Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Senin, 10 September 2018

Arti Penting Partisipasi Masyarakat bagi Perusahaan


Garut, 10 September 2018. Saat dalam perjalanan menuju Sekolah Tinggi Teknologi Garut, tepatnya di persimpangan jalan Mayor Syamsu dan jalan Subyadinata desa Jayaraga, saya melihat kabel membentang merintangi jalan. Kendaraan melaju perlahan karena khawatir tersangkut kabel dan memutuskan kabelnya. Saya pun menepikan motor dan mulai memotretnya dengan smartphone. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan. Saat melewati kabel tersebut, ternyata kabel itu hampir menyentuh helmet yang dikenakan. 

Setelah tiba di kantor, saya mulai mengunggah foto tersebut ke WAG (Whatsapp Group) Beranda KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) Garut, dengan harapan ada anggota KIM yang dapat menyampaikan informasi tersebut kepada pihak terkait. Saat itu saya tidak yakin kabel tersebut apakah milik PLN atau Telkom.  


Kiriman tersebut kemudian ditindaklanjuti oleh kang Tisna dengan menanyakannya kepada PLN di WAG Area Garut 2018. Dari WAG tersebut diperoleh informasi bahwa kabel tersebut bukan kabel listrik milik PLN, tetapi kabel fiber optic milik Telkom. 


Sementara itu saya pun mencoba mencari informasi dari kolega di Telkom, dan mendapat respon yang baik. Sekitar dua jam kemudian saya menerima kabar bahwa pihak Telkom telah memperbaiki bentangan kabel fiber optik tersebut. kemudian saya sampaikan di WAG KIM Garut. Informasi tersebut sekaligus membenarkan informasi yang diperoleh dari WAG Area Garut 2018.


Dalam teori manajemen jaringan, penanganan masalah jaringan komputer dilakukan melalui dua gaya, yakni menunggu laporan dari pelanggan dan sebaliknya. Perangkat lunak Network Monitoring digunakan untuk mendeteksi masalah jaringan sehingga dapat ditindaklanjuti sebelum mendapat laporan dari pelanggan. Pemanfaatan teknologi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan mutu layanan atau kenyamanan pelanggan. 

Namun mungkin masalah bentangan kabel yang tidak terdeteksi oleh perangkat lunak tersebut membuat tidak ada satupun pelanggan yang melapor. Dalam kondisi demikian, sumber laporan yang dapat diharapkan oleh pengelola jaringan adalah masyarakat. Masalahnya bisa membesar bila tidak segera ditangani. Kabel yang menjadi terputus karena tertabrak kendaraan menyebabkan penurunan tingkat kenyamanan pelanggan. Kecelakaan yang disebabkan karena jeratan kabel menyebabkan penurunan tingkat kenyamanan masyarakat umum.  

Potret komunikasi yang melibatkan masyarakat dan perusahaan yang diceritakan sebelumnya menggambarkan perhatian masyarakat terhadap dampak aset perusahaan dan pemanfaatan informasi yang baik oleh perusahaan. Setiap individu masyarakat yang terlibat dalam penyelesaian masalah melalui penyampaian / layanan informasi secara sukarela demi kepentingan umum dapat disebut sebagai relawan informasi. Layanan informasi terkait TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) tersebut dapat diperankan oleh anggota KIM atau relawan TIK. Perusahaan terbantu dengan layanan sukarela tersebut karena dengannya kenyamanan pelanggan atau masyarakat umum tetap terjaga. 

Minggu, 09 September 2018

Mahasiswa Informatika Garut Berwirausaha


Tidak terasa sudah hari minggu lagi. Seminggu yang lalu saya bersama keluarga mengunjungi objek wisata Situ Bagendit - Banyuresmi, tepatnya tanggal 2 September 2018. Anak-anak mengajak saya menaiki wahana air. Istri saya menyarankan untuk beli rujak dulu sebelum menaiki wahana tersebut. 

Di dekat tukang rujak itu fikiran saya terbang ke masa lalu saat membaca informasi di media sosial tentang mahasiswa informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang berjualan rujak untuk membiayai kuliahnya. Tapi saya lupa namanya, dan susah juga menemukan informasinya di media sosial. Tadinya mau tanya ke bapak tukanng rujak tersebut, tapi urung dilakukan karena beliau sedang sibuk melayani pelanggan. Hari ini baru saya temukan nama mahasiswanya di internet, yakni Asep Rohimat.



Saking sibuknya penjual rujak itu melayani pelanggan, kamipun terpaksa meninggalkannya, membuyarkan bayangan nikmatnya makan rujak beubeuk di situ Bagendit. Dalam perjalanan ke sisi lain situ Bagendit, saya melihat dari kejauhan ada es kepal Milo yang sempat viral di media sosial. Saya tawarkan ke anak-anak apakah mereka mau mencobanya (seperti maunya saya)?. Dan syukurlah mereka mau, hahaha. 

Begitu mendekat ternyata pedagangnya menyambut, dan saya mengenalnya. Dia adalah mahasiswa saya yang sekarang ini tengah akan melaksanakan sidang skripsi. Di tengah kesibukannya menyiapkan skripsi dia menyediakan waktu untuk menjalankan kegiatan wirausahanya. Pepatah bilang, "waktu adalah uang". 

Namanya Ridwan Nurdin, hari itu dia berjualan di situ Bagendit. Dia bercerita bahwa lapaknya juga dibuka di kampus. Dia sempat dihubungi teman-teman HIPMI untuk diajak bergabung. Saya sendiri pernah diajak dan menjadi pengurus HIPMI periode tahun sebelumnya. 

