Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 21 Juni 2008

Selamat Hari Muslimah

Tanggal 20 Jamadi-ul-Sani ini merupakan hari lahirnya Hazrate Fatemeye Zahra, puteri Rasululloh SAW. Ini merupakan hari Muslimah di dunia Islam. Selamat hari Muslimah bagi semua Muslimah di dunia ini, Semoga dengannya Muslimah dapat lebih memainkan perannya sebagai pengelola Rumah Tangga yang handal dan menjadi tiang bagi Negara dengan kemampuannya dalam mendidik generasi penerus bangsa. Amien



Semoga menjadi Ummi yang dapat mendidik anak sebaik-baiknya



Semoga hak-haknya dipenuhi oleh semua negara

Sabtu, 14 Juni 2008

Bahasa Permograman Semesta Raya

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan. (Q.S.2:164)

Seandainya anda ditanya tentang manakah dari sejumlah bilangan dari 0 sampai 1 juta yang terkecil, maka sepontan anda akan menjawab 0. Jawaban anda berdasarkan pengalaman. Karena dulu anda pernah mendengar bahwa 0 adalah bilangan lebih kecil dari 1, dan 1 lebih kecil dari 1 juta. Anda bahkan pernah melihat bagaimana angka diurutkan dari 0 sampai angka tertentu.

Saat anda dihadapkan pada tuntutan untuk membuat agar komputer dapat menjawab persis seperti jawaban anda tadi, maka tantangannya banyak. Anda tahu bahwa posisi komputer saat diberi pertanyaan akan seperti saat anda tidak tahu bilangan dan urutannya dari yang terkecil hingga terbesar. Anda dituntut untuk mencari tahu bagaimana dalam waktu yang singkat, komputer memiliki kemampuan membedakan angka yang anda peroleh dulu berbulan-bulan bahkan mungkin bertahun-tahun.

Hingga kemudian anda melirik kepada kemampuan logika komputer yang ada berkat komponen Aritmatic and Logic Unit pada CPU-nya. Dengan kemampuan logikanya, komputer bisa menjawab benar (ada arus listrik) dan salah (tidak ada arus listrik) terhadap operasi logika X <> Y. Dan dengan kemampuannya untuk menjawab benar dan salah, maka ada harapan bagi komputer untuk dapat segera memiliki kemampuan membedakan angka.

Selanjutnya anda mengambil sample angka yang akan diurutkan, misalnya: 7, 2, 9, 0, 1. Anda berfikir tentang bagaimana anda bisa menyimpulkan bahwa 9 itu lebih besar dari yang lainnya. Hingga akhirnya anda mengetahui bahwa salah satu cara untuk mengetahuinya adalah dengan membandingkan angka pertama dengan angka lainnya.

iterasi ke-1 : Max = 7
iterasi ke-2 : 7>2, maka Max tetap 7
iterasi ke-3 : 7<9>0, maka Max tetap 9
iterasi ke-5 : 9>1, maka Max tetap 9.

Setelah semua angka dibandingkan, diketahui Max atau bilangan terbesar adalah 9.

Kemudian anda merumuskan prosesnya dalam bentuk algoritma sebagai berikut:

1. Tetapkan sejumlah angka yang akan dikenali
2. Tetapkan angka terbesar adalah angka yang pertama (atau angka urutan acak)
3. Bandingkan angka terbesar dengan angka-angka berikutnya
3.1. Apabila angka yang dibandingkan lebih besar dari angka terbesar, maka tetapkan angka yang dibandingkan sebagai angka terbesar.
4. Tampilkan di layar angka terbesar.

Dengan pengetahuan Bahasa Pemrograman Pascal dan Struktur Data, kemudian algoritma tersebut dikodekan sehingga diperoleh :

uses Crt;
var Data : array [word] of word; i,Max:word;
begin
Data[1]:=7;
Data[2]:=2;
Data[3]:=9;
Data[4]:=0;
Data[5]:=1;
Max:=Data[1];
for i := 1 to 5 do
if Data[i]>Max then Max:=Data[i];
writeln(Max];
end.

Setelah dikompilasi oleh kompilator Pascal, dan dijalankan, komputer memberikan hasil yang sama dengan anda, bahwa bilangan terbesar adalah 9. Jika anda ubah angkanya, komputer masih akan menjawab dengan jawaban yang benar. Kemudian anda penasaran dan ingin agar komputer mengidentifikasi angka terbesar dari 10 angka yang diberikan secara acak dengan program berikut ini:

uses Crt;
var Data : array [word] of word; i,Max,ulang:word;label 1;
begin
Randomize;
1:
Clrscr;
Write('Angka : ');
for i:=1 to 10 do
begin
Data[i]:=Random(1000);
write('Data ke-',i,' = ',Data[i]);
end;
writeln;
Max:=Data[1];
for i := 1 to 10 do
if Data[i]>Max then Max:=Data[i];
writeln('Angka terbesar: ',Max];
write('Pilih 1 untuk mengulang, selainnya untuk keluar dari program. Pilihan anda ? ');
readln(ulang);
if ulang=1 then goto 1;
end.

Anda meyakini setelah berulang-ulang dicoba, hasilnya komputer selalu memberi jawaban yang benar. Artinya anda berhasil menerjemahkan proses dalam fikiran anda ke dalam kode program, yang kemuidan dengan bantuan kompiler akhirnya komputer mewarisi kecerdasan anda melalui perangkat lunak.

Kode program adalah bentuk sederhana dari program yang ada dalam benak anda.

Saat anda merumuskan pemecahan masalah, sesungguhnya anda tengah membedah program pemecahan masalah dari otak anda. Anda telusuri fikiran untuk mendapatkan detail urutan dari program tersebut. Selanjutnya fikiran tersebut diterjemahkan dengan bahasa natural (algoritma). Dengan merujuk kepada algoritma anda kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa pemrograman komputer.

