Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Kamis, 09 September 2010
Selasa, 17 Agustus 2010
Solusi SOA Untuk Fleksibilitas Bisnis Perguruan Tinggi Terhadap Perubahan
SOA adalah kerangka kerja (Proteans, 2009) atau arsitektur teknologi yang menganut prinsip-prinsip berorientasi layanan (Erl, 2005), yang menghubungkan kebutuhan pelanggan dengan kemampuan perusahaan dengan tanpa memperhatikan lanskap teknologi dan batasan organisasi (Gabhart dan Bhattacharya, 2008). SOA adalah gaya arsitektural yang memodularisasi sistem informasi (SI) ke dalam layanan (Erl, 2005), yang menyediakan fungsionalitas bisnis terstandarisasi sebagai sekumpulan layanan yang umum dan dapat digunakan kembali (Proteans, 2009).
Sebelum konsep SOA muncul, dalam rangka memenuhi kebutuhan bisnis yang baru, organisasi berhadapan dengan masalah pemborosan waktu dan biaya karena para pengembang perangkat lunak harus melakukan modifikasi maksimum terhadap komponen sistem (Miller, dkk, 2002). Hashimi (2003) menjelaskan bagaimana kesulitan dihadapi pemrogram saat menggunakan pendekatan demi pendekatan komputasi sebagaimana tampak pada tabel II.1 sehingga kemudian masalahnya sekarang dapat diselesaikan dengan SOA dan web services.
(Sumber : Gabhart dan Bhattacharya, 2008)
Approach
|
Time Frame
|
Programming Model
|
Business Motivation
|
Mainframe timesharing
|
1960s-1980s
|
Procedural (COBOL)
|
Automated Business
|
Client/Server
|
1980s-1990s
|
Database (SQL) and fat client (VB, Powerbuilder, etc.)
|
Computing power on the desktop
|
N-Tier/Web
|
1990s-2000s
|
Object-oriented (Java, PHP, COM, etc.)
|
Internet/eBusiness
|
Service Oriented
|
2000s
|
Message-oriented (XML)
|
Business Agility
|
Hashimi (2003) menjelaskan, bahwa pada awalnya menulis kode program dilakukan dengan tanpa dapat menghindari penulisan kode yang sama berulang-ulang. Hingga kemudian muncul konsep desain modular, di mana kode yang sama ditulis dalam modul sub-routine, procedure, atau function. Namun saat terjadi masalah pada modul tersebut, pemrogram harus menelusuri seluruh unit yang menggunakannya, sebuah pekerjaan yang menghamburkan waktu dan biaya. Pemrogram lebih menyukai high level abstraction, sehingga kemudian munculah classes dan perangkat lunak Object Oriented. Saat kompleksitas perangkat lunak dan perangkat keras semakin meningkat, munculah perangkat lunak berbasis komponen untuk penggunaan kembali, pemeliharaan, dan mempertahankan fungsi, bukan hanya kode. Namun tentu saja tawaran ini tidak berlaku untuk semua kompleksitas yang dihadapi pengembang saat ini seperti perangkat lunak terdistribusi, integrasi aplikasi, keragaman platform, keragaman protokol, keragaman perangkat, internet dan lain sebagainya. SOA bersama dengan Web Services menjawab persoalan tersebut. Dengan SOA kerumitan protokol dan platform dapat dikurangi dan aplikasi dapat diintegrasikan.
SOA merepresentasikan pergeseran dalam organisasi dari SI yang monolotik dan silo menuju fleksibilitas di mana sistem memberikan solusi bagi pelanggan dengan menggunakan sejumlah variasi rakitan layanan (Gabhart dan Bhattacharya, 2008). Layanan yang saling berkomunikasi, melibatkan data yang sederhana, dan berkordinasi dengan beberapa aktivitas (www.service-architecture.com) dapat didistribusikan (Erl, 2005), dikonfigurasi ulang (Sprott, 2005), dikombinasi ulang dengan berbagai cara (Brown, 2008), dan rantai layanan dapat disusun kembali setiap saat sesuai dengan kebutuhan perubahan bisnis (Sprott, 2005) untuk menerapkan proses bisnis yang baru atau untuk meningkatkannya (Brown, 2008). Layanan SOA yang flexible, reusable, dan configurable (Gabhart dan Bhattacharya, 2008) menyebabkan bisnis dapat merespon perubahan secara cepat (Sprott, 2005).
