Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Senin, 27 Juni 2016

Sosialisasi Pangkalan Data Tenaga Pendidik


Senin, 27 Juni 2016 diselenggarakan sosialisasi Pangkalan Data untuk Tenaga Pendidik di lingkungan program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sosialisasi ini dimaksudkan agar Tenaga Pendidik memahami hubungan data yang bersumber dari kinerja Tridharmanya dengan kenaikan jabatan fungsional dan akreditasi. Dalam kesempatan membuka acara tersebut, ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagaimana ketua LPM (Lembaga Penjamin Mutu) menjelaskan pentingnya pengumpulan data sehubungan dengan akan diakreditasi ulangnya seluruh program studi di lingkungan Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Beliau juga mengapresiasi langkah program studi Teknik Informatika dalam menyediakan simpanan data internet untuk mengumpulkan data yang diperlukan untuk kebutuhan akreditasi tersebut.

Dalam pemaparannya, saya mengingatkan kembali kepercayaan Google kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk memanfaatkan Google Application for Education di mana sivitas akademik dapat memanfaatkan simpanan data internet tanpa batas. Kesempatan ini harus dimanfaatkan untuk kepentingan akademik. Saya meminta kepada dosen untuk tidak lagi meminta kiriman tugas tercetak, tetapi dikirim dalam format dijital melalui aplikasi Google seperti Google Mail atau Google Drive. Saya menunjukan di dalam Google Drive program studi, direktori Mahasiswa yang nanti akan digunakan oleh mahasiswa untuk menyimpan luaran akademiknya dari awal hingga akhir kuliah. Hal yang sama juga untuk Dosen, program studi menyediakan direktori yang harus diisi dengan berkas dijital yang merupakan dokumentasi pelaksanaan Tridharma oleh Dosen. 

Saya menyampaikan informasi kepada Dosen bahwa sosialisasi ini merupakan langkah awal sebelum pelaporan program studi kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang akan disampaikan akhir bulan Juli mendatang, di mana isi laporannya berdasarkan isi direktori tersebut. Terkait reward and punishment yang disampaikan oleh ketua program studi Teknik Industri yang turut hadir dalam pertemuan tersebut, saya menyerahkan pelaksanaannya kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Program studi hanya akan berusaha mempublikasikan kinerja dosen melalui situs web program studi sebagai wujud keterbukaan informasi yang disediakan untuk stakeholders. Dengan publikasi tersebut, masyarakat dapat mengetahui kegiatan Dosen tetap program studi. 

Ketua program studi Teknik Sipil yang turut hadir dalam pertemuan tersebut menyampaikan usulannya agar Pangkalan Data tersebut juga diterapkan di Program Studi lainnya. Saya menyatakan siap mendampingi UPT Sistem Informasi dalam penerapannya di program studi lainnya. Pangkalan data ini memudahkan LPM dan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat untuk mengetahui kinerja Dosen dari jarak jauh, juga memudahkan Dosen untuk mengurus jabatan fungsionalnya karena seluruh berkas lampiran yang diperlukan tersimpan dalam Direktori tersebut.  


Senin, 13 Juni 2016

Aku dan Membaca


Dgn membaca saya memahami, dgn membaca saya dipengaruhi dan berubah, dgn membaca dunia ini nampak menjadi luas dan kita terlihat kecil.

Di penghujung pertemuannya, guru saya Ir. Kridanto Surendro, M.Sc, Ph.D mengatakan bahwa belajar membaca sangatlah penting bagi kami. Saya menginsyafi ini dan membenarkannya, berdasarkan pengalaman belajar baik bersama beliau atau di kelas lain saat kuliah Pascasarjana Informatika konsentrasi Sistem Informasi di Institut Teknologi Bandung. Saya membenarkan karena mengingat pengalaman Rasulullah SAW saat menerima wahyu pertama di gua Hira, "Iqra", yang berarti Bacalah. Saat pertama kali mengikuti matakuliah beliau terkait sumber daya manusia dalam Sistem Informasi, ada kesenjangan pengetahuan yang menyebabkan saya tidak bisa memahami apa yang beliau sampaikan. Hal tersebut membuat saya gelisah, hingga teman sebangku menenangkan dan mengatakan bahwa suatu saat saya akan dapat memahaminya. Kesenjangan tersebut terjadi karena selama kuliah strata satu Teknik Informatika, dominasi pengetahuan dan pengalamannya di sisi perangkat lunak. 

Dan guru saya tersebut membuat kesenjangan itu mulai berkurang setelah memberikan banyak tugas membaca dan meringkas literatur di setiap matakuliah yang diampu oleh beliau. Tata bahasa Indonesia saya sempat kacau karena terpengaruh kebiasaan membaca literatur berbahasa inggris, tetapi berkat mebaca itu saya melihat banyak dunia Sistem Informasi yang selama ini hanya saya lihat seakan dari lubang jarum saja. Banyak kekeliruan pemahaman yang berhasil diluruskan selama kuliah Pascasarjana, khususnya terkait perbedaan dan hubungan antara Sistem Informasi dengan Rekayasa Perangkat Lunak. Rasa syukur itu membuat saya meminta kesediaan beliau untuk memberikan seminar di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, agar pencerahan tersebut tidak hanya dinikmati oleh saya saja tetapi juga oleh sivitas akademik  Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. 


Ketertarikan saya kepada buku berawal dari kegiatan meminjam buku di Perpustakaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kabupaten Subang yang kebetulan dekat dengan Sekolah Dasar Negeri Panglejar Subang tempat saya belajar saat itu. Jika tidak karena diajak oleh teman mengunjungi Perpustakaan, mungkin saya tidak akan pernah punya ketertarikan mengunjungi Perpustakaan. Berada di sekitar teman yang mengajak kepada kebaikan itu karunia yang perlu kita syukuri hingga akhir hayat. 

Buku yang paling saya minati dan sering saya pinjam saat itu adalah kategori cerita. Seakan saya masuk dalam pengalaman anak-anak dalam cerita tersebut. Mungkin inilah yang menyebabkan saya dapat membuat cerita fiksi berdasarkan pengalaman main saya di proyek tol dekat perumahan Bale Endah Bandung dengan kang Gigin Destriana (Putera Kakak nya Ibu). Sebab lainnya mungkin karena kebiasaan saya kalau hujan tiba suka terkurap di atas kasur tingkat ke dua dan melihat ke luar jendela tepat ke halaman samping rumah tetangga. Di sana ada sebidang tanah yang selalu kebanjiran. Saat kecil itu saya sering membayangkan sebidang tanah itu sebagai wilayah yang dihuni, ada rumahnya, situs purbakala yang mengandung fosil Dinosaurus (aslinya kerangka cicak, hehehe), dan bahkan sempat membuat peta wilayah dan peta bencana banjirnya. Sekarang rumah tetangga berikut halamannya menjadi rumah teh Reti. Sesekali saya juga sering nongkrong di puncak atap rumah (kok tidak merasa panas ya saat itu?), melihat gumpalan Awan yang memicu cerita negeri di atas awan.

Kembali ke cerita fiksi pertama yang tertulis di atas kertas. Cerita tersebut diketik dengan menggunakan mesin tik punya teh Ida, kakaknya kang Gigin Destriana, pengalaman pertama mengetik dengan mesin tik menggunakan jari sebelas ... maksudnya dua telunjuk, hehehe. Sayangnya kertas itu tidak saya simpan, tapi saya sedikit ingat isi cerita itu mirip lamunan tentang halaman tetangga saat hujan tiba. Sempat mendengar kakak mengadu kepada Uwa karena mungkin pita ketiknya habis oleh saya, hehehe ... tetapi Uwa mendukung apa yang saya lakukan. Saya tidak terpengaruh atau merasa bersalah telah menghabiskan pita ketik tersebut, mungkin saat itu karena saya masih kecil lebih banyak memperhatikan keinginan. Sejak saat itu saya menikmati menulis cerita dan selalu ingin memiliki mesin tik, walau kenyataannya tidak pernah dimiliki hingga sekarang. Karena ngetiknya sudah jaman komputer, hehehe. Alhamdulillah, orang tua memberikan Komputer dan Printernya menjelang lulus kuliah strata satu. Dengan Personal Computer tersebut saya menghasilkan banyak tulisan mulai dari buletin hingga surat untuk sahabat pena. 