Syukurlah ada jajanan kesukaan istri saya juga di sana, sehingga kami sekeluarga jajan di lapak tersebut. Saya mengeluarkan uang 50 ribu untuk membayar jajanan yang dibeli dan tidak berniat mengambil kembaliannya karena merasa sebagai kakak tingkat dan wali prodi. Tetapi ternyata niat tersebut ditolak, setidaknya pahalanya sudah saya dapatkan. Mungkin Ridwan hanya ingin bersikap profesional. 

Mahasiswa berwirausaha bukan merupakan pemandangan asing di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sering kali saya melihat beberapa mahasiswi menawarkan jajanan ke kantor dan kelas yang sampai hari ini belum pernah saya beli karena dompetnya sering tidak terbawa ke kantor, hehehe. Beberapa organisasi kemahasiswaan juga membuka lapak dagang di sekretariatnya, termasuk Himpunan Mahasiswa Informatika yang saya bina. Wirausaha itu memang harus dipupuk sedari mahasiswa, bukan hanya karena persoalan kebutuhan biaya kuliah saja, tetapi juga untuk membangun pengalaman bisnis yang bermanfaat sebagai bekal di masa depan. 

Tetap semangat berjualan adik-adik semua !

Sabtu, 01 September 2018

Mengikuti Workshop Bebras Indonesia 2018


Jum'at, 31 Agustus 2018, saya bersama bu Dewi Tresnawati menghadiri undangan workshop dari Bebras Indonesia yang pada tahun ini diselenggarakan di Universitas Bina Nusantara. Kami berangkat dari Garut pukul 03.30 lebih agar dapat menghadiri acara pembukaan pukul 09.00. Kampus memberikan bantuan akomodasi untuk kami berdua agar dapat mengikuti kegiatan tersebut selama dua hari. Sudah dua tahun ini Sekolah Tinggi Teknologi Garut selaku Biro Bebras Indonesia telah melaksanakan Computational Thinking Challenge bagi siswa se Garut. 

Beberapa hari sebelumnya saya membantu komisariat kampus Relawan TIK Indonesia agar berkesempatan untuk menjadi biro Bebras Indonesia seperti Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Beberapa komisariat diundang oleh Bebras Indonesia, yakni Universitas Islam Nusantara, Universitas Singaperbangsa Karawang, Universitas Sains al-Qur'an Wonosobo, dan Universitas Lampung. Pada hari pelaksanaan, komisariat kampus Universitas Lampung berhalangan hadir. 

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, kami masih merupakan satu-satunya Sekolah Tinggi yang masuk di dalam daftar Biro Bebras Indonesia. Kebanyakan perguruan tinggi yang ditunjuk sebagai Biro adalah Universitas dan Institut. Sekolah Tinggi Teknologi Garut merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi Swasta di Priangan Timur yang ditunjuk sebagai pengelola kegiatan informatika bertaraf nasional tersebut. 

PERJALANAN MENJADI BIRO

Penunjukan Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai biro berawal dari silaturahmi. Saat itu saya masih menjadi sekretaris program studi Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Dalam kegiatan workshop kurikulum informatika di Institut Teknologi Bandung saya berkesempatan untuk becengkrama dengan ibu Inggriani Liem atau yang lebih banyak dikenal oleh mahasiswanya dengan nama ibu Ingeu. Dalam kesempatan tersebut saya menyampaikan kepada beliau bahwa Sekolah Tinggi Teknologi Garut setiap tahunnya mengundang dosen informatika Institut Teknologi Bandung sebagai pemateri Seminar dan Pelatihan Masyarakat Informasi tahunan. Kami berniat mengundang beliau sebagai pemateri di kesempatan berikutnya. 

Pada tahun 2016, Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia meminta kami untuk menjadi mitra penyelenggara kegiatan Agen Perubahan Informatika untuk pelajar di Garut. Sebagai Relawan TIK Indonesia saya selalu siap membantu program Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia tersebut. Dan karena saat itu saya sudah menjadi ketua pengurus Satuan Karya Pramuka Informatika Garut, maka saya mengemas kegiatannya menjadi kegiatan kolaboratif antara Kementrian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Dinas Komunikasi dan Informatika kabupaten Garut, Sekolah Tinggi Teknologi Garut, Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Garut, Relawan TIK Indonesia, dan Satuan Karya Pramuka Informatika. Selain akan ada sosialisasi Agen Perubahan Informatika dari Direktur Pemberdayaan Informatika, juga akan ada sosialisasi Satuan Karya Pramuka Informatika dari saya. Agar ruang amaliah Agen Perubahan Informatika dan Satuan Karya Pramuka Informatika dapat difahami oleh para pelajar, saya mengundang ibu Inggriani Liem untuk memaparkan materi tentang Desa Pintar. Topik tersebut dipilih karena Agen Perubahan Informatika dan Satuan Karya Pramuka Informatika memiliki misi membangun masyarakat informasi dari desa. 


Beberapa waktu setelah kegiatan kolaboratif tersebut, saya silaturahmi ke bu Inggriani Liem, sekalian menanyakan kinerja studi lanjut salah satu dosen yang menjadi bimbingan tesis beliau. Dalam kesempatan tersebut beliau menawarkan Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai biro Bebras Indonesia. Saat itu saya menyatakan kesiapan untuk menjadi Biro. Dan setelah itu saya membentuk tim dari kalangan dosen untuk menyelenggarakan Computational Thinking Challenge tingkat nasional pertama untuk wilayah Garut. 

ROMANTIKA BIRO

Di hari pertama Workshop, setiap Biro angkatan I (2016) dan II (2017) diberi ruang untuk menyampaikan pengalaman dan masukannya kepada Bebras Indonesia. Sekolah Tinggi Teknologi Garut mendapat kesempatan tersebut pada urutan ketiga belas. 