Layanan dan dapat digunakan pada beragam proyek atau oleh sejumlah aplikasi layanan multi-platform (Proteans, 2009). Layanan tersedia untuk setiap permintaan layanan yang disampaikan dari lokasi manapun dalam jaringan kerja tanpa dibatasi oleh sistem operasi, bahasa pemrograman, atau platform teknologi. Orientasi layanan memungkinkan bisnis menggunakan layanan yang tersedia di luar organisasi melalui jaringan komputer (Sprott, 2005).
Untuk mendapatkan keuntungan dari TI, perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya untuk pembaruan infrastruktur dan penyampaian layanan TI (Educause, 2003). Weil dan Ross (2004) menemukan fakta bahwa pengeluaran TI mencapai 50% dari total biaya belanja organisasi. Beban tersebut dapat diringankan dengan SOA yang membantu peningkatan kegesitan bisnis (business agility) dan efektifitas biaya (Erl, 2009). Menghindari biaya pengembangan di masa depan dapat dilakukan dengan cara penggunaan kembali layanan (Brown, 2008).
Dengan demikian dapat dipastikan bahwa fleksibilitas bisnis terhadap perubahan dapat dicapai melalui pengembangan berorientasi layanan dengan pendekatan SOA. Sekolah dan universitas yang sebelumnya mendapatkan kekuatan dan keuntungan bisnis Salira, setelah menerapkan SOA diharapkan mendapatkan tambahan kemampuan berupa business agility, yakni kemampuan organisasi untuk fleksibel, responsive, adaptif, dan menunjukan inisiatif saat terjadi perubahan dan ketidakpastian (dictionary.bnet.com), serta kemampuan untuk menghindari (Brown, 2008) atau mencapai efektifitas biaya (Erl, 2009). Di dalam Wikipedia1 disebutkan bahwa business agility adalah kemampuan bisnis untuk beradaptasi secara cepat dengan biaya yang efisien dalam menanggapi perubahan dalam lingkungan bisnis.
Sabtu, 14 Agustus 2010
Fitnah terhadap Istri Rasulullah SAW
Soal Aisyah, coba lihat kultur Arab saat itu, apakah pernikahan dengan wanita di bawah umur dianggap tidak lajim? Pedhofil itu ketertarikan kepada anak di bawah umur, sementara Muhammad menikahi Aiysah tidak berangkat dari ketertarikan, tetapi dari penghormatan kepada ayahnya Abu Bakar yang meminta Muhammad menikahi Aisyah untuk mengikatkan tali kekerabatan. Pedhofil itu terkait hubungan badan dengan anak yang belum baligh, memangnya Muhammad mencampuri Aiysah dalam kondisi belum baligh?
Tentang Maria Qibthiyah r.a. yang berasal dari desa Anshina, beliau adalah hadiah dari Raja Muqauqis seorang penguasa suku Qibthi di Alexandria Mesir. Nabi bermalam bersama Maria dengan status milk al-yamin (hamba sahaya), dan hal itu diperkenankan dalam kultur Arab saat itu atau bukan merupakan sesuatu yang menyimpang. Kemudian Muhammad mengubah statusnya menjadi istri. Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini.
Tentang Zainab r.a., sangat jelas bahwa Zainab adalah bekas istri Zaid anak angkat Muhammad. Di dalam Islam, anak angkat adalah orang lain dan bukannya anak sendiri, sehingga bekas istri anak angkat sama dengan bekas istri orang lain. Muhammad menikahi Zainab yang sudah bercerai dari Zaid. Pernikahan itu tercela jika dilakukan dengan wanita yang masih menjadi istri orang lain, dan Muhammad tidak melakukannya. Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini.
Tentang Raihanah r.a. yang pada awalnya merupakan tawanan dari bani Quraizah. Muhammad pernah bermalam bersama Raihanah dengan status milk al-yamin (hamba sahaya), dan hal itu diperkenankan dalam kultur Arab saat itu atau bukan merupakan sesuatu yang menyimpang. Setelah Raihanah memeluk Islam, Muhammad membebaskannya dan menikahinya pada bulan Muharam 6 H di rumah Salma binti Qais al-Najjariyah. Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini.
Tentang Safiyah r.a., beliau memiliki garis keturunan dari Nabi Harun A.S. Para lelaki kaumnya dijatuhi hukuman mati oleh Sa’ad mengikuti hukum konvensional Arab saat itu atas kesalahan penghianatan yang tidak termaafkan. Dalam bukunya, Karen Armstrong menuliskan bahwa hukuman konvensional seperti itu difahami dan bisa diterima oleh orang Arab saat itu, dan hukuman mati atas suku Quraizah atas dasar politik (yakni penghianatan) dan bukan perintah agama. Sebelumnya Muhammad tidak menjatuhi suku Nadhir dan Qaunika dengan hukuman konvensional tersebut melainkan hukuman pengusiran dari Madinah.
Pada awalnya Safiyah sebagai tawanan perang dengan status milk al-yamin diberikan Muhammad kepada Dihyah namun setelah dinasihati oleh seseorang tentang keutamaan Safiyah akhirnya Muhammad menyuruh Dihyah untuk mengambil selain Safiyah.
Anas berkata bahwa Muhammad menikahi Safiyah setelah dibebaskan dari status tawanan perang bukan sebagai ummul walad (hamba sahaya) tetapi sebagai istri. Tatkala Muhammad menawarkan dibebaskan atau masuk Islam, Safiyah memilih, “Aku lebih memilih Allah dan Rasul-Nya” (Riwayat Jabir).
Tamam ibn Muhammad ibn Abdullah ibn Ja’far ibn Abdullah al-Junaid menyebutkan dalam kitab Fawa’id, dari Anas dia mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah berkata kepada Safiyah, “Apakah engkau mau bersamaku?”. Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, itulah yang aku harapkan selama aku masih berada dalam kemusyrikan. Bagaimana tidak, Allah ternyata membukakan jalan itu kepadaku setelah aku masuk Islam.”
Abi Ya’la meriwayatkan dengan sanad hadist sahih, dari Safiyah r.a. dia berkata, “Ketika Rasulullah menawanku, tidak ada orang yang paling aku benci selain dia. Betapa tidak, dia adalah orang yang telah membunuh ayah dan suamiku dalam perang (Khaibar). Setelah kejadian tersebut, beliau tidak henti-hentinya meminta maaf dan mengatakan ‘Wahai Safiyah, sesungguhnya ayahmu adalah orang yang senantiasa mencekoki orang-orang Arab untuk terus menentangku.’ Hingga akhirnya, kebencianku terhadap Rasulullah menjadi luntur dan hilang. Maka saat ini, tidak ada datupun orang yang paling aku cintai kecuali Nabi SAW.”
Dengan demikian Muhammad tidak memiliki cela dalam hal ini, sekalipun orang kafir dan munafik tidak menyukainya.
Sebagai catatan Karen Armstrong mengatakan bahwa hukum konvensional / tradisional yang berlaku di Arab saat itu kepada penghianat adalah membantai para lelaki dan menjual perempuan dan anak mereka sebagai budak atau dipaksa untuk melakukan kegiatan prostitusi. Tragedi Quraizah sekalipun tidak dapat diterima pada masa kini, tetapi merupakan hal yang tidak terelakan pada masa itu di dalam kultur Arab yang memiliki hukum konvensional. Dan Muhammad bersikap sebagai kepala suku Arab yang menghormati hukum tradisional sekaligus meluruskannya (seperti misalnya menghilangkan praktik mutilasi terhadap mayat yang menjadi korban perang dalam hukum perang Islam).
Perkataan Allah Bagi Para Pencela Agama
Perhatikan firman Allah berikut ini:
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): “Raa´ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis.(An Nisaa :46)
Perbuatan para pencela agama pengikut fasisme ini sekalipun mereka oknum Kristen sesungguhnya mereka mewarisi perilaku Yahudi di masa lalu.
Kita bisa melihat di sini bagaimana mereka membajak al-Qur’an dengan merubah perkataan dari tempatnya sehingga tafsir atau pemahaman yang terbentuk menjadi sesuatu yang menghinakan agama. Selaras dengan firman Allah tersebut:
Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya.
Mereka membuka komentar dan bersedia berkomunikasi dengan muslim, tetapi sejatinya tidak mau mendengar apa yang disampaikan muslim, karena setiap argumen mereka terbantahkan, mereka tetap saja berketetapan dalam kesesatan pemahaman mereka dan mengesampingkan kemuliaan akal fikiran yang telah membangun argumentasi logis yang meruntuhkan pemahaman keliru mereka tentang Islam. Keadaan mereka digambarkan jelas oleh Allah dalam ayat tersebut:
Mereka berkata: “Kami mendengar”, tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): “Dengarlah” sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa.
Itikad mereka bukanlah mencari kebenaran, tetapi mencela agama, mengikuti fasisme yang meninggikan ras mereka dan merendahkan ras Islam. Perbuatan mencela agama yang dilakukan digambarkan Allah dalam ayat tersebut:
Dan (mereka mengatakan): “Raa´ina”, dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama.
Terhadap penjelasan dan kebenaran yang telah disampaikan Allah melalui bantahan dan penjelasan muslim berdasarkan kepada ajaran agama Islam yang sebenarnya, seharusnya mereka dapat menerima sekiranya mereka adalah orang yang berkehendak mencari kebenaran dan bukan hendak mencela agama. Allah memberi komentar tentang mereka dalam ayat tersebut:
Sekiranya mereka mengatakan: “Kami mendengar dan menurut, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami”, tentulah itu lebih baik bagi mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak beriman kecuali iman yang sangat tipis
Allah mengutuk anda wahai para pencela agama, sehingga tidak dapat melihat kebenaran dan berketetapan dalam kesesatan pemahaman semata untuk mencela agama, karena kekafiran (pengingkaran) terhadap ajaran agama yang telah memberi jalan yang lebih baik dari pada situs ini untuk menjelaskan kebenaran dan cara dialog yang lebih baik dibandingkan apa yang kalian lakukan di sini.
Dan untuk anda yang membajak ajaran Islam dari pemahaman yang sebenarnya menjadi pemahaman yang menistakan agama Islam, semata untuk mencari uang dan menggunakannya, Allah mengingatkan:
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api, dan Allah tidak akan berbicara kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih. (Al Baqarah :174)
Sabtu, 07 Agustus 2010
Pusat Informasi Sebagai Saluran Informasi Publik
Pusat informasi berkaitan dengan user services yang dilaksanakan departemen Teknologi Informasi (TI), yakni sebagai sebuah divisi dalam departemen TI yang mendukung end-user (www.pcmag.com). Sekarang istilah pusat informasi didefinisikan lebih luas lagi, sebagai tempat dimana informasi dapat diperoleh (www.macmillandictionary.com). Pusat informasi berbeda makna dengan layanan informasi. Perbedaan ini tampak dalam kalimat yang digunakan Bank Dunia (web.worldbank.org) : “Saat ini, Bank menjalankan layanan informasi publik di hampir 100 negara dan menawarkan akses langsung ke lebih dari 230 pusat informasi”.
Kamis, 29 Juli 2010
Layanan Informasi Akademik
Istilah layanan informasi akademik dikenal di Indonesia seperti di Universitas Islam Indonesia (www05) dan Universitas Sumatera Utara (www06). Layanan informasi akademik terdiri dari tiga kata :
Di dalam Hornby (2000) dijelaskan bahwa layanan sepenuhnya tersedia untuk digunakan oleh seseorang, untuk membantunya, atau untuk menyediakan sesuatu yang diperlukannya. Jika sesuatu yang diperlukan seseorang adalah informasi akademik dan seseorang tersebut adalah mahasiswa, maka layanan informasi akademik sepenuhnya tersedia untuk digunakan oleh mahasiswa, untuk membantunya, atau untuk menyediakan informasi akademik yang diperlukannya.
Tentang siapa yang menjadi pelayan disebutkan dalam pengertian layanan lainnya dalam Hornby (2000), yakni pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk organisasi. Dalam konteks layanan informasi akademik, organisasi yang dimaksud dalam pengertian tersebut adalah sekolah atau universitas. Sementara yang dimaksud dengan seseorang (someone) menurut Hornby (2000) adalah person yang berarti manusia (human being) sebagai individu. Di sekolah dan universitas diketahui staf tata usaha memiliki peran sebagai seseorang yang membantu mahasiswa menyediakan informasi akademik yang diperlukan mahasiswa. Dan setiap orang yang memiliki peran sama dengan staf tata usaha adalah seseorang yang dimaksud dalam pengertian layanan tersebut.
Sekalipun seseorang difahami sebagai manusia, namun pada masa kini bukan hanya manusia yang dapat membantu mahasiswa menyediakan informasi akademik yang dibutuhkannya. Gabhart dan Bhattacharya (2008) menjelaskan bahwa pekerjaan dapat dikerjakan oleh manusia ataupun perangkat lunak otomatisasi proses bisnis. Perangkat lunak yang dikenal sebagai agent tersebut mengambil alih fungsi orang dalam proses bisnis (Anwar dan Warnars, 2009). Oleh karenanya seseorang dalam pengertian layanan dapat difahami lebih luas lagi sebagai manusia dan agent.
Layanan informasi akademik di University of Southern Queensland dikelola oleh divisi layanan informasi akademik (www07). Di West Virginia University, layanan informasi akademik merupakan bagian dari unit layanan dukungan TI (www08). Penjelasan ini menggarisbawahi lokasi pertama atau organisasi yang dapat dituju untuk menemukan data atau literatur terkait layanan informasi akademik.
Berikut ini adalah informasi akademik yang disediakan bagi penggunanya oleh layanan informasi akademik di sejumlah perguruan tinggi :
Secara keseluruhan layanan informasi akademik dapat difahami sebagai perihal atau cara melayani atau membantu menyiapkan informasi akademik yang dibutuhkan oleh pengguna internal ataupun eksternal kampus, yang dilaksanakan oleh manusia ataupun agent, yang berada di bawah tanggung jawab pengelolaan unit tertentu dalam struktur organisasi sekolah atau universitas.
- Layanan yang berarti perihal atau cara melayani atau membantu menyiapkan apa-apa yang diperlukan seseorang (Depdikbud, 1995).
- Informasi yang berarti komponen hasil dari proses (Loose, 1997) memberi tahu (Machlup, 1980), atau data yang berarti dan berguna yang disampaikan kepada pengguna tertentu (O’Brien dan Marakas, 2008).
- Akademik yang berarti berhubungan dengan pendidikan, khususnya belajar di sekolah dan universitas (Hornby, 2000).
Di dalam Hornby (2000) dijelaskan bahwa layanan sepenuhnya tersedia untuk digunakan oleh seseorang, untuk membantunya, atau untuk menyediakan sesuatu yang diperlukannya. Jika sesuatu yang diperlukan seseorang adalah informasi akademik dan seseorang tersebut adalah mahasiswa, maka layanan informasi akademik sepenuhnya tersedia untuk digunakan oleh mahasiswa, untuk membantunya, atau untuk menyediakan informasi akademik yang diperlukannya.
Tentang siapa yang menjadi pelayan disebutkan dalam pengertian layanan lainnya dalam Hornby (2000), yakni pekerjaan yang dilakukan seseorang untuk organisasi. Dalam konteks layanan informasi akademik, organisasi yang dimaksud dalam pengertian tersebut adalah sekolah atau universitas. Sementara yang dimaksud dengan seseorang (someone) menurut Hornby (2000) adalah person yang berarti manusia (human being) sebagai individu. Di sekolah dan universitas diketahui staf tata usaha memiliki peran sebagai seseorang yang membantu mahasiswa menyediakan informasi akademik yang diperlukan mahasiswa. Dan setiap orang yang memiliki peran sama dengan staf tata usaha adalah seseorang yang dimaksud dalam pengertian layanan tersebut.
Sekalipun seseorang difahami sebagai manusia, namun pada masa kini bukan hanya manusia yang dapat membantu mahasiswa menyediakan informasi akademik yang dibutuhkannya. Gabhart dan Bhattacharya (2008) menjelaskan bahwa pekerjaan dapat dikerjakan oleh manusia ataupun perangkat lunak otomatisasi proses bisnis. Perangkat lunak yang dikenal sebagai agent tersebut mengambil alih fungsi orang dalam proses bisnis (Anwar dan Warnars, 2009). Oleh karenanya seseorang dalam pengertian layanan dapat difahami lebih luas lagi sebagai manusia dan agent.