Di SMP (Sekolah Menengah Pertama) Negeri 2 Subang, saya aktif di Kepramukaan. Bahkan dipercaya oleh teman-teman sebagai ketua Dewan Penggalang dan Pemimpin Regu Utama. Saya memahami sejak saat itu saya selalu memikirkan hal-hal yang tidak sederhana untuk organisasi, seperti melengkapi ruang sekretariat dengan kursi-kursi belajar untuk pertemuan. Kursi-kursi tersebut saya ambil dari gudang dan diperbaiki bersama pengurus Dewan Penggalang. Selain itu, yang terpenting dari kegiatan berorganisasi tersebut adalah kegiatan membaca. Untuk dapat mengajarkan materi kepramukaan kepada adik kelas, saya membaca Buku Agenda Pramuka milik teh Rita Sulistiana, kakak kedua yang juga sempat aktif di Pramuka saat belajar di SMP Negeri 2 Subang. Ternyata catatannya lengkap juga, tidak seperti saya yang tidak punya catatan Pramuka sama sekali, hehehe. Buku tersebut membuat saya memahami sandi dan mulai membuat sandi sendiri dan diajarkan kepada para pengurus Dewan Penggalang dan adik-adik Pramuka. Sandinya apa saya lupa lagi, mungkin Indri Novianti (rekan pengurus) dan Indri Virgianti (adik yang diajari) masih mengingatnya. Gaya miring dalam foto berbaju Pramuka lengkap di bawah ini terpengaruh oleh Baden Powel, hehehe.


Namun satu buku yang sangat berpengaruh saat itu terkait dokumentasi organisasi adalah buku yang dipinjamkan oleh kak Endin, ketua Dewan Penggalang sebelumnya. Saat perkemahan di kampus, beliau datang dan berbincang seputar Kepramukaan. Beliau lalu meminjamkan buku Kepramukaan tentang tata surat dan lainnya. Melalui buku tersebut saya memahami gaya penulisan surat, termasuk urutan nama organisasi. Kalau sistem penomoran suratnya saya belajar banyak dari kak Endang Morse, saat menjadi panitia kegiatan. Buku inilah di antaranya yang menyebabkan laporan pertanggung jawaban saya sebagai ketua PMR (Palang Merah Remaja) Wira Patut saat belajar di SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 1 Subang sangat tebal. Sampai saya yang memberi masukan kepada tukang jilidnya agar laporan dengan sampul emas tersebut dipaku saja agar dapat bersatu. 

Belakangan Aria Dinda Dwi Sevta, rekan pengurus PMR menceritakan kalau Pembina PMR saat itu berfikir laporan tebal tersebut berikut apa yang tertulis di dalamnya (tata organisasi dan pasukan khas, serta dokumentasi organisasi) bukan saya yang buat, karena tidak mungkin dihasilkan oleh anak seusia saya. Padahal laporan itu benar-benar dibuat oleh saya, dalam pengaruh buku yang dipinjamkan oleh kak Endin dan buku-buku pemerintahan yang saya baca di Perpustakaan SMA Negeri 1 Subang.


Hal yang membuat kegiatan Pramuka di SMP Negeri 2 Subang tidak mengasikan adalah saat alumni datang. Sudah jadi kebiasaan kakak-kakak ini mulai melakukan uji mental. Kami semua sangat takut saat kegiatan itu dimulai. Ujian yang masih saya ingat adalah saat satu regu yang bercampur putera dan puteri kami dibariskan. Lalu kertas dimasukan ke mulut anggota regu pertama, setelah itu berpindah ke muluh anggota regu di sebelahnya. Waktu itu mungkin karena berada dalam tekanan, saya tidak merasa jijik, atau mungkin karena kertas itu berasal dari mulut teman perempuan yang didorong-dorong alumni untuk dekat dengan saya, hehehe. Jangan berfikir macam-macam, kertas itu tentu saja bukan dipindahkan oleh mulut ke mulut, tapi dari mulut ke tangan lalu ke mulut, hehehe. Tidak ada pengalaman bersentuhan mulut dengan lawan jenis selama aktif berorganisasi, bahkan saat belajar teknik pernafasan buatan di PMR Wira Patut sekalipun. 

Hal lain yang paling tidak asik adalah saat berhadapan dengan konflik dengan sesama pengurus, mendengar kabar dari adik Pramuka saya dijelek-jelekan, dan lain sebagainya. Pengalaman seperti itu tidak asing sebenarnya bagi saya, karena di lingkungan rumah pun kumpulan anak tetangga yang nakal suka melakukan hal yang sama. Tetapi mungkin saat itu saya belum siap sehingga hal tersebut menyebabkan tekanan yang memicu amarah. Semuanya sedikit mereda setelah bertemu dengan mas Yudho di jembatan Masjid al-Muhajirin. Beliau memberi nasihat dan meminjami buku Minhajul Abidien. Buku tersebut sangat berpengaruh dan membuat orientasi hidup saya berubah. Buku itu pula yang menyebabkan saya memutuskan untuk tidak ingin bergabung lagi di Kepramukaan dan memilih PMR saat belajar di SMA Negeri 1 Subang walau dibujuk Pembina. Saking berpengaruhnya, saya membuat tulisan di atas secarik kertas dan menyisipkannya di buku tersebut. Terakhir melihat buku tersebut, kertasnya masih ada pada buku tersebut. Saya sudah tidak ingat apa isi tulisannya.

Buku tersebut membuat saya memiliki jati diri, mengagumi akhlak mulia, dan bahkan mencegah saya untuk memperhatikan rasa suka terhadap wanita semata karena berfikir merasa belum layak untuk memiliki dan dimiliki. Delapan tahun ke depan saya benar-benar menjadi Jomblo yang diniatkan, hehehe. Buku itulah yang menyebabkan saya tertarik membaca banyak literatur agama, mulai dari hadits pilihan milik teh Reti hingga buku sekelas al-Hikam. Buku yang disebut terakhir ini diberi tahu oleh mas Yudho dan saya temukan beberapa waktu kemudian di Perpustakaan Masjid SMA Negeri 1 Subang. al-Hikam mewariskan kekuatan pendorong yang membuat saya dapat berjalan di dunia spiritual tanpa perlu menggunakan kaki. Baik Minhajul Abidien dan al-Hikam, keduanya saya khatamkan berkali-kali. Rasanya tidak puas meneguk keajaiban di dalamnya. Karena dua buku ini lah Aria Dinda saat di SMA menyebut saya unik dan perlu dilestarikan (memangnya hewan langka, hehehe), dan kang Ishak saat di pelataran masjid kecil al-Musaddadiyah mengatakan pemikiran saya melampaui usia. Saat itu saya sama sekali tidak menyadarinya, semata mengikuti apa yang saya yakini dari literatur-literatur yang dibaca. 

Dua buku ini kelak pada masa-masa kuliah di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, membukakan pintu perjalanan menuju berbagai literatur di lingkungan Tarikat Syadziliyah, yang karena pengaruh dan keajaibannya itu saya memberi nama anak kedua Syazwan asy-Syadziliyah, sebagai tanda kesyukuran. Sementara nama anak pertama saya, Syauqi Ahmad Nurulloh merupakan gubahan dari Muhammad Syauq Ridha Nurulloh, nama yang saya buat untuk diri sendiri dalam perjalanan tersebut tahun 2002. Nama yang kemudian diyakini menjadi nama anak pertama saya, sehingga walau USG menunjukan anak saya perempuan, saya berkeyakinan dia pria karena namanya adalah Muhammad Syauq Ridha Nurulloh.


