Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Senin, 11 Mei 2020

Menangkap dan Menjaga Kualitas Pengetahuan


Seringkali "mata" melihat ke sana ke mari di dalam benak saat diskusi atau membaca, dan jiwa yg cenderung pd pengetahuan tdk ingin kehilangan kalimat penting yg beterbangan di dalam benak. Sehingga begitu kalimat pentingnya tertangkap, segeralah kalimat itu dituliskan dan menjadi pengetahuan ekplisit.

Tulisannya mengikat pengetahuan, sekaligus menjadi bukti bahwa menyampaikan atau membaca pengetahuan dapat melahirkan pengetahuan baru. Bagi penikmat pengetahuan, emosi buruk yg hadir sebagai gangguan dlm penangkapan pengetahuan sama sekali tdk boleh dicampurkan dlm tangkapannya krn akan merusak kualitasnya.

Sabtu, 09 Mei 2020

Komunikasi yang Merendahkan Hati



Perbedaan pengetahuan/pendapat yg sering dihadapi dlm proses komunikasi, tdk seharusnya dijadikan kesempatan utk menjadikan "saya yg paling benar dan yg lain salah, saya yg unggul dan yg lain tdk unggul". Sebaiknya cukup hanya sebatas utk memperkaya keilmuan saja dan diniatkan utk menambah kesyukuran. Tdk seharusnya kita yg limited merasa paling benar dan unggul secara absolut.

Dari sekian lama waktu yg dihabiskan utk saling kirim pesan dlm proses komunikasi, bukan "ping-pong pesan" nya atau "gaya ping-pong" nya yg penting, tapi "pesan apa" yg disalingkirimkannya. Pesan itu hrs dapat memperkaya pembendaharaan ilmu dan menimbulkan atau menambah kesyukuran. Dengan demikian tdk ada waktu yg terbuang percuma, dan kita mendapatkan waktu yg berkualitas dlm kesempatan interaksi antar personal.

Ada satu fase manajemen pengetahuan yg hrs selalui dilewati, yakni fase "manage" di mana pengetahuan yg tersimpan senantiasa divalidasi, dan diperbaharui atau dikokohkan, seiring dgn datangnya pengetahuan baru dari proses komunikasi dan lainnya. Fase ini menghantarkan kita pd satu kesadaran bhw pengetahuan yg kita miliki itu limited dan nisbi, hanya Tuhan saja pemilik pengetahuan yg unliminted dan absolute. Di titik ini kita bisa mengambil kesempatan utk segera merendahkan hati.

Rabu, 06 Mei 2020

Donasi untuk Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Program Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG merupakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan oleh sivitas akademik Sekolah Tinggi Teknologi Garut pada bulan Mei 2020 yang bertepatan dengan bulan Ramadhan 1441. Panitia pelaksananya adalah mahasiswa. Program ini dilaksanakan pada tanggal 5 Mei 2020, satu hari sebelum pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar di kabupaten Garut.

Program ini berawal dari tawaran pak Eri Satria, salah satu dosen Teknik Informatika yang juga Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut di grup WhatsApp Komunitas TIK. Pada tanggal 30 April 2020 itu, beliau menawarkan masker kain gratis yang dapat dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat.   


Kemudian beliau mengajak anggota senior Komunitas TIK dari kalangan alumni dan dosen Sekolah Tinggi Teknologi Garut (termasuk saya) untuk berdonasi. Selanjutnya, beliau menunjuk Zoel Hilmi, mahasiswa Teknik Informatika yang menjabat selaku ketua Komunitas TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk mengatur panitia kecil.  


Pak Eri Satria pada akhirnya berhasil mendapatkan masker gratis sebanyak 600 pcs. Beliau berharap anggota senior dapat berdonasi untuk menambah jumlah maskernya dengan cara membeli. Pada hari Jum'at, 1 Mei 2020, poster penggalangan dana ditampilkan di grup oleh Zoel Hilmi dengan judul Berbagi Masker bersama Mahasiswa STTG


Pada tanggal yang sama, pukul 14:37, ibu Rina Kurniawati selaku Wakil Ketua bidang Kemahasiswaan Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengirimkan poster tersebut di grup Whatsapp Pusat Informasi STTG di mana tenaga pendidik dan kependidikan berada. 