Program di otak anda -> analisa program melalui media fikiran -> diterjemahkan ke dalam algoritma dan model -> dikode dengan menggunakan bahasa pemrograman komputer untuk mendapatkan program komputer.

Dari urutan proses di atas maka wajarlah jika disebutkan bahwa kecerdasan programmer diturunkan kepada Komputer melalui perangkat lunak yang dibuatnya. Itu apabila algoritma dibuat oleh programmer. Kalau desainer yang membuatnya, maka desainerlah yang telah menurunkan kecerdasan itu, dan programmer /coder yang menerjemahkan desain adalah orang yang menjadi pembentuk kecerdasan tersebut pada komputer. Atau dengan kata lain, kecerdasan komputer adalah sebagian dari kecerdasan perancangnya yang diwujudkan pada komputer oleh coder nya.

Sesungguhnya komputer adalah ayat-ayat kebesaran Alloh yang dapat dijadikan jalan bagi manusia untuk menyaksikan kekuasaan dan kehebatan Alloh dalam mendesain, mengkode (menciptakan), dan menjaga Semesta Raya beserta isinya.

Saat anda mengalami proses pemahaman, maka secara tidak sadar terbangun program di dalam benak anda sehingga tingkat kecerdasan anda bertambah. Dan baru saja anda menggambarkan bagaimana bentuk program itu dengan bahasa pemrograman komputer.

Manusia sekarang berhasil merumuskan berbagai proses yang terjadi di alam. Sekalipun rumus tersebut bersifat nisbi, tetapi cukup logis dan dapat membuat sesuatu yang dijalankan dengan rumus tersebut berakhir seperti umumnya kejadian. Maka seharusnya anda meyakini, bahwa semesta raya inipun bergerak dengan program yang telah dibuat oleh Tuhan Yang Maha Pencipta. Dialah Sang Programmer semesta raya.

Alloh SWT memprogram mahluknya dengan Voice Command Programming. Dan hebatnya, semua ragam ciptaan-Nya itu hanya cukup diwakili oleh perintah "Jadilah". Selanjutnya development tool yang dimiliki oleh Aloh (termasuk para Malaikat yang menjadi bagian dari development tool tersebut) mengkode sesuai dengan desain yang telah ditetapkan-Nya. Perhatikan ayat berikut ini: "Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: Jadilah. Lalu jadilah ia." (Q.S.2:117). Semesta raya ini adalah sistem tempat munculnya produk pemrograman Alloh SWT, seperti manusia, jin, malaikat, planet, dan lain sebagianya. Bagi manusia, sistem itu adalah komputer dan produknya adalah perangkat lunak.

Dalam kasus penciptaan manusia, Alloh mendesain takdir manusia berikut programnya, Kemudian mendokumentasikannya di dalam Lauhil Mahfuz dengan menggunakan pena-Nya. Malaikat yang merupakan bagian dari development tool difungsikan-Nya sebagai komponen yang meletakkan program tersebut dalam diri manusia sehingga manusia memiliki karakter, kelebihan, kekuarangan, jalan hidup, dan akhir sesuai dengan programnya dan kecerdasannya. Setelah manusia tercipta dan mewarisi programnya, setiap pergerakannya dipantau dan dicatat oleh para malaikat dalam database-Nya. Record amal manusia yang terdapat dalam database tersebut kemudian dievaluasi saat Yaumil Hisab dan menentukan apakah ciptaannya akan dimuliakan-Nya dengan karunia Syurga dan wajah-Nya, atau dibuang ke dalam Neraka. Alloh menggunakan integrated development luar biasa yang meliputi alat desain, dokumentasi, pembangun kode, pemantau, pencatat trace, dan pembangun report evaluasi ciptaan-Nya.

Produk pemrograman Alloh SWT tidak hanya sebatas wujud saja, tapi juga sifat atau karakteristik dari produk tersebut. Hal tersebut sebagaimana firman Alloh SWT, "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang mereka dilarang mengerjakannya, Kami katakan kepadanya: Jadilah kamu kera yang hina" (Q.S.7:166) Di dalam bahasa permograman visual kita juga melakukan hal yang seperti itu, yakni membangun antarmuka end-user dengan komponen yang tersedia, dan menuliskan kode pada modul berbasis kejadian pada komponen tertentu untuk menghasilkan kelakuan dari sistem (perangkat lunak) yang dibuat.

Sebagian dari produk programming Alloh SWT merupakan produk cerdas yang dapat ditingkatkan kemampuannya dengan pemrograman berikutnya atau dengan pengalaman prosesnya. Di dunia pemrograman produk tersebut dikenal sebagai Artificial Intelligence. Seperti misalnya manusia; Setelah diciptakan, kecerdasannya meningkat begitu Alloh memberitahukan nama-nama benda di Syurga. Perhatikan bagaimana perkembangan manusia setelah kecerdasannya bekerja: "Allah berfirman: Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?" (Q.S.2:33) Firman-Nya "sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan" merupakan fakta bahwa selain coder, Alloh SWT adalah juga seorang tester yang memiliki test case atau kemampuan code review luar biasa, dan penguasaan-Nya yang menyeluruh terhadap algoritma dan makna semantik dari code yang dituliskan-Nya dalam penciptaan mahluk-Nya.