Di depan biro lainnya saya menjelaskan kronologis penunjukan Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai biro. Saya juga menjelaskan bahwa pada tahun 2016 itu Garut sedang mengalami musibah bencana banjir bandang, dan Sekolah Tinggi Teknologi Garut menjalankan program Relawan TIK untuk Bencana yang menangani perangkat TIK terdampak bencana. Ada dua sekolah yang menjadi fokus utama bantuan, yakni SMP dan SMA PGRI Garut. Untuk membangun semangat kembali, kami mengundang siswa dari dua sekolah tersebut untuk ikut serta dalam Computational Thinking Challenge 2016.


Garut saat itu merupakan salah satu kabupaten tertinggal di provinsi Jawa Barat. Ibu Dewi Tresnawati menyampaikan kepada saya bahwa siswa SMAN 1 Garut berhasil masuk 10 besar Computational Thinking Challenge 2016. Informasi dari guru koordinator lokal Bebras SMAN 1 Garut, siswi yang berhasil masuk di posisi 10 besar tersebut kini merupakan mahasiswa pertambangan Institut Teknologi Bandung. Informasi tersebut sebagian di antaranya saya sampaikan di dalam kesempatan tersebut untuk menunjukan adanya semangat kompetitif putera daerah dalam kompetisi nasional. 

Peserta Computational Thinking Challenge tahun 2016 dan 2017 semuanya berasal dari sekolah swasta dan negeri. Kunci sukses pelibatan peserta adalah relasi tim dengan guru yang dibangun melalui kegiatan kampus atau karena adanya ikatan lainnya. Dan saya menjelaskan manfaat Bebras bagi dosen tersertifikasi, yakni dapat dituliskan dalam Beban Kerja Dosen sebagai pengabdian kepada masyarakat dalam wujud pendampingan sekolah, atau kegiatan penunjang dalam wujud kepanitiaan antar lembaga.

MASA DEPAN BIRO

Ada beberapa pemateri yang tampil dalam kegiatan workshop tersebut, di antaranya bapak Totok Suprayitno - Kepala Puslitbang Kemendikbud Republik Indonesia. Beliau menyampaikan bahwa pertemuannya dengan ibu Inggriani Liem di Pelatihan Nasional Tim Olimpiadi Komputer Indonesia Bogor menginsfirasi kelahiran kembali Mata Pelajaran TIK dalam bentuk baru, yakni Mata Pelajaran Informatika yang diberlakukan sebagai mata pelajaran pilihan dari tingkat PAUD sampai dengan kelas 12. Kampus yg menjadi Biro Bebras Indonesia diminta utk membantu proses pembelajaran Mata Pelajaran Informatika atau mendampingi guru mata pelajaran tersebut. Beliau akan mengusulkan perekrutan 100 ribu guru Informatika untuk melaksanakan pembelajaran mata pelajaran tersebut.  


Hal tersebut jika terwujud menjadi angin segar bagi perguruan tinggi penyelenggara program studi Informatika, khususnya yang menjadi Koordinator Wilayah / Biro Bebras Indonesia. Perguruan tinggi akan memiliki jejaring dengan sekolah terkait pendampingan tersebut. Selain membuka kesempatan branding, juga membukakan pintu kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan penunjang dalam bidang informatika secara berkelanjutan. Ibu Inggriani Liem menambahkan, bahwa diharapkan Komunitas Bebras menyediakan kegiatan Tridharma, termasuk penelitian dalam topik Computational Thinking.


Dalam pemaparannya tentang bangunan mata pelajaran Informatika, ibu Inggriani Liem menunjukan skemanya di mana TIK sebagai atap dan Computational Thinking sebagai landasan dilengkapi sejumlah pilar. Di antara pilarnya adalah berkaitan dengan dampak pemanfaatan informasi dan TIK / media yang menjadi fokus Relawan TIK Indonesia dan Kelompok Informasi Masyarakat. Dengan demikian, mata pelajaran informatika ini membawa aktivitas literasi informasi yang dilakukan oleh Kelompok Informasi Masyarakat, dan literasi digital (informasi dan media / TIK) oleh Relawan TIK Indonesia ke dalam kurikulum sekolah. Dengan kata lain, pengajaran literasi digital menjadi terintegrasi dengan sistem sekolah. Hal ini sejalan dengan deklarasi Brussels, di mana pendidikan dan pelatihan TIK dapat diintegrasikan dengan sistem sekolah reguler. 


JALAN BARU MENUJU SURGA

Di hari kedua tanggal 1 September 2017, bapak Adi Mulyanto menanyakan kesediaan saya untuk bergabung dalam Organizing Committee Bebras Indonesia. Saya menyatakan kesiapan selama tugasnya bisa saya kerjakan. Dan akhirnya saya masuk dalam daftar kepengurusan 2018 - 2021 sebagai anggota tidak tetap Organizing Committee yang direkrut dari Biro. Tugas relawan ini tentu saja akan menyita kegiatan penunjang lainnya seperti di Relawan TIK Indonesia, Satuan Karya Pramuka Informatika Garut, Forum Kelompok Informasi Masyarakat Garut, dan Forum Dosen Indonesia. Saya harus mengelola waktu dengan baik agar kepercayaan yang diamanatkan dari berbagai organisasi tersebut dapat saya tunaikan dengan baik sehingga memudahkan perjalanan saya menuju Surga. Sebagai relawan saya bekerja demi amal untuk kepentingan umum. 


