Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Rabu, 10 Agustus 2016

Saresehan KIM se BKPP Wilayah IV

Kepala Diskominfo Jawa Barat

Garut, 10 Agustus 2016 saya menyajikan materi Melek Digital dalam acara Saresehan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) se BKPP (Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan) wilayah IV Jawa Barat yang meliputi kabupaten Bandung, kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Garut, kabupaten Sumedang, kabupaten Tasikmalaya, kabupaten Ciamis, kota Bandung, kota Cimahi, kota Tasikmalaya, dan kota Banjar. Acara tersebut diselenggarakan oleh Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat. Surat permohonan kesediaan sebagai narasumber disampaikan melalui Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut pada tanggal 8 Agustus 2016. Saresehan dengan tema Pemanfaatan Akses Informasi dalam Mengembangkan KIM tersebut menjadi tantangan karena saya hanya memiliki waktu satu hari untuk mempelajari KIM dan menyusun slide presentasi. Sukurlah presentasi sebelumnya yang saya sampaikan dalam acara Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah kabupaten Garut memberi gagasan materi yang akan saya sampaikan esok hari. Saya memilih judul Melek Digital karena kondisi tersebut penting dimiliki oleh individu KIM agar dapat menangani segala ancaman dan hambatan dalam pemanfaatan akses informasinya.

Seharian itu saya memodelkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia tentang Pengembangan dan Pemberdayaan Lembaga Komunikasi Sosial. Saya mendapatkan gagasan bahwa internet selain digunakan sebagai jejaring informasi nasional oleh KIM juga harus dimanfaatkan sebagai forum, question and answer, pembelajaran, data repository, dan portal web untuk studi banding. Artinya ada interaksi antar KIM melalui TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) dalam rangka berbagi konten, pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan terkait manajemen, sumber daya manusia, kelembagaan, dan kegiatan KIM. Studi banding sebagai salah satu kegiatan KIM dapat dilakukan secara online dengan melihat luaran kegiatan KIM melalui situs web KIM yang jalan masuknya melalui portal web. 


Saya coba gambarkan bentuk TIK nya dengan menggunakan model analisis Sistem Informasi KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi) yang pernah disampaikan dalam kegiatan e-Indonesia Initiative di Institut Teknologi Bandung tahun lalu. Rupanya gagasan TIK tersebut dipengaruhi secara tidak sadar oleh model analisis tersebut. Saya hanya perlu mengganti entitas Relawan dengan KIM. Melalui model analisis ini saya memberi masukan tentang kegiatan online yang harus meliputi interaksi KIM dengan KIM lainnya, masyarakat pengguna informasi, dan stakeholders.    


Lebih jauh saya berbagi impian dengan para peserta tentang KIM yang berpangkal di lembaga pendidikan yang saya usahakan dari tahun 2012 hingga sekarang. KIM yang dimaksud adalah KPMI sebagai kelompok relawan teknologi informasi dari kalangan pelajar dan mahasiswa yang berasal dari Komunitas TIK Sekolah dengan kemampuan melaksanakan layanan penyediaan informasi dan TIK serta pengajaran TIK bagi masyarakat sekitar. Komunitas TIK Sekolah dan / atau KPMI nya dapat dirintis dan dihimpunkan di dalam Komunitas TIK Garut untuk kemudian didata, diberdayakan, ditingkatkan kapasitasnya, dan dinilai. Sementara Relawan TIK Garut menyediakan kesempatan bagi setiap anggota KPMI untuk terlibat dalam kegiatan relawan TIK Indonesia dan program pemerintah yang dikawal pelaksanaannya, serta mendapatkan bantuan pendanaan serta ekspos nasional.

KPMI menjadikan kampusnya sebagai PPMI (Pusat Pembangunan Masyarakat Informasi) dan berperan sebagai penyampai informasi seputar kampusnya yang diterbitkan di situs web kampus (ac.id) dan seputar desanya yang diterbutkan di situs web desa (desa.id). Situs-situs web tersebut membangun jejaring informasi nasional yang akan mudah ditemukan oleh pengguna informasi apabila dibuatkan jalan masuknya melalui portal web. Konsep ini didukung oleh Bupati Garut dalam kesempatan Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi tahun 2014 yang diselenggarakan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut.

Media dan masyarakat akan memanfaatkan portal web ini untuk menemukan informasi yang dibutuhkannya. Media akan membawa informasi menarik yang diterbitkan oleh KPMI kepada para pengguna informasi melalui surat kabar, dan medi masa lainnya. Ditindaklanjutinya informasi oleh media atau dikonsumsinya informasi oleh masyarakat menjadi indikator keberhasilan promosi kampus atau desa yang dilakukan oleh KPMI.       

  
Tidak lupa saya sampaikan pula daur hidup pengembangan masyarakat informasi yang perlu dilaksanakan oleh KIM. Antar KIM harus saling membantu agar pemanfaatan akses informasi dapat meningkatkan taraf kehidupan KIM. Saya memberi masukan agar anggota KIM harus CAKAP (cerdas, kreatif, dan produktif). Anggota KIM dapat mengetahui kondisinya dengan memperhatikan indikator CAKAP yang saya sampaikan dalam slide.  