Alloh SWT telah mengkode semua proses sehingga setiap bagian dari semesta raya ini berjalan sesuai dengan algoritma yang telah ditentukan-Nya. Beginilah algoritma level konteks pemrograman Alloh terhadap manusia yang dipaparkan-Nya di dalam al-Qur'an: "Hai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka (ketahuilah) sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah kepada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (ada pula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang dahulunya telah diketahuinya. Dan kamu lihat bumi ini kering, kemudian apabila telah Kami turunkan air di atasnya, hiduplah bumi itu dan suburlah dan menumbuhkan berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah." (Q.S.22:5) "Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. "(Q.S.23:14)

Detail dari tahapan algoritma level kontek tidak diterangkan oleh Alloh dalam al-Qur'an, namun beberapa diantaranya Alloh karuniakan kepada manusia sekalipun belum cukup detail melalui proses berfikir akan mahluk-Nya. Terkadang Alloh mengungkapkan detailnya melalui kejadian alam, seperti kasus jatuhnya buah apel yang melahirkan hukum grafitasi Newton. Alloh mengajari manusia dengan mahluk ciptaan-Nya yang lain untuk mengungkapkan sub algoritma dari algoritma level konteks. "Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini? Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal."(Q.S.5:31)

Dalam pemrograman komputer, dikenal input - proses - output. Proses merupakan serangkaian rumus yang akan menentukan bentuk output, karakter dan ukurannya. Sang Maha Programmer menetapkan ukuran dalam produk pemrogramannya, sebagaimana firman-Nya: " Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran." (Q.S.15:19) Apa yang tumbuh pada bumi dan gunung-gunung adalah output, sementara bumi dan gunung-gunung adalah sistem produk programming-Nya. Dalam ayat tersebut tidak dikemukakan apa yang menjadi inputnya. Tapi kemudian setelah manusia diberi pengetahuan oleh Alloh, sejumlah kecil input dari produk tersebut diketahui, seperti benih, air, kandungan mineral dalam tanah, dan lain sebagainya.

Ayat lainnya, "Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, melainkan dengan benar. " (Q.S.15:85) menunjukkan bahwa mahluk yang tercipta adalah produk programming yang sempurna. Yang lebih hebat lagi, sekalipun Alloh memiliki test case atau dapat melakukan code review, tapi produk tersebut tercipta tanpa melalu proses review berkat Kemahasempurnaan Ilmu-Nya. Inilah yang membedakan antara programmer manusia dengan Yang Maha Pencipta. Manusia memerlukan life cicle software engineering yang meliputi: analisa, desain, coding, dan testing. Sementara Rabb life cicle creatures engineering-Nya hanya meliputi desain (sebagai referensi malaikat) dan coding dan dilakukan hanya dengan sekali tindakan dengan Speech Command Programming.

Walau sesingkat itu, namun dalam proses programmingnya Alloh menetapkan tujuan dan waktu implementasi yang jelas, sebagaimana tersebut dalam firman-NYa, "Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka?, Allah tidak menjadikan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya." (Q.S.30:8) Penetapan waktu programming ini dikenal di kalangan programmer, seperti misalnya diimplementasikannya program begitu instrumen pendukungnya tersedia di pasaran atau market siap menerimanya dengan tujuan meningkatkan versi produk, merubah cara kerja pengguna, melengkapi produk sebelumnya, meningkatkan prestise software house, monopoli dagang, dan lain sebagainya.

Sebenarnya Alloh mampu menciptakan sesuatu tanpa perlu dibatasi waktu, seperti misalnya ruh dan takdir manusia. Tetapi Alloh ingin memfungsikan integrated development yang diciptakan-Nya, yang karena keterbatasan ciptaan-Nya tersebut kemudian beberapa ciptaan-Nya diciptakan dalam waktu tertentu, seperti misalnya penciptaan langit dan bumi, penciptaan dan pembangkitan manusia. Jadi adanya tenggang waktu penciptaan itu semata-mata karena keterbatasan integrated development yang diciptakan-Nya dan bukan karena kelemahan Alloh SWT. Alloh melebarkan waktu penciptaan tersebut untuk tujuan yang tidak sia-sia, yang salah satu tujuannnya agar menjadi ayat kebesaran-Nya bagi seluruh mahluk-Nya.

Alloh adalah Programmer bagi alam semesta dan mahluk di dalamnya, sebagaimana firman-Nya: "Dan kepunyaan-Nyalah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk." (Q.S.30:26) Semuanya tunduk kepada Alloh karena Allohlah yang mencode mereka. Alloh yang menetapkan proses bagi mahluk-Nya sehingga tidak ada satupun mahluk yang dapat keluar dari rencana dan kekuasaan-Nya. Secerdas apapun mahluk ciptaan-Nya, Alloh mengetahui apa yang akan dipelajarinya dan apa yang akan terjadi padanya di masa depan. Jika manusia menggunakan perangkat simulator yang dijalankan pada super computer untuk mengetahui perkembangan berikutnya dari program yang dibuatnya, Alloh tidak memerlukannya. "Sesungguhnya Allah mengetahui yang tersembunyi di langit dan di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati." (Q.S.35:38) "Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Q.S.57:3)

Rabb adalah Programmer Sejati

Maka tidak ada alasan sedikitpun yang dapat digunakan oleh seorang programmer untuk membanggakan dirinya di hadapan Sang Pencipta, Alloh SWT. Dan Universe Coder menciptakan mahluk dan programnya menggunakan metode rekayasa luar biasa dalam Integrated Development yang sangat sempurna, sehingga produk yang dicpita-Nya tidak memiliki cacat dan tidak tersia-sia.

Proses penciptaan dan ciptaan-Nya itu memberi manfaat bagi ciptaan-Nya dan tidak menambah sedikitpun kemanfaatan bagi diri-Nya. Maha Suci Alloh, Programmer Semesta, Yang Maha Berkehendak, Berkuasa, dan Berilmu dengan Bahasa Pemrograman Sementa Rayanya berikut Integrator Developmennya, Yang Maha Indah dan Sempurna segala produk ciptaan-Nya, yang tidak memerlukan paten atas produk-Nya karena tidak akan ada satupun yang dapat menandingi-Nya, segala pujian bagi-Nya.

Minggu, 18 Mei 2008

Keluarga Besar STT-Garut

Foto bersama staf STT-Garut dalam acara pengukuhan Guru Besar Prof. Dr. H. Ali Ramdhani, MT

Jumat, 16 Mei 2008

Me and My Wife

Ta'aruf 2005


Ice World 2007

Sabtu, 05 April 2008

Apabila Waktu Kuliah Dilaksanakan Menjelang Waktu Solat

ABSTRAK : Alloh menjadikan Syariat Islam tidak kaku sehingga kaum Muslimin dapat hidup ditengah masyarakat yang heterogen keyakinannya. Dalam keberagaman keyakinan dan tata sistem yang tidak Islami, kaum Muslimin tidak dapat memaksakan keinginannya kepada kaum lainnya dan harus dapat menjalankan kewajibannya di dalam aturan yang dirancang tidak disesuaikan dengan tradisi atau tuntunan agama Islam. Pejadwalan yang dibuat tanpa melihat kebiasaan atau waktu peribadatan harian kaum Muslimin biasanya dapat menyebabkan tumpukan kewajiban yang harus dijalankan oleh kaum Muslimin dalam satu waktu yang pendek atau terbatas. Demikian halnya dalam perkuliahan, terkadang para pelajar dan pengajar Muslim harus berhadapan dengan beberapa kewajiban yang harus dijalankan semuanya. Bagaimanapun datangnya satu kewajiban tidak serta merta menghilangkan seluruhnya atau sebagian kewajiban yang sedang dijalankan. Dan syariat Alloh yang tidak kaku menyebabkan kaum Muslimin dapat memanfaatkan waktu yang tersedia untuk menjalankan semua kewajibannya dengan tanpa mengurangi syarat atau aturan pada kewajiban tersebut, bahkan dapat mempersingkat semua atau beberapa kewajiban yang datang bersamaan.

PERSOALAN PADA MAHASISWA

Pertanyaan yang meliputi sebagian dari mahasiswa adalah: Bolehkah demi menuntut ilmu solat diundurkan? Sebagian besar dari mereka merasa takut dengan ancaman Alloh yang diyakini ditujukan bagi mereka yang tidak menghentikan perkuliahan untuk menunaikan solat, “Maka kecelakaanlah bagi mereka yang solat, yaitu orang-orang yang lalai dari solatnya.” (QS. 107:3-4). Padahal waktu kuliahnya tidak sampai menghabiskan waktu solat.

Lalai yang mencelakakan dalam ayat tersebut adalah apabila menunda solat hingga tiba waktu solat berikutnya. Hal tersebut dikuatkan oleh hadits yang ditulis oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya, “Aku pernah bertanya kepada Rasululloh SAW tentang orang-orang yang lalai dari solat mereka. Beliau menjawab, “Yaitu orang-orang yang mengakhirkan solat sehingga keluar dari waktunya.” (H.R. Sa'ad bin Abi Wa qqash)

Mengundurkan waktu solat sepanjang tidak melampaui batas waktu solat tidak termasuk lalai. Ada beberapa hadits yang menceritakan tentang pengunduran waktu solat :

Rasululloh SAW mengundurkan solat Zhuhur karena cuaca panas . Dalam kitab hadits sahih Bukhori, diriwayatkan dari Abu Dzar al-Ghifari r.a., dia berkata, Kami pernah menyertai Nabi SAW dalam suatu perjalanan, kemudian muazzin akan menyerukan azan Zhuhur, namun Nabi SAW bersabda, “Tunggulah sampai cuaca agak teduh”. Muazzin tersebut kembali akan menyerukan azan Zhuhur, namun Nabi SAW bersabda lagi, “Tunggulah sampai kita melihat bayangan bukit.” (H.R. Bukhor)

Dalam kitab Mukhtasar Sahih Bukhori, Imam az-Zabidi pada bab 8 dari Kitab Tentang Waktu Solat menyatakan bahwa Rasululloh SAW pernah mengakhirkan salat sehingga terkesan bersambung dengan solat berikutnya . Kemudian dituliskan: Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas r.a. bahwa Nabi SAW ketika di Madinah pernah mengerjakan salat del apan rakaat untuk Zhuhur dan Ashar, serta tujuh rakaat untuk Maghrib dan Isya . (H.R. Bukhori)

Solat yang setelah satu rakaat kemudian masuk waktu solat berikutnya adalah sah . Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata: Rasululloh SAW pernah bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu mengerjakan solat Ashar lalu matahari terbenam ketika baru mendapat satu rakaat, hendaknya dia sempurnakan salatnya, dan apabila salah seorang dari kamu mengerjakan solat Subu, lalu matahari terbit ketika baru mendapat satu rakaat, hendaknya dia menyempurnakan solatnya ” . (H.R. Bukhori)

Boleh tidur sebelum solat Isya bagi orang yang mampu bangun untuk melaksanakannya . Imam az-Zabidi dalam Mukhtasar Hadits Bukhori menyebutkan bahwa Rasululloh SAW pernah tidak segera melaksanakan solat Isya sehingga Umar memanggil beliau. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersama para sahabat melaksanakan solat Isya dalam waktu antara hilangnya merah jingga hingga sepertiga malam yang pertama. Dalam sebuah riwayat, Abdullah bin Abbas r.a. mengatakan: Kemudian Nabi SAW keluar ke Masjid dengan air yang menetes dari kepalanya sambil meletakkan telapak tangan di atas kepalanya, kemudian Nabi SAW bersabda, “Seandainya aku tidak khawatir akan memberatkan umatku, tentu aku perintahkan mereka mengerjakan solat Isya dalam waktu seperti ini.” (H.R. Bukhori)

Mengundurkan solat karena makanan telah dihidangkan. Diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa Rasululloh SAW pernah bersabda, “Apabila makan sore / malam telah dihidangkan, maka santap dulu sebelum melaksanakan solat Maghrib dan jangan makan dengan terburu-buru.” (H.R. Bukhori)

