Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Kamis, 24 Februari 2022

Menyamakan? Fahami dengan Baik

Pak Menag berkata, "Karena kita tahu, misalnya ya di daerah yang mayoritas muslim. Hampir setiap 100-200 meter itu ada musala-masjid. Bayangkan kalau kemudian dalam waktu bersamaan mereka menyalakan Toa bersamaan di atas. Itu bukan lagi syiar, tapi gangguan buat sekitarnya"

Sampai di sini saya memahami kalimat di atas memberi permisalan atau contoh seraya mengajak audien utk membayangkan gangguan suara dari rumah ibadah muslim yg dirasakan non muslim.

Selanjutnya beliau berkata, "Kita bayangkan lagi, saya muslim, saya hidup di lingkungan non muslim. Kemudian rumah ibadah saudara-saudara kita non muslim menghidupkan Toa sehari lima kali dengan kenceng-kenceng, itu rasanya bagaimana,"

Kalimat tsb mengajak audien utk membayangkan dan menjawab sendiri bagaimana perasaan muslim terhadap gangguan suara dari rumah ibadah non muslim. 

Beliau kemudian memberi contoh terakhir, "Yang paling sederhana lagi, kalau kita hidup dalam satu kompleks, misalnya. Kiri, kanan, depan belakang pelihara anjing semua. Misalnya menggonggong dalam waktu bersamaan, kita ini terganggu nggak?" 

Kalimat ini mengajak audien utk menjawab sendiri bagaimana perasaannya sebagai muslim ataupun non muslim terhadap gangguan hewan peliharaan tsb. 

Bukankah tdk ada kalimat yg menyamakan? Bahkan kita melihat kecerdasan Menag dalam memberikan contoh gangguan, komprehensif, mengambil contoh gangguan dari perspektif non muslim, muslim, dan keduanya. 

Oleh krn nya, tdk usah terprovokasi oleh siapa saja yg gagal faham, atau menggoreng potongan video demi ketidaksukaan kpd personal Menag. Ingat, bermusuhan itu tdk boleh lebih dari 3 hari. Salam ...

#PersepsiCahyana

Memahami Pernyataan Menag


Kalau dicermati videonya, Menag sebenarnya tdk menyamakan suara adzan dgn suara anjing, tapi memberi contoh gangguan suara. Contoh pertama, gangguan suara serentak yg tdk teratur dari rumah ibadah yg dirasakan oleh kalangan lain yg tdk satu keyakinan. Contoh kedua, gangguan suara anjing dari rumah2 tetangga yg mengganggu tetangga lainnya yg tdk memelihara anjing.

Pernyataan Menag tsb bagi saya terlalu jauh utk disebut menyamakan atau menganalogikan. Di antara dua contoh gangguan suara dipisahkan dgn kalimat, "yg paling sederhana lagi". Kata "lagi" menunjukan bahwa gangguan yg ditimbulkan adzan itu contoh paling sederhana, dan gangguan yg ditimbulkan oleh suara anjing itu contoh paling sederhana lainnya. Mari kita kontruksi kalimatnya menjadi demikian:

"Contoh paling sederhana gangguan suara adalah suara dari banyak tempat ibadah yg volumenya keras dan terasa mengganggu bagi kalangan yg tdk seiman. Contoh paling sederhana lagi adalah suara keras hewan peliharaan dari banyak rumah tetangga yg terasa mengganggu tetangga lain yg tdk memeliharanya".

Kontruksi demikian muncul dalam fikiran saya sebagai pemahaman thd apa yg dikatakan oleh Menag. Kontruksinya tentu saja akan berbeda saat pernyataan Menag saya fahami sebagai menyamakan atau menganalogikan suara adzan dgn suara anjing. Saya akan memahaminya demikian kalau ada kata "seperti" atau "seupama". Kalimat berikut ini bisa difahami sebagai menyamakan: "Suara adzan itu seperti suara anjing". Kalimat berikut ini bisa difahami sebagai menganalogika: "Suara adzan itu seupama suara anjing".

Memang tdk mudah utk memahami hal terkait keyakinan ini. Sebagian kalangan mungkin sulit utk memahami, bagaimana bisa sebagian orang merasa tdk nyaman dgn suara lonceng gereja, tetapi tdk demikian dgn lonceng lainnya. Semakin banyak sumber lonceng gerejanya, semakin kuat gangguannya. Begitu pula sebagian kalangan merasa tdk nyaman dgn suara adzan dan semakin tdk nyaman saat sumber suaranya banyak, suaranya keras dan tdk dilantunkan dgn indah.