Penyaji dalam acara tersebut tidak hanya saya, tetapi juga Drs Dikdik Hendrajaya, M.Si - Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dan Anton dari Pikiran Rakyat. Menjadi mitra Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat dimulai sejak Dinas tersebut dipimpin oleh Dr Dudi Sudrajat Abdurrachim yang sekarang menjabat sebagai kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Mikro Kecil Menengah provinsi Jawa Barat. Beliau sering mengajak saya untuk hadir dalam pertemuan di Dinas Komunikasi dan Informatika provinsi Jawa Barat dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah provinsi Jawa Barat. Ajakan tersebut disampaikan beliau melalui kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Kesempatan tersebut membuat saya dapat mendengarkan rencana atau capaian program pemerintah bidang Komunikasi dan Informatika serta berbagi konsep pembangunan masyarakat informasi yang melibatkan relawan teknologi informasi. Seperti dalam kesempatan Rapat Koordinasi Evaluasi Program dan Kegiatan bidang Komunikasi dan Informatika se Jawa Barat tahun 2015 di Pangandaran. Setelah di Dinas Koperasi pun beliau masih memberi saya kesempatan untuk dapat tukar fikiran dengan tim beliau seperti pertemuan tanggal 27 Mei 2016.     

Brainstorming di Dinas KUMKM Jabar   

Liputan Pikiran Rakyat, 11 Agustus 2016



Senin, 08 Agustus 2016

Gembel di Akhirat karena Gila di Dunia


Gila itu kondisi tdk mampunya akal menolak dorongan jiwa. Jika jiwanya terdorong kuat utk berjalan ke arah tertentu, akalnya tdk bisa digunakan utk menolak dorongannya walau banyaknya godaan yg menariknya keluar dari jalan tsb. Cinta buta salah satu contoh gila, di mana akal tdk bisa digunakan utk menolak dorongan cinta.

Org yg menyepelekan solat itu akan gembel di akherat nanti. Orang yg menyepelekan solat itu gila di dunia ini karena tdk mampu menggunakan akalnya utk memahami pahitnya konsekuensi kegembelannya di akhirat kelak.

Gembel itu melarat. Orang yg menyia-nyiakan salat itu akan melarat di akhirat, karena masa depan seseorang itu di antaranya bergantung kepada baik dan buruk solatnya. Seseorang yg sudah tahu pentingnya solat tetapi menyia-nyiakannya, ngerinya akibat menyia-nyiakan solat di akhirat namun tidak membuat solatnya menjadi baik, adalah pemilik akal dan nurani yg lemah. Tidak mampu melawan kecenderungan yg menyalahi akal dan nurani merupakan tanda kegilaan. 

Banyak orang gila seperti itu di dunia yg kelak di akhirat menyesal dan meminta kembali ke dunia utk melawan kegilaannya tsb. Tetapi Allah telah membuat penyesalan seperti itu tdk berguna lagi, karena hidup di dunia tdk ada dua kalinya. 

Minggu, 07 Agustus 2016

Satu Slide untuk Satu Pengetahuan

Dalam penyiapan slide ini saya selalu mengamalkan ajaran guru saya Dr Husni Sastramiharja dalam kesempatan kuliah dulu di ITB untuk dapat menyampaikan banyak hal hanya dengan menggunakan slide minimalis. Beliau dalam kesempatan pembelajaran tatap muka di kelas memberi contoh dengan membahas topik berbeda hanya dengan menggunakan slide yang sama selama lebih dari satu pertemuan. Dari pengajaran beliau saya faham bahwa bakat yang saya dapatkan pada saat SMA dulu bisa digunakan untuk mengamalkan ajaran beliau, yakni membuat model rancangan organisasi yang membahas kelengkapan organisasi hanya dalam satu gambar saja. 

Sejak mendapatkan pengajaran tersebut saya membiasakan diri untuk menyampaikan satu tema pengetahuan menggunakan bahasa visual hanya satu slide saja. Memodelkan pengetahuan ini juga terbantu oleh pengetahuan dan keterampilan pemodelan analisis dan desain yang diperoleh saat kuliah strata satu Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Ajaran Dr Husni "Satu bab tesis satu slide" saya ajarkan kembali kepada mahasiswa bimbingan, sehingga saya selalu protes jika mahasiswa bimbingan menyalin kalimat yang ada dalam laporan Tugas Akhir ke slide presentasi mereka.  

Slide bab I Tesis

Sabtu, 06 Agustus 2016

Memisahkan Lagu Format mp3 yang Bersatu

Mungkin anda pernah mendapatkan berkas mp3 yang berisi sejumlah lagu dalam satu album. Adakalanya anda ingin memutar sebagian lagu saja dan tidak ingin mendengarkan satu album. Untuk mewujudkan keinginan tersebut anda memerlukan alat pemotong berkas mp3. Ada dua pendekatan yang disediakan oleh perangkat lunak aplikasi pemotong mp3, yakni manual di mana anda memotong-motong berkas secara manual, dan otomatis di mana aplikasi memotongkan untuk anda berdasarkan kondisi tertentu. Di antara pernagkat lunak aplikasi yang tersedia untuk memotong berkas mp3 dengan dua pendekatan tersebut adalah mp3splt-gtk yang dapat diunduh di Sourceforce. Apabila aplikasinya sudah tidak tersedia, anda bisa mengunduhnya dari repository saya pada folder Software | Multimedia.

Setelah anda mengunduh dan menjalankan aplikasinya, masuklah ke tab Batch & automatic split, lalu tambahkan berkas mp3 nya, dan pilih Silence di mana aplikasi akan memotong otomatis begitu terdeteksi threshold level senyap yang secara default ditentukan -48 dB. Proses pemotongan otomatis terjadi setelah anda menekan tombol Batch split !. 


