Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Selasa, 18 Januari 2022
Amal Jihad Vaksinasi
Sabtu, 15 Januari 2022
Menemukan Kunci Perubahan Efektif dari Kisah Ibrahim
Perusakan berhala oleh Nabi Ibrahim merupakan bagian dari dialog teologis yg sedang dijalankannya. Beliau menyisakan satu berhala utk dijadikannya bahan pertanyaan logika kpd kaumnya, "Apakah berhala itu yg menghancurkan berhala lainnya?".
Saat pertanyaan logika Ibrahim tdk terbantahkan, kaumnya kemudian memutuskan utk membungkamnya dgn hukuman mati. Hal demikian menegaskan keyakinan semu kaumnya krn menolak pengujian dgn pertanyaan logika. Pemikirannya juga terbukti fallacy krn mendasarkan keyakinannya kpd praktik leluhurnya semata secara taklid buta.
Perusakan berhala terbukti tdk merubah pendirian dan menimbulkan sikap buruk pemeluknya, sehingga tdk perlu dipraktikan lagi. Ajaran pamungkas agama Abrahamic yg disampaikan oleh Nabi terakhir melarang kita menghina tuhan siapapun dan menyampaikan dakwah (logika Ketuhanan) bil hikmah (dgn baik). Larangan tsb dapat difahami sebagai petunjuk utk tdk perlu lagi mempraktikan perusakan berhala dlm proses dialog teologis, cukup sebatas menyampaikan pemikiran saja secara santun.
Pemikiran logis Ibrahim adalah output dialog yg membekas dlm jangka waktu panjang dan membuat berhala ditinggalkan dgn kesadaran sendiri. Pengikut agama Abrahamic saat ini hanya perlu mengembangkan pemikiran tsb dan menerapkannya dlm dialog teologis dgn umat manusia. Kisah Ibrahim menunjukan bahwa kunci perubahan keyakinan itu bukan pada perusakan berhala atau penghinaan tuhan, tetapi pada pemikiran Ketuhanan yg logis. Dan Nabi terakhir menyempurnakan pendekatannya dgn menggabungkan pemahaman Ketuhanan yg logis dgn kesantunan agar perubahan berlangsung secara lebih efektif dan mencegah dampak buruk yg tdk perlu dari reaksi ketersinggungan.
Pilihan seseorang utk mengabaikan cara counter yg efektif (logika Ketuhanan dan Kesantunan) dan mengandalkan counter yg tdk efektif (membungkam dgn kekerasan atau ketidaksantunan) adalah pilihan kaum yg membakar Nabi Ibrahim; pilihan yg menempatkan keyakinannya sebagai keyakinan semu yg tdk boleh didebat, dan menjadikan pemikirannya terperosok pada fallacy yg mendorongnya utk bersikap eklusif.
#PersepsiCahyana
Selasa, 04 Januari 2022
Isme Relawan dan Filosofi Radio
Dalam kesempatan diskusi di Pasar Ceplak malam ini, saya mengemukakan pendapat bahwa menyamakan frequensi itu sebuah keniscayaan, tetapi utk memperluas audiennya, volumenya perlu diperbesar, di mana suara terdengar indah lebih diutamakan. Pendapat tersebut mengambil filosofi radio.
Maksud dari pendapat tersebut adalah, ketua pengurus organisasi wajib "menyamakan frequensi" (isme relawan) anggota dan pengurusnya, idealnya melalui diklat berdasarkan kurikulum. Keberadaan sekumpulan personel yg satu frequensi ini merupakan komponen penting keberlangsungan organisasi.
Namun sekalipun semua orang dapat menjadi relawan, tetapi tdk semua orang mewarisi isme relawan. Oleh karenanya, sekumpulan personel yg satu frequensi itu jumlahnya terbatas, sementara target audien atau penerima manfaat layanan relawannya sangat banyak dan tersebar di wilayah yg sangat luas.
Utk melayani banyak penerima manfaat, diperlukan peningkatan "volume suaranya", melalui perekrutan atau mobilisasi warga negara sebagai relawan. Peran warga negara ini adalah utk membesarkan suara yg bersumber dari titik frequensi ini (pengurus organisasi). Dengan kata lain, mereka menjadi kepanjangan tangan pengurus organisasi yg menyampaikan layanan relawan ke tengah masyarakat sesuai rencana atau target capaian program kepengurusan.