Saya melihat pengaturan ini semacam upaya utk menurunkan level ketidaknyamanan yg dirasakan sebagian kalangan tsb, selain juga agar terwujud ketertiban suara yg merambat melalui udara. Sulit bagi kita utk merubah hati kalangan tsb, sebab yg bisa merubahnya hanyalah Tuhan. Pengaturan diharapkan bisa mencegah timbulnya ekses negatif akibat perilaku buruk kalangan tsb yg muncul saat ketidaknyamanannya memuncak. Beberapa kasus pernah terjadi krn ekses tsb.

Agama mengajarkan kita utk tdk berlebihan, termasuk dlm menggunakan volume speaker. Sikap berlebihan dalam soal apapun dapat berdampak buruk bagi diri dan orang lain, dan menimbulkan kerusakan. Instruksi Dirjen tahun 1978 terkait pengaturan volume spekaer masjid yg didorong sosialisasinya dgn surat edaran menteri merupakan ikhtiar mencegah sikap berlebih dan kerusakan yg ditimbulkannya.

#PersepsiCahyana

Selasa, 22 Februari 2022

Minyak Goreng


Akhirnya saya menemukan penjual yg menjejerkan banyak minyak goreng di warungnya, setelah saya sulit menemukannya di minimarket dan supermarket. Harganya mahal, tapi bagi saya itu jauh lebih baik dari pada tdk ada, khususnya bagi UMKM yg mengandalkan minyak goreng dalam usahanya. 

Beberapa hari ke belakang saya juga menemukan komentar di thread teman yg menginformasikan minyak goreng tersedia di warung tertentu. Saya berfikir, andai warung-warung tsb menjualnya di lapak e-marketplace lokal, kita tdk akan kesulitan utk menemukannya saat membutuhkan, sehingga tdk perlu mengantri panjang utk mendapatkannya.

Namun ada yg mengagetkan dlm kesempatan membeli minyak goreng tsb. Istri saya menceritakan, ada seorang ibu yg turun dari mobil dan menyatakan niatnya utk membeli 100 buah minyak goreng. Seandainya setiap keluarga dijatah 2 buah saja, berarti ibu tersebut dapat membantu 50 keluarga. Di sisi lain, ada 50 pembeli yg berpotensi tdk menemukan minyak goreng di warung tsb, kecuali stok di warung tsb sangat banyak. Saya tdk tahu motifnya membeli sebanyak itu, entah utk dijual lagi atau lainnya. Tetapi saya berfikir positif saja, mungkin ibu tsb mau membagikannya kpd tetangga atau orang yg membutuhkan ... sekalipun dgn menjualnya kembali ibu tsb akan memperoleh untung cepat krn kelangkaan. 

Kembali ke warung tsb. Saya tahu ada penyalur yg mendistribusikan minyak goreng ke penjual tsb. Tentu saja penyaluran demikian lebih menguntungkan bagi distributor krn mereka bisa menjualnya sesuai dgn biaya produksinya yg tinggi, dari pada menjualnya sesuai HET. Temuan terakhir yg diberitakan terkait tumpukan minyak goreng di distributor mengungkap motifnya, yakni utk menghindari kerugian krn penjualan sesuai HET. 

Kelangkaan ini mengingatkan saya dgn masalah kelangkaan BBM di Papua yg disebabkan krn terhambatnya distribusi oleh cuaca. Banyak SPBU yg kehabisan stok krn BBM nya dibeli banyak oleh pengecer. Di tingkat pengecer, masyarakat membelinya dgn harga yg jauh lebih mahal dari harga normal SPBU. Saya membayangkan, seandainya harga minyak goreng di distributor sudah mahal, maka harga minyak goreng yg dijual oleh pengecer bisa lebih mahal lagi.

Dalam perjalanan pulang saya membicarakan persoalan tsb dgn istri. Ia berpendapat dgn pendapat praktis ibu rumah tangga yg merasakan benar kebutuhan minyak goreng. Menurutnya, seharusnya pemerintah membiarkan minyak goreng dgn harga realistis menurut perhitungan distributor. Sementara khusus utk keluarga miskin (saya tambahkan UMKM), diberikan bantuan utk mendapatkannya dgn harga murah di tempat tertentu. Ia tdk keberatan dgn harga mahal yg dipengaruhi oleh lonjakan CPO (bahan baku), dari pada susah menemukannya.

Kenaikan harga minyak goreng saat ini dipengaruhi oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) dunia. Faktor lain yg menyebabkan kenaikan harga nabati dunia adalah gangguan cuaca. Kewajiban pencampuran minyak sawit sebanyak 30% pada solar utk menekan laju impor BBM juga turut berpengaruh. Demikian pula dgn krisis energi di Uni Eropa, Tiongkok, dan India yang menyebabkan negara-negara tersebut melakukan peralihan ke minyak nabati. Faktor lainnya, yaitu gangguan logistik selama pandemi Covid-19, seperti berkurangnya jumlah kontainer dan kapal.

