Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Kamis, 24 Februari 2022
Menyamakan? Fahami dengan Baik
Memahami Pernyataan Menag
Kalau dicermati videonya, Menag sebenarnya tdk menyamakan suara adzan dgn suara anjing, tapi memberi contoh gangguan suara. Contoh pertama, gangguan suara serentak yg tdk teratur dari rumah ibadah yg dirasakan oleh kalangan lain yg tdk satu keyakinan. Contoh kedua, gangguan suara anjing dari rumah2 tetangga yg mengganggu tetangga lainnya yg tdk memelihara anjing.
Pernyataan Menag tsb bagi saya terlalu jauh utk disebut menyamakan atau menganalogikan. Di antara dua contoh gangguan suara dipisahkan dgn kalimat, "yg paling sederhana lagi". Kata "lagi" menunjukan bahwa gangguan yg ditimbulkan adzan itu contoh paling sederhana, dan gangguan yg ditimbulkan oleh suara anjing itu contoh paling sederhana lainnya. Mari kita kontruksi kalimatnya menjadi demikian:
"Contoh paling sederhana gangguan suara adalah suara dari banyak tempat ibadah yg volumenya keras dan terasa mengganggu bagi kalangan yg tdk seiman. Contoh paling sederhana lagi adalah suara keras hewan peliharaan dari banyak rumah tetangga yg terasa mengganggu tetangga lain yg tdk memeliharanya".
Kontruksi demikian muncul dalam fikiran saya sebagai pemahaman thd apa yg dikatakan oleh Menag. Kontruksinya tentu saja akan berbeda saat pernyataan Menag saya fahami sebagai menyamakan atau menganalogikan suara adzan dgn suara anjing. Saya akan memahaminya demikian kalau ada kata "seperti" atau "seupama". Kalimat berikut ini bisa difahami sebagai menyamakan: "Suara adzan itu seperti suara anjing". Kalimat berikut ini bisa difahami sebagai menganalogika: "Suara adzan itu seupama suara anjing".
Memang tdk mudah utk memahami hal terkait keyakinan ini. Sebagian kalangan mungkin sulit utk memahami, bagaimana bisa sebagian orang merasa tdk nyaman dgn suara lonceng gereja, tetapi tdk demikian dgn lonceng lainnya. Semakin banyak sumber lonceng gerejanya, semakin kuat gangguannya. Begitu pula sebagian kalangan merasa tdk nyaman dgn suara adzan dan semakin tdk nyaman saat sumber suaranya banyak, suaranya keras dan tdk dilantunkan dgn indah.
Saya melihat pengaturan ini semacam upaya utk menurunkan level ketidaknyamanan yg dirasakan sebagian kalangan tsb, selain juga agar terwujud ketertiban suara yg merambat melalui udara. Sulit bagi kita utk merubah hati kalangan tsb, sebab yg bisa merubahnya hanyalah Tuhan. Pengaturan diharapkan bisa mencegah timbulnya ekses negatif akibat perilaku buruk kalangan tsb yg muncul saat ketidaknyamanannya memuncak. Beberapa kasus pernah terjadi krn ekses tsb.
Agama mengajarkan kita utk tdk berlebihan, termasuk dlm menggunakan volume speaker. Sikap berlebihan dalam soal apapun dapat berdampak buruk bagi diri dan orang lain, dan menimbulkan kerusakan. Instruksi Dirjen tahun 1978 terkait pengaturan volume spekaer masjid yg didorong sosialisasinya dgn surat edaran menteri merupakan ikhtiar mencegah sikap berlebih dan kerusakan yg ditimbulkannya.
#PersepsiCahyana
Selasa, 22 Februari 2022
Minyak Goreng
Kamis, 17 Februari 2022
Budaya dan Dakwah Agama
Gagasan Islam sebagai budaya atau membudayakan Islam (sebagai lawan mengislamkan budaya) tertuang dalam buku Ma'alim fii Thariq yg ditulis oleh Sayyid Qutb (tokoh Ikhwanul Muslimin) yg menjadi referensi kalangan jihadis sampai sekarang. Gagasan demikian apabila dibarengi penolakan terhadap budaya lain mencerminkan kebiasaan penguasa di masa lalu yg gemar menghancurkan produk budaya saingannya atau di luar kelompoknya saat penaklukan, seperti bangunan, tulisan, dls; termasuk membunuh pembuat atau pewarisnya agar budaya tsb musnah.
