire to inflict pain; or in the context of responding, it is contentment (Ridha) by viewing all felt bitterness as a feast from Him to be enjoyed with joy and without complaint; or in the context of attaining, it is annihilation of self (Fana) by witnessing every trace of His actions in everything, so that the sweetness of His Supreme Majesty is unveiled and felt. 

«مَعْنَى الاِخْتِفَاءِ بَيْنَ الَّذِينَ يُؤْذُونَ فِي سِيَاقِ الخِدْمَةِ هُوَ الإِخْلَاصُ عِنْدَمَا يَكُونُ المَرْءُ وَسِيطًا لِتَفْرِيغِ رَغَبَاتِ النَّاسِ فِي الإِيذَاءِ؛ أَوْ فِي سِيَاقِ الاِسْتِجَابَةِ هُوَ الرِّضَا بِرُؤْيَةِ كُلِّ مَرَارَةٍ مَحْسُوسَةٍ كَمَائِدَةٍ مِنْهُ تُسْتَمْتَعُ بِهَا بِسُرُورٍ وَلَا تُذَمُّ؛ أَوْ فِي سِيَاقِ النَّيْلِ هُوَ الفَنَاءُ بِمُشَاهَدَةِ كُلِّ آثَارِ أَعْمَالِهِ فِي كُلِّ شَيْءٍ، حَتَّى يَنَكِشَفَ حَلَاوَةُ جَلَالِهِ وَيُحَسَّ بِهَا.»

 #persepsicahyana #ratisejiwa

Minggu, 09 Agustus 2026

Tanda-Tanda dalam Intensitas Biner

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal." (QS. Ali 'Imran: 190-191)

Pasangan langit-bumi mewakili naik-turun.

"Ingatlah ketika Allah berfirman: 'Wahai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu ke akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku...'" (QS. Ali 'Imran: 55)

"Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesudah dekat saatnya putra Maryam akan turun di tengah-tengah kamu sekalian sebagai hakim yang adil..." (HR Muslim)

Ibnu Katsir, At-Tabari, Al-Qurtubi, dan lainnya berpendapat bahwa diangkat dan turun itu artinya fisik dan ruh nya naik ke atas langit dan turun ke bumi. Jadi bisa difahami, kejadian tsb menggambarkan naik (+) dan turun (-). 

Pasangan malam-siang mewakili ada dan tiada tanda.

"Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu..." (QS. Al-Isra': 12)

Dijelaskan dalam Tafsir Jalalain, bahwa yg terhapus adalah cahaya, sementara dalam Ibn Katsir yg terhapus adalah fisik bulan. Jadi bisa difahami ada/tiada cahaya/bulan. Jika keberadaan bulan disimbolkan 1, maka ketiadaannya adalah 0. 

Bagi orang berakal, konsep ada dan tiada (1/0), serta naik-turun (+/-) yg mungkin terjadi dalam kondisi biner tsb menjadi tanda-tanda penting utk mengungkap Sunatullah. Misalnya, kaki yg bergerak merupakan kombinasi kontraksi (1) dan relaksasi (0) yg kecepatannya dipengaruhi oleh akselerasi (+), dan pelambatannya dipengaruhi oleh deselerasi (-). 

Jika dimasukkan ke dalam rumus dasar kecepatan (v), maka jarak (s) ditentukan oleh berapa banyak untaian kode biner (0/1) langkah kaki yang tercipta, sedangkan waktu (t) ditentukan oleh seberapa kuat intensitas gaya (+/-) yang mendorong atau menahan gerakan tersebut.

Jika diasumsikan sistem bekerja pada ruang dimensi keadaan (state space) terkontrol: 

B in {0, 1} : Variabel Biner Eksistensi (1 = Terang/Ada, 0 = {Gelap/Tiada}.

I in {-1, +1} : Vektor Intensitas Dinamika (-1 = {Turun/Deselerasi}, +1 = {Naik/Akselerasi}.

v0 : Kecepatan dasar sistem atau kecepatan homeostasis makhluk hidup (m/s).

delta_a : Koefisien akselerasi biolistrik otot (m/s^2).

