Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Jumat, 10 Desember 2021

Fase Menulis

Setidaknya ada tiga fase yg harus dilalui dalam pembelajaran literasi, yakni 1) Motivasi yg fokus pada kuantitas tulisan, 2) Kreativitas yg fokus pada kualitas tulisan, dan 3) Produktivitas yg fokus pada kuantitas dan kualitas yg berdampak positif.

Menumbuhkan motivasi menulis harus dengan pembiasaan yg pada awalnya tdk perlu memperhatikan kualitasnya, minimal etika tulisannya diperhatikan. Pembiasaan tsb harus dilengkapi oleh komitmen membaca dan mendiskusikannya dgn diri sendiri dan orang lain. Di fase ini seseorang dapat menuliskan tulisan orang lain yg bermanfaat dan menyebarkannya, sehingga terjadi peningkatan jumlah konten positif. Sebaiknya ia mampu menuliskannya dgn bahasa sendiri sebagai hasil diskusi bacaan. 

Seseorang masuk ke fase kreatif saat menuliskan apa yg dibacanya dgn bahasa sendiri, dan diperkaya dgn fikirannya terkait bacaan tsb, sehingga tulisannya nampak otentik. Ujung fase ini adalah kemampuannya tdk hanya dalam menuliskan apa yg difikirkannya setelah membaca pustaka, tetapi juga menuliskan apa yg difikirkannya setelah memperhatikan lingkungannya. Sebaiknya ia membekali diri dgn etika dan kemampuan berfikir yg benar agar tulisannya berbobot, sehingga bukan hanya dirinya saja yg terhibur dgn tulisannya tetapi juga orang lain. 

Seseorang masuk ke fase produktif apabila minimalnya ada satu pembaca yg menikmati tulisannya. Nilai produktivitasnya meningkat saat orang lain ikut menyebarkan tulisannya, sehingga ada banyak orang yg memperoleh manfaat tulisannya. Hal tsb mewujudkan amal jariyah, di mana keberkahan akan maujud saat kemanfaatan tulisannya terus bertahan. Puncak fase ini adalah manfaat ekonomi, di mana penulis memperoleh profit yg membuat kegiatan menulisnya lebih produktif lagi.

Mengajarkan orang lain utk menulis itu memang bisa dilakukan tanpa keluar uang sepeser pun. Tetapi semakin besar usahanya, pada akhirnya pegiat literasi akan memerlukan uang utk operasional dan peningkatan kemampuannya. Itulah sebab kenapa puncak produktivitas itu kontribusi yg ditunjang oleh profit. 

Kreativitas yang Adil

Setiap kali berkedara, saya selalu menemukan pengendara yg kreatif melawan aturan lalu lintas, seperti berbelok kanan di jalan Cimanuk sekalipun ada larangan belok kanan, dan parkir di tempat larangan parkir. Kreativitas itu baik, tetapi harus adil, yakni berkreasi tanpa melabrak aturan. 

Utk membuktikan fenomena tsb, saya memperhatikan hasil uji kreativitas pada sampel. Tugas yg harus dikerjakan oleh sampel adalah membuat tulisan dgn pilihan topik yg banyak dan melaporkannya dlm berkas yg diberi nama dgn kode tertentu. Ternyata ada banyak sekali sampel yg kreatif, di mana berkasnya tdk cukup diberi nama sesuai intruksi tugas, ditambahi kata lainnya. Bahkan ada yg sama sekali tdk menggunakan kode tsb, entah krn menganggap kode tsb tdk lebih keren dibandingkan nama yg dipilihnya, atau pertimbangan lainnya. 

Saya teringat kuliah pak Kridanto Surendro saat mengikuti program Magister dulu. Beliau mengatakan kepada kami bahwa tugas yg mudah tetapi terlihat susah di kalangan orang dewasa sekalipun adalah menulis nama berkas sesuai intruksi atau aturan yg ditetapkan. Kemampuan kreavititas yg adil itu sangat penting, karena ketidakadilan membuat kreativitasnya tidak "nempat". Ketidakadilan dapat menyusahkan orang lain. Mungkin saja kondisi sederhana yg menjadi indikasi adanya motif melabrak aturan berlalu lintas yg sering saya lihat adalah kemampuan tsb.