Salah satu artikel dari situs berita yg saya baca mengungkapkan, bahwa meskipun Indonesia adalah produsen crude palm oil (CPO) terbesar, namun kondisi di lapangan menunjukkan sebagian besar produsen minyak goreng tidak terintegrasi dengan produsen CPO. Dengan entitas bisnis yang berbeda, tentunya para produsen minyak goreng dalam negeri harus membeli CPO sesuai dengan harga pasar lelang dalam negeri, yaitu harga lelang KPBN Dumai yang juga terkorelasi dengan harga pasar internasional. Akibatnya, apabila terjadi kenaikan harga CPO internasional, maka harga CPO di dalam negeri juga turut menyesuaikan harga internasional.

PILIH HARGA MAHAL TAPI ADA ATAU HARGA MAHAL TAPI LANGKA?

Saat biaya produksinya naik yg membuat harga produknya menjadi mahal, muncul tuntutan utk menurunkan harganya. Saat harganya diturunkan, distributor tdk mau rugi sehingga menahan distribusinya. Akibatnya, bukannya mendapatkan harga yg rendah, tetapi produknya jadi langka dan harganya masih tetap mahal. Pelajaran pentingnya adalah bahwa bersyukur dan bersabar itu baik. Ada barang walau harganya mahal krn biaya produksi yg tinggi jauh lebih baik dari pada barangnya langka dan harganya tetap mahal.

#PersepsiCahyana

Kamis, 17 Februari 2022

Budaya dan Dakwah Agama


Gagasan Islam sebagai budaya atau membudayakan Islam (sebagai lawan mengislamkan budaya) tertuang dalam buku Ma'alim fii Thariq yg ditulis oleh Sayyid Qutb (tokoh Ikhwanul Muslimin) yg menjadi referensi kalangan jihadis sampai sekarang. Gagasan demikian apabila dibarengi penolakan terhadap budaya lain mencerminkan kebiasaan penguasa di masa lalu yg gemar menghancurkan produk budaya saingannya atau di luar kelompoknya saat penaklukan, seperti bangunan, tulisan, dls; termasuk membunuh pembuat atau pewarisnya agar budaya tsb musnah.

Budaya populer itu makin dilarang makin menantang, terutama apabila masih ada pelaku budaya atau kesadaran umum akan arti penting menjaga budaya. Budaya itu timbul tenggelam dgn sendirinya, seiring dgn perkembangan pengetahuan atau munculnya budaya baru yg lebih menarik. Terkadang budaya lama begitu berat utk dipertahankan krn kebiasaan manusia yg mulai berubah dan ketidaksiapan budaya tsb utk beradaptasi.

Teknologi adalah salah satu komponen budaya. Sebagian kalangan memahami wayang atau gamelan sebagai teknologi atau outputnya. Lepas dari itu, keduanya merupakan media pembelajaran audio visual, tdk jauh berbeda dgn perangkat digital yg menayangkan film animasi edukatif. Kalangan pendidikan memahami bila pembelajaran dgn audio visual jauh lebih efektif dari pada audio semata. Efektivitasnya bertambah saat media tsb sesuai dgn karakteristik audien. Sunan Bonang ataupun Sunan Kalijaga yg menggunakan gamelan dan wayang sebagai media pembelajaran merupakan contoh pendidik yg faham teknologi pendidikan dan menerapkannya sesuai lingkungan.

#PersepsiCahyana

Rabu, 16 Februari 2022

Menghormati Bendera

Saat aktif di Pramuka Penggalang, saya menerima pengajaran dari kakak senior yg mengharuskan saya utk memuliakan bendera Merah Putih. Saat hujan harus diturunkan, dan saat jatuh ke tanah harus segera diambil. Dan itu benar-benar dipraktikan bersama adik kelas saat kegiatan Pramuka mingguan. Dalam pemahaman saya sekarang, memuliakan bendera seperti itu semata krn menghormati para pejuang. Berkibarnya Merah Putih di masa lalu itu sangat berat, bahkan harus berkorban nyawa. 

Saat kelas 3 SMA saya menghindari upacara bendera krn mendapat pemahaman lain, sekalipun tdk sampai memandang Sang Saka sebagai thought. Satu tahun itu saya piket terus di ruang PMR. Kemudian setelah kuliah saya berada di lingkungan kalangan tradisi yg menetralisir pemahaman keagamaan yg keliru, sehingga akhirnya cara pandang saya kpd bendera kembali seperti di masa aktif Pramuka lagi.