Pada pukul 15:36, saya bertanya kepada ibu Rina Kurniawati, apakah donasinya bisa melalui mekanisme pemotongan dari honorarium bulan depan? Beliau menjawab, bisa. Saya kemudian berfikir, kenapa tidak diajak saja para dosen untuk turut serta berdonasi untuk kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat tersebut?. Menurut pemikiran saya, berdonasi itu sama dengan terlibat dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat tersebut. Dan unit kerja LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) yang saya pimpin berkewajiban memfasilitasi dosen dan mahasiswa untuk melaksanakan kegiatan pengabdian. 

Pada pukul 21:00 saya bertanya kepada pak Hilmi Aulawi selaku ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut tentang kemungkinan LPPM untuk menawarkan donasi kepada para dosen melalui mekanisme pemotongan honorarium bulan depan. Beliau mengizinkan.


Setelah mendapatkan izin tersebut, saya mengirim penawaran di grup WhatsApp Penelitian dan Pengabdian pada pukul 21:21.


Pada hari Senin, 4 Mei 2020, pukul 08.40 saya menutup donasi dari para dosen. Dan pada pukul 09:05 surat pengajuan pemotongan honorarium untuk donasi saya sampaikan kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut, ditembuskan kepada semua wakil ketua.


Pada pukul 10:23, pengajuan tersebut disetujui oleh pak Hilmi Aulawi. Selanjutnya, dana dicairkan pada pukul satu siang oleh biro Pengeluaran Keuangan. Pukul 13:26 saya menghubungi ibu Leni Fitriani mewakili bagian Kemahasiswaan untuk menyerahkan uang tersebut agar dapat diteruskan kepada panitia. Total dana yang terkumpul dari para dosen, baik yang transfer langsung kepada panitia atau melalui pemotongan honorarium adalah sekitar 2,5 juta rupiah, dan 600 pcs masker kain. Kalau masker kain tersebut diuangkan, total bantuan dari dosen sekitar 5,4 juta rupiah. Alhamdulillah, semoga menjadi tambahan pahala berlipat di bulan Ramadhan Mubarak ini. 


Pada hari Selasa, 5 Mei 2020, pak Eri Satria mulai mendistribusikan masker sumbangan yang akan dibagikan oleh mahasiswa kepada masyarakat. Di antaranya adalah masker sumbangan dari Alumni SD Kiarasantang angkatan 88 dan Alumni SMPN 2 angkatan 91. 


Setelah itu mahasiswa mulai membagikan masker di seputaran kampus dan beberapa lokasi lainnya. Adapun dana yang terkumpul dari donasi, rencananya tidak akan dibelikan masker, tetapi akan dibelanjakan sembako yang akan dibagikan pada tanggal 7 Mei 2020 kepada 50 keluarga yang perlu dibantu. 


Disebutkan dalam undang-undang nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, bahwa organisasi mahasiswa paling sedikit berfungsi mengembangkan tanggung jawab sosial melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Saya merasa bersyukur, mahasiswa berhasil mewujudkan manfaat kampus bagi masyarakat sekitar melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pada hari sebelumnya, Minggu tanggal 3 Mei 2020, saya memberikan masukan kepada mahasiswa di grup WhatsApp agar masyarakat seputaran kampus mendapatkan perhatian:

Btw, sekiranya dananya banyak, saya berharap perhatian kita tdk hanya kpd pemenuhan kebutuhan masker, tapi juga kpd kebutuhan yg teramat penting bagi masyarakat miskin di sekitar kampus, seperti beras dan/atau sembako. Bagaimanapun, kampus hrs terasa manfaatnya bagi masyarakat sekitar di mana kampus berada ... Mari kita perduli dgn masyarakat sekitar kampus, jgn dulu jauh2 ke daerah belasan hingga puluhan kilometer dari kampus. Berbagi itu dimulai dari keluarga terdekat dulu, dan keluarga terdekat bagi kampus adalah masyarakat sekitar kampus.


Sabtu, 02 Mei 2020

Relawan TIK Tanggap Bencana Covid-19 di Garut


Pada semester genap 2019/2020 ini, saya kembali mengampu mata kuliah Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Dalam kurikulum Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut, mata kulah ini merupakan mata kuliah persiapan Kuliah Kerja Nyata. Mata kuliah Relawan TIK menyiapkan mahasiswa untuk dapat memahami dan mengamalkan sikap relawan dalam menyelesaikan masalah bidang TIK di tengah masyarakat. Kuliah Kerja Nyata sendiri adalah mata kuliah berbentuk Pengabdian kepada Masyarakat yang wajib diikuti oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 

Relawan TIK dalam Kuliah Kerja Nyata di desa Sirnajaya (16/8/2019)

Seperti biasanya, tugas lapangan mata kuliah Relawan TIK yang diberikan kepada mahasiswa dikemas dalam program Pengabdian kepada Masyarakat bernama Relawan TIK Abdimas (Abdi Masyarakat). Publikasi kegiatannya di Facebook dapat ditelusuri dari hastag #RTIKAbdimas. Sekarang ini program Relawan TIK Abdimas telah masuk periode ketiga sejak pertama kali dilaksanakan pada semester ganjil 2018/2019. Program ini merupakan pelaksanaan kerjasama Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, dan Relawan TIK Indonesia.  

Penandatanganan Kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia (25/12/2018)

Pada awalnya, tujuan tugas lapangan ini adalah untuk mempromosikan potensi sumber daya manusia, industri, dan pariwisata di daerah dengan memanfaatkan TIK. Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut akan berperan sebagai Agen Perubahan Informatika yang membantu promosi tersebut sekaligus menyiapkan relawan TIK lokal untuk dapat melanjutkan usaha promosinya. Tujuan harus dapat dicapai selama 14 minggu. Metode yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah sebagai berikut:


Metode Relawan TIK Abdi Masyarakat

Saya memanfaatkan Google Classroom dalam kegiatan pembelajarannya, dengan tetap melakukan tatap muka di kelas selama 100 menit, sesuai dengan beban belajarnya sebesar 2 SKS. Ruang kelas Relawan TIK di Google Classroom yang dibuat pada bulan Februari 2020 itu digunakan untuk menyimpan bahan ajar dan pengumpulan tugas mata kuliah. Selama setengah semester, saya menugaskan mahasiswa untuk menemukan mitra penerima manfaat tugas lapangan, menganalisa lingkungan di mana mitra itu berada, dan menyusun modul praktikum dasar kerja informasi yang tepat diberikan kepada mitra tersebut. Sebagian mitra adalah Gerakan Pramuka Kwarcab Garut, dengan koordinator lokal Relawan TIK dari purna peserta Kursus Bina Usaha. Hal tersebut untuk menunjang upaya perintisan Satuan Karya Pramuka Informatika di Garut.

Komunikasi Tim Relawan TIK dengan Calon Mitra (2/3/2020)

Untuk memperkaya pengetahuannya, saya mendatangkan dua orang praktisi yang telah memanfaatkan informasi dengan TIK untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Praktisi pertama adalah Fahmi Taufiq Zain, alumni Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang merupakan praktisi penjualan online. Praktisi kedua adalah Liswanti Pertiwi, yakni Blogger asal Garut yang telah memiliki banyak pengalaman seputar edorsement produk. Materi dari praktisi diharapkan dapat memicu ide atau gagasan pada diri mahasiswa terkait pengetahuan dan ketetampilan yang akan disampaikan kepada mitranya. 