Senin, 27 Agustus 2018

Temu Darat Pertama Saya di Munas Semarang


Forum Dosen Indonesia adalah perkumpulan dosen berbadan hukum yang digagas pendiriannya oleh sejumlah pegiat Facebook GDI (Grup Dosen Indonesia). Berdiri pada tanggal 24 Agustus 2013. Sebagai anggota komunitas maya GDI, saya menyediakan diri secara sukarela membantu organisasi ini dalam pekerjaan terkait TIK. Dalam rentang waktu dari tanggal 18 - 22 Januari 2014 saya membantu pembuatan logo dan situs web FDI. Didorong oleh totalitas kerelawanan, saya gratiskan semuanya untuk FDI, termasuk sewa hosting web nya. Saya memahami bahwa relawan tidak hanya bersedekah waktu dan keterampilan saja, tetapi juga uang. 

Pada awalnya logo FDI hanya lingkaran merah dengan teks FDI di tengahnya. Dalam perjalanan perancangan logo tersebut saya menawarkan penambahan tiga warna di sekeliling lingkaran merah tersebut yang mewakili Tridharma. Tidak lupa saya sampaikan makna relasi warna dengan Tridharma nya sebagai berikut : 1) Kuning / Emas : Pendidikan, mencetak generasi emas Indonesia, 2) Biru Langit : Penelitian, seperti langit tanpa batas yg dapat dicapai sebatas kekuatan manusia, 3) Hijau : Pengabdian masyarakat yang lebih bersifat kerelawanan, bekerja demi amal, 4) Merah dan putih : Indonesia. 


Tidak berhenti di logo dan situs web, saya juga ikut serta dalam diskusi perancangan terkait grafis lainnya, seperti rancangan bendera / panji FDI pada tanggal 13 April 2015 yang ternyata bermanfaat dan disetujui oleh pengurus pusat. Saya juga membantu mendaftarkan FDI ke Techsoup Asia sehingga FDI dapat memanfaatkan bantuan Google for Nonprofit. Semua itu saya lakukan semata karena kesadaran bahwa saya adalah relawan TIK. Tidak perlu temu darat untuk beramal sukarela, selama layanan relawa TIK bisa dilaksanakan secara online. 


Bertepatan dengan Milad FDI yang ke-2 diselenggarakan MUNAS (Musyawarah Nasional) FDI di Bandung, tanggal 24 - 25 Agustus 2015. Walau saya ikut terlibat dalam pembuatan situs web MUNAS nya, namun saya belum bisa hadir dalam temu darat anggota FDI yang kedua tersebut. Mungkin karena amal relawan tersebut nama saya dituliskan dalam jajaran Dewan Pengurus Pusat FDI yang diputuskan pada tanggal 25 September 2015. Sebenarnya dengan atau tanpa menjadi pengurus, insya Allah saya membantu FDI selama mampu. 

Usulan grafis terakhir pada tahun 2017 adalah rancangan sampul buku antologi berjudul : "Sang Pendidik : Jalan Terang Penuh Cinta". Alhamdulillah, rancangan tersebut digunakan oleh perancang sampulnya dengan perbaikan pada beberapa bagian hingga buku tersebut diterbitkan. Tulisan pengalaman dosen dari berbagai perguruan tinggi, termasuk saya, ada di dalam buku tersebut.


Tanggal 12 Juli 2018, serta 18, 23, dan 24 Agustus 2018, bu Irma, sekretaris FDI menanyakan kepastian saya hadir di MUNAS FDI Semarang. Saya menjawab, diupayakan datang. Saya dikondisikan sekamar dengan pak Yanuardi Syukur yang akan menjadi salah satu pemateri di MUNAS FDI. Saat itu saya merasa perlu datang karena selain belum pernah temu darat, juga karena laptop bu Irma belum berhasil dipasangi Office 365 yang dibeli melalui saya, walau sudah dicoba dipasang di mana-mana.

Alhamdulillah, ada bantuan dana dari Area 306 untuk akomodasi saya ke Semarang. Saya harus singgah dulu ke Subang satu hari sebelum berangkat ke Semarang. Ada acara reuni GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin) yang harus saya ikuti di Subang, di mana saya dipercaya untuk menyampaikan pengalaman sebagai anggota dan pengurusnya. 

Acara GMA tersebut bersamaan harinya dengan keberangkatan saya ke Semarang. Kakak saya membantu menguruskan tiket Pesawat pulang-pergi Semarang-Bandung. Dan seperti biasa pesawatnya delay hingga satu jam lebih. Saya segera menghubungi bu Irma bahwa kemungkinan datang setelah pak Yanuardi mendarat di Semarang sehingga mungkin tidak bisa memenuhi permintaan bu Irma untuk pergi bersama-sama ke Hotel Gracia. 

Setibanya di Semarang, saya dihubungi oleh bu Irma. Beliau menanyakan posisi saya di Bandara, karena beliau dan yang lainnya setelah menjemput pak Yanuardi terus jalan untuk mencari makan. Saya sampaikan bahwa saya sudah tiba dan tidak perlu menjemput ke Bandara. Teman saya dari Relawan TIK Semarang batal menjemput karena istrinya sakit. Tadinya saya mau memanfaatkan voucher Taksi yang saya peroleh di acara Sebangsa. Namun taksi yang ditunggu tidak terlihat. Akhirnya saya menggunakan taksi lainnya.

Setibanya di hotel langsung saya menanyakan harga kamar. Lalu saya hubungi kakak untuk membantu booking melalui internet supaya harganya lebih murah. Hari itu akan ada banyak peserta MUNAS yang datang, dan mungkin saja jumlah kamar hotel yang disiapkan oleh panitia belum memadai. Dan ternyata benar saja, ada beberapa peserta yang tidak tertampung. 

