Di masa lalu, saya pernah memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan dengan seseorang. Kemudian keluarganya menganggap keputusan tersebut didasarkan pada gelar akademik yang saya miliki. Saya menanggapinya dengan mengatakan bahwa gelar tersebut tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan takwa.
Nabi Muhammad SAW dalam khutbah perpisahan pada tahun 10 H, beliau menyatakan prinsip egalitarianisme melalui sabdanya, "Wahai manusia, ketahuilah bahwa Tuhan kalian adalah satu dan ayah kalian adalah satu. Ketahuilah, tidak ada keutamaan bagi orang Arab atas orang non-Arab, tidak pula bagi orang non-Arab atas orang Arab, tidak pula bagi yang berkulit merah atas yang berkulit hitam, dan tidak pula bagi yang berkulit hitam atas yang berkulit merah, melainkan karena takwanya." (HR Ahmad)
Doktrin tsb sejalan dengan firman Allah SWT, "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Teliti" (QS. Al-Hujurat: 13)
Dalil tersebut berbicara tentang kedudukan yang harus dikejar oleh hamba Tuhan, sekaligus meruntuhkan stratifikasi sosial yang didasarkan pada keturunan dan yang selama ini telah menjadi dasar diskriminasi dalam tradisi jahiliah. Thalq bin Habib al-‘Anazi (wafat sekitar 100 H), seorang ulama dari generasi Tabiin terkemuka yang berdomisili di Basrah, Irak, berkata, "Takwa adalah engkau melakukan ketaatan kepada Allah di atas cahaya (ilmu/petunjuk) dari Allah karena mengharap rahmat-Nya, dan engkau meninggalkan kemaksiatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah karena takut akan siksa-Nya."
Di lingkungan kampus ditemukan stratifikasi sosial berdasarkan Modal Simbolik dan Kultural (Cultural & Symbolic Capital - Teori Pierre Bourdieu, misalnya gelar akademik dan jabatan fungsional) atau Kekuasaan dan Otoritas Formal (Power & Authority - Teori Max Weber, misalnya jabatan struktural). Stratifikasi tsb dapat membawa kepada tradisi Academic Elitism / Institutional Snobbery, misalnya lulusan kampus non-unggulan yang dipandang sebelah mata; atau
Feodalisme akademik dan bias hierarki, misalnya, berbangga dengan gelar, atau mereka yang berada di bawah dianggap tidak tahu apa-apa, atau bahkan pesuruh yang diberi beban tugas yang banyak dan tidak dihargai.
Tradisi tersebut merupakan kemaksiatan hati dan kezaliman struktural yang melawan sifat takwa. Nabi SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap rendah hati (tawaduk), hingga tidak ada seorang pun yang membanggakan diri atas yang lain dan tidak ada seorang pun yang berbuat sewenang-wenang terhadap yang lain."
(HR. Muslim)
Sebagian kalangan merasa tersinggung bila orang lain tidak menyebut gelar akademik, jabatan fungsional, atau jabatan strukturalnya. Hal semacam itu tidak terjadi pada teladan umat sewaktu beliau mendapat pujian berlebihan dari serombongan orang (delegasi dari Bani ‘Amir), "Engkau adalah tuan kami (sayyiduna)…". Beliau menasihati, "Ucapkanlah perkataan kalian yang biasa, jangan sampai kalian diseret oleh setan! Aku adalah Muhammad bin Abdullah, hamba Allah dan utusan-Nya." (HR. Ahmad & An-Nasa'i dalam As-Sunan Al-Kubra). Beliau mengedepankan kedudukan di sisi Allah, menyeimbangkan kedudukan prestisius dengan sikap tawadhu, sebagaimana sabda beliau, "Aku adalah sayyid (pemimpin) anak cucu Adam pada hari kiamat dan aku tidak sombong" (HR. Muslim).
Imam Al-Khaththabi (wafat 388 H) dalam Ma'alim As-Sunan menjelaskan bahwa penolakan tersebut merupakan kehati-hatian agar para utusan yang baru masuk Islam itu tidak terbiasa memakai gaya sanjungan raja-raja feodal Persia atau Romawi yang mengarah pada pengultusan makhluk.