Kuliah Umum Relawan TIK bertajuk Kerja Informasi (24/2/2020)

Pelaksanaan tugas lapangan dilakukan secara berkelompok. Dari tiga kelas mata kuliah Relawan TIK, diperoleh 20 tim dengan jumlah personel antara 4 sampai 5 orang. Setiap personel tim diberi tugas penyusunan modul oleh ketua timnya. Modul dasar kerja informasi meliputi materi berikut ini yang merupakan bagian dari daur hidup kerja informasi: 
  1. Kendali informasi, yakni acuan nilai dan norma yang harus diperhatikan oleh pencipta konten;
  2. Masukan, yakni pencarian, pengambilan, dan pemilihan material dari internet atau dunia nyata menggunakan mesin pencari atau perangkat masukan pada smartphone;
  3. Pemrosesan, yakni pengolahan material menjadi konten / informasi dalam format mulitimedia yang diperlukan oleh pengguna;
  4. Penyimpanan, yakni penyimpanan konten pada simpanan internal, transfer konten ke simpanan lainnya, termasuk pencadangan ke cloud storage; dan
  5. Keluaran, yakni penyampaian konten kepada penggunanya melalui internet.
Sebelum mereka menjadi instruktur bagi mitra, terlebih dahulu saya menguji kemampuan mereka dalam melaksanakan daur hidup kerja informasi. Dalam kesempatan peringatan Safer Internet Day, saya tugaskan mereka untuk ikut serta dalam kampanye tersebut dengan membuat dan menyebarkan konten bertemakan Internet Aman. Kampanyenya ditemukan di Facebook dengan hastag #saferinternetday dan #komtiksttgarut. Tugasnya harus dilaporkan pada tanggal 11 Februari 2020.


Pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus positif Corona pertama kali di Indonesia. Pada tanggal 17 Maret 2020, muncul Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Menyikapi Surat Edaran tersebut, Sekolah Tinggi Teknologi Garut membuat kebijakan yang mengharuskan penundaan kegiatan pembelajaran yang melibatkan aktivitas mobilisasi orang banyak atau yang membutuhkan aktivitas survei lapangan sampai tanggal 29 Mei 2020. Kondisi tersebut mengharuskan fase Pemberdayaan dari Relawan TIK Abdimas ini harus dilaksanakan secara daring.

Saya pun merubah teknik Pemberdayaan yang harus dilaksanakan oleh mahasiswa dari offline menjadi online. Pelaksanaan tugas lapangan berupa pemetaan lokasi geografis objek industri dan wisata pada Google Maps ditiadakan. Kegiatan Pemberdayan difokuskan pada pembelajaran online, di mana personel tim secara bergantian menyampaikan materi dari modul praktikum Dasar Kerja Informasi yang telah dibuatnya kepada mitra. Saya memberi contoh kepada mahasiswa bagaimana teknik tersebut dilaksanakan dengan mudah dengan menggelar Kuliah Umum Relawan TIK kedua yang mengundang pembicara dari Kemenkominfo, ICTWatch, dan beberapa pengurus Relawan TIK Indonesia dari Poliwali Mandar, Bojonegoro, dan lainnya. Terdaftarnya Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam program Google Application for Education belasan tahun yang silam menyebabkan mahasiswa dapat menyimak Kuliah Umum Daring tersebut secara Live Stream.

Kuliah Umum Daring Relawan TIK (26/3/2020)

Pada tanggal 7 April 2020, Relawan TIK Indonesia menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional Darurat Covid-19. Di dalam rapat, Relawan TIK Indonesia diajak oleh Pemerintah Pusat untuk ikut melakukan sosialisasi Covid-19 kepada masyarakat. Bahan sosialisasinya disediakan oleh Gugus Tugas dan dapat diakses dengan meng-klik di sini.