Kamar yang saya pesan bermanfaat sehingga ada dua peserta yang bisa memanfaatkannya. Saya terbangun dari tidur yang kedua saat pak Djadja masuk ke kamar selepas subuh. Setelah salat subuh saya berbincang dengan pak Djadja, mulai dari kepemimpinan di Perguruan Tinggi hingga kepemimpinan di FDI. Beliau menyarankan agar saya ikut bursa calon ketua FDI atau menjadi sekretaris FDI. Namun saya sampaikan ke beliau bahwa saya merasa nyaman membantu FDI di bidang teknologi informasi. Lagi pula saya tidak bisa menghadiri MUNAS karena harus menghadiri rapat kampus.  

Temu darat pertama saya adalah dengan bu Irma. Beliau menunggu saya di depan hotel yang di belakang. Baru keesokan harinya saya bertemu dengan pengurus FDI lainnya yang selama ini berinteraksi di media sosial Facebook dan Whatsapp. Hari pertama MUNAS diisi oleh seminar. Sepanjang hari tersebut saya gunakan untuk memasang Office 365 di laptop nya bu Irma. Alhamdulillah, setelah berjam-jam berusaha akhirnya terpasang juga. 

Setelah mencicipi empek-empek Palembangnya bu Raden Ayu, saya pamit kepada semuanya karena harus segera menuju Bandara. Saya sampai di Bandung lepas Maghrib. Setelah itu saya menjalankan motor NMAX agak santai ke Garut, dan menyempatkan makan malam di Ampera. Sayangnya, makanan yang saya inginkan tidak ada, udang galah yang biasanya tersedia di rumah makan tersebut. Temu darat tersebut semoga memberikan tambahan rasa silaturahmi, yang tidak sekedar bertemu raga, tetapi tersampaikannya amaliah kasih di alam nyata. Dapat tersenyum di alam nyata merupakan tambahan sedekah bagi seorang relawan TIK. 


Minggu, 26 Agustus 2018

Temu Kangen Generasi Muslim al-Muhajirin


Subang, 26 Agustus 2018. Hari ini saya memenuhi undangan panitia Temu Kangen GMA (Generasi Muslim al-Muhajirin) di kolam renang Ciheuleut Subang. Ada tugas yang harus ditunaikan dalam acara tersebut, yakni menyampaikan pengalaman selama aktif di Generasi Muslim al-Muhajirin. Karena itulah saya menyempatkan diri untuk ke Subang sebelum siangnya berangkat ke Semarang untuk menghadiri Musyawarah Nasional Forum Dosen Indonesia. 

Ternyata hari itu juga merupakan Milad GMA yang ke-25. Panitia sudah menyiapkan kue, lengkap dengan angka 25. Potongan pertama dilakukan oleh kang Heri yang dianggap yang paling dituakan oleh semua anggota GMA yang hadir. Potongan pertama tersebut diberikannya kepada ketua umum GMA pertama yang juga merupakan founder, mas Yudho Hertono Rifangi. 


Di dalam acara tersebut, saya menceritakan kronologis bergabung dengan GMA, pengalaman, serta pengaruh GMA bagi diri sendiri dan masyarakat. Diceritakan pada sore hari di tahun 1993 itu saya pulang dari kegiatan Pramuka dengan fikiran kalut oleh sebab konflik kubu-kubuan dalam kepengurusan penggalang yang saya pimpin. Tepat depan jembatan masjid al-Muhajirin, mas Yudho yang tengah duduk di jembatan tersebut memanggil saya untuk berbincang. Saya lupa isi lengkap pembicaraannya, hanya yang saya ingat, itulah kali pertama saya diberikan jalan untuk mengenal Islam sebagai solusi untuk keluar dari kekalutan tersebut.

Melalui mas Yudho saya dikenalkan sebuah buku berjudul Minhajul Abidien karya Imam al-Ghazali r.m. Buku tersebut sangat berpengaruh dalam perjalanan spiritual awal saya pada masa studi saya di SMA Negeri 1 Subang. Buku tersebut merupakan buku pembuka, sebelum buku-buku karangan guru-guru tarikat Syadziliyyah berdatangan saat saya kuliah di Garut. Saya menyebut fase tersebut sebagai fase langit, karena kekhasannya dalam "ketidakhadirannya" di "dunia".

Yang membuat saya begitu terikat dengan pemikiran tarikat ini adalah buku kedua yang ditunjukan oleh mas Yudho, yakni al-Hikam karya Ibnu Athoillah r.m. Buku itu sangat menakjubkan, sehingga walau dikhatamkan berulang-ulang selalu ingin mebacanya lagi. Karya spiritual ini ajaib karena mampu "menggerakan ruh". Dan karena penyaksian inilah saya semakin terikat dengan pemikiran tarikat ini. Oleh karena itulah anak lelaki saya yang kedua diberi nama Syazwan Asy-Syadziliyyah sebagai monumen kecintaan saya kepada para guru tarikat ini, khususnya Ibnu Athaillah r.m. 

Selama menjadi anggota GMA saya lebih banyak menghabiskan waktu di masjid al-Muhajirin dan di rumah mas Yudho dari pada di rumah. Bahkan sering kali saya baru pulang malam hari ke rumah atau menginap di rumah mas Yudho. Di rumah itu saya sering mendengar pemikiran Cak Nun dari tape dan menyanyikan lagu Kyai Kanjengnya yang berjudul Tombo Ati. Dakwah Islam dengan pendekatan socio-kulturan memang menjadi penciri GMA.

GMA tumbuh di tengah masyarakat yang saat itu sangat partisipatif. Kalangan mudanya aktif di organisasi kepemudaan (karang taruna), dan kalangan tua nya aktif di DKM. GMA menjadi jembatan antara kalangan muda dan tua. Sebagian tokoh kalangan tuanya ada yang tidak sejalan dengan pendekatan socio-cultural, sehingga saat GMA membawa keseniaan berupa nasyid gamelan atau teater ke dalam lingkungan masjid, hal tersebut menimbulkan persoalan. Tetapi GMA berhasil menjaga silaturahmi, walau disebut sebagai anak muda yang "mempermainkan agama".

