Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Jumat, 28 Agustus 2026

Berpedoman dan Ketergantungan


Termasuk dalam beribadah adalah berpedoman kepada siapa yang diibadahi. Manusia sangat memerlukan pedoman untuk tetap berada di titik moderasi kenikmatan hidup, tidak kekurangan karena zalim atau berlebihan sehingga tersesat.

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat" (QS. al-Fatihah: 5-7).

Namun, ada banyak pedoman yang dibuat oleh manusia. Semua perdebatan tentang pedoman yang terkesan saling berseberangan akan selesai bila sudah ada kepastian tentang keselarasan pedoman-pedoman tersebut dengan pedoman utama, standar yang merupakan "kalimat yang sama".

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Ahli Kitab! Marilah (menuju) kepada satu kalimat ketetapan (kalimatun sawā’) yang sama di antara kami dan kamu ..." (QS  Ali 'Imran: 64)

Dalam menjalani hidup berpedoman, manusia tidak bisa mengandalkan dirinya dan orang lain yang terbatas dan bisa berubah menjadi kontradiktif. Hal itu masuk akal karena selalu ada kelemahan dan hambatan. Namun, manusia sering kali membutuhkan sesuatu dari ruang kosong yang tidak terjangkau oleh diri sendiri dan orang lain. Sebagian menyebutnya sebagai keajaiban, pemberian yang sesuai harapan.

Sebagian manusia yang tidak bertuhan mengakui sesuatu bisa datang dari ruang kosong tersebut, seperti semesta yang terwujud begitu saja tanpa sebab. Manusia beragama meyakini, secara konsep, hanya Tuhan yang bisa diharapkan di ruang kosong tersebut, sebab Dia adalah Sang Pencipta. Bahkan bagi sebagian filosof, konsep akar penciptaan lebih masuk akal, sekalipun mereka mendefinisikan akar tersebut dengan berbagai istilah, tidak selalu Tuhan.

Akar penciptaan alam semesta selalu memicu perdebatan seru antara sains dan filsafat. Dari sudut pandang sains modern, fisikawan top seperti Stephen Hawking dan Lawrence Krauss menyebut bahwa alam semesta muncul dari "ketiadaan" melalui penciptaan spontan dan fluktuasi kuantum berkat adanya hukum fisika. Sementara itu, Georges Lemaître mengenalnya lewat teori Big Bang sebagai ledakan dari sebuah atom purba yang superpadat.Di sisi lain, para filsuf menggunakan logika untuk menemukan titik awal ini dan menyebutnya sebagai "Tuhan". Aristoteles menamainya Penggerak yang Tidak Digerakkan, yang kemudian disempurnakan oleh Thomas Aquinas sebagai Penyebab Pertama dari segala sesuatu. Terakhir, filsuf Plotinus dan René Descartes melengkapinya dengan istilah Yang Satu serta Sebab Sempurna untuk menggambarkan sumber mutlak penciptaan semesta.

Bagi kalangan beriman, Tuhan ada di ruang kosong dan ruang berisi. Bila Tuhan mampu mewujudkan sesuatu dari ketiadaan di ruang kosong, tentu saja Dia sangat mampu memicu penciptaan dari apa yang sudah diciptakan-Nya. Sementara di dua ruang tersebut, diri sendiri dan makhluk lainnya memiliki potensi kelemahan dan hambatan. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Kekuatan tekad dan semangat yang menggebu-gebu (usaha keras manusia) tidak akan pernah mampu menembus atau merobek dinding-dinding takdir."

Oleh karenanya, meminta hanya kepada Tuhan, akar penciptaan, menjadi masuk akal saat usaha berpedoman belum membuahkan hasil. Hal tersebut membuat ketergantungan tidak pada diri sendiri (internal) atau apa pun yang ada di lingkungannya (eksternal). Tujuannya adalah agar selamat. Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Di antara tanda-tanda seseorang bersandar pada amal-amalnya (mengandalkan kekuatan dan usaha dirinya sendiri) adalah berkurang atau hilangnya rasa harap (kecewa dan putus asa kepada rahmat Allah) ketika ia tertimpa kesalahan atau kegagalan."

Bagi mereka yang memiliki jati diri sebagai pelayan-Nya, apa yang diupayakan tidak akan melampaui batas, dan mereka tidak dibebani sesuatu oleh Tuhan di luar batas kemampuannya. Saat Tuhan memunculkan apa yang diharapkan dari ruang kosong, saat itulah manusia memulai kontribusi yang baru dalam hidupnya, menambah bekal hari akhir. Artinya, Tuhan mengizinkan, menginginkan, atau bahkan memerintahkan hamba-Nya untuk berkontribusi. Apa yang diberikan kepadanya, berupa jalan keluar, adalah instruksi untuk memulai pelayanan baru. Pertanyaan pentingnya: apakah hamba memiliki kelayakan untuk menerima perintah dari tuannya, khususnya bila melihat seberapa mampunya ia bersyukur?

Ibn Athaillah dalam Al-Hikam berkata, "Orang yang tidak menyadari kadar karunia (nilai nikmat) Allah saat sedang menikmatinya, maka ia baru akan menyadarinya secara menyakitkan ketika karunia itu sudah raib."

Refleksi ini ditutup dengan riwayat Imam al-Bayhaqi dalam kitab Al-Jami' li Syu'ab, Allah SWT berfirman:

"Demi keagungan-Ku, kemuliaan-Ku, kemurahan-Ku, dan kedermawanan-Ku, pasti akan Aku putuskan harapan setiap orang yang berharap kepada selain-Ku dengan kekecewaan (keputusasaan).Dan pasti akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan selama ia hidup di antara manusia. Dan pasti akan Aku jauhkan ia dari pintu-Ku, serta akan Aku usir ia dari hubungan dekat dengan-Ku.Apakah ia berharap kepada selain-Ku dalam menghadapi kesulitan-kesulitan, padahal segala kesulitan itu berada di dalam genggaman tangan-Ku? Apakah ia berharap kepada selain-Ku dan mengetuk pintu-pintu para penguasa karena kefakirannya, padahal pintu-pintu itu tertutup rapat dan kunci-kuncinya ada di tangan-Ku?Sementara pintu-Ku selalu terbuka bagi siapa saja yang berdoa kepada-Ku. Siapakah orangnya yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan untuknya? Siapakah orangnya yang pernah berdoa kepada-Ku lalu tidak Aku kabulkan? Dan siapakah orangnya yang pernah meminta kepada-Ku lalu tidak Aku beri?"

Dari sana kita faham bahwa hamba Tuhan perlu memuji-Nya: Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam. Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Pemilik hari pembalasan. (QS. Al-Fatihah 2-4)

#persepsicahyana

0 comments :

Posting Komentar

Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya