Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Kamis, 17 Maret 2016

Panggilan-Nya


Setelah mengaruniakan komitmen kembali kepada-Nya, Dia tidak perlu mengaruniakan kata siap dari lisan hamba-Nya saat berkehendak mengundang hamba-Nya yang penuh dosa.


Hari ini 17 Maret 2016, merupakan hari yang tidak bisa dilupakan. Hari di mana Allah menunjukan cara-Nya menjawab kelelahan ini. Seakan Dia berkata, "Engkau telah memahami bagaimana seharusnya keinginan untuk kembali itu yang sebenarnya, yakni dengan tidak memenuhi kehendak nafsumu dan kehendakmu untuk memilih. Sekarang datanglah ke rumah-Ku, tunaikan kewajiban mu, semoga engkau terbebaskan". 

Di awal perjalanan dari Garut, memenuhi panggilan Allah merupakan topik pembicaraan dengan pak Eri Satria. Di awal pembicaraan saya menyatakan tidak siap untuk memenuhi panggilannya. Namun di tengah perjalanan pak Eri merasa ada panggilan Allah yang dekat. Dan ternyata di ruangan itu, Allah memanggil dengan lisan hamba-Nya, "Rinda Cahyana"

Untuk sesaat saya mengalami keheningan, kemudian tubuh ini beranjak dari kursi dan kaki ini melangkah menuju sumber suara. Sementara itu mata saya melihat kembali semua yang telah dikatakan oleh hati, sehingga tidak melihat ke dunia nyata. 

"Saya berharap mendapat Laptop (untuk bekerja)", 
"Saya berharap mendapat sepeda yang diinginkan Syauqi selama ini", 
"Saya tidak boleh memilih, biarkan Allah yang memilihkan". 
"Akankah Allah memanggil hamba berdosa ini ke rumah-Nya?". 

Lamunan itu terpecahkan saat saya diminta untuk menunjukan kertas pengenal. Pertanyaan apakah saya sudah haji tidak berhasil saya jawab, karena terjebak oleh rasa tidak percaya. Dalam hati ini berkata, "Tuhan benar-benar memanggil pendosa ini ke rumah-Nya". Lalu mata ini pun berkaca-kaca. Saya tidak berani untuk bahagia, saya merasa malu akan menjadi tamu-Nya.

Saya takjub kepada-Nya karena Dia telah mengatakan pada bulan-bulan sebelumnya melalui lisan hamba-Nya bahwa Dia akan mengundang dua tahun kemudian dan Dia memenuhinya. Dia pun mengabarkan kebahagiaan yang besar itu, dan semoga itu adalah ampunan dan ridha-Nya. 

Sahabatku berkata, "Mungkin karunia ini karena engkau berniat kembali kepada-Nya. Padahal dulu yang terbayang akulah yang menjadi tamu-Nya dan akan berdo'a untuk engkau". 

Aku berkata kepadanya, "Mungkin karena engkau mengatakan tidak siap untuk kembali kepada-Nya sekarang sehingga akulah yang dipanggil-Nya" 

Saat saya mencoba memilih seseorang untuk menjadi teman menuju rumah-Nya, ternyata Dia tidak mengabulkannya. Seakan Dia berkata, "Datanglah sendiri, jika memang engkau bersungguh-sungguh untuk kembali"

Rabu, 16 Maret 2016

Manajemen Waktu Penelitian Mahasiswa

Hari ini 16 Maret 2016, yang dikerjakan di kantor Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut selama kurang lebih dua jam setengah adalah poster Pedoman Penelitian Mahasiswa. Rencananya akan dicetak sebagai poster ukuran A3 dan ditempel untuk dibaca baik oleh mahasiswa dan juga dosen pembimbing penelitian mahasiswa. Manajemen waktu ini merupakan milestone yang harus diperhatikan oleh Koordinator dan dirujuknya saat memeriksa catatan mingguan penelitian mahasiswa untuk memberi notifikasi kepada Dosen Pembimbing Penelitian Mahasiswa sekiranya tidak memenihi milestone tsb.

Waktu yang digunakan sesuai dengan jumlah SKS matakuliah Tugas Akhir, yakni 6 SKS. Satu SKS untuk bentuk pembelajaran penelitian adalah 160 menit. Jumlah pertemuan minimal dengan stakeholders di kampus dalam per minggu per semester adalah 16 kali, sehingga jumlah total beban belajar mahasiswa yang melakukan penelitian per minggu adalah 6 x 160 menit, dan satu semester 16 pertemuan x 6 SKS per pertemuan x 160 menit per SKS atau sekitar 256 jam. Selama 128 jam mahasiswa harus berhasil membuat rencana penelitian di bawah bimbingan Dosen, yang kemudian berujung pada Seminar Proposal Penelitian pada saat berbarengan dengan Ujian Tengah Semester. Dan selama minimal 128 jam mahasiswa harus berhasil melaksanakan, mendokumentasikan, dan mempublikasikan hasil penelitiannya, yang berujung pada Sidang Penelitian Mahasiswa. Apabila tidak selesai, mahasiswa bisa memperpanjang masa pelaksanaan rencana penelitiannya selama satu semester berikutnya, dan seterusnya dan seterusnya hingga yang bersangkutan mencapai semester 14. Apabila lebih dari 14, yang bersangkutan diberhentikan / drop out.