Budaya populer itu makin dilarang makin menantang, terutama apabila masih ada pelaku budaya atau kesadaran umum akan arti penting menjaga budaya. Budaya itu timbul tenggelam dgn sendirinya, seiring dgn perkembangan pengetahuan atau munculnya budaya baru yg lebih menarik. Terkadang budaya lama begitu berat utk dipertahankan krn kebiasaan manusia yg mulai berubah dan ketidaksiapan budaya tsb utk beradaptasi.
Teknologi adalah salah satu komponen budaya. Sebagian kalangan memahami wayang atau gamelan sebagai teknologi atau outputnya. Lepas dari itu, keduanya merupakan media pembelajaran audio visual, tdk jauh berbeda dgn perangkat digital yg menayangkan film animasi edukatif. Kalangan pendidikan memahami bila pembelajaran dgn audio visual jauh lebih efektif dari pada audio semata. Efektivitasnya bertambah saat media tsb sesuai dgn karakteristik audien. Sunan Bonang ataupun Sunan Kalijaga yg menggunakan gamelan dan wayang sebagai media pembelajaran merupakan contoh pendidik yg faham teknologi pendidikan dan menerapkannya sesuai lingkungan.
#PersepsiCahyana
Rabu, 16 Februari 2022
Menghormati Bendera
Senin, 14 Februari 2022
Alasan Jalan Tidak Gratis
Minggu, 13 Februari 2022
Prasangka di Tengah Bencana Covid-19
Medsos mulai ramai lagi oleh kiriman kalangan yg menyangkutpautkan fenomena kenaikan angka kasus Covid-19 dgn prasangka yg bersifat imajinatif hingga cocokologi. Utk memahami sebab munculnya kebijakan pembatasan pergerakan, seorang pencari fakta akan membaca statistik yg menjadi dasarnya, misalnya tingkat ketersediaan ruang rawat pasien Covid-19.
Kalau hanya melihat dari sisi regulator yg telah dilabeli buruk oleh sebagian kalangan, orang awam yg terpengaruh mungkin akan setuju dgn promosi kalangan tsb yg menyatakan kebijakan pembatasan pergerakan itu aneh, terlebih bila muncul menjelang hari atau bulan tertentu. Tetapi kalau melihatnya di sisi data, orang yg niat mencari fakta akan sampai pada pertanyaan misalnya, apakah ratusan orang yg mulai mengisi bangsal perawatan Covid itu menyempatkan diri utk buang2 waktu dirawat di ruangan tsb, atau mereka benar2 terinfeksi? Tentu saja kita yg percaya kapasitas medis secara umum (dgn menghindari generalisasi keliru atas kasus medis yg menyimpang) akan lebih percaya dugaan yg kedua. Mereka tdk mungkin ingin mengganggu orang banyak, dan infeksi yg mereka derita pun tdk diinginkannya.
Pertanyaan berikutnya yg penting bagi ilmuan adalah, knp kenaikannya terjadi menuju tengah tahun, lepas ke depannya ada hari sakral keagamaan, hari nasional, atau hari apapun?. Pertanyaan ini menjadi aneh saat kalangan tertentu menyangkutpautkannya dgn tuduhan anti hari atau bulan tertentu, seperti masyarakat jaman dulu yg menyangkutpautkan kejadian gerhana dgn sesuatu yg tdk masuk akal. Kita telah masuk di era modern, di mana segala alasan bisa diperoleh berbasis data dgn cepat menggunakan perangkat digital. Sayangnya masih ada yg masih asik melanjutkan kebiasaan masyarakat pre modern yg menjadikan imajinasi atau cocokologi sebagai pemimpin akal.
#PersepsiCahyana