Diutamakan "volume suaranya indah", dalam arti mereka yg direkrut itu memiliki komitmen relawan (waktu, energi, dan kemampuan) pada level moderat hingga tinggi. Mereka yg level komitmennya rendah, namun berpotensi utk dapat menyampaikan layanan relawan tetap harus dilibatkan utk mengoptimalkan jangkauan pelayanan; Contohnya, peserta didik yg mengikuti pembelajaran relawan demi sertifikat atau angka kredit semata. Pengurus dapat melihat level komitmennya dari kualitas layanan mereka dan kesinambungan status aktifnya sebagai relawan dari tahun ke tahun.
Disaat frequensi ini belum tercapai, volumenya tdk boleh besar krn akan mengganggu banyak orang. Maksudnya, prioritas utamanya adalah menyiapkan kurikulum diklat yg menghasilkan lulusan yg mewarisi isme dan kompetensi relawan. Prioritas penunjangnya adalah mobilisasi yg dapat mengakselerasi kinerja layanan relawan. Apabila banyak orang direkrut sebagai relawan, sementara isme dan kompetensinya tdk terbentuk, output layanannya akan mengecewakan pengurus ataupun mitra penerima manfaat.
#BiografiCahyana
Rabu, 22 Desember 2021
Jalan Panjang KomTIK ITG Memperoleh Award
Setelah Komunitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (KomTIK) Garut memperoleh KomTIK Award dari Gubernur Jawa Barat pada tahun 2014, KomTIK ITG sempat masuk daftar penilaian Diskominfo Jabar utk memperoleh Award yg sama. Tapi rejekinya memang harus tahun ini, diperoleh KomTIK (reborn) ITG angkatan ketiga. Ketua Relawan TIK (RTIK) Jawa Barat menginformasikan bahwa pertimbangan diberikannya Award tsb adalah rekam jejak KomTIK ITG yg merupakan komisariat RTIK dalam melaksanakan #RTIKAbdimas.
Program RTIKAbdimas merupakan kerjasama ITG dgn RTIK Indonesia sejak tahun 2013 yg didukung oleh subdit Pemberdayaan KomTIK Kemenkomino RI dan diterapkan dlm mata kuliah (kekhasan lokal) bernama RTIK yg saya ampu. Pengurus RTIK Indonesia menjadikannya sebagai output litbang yg riset dasarnya dimulai oleh ITG sejak tahun 2012 di bawah sponsor Direktorat Pemberdayaan Informatika Kemenkominfo RI, dan sekarang sudah masuk ke fase riset terapan. Di dalam kepengurusan pusat RTIK Indonesia, saya menguatkan diri utk membawanya ke fase pengembangan, dan hilirisasi dlm wujud sosiopreneurship yg membuat organisasi relawan ini naik level kematangan menjadi Madani.
Tidak semua mahasiswa suka dgn program RTIK. Bahkan pada tahun 2013 silam, ada mhs yg mengatakan kepada staf Kementerian bahwa dirinya merasa terpaksa menjadi relawan. Seandainya bukan bagian dari pembelajaran, mungkin ia memilih utk tdk ikut. Tentunya aneh seorang relawan bersikap tdk sukarela atau merasa terpaksa. Tetapi keanehan itu pudar saat kita memahami bahwa dalam pembelajaran, peserta didik memang dapat merasa terpaksa dgn tugas belajarnya. Ada sebagian mhs yg motivasinya bukan pada luaran pembelajaran pembangun profil lulusan / kompetensi dirinya, tetapi pada angka SKS demi ijazah semata.
Seseorang terpaksa menjadi relawan itu wajar, mengingat "semua orang bisa menjadi relawan, namun tdk semua orang berjiwa relawan". Pembelajaran RTIK dihadirkan di dalam kurikulum ITG utk mengenalkan dan membangun jiwa tsb agar mhs dapat melaksanakan perannya dalam pembelajaran pengabdian kpd masyarakat / KKN. Walau demikian, mhs memiliki otonomi utk membiarkan jiwanya menjadi relawan atau tdk.
Berkat keterlibatan dan kesukarelaan beberapa dosen selaku pengelola program dan pembimbing tim RTIK, pengurus KomTIK ITG selaku asistennya, serta kesungguhan atau keterpaksaan mhs selaku personel timnya, program #RTIKAbdimas ini dapat berjalan empat angkatan, menghasilkan sejumlah publikasi ilmiah dalam topik RTIK, dan menjadi pintu bagi KomTIK ITG utk memperoleh RTIK Award dari Gubernur Jawa Barat. Tinggal satu rencana yg belum dilaksanakan, yakni membawa program ini ke ITU, menjadikan RTIK memperoleh reputasi internasional kembali di WSIS prize.