Dosen akan diberikan notifikasi sekiranya diketahui oleh Koordinator Penelitian Mahasiswa berdasarkan progress report ada mahasiswa yang luaran belajarnya tidak memenuhi milestone. Dalam kaitannya dengan Quota bimbingan, setiap Dosen yang memenuhi syarat membimbing diberi default quota sebanyak 8 - 10 mahasiwa setiap semester, sesuai peraturan menteri pada pasal tentang batas normatif meluluskan per semester. Mahasiswa yang belum lulus dan tidak keluar dari kampus dihitung dalam quota tersebut. Mahasiswa yang mengganti topik di jam ke berapapun dari mirestone yang harus dilalui, artinya dia memulai penelitiannya dari awal. Mahasiswa dapat mengganti Dosen Pembimbing hanya jika proses bimbingan telah berjalan dan Dosen Pembimbing menyatakan sudah tidak lagi berkomitmen membimbing yang bersangkutan.  


Minggu, 06 Maret 2016

Silaturahim dengan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono


Pada hari minggu, tanggal 6 Maret 2016, bertempat di rumah makan Asep Stoberi Limbangan - Garut saya menghadiri undangan kak Makmul untuk bersilaturahim dengan Presiden Indonesia sebelum pak Jokowi, yakni Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Satu hari sebelumnya pada malam hari kak Makmul menyampaikan undangannya dengan maksud agar saya dapat menyampaikan masukan kepada beliau terkait peran penting komunitas / relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam pendampingan masyarakat hingga ke perdesaan dalam pemanfaatan TIK. Untuk keperluan tersebut saya menyiapkan beberapa lembar yang berisi konsep dan capaian kegiatan pemberdayaan desa yang dilakukan di Garut. Pengerjaaannya hingga pukul setengah dua pagi. 


Sesuai dengan undangan, saya tiba ke lokasi pukul 08.00, namun ternyata rombongannya akan tiba agak siang. Dalam masa menunggu tersebut, kak Makmul memperkenalkan saya kepada ibu Siti, legislator dari fraksi partai tertentu di DPR. Saya kemudian menjelaskan rencana kegiatan relawan untuk pendampingan masyarakat dalam pemanfaatan TIK yang akan dilakukan oleh Saka (Satuan Karya) Pramuka Telematika Garut. Beliau mengapresiasi rencana tersebut. Beberapa minggu sebelumnya dalam kesempatan melaksankaan uji kompetensi di SMK IT Nurul Amien, kak Makmul menjanjikan pertemuan dengan beliau untuk kepentingan kegiatan Saka Telematika Garut. 

Saya juga bertemu dengan bapak-bapak pendidik di wilayah Utara Garut. Ternyata beberapa di antaranya adalah pengurus HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) seperti saya. Pak Bambang yang merupakan pimpinan sekolah di Yayasan Pondok Pesantren al-Ghaniyyah kecamatan Selaawi menjelaskan usahanya merintis HIPMI Pesantren. Saya kemudian menawarkan kepada beliau untuk memanfaatkan luaran program Ipteks bagi Masyarakat tahun 2014 yakni situs web ict4pesantren yang salah satu fiturnya adalah etalase bisnis Pondok Pesantren. Pondok Pesantren anggota HIPMI Pesantren dapat memanfaatkan fitur tersebut untuk mengembangkan bisnis antar Pondok Pesantren.  

Selain itu saya pun bertemu dengan pak Temy yang juga pejabat di lingkungan Yayasan tersebut. Menariknya, beliau memiliki Saung Net di mana kebutuhan informasi atau pengetahuan para petani disediakan melalui sambungan internet Smartfren di tengah lahan pertanian. Bagi saya ini temuan luar biasa, karena pada akhirnya saya bertemu dengan Komunitas Petani yang menggunakan TIK untuk keperluan pertanian. Saya sampaikan kepada beliau ketertarikan untuk mengunjungi dan membantu teknologi Saung Net. Saya sampaikan komitmen untuk mendampingi Komunitas ini hingga diusulkan mewakili Garut ke Komunitas TIK Award Jawa Barat. 

Sementara bapak Kyai menjelaskan kepada saya fasilitas yang dimiliki Yayasan, termasuk di antaranya Rumah Susun Sewa. Saya kemudian mencoba menghubungkan fasilitas dan kegiatan Komunitas di Utara tersebut dengan forum Quadruple Helix tahunan dan Koordinasi Komunitas TIK wilayah Utara. Saya mengajukan agar Yayasan yang berlokasi di desa Cigawir kecamatan Selaawi tersebut dapat menjadi Pusat Komunitas TIK wilayah Utara Garut, di mana bapak-bapak tersebut menjadi pengurus Koordinasinya. Usulan saya tersebut disambut baik. Pak Bambang rencananya akan mengundang saya dalam kesempatan kegiatan mendatang di Yayasan tersebut, yang tentu saja dengan senang hati akan saya penuhi untuk melihat potensi pengembagan Komunitas / Relawan TIK atau partisipasi masyarakat dalam bidang TIK di wilayah utara Garut. 

Saya juga bertemu dengan kang Uce yang merupakan jurnalis TV9 di lokasi. Beliau adalah salah satu personal yang merintis e-Kecamatan di Selaawi, yang pertama di Garut. Beberapa hari sebelumnya saya membaca berita tentang e-Kecamatan yang diluncurkan oleh Bupati Garut ini dan menyempatkan diri untuk mencarinya di internet walau tidak ditemukan. Di lokasi ternyata saya dapat bertemu dengan penggeraknya. Beliau menjelaskan bahwa e-Kecamatan merupakan bukanlah situs web, tetapi aplikasi yang menghubungkan layanan desa dengan layanan kecamatan. Oleh karenanya wajar saya tidak berhasil menemukan keberadaan aplikasinya di internet. Beliau menjelaskan bahwa pemerintah di Lampung tertarik untuk mempelajari aplikasi ini. Saya sampaikan kepada beliau keinginan untuk menjadikan kecamatan Selaawi sebagai sampel daerah layanan relawan TIK di wilayah utara Garut. Ini akan melengkapi layanan relawan TIK di wilayah selatan Garut yang telah mulai dijalankan sejak tahun 2015. 

Tibalah saat pertemuan dengan pak Susilo Bambang Yudhoyono. Di rumah makan itu, kami berempat adalah orang yang pertama kali disalami beliau sesaat setelah beliau mengucapkan salam kepada semua orang yang ada. Saya melihat dalam rombongan tersebut ada ibu Ani Yudhoyono dan anaknya pak Ibas. Saya juga sempat menyapa mas Roy Suryo yang merupakan salah satu menteri dalam kabinet sebelumnya. Saat melihat ada kang Dede Yusuf, saya teringat Saka Telematika Garut yang saya pimpin. Saka ini merupakan rintisan Relawan TIK Indonesia wilayah Jawa Barat dengan Gerakan Pramuka Kwartir Daerah Jawa Barat dan didorong oleh kang Dede. Saya hanya sempat memperkenalkan diri kepada beliau sebagai ketua Saka Telematika di Garut namun tidak sempat berbincang karena beliau nampak sibuk sekali. 


Lokasi pertemuan pak Susilo Bambang Yudhoyono dengan masyarakat Garut sangatlah padat. Tadinya saya mau menyampaikan masukan yang sudah dipersiapkan, namun melihat kondiri rasanya tidak memungkinkan. Bahkan saya sempat berfikir untuk pulang duluan saja setelah menitipkan lembaran usulan ke kak Makmul, namun urung dilakukan. Lalu kemudian saya berfikir untuk menyerahkan lembaran usulan tersebut ke mas Roy saja. Akhirnya saya bisa menyerahkannya dan menjelaskan isi lembaran tersebut. Beliau membawa lembaran tersebut dan berjanji akan mengkomunikasikannya kepada komisi terkait di DPR. 


Lepas kegiatan tersebut, saya melaporkan temuan-temuan dalam diskusi dan sejumlah komitmen dengan pegiat TIK di wilayah utara Garut kepada pak Dik Dik Hendrajaya, kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Beliau mengapresiasi dan ingin membicarakan banyak hal dengan saya di kampus. Komunikasi dengan Pemerintah Kabupaten Garut terkait Komunitas / Relawan TIK di Garut ini telah terbentuk sejak tahun 2014 sebelum Dinas ini ada. Saat itu Komunitas / Relawan TIK Garut didampingi oleh bidang Informatika Sekretaris Daerah kabupaten Garut yang dipimpin oleh pak Basuki Eko. Hingga kini Komunitas / Relawan TIK telah beberapa kali menyelenggarakan kegiatan bersama Dinas Komunitas dan Informatika kabupaten Garut. 

Senin, 29 Februari 2016

Uji Kompetensi SMK IT Nurul Amien


Garut, 29 Februari 2016 adalah hari pertama uji kompetensi di SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Islam Terpadu Nurul Amien di kecamatan Leuwigoong untuk bidang Rekayasa Perangkat Lunak. Saya datang ke lokasi sebagai penguji siswa-siswi yang akan lulus dari sekolah tersebut. Ini adalah pertama kalinya saya terlibat dalam kegiatan kurikuler di sekolah. 

Beberapa minggu sebelumnya saya mendapat telpon dari kak Makmul Arief, rekan pengurus Kwartir Cabang Garut, yang meminta saya untuk dapat menjadi penguji kompetensi di sekolah yang dipimpinnya. Saya menyanggupinya, dan membantunya untuk mendapatkan satu penguji lagi dari Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Yang menarik, ternyata guru-guru produktifnya merupakan mahasiswa program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Informasi ini menambah peta lulusan program studi yang bekerja sebagai guru produktif di SMK bidang Informatika dan tersebar di berbagai kecamatan di Garut. Jadi ingat kepada diri saya sendiri, lulusan program studi yang ditakdirkan harus meniti karir sebagai tenaga pendidik di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dan tidak disadari, penguji dari Dinas Komunikasi dan Informatika Garut pun ternyata mahasiswa dan alumni Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Jadi tim penguji dan guru produktifnya serba Sekolah Tinggi Teknologi Garut, hehehe.

Tahun ini memang banyak permintaan uji kompetensi ke saya, di mana dua lokasi dialamatkan sekolahnya ke Komunitas TIK Garut yang saya pimpin dan satu lokasi ke Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Salah satu sekolah yang mengajukan uji kompetensi ke Komunitas TIK Garut mengemukakan alasannya yakni karena di Komunitas TIK Garut terdapat banyak orang yang kompeten di bidang TIK. Alhamdulillah karena memang umumnya pengurus Komunitas TIK Garut adalah tenaga pendidik baik di sekolah ataupun di perguruan tinggi. Di Komunitas TIK Garut, pembicaraan uji kompetensi ini sejak tahun 2014. Saat itu layanan uji kompetensi diwacanakan akan dilaksanakan oleh Komunitas TIK Garut. 

Di SMK Nurul Amien saya melihat kemampuan peserta ujian dalam pengembangan aplikasi komputer. Mereka bisa menggunakan kreatifitasnya untuk membuat aplikasi sesuai dengan kekhasan mereka. Ada sejumlah keahlian yang belum mereka capai, dan ini membuat saya terdorong untuk menyelenggarakan kegiatan di Garut yang bisa mengisi kesenjangan tersebut. Program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut harus dapat turut serta meningkatkan kemampuan siswa SMK Informatika dan mendorong mereka bisa berprestasi minimal pada level Garut. 

Sebelumnya saya sudah membawa Hackathon Merdeka 2.0 ke Garut, di mana dalam lomba nasional tersebut programmer di Garut memperlombakan aplikasi komputer yang dibuatnya. Berdasarkan pengalaman ini kemudian Dinas Komunikasi dan Informatika Garut mempersiapkan lomba pengembangan aplikasi eGoverment tahun ini, yang direncanakan rutin digelar setiap tahunnya. Tinggal peran pendampingannya yang harus diisi oleh program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan juga oleh Komunitas TIK Garut. 

Kamis, 25 Februari 2016

Smartfren Community and Media Gathering


Pada tanggal 23 Februari 2016, mas Tri Herlambang dari Klix Digital memberitahu rencana kegiatan melalui Facebook yang akan melibatkan Blogger Garut. Undangannya saya terima melalui email Komunitas TIK Garut pada hari yang sama dengan penjelasan bahwa pada acaranya nanti akan hadir jajaran manajemen Smartfren yang akan berbagi layanan Smartfren tahun 2016 dan beramah tamah dengan Blogger Garut. Ipan Setiawan yang ditunjuk sebagai koordinator Smartfren Community di Garut merekomendasikan kepada Smartfren beberapa Blogger Garut untuk diundang ke acara tersebut. Sebagian besar dari Blogger tersebut saya kenali di grup Kelompok Pengguna TIK yang yang dikelola oleh pengurus Komunitas TIK Garut. Jadi undangan tersebut bagi saya sekalian merupakan temu darat dengan Blogger Garut.

Malam Jum'at tanggal 25 Februari 2016 saya memenuhi undangan Smartfren untuk menghadiri Community and Media Gathering di Kampung Sampireun. Blogger yang hadir dalam acara tersebut beragam, mulai dari dosen, guru, penyiar, hingga pelajar. Di lokasi setiap Blogger diberi salah satu produk unggulan Smartfren, yakni router 4G LTE Mifi Andromax M2Y untuk menjajal kemampuannya. Saya menunjukan produk yang sama kepada mas Tri yang diberikan oleh teh Rosa dari VMeet sebagai hadiah saat Teleconference Diskominfo Jawa Barat bersama Smartfren. Artinya sebelum mengikuti acara yang mengenalkan 4G LTE saya sudah merasakan sendiri berselancar di internet menggunakan jaringan tersebut. Layanan internet Smartfren ini sudah saya kenali dan rasakan beberapa tahun yang silam saat Smartfren masih fokus di pasar CDMA. Saya mengenalnya pertama kali dari KH Abdul Halim Musaddad saat membantu menghubungkan jaringan lokal Sekolah Tinggi Agama Islam al-Musaddadiyah dan Yayasan al-Musaddadiyah ke internet menggunakan router CDMA Smartfren.