#BiografiCahyana

Senin, 14 Februari 2022

Alasan Jalan Tidak Gratis

Di musim penghujan ini ada banyak sekali lubang di jalanan. Lubang tersebut membuat kaki-kaki kendaraan bermotor mengalami siksaan, sehingga penggunanya mungkin pada akhirnya harus mengeluarkan biaya service. Tetapi kerugian demikian tdk seberapa dibandingkan kehilangan nyawa. Ada kalanya lubang di jalanan menyebabkan pengendara mengalami kecelakaan. 

Semakin panjang jalan, semakin mahal biaya pemeliharaannya. Semakin terbatas anggarannya atau panjang proses birokrasinya, semakin lambat proses pemeliharaannya. Itulah mungkin sebab kenapa sebagian jalan menjadi jalan tol yg dikelola oleh swasta, di mana biaya pemeliharaannya dibebankan hanya kepada penggunanya saja. 

Kalau semua jalan gratis, hal tsb akan sangat membebani anggaran pendapatan dan belanja daerah, membebani seluruh rakyat baik yg menggunakan atau tdk menggunakan jalan tsb. Rakyat di pelosok ikut menanggung pemeliharaan jalan di tempat lain yg kondisinya jauh lebih baik dari jalan di tempatnya. 

#PersepsiCahyana

Minggu, 13 Februari 2022

Prasangka di Tengah Bencana Covid-19


Medsos mulai ramai lagi oleh kiriman kalangan yg menyangkutpautkan fenomena kenaikan angka kasus Covid-19 dgn prasangka yg bersifat imajinatif hingga cocokologi. Utk memahami sebab munculnya kebijakan pembatasan pergerakan, seorang pencari fakta akan membaca statistik yg menjadi dasarnya, misalnya tingkat ketersediaan ruang rawat pasien Covid-19.

Kalau hanya melihat dari sisi regulator yg telah dilabeli buruk oleh sebagian kalangan, orang awam yg terpengaruh mungkin akan setuju dgn promosi kalangan tsb yg menyatakan kebijakan pembatasan pergerakan itu aneh, terlebih bila muncul menjelang hari atau bulan tertentu. Tetapi kalau melihatnya di sisi data, orang yg niat mencari fakta akan sampai pada pertanyaan misalnya, apakah ratusan orang yg mulai mengisi bangsal perawatan Covid itu menyempatkan diri utk buang2 waktu dirawat di ruangan tsb, atau mereka benar2 terinfeksi? Tentu saja kita yg percaya kapasitas medis secara umum (dgn menghindari generalisasi keliru atas kasus medis yg menyimpang) akan lebih percaya dugaan yg kedua. Mereka tdk mungkin ingin mengganggu orang banyak, dan infeksi yg mereka derita pun tdk diinginkannya.

Pertanyaan berikutnya yg penting bagi ilmuan adalah, knp kenaikannya terjadi menuju tengah tahun, lepas ke depannya ada hari sakral keagamaan, hari nasional, atau hari apapun?. Pertanyaan ini menjadi aneh saat kalangan tertentu menyangkutpautkannya dgn tuduhan anti hari atau bulan tertentu, seperti masyarakat jaman dulu yg menyangkutpautkan kejadian gerhana dgn sesuatu yg tdk masuk akal. Kita telah masuk di era modern, di mana segala alasan bisa diperoleh berbasis data dgn cepat menggunakan perangkat digital. Sayangnya masih ada yg masih asik melanjutkan kebiasaan masyarakat pre modern yg menjadikan imajinasi atau cocokologi sebagai pemimpin akal.

#PersepsiCahyana

Geliat Wisata Garut

Garut menyimpan banyak pesona alam yg menarik utk dilihat dan dinikmati. Sepertinya sdh ada banyak hotspot objek wisata baru yg dikembangkan oleh sejumlah desa. Hanya tinggal bagaimana cara kita menemukannya, apakah dgn cara mulut ke mulut, atau dgn melihat peta wisata digital. 

Di masa kolonial lalu, perusahaan tour & travel yg berdomisili di Batavia menawarkan paket perjalanan ke beberapa titik objek wisata terkenal di Garut. Sama seperti pengalaman sekarang ini kalau mau wisata ke Bali, kita diberikan banyak alternatif perjalanan wisata beberapa hari di sana. 

Semoga pada waktunya, Garut kembali menjadi destinasi wisata terkenal seperti dulu lagi, terutama setelah ada pintu akses cepat, seperti gerbang tol dan stasiun kereta api. Dan yg terpenting, semoga Garut tdk kehilangan kesejukannya dgn bertahannya banyak hutan lindung dari perambahan ilegal.

#PersepsiCahyana