Melanjutkan perang setelah azzan dikumandangkan. Diriwayatkan dari Anas r.a. bahwa ketika Nabi SAW bertempur bersama kami melawan suatu kaum, beliau tidak menyerang sebelum Subuh, lalu beliau memperhatikan suara azan. Jika beliau menden gar suara azan beliau menghentikan serangan, dan jika belau tidak menden gar suara azan beliau terus menggempur mereka. (H.R. Bukhori)

Rasululloh SAW bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas tiap muslim.” (H.R. Ibnu Majah) Beliau SAW memerintahkan, “Tuntutlah ilmu, sesungguhnya ilmu adalah pendekatan diri kepada Alloh Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shodaqoh. Sesungguhnya Ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia. Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan di akhirat.” (H.R. Ar-Rabii') Jika karena hal mubah (seperti makan) solat dapat diundurkan, maka mengundurkan solat karena memenuhi kewajiban menuntut ilmu tidak perlu panjang lebar dalam membahas tentang kebolehannya.

Kalaupun perkuliahan tidak dihentikan untuk menunaikan solat, sebaiknya tetap dihentikan untuk mendengarkan azzan panggilan solat, kemudian dilanjutnya setelahnya sampai tujuan perkuliahan tercapai, baik dari sisi waktu ataupun kompetensi. Dosen harus memastikan agar terdapat waktu yang cukup untuk melaksanakan solat setelah perkuliahan selesai dilaksanakan.

Setelah perkuliahan selesai, baik Dosen ataupun mahasiswa Muslim harus segera menunaikan kewajibannya. Seyogyanya Dosen ataupun Lembaga bersikap toleran dan mengukur agar perkuliahan diselenggarakan tidak menghabiskan waktu solat yang akan menyebabkan Dosen ataupun mahasiswa tidak sempat melaksanakan solat karena dalam perjalanan, solat berikutnya tiba. Dalam kondisi tertinggal solat seperti itu, maka solat tidak dapat diqadla karena qadla itu hanya bagi mereka yang lupa, sebagaimana diriwayatkan dari Anas bin Mali k r.a. bahwa Nabi SAW pernah bersabda, “Siapa yang lupa untuk melaksanakan solat, maka laksanakanlah ketika ingat, tanpa kaffarah atas lupanya itu kecuali dengan mengerjakan solat tersebut.” Kemudian Rasululloh SAW membaca ayat: “ … dan dirikanlah solat untuk mengingat Aku.” (H.R. Bukhori)

Solat itu wajib dilaksanakan pada waktunya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud r.a., ia berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasululloh SAW, “Amal apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Solat tepat pada waktunya.” (H.R. Muslim) Diriwayatkan dari Abu Dzar r.a., ia berkata: Rasululloh SAW bersabda kepada saya, “Bagaimana sikapmu jika dikuasai oleh para pemimpin yang menjalani solat di luar waktunya?” Abu Dzar mengatakan: Saya bertanya, “Lalu apa yang anda perintahkan kepada saya?” Nabi SAW bersabda, “Lakukanlah solat pada waktunya. Jika kamu menemui waktu solat bersama mereka, maka solatlah, karena yang demikian itu tambahan pahala bagimu.” (H.R. Muslim)

Apabila perkuliahan dapat dihentikan dengan jaminan terpenuhinya waktu dan tujuan perkuliahan, sebaiknya berhenti untuk melaksanakan solat pada saat azzan dikumandangkan. Diriwayatkan dari Aisyah r.a., dia pernah ditanya mengenai apa yang diperbuat Nabi SAW di rumah. Aisyah r.a. menjawab: “Nabi SAW melaksanakan tugas-tugas untuk keperluan rumah tangga dan apabila waktu solat tiba beliau ke luar ke masjid untuk melaksanakan solat.” (H.R. Bukhori)

Wa ba'du,

Kemudian ada di antaranya yang beranggapan bahwa perkuliahan tentang ilmu dunia seperti ilmu computer dan yang semisal, atau ilmu tentang mencari harta dunia harus dihentikan secara mutlak apabila azzan dikumandangkan untuk menunaikan solat karena dianggap tidak penting dan utama. Benarkah semua ilmu dunia itu tidak utama? Sebenarnya tergantung kepada niat dan untuk apa ilmu dunia dikuasai. Apabila dikuasai untuk kepentingan agama dan akhiratnya, seperti menafkahi diri dan keluarganya, atau bersedekah, membiayai dakwah dan perjuangan agama, maka keutamaan menuntut ilmu dunia tersebut tidak jauh bedanya dengan menuntut ilmu agama.

Rasululloh SAW bersabda, “Mencari rizqi yang halal adalah wajib sesudah menunaikan yang fardlu” (H.R. Athabrani dan al-Baihaqi) Jika mencari rizqi halal adalah wajib, maka mempelajari dan menguasai ilmu dunia yang digunakan untuk mencari rizqi yang halal adalah wajib, sama wajibnya dengan mempelajari dan menguasai ilmu agama.

Jika rizqi yang diperoleh berupa uang, kemudian uang itu diinfakkan untuk dirinya dan orang lain, maka adalah suatu keutamaan untuk mengusahakannya. Diriwayatkan dari Tsauban r.a., ia berkata: Rasululloh SAW pernah bersabda, “Uang yang paling utama yang diinfakkan oleh seseorang adalah uang yang diinfakkan untuk keluarganya dan uang yang diinfakkan untuk hewan (kendaraannya) demi membela agama Alloh, serta uang yang diinfakkan untuk para sahabatnya demi membela agama Alloh.”