Suasana Pertemuan Blogger Garut dengan Manajemen Smartfren

Dalam kesempatan memperkenalkan diri, saya mengemukakan pengalaman menggunakan Smartfren. Pada tahun 2012 saya menerima dua unit MPLIK (Mobil Pusat Layanan Informasi Kecamatan) dari PT Rahajasa Media Internet untuk dioperasikan oleh Kelompok Pecinta TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Koneksi internet MPLIK sebenarnya menggunakan VSat. Hanya saja kendala teknis menyebabkan sambungan internetnya tidak berfungsi. Saat itu saya memutuskan untuk menggunakan dua buah router CDMA Smartfren agar semua laptop di dalam mobil tersebut bisa digunakan oleh pengguna layanannya.

Gambar Operator MPLIK dari KPTIK STTG

Gambar Potongan email yang dikirim setelah MPLIK ditarik dari KPTIK STTG

Dalam pertemuan tersebut, manajemen Smartfren menjelaskan Smartfren Community. Komunitas ini dibangun sebagai saluran komunikasi antara manajemen Smartfren dengan pengguna produk dan layananya. Selain itu anggota komunitas Smartfren juga diharapkan dapat menangani masalah teknis yang dihadapi oleh pengguna produk Smartfren dan memberikan literasi produk dan layanan Smartfren kepada masyarakat. 

Smartfren adalah provider pertama yang membawa teknologi 4G LTE ke Garut dan memiliki jaringan 4G terluas di Indonesia. Bicara tentang 4G ini saya teringat sosok Prof. DR. Khoirul Anwar, ilmuan Indonesia lulusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung yang menemukan sekaligus pemilik paten teknologi 4G berbasis Orthogonal Frequency Division Multiplexing. Beliau adalah Dosen sekaligus peneliti yang bekerja di laboratoriom Information Theory and Signal Processing, Japan Advanced Institute of Science and Technology, di Jepang.

Ilmuan 4G Indonesia

Smartfren menggunakan teknologi 4G LTE Advanced, di mana frequensi Time Division Duplex yang menyediakan kapasitas bandwidth yang besar dan Frequensi Division Duplex yang menyediakan jarak jangkau dalam satu pipa. Agar jaringan ini tersebar merata di Garut, Smartfren memprioritaskan penggunaan Frequensi Division Duplex. Dengan prioritas ini pengguna 4G Smartfren dapat menikmati kecepatan internet dari 2 sampai 8 Mbps. Pengalaman saya menggunakan router 4G LTE Andromax M2Y, kecepatan tertinggi yang pernah dicapai adalah 4 Mbps. Kecepatan ini berubah-ubah tergantung jumlah pengguna dan jaraknya dengan jaringan. Gambar berikut ini merupakan rekaman kecepatan dari Mifi Andromax pemberian teh Rosa yang saya gunakan. Dengan kualitas jaringan optimum, fitur terbaik dari teknologi Smartfren yakni Voice over LTE dapat dinikmati dengan kualitas tinggi dan waktu respon terbaik dibandingkan teknologi lainnya.  


Hasil pengujian kecepatan dan koneksi Smartfren

Kombinasi harga dan kecepatan yang beragam dari semua layanan penyedia internet di Garut membukakan kesempatan bagi masyarakat Garut untuk memilih layanan internet sesuai dengan kemampuannya. Kebutuhan internet berkaitan dengan kecepatan, dan pengguna akan memilih berdasarkan perbandingan tarifnya. Selamat merasakan dan memilih.

Minggu, 21 Februari 2016

Pengantar Himpunan Mahasiswa


Minggu, 22 Februari 2016, hingga pukul setengah satu pagi presentasi ini diselesaikan untuk disampaikan dalam acara Mabim (Masa Bimbingan) mahasiswa baru Prodi (Program Studi) Teknik Informatika STTG (Sekolah Tinggi Teknologi Garut) yang diselenggarakan oleh HIMATIF (Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika). Sebagai ketua Prodi saya ingin memberikan gambaran kepada mahasiswa dan pengurus HIMATIF tentang bentuk kegiatan seperti apa yang harus dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa agar sejalan dengan kebijakan pemerintah dan kepentingan akreditasi Prodi. Melalui presentasi ini saya berusaha mendorong mahasiswa agar turut serta bersama Prodi dalam memenuhi standar kemahasiswan dengan melakukan kegiatan relevan dibawah pengelolaan HIMATIF. 

Karena pengerjaan presentasi ini hingga pagi, saya memerlukan waktu tidur tambahan di pagi hari. Memastikan tubuh bugar diperlukan mengingat lokasi pelaksanaan Mabim lumayan jauh, yakni di Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional Pameungpeuk, sekitar perjalanan 3 jam dari pusat kota. Saya berencana pulang pergi mengingat anak bungsu dari kemarin hingga hari ini demam, khawatir memburuk dan perlu dibawa ke klinik. Selain itu besok harinya di STTG ada pertemuan untuk mengenalkan Prodi Teknik Informatika kepada calon mahasiswa.