Layanan informasi akademik di University of Southern Queensland dikelola oleh divisi layanan informasi akademik (www07). Di West Virginia University, layanan informasi akademik merupakan bagian dari unit layanan dukungan TI (www08). Penjelasan ini menggarisbawahi lokasi pertama atau organisasi yang dapat dituju untuk menemukan data atau literatur terkait layanan informasi akademik.
Berikut ini adalah informasi akademik yang disediakan bagi penggunanya oleh layanan informasi akademik di sejumlah perguruan tinggi :
- Informasi bagi sivitas akademik atau pengguna internal kampus, seperti jadwal kuliah, aktivitas kuliah, rencana studi, nilai akhir ujian, indeks prestasi semester berjalan, indeks prestasi kumulatif, atau monitoring prestasi akademik (www09; www03; www10). Informasi ini diperlukan oleh mahasiswa, orang tua / wali mahasiswa, dosen (www03), personil jurusan dan perguruan tinggi, fakultas, dan staf yang secara langsung terlibat dalam konsultasi akademik mahasiswa (www11).
- Informasi bagi masyarakat atau pengguna eksternal kampus, seperti informasi penerimaan mahasiswa baru, hasil ujian saringan masuk, biaya kuliah mahasiswa baru, berita seputar kampus, dan lokasi kampus (www10). Informasi ini digunakan oleh pengunjung, tetangga, dan publik (www04).
Secara keseluruhan layanan informasi akademik dapat difahami sebagai perihal atau cara melayani atau membantu menyiapkan informasi akademik yang dibutuhkan oleh pengguna internal ataupun eksternal kampus, yang dilaksanakan oleh manusia ataupun agent, yang berada di bawah tanggung jawab pengelolaan unit tertentu dalam struktur organisasi sekolah atau universitas.
Selasa, 27 Juli 2010
SOA Untuk Fleksibilitas Layanan Informasi Akademik
Informasi berkenaan dengan proses memberi tahu (Machlup, 1980) atau menyampaikan data yang berarti dan berguna kepada pengguna tertentu (O’Brien dan Marakas, 2008), yang merupakan komponen hasil dari proses (Loose, 1997). Secara bertahap informasi mulai diakui sebagai kunci sumber daya ekonomi dan merupakan salah satu asset penting perusahaan (Moody dan Walsh, 1999; Drucker 1992) yang sangat berharga (Huang, dkk, 1999). Sekarang ini orang atau bisnis yang berhasil adalah yang menguasai dan mengendalikan informasi (Fenner, 2002), di mana pengambilan keputusan dan operasi efektif sangat dipengaruhi oleh kualitas data dan informasi (Price & Shanks, 2005).
Informasi sebagai kunci sumber daya ekonomi telah mendorong organisasi pada jaman informasi sekarang ini untuk meningkatkan penguasaan dan pengendalian informasi dengan teknologi informasi (TI). Weil dan Ross (2004) menemukan fakta bahwa pengeluaran TI mencapai 50% dari total biaya belanja organisasi. Organisasi dapat memperoleh nilai bisnis dari TI seperti: fleksibilitas, peningkatan kualitas, pengurangan biaya, peningkatan produktivitas (Melvile, dkk, 2004; Dedrick, dkk, 2003; Oliner dan Sichel, 2000; Economics and Statistics Administration, 2003 ), peningkatan komunikasi dan keputusan alokasi sumber daya, serta meningkatkan 3 persen penggunaan kemampuan industry yang membawa kepada keuntungan milyaran dolar setiap tahunnya (Hubbard, 2001).
Sebagaimana bisnis lainnya, kesuksesan pendidikan masa sekarang sangat bergantung kepada teknologi dan informasi. Perguruan tinggi dan universitas bergantung kepada penggunaan TI dalam pengajaran, penelitian, dan administrasi (Educause, 2003) untuk mendapatkan nilai bisnis berupa perbaikan pengajaran dan pembelajaran yang menyebabkan peningkatan, misalnya hasil ujian siswa (European Schoolnet, 2006). Sebagai konsekuensinya, perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya untuk pembaruan infrastruktur dan penyampaian layanan TI (Educause, 2003).