Saat di SMA Negeri 1 Subang saya bertekad kuat untuk membiasakan diri mengunjungi Perpustakaan. Alhamdulillah, Allah menolongnya sehingga saya rutin mengunjungi Perpustakaan dan membaca sejumlah literatur di sana, mulai dari ilmu teknik hingga pemerintahan. Bukan hanya perpustakaan umum saja, tetapi juga perpustakaan masjid. Ilmu pemerintahan yang diperoleh dari Perpustakaan membangun kemampuan saya dalam mengembangkan organisasi PMR dan BPH GMA (Badan Pelaksana Harian Generasi Muslim al-Muhajirin). Kombinasi daya hayal yang dulu membuat saya dapat membuat cerita fiksi dengan asupan pengetahuan dari Perpustakaan memunculkan kemampuan baru, yakni pemodelan konseptual. Bahkan digabungkan dengan film kartun Saint Seiya, membuat saya mendapatkan ide wujud logo Satuan Jihad GMA, hehehe.


Satuan Jihad merupakan Satuan Pengamanan untuk kegiatan Perkemahan Islami yang digelar tahunan oleh GMA. Nama Jihad nya sama sekali jauh dari gagasan Islam Esktrim, karena kenyataannya GMA merupakan kumpulan anak muda dengan pemahaman Islam tradisi. Para pemipin kepengurusannya senantiasa memerangi faham esktrim. Bahkan suatu ketiak GMA bahkan pernah bersitegang dengan tetua kampung karena memainkan alat musik ala Kyai Kanjengnya Emha Ainun Najib di dalam masjid. Termasuk saat saya meyakini pengajian harus terpisah antara pria dan wanita sehingga duduk di belakang dinding, mas Yudho sebagai ketua umum GMA memberikan sindiran halus. Kebetulan juga salam Jihad Allahu Akbar senantiasa digunakan panitia untuk menyemangati peserta kegiatan, sehingga nama Satuan Pengamanan ini Satuan Jihad. Orang yang tidak tahu GMA mungkin saja akan bersangka-sangka saat  melihat gambar silhuet yang saya buat untuk Satuan Jihad ini yakni Ikhwan Bertopeng dengan Pisau Komando terhunus di depan wajahnya, hehehe. 

Kegiatan sebagai ketua BPH GMA menyebabkan munculnya kegiatan menulis, mulai dari konsep organisasi, ringkasan apa yang saya baca dari literatur dan saya dengar dari pengajian, hingga buletin. Secara umum produk tulisannya tidak menggunakan mesin tik. Jika kebetulan ada akses ke mesin tik di rumah mas Yudho, saya baru punya produk tulisan dengan mesin. Kegiatan membaca dan berorganisasi mendorong saya menghasilkan banyak tulisan. Berbagai persoalan dan kebutuhan dalam organisasi membuat saya berfikir, menulis, dan menyampaikannya kepada orang lain. Dan bahkan tidak hanya sebatas itu, saya juga mengajarkan dan mengajak serta teman-teman untuk mengamalkan. GMA merupakan ruang pengalaman spiritual saya, saat pertama kali jatuh dalam kesalahan membuat bid'ah prosesi dzikir bersama, namun juga merupakan saat pertama kali menerima nikmat karunia taubat dari bid'ah dhalalah yang dengan izin Allah masih kuat tertanam dalam hati hingga sekarang. Hal itu terjadi mungkin karena sedang dipengaruh oleh literatur Thariqah yang diakses di perpustakaan Madrasah Diniyah Bahrul Ulum yang dikelola oleh Lembaga Pendidikan dan Dakwah GMA. Sementara karunia taubat diperoleh karena mengingat sejumlah hadits dari buku hadits pilihan milik kakak.

 
 
Produk pertama model konseptual adalah sistem organisasi BPH GMA yang mendefinisikan berbagai tingkatan pertemuan anggota dan kepengurusan serta relasi-relasi di dalam organisasi dan antar organisasi. Kebetulan saat itu saya dipercaya mas Yudho sebagai ketua BPH GMA, sehingga model konseptual tersebut saya terapkan di dunia nyata satu persatu.Kemampuan tersebut semakin terasah saat studi Sarjana di Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan Pascasarjana di Informatika Institut Tekologi Bandung. Model konseptual yang pernah dibuat mulai dari sistem organisasi Unit Sistem Informasi Sekolah Tinggi Teknologi Garut, sistem Relawan TIK, dan sekarang sistem Rintisan Satuan Karya Pramuka Informatika. 


Bersambung ...   

Sabtu, 11 Juni 2016

Menyajikan ICT4GLS di SMA Negeri 1 Subang


Subang, 11 Juni 2016, bertempat di aula SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 1 Subang saya menyampaikan materi ICT4GLS (Information and Communication Technology for Gerakan Literasi Sekolah). Materi ini disampaikan setelah mendapatkan undangan dari Marni Hartati, teman seangkatan di SMA Negeri 1 Subang yang sekarang menjadi tenaga pendidik dan penggerak GLS (Gerakan Literasi Sekolah) di sana.  


GLS ini bagi saya menarik dan penting mengingat perkembangan keilmuan dan keterampilan yang saya dapatkan hingga sekarang ini di antaranya karena ditunjang oleh kebiasaan membaca. Dalam kesempatan tersebut saya menceritakan kenapa membaca itu penting berdasarkan pengalaman pribadi, dan sebagiannya lagi merupakan cerita pengalaman kawan Blogger Garut Ipan Setiawan yang disampaikanya saat pertemuan Smartfren Community lalu di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Pengalaman pribadi ini akan saya tuliskan pada kiriman berikutnya. Melalui slide presentasi saya jelaskan hubungan antara GLS dengan Blogging dan bagaimana Blogspot yang merupakan salah satu aplikasi Google dapat meningkatkan kontribusi dan dampak positif GLS.


Kemampuan siswa untuk membaca dalam GLS tergantung kepada niatnya. Dengan niat tersebut para siswa yang aktif di GLS berkontribusi kepada teman-temannya di sekolah, apakah saat mereka menyampaikan kembali apa yang telah mereka baca atau menerbitkan karya tulis yang dipengaruhi oleh buku-buku yang mereka baca. Kontribusi dan dampak positifnya dapat diperluas dengan memindahkan aktivitas penyampaian hasil membacanya di dunia maya. Di awali dengan niat kedua, yakni menggunakan teknologi informasi seperti Blog untuk berbagi kepada lebih banyak lagi peminat bacaan yang sama. Di ruang tanpa batas ini, setiap pembaca dapat menuliskan hasil membacanya sehingga sampai kepada para pengguna informasinya di dalam atau di luar sekolahnya dengan usaha dan waktu yang efisien. Materi ICT4GLS yang saya sampaikan ini merupakan tahapan pertama, yakni penyadaran. Untuk mewujudkan niat kedua diperlukan tahap kedua yakni pelatihan Blogging hingga tahap ketiga di mana dari Blogging para siswa ini mendapatkan daya saing dan bahkan sesuatu yang berkaitan dengan kesejahteraan.


Sebelum menyampaikan materi, Indri Virgianti, adik tingkat yang sama-sama alumni SMA Negeri 1 Subang, membacakan profil yang saya kirimkan satu hari sebelumnya melalui pesan Facebook ke Marni Hartati. Saat dibacakan pengalaman organisasi saya sebagai ketua PMR (Palang Merah Remaja) Wira Patut SMA Negeri 1 Subang, ada suara gemuruh di sudut belakang audien. Ternyata ada adik-adik PMR yang hadir di sana.

Indri Virgianti yang juga adik Pramuka Penggalang Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Subang yang saya pimpin regunya, menyampaikan bahwa saya adalah kakak tingkat yang dapat diteladani oleh adik-adik tingkatnya baik secara akademis ataupun kegiatan ekstrakurikuler. Pernyataannya ini membuat saya tersadar bahwa kegiatan membaca yang saya lalu mulai dari Sekolah Dasar hingga sekarang berpengaruh baik terhadap banyak orang, karena teladan yang saya berikan diantaranya dipengaruhi oleh buku-buku yang saya baca. Oleh karenanya sangat beralasan apabila saya sangat bersemangat menghadiri gelaran acara GLS ini, merampungkan slide presentasinya hingga pukul 23-an dan berangkat ke Subang pukul 03-an. Bukan karena saya alumni yang harus kembali ke almamater untuk memberi bantuan dalam bentuk apapun, tetapi juga karena saya mensyukuri karunia membaca, mendukung gerakan membaca apapun bentuknya, dan ingin mendorong agar gerakan ini diperbesar dampaknya dengan teknologi informasi.