Hasil pemotingan berkasnya seperti tampak pada gambar berikut ini :


Mungkin anda ingin mengubah format namanya untuk semua berkas yang dihasilkan. Cara umumnya adalah dengan cara manusia, di mana satu persatu anda ubah berkas dengan menggunakan fungsi rename yang disediakan pada Windows Ekspoler. Namun cara tersebut lumayan memakan waktu apabila jumlah berkasnya banyak. Cara termudah adalah dengan menggunakan aplikasi yang dapat merubah nama sejumlah berkas dalam format tertentu secara otomatis. Aplikasi apakah itu, ikuti kiriman selanjutnya. 

Jumat, 05 Agustus 2016

Talk show Digital Literasi dalam Pameran Buku Bapusida Garut


Mendadak sekali Blogger Garut - Ipan Setiawan memberi tahu kalau pelaksanaan talk show tentang Digital Literacy diundurkan jadi selepas salat Jum'at tanggal 5 Agustus 2016. Presentasi pendukung talk show belum disiapkan. Tapi untunglah sekarang ini semua konten yang diperlukan sudah tersedia di internet yang bisa ditemukan dengan menggunakan mesin pencari seperti Google. Dengan wasilah Google konten tersebut pun akhirnya ditemukan. Saya berkata di dalam hati, cukup satu slide saja untuk menghabiskan waktu selama dua jam yang disediakan oleh panitia. 


Kegiatan bertema Digital Literacy ini sesuai dengan tanggung jawab Ipan Setiawan sebagai ketua Perhimpunan Pengguna TIK Komunitas TIK Garut yang harus meningkatkan kapasitas pengguna TIK sehingga menjadi cerdas, kreatif, dan produktif. Posisi Ipan Setiawan ini sesuai dengan hobinya di dunia Blogger yang tentu saja sarat pengalaman terkait pemanfaatan konten, yakni luaran perangkat lunak aplikasi.  

Sedianya narasumber dalam Talk Show tersebut saya dan Kepala Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) kabupaten Garut, Drs Dikdik Hendrajaya, M.Sc. Hanya saja beliau berhalangan hadir sehingga digantikan oleh kepala TPDE Diskominfo Garut, Drs Ajid yang juga merupakan penanggung jawab program pendampingan Komunitas TIK yang ada di Garut. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan apresiasi kepada Diskominfo Garut yang telah menyediakan 16 titik internet hotspot gratis yang tersebar di beberapa kecamatan di Garut sebagai usaha memenuhi kebutuhan akses internet yang menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut sebagai Hak Asasi Manusia. Saya menjelaskan bahwa kunci Digital Literacy adalah Melek TIK (Teknologi Infomasi dan Komunikasi) dan Melek Informasi. Melek TIK adalah kondisi seseorang yang telah mampu menggunakan perangkat TIK, sementara melek informasi adalah kondisi seseorang yang telah mampu memenuhi kebutuhan informasinya dengan menggunakan perangkat TIK. Digital literacy atau melek digital memberi arah kepada para pengguna TIK untuk berancak dari peran konsumen konten menjadi produsen konten yang memperoleh keuntungan profit dari distribusi konten di internet. 

Rabu, 27 Juli 2016

Temu Ilmiah Nasional Peneliti Kemkominfo 2016


Temu Ilmiah Nasional Peneliti 2016 yang diselenggarakan oleh Kemkominfo (Kementrian Komunikasi dan Informatika) Republik Indonesia merupakan kegiatan diseminasi oral kedua yang saya ikuti setelah e-II (e-Indonesia Initiative) ITB tahun lalu. Apabila dalam Konferensi e-II saya mengangkat pemodelan analisis Sistem Informasi Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi, dalam Temu Ilmiah Nasional Peneliti 2016 saya menjelaskan integrasi layanan Relawan TI (Teknologi Informasi) dengan layanan Telecenter sekaligus menjelaskan bagaimana Saka (Satuan Karya Pramuka) Informatika sebagai organisasi Relawan TI dapat mengisi layanan relawan TI di Telecenter yang dikelola oleh BUM Desa. Kegiatan Kemkominfo ini saya ikuti setelah mendapatkan surat undangan presentasi paper pada tanggal 21 Juli 2016. Dalam surat tersebut disebutkan bahwa saya berhasil lolos seleksi berdasarkan penilaian tim yang beranggotakan Prof Dr.Ing Ir. Kalamullah Ramli, M.Eng, Prof. Gati Gayatri, M.A., Dr. Aswin Sasongko, M.Sc, Dr. Onno W. Purbo, Dr. Riant Nugroho, Dr. Irwansyah, M.A., dan M. Shauqie Azar, MPP.

Perjalanan menuju Bogor tanggal 27 Juli 2016 tidaklah mudah. Namun saya tidak ingin melewatkan kesempatan unik ini. Saya pun meminta bantuan dana kepada Dr Hilmi Aulawi, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Alhamdulillah beliau mendukung sehingga saya dapat berangkat pada hari Rabu selepas salat Subuh dalam kondisi lemes karena sakit. Sebagian dana dari kampus saya belikan obat-obatan yang diperlukan. Dan benar saja, setelah menempuh tiga jam perjalanan, saya memutuskan untuk beristirahat karena nafas terasa sesak dan sangat ngantuk sekali. Hari itu saya memutuskan untuk selalu berhenti per tiga jam. 