Pembiayaan TI dalam dunia pendidikan telah menjadi perhatian pemerintah secara global. Menteri pendidikan Afrika telah mulai lebih proaktif dalam mengkordinasikan dan memimpin pengembangan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam sistem sekolah melalui kebijakan dan penerapan rencana TIK yang sudah terbentuk (Farell, dkk, 2007). Di Eropa, semua negaranya menerapkan TIK di sekolah dan menetapkan pembiyaan untuk penerapan tersebut (European Schoolnet, 2006). Di Asia, seperti misalnya Indonesia telah menjadikan investasi TI di sekolah menjadi sesuatu yang penting. Dana alokasi khusus bidang pendidikan tahun anggaran 2010 sekitar 9 trilyun rupiah salah satunya adalah untuk sarana TIK pendidikan dan multimedia interaktif di Sekolah Dasar / Sekolah Dasar Luar Biasa (Mendiknas, 2010). Pada level pendidikan tinggi Departemen Pendidikan Nasional melalui Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi menyediakan Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi yang memberikan hibah pertahun sebesar 2 milyar yang salah satunya untuk pembangunan sistem manajemen yang didukung oleh sistem informasi, pangkalan data yang terintegrasi berbasis TI, dan infratruktur TI (Dikti, 2008).
Hal penting selain penguasaan teknologi dan informasi serta dukungan dana yang besar dari pemerintah adalah fleksibilitas arsitektur SI terhadap perubahan. Penyesuaian arsitektur SI suatu organisasi dilakukan seiring dengan perubahan pada organisasi (Gronau, 2003). Jika tidak sesuai dengan kondisi terkini, arsitektur akan segera menjadi sesuatu yang tidak berguna dan menyebabkan terbatasinya kemampuan perusahaan dalam mencapai tujuan dan misinya, padahal ia dibuat untuk meningkatkan perusahaan dari kondisi terkini (Chorafas, 2002). Di dalam Hashimi (2003) dijelaskan bagaimana pendekatan komputasi atau arsitektural sangat mempengaruhi kecepatan dan optimasi biaya pembaruan. Pendekatan yang menyebabkan sistem atau bisnis tidak fleksibel dapat menyebabkan modifikasi maksimum terhadap komponen sistem sehingga menimbulkan pemborosan waktu dan biaya (Miller, dkk, 2002). Dan pemborosan ini tidak menguntungkan di saat perguruan tinggi dan universitas berhadapan dengan peningkatan biaya TI.
Service Oriented Architecture (SOA) adalah kerangka kerja (Proteans, 2009) atau gaya arsitektural yang memodularisasi SI ke dalam layanan (Erl, 2005). SOA menyediakan fleksibilitas bagi organisasi (Proteans, 2009) atau menjadikan bisnis menjadi lebih fleksibel (Sprott, 2005). Dengannya organisasi memiliki business agility (Erl, 2009), yakni dapat merespon perubahan bisnis secara cepat (Sprott, 2005). Menghindari biaya pengembangan di masa depan (Brown, 2008) atau mencapai efektifitas biaya TI di semua unit bisnis (Erl, 2009) dapat dicapai dengannya.
Salah satu proses bisnis yang dijalankan sekolah dan universitas adalah layanan informasi akademik sebagai layanan Sistem Informasi (SI) (psychology.uii.ac.id). Layanan tersebut pada masa sekarang ini menggunakan saluran informasi akademik (Salira) berupa media informasi (Ringland, 2008) baik yang berbasis teknologi Short Message Service (SMS) ataupun internet (psychology.uii.ac.id) dan disediakan bagi pengguna internal (psychology.uii.ac.id) dan eksternal kampus (www.harvard.edu). Gaya arsitektural SOA dapat menjadikan Salira menjadi fleksibel, sehingga dengannya sekolah dan universitas dapat merespon perubahan secara cepat dan dengan biaya yang efektif sehingga keuntungan bisnis dapat dipertahankan atau ditingkatkan.