Selasa, 07 Juni 2016

Persiapan kegiatan Safari Direksi Telkom ke Garut


Jum'at, 3 Juni 2016, saya dihubungi oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut. Beliau mengajak saya untuk bergabung di Rumah Makan Padang Sederhana untuk berbincang dengan pak Dadan Syamsul Bachro dari PT Telekomunikasi Indonesia regional Tasikmalaya. Di lokasi kami berbincang tentang rencana safari Direksi PT Telekomunikasi Indonesia ke Garut. Rencananya safari tersebut akan diselenggarakan di Aula Musaddadiyah dan diisi pemaparan Technopreneurship untuk UKM yang ada di Garut plus bantuan untuk beberapa Yayasan Yatim Piatu di Garut. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut akan meminta Bupati Garut untuk hadir dan menyampaikan sambutan di dalam acaranya nanti. Bu Rina Kurniawati sebagai Wakil Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut bidang Kerjasama mendengarkan rencana bantuan untuk Pusat Pelatihan Technopark yang dibangun Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang juga akan digunakan untuk membentuk Kampung UKM Digital di Garut. 

Selain itu, diperbincangkan juga tentang integrasi program dan sumber daya Pentahelix (Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan, Komunitas, dan Media) untuk mencapai tujuan bersama yang mengarah kepada terbentuknya masyarakat informasi Garut atau Smart Garut. Sebelumnya tanggal 30 Mei 2016, saya diundang oleh pak Diar Cahdiar Antadireja - Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk diskusi di rumah beliau bersama pak Dadan Syamsul Bachro untuk membicarakan topik yang sama. Dalam dua diskusi tersebut saya memberi masukan bahwa untuk mewujudkan Smart Garut, diperlukan sinkronisasi program semua unsur Pentahelix yang kemudian diwujudkan sebagai program bersama yang luaran atau layanannya harus dapat diakses secara offline ataupun online oleh masyarakat. Diskusi belum menghasilkan kesepatakan nama domain web untuk kebutuhan akses online tersebut, apakah Smart Garut, e-Garut, atau lainnya. 

 

Peningkatan Kapasitas Masyarakat Informatika Garut


Sesuai dengan judul kegiatannya, Peningkatan Kapasitas Masyarakat Informatika Garut, kegiatan ini ditujukan untuk memperluas wawasan masyarakat informatika di Garut dalam bidang informatika baik teori, praktik, ataupun penerapannya. Saya membuat kegiatan ini untuk tujuan :
  1. Mengambil kesempatan yang disediakan oleh Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia untuk menyelenggarakan sosialisasi Agen Perubahan Informatika
  2. Menindaklanjuti kerjasama antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dengan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut ke dalam bentuk kegiatan nyata yang melibatkan anggota Pramuka Penegak dan Pandega terkait pengembangan konsep rintisan Satuan Karya Pramuka Informatika yang akan diterapkan di Garut.
  3. Menyediakan kuliah umum Rekayasa Perangkat Lunak bagi tenaga pendidik dan peserta didik di lingkungan Program Studi Teknik Informatik Sekolah Tinggi Teknologi Garut serta Sekolah Menengah Kejuruan bidang Informatika di Garut, yang materinya dapat menjadi masukan berharga untuk perumusan kurikulum baru Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut.
Berdasarkan tujuan tersebut, dikemaslah kegiatannya dalam sebuah tema "Membangun Desa Pintar dengan Solusi Informatika melalui Agen Perubahan Informatika dan Satuan Karya Informatika". Materi tentang bagaimana Desa Pintar dibangun dengan Solusi Informatika disampaikan oleh Dr. Ir. Inggriani Liem sebagai Tenaga Pendidik dari Kelompok Riset Data dan Rekayasa Perangkat Lunak Institut Teknologi Bandung, Agen Perubahan Informatika oleh Septriana Tangkari, M.M. sebagai Direktur Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, dan Satuan Karya Pramuka Informatika oleh saya sebagai ketua Satuan Karya Pramuka Informatika cabang Garut.

Pada awalnya kegiatan ini menyasar anggota Penegak dan Pandega khususnya di Gugus Depan Sekolah Menengah Kejuruan, yang oleh karenanya saya mengirim surat kepada Kwartir Cabang Garut untuk mengundang Gugus Depan yang dimaksud dengan target peserta sekitar 400 orang calon anggota Satuan Karya Pramuka Informatika yang dapat menjadi Agen Perubahan Informatika. Namun ternyata semua anggota yang dimaksud sedang mengikuti ujian di sekolahnya, sehingga target pesertanya dirubah menjadi mahasiswa program studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang dalam kurikulum baru akan diwajibkan menjadi relawan informatika. 

Untuk penyelenggaraan kegiatan ini, saya meminta bantuan kepada ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyediakan dana talangan kegiatan sekitar sembilan jutaan. Alhamdulillah, dana tersebut cair. Dalam perjalanan menuju kegiatan, pihak-pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan program bersama antara Sekolah Tinggi Teknologi Garut dan mitranya memberikan bantuan dana kegiatan. Kondisi tersebut memberi kelancaran dalam penyelenggaraan kegiatan oleh panitia yang saya bentuk. Kondisi tersebut terwujud hasil komunikasi antar elemen penyelenggara program bersama ini :
  1. Saya melakukan komunikasi dengan Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika, 
  2. Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut membantu komunikasi dengan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut, 
  3. Ketua Sekolah Tinggi Teknologi Garut membantu komunikasi dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, 
Untuk melaksanakan kegiatan ini, saya mengajak tenaga pendidik di lingkungan Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk ikut terlibat. Alhamdulillah banyak tenaga pendidik yang mau pro aktif melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai panitia kegiatan. Di luar kepanitiaan ini, ada adik-adik Dewan Kerja Cabang Kwartir Cabang Garut yang ikut berperan dalam menyampaikan informasi dan mendata peserta kegiatan dari anggota Penegak dan Pandega.

Turut hadir dalam kegiatan ini, direktur dan pejabat Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika, kepala dan pejabat Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, ketua dan pejabat Sekolah Tinggi Teknologi Garut, pengurus Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut dan Kwartir Ranting Tarogong Kidul, PT Telekomunikasi Indonesia, PT Telekomunikasi Seluler, Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Indonesia dan pegiat TIK lainnya.


Kegiatan ini saya laksanakan untuk masyarakat informatika di Garut baik di dalam atau luar kampus agar memahami peran dan tanggung jawab sosialnya dalam pembangunan masyarakat informasi Garut. Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi semua tenaga pendidik di lingkungan program studi yang saya pimpin untuk terlibat dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat. Melalui kegiatan ini saya memberikan sampel program bersama Quad atau Penta helix yang dapat diselenggarakan setiap tahun dalam rangka mewujudkan Smart Garut. Semua pihak penyelenggara program bersama ini dihimpunkan dalam satu naungan bernama Forum Masyarakat Informasi Garut.

Khususnya bagi Satuan Karya Pramuka Informatika, kegiatan ini merupakan tahap pertama menuju tahap berikutnya, yakni Orientasi Perintis Satuan Karya Pramuka Informatika tingkat Ranting di lingkungan Kwartir Cabang Garut. Saya memaparkan konsep rintisan Satuan Karya Pramuka Informatika dan rencana penerapannya dengan bantuan slide dalam kesempatan sosialisasinya. Pengukuhan Majelis Pembimbing dan Racana Sekolah Tinggi Teknologi Garut diharapkan menjadi modal dasar membentuk minimalnya satu Satuan Karya Pramuka Informatika KH Hasyim Asy'ari tingkat Kecamatan dengan keanggotaan dari Gugus Depan di lingkungan Kwartir Cabang Tarogong Kidul.

Minggu, 29 Mei 2016

Peluncuran Garut Smartfren Community


Garut, 29 Mei 2016 di Aula Sekolah Tinggi Teknologi Garut diselenggarakan acara peluncuran Garut #SmartfrenCommunity #Generasi4G. Kegiatan Smartfren yang dikelola oleh Ipan Setiawan ini dihadiri oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, Komunitas / Relawan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) Garut, Komunitas TIK SMK Negeri 10 Garut, Komunitas TIK SMK Ciledug, serta pelajar dan mahasiswa se Garut. 