Di kesempatan perhentian terakhir saya memutuskan untuk mengisi perut dulu di rumah makan di daerah Cipanas Cianjur. Saat menyantap makanan ada telpon dari pak Rahmat yang menginformasikan sedang berada di Garut bersama Direktur Pemberdayaan Informatika Kemkominfo - ibu Septriana Tangkari dalam kegiatan dinas di Diskominfo (Dinas Komunikasi dan Informatika) Garut. Sayang sekali saya tidak bisa menemani. Walau demikian saya ingin ada Relawan TIK Garut yang mendampingi rombongan Direktorat yang membina Relawan TIK Indonesia tersebut. Oleh karenanya saya kirimkan nomor WA (Whatsapp) Rikza (PLH), Leni Fitriani (Bendahara), dan Ridwan (Sekretaris). Saya titip permohonan maaf tidak bisa silaturahmi di Garut melalui WA nya Sekretaris Diskominfo Garut, pak Diar Antadireja. 

Ini adalah perjalanan kali pertama saya dari Garut menuju Bogor melalui Cianjur. Alhamdulillah dengan bantuan Google Map saya pun sampai ke lokasi kegiatan, Hotel Aston menjelang tengah siang. Di lokasi saya melakukan registrasi lalu duduk bersama peserta yg juga baru datang. Jantung ini terasa berdebar-debar karena kelelahan. Istri saya melalui telpon menyarankan agar tubuh ini dibaluri minyak kayu putih. Segera saya menuju toilet dan mengikuti saran istri saya tersebut. Setelah itu saya menunggu waktu pembukaan dengan duduk santai di kursi sofa agar bisa istirahat. 

Di lokasi saya lihat ada pak Onno W. Purbo. Dalam kesempatan makan siang saya menyapa beliau, teman perjalanan pulang dari Rapat Kerja Nasional Relawan TIK Indonesia di Menado tahun lalu, dan berbincang tentang materi yg akan disampaikan dalam kegiatan IT Camp di Pemalang. Kami berdua diminta oleh panitia IT Camp utk memberi materi sesuai pengalaman masing-masing. 

Setelah selesai makan acara pembukaan pun digelar oleh panitia. Nampak banyak wajah yang tidak asing bagi saya. Saya melihat Prof Gati Gayatri yang pernah saya temui saat kegiatan Sertifikasi Profesional di Garut. Ada juga Dr Aswin Sasongko yang pernah saya temui saat didaulat oleh Kemkominfo untuk menyerahkan laporan kegiatan Korea IT Volunteers mewakili Relawan TIK Indonesia di Jakarta tahun 2012. Saya melihat ada Prof Dr Kalamullah Ramli yang diperkenalkan oleh ibu Mariam Barata di Surabaya saat mengisi seminar di Rapat Kerja Nasional Relawan TIK Indonesia. 

Akhirnya peserta yang berjumlah 30 orang dikelompokan menjadi tiga. Saya masuk di kelompok 3 yang diuji oleh Prof Gati dan Dr Riant. Sebelum mengikuti acara saya melaksanakan salat Dzuhur dan Ashar dulu karena kegiatan ini akan berakhir menjelang Maghrib. Karena itu saya kesiangan dan tidak mengikuti sesi perkenalan. Urutan saya nomor 10, di penghujung acara. Semakin sore kondisi tubuh semakin lelah, seakan detak jantung ini tidak bisa dirasakan. Sempat agak pusing, terlebih AC di ruangan itu sangat dingin sekali. 

Sebagai peserta paling akhir, saya mendapatkan waktu sisa. Sebisa mungkin saya sampaikan 4 slide itu selama 10 menit. Saya merasa waktunya terlalu singkat untuk menjelaskan kenapa riset tersebut penting. Saya hanya bisa menjelaskan relasi riset dengan riset sebelumnya dan sejumlah fakta di Garut yang menyebabkan munculnya integrasi layanan relawan TI dengan Telecenter. Tapi ya sudahlah, setidaknya saya sudah menyerahkan artikelnya sehingga Kemkominfo bisa mempelajarinya lagi lebih dalam. 

Dalam kesempatan tanya jawab, Prof Gati menanyakan apakah konsep yang saya buat ini sudah diterapkan. Saya tidak punya waktu untuk menjelaskan bahwa riset ini dibatasi sampai perancangan. Dalam waktu singkat tersebut saya hanya berhasil menjelaskan jika penerapannya sedang akan dimulai bulan September 2016. Beliau membutuhkan bukti dampak penerapannya untuk menilai riset ini berhasil atau tidak, sesuatu yang tidak bisa saya berikan karena waktu pembuktiannya tidak cukup hanya satu tahun. 

Selepas acara, saat bersalaman dengan Dr Riant, beliau memuji artikel yg saya buat. Alhamdulillah, ternyata hasil pekerjaan penelitian semester genap 2015/2016 tersebut bermanfaat, walau sekedar ungkapan apresiasi dari Dr Riant tsb. Sebelumnya beliau mengatakan kalau riset ini harus dinikmati, periset hrs bisa meyakinkan dan mampu merekomendasikan atau memberi arahan berdasarkan hasil riset. 

Selama dua malam di lokasi saya masih didera sakit. Saya coba kurangi sakitnya dengan senantiasa mengkonsumsi jamu Tolak Angin dan membaluri tubuh dengan minyak kayu putih. Acaranya sangat padat sekali sehingga saya hampir tidak bisa istirahat. 

Akhirnya saya pun bisa pulang. Tidak lupa saya beli minuman dalam kemasan yang mengandung Oksigen ekstra. Minuman tersebut berhasil membuat tubuh ini lumayan bugar di hari pertama. Sebelum keluar dari Bogor saya antar dulu teman yang juga peserta Temu Ilmiah ke Statsiun Kereta Api. Banyak obrolan dalam perjalanan ke Statsiun, mulai dari radio komunitas hingga ketangguhan istri. Setelah itu saya pun pulang menempuh perjalanan selama enam jam. Sempat istirahat dulu di Puncak Cianjur untuk menyantap gule Domba. 