Pengalaman memanfaatkan media itulah yang juga mempengaruhi saya saat menjadi santri di Ponpes Mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Garut al-Musaddadiyah. Saya ingat kala itu organisasi santri yang saya pimpin mengundang santri siswa untuk menyimak video keislaman yang diputar melalui TV milik KH Asep Saepudin Musaddad - ketua Ponpes di pelataran masjid kecil al-Musaddadiyah. Beberapa waktu kemudian, KH Abdullah Margani Musaddad - ketua Ponpes Siswa al-Musaddadiyah membeli proyektor dan layarnya untuk kegiatan nobar santri mingguan di aula mini Ponpes. Penggunaan media (proyektor) / multimedia dalam dakwah ini sebenarnya merupakan penciri Prof KH Anwar Musaddad. 

Beberapa tahun yang silam saya mendorong mahasiswa pegiat TIK di kampus untuk melebarkan manfaatnya ke luar kampus. Saya ingin agar manfaat relawan dalam bidang TIK bagi institusi juga dirasakan institusi lainnya melalui relawan pelajar. Kumpulan relawan mahasiswa dan pelajar tersebut disebut Kelompok Penggerak TIK dan Kelompok Pengembang Platform TIK yang kemudian dilebur dalam satu wadah bernama Komunitas TIK dan bersatu di bawah Komunitas TIK Garut. Atas peranannya di tengah masyarakat, Komunitas TIK Garut mendapatkan penghargaan sebagai Komunitas TIK terbaik se Jawa Barat dari Gubernur Jawa Barat dan Bupati Garut. Upaya membangun jejaring pegiat TIK dari kalangan pelajar tersebut terinsfirasi dari Ikatan Pelajar Muslim Subang yang merupakan underbow nya bidang Pendidikan dan Dakwah GMA. 

Walau demikian, ada masa di mana saya keluar dari kebiasaan praktik socio-culture GMA saat mulai membaca karya pemikiran Ibnu Taimiah, Ibnul Qayyim Jauziyah, Ibnul Jauzi, dan lain sebagainya. Di antara praktik yang saat itu mulai saya tidak sepakati adalah tentang bersatunya ikhwan dan akhwat dalam pengajian cahaya. Saya adalah satu-satunya anggota dan pengurus GMA yang hadir dalam pengajian tersebut di belakang hijab dengan niat menghijabi diri dari akhwat. Era tersebut saya sebut sebagai era bumi. 

Namun syukurlah ikatan hati dengan Ibnu Athaillah ini yang membuat saya kembali bisa bersikap lunak terhadap tradisi dan memahami bahwa Islam dapat tumbuh di dalam local socio-culture. Walau demikian, perjalanan saya mengembara di alam pemikiran langit dan bumi memberi bekal dalam berinteraksi dengan kedua kelompok yang dianggap saling besebrangan ini. Saya mempelajari sikap moderat di tengah perbedaan dua kelompok ini dari Ibnul Qayyim Jauziyah melalui karyanya Madarijus-Salikin dan dari KH Choer Affandy saat mengaji buku Akidah Islamiyahnya di Ponpes al-Musaddadiyah, walau dalam praktiknya di media sosial banyak dimusuhi oleh kedua kelompok tersebut karena disalahfahami sebagai keberpihakan kepada salah satu kelompok.

Alhamdulillah, hari itu saya merasa senang menyampaikan ucapan terima kasih kepada mas Yudho dan anggota lainnya yang ikut membentuk Keislaman saya selama di GMA. Saya menyampaikan bahwa sedekah jariyah yang berbuah amal kebajikan penerimanya menjadi pahala atau investasi akhirat yang tidak terputus, yang harus disyukuri. Selepas salat Dzuhur dan makan siang, saya mohon pamit kepada semua anggota GMA yang hadir karena harus berangkat ke Bandung untuk mengejar waktu boarding di Bandara Husein. Dalam perjalanan menuju Bandung, saya mengingat tanggapan mas Yudho atas pemaparan pengalaman saya tersebut, bahwa manfaat GMA bagi kehidupan akan dicapai oleh mereka (anggota GMA) yang ikhlas berbuat semata mengharap ridha Allah. Mardhatillah ini merupakan ajaran utama beliau di GMA yang sangat diingat oleh banyak anggota dan pengurus GMA hingga kini. Semoga Allah membimbing kita untuk senantiasa Mardhatillah. Amin. 


Senin, 06 Agustus 2018

Kurikulum Informatika untuk Mewujudkan Gagasan Kyai Anwar Musaddad


Kurikulum Prodi (Program Studi) Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang baru dibuat untuk membangun sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa sesuai visi atau luaran pembelajaran Prodi. Beberapa matakuliah di dalamnya ada yang membentuk pondasi, pilar, dan atap bangunan tersebut. Tahun pertama difokuskan pada pembangunan pondasi bangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa. Tahun kedua hingga ketiga difokuskan pada pembangunan pilar bangunannya. Dan tahun keempat difokuskan pada pembangunan atap bangunan yang merupakan puncak bangunannya.  

Pemahaman mahasiswa terhadap kehidupan sosial khas dan ragam budaya di Indonesia dibangun melalui matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar yang berada dalam kelompok matakuliah Penciri Perguruan Tinggi. Mahasiswa didorong secara aktif untuk turut serta memetakan aktivitas sosial dan warisan budaya lokal Garut dengan menggunakan teknologi. Pengetahuan dan pengalaman lapangan tersebut diharapkan dapat mendekatkan mahasiswa kepada kearifan lokal sehingga dapat menjadi insfirasi atau pegangan dalam menghasilkan luaran pengajaran atau pemanfaatan teknologi / aplikasi informatika. Hal ini selaras dengan visi PS yang menekankan luaran harus berbasis kearifan lokal. Matakuliah penciri perguruan tinggi ditentukan memperhatikan visi PS. 