Fungsinya: v(t) = B.(v0+I.delta_a.t)

Kode Python:

def hitung_kecepatan_ai(B, I, v0, delta_a, t):
    # Validasi input biner dan vektor intensitas
    if B not in [0, 1] or I not in [-1, 1]:
        raise ValueError("Input tidak sesuai dengan matriks biner Sunatullah.")
    # Proses pengolahan sinyal di dalam neuron saraf buatan
    z = B * (v0 + I * delta_a * t)
    # Fungsi Aktivasi Linear Terbuka (Membatasi kecepatan tidak minus secara fisik)
    v_output = max(0.0, float(z))
    return v_output

# --- SIMULASI PARAMETER SISTEM ---
# Misal: Kecepatan dasar = 2.0 m/s, Akselerasi = 0.5 m/s^2, Waktu berjalan = 4 detik
v0_dasar = 2.0
percepatan = 0.5
waktu = 4

# Tiga skenario kondisi alam biner
kecepatan_malam = hitung_kecepatan_ai(B=0, I=-1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)
kecepatan_naik = hitung_kecepatan_ai(B=1, I=1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)
kecepatan_turun = hitung_kecepatan_ai(B=1, I=-1, v0=v0_dasar, delta_a=percepatan, t=waktu)

# Hasil komputasi sistem
print(f"--- HASIL SIMULASI LOGIKA BINER ---")
print(f"Kondisi Istirahat (B=0, I=-1) : {kecepatan_malam} m/s")
print(f"Kondisi Naik (B=1, I=+1) : {kecepatan_naik} m/s")
print(f"Kondisi Turun (B=1, I=-1) : {kecepatan_turun} m/s")

#persepsicahyana

Selasa, 04 Agustus 2026

Nikmat Penjagaan Allah


Dua nikmat penjagaan Allah yg sangat besar: nikmat ditutupinya kekurangan dan nikmat dipersulit jalan menuju kerusakan.

Menurut Imam al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, nafsu seperti kuda tunggangan atau anjing buruan. Kuda atau anjing tersebut tidak boleh dibunuh, tetapi harus dilatih (riyadhah) dan dikendalikan agar penunggangnya (akal dan hati) dapat sampai ke tujuan dengan selamat.

Tanpa pengendalian itu, manusia terjerumus pada dosa yg dapat menjadi aib di dunia dan akhirat. Sekelas Nabi saja tdk bisa melenyapkan hawa nafsunya. Nabi Yusuf AS bersabda, "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabbku..." (QS. Yusuf: 53)

Wajarlah bila manusia biasa berdoa, "Ya Allah, tutupilah auratku (keburukan/aib/kekuranganku) dan tenteramkanlah aku dari rasa takut." (HR. Abu Dawud & Ibn Majah)

Semoga Allah SWT kelak mengabulkannya, sesuai firman Nya, "Aku telah menutupi dosa-dosamu di dunia, dan pada hari ini Aku mengampuninya untukmu." (HR. Bukhari & Muslim)

Namun ampunan itu tdk berlaku bagi mereka yg tdk malu dgn aibnya tsb, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Setiap umatku akan diampuni kecuali orang-orang yang melakukan mujaharah (terang-terangan/mengumbar dosa). Dan sesungguhnya di antara bentuk mujaharah adalah seseorang yang melakukan suatu perbuatan (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi harinya—padahal Allah telah menutupi perbuatannya—dia berkata: 'Wahai fulan, semalam aku telah melakukan ini dan itu.' Padahal semalaman Rabbnya telah menutupi aibnya, tetapi pada pagi hari dia justru menyingkap tutupan Allah atas dirinya." (HR. Bukhari & Muslim)

Selain berdoa, kita dapat memperoleh nikmat tsb dgn menutupi aib orang lain, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan di akhirat." (HR. Muslim)

Tertutupinya pandangan orang lain dari aib kita adalah nikmat penjagaan Allah yg besar. Cara mensyukurinya adalah seperti yg ditunjukkan oleh Ibn Athaillah, "Barangsiapa memuliakanmu, sungguh ia hanya memuliakan indahnya penutup Allah yang ada padamu. Maka pujian itu ditujukan kepada Allah yang menutupi aibmu, bukan kepada dirimu yang dipenuhi kekurangan." (al-Hikam)

Hawa nafsu selalu mengajak kpd perbuatan buruk. Kita tdk akan sepenuhnya sanggup menanganinya dan memerlukan penjagaan Allah. Hadirnya Allah membuat pintu keburukan tertutup, walau kaki telah melangkah ke sana, baik karena kesadaran berdasarkan ilmu atau rasa tdk nyaman. Sekuat apapun hawa nafsu membuka pintunya, Allah tdk membiarkannya terbuka. 

"Sesungguhnya Allah SWT benar-benar menjaga hamba-Nya yang beriman dari (fitnah/kelebihan) dunia—padahal hamba itu mencintainya—sebagaimana kalian menjaga orang yang sakit di antara kalian dari makanan dan minuman (yang membahayakan baginya)." (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, "Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu." (HR. Tirmidzi). Di antara cara menjaga Allah adalah dgn menjaga salat wajib. "Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar" (QS. Al-Ankabut: 45). 

#ratisejiwa