Sesampainya di rumah, saya bilang ke istri kalau pernafasan ini bermasalah hingga sekarang. Saya mengajaknya untuk mencari Dokter THT. Sebelum berangkat ke Bogor sebenarnya saya sudah diperiksa oleh Dokter keluarga dan diberikan surat rujukan ke Dokter THT. Dokter Spesialis THT, Dr Gunawan mengatakan bahwa saya mengalami Rakhitis Kronis yang timbul karena alergi turunan. Beliau memberi saya obat yang membuat saya tidak bisa tidur pulas selama satu minggu. Pada awalnya sempat kaget karena reaksi obatnya seperti itu. Pada hari pertama saya tidur selama setengah jam lalu terbangun, begitu seterusnya hingga adzan subuh berkumandang. Laa hawla wa laa quwata illa billah. 

Oh iya lupa, di hari kedua saya bertemu dengan ibu Mariam Barata. Beliau ini yg jasanya selalu dikenang oleh pegiat TIK Garut seperti saya krn telah membukakan kesempatan bagi anak muda Garut yg diwakili oleh Muhammad Rikza Nashrulloh utk melaksanakan kegiatan relawan TIK Indonesia yg pertama di luar negeri, mempercayakan kegiatan internasional relawan TI Korea Selatan di Garut, yg telah membuat Sekolah Tinggi Teknologi Garut didaulat oleh media sebagai akar Relawan TIK di Garut, dan yg percaya konsep penjenjangan dan sertifikasi relawan TIK Garut dapat diterapkan secara Nasional yg mana konsep tsb telah menjadi bagian dari roadmap penelitian saya dari tahun 2012 hingga sekarang. Barakallah.


Slide dan Artikel Presentasi di Bogor tgl 28 Juli 2016 dalam kegiatan Temu Ilmiah Nasional Peneliti, Puslitbang APTIKA dan IKP, Badan Litbang SDM Kemkominfo RI, "Memfungsikan Telecenter sebagai Pusat Pembangunan Ekonomi Digital di Perdesaan dengan Melibatkan Relawan Teknologi Informasi". Barangkali bermanfaat. 

Senin, 27 Juni 2016

Sosialisasi Pangkalan Data Tenaga Pendidik


Senin, 27 Juni 2016 diselenggarakan sosialisasi Pangkalan Data untuk Tenaga Pendidik di lingkungan program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sosialisasi ini dimaksudkan agar Tenaga Pendidik memahami hubungan data yang bersumber dari kinerja Tridharmanya dengan kenaikan jabatan fungsional dan akreditasi. Dalam kesempatan membuka acara tersebut, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagaimana ketua LPM (Lembaga Penjamin Mutu) menjelaskan pentingnya pengumpulan data sehubungan dengan akan diakreditasi ulangnya seluruh program studi di lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Beliau juga mengapresiasi langkah program studi Teknik Informatika dalam menyediakan simpanan data internet untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk kebutuhan akreditasi tersebut.

Dalam pemaparannya, saya mengingatkan kembali kepercayaan Google kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk memanfaatkan Google Application for Education di mana sivitas akademik dapat memanfaatkan simpanan data internet tanpa batas. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan akademik. Saya meminta kepada dosen untuk tidak lagi meminta kiriman tugas tercetak, tetapi dikirim dalam format dijital melalui aplikasi Google seperti Google Mail atau Google Drive. Saya menunjukan di dalam Google Drive program studi, direktori Mahasiswa yang nanti akan digunakan oleh mahasiswa untuk menyimpan luaran akademiknya dari awal hingga akhir kuliah. Hal yang sama juga untuk Dosen, program studi menyediakan direktori yang harus diisi dengan berkas dijital yang merupakan dokumentasi pelaksanaan Tridharma oleh Dosen. 

Saya menyampaikan informasi kepada Dosen bahwa sosialisasi ini merupakan langkah awal sebelum pelaporan program studi kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang akan disampaikan akhir bulan Juli mendatang, di mana isi laporannya berdasarkan isi direktori tersebut. Terkait reward and punishment yang disampaikan oleh ketua program studi Teknik Industri yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, saya menyerahkan pelaksanaannya kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Program studi hanya akan berusaha mempublikasikan kinerja dosen melalui situs web program studi sebagai wujud keterbukaan informasi yang disediakan untuk stakeholders. Dengan publikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui kegiatan Dosen tetap program studi. 

Ketua program studi Teknik Sipil yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan usulannya agar Pangkalan Data tersebut juga diterapkan di Program Studi lainnya. Saya menyatakan siap mendampingi UPT Sistem Informasi dalam penerapannya di program studi lainnya. Pangkalan data ini memudahkan LPM dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat untuk mengetahui kinerja Dosen dari jarak jauh, juga memudahkan Dosen untuk mengurus jabatan fungsionalnya karena seluruh berkas lampiran yang diperlukan tersimpan dalam Direktori tersebut.  


Senin, 13 Juni 2016

Aku dan Membaca


Dgn membaca saya memahami, dgn membaca saya dipengaruhi dan berubah, dgn membaca dunia ini nampak menjadi luas dan kita terlihat kecil.