Kata Abu Qilabah, “Dia mendahulukan infak untuk keluarga yang menjadi tanggungannya.” Lalu Abu Qilabah mengatakan, “Tidak ada orang yang pahalanya lebih besar dari pada orang yang berinfak untuk keluarganya yang kecil-kecil sehingga dia membebaskan mereka dari kemiskinan, atau Alloh memberikan manfaat kepada mereka sebab orang tersebut dan menjadikan mereka menjadi kaya.” (H.R. Muslim)

Mencari nafkah untuk keluarga adalah berjuang di jalan Alloh, sebagaimana sabda Rasululloh SAW: “Sesungguhnya Alloh suka kepada hamba yang berkarya dan trampil. Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan mujahid di jalan Alloh Azza wajalla.” (H.R. Ahmad)

Tidak ada kerugian mencari ilmu dunia yang akan memberi keuntungan uk hrowiyah bagi pengamalnya. Bagi mereka yang mencari rizqi dengan bekal ilmu dunia atau agama, maka ampunan Alloh baginya. “Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Alloh.” (H.R. Ahmad) “Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus dengan pahala solat, sedekah, atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusahpayahan dalam mencari nafkah.” (H.R. Athabrani)

Yang harus digarisbawahi adalah rizqi yang halal hanya dapat dicapai apabila ilmu dunia diamalkan dalam arahan ilmu agama. Ilmu computer tidak akan berfaidah atau melahirkan rizqi yang halal apabila digunakan untuk melakukan pekerjaan tidak halal seperti: tindak pencurian di internet, menjalankan bisnis ecommerce yang fiktif, mark-up anggaran pengembangan perangkat, menipu pelanggan yang tidak mengerti teknologi, berdusta dalam menjelaskan harga barang, dan lain sebagainya.

PERSOALAN PADA DOSEN

Ada pun para Dosen, kewajiban mereka adalah memenuhi kontrak kerja atau amanat yang disepakati sebelumnya dengan Lembaga, yang salah satu diantaranya adalah mengajar sesuai dengan jadwal dengan tidak mengurangi waktu mengajar yang telah ditetapkan dalam kontrak kerja. Pengurangan waktu perkuliahan oleh Dosen tanpa alasan yang kuat merupakan tindak korupsi dan menyalahi kontrak kerja. Dosen yang mengurangi waktu perkuliahan tanpa alasan kuat dianggap tidak amanat atau tidak profesional. Rasululloh SAW bersabda, “Tiada beriman orang yang tidak memegang amanat dan tiada agama bagi orang yang tidak menepati janji.” (H.R. Adailami)

Rasululloh SAW mengingatkan kepada para Dosen dan mereka yang memegang amanat, “Tunaikan amanat terhadap orang yang mengamanatimu dan janganlah berkhianat terhadap orang yang menghianatimu.” (H.R. Ahmad dan Abu Dawud). Bagi Dosen, yang memberi amanat adalah Lembaga yang mewakili mahasiswa atau oran g tua mahasiswa agar melaksanakan perkuliahan sesuai dengan kontrak kerja.

Apabila waktu perkuliahannya ternyata berbatasan dengan waktu solat, maka para Dosen dapat mengundurkannya batas akhir waktu perkulahannya untuk melaksanakan solat selama mahasiswa atau Dosen tidak memiliki kegiatan lagi setelahnya, atau di kelas yang dipakainya mengajar tidak akan diselenggarakan perkuliahan oleh dosen lainnya. Nam un apabila tidak demikian, maka Dosen tidak dapat menghentikan atau mengurangi waktu mengajarnya kecuali untuk keperluan yang teramat penting atau utama untuk berhenti.

Lain halnya apabila waktu kuliah diselenggarakan sepanjang waktu solat hingga datang waktu solat berikutnya, Dosen seharusnya menolak kontrak kerja atau meminta agar Lembaga bersikap toleran dan memberikan waktu solat di antara waktu perkuliahannya.

Allohu a'lamu .

KESIMPULAN

Tidak sedikit perkuliahan yang waktu kuliahnya dilaksanakan menjelang atau bahkan tepat pada saat adzan solat dikumandangkan. Sebagian mahasiswa ada yang memilih tidak masuk kuliah tepat waktu karena beralasan ingin solat di awal waktu. Apabila dia tidak berhasil datang ke kelas dalam batas waktu tunggu yang ditetapkan oleh Dosen, maka dia dianggap datang terlambat dan harus menanggung akibat keterlambatannya, seperti tidak dapat menandatangani absensi kehadiran atau bahkan tidak diperbolehkan masuk. Sebagian yang lain memilih untuk hadir tepat waktu di kelas dan mengundurkan solat dengan berberat hati.

Mungkin sebenarnya Lembaga Pendidikan dapat mengatur agar jadwal kuliah tidak menyeberangi awal waktu solat. Tetapi tidak sedikit yang karena padatnya perkuliahan dan terbatasnya ruangan menyebabkan jadwal perkuliahan tidak dapat diatur agar tidak diletakkan satu atau setengah jam menjelang adzan dikumandangkan. Bahkan di Negara atau sistem yang sangat sekuler, jadwal atau aturan sangat tidak toleran terhadap integritas kaum Muslimin dalam peribadatannya kepada Alloh. Dalam kondisi seperti ini, kaum Muslimin tidak merasa khawatir karena Syariat telah memberikan solusi dari dulu tentang bagaimana menyiasati hambatan dalam menjalankan kewajiban Syariat. Apabila hambatan menutup jalan kaum Muslimin dalam menjalankan kewajibannya, maka solusinya tidak lain kecuali dengan menolak dan memperjuangkan peru bahan atas kondisi tersebut.

(Persepsi : Rinda Cahyana)

Dua kali salam untuk setiap solat.

Yakni dengan meneruskannya hingga jumlah rakaatnya sempurna.