Jam 10 an saya mengontak pak Eri Satria, berharap beliau punya waktu untuk menemani ke lokasi Mabim. Alhamdulillah, walau sudah menjelang siang ternyata beliau bisa menemani, sehingga saya tidak perlu sendirian menyusuri jalan ke Pameungpeuk yang berkelok. Namun perlu perjuangan untuk menjemput beliau. Jarak tempuh yang diperlukan ke rumah beliau biasanya sekitar belasan menit, kini harus hampir satu jam. Jalanan dikepung oleh kemacetan karena hari ini adalah pawai milad Garut. Dari jalan pembangunan saya memutar ke copong, bunderan Tarogong, hingga ke hampor. Dalam perjalanan sempat melihat dan berusaha menyapa sekretaris Dinas Komunikasi Informatika Garut yang berada di barisan depan dan mengayuh sepeda ontel bersama komunitasnya. Sempat bertanya di dalam hati, kapan Komunitas / Relawan TIK Garut ikut konvoi atau pameran dalam milad Garut. Tapi pikiran itu buyar setelah menyadari perkumpulan ini belum didaftarkan ke Kesbangpol Garut. Masih perlu waktu untuk bisa melakukan itu, sementara cukup puas dengan kesanggupan menjalankan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat.

Akhirnya jam 12 siang berhasil keluar dari kecamatan Samarang, dan perjalanan menuju Pameungpeuk pun lancar. Acara Mabim dibuka siang hari tanpa kehadiran saya. Syukurlah ada ketua STTG didampingi Wakil Ketua II STTG dan Sekretaris saya membuka acara tersebut. Sementara itu saya masih di daerah Batu Numpang, istirahat sebentar di rumah makan dan menyantap makanan dengan lahapnya saking enaknya masakan di sana. Sampai di lokasi jam 15 an. Setelah berbincang sebentar dengan Wakil Ketua II STTG dan Sekretaris saya, waktu menuju Maghrib dimanfaatkan untuk melengkapi materi presentasi. 

Sekretaris saya menginformasikan kalau materi saya dilaksanakan sekitar jam tujuh malam. Waktu menunggu dimanfaatkan untuk makan Seafood bersama pak Eri di tepi pantai. Satu jam kemudian panitia menghubungi melalui sms dan telpon menginformasikan sesi saya sudah akan dimulai. Makanan enak tersebut pun segera dihabiskan untuk dapat kembali ke lokasi. Ternyata ada dua orang alumni sudah menunggu, yang salah satunya adalah Koordinator Komunitas TIK wilayah Selatan Garut. Saya yang mengundang untuk mengevaluasi pelaksanaan Olimpiade Komunitas TIK se Garut bulan lalu. Karena waktunya bertepatan dengan sesi materi tersebut, saya ajak keduanya untuk menemani penyampaian materi di depan mahasiswa baru dan HIMATIF.

Dalam sesi tersebut saya jelaskan semua bagian Slide, di mana HIMATIF perlu menjalankan tiga kegiatan yakni 1) Kaderisasi anggota dan pengurus HIMATIF yang akan menjamin keberlanjutan program kemahasiswaan, 2) Mewujudkan prestasi akademik dan non akademik, serta 3) Melaksanakan pelayanan kepada masyarakat internal dan eksternal kampus sebagai usaha mendorong ketuntasan kuliah mahasiswa dan bagian dari promosi Prodi. Dan yang terpenting dari itu semua adalah HIMATIF harus mewujudkan transparansi kepengurusan, di mana laporan pertanggung jawaban kepengurusan, pengurus bidang, dan panitia ad-hoc disimpan di Cloud Storage, diterbitkan di situs web HIMATIF, dan disebarluaskan di media sosial. Keterbukaan dokumen di internet dan banyaknya akses kepadanya diharapkan dapat meningkatkan rangking Webometric STTG dari posisi terakhir 1 se Garut, 114 se Indonesia, dan 8010 se dunia. Selain itu juga untuk menjamin tidak terputusnya pengetahuan dari generasi ke generasi sehingga diharapkan ada peningkatan kualitas kegiatan setiap generasinya. 

Presentasi ditutup dengan yel-yel "Informatika, Satu !", dengan makna bersatu untuk menjadi nomor satu. Berikut adalah slide presentasi yang disampaikan :
    


Rabu, 17 Februari 2016

Teleconference tentang Pos Penyuluhan Desa


Rabu, 17 Februari 2016, saya mengikuti Teleconference dengan Asisten Daerah II provinsi Jawa Barat yang digagas oleh Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Ciamis / Desa Melek IT (Information Technology) Ciamis. Satu hari sebelumnya teman dari VMeet menghubungi agar Garut ikut dalam Teleconference tersebut dan diupayakan menghadirkan perwakilan desa. Komunitas TIK Garut saat didaulat provinsi sebagai Komunitas TIK terbaik memang diberi hadiah perangkat Teleconference, sehingga setiap ada kegiatan Teleconference se Jawa Barat, VMeet selalu menawarkan kesempatan untuk bergabung dalam kegiatan tersebut. Pembahasan tentang desa ini menarik karena saya sekarang ini banyak melihat konten tentang desa di internet. Sebelumnya saya dilibatkan oleh Kementrian Komunikasi dan Informatika dalam pembahasan Peraturan Menteri tentang Relawan TIK di mana satu relawan TIK untuk satu desa. Belum lagi bulan ini proposal hibah bina desa dibuka, sehingga Teleconference ini sangat penting diikuti oleh saya dan teman-teman di Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk melihat kesenjangan yang ada di desa dan menemukan gagasan penyelesaiannya. 