Visi : Menjadi Penyelenggara Program Studi Informatika Yang Unggul di Bidang Rekayasa Perangkat Lunak dengan Luaran Yang Berdaya Saing Global Berbasis Kearifan Lokal pada Tahun 2030

Pengetahuan dan pengalaman lapangan tersebut diharapkan dapat memudahkan mahasiswa untuk memahami Pancasila yang merupakan konsensus hidup bersama dari bangsa Indonesia yang memiliki karakteristik sosial khas nusantara dan budaya yang beragam. Penerimaan terhadap kekhasan karakteristik sosial dan keragaman budaya Indonesia menguatkan penerimaan mahasiswa terhadap Pancasila. 

Budaya masyarakat Indonesia tentu saja berkembang sebagaimana budaya bangsa lainnya, di antaranya dipengaruhi oleh perkembangan pesat teknologi informasi dan komunikasi. Indonesia sebagaimana bangsa lainnya tengah memasuki era revolusi industri 4.0 dengan struktur budaya baru yang dikenal dengan masyarakat informasi. Tujuan umum masyarakat informasi adalah mendapatkan keuntungan kompetitif dari informasi yang tersedia secara global menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Penyediaan informasinya melibatkan berbagai jenis sistem informasi yang aktivitasnya ditunjang oleh komponen sumber daya teknologi informasi (perangkat lunak, perangkat keras, perangkat jaringan, dan perangkat data), serta sumber daya manusia (pengguna akhir dan pengguna spesialis). 

Untuk melengkapi pemahaman mahasiswa terhadap budaya Indonesia yang berkembang, khususnya terhadap masyarakat informasi Indonesia sebagai budaya baru di Indonesia, maka diberikan matakuliah Komputer dan Masyarakat yang menjelaskan bagaimana masyarakat memanfaatkan komputer dalam kehidupannya sehari-hari. Pemahaman mahasiswa terhadap sistem informasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat informasi secara personal atau di dalam organisasi sebagai sumber informasi dibangun melalui matakuliah Sistem dan Teknologi Informasi. Keterampilan teknologi informasi dan komunikasi dasar yang dikuasai oleh pengguna akhir diberikan melalui matakuliah praktikum Sistem dan Teknologi Informasi agar mahasiswa dapat menjadi bagian masyarakat informasi atau berperilaku sebagaimana halnya individu dalam masyarakat informasi. Dengan demikian mahasiswa telah menempuh dua tahapan penting dalam membangun struktur budaya masyarakat informasi, yakni penyadaran serta pelatihan teknologi informasi dan komunikasi dasar. Hal tersebut sejalan dengan semboyan Prodi yakni the Power of Digital Culture

Visi PS mengamanatkan agar luaran pembelajaran mahasiswa berdaya saing global. Sementara budaya baru masyarakat informasi di era revolusi industry 4.0 mengkondisikan setiap individu untuk menguasai dan mengendalikan informasi di dunia nyata dan maya agar mendapatkan kesuksesan atau daya saing global. Matakuliah Bahasa Inggris diberikan agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk berkomunikasi yang memudahkan akses serta penyebaran data dan informasi global.

Prof KH Anwar Musaddad merupakan tokoh nasional yang ikut serta merumuskan gagasan Pesantren Luhur. Beliau mendirikan Yayasan al-Musaddiyah untuk mewujudkannya gagasan tersebut. Gagasannya diwujudkan dalam boarding schools dengan tujuan untuk mencetak socio-religious leader. Prodi Informatika Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang berada di bawah naungan Yayasan al-Musaddadiyah mengemban amanat mewujudkan gagasan tersebut. Mahasiswanya harus dibentuk sebagai pemimpin di tengah masyarakatnya yang selalu mempertimbangkan faktor atau melibatkan kombinasi elemen sosial dan agama. Prof KH Anwar Musaddad menyebutkan sifat pemimpin tersebut, antara lain : tidak emosional, terbuka, berorientasi ke depan, tidak “kurung batok”, efisien, dan produktif. Hal tersebut dapat mewujudkan pribadi Pancasilais yang Berketuhanan YME dan berkeadilan sosial. 

Matakuliah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah merupakan landasan bagi pembangunan pribadi socio-religious leader. Matakuliah kelompok penciri perguruan tinggi ini disediakan upaya untuk mempertahankan Sekolah Tinggi Teknologi Garut agar senantiasa menjadi boarding school, sebagai upaya Prodi dalam melanjutkan gagasan Pesantren Luhur Prof KH Anwar Musaddad selaku pendiri Yayasan al-Musaddadiyah. Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah dipilih oleh Prof KH Anwar Musaddad sebagai elemen agama yang membentuk socio-religious leader. Karakteristik pribadinya dibangun oleh sikap, pengetahuan, dan keterampilan Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah yang meliputi akidah, akhlak / adab, dan ibadah / amaliah Ahlus-Sunnah wal-Jama’ah

Elemen sosialnya diidentifikasi oleh mahasiswa dari matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, Komputer dan Masyarakat, dan Pancasila. Pemahaman terhadap struktur budaya baru yang dibentuk oleh matakuliah Komputer dan Masyarakat serta penempatan diri di dalamnya melalui matakuliah Sistem dan Teknologi Informasi membantu penciptaan karakter socio-religious leader yang berorientasi ke depan. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi membentuk karakter efisien dalam bertindak. 