Selasa, 01 April 2008

Menjadikan Profesi Dosen Sebagai Ibadah Profesional

Abu Nashr as-Sarraj dalam kitabnya al-Luma' menuliskan, "Sedangkan syarat-syarat bekerja untuk mencari nafkah antara lain : 1) Hendaknya ia tidak cenderung menyukai pada pekerjaannya, 2) Tidak melihat bahwa rizqi yang ia dapatkan berasal dari usaha kerjanya, 3) Ia bekerja tidak untuk mengumpulkan harta, akan tetapi hendaknya berniat membantu umat Islam, 4) Pekerjaannya tidak menyibukan dari melakukan shalat wajib di awal waktunya, 5) Hendaknya belajar ilmu syariat agar tidak makan mahakan haram."
Profesionalisme dicapai tidak harus bermodalkan rasa suka terhadap pekerjaan. Yang terpenting adalah ketaatan dan sikap amanah. Bahkan terkadang kecenderungan suka pada pekerjaan dapat menjadi masalah karena biasanya menyebabkan kita tidak mampu untuk bersikap adil terhadap pekerjaan yang lainnya yang seharusnya juga diperhatikan.
Syarat pertama Abu Nashr mengandung makna lainnya, yakni kita tidak boleh cenderung menyukai pekerjaan Muamalah sehingga melalaikan pekerjaan Ubudiyyah seperti : kewajiban taat kepada Syariat Alloh, menjadikan kerjanya sebagai jalan mengingat Alloh (Dzikrullah), berjuang untuk, demi, dan dalam agama Alloh, serta tidak melalaikan pekerjaan lainnya yang sama atau bahkan lebih penting. Dengan kata lain, kita harus menemukan landasan Syariat atas pekerjaan yang dilakukan yang menjadikan kita kemudian merasa tenang dan bahkan senang karena yakin pekerjaan ini tidak mengganggu hubungan dengan Alloh dan bahkan menambah kedekatan dengan-Nya.
Tuntutan pekerjaan terkadang membuat kita melalaikan Syariat Alloh, baik kewajiban ataupun tuntunannya. Pada saat Syariat dilalaikan, maka saat itu kita memiliki kecenderungan dan kecintaan kepada pekerjaan melebihi kecenderungan dan kecintaan kepada Alloh. Saat kita tenggelam dalam kecintaan tersebut, dikhawatirkan kita masuk ke dalam golongan yang disitir Alloh dalam firman-Nya, "Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat lalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)." (Q.S.2:165) Pekerjaan atau kecenderungan pada pekerjaan tersebut menjadi berhala karena lebih ditaati dari pada Alloh, dan dibela tanpa memperhatikan hak-hak Alloh. Astaghfirullah ...
Bagaimana menjadikan pekerjaan kita menjadi ibadah di sisi-Nya? Langkah awal adalah itikad atau niat awal pekerjaan. Ada do'a warisan orang soleh di masa lalu yang sangat baik untuk dijadikan niat awal bekerja, yang artinya : "Wahai Alloh, Engkaulah Maksudku (dalam pekerjaan ini), dan Ridlo-Mu yang kuharapkan. Limpahi aku ampunan-Mu, Makrifat kepada Mu, dan kecintaan kepada Mu." Dalam rasa takut terhadap cinta dunia yang akan menghancurkan ibadah dalam pekerjaan, kita berdo'a, "Alloh, jadikan kecintaan kepada-Mu lebih aku cintai dari pada kecintaan kepada diri, keluarga, dan air dingin di kala kehausan." Kemudian disambung dengan do'a memohon kekuatan dalam beibadah, "Alloh tolonglah aku dalam mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan membaikan ibadahku kepada-Mu." Dan mungkin akan lebih sempurna apabila kita mengharap hasil akhir dari pekerjaan yang akan kita lakukan dengan do'a berikut ini, "Alloh jadikan aku orang-orang yang bertaubat kepada-Mu, dan jadikan aku sebagai orang-orang yang mensucikan diri, dan jadikan aku sebagai hamba-Mu yang soleh." Amien.
Langkah berikutnya setelah niat yang dikokohkan dengan do'a adalah meyakinkan bahwa pekerjaan kita adalah ibadah di sisi-Nya. Sebagai Dosen, pekerjaan kita adalah : mengajar, meneliti, dan mengabdi kepada masyarakat. Mengajar adalah pekerjaan mulia karena Alloh pun berkedudukan sebagai pengajar, Yang Maha Berilmu.
Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar! (Q.S.2:31) Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S.96:5) ... dan (ingatlah) di waktu Aku (Alloh) mengajar kamu (Isa) menulis, hikmah, Taurat dan Injil, ... (Q.S.5:110)
Alloh menjadikan Rasul-Nya sebagai pewaris atau wakil pengajaran-Nya, ulama sebagai pewaris pengajaran Rasul-Nya, orang mengetahui terhadap orang yang tidak mengetahui, dan kita terhadap jiwa kita.
Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Q.S.3:164) Musa berkata kepada Khidhr: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? (Q.S.18:66)
Mengajarkan bukan hanya urusan ibadah kepada Alloh semata, tetapi juga dalam konteks hubungan dengan masyarakat,
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermu`amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Dan janganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berutang itu mengimlakan (apa yang akan ditulis itu), dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi sedikit pun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang lemah akalnya atau lemah (keadaannya) atau dia sendiri tidak mampu mengimlakan, maka hendaklah walinya mengimlakan dengan jujur. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki di antaramu). Jika tak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridai, supaya jika seorang lupa maka seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila mereka dipanggil; dan janganlah kamu jemu menulis utang itu, baik kecil maupun besar sampai batas waktu membayarnya. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak (menimbulkan) keraguanmu, (Tulislah muamalahmu itu), kecuali jika muamalah itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tak ada dosa bagi kamu, (jika) kamu tidak menulisnya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit-menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S.2:282) Mereka menanyakan kepadamu: Apakah yang dihalalkan bagi mereka? Katakanlah: Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatihnya untuk berburu, kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu, Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (Q.S.5:4)
Tetapi mengajarkan sesuatu yang hanya sesuai atau bukan yang tidak penting,
Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Qur'an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan, (Q.S.36:69)
Adapun meneliti, hal ini sudah menjadi kecenderungan dari Bapak Agama Samawi, Ibrahim a.s. Alloh menceritakan kisah perjalanan Ibrahim a.s. dalam membuktikan hipotesisnya melalui riset Mukjizat bahwa Alloh adalah Rabb mampu membangkitkan mahluk-Nya dari kematian.
Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati. Allah berfirman: Belum yakinkah kamu?. Ibrahim menjawab: Aku telah meyakininya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku). Allah berfirman: (Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): Lalu letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera. Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Q.S.2:260)
Dan pengabdian masyarakat, di dalam Islam masuk ke dalam amal yang diistilahkan amal saleh. Al-Qur'an menyebut amal saleh lebih dari 55 kali. Sebagaimana mengajar dan meneliti, Alloh meninggikan harga belinya atas amal pengabdian masyarakat Dosen yang tidak melanggar Syariatnya, sebagaimana firman-Nya, "Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.S.16:97)
Semoga amaliah pekerjaan kita menjadi berkah, karena mendatangkan ampunan, pensucian, peningkatan pengetahuan (makrifat) dan kedekatan kita kepada-Nya, dan kecintaan-Nya. Dan semoga Alloh mengampuni kekhilafan, menyadarkan kita akan kebodohan yang selama ini menutupi, dan memberi taufik yang menguatkan pijakan kaki kita di atas jalan Syariat-Nya. Amien.