Oleh karenanya malam itu juga saya hubungi wakil ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang kerjasama untuk mengajukan penyelenggaraan kegiatan tersebut di kampus. Saya yakinkan beliau bahwa memberikan pelayanan kepada desa terdekat kampus merupakan tanggung jawab pengabdian masyarakat yang wajib ditunaikan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Pelayanan yang dimaksud adalah menghubungkan aparatur dan masyarakat desa dengan pihak-pihak terkait yang terlibat dalam Teleconference tersebut. Akhirnya beliau megatakan bahwa saya mendapat izin dari ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sehingga kegiatan pun dapat dilaksanakan di ruang rapat kampus jam 15.30. Setelah itu saya bagikan di Facebook dengan menandai beberapa kontak seperti Diskominfo Garut dan Kecamatan Garut Kota. Dan saat itu ada konfirmasi ingin hadir dari dua instansi pemerintahan tersebut baik melalui Facebook ataupun Whatsapp.

Pagi hari pada hari pelaksanaan kegiatan saya harus menuntaskan dulu nilai matakuliah Dasar Komputer dan Internet, koordinasi dengan bagian sarana untuk memberi daftar kebutuhan perangkat Teleconference, lalu membuat dan mengirimkan surat ke kantor Desa. Di kantor desa kebetulan bertemu dengan kepala Desa sehingga saya bisa sekalian menjelaskan kepada beliau dengan siapa beliau akan melaksanakan Teleconference. 

Tadinya sekitar jam 13.00 akan menyiapkan ruang dan perangkat Teleconference, tapi ternyata pada jam itu saya punya jadwal mengajar perdana matakuliah Dasar Komputer dan Internet di program studi Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam al-Musaddadiyah. Saya minta izin ke kolega di VMeet untuk gabung pengujian perangkat sekitar jam 14.00. Lepas dari kelas, sayapun menyiapkan ruangan dan perangkat Teleconference.

Ternyata sound system yang dimiliki STTG tidak bisa digunakan untuk Teleconference, akhirnya saya pulang ke sekretariat Komunitas TIK Garut dan membawa sound system. Hari itu saya siapkan semuanya mulai dari ruangan, perangkat, dan lainnya. Hal ini bukan masalah buat saya karena dalam kegiatan relawan TIK kerja self-service itu biasa dilakukan. Lagi pula ini saya lakukan untuk kepentingan penelitian dan pengabdian masyarakat yang diharapkan akan dapat membantu masyarakat desa, minimalnya di Garut.

Dalam kegiatan Teleconference tersebut dibahas tentang Pos Penyuluhan Desa. Di ruangan tersebut saya sempat ditemani Prof DR Muhammad Ali Ramdhani yang merekam Teleconference tersebut untuk disampaikan ke Kementrian Desa sebagai sampel komunikasi pemerintah dengan desa. Dalam kegiatan tersebut saya memberikan masukan kepada pemerintah provinsi Jawa Barat agar pengetahuan tentang permasalahan dan solusi yang muncul dalam interaksi antara penyuluh desa dan masyarakat yang dilayaninya disimpan dalam basis pengetahuan yang dapat diakses melalui portal desa nasional. Dengan adanya basis pengetahuan tersebut diharapkan pengetahuan yang muncul di desa tertentu dapat diketahui oleh masyarakat desa lainnya. Hal ini meringankan pekerjaan penyuluh desa dan juga mempercepat pertumbuhan pengetahuan masyarakat desa. Selain itu pemerintah juga mudah untuk mengetahui masalah apa yang dihadapi oleh masyarakat desa secara umum sehingga program yang dirumuskan berdasarkan masalah tersebut lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa.