Di penghujung pertemuannya, guru saya Ir. Kridanto Surendro, M.Sc, Ph.D mengatakan bahwa belajar membaca sangatlah penting bagi kami. Saya menginsyafi ini dan membenarkannya, berdasarkan pengalaman belajar baik bersama beliau atau di kelas lain saat kuliah Pascasarjana Informatika konsentrasi Sistem Informasi di Institut Teknologi Bandung. Saya membenarkan karena mengingat pengalaman Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama di gua Hira, "Iqra", yang berarti Bacalah. Saat pertama kali mengikuti matakuliah beliau terkait sumber daya manusia dalam Sistem Informasi, ada kesenjangan pengetahuan yang menyebabkan saya tidak bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Hal tersebut membuat saya gelisah, hingga teman sebangku menenangkan dan mengatakan bahwa suatu saat saya akan dapat memahaminya. Kesenjangan tersebut terjadi karena selama kuliah strata satu Teknik Informatika, dominasi pengetahuan dan pengalamannya di sisi perangkat lunak. 

Dan guru saya tersebut membuat kesenjangan itu mulai berkurang setelah memberikan banyak tugas membaca dan meringkas literatur di setiap matakuliah yang diampu oleh beliau. Tata bahasa Indonesia saya sempat kacau karena terpengaruh kebiasaan membaca literatur berbahasa inggris, tetapi berkat mebaca itu saya melihat banyak dunia Sistem Informasi yang selama ini hanya saya lihat seakan dari lubang jarum saja. Banyak kekeliruan pemahaman yang berhasil diluruskan selama kuliah Pascasarjana, khususnya terkait perbedaan dan hubungan antara Sistem Informasi dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Rasa syukur itu membuat saya meminta kesediaan beliau untuk memberikan seminar di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar pencerahan tersebut tidak hanya dinikmati oleh saya saja tetapi juga oleh sivitas akademik  Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 


Ketertarikan saya kepada buku berawal dari kegiatan meminjam buku di Perpustakaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Subang yang kebetulan dekat dengan Sekolah Dasar Negeri Panglejar Subang tempat saya belajar saat itu. Jika tidak karena diajak oleh teman mengunjungi Perpustakaan, mungkin saya tidak akan pernah punya ketertarikan mengunjungi Perpustakaan. Berada di sekitar teman yang mengajak kepada kebaikan itu karunia yang perlu kita syukuri hingga akhir hayat. 

Buku yang paling saya minati dan sering saya pinjam saat itu adalah kategori cerita. Seakan saya masuk dalam pengalaman anak-anak dalam cerita tersebut. Mungkin inilah yang menyebabkan saya dapat membuat cerita fiksi berdasarkan pengalaman main saya di proyek tol dekat perumahan Bale Endah Bandung dengan kang Gigin Destriana (Putera Kakak nya Ibu). Sebab lainnya mungkin karena kebiasaan saya kalau hujan tiba suka terkurap di atas kasur tingkat ke dua dan melihat ke luar jendela tepat ke halaman samping rumah tetangga. Di sana ada sebidang tanah yang selalu kebanjiran. Saat kecil itu saya sering membayangkan sebidang tanah itu sebagai wilayah yang dihuni, ada rumahnya, situs purbakala yang mengandung fosil Dinosaurus (aslinya kerangka cicak, hehehe), dan bahkan sempat membuat peta wilayah dan peta bencana banjirnya. Sekarang rumah tetangga berikut halamannya menjadi rumah teh Reti. Sesekali saya juga sering nongkrong di puncak atap rumah (kok tidak merasa panas ya saat itu?), melihat gumpalan Awan yang memicu cerita negeri di atas awan.

Kembali ke cerita fiksi pertama yang tertulis di atas kertas. Cerita tersebut diketik dengan menggunakan mesin tik punya teh Ida, kakaknya kang Gigin Destriana, pengalaman pertama mengetik dengan mesin tik menggunakan jari sebelas ... maksudnya dua telunjuk, hehehe. Sayangnya kertas itu tidak saya simpan, tapi saya sedikit ingat isi cerita itu mirip lamunan tentang halaman tetangga saat hujan tiba. Sempat mendengar kakak mengadu kepada Uwa karena mungkin pita ketiknya habis oleh saya, hehehe ... tetapi Uwa mendukung apa yang saya lakukan. Saya tidak terpengaruh atau merasa bersalah telah menghabiskan pita ketik tersebut, mungkin saat itu karena saya masih kecil lebih banyak memperhatikan keinginan. Sejak saat itu saya menikmati menulis cerita dan selalu ingin memiliki mesin tik, walau kenyataannya tidak pernah dimiliki hingga sekarang. Karena ngetiknya sudah jaman komputer, hehehe. Alhamdulillah, orang tua memberikan Komputer dan Printernya menjelang lulus kuliah strata satu. Dengan Personal Computer tersebut saya menghasilkan banyak tulisan mulai dari buletin hingga surat untuk sahabat pena. 

Di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 2 Subang, saya aktif di Kepramukaan. Bahkan dipercaya oleh teman-teman sebagai ketua Dewan Penggalang dan Pemimpin Regu Utama. Saya memahami sejak saat itu saya selalu memikirkan hal-hal yang tidak sederhana untuk organisasi, seperti melengkapi ruang sekretariat dengan kursi-kursi belajar untuk pertemuan. Kursi-kursi tersebut saya ambil dari gudang dan diperbaiki bersama pengurus Dewan Penggalang. Selain itu, yang terpenting dari kegiatan berorganisasi tersebut adalah kegiatan membaca. Untuk dapat mengajarkan materi kepramukaan kepada adik kelas, saya membaca Buku Agenda Pramuka milik teh Rita Sulistiana, kakak kedua yang juga sempat aktif di Pramuka saat belajar di SMP Negeri 2 Subang. Ternyata catatannya lengkap juga, tidak seperti saya yang tidak punya catatan Pramuka sama sekali, hehehe. Buku tersebut membuat saya memahami sandi dan mulai membuat sandi sendiri dan diajarkan kepada para pengurus Dewan Penggalang dan adik-adik Pramuka. Sandinya apa saya lupa lagi, mungkin Indri Novianti (rekan pengurus) dan Indri Virgianti (adik yang diajari) masih mengingatnya. Gaya miring dalam foto berbaju Pramuka lengkap di bawah ini terpengaruh oleh Baden Powel, hehehe.