#BiografiCahyana
Sabtu, 18 Desember 2021
Bekal untuk Mahasiswa Baru
Jumat, 17 Desember 2021
Dua Kelompok dalam Dua Fase
Ada dua kelompok manusia yg bisa dibandingkan. Keduanya berada dalam kurun waktu yg sama dan berhadapan dgn dua fase penciptaan, yakni fase penciptaan kekuasaan, dan fase penciptaan kesejahteraan. Satu kelompok telah melewati fase pertama, ditandai dgn adanya pemerintahan yg diakui dan berfungsi. Fokusnya di fase kedua adalah menciptakan banyak penemuan utk mewujudkan kesejahteraan bangsanya. Satu kelompok lagi hidup di lingkungan yg telah melewati fase pertama, tetapi tdk mau beranjak dari fase pertama dan menghabiskan waktu di sana.
Di saat kelompok lain telah menjejakan teknologinya di luar bumi utk mencari sumber daya baru, kelompok kedua ini mengabaikan ketertinggalannya dgn menyebut pencarian tsb sebagai tipuan atau mengada-ada. Mereka asik memikirkan cara berkuasa di tempat yg kekuasaan itu sudah terwujud. Di saat mereka berhasil menggulingkan kekuasaan, di fase kedua mereka tdk memperoleh kekuasaannya secara penuh, sebab kekuasaan IPTEK tdk berada di tangan mereka dan kesenjangannya teramat jauh.
#PersepsiCahyana
Senin, 13 Desember 2021
Belajar dengan Guru
Belajar ilmu agama tanpa guru itu bisa tersesat, baik hanya sebatas permukaan saja atau mendalam. Pemahaman agama itu jgn hanya sebatas katanya, tapi harus dibenarkan oleh perkataan guru.
مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ أُسْتَاذٌ فَإِمَامُهُ الشَّيْطَانُ
"Barang siapa yang tidak mempunyai guru, maka imamnya adalah setan."
Demikian yg saya lakukan saat dulu bimbang dgn penggunaan parfum yg dicampur alkohol. Saya tdk mencukupkan diri dgn katanya, tetapi mengkonsultasikan katanya itu kpd guru fiqh. Demikian pula saat katanya tentang akidah itu terdengar di dalam benak dan dituliskan, saya konsultasikan tulisannya kpd guru akidah.
Semua ilmu yg kokoh tdk bisa difahami hanya sebatas teks yg sekilas. Kita memerlukan guru yg telah mempelajarinya secara mendalam dari berbagai literatur di bawah bimbingan gurunya dalam kurun waktu yg tdk sebentar.
#BiografiCahyana
Minggu, 12 Desember 2021
Hindari Fallacy dan Ujaran Buruk
Konten yg menghubungkan HW dgn kelompok Syiah adalah Hoax, sebagaimana disampaikan oleh Ahlul Bait Indonesia salah satu ormas Syiah di Indonesia. Terkait informasi yg menyatakan HW tdk terkait dgn Pesantren juga tdk benar, mengingat Pesantren Manarul Huda Antapani Bandung asuhan HW terdaftar resmi di Kemenag, dan izin operasionalnya dicabut pasca kasus kriminal HW terbongkar.
Sebaiknya kita menyikapi kasus HW ini dgn cara berfikir yg baik, dan meninggalkan kerancuan berfikir / fallacy seperti generalisasi keliru. Menyatakan kesalahan pribadi HW sebagai kesalahan Pesantren adalah generalisasi yg keliru. Menyikapi generalisasi yg keliru ini tdk perlu dgn cara menutupi fakta, semisal mengatakan HW tdk terafiliasi pesantren; atau dgn membuat hoax, seperti HW terafiliasi Syiah.
Konten tdk jelas yg menyudutkan kelompok minoritas tertentu terkadang memicu ujaran kebencian di medsos. Salah satu artikel yg diterbitkan dalam Jurnal Internasional bereputasi yg pernah saya baca menjelaskan bahwa penyebaran konten ujaran kebencian sangat berbahaya, karena dapat menguatkan ekslusivisme, memicu tindak kekerasan di dunia nyata, dan bahkan bisa berujung ke genosida. Sangat penting bagi kita semua utk melawan penyebaran ujaran kebencian di medsos. Keyakinan kita boleh berbeda, tetapi kita adalah manusia yg harus menjaga kemanusiaan.
Hate speech yg hanya sebatas friksi di dunia maya, cukup dihadapi dgn counter speech yg melibatkan tokoh berpengaruh, termasuk pengungkapan hoax. Apabila tdk tercegah dgn counter speech dan sudah berkembang menjadi kekerasan di dunia nyata, pendekatan hukum diperlukan. Counter speech pada dasarnya adalah nasihat dalam kebenaran dan kesabaran, sekaligus wujud amar ma'ruf nahyi munkar yg membuat bangsa ini menjadi istimewa.
#LiterasiDigital
#PersepsiCahyana