Pada tanggal 12 Mei 2016, melalu Whatsapp Ipan menghubungi saya, menanyakan mekanisme penyelenggaraan kegiatan kopi darat Blogger di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Saya memberi petunjuk bahwa mekanismenya sama seperti yang biasa ditempuh ASGAR Muda saat menyelenggarakan kegiatan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut, tinggal memasukan proposal ke Wakil Ketua bidang Kerjasama. Bahkan saya memberikan gambaran kemungkinan Sekolah Tinggi Teknologi Garut memberi pinjam ruang Multimedia secara gratis asal ada bantuan promosi kampus di internet yang melibatkan peserta. 

Ipan Setiawan adalah ketua Penghimpunan Kelompok Pengguna TIK dalam kepengurusan Komunitas / Relawan TIK Garut. Tugasnya di kepengurusan memang memberdayakan komunitas dan para pengguna TIK seperti Blogger. Posisi jabatannya ini tepat mengingat Ipan adalah Blogtivist tergiat di Garut dengan segudang prestasi. Tidak salah jika Smartfren memilih alumni Madrasah Aliyah Negeri 1 Garut ini sebagai pemimpin Komunitasnya di Garut. 

Sambil menunggu Ipan menyelesaikan proposalnya, saya melakukan komunikasi dengan ketua dan wakil ketua III Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Alhamdulillah tanggapannya positif. Hal ini tidak mengherankan mengingat Sekolah Tinggi Teknologi Garut dari dulu dikenal sebagai lembaga pendidikan tinggi di Garut yang melaksanakan kegiatan, mendorong pembentukan, dan sinergi dalam setiap program Relawan TIK. Dikukuhkannya Relawan TIK Garut oleh Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal dan Pejabat Kementrian Komunikasi dan Informatika, Google Educator Group Garut, dan Komunitas TIK terbaik se Jawa Barat tidak lepas dari kiprah dan bantuan Sekolah Tinggi Teknologi Garut baik tenaga pendidik ataupun para pejabatnya. Membantu masyarakat dalam bidang TIK dan para pegiat TIK merupakan salah satu amal pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan secara istiqamah oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut.


Saya berhasil meyakinkan Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk menyediakan hadiah untuk peserta yang paling banyak tweet @stt_garut, karena berdasarkan pengalaman saya, mengenalkan organisasi itu tidak cukup hanya dengan melakukan kunjungan dari satu sekolah ke sekolah lain di dunia nyata tetapi juga harus ditunjang kegiatan pengenalan kampus melalui jejaring sosial di dunia maya. Staf wakil ketua III, Leni Fitriani dipercaya untuk mengawal kepentingan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam kegiatan tersebut.

Sebagai ketua umum Komuntas TIK Garut saya juga melaporkan rencana kegiatan pertemuan Blogger Garut ke kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut sebagai Dewan Penasihat, sekaligus meminta kesediaan beliau untuk berkenan membuka acara, pada tanggal 13 Mei 2016. Setelah beliau menyatakan kesediaannya, saya menanyakan kepada Ipan Setiawan apakah kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, pada tanggal 20 Mei 2016. Ipan menjawab akan mengundang beliau.

Pada hari Jum'at tanggal 27 Mei 2016 pukul 09.43, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika menanyakan apakah acara kumpulan Blogger jadi dibuka oleh beliau. Setelah bertanya kepada Ipan kembali, saya menyampaikan jawaban dari Ipan pada pukul 10.53 bahwa kegiatan jadi dibukan oleh beliau dan surat undangan akan dikirim segera. Pukul 14.23 Ipan bergerak ke kantor Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk mengirimkan surat undangan. Ipan ini seperti saya, semua dikerjakan sendiri tatkala tidak ada seorang pun yang memiliki waktu untuk membantu, dan memiliki komitmen untuk menuntaskan kegiatan. Hal ini saya lihat sendiri, saat Ipan turut terlibat dalam pengepakan konsumsi untuk peserta. Relawan sejati yang bersedekah secara total.

Transkrip Percakapan dengan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika
  • [08:09, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Assalamualaikum.. Wilujeng enjing akang.. 🙂
  • [08:09, 5/12/2016] Saya: Wa alaikum salam
  • [08:10, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Akang punten sateacana ngawagel waktosna 🙂
  • [08:11, 5/12/2016] Saya: Siap
  • [08:12, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Kang rinda upami hoyong bade ngayaken kegiatan pelatihan menulis dan kopdar blogger di STTG tiasa, upami mekanismena sareng kampus kumaha kang?
  • [08:14, 5/12/2016] Saya: Siga kegiatan ASGAR MUDA na kang nono, lebetkeun proposalna ka ketua STTG
  • [09:49, 5/12/2016] Saya ke DR Hilmi : Minta peserta utk tweet #sttgarut.ac.id di Twitter dan Facebook.
    [09:50, 5/12/2016]
    Saya ke DR Hilmi : Kalau perlu buat lomba keliling STTG lalu semua peserta buat review kampus. Pengunjung terbanyak kasih hadiah. 
  • [09:50, 5/12/2016] Saya: Saya kira STTG bisa kasih aula gratis kang Ipan.
  • [09:58, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah hatur nuhun kang rinda informasina 🙂
  • [09:58, 5/12/2016] Ipan Setiawan: Abdi kantun ngadamel proposalna hela muhun kang 
  • [10:05, 5/12/2016] DR Hilmi A: Mangga sae
  •  [07:36, 5/13/2016] DR Hilmi A: 👍
  • [14:20, 5/13/2016] Saya: Nembe aya Ipan nu bade nyelenggarakeun kegiatan kumpulan Blogger Garut di STTG bareng Smartfren, nyandak serat sareng proposal :
  • [14:33, 5/13/2016] DR Hilmi A: Ok, untuk prosedurnya mhn proposal fisiknya di sampaikan ke saya untuk didisposisikan ke baa
  • [14:46, 5/13/2016] Saya: Proposalnya ada di saya pak, besok saya sampaikan
  • [14:47, 5/13/2016] DR Hilmi A: Oh iya sip
  • [18:55, 5/13/2016] Saya: Manawi gaduh waktos kanggo ngabuka acara teman2 Blogger 🙏🏻
  • [18:59, 5/13/2016] Kadiskominfo Garut: Insya allah. Sekalian silaturahmi. Malah Abdi hoyong bikin blogger.
  • [19:00, 5/13/2016] Saya: Siap. 
  • [10:34, 5/14/2016] Ipan Setiawan: Akang untuk aulanya Ibu Rina dan Bapak Hilmi sudah mengizinkan untuk penggunaan acaranya? Bismillah, supaya saya langsung cantumkan di posternya 🙂😊
  • [10:34, 5/14/2016] Ipan Setiawan: Akang untuk aulanya, Ibu Rina dan Bapak Hilmi sudah mengizinkan untuk penggunaan acaranya? Bismillah, supaya saya langsung cantumkan di posternya 🙂😊
  • [10:40, 5/14/2016] Saya: Diizinkan, hanya proposalnya belum sampai ke pa Hilmi karena beliau sedang kegiatan di luar Garut
  • [10:41, 5/14/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah...terima kasih akang... 🙏
  • [10:41, 5/14/2016] Saya ke DR Hilmi : Pak Hilmi, proposal kegiatan Blogger saya sampaikan ke bu Yanti ya, untuk pemesanan aula STTG
  • [10:41, 5/14/2016] DR Hilmi A: Oh iya pak 
  • [15:08, 5/22/2016] Rina Kurniawati: Naon eta teh? 
  • [15:08, 5/22/2016] Saya: Yg proposalnya minggu lalu ke ibu in
  • [15:08, 5/22/2016] Saya: Yg pinjem aula
  • [15:09, 5/22/2016] Rina Kurniawati: Ooo iya iya, sip ari eta nu tengah saha asa kenal
  • [15:09, 5/22/2016] Saya: 😄 Ipan
  • [15:10, 5/22/2016] Saya: Yg blm dibahas itu reward utk top reviewer blogger ttg kampus STTG
  • [15:41, 5/22/2016] Rina Kurniawati: Oo iya tar atuh ya bsknkita ngobrol 
  • [09:09, 5/27/2016] Saya: Teu ngulem Diskominfo Garut?
  •  [09:42, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Assalamualaikum akang
  • [09:43, 5/27/2016] Kadiskominfo Garut: Dupi minggu acara genetasi 4 g ktratif di bukana ku abdi ?
  • [09:43, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Kantenan Bade Akang, Kedah atuh akang Diskominfo mah anu Utami kang🙂
  • [09:44, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Insya Alloh dinten ayena undangan Nana didamel akang, upami masihken Nana Kantor na di palih mana ya kang?
  • [10:17, 5/27/2016] Saya ke Kadiskominfo Garut: Ku abdi ditaroskeun heula  
  • [10:26, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah sumuhun Akang, hatur nuhun akang
  • [10:53, 5/27/2016] Saya ke Kadiskominfo Garut: Kata Ipan, dibuka oleh Diskominfo Garut pak.
  • [10:53, 5/27/2016] Saya ke Kadiskominfo Garut: Suratnya dikirimkan segera
  • [12:36, 5/27/2016] Kadiskominfo Garut: Siap.
  • [10:54, 5/27/2016] Saya: Lokasina di simpang lima. Kedah ayeuna, kumargi enjing pemerintah libur.
  • [12:05, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Alhamdulillah sumangga akang Rinda, saparantos jumatan langsung dipaparin undangan nana 🙂
  • [14:23, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Akang Upami di simpang lima na kantor Disdik teh dipalih mana?
  • [14:23, 5/27/2016] Ipan Setiawan: Diskominfo maksadna teh 🙂
  • [08:37, 5/29/2016] Rina Kurniawati: Rinda maaf saya ga bisa dateng hari ini ngedadak ada acara ka bdg yang ga bisa di hibdarin, yang ngebuka acara Rinda Aja ya?
  • [10:11, 5/29/2016] Saya: Ok