Namun satu buku yang sangat berpengaruh saat itu terkait dokumentasi organisasi adalah buku yang dipinjamkan oleh kak Endin, ketua Dewan Penggalang sebelumnya. Saat perkemahan di kampus, beliau datang dan berbincang seputar Kepramukaan. Beliau lalu meminjamkan buku Kepramukaan tentang tata surat dan lainnya. Melalui buku tersebut saya memahami gaya penulisan surat, termasuk urutan nama organisasi. Kalau sistem penomoran suratnya saya belajar banyak dari kak Endang Morse, saat menjadi panitia kegiatan. Buku inilah di antaranya yang menyebabkan laporan pertanggung jawaban saya sebagai ketua PMR (Palang Merah Remaja) Wira Patut saat belajar di SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 1 Subang sangat tebal. Sampai saya yang memberi masukan kepada tukang jilidnya agar laporan dengan sampul emas tersebut dipaku saja agar dapat bersatu. 

Belakangan Aria Dinda Dwi Sevta, rekan pengurus PMR menceritakan kalau Pembina PMR saat itu berfikir laporan tebal tersebut berikut apa yang tertulis di dalamnya (tata organisasi dan pasukan khas, serta dokumentasi organisasi) bukan saya yang buat, karena tidak mungkin dihasilkan oleh anak seusia saya. Padahal laporan itu benar-benar dibuat oleh saya, dalam pengaruh buku yang dipinjamkan oleh kak Endin dan buku-buku pemerintahan yang saya baca di Perpustakaan SMA Negeri 1 Subang.


Hal yang membuat kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Subang tidak mengasikan adalah saat alumni datang. Sudah jadi kebiasaan kakak-kakak ini mulai melakukan uji mental. Kami semua sangat takut saat kegiatan itu dimulai. Ujian yang masih saya ingat adalah saat satu regu yang bercampur putera dan puteri kami dibariskan. Lalu kertas dimasukan ke mulut anggota regu pertama, setelah itu berpindah ke muluh anggota regu di sebelahnya. Waktu itu mungkin karena berada dalam tekanan, saya tidak merasa jijik, atau mungkin karena kertas itu berasal dari mulut teman perempuan yang didorong-dorong alumni untuk dekat dengan saya, hehehe. Jangan berfikir macam-macam, kertas itu tentu saja bukan dipindahkan oleh mulut ke mulut, tapi dari mulut ke tangan lalu ke mulut, hehehe. Tidak ada pengalaman bersentuhan mulut dengan lawan jenis selama aktif berorganisasi, bahkan saat belajar teknik pernafasan buatan di PMR Wira Patut sekalipun. 

Hal lain yang paling tidak asik adalah saat berhadapan dengan konflik dengan sesama pengurus, mendengar kabar dari adik Pramuka saya dijelek-jelekan, dan lain sebagainya. Pengalaman seperti itu tidak asing sebenarnya bagi saya, karena di lingkungan rumah pun kumpulan anak tetangga yang nakal suka melakukan hal yang sama. Tetapi mungkin saat itu saya belum siap sehingga hal tersebut menyebabkan tekanan yang memicu amarah. Semuanya sedikit mereda setelah bertemu dengan mas Yudho di jembatan Masjid al-Muhajirin. Beliau memberi nasihat dan meminjami buku Minhajul Abidien. Buku tersebut sangat berpengaruh dan membuat orientasi hidup saya berubah. Buku itu pula yang menyebabkan saya memutuskan untuk tidak ingin bergabung lagi di Kepramukaan dan memilih PMR saat belajar di SMA Negeri 1 Subang walau dibujuk Pembina. Saking berpengaruhnya, saya membuat tulisan di atas secarik kertas dan menyisipkannya di buku tersebut. Terakhir melihat buku tersebut, kertasnya masih ada pada buku tersebut. Saya sudah tidak ingat apa isi tulisannya.

Buku tersebut membuat saya memiliki jati diri, mengagumi akhlak mulia, dan bahkan mencegah saya untuk memperhatikan rasa suka terhadap wanita semata karena berfikir merasa belum layak untuk memiliki dan dimiliki. Delapan tahun ke depan saya benar-benar menjadi Jomblo yang diniatkan, hehehe. Buku itulah yang menyebabkan saya tertarik membaca banyak literatur agama, mulai dari hadits pilihan milik teh Reti hingga buku sekelas al-Hikam. Buku yang disebut terakhir ini diberi tahu oleh mas Yudho dan saya temukan beberapa waktu kemudian di Perpustakaan Masjid SMA Negeri 1 Subang. al-Hikam mewariskan kekuatan pendorong yang membuat saya dapat berjalan di dunia spiritual tanpa perlu menggunakan kaki. Baik Minhajul Abidien dan al-Hikam, keduanya saya khatamkan berkali-kali. Rasanya tidak puas meneguk keajaiban di dalamnya. Karena dua buku ini lah Aria Dinda saat di SMA menyebut saya unik dan perlu dilestarikan (memangnya hewan langka, hehehe), dan kang Ishak saat di pelataran masjid kecil al-Musaddadiyah mengatakan pemikiran saya melampaui usia. Saat itu saya sama sekali tidak menyadarinya, semata mengikuti apa yang saya yakini dari literatur-literatur yang dibaca. 