#PersepsiCahyana

Senin, 06 Desember 2021

Pekerjaan yang Tidak Diminta

Saya termasuk orang yang awalnya tidak niat bekerja sebagai dosen. Dulu saya menerima tugas dari kampus sebagai dosen dalam kondisi setengah hati, karena masih berfikir untuk mencari pekerjaan lainnya. Saya pernah berniat mundur dari seleksi CPNS, tetapi akhirnya menjadi CPNS juga dan dosen PNS. 

Beban dosen itu lebih berat dan mahal dari pada guru sekolah atau periset lembaga riset. Namun Tuhanlah yang menentukan orang terbaik yang meringankan beban tersebut. Sedekah ilmu adalah wasilah yang seringkali digunakan oleh pendidik untuk meringankan bebannya. 

Hati merasa tenang dengan profesi ini, sebab diperoleh tidak diawali dengan menginginkannya. Saya menginsyafinya sebagai suratan takdir yang harus dijalani sampai akhir dengan penuh amanah. Tuhan pasti memudahkan hamba Nya dalam mengemban amanah pekerjaan yang tidak dimintanya.

#BiografiCahyana

Jumat, 03 Desember 2021

Biarkan Google Belajar

Saat menonton video di Youtube dan membaca sub titlenya pada malam itu, saya awalnya bertanya, siapa yg menulisnya, kok ada kalanya tdk nyambung dan bahkan melabrak nilai?. Pertanyaan itu muncul setelah menemukan banyak keanehan dlm sebuah video, misalnya ada penyisipan singkatan "SAW" setelah kata "beliau", padahal beliau yg dimaksud oleh Sujiwo Tejo adalah Cak Nun dan tdk ada singkatan tsb dlm lisannya Sujiwo.

Kemudian saya tersadar, rupanya yg menulis adalah Google. Teringat slide yg dibagikan oleh guru Filsafat saya tentang nasib chatbot Twitter-nya Microsoft yg "dimatikan" gara2 diajari hate speech oleh followers-nya. Hal serupa juga pernah terjadi dgn Google Translate, namun nasibnya jauh lebih baik dari pada chatbot tsb. Saya berfikir, mungkin akan ada sebagian orang yg baper dgn hasil kerja Google Youtube tsb, sebagaimana dalam kasus chatbot dan Google Translate. 

Sangat kebetulan kejadian ini saya temukan setelah mendapat pengajaran tentang nilai dan etika di kelas Filsafatnya pak Dimitri Mahayana, serasa teorinya dikuatkan oleh kasus nyata yg saya alami sendiri. Saya memahami bila Google saat ini sedang belajar menulis sub title video, mengkonversi suara menjadi teks. Sebagaimana saat Google belajar menerjemahkan dan hasilnya aneh, dlm penulisan ini hasilnya juga masih aneh. Misalnya dlm video perbincangan Pendeta Gilbert dgn Gus Miftah, saat kita mendengar Gus Miftah menyebut kata "menghormati", Google malah mendengar dan menuliskan kata "membunuh".  

Namun tdk perlu khawatir, seiring dgn proses belajarnya, kesalahan seperti itu lambat laun akan berkurang. Dan kita tdk perlu baper dgn kesalahan Google dan buru-buru memintanya berhenti belajar. Google hanya menunjukan hasil belajarnya, tanpa tendensi kpd siapapun. Google tdk punya motif menyerang siapapun. Kesalahannya seperti anak kecil yg keliru menyebut ikan Tongkol di hadapan Presiden, bukan krn berniat menyebutkan nama ikan yg keliru itu dgn motif tertentu.

Biarkan Google belajar dgn segala keterbatasannya yg terlihat sekarang ini. Suatu saat setelah kemampuannya menjadi lebih baik, umat manusia akan mendapatkan manfaat dari kecerdasan buatan ini. Dan sifat alami manusia yg mewarisi gen penghuni surga itu cenderung pd kemudahan atau kecepatan pemenuhan kebutuhan yg di dunia ini bisa dipenuhi oleh Kecerdasan Buatan.

Pendampingan Digital Migrant

Mengadaptasikan Digital Immigrant ke budaya digital itu akan berhadapan dengan tantangan tabiat personalnya. Tabiat tersebut adalah kebiasaan tugas manual di dunia nyata dalam jangka waktu lama yang sudah dinikmati. Solusinya adalah pembiasaan tugas otomatis yang mudah, bermanfaat, dan berkelanjutan. Kalau sifat tugasnya tidak demikian, mental block nya akan menguat. 