Pada tanggal 7 April 2020, saya menemui Kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut di Command Center. Selain untuk bersilaturahmi dengan Kepala Dinas baru, saya juga menyampaikan informasi kerjasama yang telah terjalin antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Diskominfo Garut, dan menyatakan kesiapan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam membantu Pemerintah mensosialisasikan informasi terkait Covid-19 kepada masyarakat. Dalam kesempatan itu saya berkomitmen akan memobilisasi peserta mata kuliah Relawan TIK untuk membuat dan menyebarkan konten sosialisasi terkait Covid-19 kepada masyarakat melalui media sosial.

Pertemuan dengan Kepala Diskominfo Garut di Command Center (7/4/2020)

Menindaklanjuti rapat dengan Relawan TIK Indonesia dan Diskominfo Garut tersebut, saya membuat rencana baru tugas lapangan (online) setengah semester ke depan bagi peserta mata kuliah Relawan TIK. Saya memutuskan untuk menambah spesifikasi tugas lapangan / Pemberdayaan yang dilakukan oleh mahasiswa, yakni dengan menyisipkan materi sosialisasi Covid-19 di setiap sesinya dan melaporkan kegiatan tersebut melalui form laporan yang link nya disediakan oleh Relawan TIK Indonesia.


Tugas pertama dilaksanakan oleh mahasiswa pada pertemuan ke-9 perkuliahan yang diberikan tanggal 22 April 2020.

Classwork di Salah Satu Classroom Relawan TIK

Tahapan pelaksanaan tugas individu dan kelompoknya dapat dilihat dari slide berikut ini:


Ketersediaan smartphone dan quota data serta kualitas sinyal seluler menjadi hambatan para peserta pembelajaran / pemberdayaan online yang diselenggarakan oleh tim Relawan TIK. Oleh karenanya saya memberikan keleluasaan bagi peserta untuk menggunakan teknik atau platform TIK apa saja dalam pelaksanaannya. Oleh karenanya saya menemukan banyak tim melaksanakannya dengan Whatsapp, seperti yang dilakukan oleh tim Cloud 1. Pemanfaatan platform media sosial tersebut lajim dipraktikan dalam masa pemberlakuan Belajar di Rumah di banyak jenjang pendidikan.
       

Selain berbasis teks, ada pula yang menyajikan materinya dalam bentuk video tutorial, sebagaimana yang dilakukan oleh tim Cloud 2.


Aksi Relawan TIK Tanggap Bencana ini merupakan aksi kedua, setelah sebelumnya Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut pernah melaksanakannya saat terjadi banjir bandang pada tahun 2016. Dokumentasi kegiatannya bisa ditelusuri di Facebook dengan hastag #rtiktanggapbencana. Gambar berikut ini merekam kegiatan Relawan TIK Sekolah Tinggi Teknologi Garut saat menangani perangkat komputer milik sekolah yang terdampak bencana yang ditinjau oleh kepala Diskominfo Garut. 

Relawan TIK Tanggap Bencana Banjir Bandang (22/9/2016-1/10/2016)

Kamis, 30 April 2020

Bergidik Karena Halusinasi atau Hati-Hati?



Nasi kucing, nasi anjing, nasi harimau, nasi monyet, hot-dog, ham-burger, dls, bentuknya tdk serupa dgn hewannya, cuma nama saja. Lain dgn roti buaya, bentuknya buaya banget. Memakan roti yg suka ada dlm nikahan orang Betawi apakah sensasinya seperti makan daging (haram) buaya, menjijikan? Sepertinya enggak ya, rasanya ya tetep roti. Kalau ada yg merasa jijik pasti krn terlalu kuat halusinasinya, melihat roti itu benar2 sebagai buaya. Tetapi seandainya memang dimaklumi dlm roti tsb terkandung bahan yg haram, wajar saja seorang muslim akan jijik atau ngeri saat akan memakannya, walau darurat sekalipun.