Dalam kesempatan memberi sambutan, Drs Dikdik Hendrajaja, M.Si, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut mengingatkan pentingnya Blogger dalam pembangunan informasi positif di kabupaten Garut. Blogger harus memperhatikan kualitas informasi, menghindarkan diri dari amal penyebaran informasi yang tidak dibenarkan agama. Beliau berharap Blogger Garut dapat dihimpun dan luaran Blognya dapat diakses dalam satu portal untuk memudahkan setiap orang membaca tulisan Blogger Garut.


Dalam kesempatan menyampaikan sambutan, saya mengucapkan selamat kepada Ipan dan Smartfren atas terbentuknya Garut Smartfren Community, mengucapkan selamat bergabung dalam perhimpunan Komunitas dan Relawan TIK se Garut yang dibimbing oleh kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Garut. Saya menyatakan harapan kepada komunitas ini untuk dapat menapaki dua kondisi selanjutnya agar Garut Smartfren Community menjadi Komunitas TIK terbaik di Jawa Barat. Kondisi tersebut meliputi : 1) Terkumpul, yakni mendata semua personal yang memiliki kegiatan dan minat yang sama, 2) Terorganisir, yakni penataan komunitas mulai dari pembentukan kepengurusan, pembuatan rencana kerja tahunan, hingga pengurusan badan hukum, dan 3) Terbuka, yakni memastikan tersedianya dokumentasi kegiatan yang bersifat publik untuk konsumsi seluruh stakeholder. Komunitas TIK yang telah memenuhi tiga kondisi tersebut layak mewakili Komunitas TIK di Garut untuk mengikuti Komunitas TIK Award Jawa Barat. Komunitas / Relawan TIK Garut merekomendasikan Jelajah Garut kepada Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut untuk mewakili Garut ikut dalam kegiatan Award tersebut.


Di penghujung sambutan, dalam kapasitas sebagai ketua umum Komunitas TIK Garut, saya mengingatkan kepada ketua Perhimpunan Kelompok Pengguna TIK agar menindaklanjuti pembangunan Portal Garut Citizen Jounalism yang merupakan portal menuju blog-blog urang Garut. Portal yang dibangun oleh Ikbal Muhammad Hikmat, staf Perhimpunan Kelompok Pengembang TIK ini telah diluncurkan oleh Bupati Garut pada tahun 2015. Keberadaan portal ini akan memudahkan Dinas Komunikasi dan Informatika untuk mengetahui informasi yang dibuat oleh Blogger dan mengukur dampaknya bagi pembangunan Garut. Semoga Jang Ipan bisa menghimpun Blogger Garut, personalnya di dalam Komunitas dan membuka akses ke Blog nya melalui Portal tersebut.

Pembicara dari Smartfren menjelaskan bahwa Komunitas Smartfren ini dibentuk untuk memudahkan Smartfren mendapatkan feed back dari pengguna Smartfren. Dalam kesempatan presentasinya, diputarkan video yang menggambarkan perilaku pengguna smartphone masa kini yang dekat dengan yang jauh dan jauh dengan yang dekat. Hal ini harus dijauhi oleh para pengguna Smartfren. Teknologi Advanced LTE 4G yang disediakan Smartfren menyediakan kenyamanan kepada para penggunanya dalam menikmati konten di internet. Namun kenyamanan ini tidak boleh menyebabkan para pengguna mengabaikan kehidupan nyatanya di internet dan membatasi waktu berselancar di internet.   



Rabu, 25 Mei 2016

Begini pengalaman ku dengan BNI, bagaimana dengan kamu ?


Saya Rinda Cahyana, PNS (Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Kementrian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi yang diperbantukan sebagai Tenaga Pendidik di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Aktif sebagai PNS sejak tahun 2006, dan sejak saat itu pula aktif sebagai nasabah BNI (Bank Negara Indonesia) Syariah. Pertama kali memilih BNI Syariah karena kantor mengirimkan gaji PNS melalui rekening BNI dan saya merasa nyaman dengan Perbankan Syariah. Walau saat mendaftar di Bandung, tetapi pelayanan tetap dapat dinikmati dengan nyaman di Garut. Saat kampus menawarkan perumahan karyawan yang dibiayai BNI, saya pun mulai membuka rekening BNI non Syariah.    

Rumah Pertama yang dibiayai BNI

Sejak awal saya tertarik dengan salah satu layanan BNI yang dikenal dengan SMS (Short Message Service) dan Internet Banking. Hal tersebut boleh jadi dipengaruhi oleh gaya hidup orang informatika yang selalu berorientasi kerja efisien dengan mesin otomatis. Kebetulan saya lulusan dan dosen informatika yang selalu mengembangkan gagasan akses informasi di mana saja dan kapan saja. Layanan elektronik dari BNI tersebut merupakan bagian dari gagasan tersebut. 

Keuntungan yang diperoleh dari SMS Banking adalah mendapatkan kabar uang masuk ke rekening, dan tentu ini kabar yang ditunggu dan menggembirakan untuk pegawai dengan sistem gaji bulanan seperti saya. Sementara internet Banking memungkinkan saya untuk melalukan transaksi perbankan, seperti membeli token PLN, pulsa seluler, transfer uang, membeli tiket kereta api, termasuk membaca riwayat transaksi dalam rekening. Semuanya bisa dilakukan melalui smartphone atau laptop, tidak perlu ke luar rumah dan menggunakan ATM (Anjungan Transaksi Mandiri). Transaksi Perbankan dalam Genggaman. 