Pemerataan populasi Digital Immigrant yang telah Teradaptasi sangat tergantung pada ketersediaan personel pendamping yang mengenalkan beragam layanan berbasis perangkat digital yang tersedia di lingkungannya. Tugas pembangunannya bukan hanya sebatas perluasan konektivitas semata, tetapi juga penciptaan banyak layanan digital dan sumber daya manusia cakap digital. Dan tdk kalah penting adalah akomodasi etika interaksi yg menjadi perhatian umumnya Digital Immigrant. Dgn kondisi demikian, Digital Immigrant dapat membuka pintu pembiasaan tugas otomatis dlm keseharian hidupnya.

Pembangunan kompetensi literasi digital melalui seminar tidak menetap merupakan langkah baik utk membangun kesadaran kolektif dari populasi sampel. Namun pembangunannya harus dilanjutkan secara menetap di sekolah melalui pendekatan terstruktur yang berdampak pada kapasitas digital parenting di rumah, sehingga orang tua di masa depan dapat berperan penuh dalam menciptakan daya saing anaknya dgn TIK. Sementara layanan digital lengkapnya harus tersedia di telecenter lokal utk mewujudkan kesetaraan hak akses informasi.

#LiterasiDigital
#GNLD

Minggu, 14 November 2021

Bahasa


Interaksi mesin dgn manusia menggunakan bahasa antarmuka atau tingkat tinggi yg beragam, tergantung lingkungan dan minat manusia. Namun interaksi mesin dgn mesin menggunakan satu bahasa saja, yakni bahasa mesin yg merupakan bahasa tingkat rendah.

Di sisi lain, saat manusia masih berada di alam ruh, ia berbicara utk mengucap janji kpd Tuhannya dgn suatu bahasa. Setelah lahir ke alam jasad, ia berbicara dgn wujud jasad lainnya menggunakan beragam bahasa yg dipilih sesuai lingkungan dan minatnya. Bahasa ini berbeda dgn bahasa yg digunakan utk berkomunikasi dgn ruhnya sendiri.

Selama hidup di dunia, komunikasi manusia dgn ruhnya dijembatani oleh rasa dalam hati atau simbol yg muncul dalam benak. Manusia tdk faham apa yg dikatakan oleh ruhnya kecuali dgn apa yg dirasakannya saat melakukan perbuatan yg disukai atau tdk disukai oleh ruhnya. 

Rasa ini adalah feed back atau sensor untuk memvalidasi pemrosesan input dgn kendali prosedur yg bernama perjanjian. Kalau pemrosesan / amal tdk sejalan dgn janjinya kpd Tuhan, sensor ketidaksukaan ruh akan menyala. Sensor itu berupa rasa tdk nyaman atau penyesalan. Demikian pula sebaliknya, apabila amalnya sejalan dgn perjanjian, sensor berupa rasa nyaman atau bahagia akan menyala. 

Setelah memasuki alam kubur, manusia berpotensi utk kembali menggunakan bahasa yg satu saat berkomunikasi dengan Malaikat. Hal demikian disebabkan karena Malaikat dapat berkomunikasi dengan Tuhan sebagaimana halnya ruh. Walau demikian, malaikat mampu berkomunikasi dgn bahasa manusia yg beragam.

Manusia tidak ditakdirkan utk mengurusi alam ruh dan bahasanya, Tuhan telah mengurusinya. Sebagaimana pengguna akhir yang tidak perlu mengurusi bahasa mesin, sebab intruksinya telah ditranslasikan oleh intepreter yg diciptakan oleh pemrogram. 

Ruh adalah urusan Penciptanya. Manusia tidak perlu memperbaiki intepreter bahasa manusia yg beragam menjadi bahasa yg satu. Dengan intepreter yg dibuat oleh Tuhan, Malaikat mampu memahami perkataan manusia yg beragam bahasanya dan mencatatnya dalam satu bahasa yg digunakannya, Tuhan, dan ruh manusia. Malaikat melaporkan kepada Tuhan dgn bahasa yg satu itu, apa-apa yg dikatakan oleh manusia dgn mulutnya atau di dalam hatinya dgn bahasa yg beragam.

