Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Minggu, 16 Oktober 2016

Konferensi Komunitas TIK Garut 2016


Minggu 16 Oktober 2016 Komunitas TIK Garut akhirnya menyelenggarakan Konferensi Komunitas TIK Garut kembali. Konferensi pertama dilaksanakan pada tahun 2014 dan diikuti oleh belasan Komunitas TIK yang ada di Garut. Konferensi ini mempertemukan Komunitas dengan helix lainnya, terutama pemerintah. Kali ini Komunitas TIK Garut mempertemukan Komunitas TIK dengan Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut. Saya selalu ingin Komunitas TIK Garut merayakan miladnya tanggal 15 Oktober dengan acara Konferensi, karena semangat pendirian Komunitas TIK Garut dulu adalah menyatukan semua Komunitas TIK untuk tetap melaksanakan kegiatan relawan dalam bidang TIK.

Koordinasi Acara dengan Diskominfo Garut

Beberapa hari sebelumnya, pagi-pagi sekali saya berkunjung ke Diskominfo Garut. Agak susah untuk masuk ke kompleks Diskominfo karena ada mobil yang parkir di jalan yang hanya cukup satu kendaraan saja. Setelah memarkirkan kendaraan, ada kendaraan plat PNS di belakang yang membunyikan klakson. Lalu saya datangi dan bapak yang ada dalam kendaraan meminta saya untuk memasukan kendaraan melalui jalan yang mustahil bagi saya untuk dimasuki. Akhirnya saya bilang ke bapaknya, saya akan bawa keluar mobilnya agar kendaraan bapak tersebut dapat parkir di tempat saya parkir. Setelah kendaraan ini dimundurkan, ternyata bapaknya malah parkir di tempat lain. 

Akhirnya saya berputar dan coba masuk melalui jalan depan kantor Diskominfo Garut. Saat kendaraan masuk, terlihat kepala Diskominfo Garut sedang memberikan santapan pagi kepada pimpinan dan staf di lingkungan Diskominfo Garut. Pak Sekretaris Diskominfo Garut yang kebetulan berdiri menghadap ke arah jalan masuk yang digunakan oleh kendaraan saya melihat dan memberi intruksi tangan agar kendaraan ini dibawa masuk lebih ke dalam dekat kantor Diskominfo. Setelah memarkirkan kendaraan di jalan yang hanya cukup dilewati satu kendaraan, saya pun berdiri menunggu depan pintu kantor Diskominfo. 

Beberapa saat kemudian upacaranya bubar, Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si - Kepala Diskominfo Garut seperti biasa menyambut dengan hangat dan membawa saya masuk ke dalam ruangannya. Menyusul kemudian Drs Diar Cahdiar Antadireja, M.Si - Sekretaris Diskominfo Garut ke dalam ruangan. Dalam ruangan tersebut saya mengkonsultasikan tanggal pelaksanaan pembukaan pelatihan Saka (Satuan Karya Pramuka) Informatika Garut di mana Diskominfo merupakan salah satu anggota Majelis Pembimbingnya. Beliau menyarankan agar pelaksanaannya tidak berbarengan dengan Konferensi Komunitas TIK Garut. Tadinya saya berencana menjadikan acara pembukaan tersebut menjadi rangkaian acara terakhir dari JotI (Jambore on the Internet). Tetapi masukan dari beliau benar sekali, karena kalau disatukan pastinya akan membutuhkan energi yang sangat besar karena saya harus memimpin relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sekaligus turun langsung menyiapkan Area 306 sebagai lokasi kegiatannya, menggelar Konferensi Komunitas TIK Garut pada pagi harinya, dan membuka Pelatihan Saka Informatika siang harinya. 

Selain itu saya juga menyerahkan surat permintaan mobil Internet dari Kwarcab Garut dan menanyakan apakah MCAP (Mobil Community Access Point) dapat dikirimkan?. Ditanyakan pula tentang kebutuhan baru dari sistem informasi yang dulu dibuat oleh relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Kepala Diskominfo Garut kemudian mengundang Kepala Bidang TPDE nya serta Kepala Seksi yang menangani data dan informasi ke ruangan. Drs Ajid Syayidin - Kepala Bidang TPDE menjelaskan kesiapan Diskominfo Garut mendukung JotI untuk mengirimkan MCAP. Sementara Deden Ferry Martin, S.Ip - Kepala Seksi Data dan Informasi menjelaskan kebutuhan baru sistem terkait update informasi yang telah diterbitkan. Saya kemudian menghubungi Robi Alisandi dan menyampaikan kebutuhan tersebut. Melalui sambungan telphon tersebut Robi menjanjikan akan memenuhi kebutuhan tersebut dan akan menyempatkan waktu datang ke Konferensi Komunitas TIK Garut agar dapat bertemu dengan Diskominfo Garut.

Dalam pertemuan tersebut Drs Diar Cahdiar Antadireja - Sekretaris Diskominfo Garut mengungkapkan bahwa umumnya kelompok di Garut ini adalah bekerja sendiri-sendiri, hal tersebut mungkin saja berlaku dalam Komunitas TIK di Garut. Saya mengiyakan seraya mengambil contoh dalam pengembangan aplikasi terkait bencana banjir. Saat itu ada dua kelompok relawan pengembang aplikasi yang bekerja membuat aplikasi bencana banjir. Salah satu diantaranya adalah Relawan TIK Garut yang membuat SIKOBE dengan platform web. Kelompok lainnya mengembangkan aplikasi serupa dengan platform mobile. Saya berpendapat, seandainya dua project ini disatukan tentu saja akan membuat aplikasinya lebih baik karena akan tercipta dua platform untuk satu aplikasi. Hanya saja memang di grup Whatsapp nampaknya pengembang lainnya ingin jalan sendiri, karena yang disampaikan adalah ajakan kepada relawan TIK Garut untuk ikut membantu pengembangannya, bukan ajakan agar project nya digabungkan. Saat itu saya sampaikan kalau semua relawan TIK Garut dengan kompetensi pengembangan perangkat lunak sudah fokus pada project SIKOBE. Relawan TIK Garut memiliki dorongan secara orgaisasi untuk ikut terlibat dalam situasi bencana di Garut. Seandainya ajakannya adalah menggabungkan dua project, tentu bisa dipenuhi. Tetapi karena ajakannya dapat membuat SIKOBE tidak dilakukan, saya tidak bisa mendorong relawan TIK Garut untuk berhenti dan membantu pengembangan aplikasi lainnya yang sudah ditangani oleh tim Universitas Telkom tersebut. 