Saya keluar dari Teleconference tersebut sebelum waktunya karena kedatangan tamu dari TELKOM dan mendiskusikan tentang program yang bisa diselaraskan antara TELKOM dengan program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Diskusi dilakukan di kantin kampus sampai jam 18.00, lumayan lah karena ditraktir sama TELKOM, hehehe. Saya menjelaskan rencana pengembangan Technopark sebagai pusat kajian dan inkubasi bisnis. Saya berharap mahasiswa program studi yang saya pimpin tersebut dapat terlibat dalam pendampingan UKM (usaha kecil menengah) yang dibina oleh TELKOM dan dapat merintis UKM nya yang berbasis TIK sejalan dengan kerangka Tridharma TIGER program studi saya untuk mewujudkan Smart Swiss van Java. Selain itu hasil-hasil penelitian yang didiseminasikan baik melalui konferensi algoritma, booklet dan situs web etalase tridharma, proseding atau jurnal aloritma, diharapkan dapat memberikan masukan atau gagasan bagi TELKOM. Lebih jauh saya berharap akan ada karya penelitian yang menjadi startup dan ditindaklanjuti oleh TELKOM. Sebelumnya, di Hackathon Merdeka 2.0 kemarin saya menunjukan kepada TELKOM kemampuan mahasiswa Garut dalam membuat program aplikasi. TELKOM mengapresiasi. Semoga Technopark terwujud sehingga bisa mendorong tumbuhnya UKM berbasis TIK di Garut.

Selasa, 16 Februari 2016

Disorientasi Akal JIL




Tulisan ini terkait artikel yang diterbitkan di situs web Jaringan Islam Liberal. Tulisan tersebut sama sekali tidak mengandung dalil naqli tentang kebolehan melakukan hubungan sejenis. Dan yang mengherankan, kata "syakilatih" pada ayat kedua al-Isra' 84 dianggap dapat ditafsirkan sebagai keadaan orientasi seksual sehingga dianggapnya hanya Allah sajalah yang tahu apakah kaum Nabi Luth yang diazab oleh Allah itu benar jalannya atau keliru. Padahal sudah sangat jelas kaum Nabi Luth tersebut diazab karena telah salah jalan, Allah melaknat dan mengazab mereka karena praktk homoseksual yang mereka lakukan.

Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas". Lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. Dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri. Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih." (QS 51: 31-37). Allah lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya serta telah menunjukan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam persoalan LGBT tersebut.

Menganggap hanya Allah saja yang tahu apakah praktik LGBT itu benar atau salah adalah talbis iblis, tipu daya agar manusia menyimpang dari ajaran Allah. Padahal arti yang disepakati ahlus-sunnah adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Katsir, bahwa "syakilatih" di sana berkaitan dengan keimanan, di mana orang musyrik akan berbuat dengan keadaannya, tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya, di antara orang musyrik dengan yang tidak, dan kelak Dia akan membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Sesungguhnya tidak ada satupun juga yang tersembunyi dari pada Nya.

Yang mengerikan, para pemuda ganteng di surga ini difahami oleh si penulis tidak hanya sebagai pelayan makan dan minum saja sebagaimana disebutkan dalam ayat lainnya, "Beredar mengelilingi mereka pemuda-pemuda yang tetap muda. Dengan mangkuk, cerek, dan piala dari air yang jernih.Tidaklah mereka pening karenanya dan tidak mabuk." (QS. Al-Waaqiah: 17-19), tetapi juga difahami sebagai pelayan seksual bagi pria penghuni surga. Tuhan menjanjikan demikian katanya karena ada banyak lelaki dalam masyarakat di mana alQuran di turunkan yang memiliki hasrat seksual terhadap anak muda tampan. Padahal kawin sejenis itu tidak berubah hukumnya dari jaman nabi Luth sampai nabi Muhammad, dilarang dan dikutuk Tuhan. Padahal Allah janji Allah itu benar, "Ingatlah, sesungguhnya kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan di bumi. Ingatlah, sesungguhnya janji Allah itu benar, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui(nya)." (QS 10:55), dan mustahil bagi Allah menjanjikan kawin sejenis di surga, karena kalau demikian Allah pasti akan dianggap tidak adil oleh kaum Luth yang diazab, dan mustahil Allah tidak adil. Pendapat ahlus-sunnah adalah pemuda untuk memenuhi kebutuhan seksual pemudi.

Tentang Muhammad bin Abdurrahaman bin Hakam, dalam literatur yang dikutip sama sekali tidak disebutkan beliau melakukan praktik kawin sejenis dengan menterinya yang berwajah ganteng. Tidak secara jelas disebutkan "baju terbuka" itu apakah telanjang penuh atau bertelanjang dada. Kalau hanya bertelanjang dada, maka dada itu bukan lah aurat yang tidak boleh dilihat sesama pria. Dan tidak pula diharamkan dua pria berada dalam satu kamar tidur yang pintunya tertutup. Menganggap hal tersebut sebagai praktik homoseksual merupakan prasangka buruk. Menyangka seseorang melakukan kawin sejenis yang setara zina tanpa bukti penguat merupakan dosa.

Kalau mengikuti gaya bebas penulis artikel, ayat tersebut dapat difahami sebagai sindiran kepada mereka yang menganggap praktik seksual LGBT itu benar, bahwa mereka akan berbuat sesuai dengan keadaan mereka, tetapi Tuhan lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya, di antara orang pro LGBT dan kontra LGBT, dan Dia akan membalas sesuai dengan amal perbuatannya. Kita berlindung kepada Allah dari azab pembuka yakni disorientasi akal yang mendorong kepada azab besar naudzubillahi min dzalik.