Seperti apa bahasa yg satu itu hanya ruh kita yg tahu. Manusia tdk bisa membuktikannya sekarang sebab bahasa tsb bukan sesuatu yg dapat diindera dan diuji. Manusia hanya sanggup menyelam ke level sensor yg menjadi antarmukanya dgn ruh. Manusia tdk ditakdirkan utk mengetahui ruhnya yg menyalakan sensor dan bahasanya, sampai jasadnya hancur. Manusia akan mengetahui bahasa itu saat kelak berinteraksi dgn Malaikat, dan menjadi pengalaman yg teruji saat bahasa itu digunakan kembali saat berinteraksi mahluk lainnya dan dgn Tuhan di akhirat sana. 

Adam dan Hawa mampu berkomunikasi dgn Tuhan, Malaikat, dan Iblis secara langsung. Tdk ada bukti pasti apakah bahasa yg digunakannya adalah bahasa ruh atau bahasa lainnya. Tuhan, Malaikat, dan Iblis mampu berkomunikasi dlm bahasa yg difahami manusia. Namun sebaliknya, manusia tdk mampu berkomunikasi melainkan dgn bahasanya sendiri atau melalui bahasa perantara yg disebut rasa. 

Sangat mungkin bagi manusia utk tdk memahami bahasa yg satu itu, sebagaimana halnya manusia tdk memahami tulisan peninggalan peradaban di masa lalu. Tetapi ruhnya yg berbeda lapisan dgn jasad manusia, tetap berkata dengan bahasa yg satu, tdk melupakannya, sebab bahasa itu melekat pada ruh saat ia tercipta. Sebagaimana perangkat keras yg selalu memahami bahasa mesin, sekalipun perangkat lunaknya telah mati. Perangkat keras dapat dihidupkan dgn perangkat lunak berbeda. Demikian sepertinya manusia saat ia dibangkitkan kembali dalam beragam wujud yg sesuai amalnya. Allahua'lam. 

#PersepsiCahyana

Jumat, 12 November 2021

Benarkah Mematung?

Mengatakan seseorang tdk bergerak seperti patung hanya karena ia tdk melihatnya bergerak merupakan fallacy, sebab boleh jadi selain dirinya melihat gerakan tsb. Terkadang pengalaman inderawi sendiri saja tdk cukup sebagai dasar kebenaran, perlu konsensus dgn selain dirinya yg mungkin saja memiliki pengalaman inderawi berbeda, sehingga terungkap sejauh mana fakta membenarkan klaim mematungnya seseorang atau tdk, dan ketepatan penggunaan istilah mematung tsb berdasarkan fakta dari berbagai sisi. Tergesa2 menyimpulkan, apalagi mendasarkannya pada dugaan adalah bentuk fallacy lainnya.

Klaim yg mengatakan seseorang mematung itu dgn mudah runtuh hanya dgn munculnya pengalaman inderawi atau klaim besebrangan yg bersandar pada fakta yg kuat. Apabila klaim yg telah runtuh masih dianggap sebagai kebenaran, hal demikian merupakan fallacy kedua dan kebenaran yg diyakininya termasuk kategori pseudo. Musibah intelektual itu terjadi saat seseorang lebih cenderung pada fallacy, sehingga berpindah dari satu fallacy ke fallacy yg lain.

#PersepsiCahyana

Senin, 08 November 2021

Ilmu Mantik

Ilmu Mantik pertama kali saya pelajari saat kuliah S1. Bukunya yg saya baca saat itu tipis, dibeli dari toko Kamus. Dulu ada yg meminjam buku tsb dan belum dikembalikan sampai sekarang. Ilmu Mantik cukup membantu saya dalam memahami prinsip korespondensi yg diterapkan dalam kitab Tijan yg diajarkan oleh Ust Bubun Bunyamin, serta menolong saya utk menghadapi bisikan dan fikiran seputar akidah yg berhamburan dari benak saat itu. 

Kuliah Filsafat Ilmu Pengetahuan di ITB mengingatkan saya kembali pada buku ini. Kaidah berfikir masih menjadi santapan yg lezat sampai sekarang. Kaidah berfikir membantu saya dalam mempertahankan argumen atau melakukan falsifikasi dalam kesempatan dialog dgn banyak orang. 

Di saat sebagian orang meninggalkan perdebatan, saya termasuk orang yg menjadikan perdebatan sebagai nasihat, sebagaimana pendapat Imam Syafi'i. Perdebatan bahi saya selesai setelah falsifikasi menunjukan klaim paling kuat yg dapat memperbaharui pengetahuan yg ada.