Fariduddin Attar pernah menceritakan kisah orang saleh yg punya karomah dlm karyanya Tadzkiratul-Awliya. Setiap dihidangkan kpdnya makanan haram, baik bahannya atau cara mendapatkannya haram, sekalipun ia tdk mengetahui keharamannya, tangannya pasti bergetar dan makanan itu tdk pernah berhasil masuk ke dalam mulutnya. Rasa takut atau ngeri dgn makanan haram membuatnya tercegah dan dicegah dari memakannya.

Beberapa tahun yg silam, saya pernah ngasuh mahasiswa Korsel. Saat itu kita diskusi soal makanan lokal. Kebetulan mereka bawa makanan dlm kemasan dari Korsel. Salah satu mahasiswanya membuka kaleng. Dia bilang makanan itu daging sapi. Mereka menawari saya mencicipinya. Saya secara spontan bergidik, bukan bermaksud tdk sopan, tapi krn takut ada komponen tdk halal di dlm makanannya. Bergidiknya saya bukan krn halusinasi, seakan-akan melihat ada label haram pd makanan tsb, tapi semata krn hati-hati.

Jumat, 24 April 2020

Iman atau Nekad?


Dulu ada berita Jum'atan di kecamatan zona merah yg bubar setelah ada yg meninggal.


Sekarang ada berita Tarawihan di zona merah yg bubar setelah ada pria yg ambruk.


Kalau blm ada tanda-tandanya, takutnya itu tdk ada, sekalipun jelas-jelas berada di zona merah; tetap berjamaah walau ujung-ujungnya mungkin hrs jadi ODP atau OTG. Padahal sdh ada fatwa MUI utk zona merah. Iman atau nekad ya? 


Mungkin setelah kejadian itu akan ada yg takut dan tdk datang, dan mendapat sebutan lemah iman atau pengikut Dajjal. Bahkan kalau yg tdk datang itu ustadznya sehingga jumatan atau tarawihannya bubar, mungkin ustadz tsb akan ditolol2 atau dibego2 oleh mereka yg tdk bisa menggantikan fungsi ustadz tsb krn kapasitas ilmu agamanya yg pas2an. Orang kadang amalnya mendahului ilmu; padahal imam al-Ghazali rm dlm Minhajul Abidin bilang, ilmu itu imamnya amal.


Saya pribadi memilih utk membantu pemerintah berjihad mengentaskan bangsa kita dari Covid-19, utk memberi kesempatan tenaga medis menurunkan jml pasien Covid-19, agar Garut segera kembali menjadi zona hijau. Pastinya pemerintah telah mendapat masukan dari alim ulama. 

#JabarLawanCovid19

Kamis, 23 April 2020

Usaha dan Doa Melawan Covid-19

Gambar Ilustrasi

Check-point adalah titik di mana aparat mempraktikan ar-Ribath (jaga perbatasan) dlm jihadnya (upaya sungguh2) melawan musuh tak kasat mata Covid-19 dgn memeriksa asal pendatang & kesehatannya utk mencegah pembawa Covid-19 menularkan virusnya kpd masyarakat. Di pintu masuk desa, ar-Ribath dipraktikan oleh relawan desa.
Ibn Athaillah mengatakan, sekeras apapun usaha kita, hal tsb tdk dapat merobek tirai taqdir. Tetapi Allah tdk akan merubah suatu kaum kalau kaum itu tdk berusaha. Artinya, sekeras apapun kita berusaha, hasil perubahannya akan tetap sebatas apa yg Allah tentukan. Walau bagaimanapun, usaha lebih dekat kpd perubahan. 

Oleh krn itu, jihadnya aparat dan relawan desa saja tdk cukup, perlu dilengkapi jihadnya masyarakat yg dilindungi dgn mengikuti protokol dan memanjatkan do'a kpd Tuhan Sang Penentu. Do'a dipanjatkan agar Allah mengaruniakan takdir perubahan yg signifikan, mengembalikan kondisi daerah kita menjadi zona hijau dlm waktu yg singkat. Utk itulah banyak dzikr digelar di malam Nisfu kemarin, dan mari kita berdoa di bulan suci esok.