Saya pernah berada di dalam kelas mata kuliah di ITB. Salah seorang teman bertanya kepada dosen pengajar. Dia memanggil dosen dengan "Pak Prof". Kemudian, dosen kami mengingatkan bahwa namanya bukan "Prof". Beliau lebih suka disebut namanya daripada gelarnya.
Namun, memanggil seseorang dengan jabatannya itu tidak terlarang. Nabi pernah memerintahkan para sahabat saat menyambut Sa'ad bin Mu'adz: "Berdirilah untuk menyambut sayyid (pemimpin) kalian" (HR. Bukhari dan Muslim). Dari sini kita memahami bahwa menolak atau menuntut pemanggilan gelar atau jabatan adalah pilihan individu. Mereka yang berhati-hati atau rendah hati lebih senang melihat dirinya bukan dari gelar atau kedudukan, tetapi dari kedudukannya di sisi Allah. Kedudukan itu bisa dilihat dari dampaknya terhadap lingkungan, sebagaimana sabda Nabi SAW, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (lainnya)."
(HR. Ath-Thabarani).
Ditanyakan kepada beliau, "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling baik (ayyun-naasi khair)?" Beliau bersabda, "Orang yang paling paham membaca Al-Qur'an, paling bertakwa kepada Allah (atqahum lillah), paling giat menyuruh kepada yang makruf, paling gigih mencegah dari yang mungkar, dan paling suka menyambung tali silaturahmi."
(HR. Ahmad dan At-Thabarani dalam Al-Kabir). Dengan demikian, kemanfaatan yang meluas merupakan salah satu manifestasi takwa yang tampak dalam kehidupan sosial dan kedudukannya di sisi Allah berdasarkan takwa.
Cara yang dipilih akademisi bertakwa adalah mengutamakan gelarnya sebagai hamba Allah dan jabatannya sebagai khalifah di muka bumi yang dicapainya melalui amal perbuatan yang berdampak luas. "Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi..." (QS. Fathir: 39).
Takwa bukanlah gelar yang disematkan pada nama. Bahkan menyebut diri bertakwa adalah bukti ketidaktakwaan itu sendiri. Allah SWT berfirman, "Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci (bersih dari dosa/paling bertakwa). Dialah yang paling mengetahui siapa orang yang sebenarnya bertakwa." (QS. An-Najm: 32).
Demi gelar "orang yang paling bertakwa", seorang akademisi dapat lebih mengutamakan pelayanan, memberikan manfaat seluas-luasnya daripada gelar dan jabatan akademik yang disematkan kepada dirinya. Semua koleganya memiliki kedudukan yang sama sebagai pelayan yang berlomba-lomba dalam kebaikan.
"Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu." (Al-Baqarah: 148).
Akhirnya, seorang akademisi tidak semestinya menjadikan gelar dan jabatan akademiknya sebagai sumber kemuliaan pribadi atau alat untuk membangun jarak sosial dengan sesama. Dalam lingkungan akademik, ukuran yang patut dikejar bukanlah prestise gelar atau jabatan, melainkan kontribusi nyata yang diberikan melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kontribusi akademis tersebut merupakan salah satu bentuk kemanfaatan yang dapat mencerminkan ketakwaan dan amanah seorang akademisi sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Cukup berlomba-lomba dalam mengamalkan hasil belajar dan melaksanakan tugas jabatan untuk memperoleh keridhaan Allah semata.
"Tetapi (dia memberikan itu semata-mata) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan niscaya kelak dia akan mendapat kepuasan." (QS Al-Lail: 20–21) "...Dan keridaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar." (QS At-Taubah: 72). "Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-Bayyinah: 8)
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan keridaan-Mu dari kemurkaan-Mu, dan dengan keselamatan-Mu dari siksaan-Mu..." (HR. Muslim no. 486)
#persepsicahyana
0 comments :
Posting Komentar
Terima kasih atas kunjungan dan komentarnya