Obrolan tersebut mendorong saya untuk mengusulkan kembali pembentukan Komunitas TIK Garut sebagai wadah untuk menyatukan Komunitas TIK yang ada di Garut. Pada tahun-tahun sebelumnya, kepala bidang informasi SETDA Garut mendorong Komunitas TIK Garut untuk mendampingi Komunitas TIK di Garut agar juga dapat meraih Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat. Sejak saat itu saya selalu mengarahkan Komunitas TIK Garut menjadi asosiasi Komunitas TIK yang ada di Garut. Itulah kenapa dalam strukturnya ada ketua Perhimpunan yang menunjukan jika Komunitas TIK Garut ini menghimpunkan Komunitas TIK berdasarkan empat kelompok, yakni pengguna TIK, penggerak masyarakat informasi, pengembang platform TIK, dan entrepreneur TIK. Ujung obrolan adalah kesepakatan dengan Diskominfo Garut bahwa Komunitas TIK Garut ini perlu dibadanhukumkan sebagai organisasi berbentuk asosiasi dengan pendiri dari unsur Perguruan Tinggi, Pemerintah, dan Pegiat TIK. 

Demikianlah cerita di Diskominfo Garut sebelum pelaksanaan Konferensi Komunitas TIK Garut. Suasana di Diskominfo Garut yang saya rasakan selalu hangat. Ini menunjukan Diskominfo Garut telah menciptakan ruang komunikasi yang baik dengan unsur Pendidikan Tinggi dan Pegiat TIK di Garut. 

Konferensi Komunitas TIK Garut

Pagi-pagi sekali saya siapkan slide presentasi yang berisi evaluasi pelaksanaan program bersama. Slide itu tidak saya siapkan pada malam hari karena lelah paska penyiapan Area 306 mendorong saya untuk tidur lelap. Di luar gedung D Sekolah Tinggi Teknologi Garut nampak mahasiswa baru yang menjadi anggota Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut sudah menunggu. Saya memberi arahan tugas kepada mereka. Hari itu Risa Kristalia yang memegang uang kas tidak bisa hadir. Untung saja di tangan saya ada sisa uang Program Studi untuk belanja kebutuhan Area 306. Dalam kapasitas sebagai ketua Program Studi saya putuskan uang tersebut dipinjamkan untuk keperluan pembelian air minum dan snack peserta Konferensi Komunitas TIK Garut. Bagi saya pinjamannya seperti itu tidaklah besar jika dibandingkan manfaat kerjasama dengan Komunitas TIK Garut yang dirasakan sejak tahun 2012.  

Saya lupa meminjam sound system ke kampus. Tetapi syukurlah sound system punya Komunitas TIK Garut ada di kantor Program Studi. Satu dari dua wireless microphone nya masih layak digunakan. Saya meminta relawan TIK untuk mengambil dan membawanya ke Area 306.  

Pesertanya hadir agak telat, sehingga acaranya saya mulai sekitar pukul sepuluh pagi. Peserta yang hadir beragam, mulai dari guru pembina hingga siswa angggota atau pengurus Komunitas TIK. Sekretaris Diskominfo Garut memenuhi janjinya untuk hadir dan menyampaikan pengalamannya dalam menerapkan TIK di Garut kepada peserta Konferensi. Beberapa pengurus Komunitas TIK Garut hadir dalam kesempatan tersebut. Sayangnya saat diminta masukan terkait program bersama tidak ada yang bersedia menyampaikan, entah bingung, enggan, atau malu, hehehe. Namun hari itu saya sebagaimana Kepala Seksi Data dan Informasi Diskominfo berhasil mencatat berbagai kegiatan yang dilaporkan oleh setiap Komunitas TIK yang hadir, sebagai bahan masukan perumusan program bersama yang akan melibatkan Komunitas TIK yang hadir hari itu. Saya juga berhasil mencatat profil Komunitas TIK melalui Google Form yang saya siapkan malam harinya, yang diperlukan juga oleh Diskominfo Garut. 

Dalam kesempatan Konferensi tersebut saya menyampaikan kegiatan yang berhasil dan tidak berhasil dilaksanakan oleh Komunitas TIK Garut berdasarkan kalender bersama Komunitas dan Relawan TIK Garut yang disosialisasikan pada pertemuan Quadruple Helix yang dihadiri oleh unsur Kemkominfo, Diskominfo Jabar, Diskominfo Garut, Relawan TIK Garut, Komunitas TIK Garut, dan Kwarcab Pramuka. Program bersama yang berhasil dilaksanakan antara lain Olimpiade Komunitas TIK pada milad Relawan TIK Garut yang ke depannya diselenggarakan setiap milad Garut, dan Forum Quadruple Helix sebagai pengganti Konferensi Komunitas TIK Garut tahun 2015 yang sedianya diselenggarakan setiap milad Komunitas TIK Garut. Program yang tidak berhasil dilaksanakan adalah bulan relawan teknologi informasi internasional. Hal tersebut karena tahun 2016 tidak ada program Relawan TIK Korea Selatan yang diselenggarakan di Garut, serta karena GEG (Google Educator Grup) Garut yang dibentuk oleh Pengurus Komunitas TIK Garut / Relawan TIK Indonesia cabang Garut melalui bidang sumber daya manusia melaksanakan kegiatannya sendiri tanpa koordinasi serta pimpinannya yang juga Koordinator Komunitas TIK wilayah Utara Garut menyatakan membebaskan GEG Garut dari Komunitas TIK Garut / Relawan TIK Indonesia cabang Garut dan menjadi bagian dari Ikatan Guru Indonesia cabang Garut yang dipimpin oleh salah satu ketua perhimpunan Komunitas TIK Garut. 

Terkait pembelotan GEG Garut ini saya tidak bisa berbuat banyak. Dulu saya mempercayakan pembentukan GEG Garut kepada bidang pengembangan SDM (sumber daya manusia) untuk dua tujuan, yakni menguatkan program pelatihan TIK dasar Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi dan menyediakan program yang dibiayai lembaga internasional selain NIA (National Information Society Agency South Korea) di Garut. Alasan kepercayaan tersebut ada dua, yakni pertama dorongan registrasi GEG ini dilakukan oleh ketua umum Relawan TIK Indonesia dan pengurus bidang pengembangan SDM Komunitas TIK Garut ini merupakan anggota Relawan TIK Indonesia, dan kedua yang bersangkutan (pengurus bidang pengembangan SDM) menjabat dalam bidang pengembangan SDM di kepengurusan Komunitas / Relawan TIK Garut. GEG ini strategis bagi Komunitas TIK Garut karena Google menyediakan dana untuk penyelenggaraan program GEG. Saat yang bersangkutan di Diskominfo Garut menyatakan bukan bagian dari Komunitas TIK Garut tetapi berada langsung di bawah Google, saya hanya bisa mengingatkan kembali bagaimana GEG Garut ini dibentuk oleh Komunitas TIK Garut, dan mengingatkan kalau sejarah akan mencatat apa yang dilakukan oleh setiap pegiat TIK. Saya sampaikan Komunitas TIK Garut sebagai perhimpunan Komunitas TIK keanggotaannya bukan personal tetapi Komunitas TIK. Jadi tidak ada alasan bagi GEG Garut untuk tidak dapat menjadi bagian dari Komunitas TIK Garut yang mendirikannya. Belakangan saya agak heran karena yang bersangkutan menuliskan asal institusi GEG Garut adalah IGI (Ikatan Guru Indonesia) cabang Garut. Bahkan dibuat grup FB dengan nama GEG IGI Garut. Tapi ya sudahlah ... setiap orang membawa amalnya masing-masing. 

Akhirnya saya berterima kasih kepada Diskominfo, Komunitas TIK, dan pengurus Komunitas TIK Garut, yang telah menyediakan waktu hari libur untuk berkumpul. Utamanya kepada relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah membantu saya menyiapkan tempat dan mengelola kegiatan, serta Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang telah menyediakan gratis Area 306 sebagai tempat Konferensi. Konferensi Komunitas TIK memberi masukan kepada saya sehingga dapat membawa Komunitas TIK Garut ke arah kekinian yang dibutuhkan oleh Komunitas TIK yang ada di Garut dan Pemerintah Kabupaten Garut. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada setiap orang yang berbuat baik dan memberikan pahala berlipat kepada mereka yang mengerjakannya dengan sukarela. Amin.

Kamis, 22 September 2016

Pengalaman Memberi Dukungan TIK Perdana untuk Bencana di Garut


Malam hari tanggal 21 September 2016, saya berbincang dengan istri tentang bencana banjir yang baru saja menimpa Garut. Istri saya kemudian bertanya, kenapa sebagai Relawan TIK saya tdk menggalang bantuan makanan atau pakaian seperti yg lainnya?. Saya jawab, bahwa yg menangani itu sudah sangat banyak. Relawan TIK akan mengambil peran yg sesuai, yakni layanan TIK. 

Malam itu saya mengerjakan croud funding di kitabisa dot com untuk SEGI (Serikat Guru Indonesia) cabang Garut. Bantuan seperti itu merupakan salah satu layanan relawan teknologi informasi, yakni penyediaan informasi. Dalam menjalankan bantuan tersebut saya dibantu oleh Syauqi Ahmad Nurulloh, anak tertua saya yang berusia 8 tahun. Dia membantu mengambil gambar saya untuk keperluan registrasi akun kitabisa dot com. Ini pengalaman pertama saya menggunakan kitabisa dot com. 


Malam itu saya juga menawarkan bantuan yang sama untuk Posko Penanggulangan Bencana Garut melalui kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Namun satu hari ini saya hanya sanggup mengerjakan cround funding untuk SEGI Garut saja yang berhasil terbit di https://kitabisa.com/SEGIperduliGarut. Alhamdulillah, menurut pak Imam Tamamu Taufiq mulai ada donasi yang masuk. Semoga menjadi kebaikan kita semua. 


Keesokan harinya saya mulai mobilisasi relawan TIK untuk melaksanakan bantuan bagi institusi pendidikan terdampak. Alhamdulillah satu mahasiswa saya yang hari ini mengikuti kuliah PTI (Pengantar Teknologi Informasi) merespon di Facebook. Di kelas PTI saya jelaskan bahwa proses pembelajaran akan memberi pengalaman kepada peserta didik sebagai relawan TIK. Dan di penghujung perkuliahan saya menawarkan kepada mahasiswa saya di kelas tersebut untuk bergabung. Alhamdulillah ada sejumlah mahasiswa yang bersedia ikut serta. Di antaranya adalah purna Kelompok Penggerak TIK pelajar. 

 


Lepas Dzuhur setelah memenuhi kewajiban sarapan telat dengan baso tahu, saya pun bertemu dengan mereka, menjelaskan apa yang akan mereka lakukan di lapangan, menyebutkan sebelas sekolah sasaran terdampak bencana yang akan dibantu, dan mendorong mereka untuk membentuk tiga tim serta memilih pimpinannya. Setiap tim diisi oleh relawan TIK yang menguasai teknis informatika (jaringan komputer, troubleshooting, dan grafis). Relawan yang tidak memiliki keahlian teknis diberi tugas dokumentasi dan bantuan umum. Setelah itu saya sebagai ketua Relawan TIK Garut mengukuhkan semuanya dengan menyematkan pin Relawan TIK Indonesia kepada tiga pimpinan tim. Dengan demikian semua yang hadir saat itu menjadi anggota Relawan TIK Indonesia angkatan 2016 untuk masa kontrak layanan relawan TIK selama satu tahun. Pin nya hanya tiga buah karena stok pin yang diberikan oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ternyata sudah mulai menipis. Demikian pula dengan seragam Relawan TIK. Dengan stok yang mulai habis, saya hanya bisa memberikan tiga seragam lokal Relawan TIK Garut yang dulu diberikan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Setidaknya setiap tim ada tanda pengenal Relawan TIK Garut sebagai alat komunikasi dengan masyarakat yang dilayani. 


Selepas pertemuan tersebut, saya mengajak semua pimpinan tim untuk survei ke salah satu sekolah sasaran di Cimacan, yakni SMP PGRI Garut. Di lokasi saya berhasil menemui pak Deni Riswandi yang diinformasikan oleh kang Buntaran Christian. Beliau menerima baik dan memberi banyak informasi terkait perangkat TIK di SMP PGRI Garut. Beberapa guru juga menemani dan membantu menunjukan lokasi komputer yang terdampak bencana. Saat pertama kali masuk ke Laboratorium Komputer, nampak sejumlah komputer dalam keadaan tergenang. Unit sistem sudah terpisah dengan peripheralnya. Saya hanya melihat unit sistem dan monitor. Sementara keyboard dan mousenya mungkin terendam lumpur atau terbawa derasnya arus sungai Cimanuk malam itu. 






Pemimpin tim yang ikut mengambil sampel komputer untuk dilihat kondisi dalamnya. Nampak lumpur sudah masuk ke dalam unit sistem tersebut. Namun kami tetap akan memeriksa kemungkinan komputer untuk dihidupkan kembali pada kesempatan kedua. Salah satu pimpinan tim menginjak pecahan kaca sehingga kakinya berdarah. Survei tersebut memberi informasi kebutuhan dan resiko di lapangan kepada kami semua. Saya juga mulai mendefinisikan bantuan seperti apa yang akan diberikan oleh Relawan TIK Garut untuk institusi pendidikan terdampak bencana. Saya memasukan bantuan buku TIK dalam program ini setelah menerima masukan dari bapak Guru di sana dan melihat kondisi Perpustakaan yang memprihatinkan. Beliau mengatakan bahwa perpustakaan tersebut sangat penting, karena baru saja dijalankan Gerakan Literasi Sekolah di mana murid membaca sebelum belajar. 


Saat berjalan ke luar dari lokasi, saya melihat seorang relawan mengambil air dari ember milik penduduk untuk membersihkan kakinya yang terkotori lumpur seperti saya. Saat itu sempat saya ingin melakukan hal serupa. Tetapi saya melihat di kiri dan kanan, banyak ibu yang sedang membersihkan pakaian dan lain sebagainya. Saya melihat saat masuk ke lokasi mobil PDAM itu mengisi air ke ember-ember tersebut. Saat mengira ketersediaan air sangat terbatas sehingga rasanya saya tidak boleh menyentuh air tersebut. Saya pun memutuskan untuk mencari penjual minuman dala kemasan untuk membersihkan kaki.

Di pinggir jalan, salah seorang pemimpin tim mengusulkan kami menuju masjid untuk membersihkan lumpur. Saya keberatan karena lumpur dari kami pasti akan mengotori masjid. Oleh karenanya saya bergegas membeli dua botol besar air dalam kemasan. Tidak lupa saya juga memberi uang kepada salah satu pimpinan tim untuk membeli plester agar lukanya tertutup. Akhirnya kaki kami lumayan bersih. Untuk itu semua kami ternyata membutuhkan tiga botol minuman dalam kemasan besar, yang dijual murah oleh pemilik toko di sana. Begitu kami sampai di mobil, air hujan mulai menetes. Alhamdulillah, kami bisa survei di lokasi tanpa ditemani hujan.  

Sementara itu, di Facebook pak Yamin dari Yayasan Nawala Nusantara mulai mencolek beberapa kolega yang dapat ikut membantu program kami. Pak Yamin ini beberapa minggu sebelumnya telah memberi contoh kepada saya bagaimana sedekah TIK dilakukan. Beliau mensedekahkan LCD untuk Laboratorium Komputer Mini bagi Komunitas Raspberry Pi Garut. 

Saya meyakini sejak gerakan ICT4Pesantren diluncurkan tahun 2013 di Garut, ada banyak orang yang siap untuk bersedekah TIK bagi masyarakat yang membutuhkan. Saya telah berusaha semampunya untuk menjadi relawan TIK yang dapat mendesekahkan TIK berupa program aplikasi kepada Sekolah Tinggi Teknolog Garut dan Pondok Pesantren sejak tahun 2002. Sedekah TIK juga saya ajarkan kepada relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang saya asuh, seperti Yusef Bustomi dan Hendri Prayugo yang mensedekahkan Ubuntu Garut Edition, Iqbal Muhammad Hikmat yang mensedekahkan Papan Informasi Digital dan aplikasi ICT4Pesantren, serta Robi Alisandi yang mensedekahkan Sistem Informasi untuk Relawan TIK. Mereka semua sekarang menjadi programmer di sejumlah institusi bisnis dan pemerintahan dan sebagian diantaranya bisa sukses berkat pengalaman sedekah TIK selama menjadi Relawan TIK Garut. Bersama pak Eri Satria, saya juga belajar mensedekahkan komputer bagi Pondok Pesantren dalam program Ipteks bagi Masyarakat yang didanai oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tahun 2014. 


Oleh karenanya saya percaya, ada dermawan di sana yang siap mensedekahkan TIK bagi sekolah sasaran yang terdampak bencana di Garut. Gerakan #SedekahTIK ini harus dijalankan. Allah membukakan jalan tidak disangka-sangka bagi setiap hambanya yang beriman dan beramal saleh. Bismillah.

Sekitar pukul empat sore saat turun hujan saya pun menjalankan kendaraan menuju rumah mertua di Suci. Saya putuskan mengisi bensin dulu karena semua akses jalan menuju Suci melalui jembatan sungai Cimanuk yang macet karena banyaknya masyarakat yang melihat lokasi terdampak bencana. Saya sempatkan sebentar berhenti di Indomaret untuk menunaikan shalat Ashar di masjid di sampingnya. Lepas shalat saya beli roti dan minuman, lumayan mengganjal perut yang mulai keroncongan, padahal sudah diisi baso tahu tengah siang tadi, hehehe.

Beberapa menit kemudian sampailah di rumah mertua. Istri saya menyiapkan makan untuk saya dari hajatan sunat anak kakaknya istri siang tadi. Sebelum pulang saya menyempatkan diri mengunjungi rumah kakaknya istri untuk menunaikan sesuatu yang seharusnya ditunaikan dari pagi tadi. Jadi teringat saat program Relawan TIK Korea Selatan dulu, saya tidak punya waktu cukup untuk bersama Syazwan yang baru lahir karena harus memastikan program Relawan TIK Korea Selatan berjalan baik. Semuanya demi amal, demi bangsa dan negara. 

Kamis, 15 September 2016

Romantika Candori 2016 Yogyakarta


Pada bulan September 2016 saya ditanya oleh teh Hani - teman Relawan TIK dari Bogor, apakah sudah dikonfirmasi kehadirannya melalui telepon oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk menghadiri Festival TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Candori 2016? Saya bilang sempat ada telepon dari jakarta tetapi tidak ada suaranya, mungkin karena handphone nya saat itu sedang terhubung ke internet. 

Beberapa waktu kemudian konfirmasi yang dimaksud muncul melalu email. Karena kegiatan Relawan TIK Indonesia selama ini menjadi bagian dari pengajaran, penelitian, dan pengabdian, maka saya menyanggupi untuk hadir. Sebagai penghuni pulau Jawa saya diarahkan untuk menempuh jalur darat dengan kereta api atau lainnya. Syukurlah uang sertifikasi dosen cair tepat waktu sehingga saya bisa segera membeli tiket kereta api. Simpang siur jadwal acara membuat saya mengambil tiket pulang pada hari Senin, sehingga saya akan cukup lama di Yogyakarta karena diminta untuk datang oleh Kementrian pada hari Kamis.

Pagi hari tanggal 14 September 2016, saya mencetak x-Banner Relawan TIK Garut yang saya buat dengan Microsoft Power Point tengah malam tadi. Tidak ada uang kas Relawan TIK Garut, uang pribadi pun jadi. Biar nanti kwitansinya saya kasihkan ke Bendahara agar minus saldo kasnya bertambah, xixixixi. Minus itu dicatat sebagai dana talangan dari saya yang nanti diganti oleh organisasi kapan-kapan kalau dapat uang. Entah sekarang minusnya sudah berapa rupiah, saya tidak berusaha untuk mengingatnnya. 

   
Selepas mengambil x-Banner dan mengisi bensin, mobil yang akan saya gunakan ke Statsiun Bandung mati mendadak. Agak panik karena waktu sudah menuju malam, dan kalau mobil ini tidak bisa dihidupkan kemungkinan tiket berangkat besok hangus. Syukurlah kakaknya istri datang membantu. Ternyata masalahnya pada sambungan ACCU. Orang yang bisa troubleshooting komputer tidak jamin bisa troubleshooting mobil, hahaha.

Sekitar pukul tiga pagi lebih saya berangkat menuju Statsiun Bandung. Pagi itu saya sarapan nasi di statsiun kereta api. Alhamdulillah keretanya datang tepat waktu. Gerbong Eksekutifnya lumayan nyaman walau jauh kalau dibandingkan kabin pesawat Garuda, hahaha. Kenyamanan itu sedikit terganggu saat hidung ini mulai menunjukan masalahnya. Beberapa bulan ini saya memang mengidap Alergi Kronis di mana dua lubang hidung ini menyempit kalau terkena debu atau kedinginan.  

Sayangnya kereta api Lodaya Pagi ini mengalami masalah di roda sehingga perjalanannya menjadi delay satu jam. Selain itu air di toiletnya tidak berfungsi. Tadinya mau sms petugasnya, tidak jadi karena lupa isi pulsa, hehehe. Beberapa jam sebelum tiba di Statsiun, saya sempat dihubungi bang Mihram - Relawan TIK Papua yang sama-sama turun di Statsiun Yogyakarta kalau ia pergi menuju lokasi inap duluan. Kasihan juga sih kalau nunggu lama, gara-gara delay. 


Akhirnya sore itu saya tiba di statsiun. Saya menghubungi kang Ipan - ketua Relawan TIK Tasikmalaya yang tiba bersama dengan kereta api Lodaya Pagi melalui Whatsapp dan mengatakan akan salat dulu di masjid. Dalam perjalanan menuju masjid saya melewati warung nasi Gudeg Jogja. Langsung saja rencana dibuat untuk kembali ke sana setelah salat. Tidak lupa saya memberi tahu kepada kang Ipan kalau lokasi pertemuannya di rumah makan tersebut.


Lepas salat saya menunaikan hajat mencicipi Gudeg Jogja. Beberapa saat kemudian saya menerima informasi kalau kang Ipan ternyata sudah berangkat ke lokasi inap. Akhirnya diputuskan untuk merubah jadwal kepulangan dulu menjadi Minggu, karena kebetulan sebelum turun dari kereta api saya mendapatkan informasi kalau jadwal kegiatan dari Jum'at sampai Sabtu. Agak lama antri di loket sambil menggendong tas yang berat. Tapi akhirnya tiket pulang berubah dengan membayar sekitar 80 ribu atau 20% dari harga tiketnya. Bang Mihram menghubungi kembali menanyakan di mana posisi saya. Saya sampaikan kalau saya masih di Statsiun Kereta Api untuk memperbaiki tiket pulang.

Di statsiun itu saya memilih ojeg untuk sampai ke lokasi inap. Pilihan keliru karena saya harus menahan beban tas yang berat dan mempertahankan kantung x-Banner dengan tangan kiri dari dorongan angin dari depan saat motornya melaju kencang. Dengan kelelahan akhirnya sampai di hotel tempat Relawan TIK menginap. Di depan pintu sudah menunggu wa Aboer, Relawan TIK dari Majalengka. Beliau yang didaulat sebagai koordinator pemondokan menyerahkan kunci kamarnya ke saya. Kebetulan saat dalam perjalanan kereta api sebelumnya, melalui Whatsapp beliau menawarkan diri untuk tidur sekamar. Selain dengan beliau, bang Semy - Relawan TIK Ambon juga mengonfirmasi melalui Whatsapp saat saya di kereta api siap satu kamar dengan kita berdua. 

Rasanya lelah sekali dan ingin tidur, tetapi malam itu saya sebagaimana teman-teman Relawan TIK lainnya harus berangkat menuju Graha Pustaka tempat penyelenggaraan Festival TIK. Di lokasi kita berbincang informal dengan teman-teman dari Direktorat Pemberdayaan Informatika seputar pemanfaatan TIK di desa. Ada kepala desa dan pegiat perempuan yang hadir dalam diskusi ringan malam itu. Beberapa saat kemudian datang ibu Septriana Tangkari, Direktur Pemberdayaan Informatika menyalami kami dan mengemukakan pendapat dan harapannya terhadap Relawan TIK indonesia. 



Beliau juga mengenalkan Relawan TIK Indonesia kepada staf ahli menteri bidang TIK yang menyarankan agar ke depannya Relawan TIK ini diberikan insentif seperti pendamping desa pada umumnya. Gagasan tersebut bukan hanya sekali saya dengar, tetapi pada bulan-bulan sebelumnya saya juga mendengar gagasan tersebut dari Asisten Deputi Menko Ekuin saat diskusi dalam forumnya kepala Dinas Usaha Kecil Menengah dan Koperasi provinsi Jawa Barat. Soal insentif ini saya berpegang pada literatur yang pernah saya baca pada tahun 2012 saat membuat konsep Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK untuk Direktorat Pemberdayaan Informatika, bahwa insentif itu terkadang dicari oleh mereka yang belum memiliki pekerjaan tetap, dan terkadang juga mengganggu semangat relawan. Bagi pelajar, insentif yang dikejar itu berbentuk peningkatan kapasitas gratis, bukan uang. Bagi saya, untuk mewujudkan gagasan satu desa satu relawan TIK yang disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika, diperlukan pengelolaan kegiatan kaderisasi dan pelayanan relawan TI yang serius. Jika pekerjaan serius ini dilakukan oleh relawan TIK pendamping desa, maka insentif tersebut merupakan hal yang masuk akal, sebagaimana masuk akalnya insentif bagi pendamping desa, walaupun umumnya relawan dapat bekerja tanpa insentif. Saya melihat penerapan insentif ini kondisional. 


Keesokan harinya saya bergegas memasang standing banner Relawan TIK Garut di lokasi. Ternyata di sana sudah berdiri sejumlah standing banner milik Relawan TIK Indonesia, pengurus wilayah, dan pengurus cabang. Juga ada standing banner milik saka Telematika yang dirintis oleh Relawan TIK Jawa Barat. Berbeda dari banner lainnya, yang saya buat ini menampilkan luaran kegiatan Relawan TIK di Garut yang dibagi ke dalam empat bagian sesuai komponen layanan pada framework tiga lapis infrastruktur pembangunan masyarakat informasi yang tertuang dalam artikel penelitian saya. Bagian tersebut meliputi kerja kolaborasi, kerja teknologi informasi, kerja literasi digital, dan kerja informasi. 



Lepas salat Jum'at, di hotel saya berbincang dengan teman-teman Relawan TIK dari Papua, Ambon, dan Lampung. Saya juga akhirnya bertemu dengan teman Relawan TIK yang mengira saya itu perempuan. Padahal namanya sudah diubah jadi Cahyana dan fotonya diganti jadi gambar Festival TIK Candori, tetap saja masih dianggap perempuan ... nasib, hahaha. Secara mendadak tiba-tiba kami berfikir untuk menggunakan sebagian waktu untuk menjelajahi Yogyakarya, karena tidak ada waktu yang disediakan oleh panitia untuk melakukan hal penting tersebut. Akhirnya kami patungan dan melaju ke Perambahan untuk kemudian berakhir di Malioboro. Mbak Nova - Relawan TIK Bojonegoro juga ikut jalan bersama kami. Ceritanya Malioboro ini makan siang yang tertunda bari Relawan TIK Garut, Papua, Lampung, dan Bojonegoro, karena pada saat berangkat kami melewatkan makan siang di Graha Pustaka. Perjalanan tersebut cukup menguras tenaga dan membuat kami semua kehausan. 

  


Malam harinya pak FED (Fajar Eri Dianto) - Ketua Relawan TIK Jawa Barat sekaligus ketua bidang literasi pusat mengumpulkan kami semua untuk mendiskusikan tentang calon ketua umum baru. Kang Gery dari Jawa Barat sudah ramai sebelumnya di grup Whatsapp Relawan TIK Indonesia untuk diangkat jadi calon ketua umum. Saya adalah satu-satunya di grup yang menyuarakan #FED2016 di saat banyak orang memasang tagar #Gery2016. Maklumlah, karena pak FED ini pernah mempengaruhi saya sehingga kata Pecinta dalam nama Kelompok Pecinta TIK saya ubah menjadi Penggerak. Saya juga melihat Relawan TIK Jawa Barat solid di bawah kepemimpinan beliau. Jadi, walau banyak orang bilang beliau terlalu senior untuk maju jadi calon ketua umum, saya melihat dalam kondisi ini beliaulah yang tepat menjadi ketua umum.  

Tentang bursa calon ketua umum ini saya jadi ingat perbincangan dengan teh Meti - Relawan TIK Bandung saat kereta api mulai berangkat. Waktu itu saya menyatakan dukungan terhadap pak FED dan bertanya bagaimana pendapatnya tentang kang Gery sebagai calon ketua umum?. Teh Meti mengatakan dua-duanya diharapkan oleh relawan TIK Jawa Barat. Kalau kang Gery maju pun di belakangnya tetap ada pak FED, hehehe. Kemudian teh Meti mendorong saya untuk juga masuk bursa ketum, karena katanya Jabar memikirkan kang Gery atau saya yang maju. Jawabannya sama seperti yang pernah disampaikan kepada pak Bambang, pak FED, dan pak Yamin, bahwa saya tidak bisa karena ingin tahun depan fokus kuliah strata tiga. 


Malam itu pak Yamin dari Yayasan Nawala Nusantara datang dan mendorong saya untuk maju jadi calon ketum. Bahkan beliau mengajak saya bicara bertiga dengan pak FED agar saya bersedia maju. Tetapi jawaban saya tetap sama dan saya mengatakan kepada pak FED kalau saya istiqomah mendukung beliau. Lepas itu, dalam kumpulan tersebut pak Yamin masih saja mengatakan kalau saya bersedia menjadi calon ketum, hahaha. Melalui Whatsapp saya memberi penjelasan kepada beliau berdua, point penting penjelasannya adalah sebagai berikut :
  • Pada prinsipnya saya sebagaimana kawan RTIK Universitas lainnya selalu ingin jadi dan membesarkan RTIK Id. Oleh krn nya saya membutuhkan dan akan mendukung siapapun caketum yg terbuka dan mampu menyatukan semua kekuatan yg Indonesia miliki dgn melepaskan segala sekat2nya. 
  • Saya melihat kawan2 yg telah sukses memimpin banyak relawan utk melaksanakan kegiatan RTIK di daerahnya (baik dgn atau tanpa konsep) adalah manusia Indonesia terbaik yg dapat dipilih utk Caketum ke depan. 
  • Selama masih ada yg lebih baik dari saya utk jadi Caketum, maka saya akan senantiasa seperti sekarang, selalu memberi dukungan dgn apa saja yg saya miliki.
  • Dengan senang hati saya membantu RTIK Id sebagai apapun, seperti sekarang ini yg walau hanya ketua RTIK Cabang kota kecil Garut secara de facto, saya senantiasa berbagi konsep yg dijalankan di Garut. 
  • Saya siap membantu sepanjang kemampuan, karena saya tahu bhw menjadi Relawan itu baik personal atau pemimpin tim hrs memiliki komitmen waktu dan kemampuan.   


Sebenarnya saya tidak ingin bersikap tidak sopan menolak dorongan para senior ini. Tetapi saya melihat tanda-tanda kalau tahun depan fikiran saya harus mantap studi strata tiga, di mana Prof Iping sudah membukakan pintu, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendorong saya untuk memikirkan kuliah strata tiga. Prof Ali Ramdhani sebagai penasihat Relawan TIK Garut mengatakan jika semua pilihan mengandung kemaslahatan dan memiliki konsekuensi, beliau mempercayakan kepada saya untuk memilih sendiri apa yang dianggap terbaik.

Malam hari itu saya berbincang dengan pak Deo Rindengan - Relawan TIK Menado yang berprofesi sebagai Dosen di Universitas Samratulangi. Sama seperti saya, beliau pun ada yang dorong menjadi calon ketum. Dan beliau menolak dengan alasan yang sama seperti saya, karena sudah diminta oleh Dekan untuk segera kuliah strata tiga. Sejak Rakernas Bandung tahun lalu, saya sebenarnya berkeyakinan kalau rekan dari Indonesia Timur punya kapasitas untuk menjadi calon ketum. Namun pak Deo mengubah keyakinan saya malam itu, beliau mengatakan keberadaan ketum dekat dengan Jakarta sangatlah penting. Beliau mendorong saya untuk jadi calon ketum. Kali ini menjawabnya relatif mudah karena jawaban penolakannya sama persis dengan jawaban pak Deo, hehehe. Malam itu kita sama-sama bersepakat kalau di struktur kepengurusan pusat harus ada wakil dari Perguruan Tinggi, karena Perguruan Tinggi seperti Universitas Samratulangi ataupun Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendukung budaya relawan dan menyediakan sumber daya relawan yang sangat banyak. Kita mendukung kalau pak Said dapat mewakili unsur Perguruan Tinggi, sekiranya beliau tidak sibuk dengan S3 nya, hehehe.

Keesokan harinya saya kembali mendapatkan dorongan dari beberapa pengurus Wilayah. Tetapi saya tetap tidak bergeming dari pendirian. Saya meminta semuanya satu suara untuk mendorong pak FED. Saya sempat merasa kaget saat pak Deo di sesi break menunjukan foto pertemuan Munas, karena nama saya masih muncul di daftar calon ketua umum. Tetapi semua sesuai dengan yang saya harapkan, pak FED mendapatkan suara mayoritas, yes !. Saya jadi teringat malam itu saat pak FED berusaha mempengaruhi banyak relawan TIK untuk mendukung saya ... saya berhasil membalikan dukungan relawan TIK kepada beliau, hahaha. Saat ini hanya pak FED menurut saya ketua umum yang tepat untuk membawa perubahan pada Relawan TIK Indonesia. Saya merasa yakin bukan hanya Relawan TIK di Jawa Barat saja yang berfikir demikian. 


Saat sesi ramah tamah, perkenalan Relawan TIK Jawa Barat dipimpin oleh kang Fajar yang jadi pelaksana harian Relawan TIK Jawa Barat. Dan ya ampun, kembali lagi Relawan TIK Jawa Barat mengeluh soal penolakan pengurus pusat Relawan TIK Indonesia terhadap konsep Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK yang saya buat. Saya berbisik kepada pak FED untuk menanyakan kenapa kang Fajar mengungkin lagi masalah itu? Saya serasa kembali ke masa lalu saat Rakernas di Bandung tahun lalu, saat pak FED selaku ketua Relawan TIK Jawa Barat juga mengungkit masalah tersebut. Waktu itu saya bilang ke beliau, "ya ampun pak, tidak perlu diungkit lagi". 


Bagi saya, penolakan "politis" tersebut tidak menjadi masalah. Ada banyak kepala di dalam Relawan TIK Indonesia yang berbeda pemikiran dan bahkan meragukan hal-hal berbau kajian. Saya boleh meyakini kajian dapat menstrukturkan gerakan, tetapi banyak kawan yang berfikir gerakan itu tidak perlu terstruktur, cukup lakukan apa yang bisa dilakukan. Itulah sebab kenapa saya berkata, "Saya lebih suka memimpin diri sendiri dalam kegiatan berfikir dari pada memimpin masa dengan pemikiran yang banyak". Saya lebih senang melakukan kajian dari pada berhadapan dengan perdebatan. Menerima sikap penolakan terhadap hasil kajian walau itu politis adalah lebih baik dari pada berderbat. Setidaknya itu yang saya pelajari dari kasus penolakan tersebut. Bagi saya, di dalam atau di luar, di terima atau diusir dari Relawan TIK Indonesia, aktivitas relawan akan tetap saya jalani, karena ia merupakan sedekah pembersih dosa, relawan adalah tarikat yang saya lalui untuk "membentuk hati".  

Senin, 12 September 2016

Merubah tombol Start Windows dengan logo STTG



Bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang ingin menggantu tombol Start Windows dengan logo kampus, berikut ini langkah yang bisa dilakukan :

  • Unduh dan instal aplikasi Start Menu 8 di sini
  • Unduh dan ekstrak ikon-nya di sini
  • Salin tiga gambar ikonnya ke C:\Program Files (x86)\IObit\Classic Start\StartButtonSkin
  • Jalankan Start Menu Setting, lalu pilih Start Button Icon, dan pilih ikonnya

Untuk mengubah ikonnya dengan logo Relawan TIK Indonesia, unduh ikon-nya di sini, lalu lakukan tahap ke 3 dan 4.

Sabtu, 10 September 2016

Bisa Ping tapi Tidak Tampil di Browser

Seharian ini saya memperbaiki Laptop punya teman kantor. Problem terakhir yang ditangani adalah tidak dapat dibukanya halaman situs web oleh browser manapun. Herannya kalau di ping alamat situs webnya, ada repply dari alamat tersebut. Artinya sistem berhasil menerjemahkan DNS menjadi alamat Protokol Internet nya dan mengirimkan paket untuk beberapa saat kemudian menerima balasan dari alamat tersebut. Kesimpulannya tidak ada masalah konseksi antara Laptop ini dengan internet. 

Setelah membaca beberapa pembahasan tentang kasus tersebut, diketahui solusi untuk masalah tersebut adalah dengan melakukan reset terhadap winsock. Caranya :
  1. Klik tombol Start / Mulai
  2. Ketuk Cmd dalam kotak teks pencarian Start
  3. Tekan Ctrl+Shift+Enter sehingga Cmd dijalankan sebagai Administrator
  4. Ketik netsh winsock reset dalam Command Prompt shell, lalu tekan Enter
  5. Restart komputer


Perintah tersebut menyebabkan katalog Winsock dikembalikan ke konfigurasi awal / default. Perintah tersebut menghapus semua Winsock LSP (Layered Service Providers) sebelumnya yang terpasang, termasuk LSP yang berpotensi tidak berfungsi yang menyebabkan hilangnya transmisi paket. Klik di sini untuk membaca sumber aslinya.

Rabu, 10 Agustus 2016

Saresehan KIM se BKPP Wilayah IV

Kepala Diskominfo Jawa Barat

Garut, 10 Agustus 2016 saya menyajikan materi Melek Digital dalam acara Saresehan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) se BKPP (Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan) wilayah IV Jawa Barat yang meliputi kabupaten Bandung, kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, kabupaten Sumedang, kabupaten Tasikmalaya, kabupaten Ciamis, kota Bandung, kota Cimahi, kota Tasikmalaya, dan kota Banjar. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat. Surat permohonan kesediaan sebagai narasumber disampaikan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut pada tanggal 8 Agustus 2016. Saresehan dengan tema Pemanfaatan Akses Informasi dalam Mengembangkan KIM tersebut menjadi tantangan karena saya hanya memiliki waktu satu hari untuk mempelajari KIM dan menyusun slide presentasi. Sukurlah presentasi sebelumnya yang saya sampaikan dalam acara Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah kabupaten Garut memberi gagasan materi yang akan saya sampaikan esok hari. Saya memilih judul Melek Digital karena kondisi tersebut penting dimiliki oleh individu KIM agar dapat menangani segala ancaman dan hambatan dalam pemanfaatan akses informasinya.

Seharian itu saya memodelkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia tentang Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial. Saya mendapatkan gagasan bahwa internet selain digunakan sebagai jejaring informasi nasional oleh KIM juga harus dimanfaatkan sebagai forum, question and answer, pembelajaran, data repository, dan portal web untuk studi banding. Artinya ada interaksi antar KIM melalui TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam rangka berbagi konten, pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan terkait manajemen, sumber daya manusia, kelembagaan, dan kegiatan KIM. Studi banding sebagai salah satu kegiatan KIM dapat dilakukan secara online dengan melihat luaran kegiatan KIM melalui situs web KIM yang jalan masuknya melalui portal web. 


Saya coba gambarkan bentuk TIK nya dengan menggunakan model analisis Sistem Informasi KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) yang pernah disampaikan dalam kegiatan e-Indonesia Initiative di Institut Teknologi Bandung tahun lalu. Rupanya gagasan TIK tersebut dipengaruhi secara tidak sadar oleh model analisis tersebut. Saya hanya perlu mengganti entitas Relawan dengan KIM. Melalui model analisis ini saya memberi masukan tentang kegiatan online yang harus meliputi interaksi KIM dengan KIM lainnya, masyarakat pengguna informasi, dan stakeholders.    