Dua buku ini kelak pada masa-masa kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, membukakan pintu perjalanan menuju berbagai literatur di lingkungan Tarikat Syadziliyah, yang karena pengaruh dan keajaibannya itu saya memberi nama anak kedua Syazwan asy-Syadziliyah, sebagai tanda kesyukuran. Sementara nama anak pertama saya, Syauqi Ahmad Nurulloh merupakan gubahan dari Muhammad Syauq Ridha Nurulloh, nama yang saya buat untuk diri sendiri dalam perjalanan tersebut tahun 2002. Nama yang kemudian diyakini menjadi nama anak pertama saya, sehingga walau USG menunjukan anak saya perempuan, saya berkeyakinan dia pria karena namanya adalah Muhammad Syauq Ridha Nurulloh.


Saat di SMA Negeri 1 Subang saya bertekad kuat untuk membiasakan diri mengunjungi Perpustakaan. Alhamdulillah, Allah menolongnya sehingga saya rutin mengunjungi Perpustakaan dan membaca sejumlah literatur di sana, mulai dari ilmu teknik hingga pemerintahan. Bukan hanya perpustakaan umum saja, tetapi juga perpustakaan masjid. Ilmu pemerintahan yang diperoleh dari Perpustakaan membangun kemampuan saya dalam mengembangkan organisasi PMR dan BPH GMA (Badan Pelaksana Harian Generasi Muslim al-Muhajirin). Kombinasi daya hayal yang dulu membuat saya dapat membuat cerita fiksi dengan asupan pengetahuan dari Perpustakaan memunculkan kemampuan baru, yakni pemodelan konseptual. Bahkan digabungkan dengan film kartun Saint Seiya, membuat saya mendapatkan ide wujud logo Satuan Jihad GMA, hehehe.


Satuan Jihad merupakan Satuan Pengamanan untuk kegiatan Perkemahan Islami yang digelar tahunan oleh GMA. Nama Jihad nya sama sekali jauh dari gagasan Islam Esktrim, karena kenyataannya GMA merupakan kumpulan anak muda dengan pemahaman Islam tradisi. Para pemipin kepengurusannya senantiasa memerangi faham esktrim. Bahkan suatu ketiak GMA bahkan pernah bersitegang dengan tetua kampung karena memainkan alat musik ala Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib di dalam masjid. Termasuk saat saya meyakini pengajian harus terpisah antara pria dan wanita sehingga duduk di belakang dinding, mas Yudho sebagai ketua umum GMA memberikan sindiran halus. Kebetulan juga salam Jihad Allahu Akbar senantiasa digunakan panitia untuk menyemangati peserta kegiatan, sehingga nama Satuan Pengamanan ini Satuan Jihad. Orang yang tidak tahu GMA mungkin saja akan bersangka-sangka saat  melihat gambar silhuet yang saya buat untuk Satuan Jihad ini yakni Ikhwan Bertopeng dengan Pisau Komando terhunus di depan wajahnya, hehehe. 

Kegiatan sebagai ketua BPH GMA menyebabkan munculnya kegiatan menulis, mulai dari konsep organisasi, ringkasan apa yang saya baca dari literatur dan saya dengar dari pengajian, hingga buletin. Secara umum produk tulisannya tidak menggunakan mesin tik. Jika kebetulan ada akses ke mesin tik di rumah mas Yudho, saya baru punya produk tulisan dengan mesin. Kegiatan membaca dan berorganisasi mendorong saya menghasilkan banyak tulisan. Berbagai persoalan dan kebutuhan dalam organisasi membuat saya berfikir, menulis, dan menyampaikannya kepada orang lain. Dan bahkan tidak hanya sebatas itu, saya juga mengajarkan dan mengajak serta teman-teman untuk mengamalkan. GMA merupakan ruang pengalaman spiritual saya, saat pertama kali jatuh dalam kesalahan membuat bid'ah prosesi dzikir bersama, namun juga merupakan saat pertama kali menerima nikmat karunia taubat dari bid'ah dhalalah yang dengan izin Allah masih kuat tertanam dalam hati hingga sekarang. Hal itu terjadi mungkin karena sedang dipengaruh oleh literatur Thariqah yang diakses di perpustakaan Madrasah Diniyah Bahrul Ulum yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan dan Dakwah GMA. Sementara karunia taubat diperoleh karena mengingat sejumlah hadits dari buku hadits pilihan milik kakak.

 
 
Produk pertama model konseptual adalah sistem organisasi BPH GMA yang mendefinisikan berbagai tingkatan pertemuan anggota dan kepengurusan serta relasi-relasi di dalam organisasi dan antar organisasi. Kebetulan saat itu saya dipercaya mas Yudho sebagai ketua BPH GMA, sehingga model konseptual tersebut saya terapkan di dunia nyata satu persatu.Kemampuan tersebut semakin terasah saat studi Sarjana di Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan Pascasarjana di Informatika Institut Tekologi Bandung. Model konseptual yang pernah dibuat mulai dari sistem organisasi Unit Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut, sistem Relawan TIK, dan sekarang sistem Rintisan Satuan Karya Pramuka Informatika. 


Bersambung ...