Selasa, 21 April 2020

Tidak Meminta di Saat Masih Mampu


Di media ada berita mengungkap keluarga yg kelaparan selama 2 hari krn terdampak wabah Corona. Mungkin sebagian orang merasa tdk habis fikir dgn orang yg kelaparan tetapi tdk mau meminta. Tapi percayalah, di luar sana ada kalangan yg kekurangan hingga kelaparan tetapi menahan tangannya dari meminta.

Di masa bujang dulu saya pernah mengalaminya. Pilihan yg saya miliki di saat kehabisan uang saat itu adalah mengutang nasi goreng ke mang jualannya di malam hari atau menahan lapar. Sebenarnya tdk sulit bagi saya utk meminta nasi ke dapur pondok, tetapi saya tdk punya hak utk itu.

Siang itu, saya menghilangkan laparnya dgn memakan buah gedang muda dari pohonnya yg tumbuh liar di belakang gedung. Ada sedikit uang yg bisa saya gunakan utk membeli garam. Buah tsb saya makan bersama garam. Hasilnya, tdk membuat perut kenyang.

Walau dalam kekurangan, saya selalu berusaha utk memberi. Hiburan terbaik yg saya rasakan adalah melihat roman wajah teman yg senang setelah ditraktir makan, atau membiarkan teman mengutip uang koin di atas lemari buku yg sengaja saya kumpulkan. Semoga menjadi hadiah dan sedekah yg bermanfaat dan menjadi jalan kemudahan saya di dunia dan akhirat. Amin.

Saya mesti bersyukur, sebab pernah juga merasakan nikmatnya dimudahkan. Saya suka dihibur oleh santri-santri Salafiah yg suka mengajak mayoran, makan bareng satu alas. Saya tdk perlu marah dgn tape yg terbakar oleh teman, sebab saya harus ingat pernah diberi sarung oleh teman lainnya. Saya memberikan satu kamar kobong dan kasur utk ditempati teman, dan Allah menggantinya dengan tiga tempat tinggal.

Meminta, Bagi Sebagian Kalangan adalah Tabu.

Mungkin ada yg berfikir kalau saya ini konyol krn tdk mau meminta nasi ke dapur pondok. Tetapi fahamilah, tdk semua orang bisa meminta, bukan krn tdk mampu utk berkata, tetapi enggan saja. Bila fikiran ini telah terliputi ide tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah, akan berat baginya utk menggerakan tangannya ke bawah, walau tangan itu dihadapkan kpd keluarganya sendiri.

Di luar konteks keduniaan, Syekh Abdul Qadir Jailani rm pernah berkata yg kalau dibahasakan sendiri kira-kira isinya begini: Mintalah kpd Allah bila segala usaha telah buntu. Maka bagaimana bisa diri ini meminta kepada manusia bila usaha yg dilakukan baru menahan lapar dan makan ala kadarnya?

Kisah ini saya sampaikan bukan utk menunjukan apapun pada diri ini yg bukan siapa2 dan tdk ada, tetapi utk mengingat kembali betapa banyak kesyukuran yg bisa muncul dari kekurangan. Dgn mengingat kisah ini saya bisa tercegah dari kekufuran.

Btw, foto ini mewakili wajah saya di masa cerita tsb. Saya terlihat kurus bukan krn terpaksa lapar, tetapi memilih lapar dgn kesadaran sendiri bukan krn kekurangan. Saya membiasakan diri makan sehari sekali dlm kurun waktu yg lama, hingga dinasihati utk berhenti oleh pak Bunyamin Musaddad rm. Alhamdulillah, kekurangan yg membuat saya ngutang nasi atau menahan lapar hanya sesekali saja. Masih banyak kekurangan lain yg lebih penting dari materi, yakni kurangnya amal ibadah yg dapat menggugurkan dosa dan mendekatkan.