Lebih jauh saya berbagi impian dengan para peserta tentang KIM yang berpangkal di lembaga pendidikan yang saya usahakan dari tahun 2012 hingga sekarang. KIM yang dimaksud adalah KPMI sebagai kelompok relawan teknologi informasi dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Komunitas TIK Sekolah dengan kemampuan melaksanakan layanan penyediaan informasi dan TIK serta pengajaran TIK bagi masyarakat sekitar. Komunitas TIK Sekolah dan / atau KPMI nya dapat dirintis dan dihimpunkan di dalam Komunitas TIK Garut untuk kemudian didata, diberdayakan, ditingkatkan kapasitasnya, dan dinilai. Sementara Relawan TIK Garut menyediakan kesempatan bagi setiap anggota KPMI untuk terlibat dalam kegiatan relawan TIK Indonesia dan program pemerintah yang dikawal pelaksanaannya, serta mendapatkan bantuan pendanaan serta ekspos nasional.

KPMI menjadikan kampusnya sebagai PPMI (Pusat Pembangunan Masyarakat Informasi) dan berperan sebagai penyampai informasi seputar kampusnya yang diterbitkan di situs web kampus (ac.id) dan seputar desanya yang diterbutkan di situs web desa (desa.id). Situs-situs web tersebut membangun jejaring informasi nasional yang akan mudah ditemukan oleh pengguna informasi apabila dibuatkan jalan masuknya melalui portal web. Konsep ini didukung oleh Bupati Garut dalam kesempatan Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi tahun 2014 yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Media dan masyarakat akan memanfaatkan portal web ini untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya. Media akan membawa informasi menarik yang diterbitkan oleh KPMI kepada para pengguna informasi melalui surat kabar, dan medi masa lainnya. Ditindaklanjutinya informasi oleh media atau dikonsumsinya informasi oleh masyarakat menjadi indikator keberhasilan promosi kampus atau desa yang dilakukan oleh KPMI.       

  
Tidak lupa saya sampaikan pula daur hidup pengembangan masyarakat informasi yang perlu dilaksanakan oleh KIM. Antar KIM harus saling membantu agar pemanfaatan akses informasi dapat meningkatkan taraf kehidupan KIM. Saya memberi masukan agar anggota KIM harus CAKAP (cerdas, kreatif, dan produktif). Anggota KIM dapat mengetahui kondisinya dengan memperhatikan indikator CAKAP yang saya sampaikan dalam slide.  


Penyaji dalam acara tersebut tidak hanya saya, tetapi juga Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si - Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dan Anton dari Pikiran Rakyat. Menjadi mitra Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat dimulai sejak Dinas tersebut dipimpin oleh Dr Dudi Sudrajat Abdurrachim yang sekarang menjabat sebagai kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro Kecil Menengah provinsi Jawa Barat. Beliau sering mengajak saya untuk hadir dalam pertemuan di Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah provinsi Jawa Barat. Ajakan tersebut disampaikan beliau melalui kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Kesempatan tersebut membuat saya dapat mendengarkan rencana atau capaian program pemerintah bidang Komunikasi dan Informatika serta berbagi konsep pembangunan masyarakat informasi yang melibatkan relawan teknologi informasi. Seperti dalam kesempatan Rapat Koordinasi Evaluasi Program dan Kegiatan bidang Komunikasi dan Informatika se Jawa Barat tahun 2015 di Pangandaran. Setelah di Dinas Koperasi pun beliau masih memberi saya kesempatan untuk dapat tukar fikiran dengan tim beliau seperti pertemuan tanggal 27 Mei 2016.     

Brainstorming di Dinas KUMKM Jabar   

Liputan Pikiran Rakyat, 11 Agustus 2016



Senin, 08 Agustus 2016

Gembel di Akhirat karena Gila di Dunia


Gila itu kondisi tdk mampunya akal menolak dorongan jiwa. Jika jiwanya terdorong kuat utk berjalan ke arah tertentu, akalnya tdk bisa digunakan utk menolak dorongannya walau banyaknya godaan yg menariknya keluar dari jalan tsb. Cinta buta salah satu contoh gila, di mana akal tdk bisa digunakan utk menolak dorongan cinta.

Org yg menyepelekan solat itu akan gembel di akherat nanti. Orang yg menyepelekan solat itu gila di dunia ini karena tdk mampu menggunakan akalnya utk memahami pahitnya konsekuensi kegembelannya di akhirat kelak.

Gembel itu melarat. Orang yg menyia-nyiakan salat itu akan melarat di akhirat, karena masa depan seseorang itu di antaranya bergantung kepada baik dan buruk solatnya. Seseorang yg sudah tahu pentingnya solat tetapi menyia-nyiakannya, ngerinya akibat menyia-nyiakan solat di akhirat namun tidak membuat solatnya menjadi baik, adalah pemilik akal dan nurani yg lemah. Tidak mampu melawan kecenderungan yg menyalahi akal dan nurani merupakan tanda kegilaan. 

Banyak orang gila seperti itu di dunia yg kelak di akhirat menyesal dan meminta kembali ke dunia utk melawan kegilaannya tsb. Tetapi Allah telah membuat penyesalan seperti itu tdk berguna lagi, karena hidup di dunia tdk ada dua kalinya. 

Minggu, 07 Agustus 2016

Satu Slide untuk Satu Pengetahuan

Dalam penyiapan slide ini saya selalu mengamalkan ajaran guru saya Dr Husni Sastramiharja dalam kesempatan kuliah dulu di ITB untuk dapat menyampaikan banyak hal hanya dengan menggunakan slide minimalis. Beliau dalam kesempatan pembelajaran tatap muka di kelas memberi contoh dengan membahas topik berbeda hanya dengan menggunakan slide yang sama selama lebih dari satu pertemuan. Dari pengajaran beliau saya faham bahwa bakat yang saya dapatkan pada saat SMA dulu bisa digunakan untuk mengamalkan ajaran beliau, yakni membuat model rancangan organisasi yang membahas kelengkapan organisasi hanya dalam satu gambar saja. 

Sejak mendapatkan pengajaran tersebut saya membiasakan diri untuk menyampaikan satu tema pengetahuan menggunakan bahasa visual hanya satu slide saja. Memodelkan pengetahuan ini juga terbantu oleh pengetahuan dan keterampilan pemodelan analisis dan desain yang diperoleh saat kuliah strata satu Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ajaran Dr Husni "Satu bab tesis satu slide" saya ajarkan kembali kepada mahasiswa bimbingan, sehingga saya selalu protes jika mahasiswa bimbingan menyalin kalimat yang ada dalam laporan Tugas Akhir ke slide presentasi mereka.  

Slide bab I Tesis