Saat melakukan restorasi dan modifikasi mobil jenis Jeep, saya banyak mendengar informasi dan berdiskusi di grup Facebook, memperoleh masukan seputar suku cadang dan aksesoris apa yang diperlukan. Kemudian saya membeli suku cadang dan aksesoris tersebut secara online dari toko online. Pembayarannya melalui Internet Banking. Prosesnya cepat sehingga barang cepat sampai di rumah dan mobil pun cepat berubah. Semua kemudahan ini terwujud karena layanan BNI, yang mampu mengikuti kebutuhan gaya hidup digital jaman sekarang. Terima kasih BNI

         

Sabtu, 14 Mei 2016

Peningkatan Kapasitas Masyarakat Informatika di Garut

Masyarakat informasi merupakan bentuk budaya di mana setiap orang di dalamnya menggunakan TIK  (Teknologi Informasi dan Komunikasi) untuk mendapatkan keuntungan kompetitif dari penguasaan informasi. Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui International Telecommunication Union ataupun pemerintah Republik Indonesia melalui Kementrian Komunikasi dan Informatika mendorong penetrasi internet hingga ke perdesaan dan berusaha menyediakan Telecenter seperti Warung Internet Perdesaan dan Community Access Point agar masyarakat dapat mengakses internet untuk memanfaatkan informasi sedemikian rupa sehingga meningkat tarap kehidupan, bidang ekonomi, sosial, dan budayanya. Masyarakat harus menguasai teknologi, informasi dan komunikasi terlebih dahulu agar peningkatan itu terwujud, sebagaimana dijelaskan dalam buku Aktivitas dan Kompetensi Relawan TIK yang dibuat oleh peneliti Sekolah Tinggi Teknologi Garut untuk Kementrian Komunikasi dan Informatika tahun 2013 [1]. 

Gambar 1. Peran Relawan TIK di Telecenter [1]

Kebutuhan masyarakat sekitar Telecenter akan penguasaan teknologi, informasi, dan komunikasi terekam dalam artikel jurnal berjudul Peran Relawan Teknologi Informasi dalam Pemanfaatan Warung Internet Perdesaan [2]. Kesenjangan yang ada dalam usaha penyediaan Warung Internet Perdesaan oleh pemerintah yang terekam di Garut pada tahun 2012 antara lain lambatnya dukungan teknis dan kurangnya kemampuan TIK dasar. Solusi yang diusulkan dalam rangka mengatasi kesenjangan tersebut adalah mendorong partisipasi masyarakat, di mana sekelompok anggota masyarakat dermawan dan terlatih memberikan layanan relawan TIK untuk mendukung pemanfaatan TIK di lingkungannya. 

Di dalam artikel jurnal yang berjudul The Stages, Three-Layer Infrastructure, and Function Level Regulation for Development of Information Society within of Information Technology Volunteers Actions [3] layanan relawan TIK meliputi penyediaan informasi dan teknologi informasi, pengembangan sumber daya manusia, serta kolaborasi. Keempat layanan tersebut dilaksanakan oleh kelompok relawan bernama KPMI (Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi).

Gambar 2. Layanan KPMI [4]

Becermin dari kisah sukses Telecenter berkat bantuan Relawan TIK yang direkam oleh Acevendo [5], anggota masyarakat yang bersedia menjadi relawan TIK diharapkan dapat mewujudkan Telecenter sebagai Pusat Pembangunan Lokal masyarakat informasi. Lokasi lain yang dapat dijadikan Pusat Pembangunan lokal adalah lembaga pendidikan, mengingat adanya budaya relawan dan kegiatan relawan di sana, serta banyaknya remaja yang direkrut sebagai relawan [1]. Pusat Pembangunan Lokal ini diharapkan dapat menjadi tempat mobilisasi relawan TIK dan titik akses layanannya.

Program Studi Teknik Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengembangkan konsep dan teknologi KPMI melalui kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sejak ditandatanganinya piagam kerjasama dengan Relawan TIK Indonesia pada tahun 2012. Konsep KPMI dirumuskan berdasarkan kegiatan mahasiswa Relawan TIK di Unit Sistem Informasi sejak tahun 2001, serta dikombinasikan dengan kegiatan sejenis di berbagai negara berdasarkan literatur dan kegiatan bersama Relawan TIK Korea Selatan tahun 2012 sampai 2014. Konsepnya pertama kali disajikan melalui buku atas permintaan Kementrian Komunikasi dan Informatika pada tahun 2013. Sementara teknologinya dalam bentuk Sistem Informasi KPMI sebagai media pelaporan atau pengawasan kegiatan Relawan TIK dibuat melalui penelitian dosen dan mahasiswa berdasarkan konsep tersebut. Rancangannya didiseminasikan dalam seminar e-Indonesia Initiative yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung pada tahun 2015, sementara teknologinya dipamerkan serta diperkenalkan ke khalayak umum dalam Festival TIK di Bandung.
Program KPMI telah dirintis oleh Relawan TIK Garut dan dilaksanakan di beberapa Sekolah Menengah Atas / Sederajat. Sejak tahun 2014, Sekolah Tinggi Teknologi Garut mengusulkan program bersama terkait KPMI dalam Konferensi Komunitas TIK Garut / forum Quadruple Helix yang dihadiri oleh unsur Pemerintah, Perguruan Tinggi, Perusahaan, dan Komunitas TIK di Garut. Secara khusus Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah menandatangani piagam kerjasama dengan Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) Negeri 10 Garut dan SMK Ma'arif Pameungpeuk Garut untuk melaksanakan program tersebut pada tahun 2015. Bagi Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, KPMI ini menunjang program Telecenter / mobil Community Access Point yang menyasar lembaga pendidikan dan Kelompok Informasi Masyarakat di perdesaan. 

Dalam kesempatan Seminar di Lampung, Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menyatakan bahwa idealnya satu desa terdapat satu orang relawan TIK [6]. Sementara itu Sekolah Tinggi Teknologi Garut tengah mendorong agar KPMI di sekolah dapat melayani satu atau beberapa desa di sekitarnya. 

Anggota masyarakat yang dapat direkrut sebagai Relawan Penggerak Masyarakat Informasi ini dapat berusia antara 16 - 24 tahun [1]. Setidaknya di setiap kecamatan harus ada satu atau beberapa Sekolah Menengah Atas / Sederajat dan / atau Perguruan Tinggi yang berfungsi sebagai Pusat Pengembangan Lokal di mana anggota KPMI melaksanakan layanannya untuk internal kampus dan masyarakat desa sekitar kampus. Kaderisasi dan kegiatan anggota KPMI dapat dilaksankaan dalam bentuk kegiatan intra ataupun ekstra kurikuler melalui unit kegiatan yang ada di kampus. Di antara unit kegiatan yang telah terbentuk di kampus dan dapat didorong untuk melaksanakan program KPMI adalah Komunitas TIK dan Gerakan Pramuka.

Disebutkan dalam Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka nomor 170.A tahun 2008, bahwa Saka (Satuan Karya) merupakan wadah pembinaan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan Pramuka Penegak (usia 16 - 18 tahun) dan Pramuka Pandega (19 - 24 tahun) dalam bidang yang berguna baik bagi dirinya maupun bagi masyarakat serta melakukan pengabdian kepada masyarakat sesuai aspirasi pemuda Indonesia dengan menerapkan prinsip dasar Kepramukaan dan metode Kepramukaan serta sistem Among. Partisipasi anggota Saka dalam membangun masyarakat informasi secara sukarela merupakan amal pengabdian kepada masyarakat. Dengan demikian Pramuka Penegak dan Pandega yang menjadi anggota Saka dapat melaksanakan empat jenis layanan Relawan TIK yang berguna bagi dirinya dan masyarakat berdasarkan pengetahuan, kemampuan dan keterampilan yang dibentuk oleh Saka.

Pada tanggal 13 Agustus 2015, ketua Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut mengesahkan ketua Relawan TIK Garut sebagai ketua Saka Telematika (Telekomunikasi dan Informatika), yang selanjutnya berubah nama menjadi Saka Informatika. Kondisi ini membukakan komunikasi antara Relawan TIK Indonesia dengan Gerakan Pramuka sehingga pembangunan masyarakat informasi di Garut dapat dilaksanakan secara bersama-sama. Karena Saka ini merupakan rintisan dan kebetulan KPMI yang dikembangkan oleh Sekolah Tinggi Teknologi Garut dibangun mengikuti pola kegiatan Kepramukaan, maka ditandatanganilah piagam kerjasama antara Kwartir Cabang Garut dengan Sekolah Tinggi Teknologi Garut dalam Rapat Kerja Cabang bulan Februari tahun 2016. Berdasarkan kerjasama tersebut, Saka Informatika mulai menerapkan konsep dan teknologi KPMI dalam bentuk Krida Bina Pengguna mulai tahun 2016 untuk mewujudkan Gugus Depan sebagai Pusat Pengembangan Lokal serta anggota Pramuka Penegak dan Pandega sebagai relawan penggerak dan tulang punggung masyarakat informasi Garut. 