Sabtu, 22 Maret 2008

Mengapa Syauqi Ahmad Nurulloh ?

Syekh Abdul Qadir al-Jilani dalam kitabnya Sirr al-Asrar menuliskan : Allah Yang Maha Tinggi pada permulaannya menciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya suci Keindahan-Nya. Dalam hadis Qudsi Dia berfirman:“Aku ciptakan ruh Muhammad daripada cahaya Wajah-Ku”.

Hari Sabtu itu (15 Maret 2008), anak yang diberi ruh (di bulan ke-4 dalam kandungan) oleh Alloh pada bulan Ramadhan terlahir. Namun garis namanya sudah lebih dahulu lahir, semasa perjalanan harakahku dulu, yakni Muhammad Syauqi Radli Nurulloh.

Di atas perjalanan ini aku tidak bisa menamainya demikian lagi, aku akan menamainya sesuai dengan keadaan diriku dan doaku untuknya, maka aku beri nama ia Syauqi Ahmad Nurulloh, yang kurang lebih artinya: Kurindukan engkau wahai Ahmad (Muhammad SAW) Cahaya Alloh.

Kelahirannya adalah kerinduanku kepada Sayyid Ahmad, Muhammad bin Abdullah SAW. Aku begitu berharap agar aku dapat kembali ... dan akhirnya cahaya itu menyeruak ke dalam khalbu. Di hari kelahiran Muhammad SAW yang merupakan 7 hari kelahirannya, ku jadikan aqiqahnya sebagai tebusan bagi diriku, dengan berharap agar aku sampai kepada Cahaya-Nya.

Setiap kali orang memanggil lengkap nama anaku, maka terucapkan kembali kerinduanku kepada Cahaya-Nya, sehingga kuharap hal itu menjadi ingatan, do'a, dan kebaikan bagi ku beserta keluargaku.

Syekh Abdul Qadir al-Jilani berkata, "Roh Muhammad adalah zat atau hakikat kepada segala kejadian, permulaan dan kenyataan alam maya." Sebagaimana Cahaya Ahmad adalah inti penciptaan, maka aku berharap peletakan nama di hari Maulid Rasululloh SAW ini merupakan awal penciptaan diriku yang baru ... diri yang berserah, yang mendapatkan keberkahan dari para penumpang bahtera yang ku nahkodai.


Syauqi sesaat setelah dilahirkan

Semoga Anak ini menjadi pelita dan menjadi penyambung rinduku kepada Cahaya-Nya ... Amien.

Selasa, 04 Maret 2008

Merubah Kebiasaan Untuk Mendapatkan Sesuatu Yang Luar Biasa

Syekh Ahmad bin Muhammad Athaillah dalam kitab Hikam nya menuliskan, "Bagaimana kalian menginginkan sesuatu yang luar biasa, padahal kalian sendiri tidak merubah kebiasaan diri sendiri."
Mungkin ada di benak kita keinginan untuk menjadi pengajar, peneliti, dan pelayan publik yang baik dan berprestasi. Kita ingin menjadi seseorang yang luas pengalaman dan pakar dalam bidang tertentu. Kita ingin menjadi salah satu dari penemu sesuatu. Kita ingin menjadi orang yang dikenal mampu berkontribusi dalam pembangunan masyarakat atau bahkan dunia. Tetapi kitapun tahu bahwa untuk itu semua tidak mungkin dengan kebiasaan kita sekarang. Kita akan seluarbiasa itu apabila kebiasaan kitapun luar biasa.
Dan luarbiasa itu tiada batasannya, sehingga usaha kita untuk memiliki kebiasaan yang luar biasa tidak terhingga batasannya. Sifat tamak yang diwarisi manusia akan menyebabkan manusia tidak pernah merasa puas dan menganggap dirinya sudah luar biasa. Sampai mati kita tidak akan pernah sampai pada posisi luar biasa, sekalipun apa yang kita fikir luar biasa di masa lalu sudah kita capai. Karena dalam keluarbiasaan, ternyata kita menemukan sejumlah point pencapaian yang belum kita capai. Dan untuk mencapainya kita harus memiliki kebiasaan yang lebih luar biasa. Sampai akhirnya kita tidak bisa berusaha lagi karena terputusnya kesempatan.