Sementara itu Direktorat Pemberdayaan Informatika Kementrian Komunikasi dan Informatika pada pertengahan tahun 2016 meminta agar Relawan TIK Garut memobilisasi relawan TIK dari kalangan pelajar dan mahasiswa untuk menjalankan program API (Agen Perubahan Informatika) di Indonesia yang dimaksudkan untuk mewujudkan keinginan Menteri Komunikasi dan Informatika tersebut. Yang jadi persoalan adalah kabupaten Garut memiliki wilayah yang sangat luas dan Relawan TIK Garut belum memiliki komisariat di setiap kecamatan. Kondisi ini menyulitkan Relawan TIK Garut untuk memastikan keberlanjutan program API di setiap kecamatan.

Karena Relawan TIK Indonesia mengawal pelaksanaan API di daerah, maka hambatan atau kelemahan apapun di sisi Relawan TIK Garut akan mempengaruhi program API. Dalam kasus di Garut, solusi yang mungkin ditempuh memperhatikan kerjasama atau komunikasi yang sudah terbangun adalah dengan mendorong Kwartir Cabang Garut untuk terlibat dalam program API ini. Gugus Depan yang merupakan pangkalan anggota Pramuka di lembaga pendidikan hampir tersebar di setiap kecamatan. 
Saka Informatika melalui Krida Bina Pengguna sedang memulai program pelatihan untuk pelatih bagi anggota Pramuka Penegak dan Pandega agar dapat melaksanakan empat layanan relawan TIK. Kumpulan tindakan API di tengah masyarakat merupakan layanan informasi serta literasi informasi dan TIK yang akan dilaksanakan oleh anggota Krida Bina Pengguna. Sementara itu Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut tengah menjalankan program Mobil Community Access Point, Desa Melek TIK dan Sejuta Domain Indonesia yang juga berkaitan dengan program API. 
Sekolah Tinggi Teknologi Garut, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut dan Relawan TIK Garut bersama unsur Kwartir Cabang Garut mengisi kelengkapan organisasi Saka Informatika. Sementara itu Relawan TIK Garut dan Saka Informatika menyandarkan konsep dan penerapan KPMI kepada Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sekolah Tinggi Teknologi Garut telah menandatangani piagam kerjasama dengan badan publik, organisasi masa, dan gerakan tersebut sehingga dipastikan semuanya dapat melaksanakan program API secara bersama-sama dalam rangka melaksanakan piagam kerjasama. Skema kerjasama di Garut sampai tahun 2020 sebagaimana tampak pada gambar  3.


Gambar 3. Skema Pendampingan Desa dengan Unsur Pentahelix

Dari skema tersebut API merupakan program dari Pemerintah, sementara KPMI merupakan program Pendidikan dan Komunitas. Dua program tersebut saling mengisi, di mana kemampuan anggota KPMI yang dibangun oleh instruktur Komunitas TIK sekolah oleh Relawan TIK Garut serta kemampuan anggota Krida Bina Pengguna yang dibangun oleh instruktur Saka Informatika Kwartir Pramuka Cabang Garut digunakan untuk melaksanakan layanan informasi dan literasi dalam program API. Program dan manusia dari organisasi dan gerakan tersebut merupakan aset bersama yang digunakan dalam lingkungan kerjasama yang disebut Technopark. 
Dalam kaitannya dengan API, Pusat Pelatihan meliputi Open Class Komunitas TIK dan Sanggar Bakti Saka tempat dipenuhinya spesifikasi kecakapan TIK oleh peserta program KPMI dan pelatihan Krida Bina Pengguna. Sertifikasi merupakan penilaian yang memastikan terpenuhinya spesifikasi kecakapan yang diperlukan untuk melakukan empat layanan relawan TIK. Dengan sertifikasi ini, personel Relawan TIK Garut ataupun Saka Informatika dipastikan memiliki kecakapan yang memadai untuk melaksanakan sekumpulan tindakan API. Selain itu kegiatan sertifikasi juga untuk profesi informatika. 
Khusus untuk pembentukan Smart Business di desa, Saka Informatika menyiapkan pendamping badan usaha desa melalui Krida Bina Usaha. Anggota Pramuka yang menguasai kecakapan khusus dalam Krida Bina Usaha dapat menjembatani produk dan jasa di desa dengan konsumen di dunia maya atau mendampingi badan usaha di desa sampai mampu melakukan pemasaran di internet secara mandiri. Perusahaan yang bergabung dan memiliki program Company Sosial Responsibility untuk badan usaha dapat menyelenggarakan program peningkatan kapasitas bisnis dan teknologi bekerjasama dengan Pendidikan (Perguruan Tinggi) bagi para pengusaha yang didampingi tersebut. 
Selain melaksanakan pelatihan secara mandiri atau bersama mitranya, lembaga pendidikan dapat terlibat dalam penyediaan Teknologi. Setiap Kelas dan Laoratoriumnya yang berisi pelajar dan mahasiswa Rekayasa Perangkat Lunak atau bidang Komputasi lainnya merupakan lokus-lokus pengembangan yang menyediakan Teknologi yang diperlukan dalam pembentukan Smart Village. Teknologinya sebagaimana teknologi milik perusahaan dapat dibawa oleh relawan TIK untuk diterapkan dan dilatihkan kepada masyarakat. Para pengembang di lembaga pendidikan tersebut bahkan dapat sekaligus berperan sebagai relawan TIK tersebut. Dukungan teknis seputar persoalan terkait teknologi tersebut diberikan secara online oleh pengembang teknologinya melalui helpdesk yang diperankan oleh stafnya atau oleh relawan TIK. Bantuan di lapangan dapat diperankan oleh relawan TIK yang tersebar di setiap kecamatan. 
Pada akhirnya, tanda munculnya kondisi Smart Village adalah keberadaan kantor elekrtronik di dunia maya yang digunakan oleh badan publik, badan usaha, serta pendidikan untuk menyampaikan layanan dan informasi publik serta kehadiran para penggunanya. Ketiganya menjadi perhatian mengingat tujuan akhir dari masyarakat informasi adalah keuntungan kompetitif dari industri informasi yang bersandar kepada karakter smart people sebagai akselerator dan konseptor yang dibentuk oleh lembaga pendidikan, smart business sebagai enabler yang dikembangkan oleh badan usaha, serta smart (public) service sebagai regulator yang diperankan badan publik dan harus bekerja efisien. Di luar itu semua, media merupakan unsur pentahelix lainnya yang berperan sebagai katalisator bagi industri informasi. Media juga mempersiapkan komunikasi di antara helix, menciptakan dorongan psikologis / pengaruh yang menggeser keadaan dari aras konseptual menuju praktik dan penerapan.


DAFTAR PUSTAKA

  1. R. Cahyana, "Aktivitas dan Kompetensi Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi," Garut, Insan Akademika, 2013. 
  2. R. Cahyana, "Peran Relawan Teknologi Informasi dalam Pemanfaatan Warung Internet Perdesaan," Algoritma, vol. 9, 2012. 
  3. R. Cahyana, "The stages, three-layer infrastructure, and functional level regulation for development of information society within of information technology volunteer actions," International Journal of Basic and Applied Science, vol. 3, no. 1, pp. 28-35, 2014. 
  4. R. Cahyana, "Model Analisis Sistem Informasi Kelompok Penggerak Masyarakat Informasi," in Konferensi dan Temu Nasional TIK untuk Indonesia, Bandung, 2015. 
  5. M. Acevendo, "ICTlogy," 24 March 2009. [Online]. Available: http://ictlogy.net/bibliography/reports/projects.php?idp=1284. [Accessed 2012].
  6. [6] "ANTARA News," 23 April 2016. [Online]. Available: http://www.antaranews.com/berita/556862/menkominfo--butuh-74000-relawan-tik-di-desa. [Accessed 12 Mei 2016].