Komunikasi efektif sangat penting bagi semua pemimpin. Agar menjadi efektif, pesan yang mengalir antara pengirim dan penerima dalam proses komunikasi harus bebas dari semantic noise. Matakuliah Bahasa Inggris dan Indonesia disediakan untuk mengatasi noise tersebut. Kesuksesan mahasiswa dalam mengentaskan noise tersebut dapat menjadikan dirinya sebagai socio-religious leader yang efisien dan produktif. Kondisi tanpa semantic noise menjauhkan mahasiswa dari kesalahfahaman yang dapat memicu emosi. Idealnya mahasiswa atau lulusan sebagai socio-religious leader mampu bersikap tidak emosional, namun setidaknya socio-religious leader dapat menghindarkan diri dari segala kemungkinan yang dapat memicu emosi. 

Penguasaan Bahasa Indonesia dan Inggris memberi bekal bagi mahasiwa untuk bepergian jauh di dunia nyata dan maya sehingga tidak “kurung batok”. Penguasaan tersebut juga menunjang produktifitas dan kualitas publikasi luaran pembelajaran dan lainnya. Matakuliah Bahasa diletakan pada semester pondasi bangunan (satu dan dua) karena menunjang pembangunan pilar dan atap bangunan sikap, pengetahuan, dan keterampilan mahasiswa. Pengalaman  dan pemahaman terhadap keragaman dapat membentuk sifat terbuka. 


Senin, 30 Juli 2018

Mengawal Generasi Digital

PRODUKTIF DENGAN INTERNET

Menurut laporan APJII, internet di Indonesia paling banyak digunakan dlm bidang Pendidikan adalah utk membaca artikel dan video. Dgn demikian produk industri konten yg dapat dihasilkan dan dimanfaatkan oleh pelajar adalah artikel dan video. Tidak heran banyak pelajar yg sukses menjadi seleb atau ikutan di medsos dan menghasilkan banyak rupiah.

Internet memberikan kesempatan konsumen yg lebih luas, dan materi produksi yg lebih banyak. Sementara pengikut medsos yg banyak memberikan keuntungan kompetitif bagi produsen konten.

Pelajar sekarang yg merupakan Digital Native mampu Multitasking dgn bantuan TIK. Mereka bisa menerbitkan artikel atau video di internet dan menghasilkan uang tanpa mengganggu kegiatan belajar. Hanya saja perlu pendampingan utk memastikan produk industri kontennya tdk destruktif.

KONSELOR DUA ALAM

Secara khusus guru BK dan dosen wali berperan sebagai konselor bagi peserta didik, diantaranya agar ancaman yg mempengaruhi proses pengajarannya bisa ditangani. Lingkungan eksternal sekolah merupakan salah satu sumber ancaman yg meliputi keluarga dan kawan bermain / masyarakat.

Internet telah melebarkan lingkungan eksternal sekolahnya menjadi lebih luas lagi. Hal tsb membuat ancamannya menjadi semakin besar. Banyak pengguna internet yg memanfaatkan komunitas maya utk berperilaku buruk yang berdampak buruk bagi diri, orang lain, dan masyarakat luas. Dan peserta didik yg memasuki komunitas maya dapat menjadi pelaku dan mangsa di ruang bebas tersebut.

Adakalanya perilaku buruk di dunia maya turut berpengaruh pada perilaku di dunia nyata. Dan Konselor memastikan perilaku buruk peserta didik dapat dikendalikan atau diperbaiki agar luaran pembelajaran terkait sikap bisa dicapai serta proses dan lingkungan pengajaran tetap kondusif.

Dunia nyata dan maya memberikan pengaruh terhadap perilaku peserta didik, oleh karenanya setiap konselor jaman now harus terhubung ke internet, memiliki akun, dan memasuki komunitas maya yg dikunjungi oleh para peserta didik. Konselor harus memahami perilaku di komunitas maya agar dapat meracik obat yg tepat utk mengobati perilaku buruk peserta didiknya.

Lebih jauh, konselor, sekolah, atau pemerintah hrs memiliki sistem pendidikan yg mampu mengembangkan karakter digital nusantara yg cerdas (sikap aman bagi semua orang), kreatif (keterampilan menghasilkan konten unik dan berkualitas), dan produktif (keterampilan membagikan konten yg bermanfaat / menguntungkan bagi diri sendiri dan orang lain) dgn menjadikan nilai dan norma budaya nusantara dan agama yg dianutnya sebagai insfirasi dan batasan.

Rinda Cahyana, Lembang, 29 Juli 2018

Minggu, 29 Juli 2018

Google Earth Outreach untuk Peningkatan Kapasitas


Bersama Manajer Program Tomomi Matsuoka

Hari itu Leni Fitriani memberi kabar melalui WA (Whatsapp) bahwa pengajuannya untuk ikut serta dalam kegiatan Google Earth Outreach perdana ditanggapi oleh Google. Saya pun cek email, dan ternyata juga disetujui. Masalahnya adalah lokasinya di Jakarta dan pelaksanaannya pagi hari. Seharusnya ada tiga orang dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut yang ikut dalam kegiatan tersebut. Tapi ternyata ibu Dewi Tresnawati batal mendaftar. Jadi dosen yang ikut dalam kegiatan peningkatan kapasitas tersebut hanya saya dan Leni Fitriani.

Saya memikirkan dua pilihan pergi ke lokasi kegiatannya, yakni berangkat dari Garut pukul dua pagi dan langsung mengikuti kegiatan atau berangkat satu hari sebelumnya dan menginap. Tidak lupa saya mencari cara agar ada bantuan dana untuk keperluan kegiatan tersebut. Sumber pertama dana tidak cair, tetapi syukurlah masih ada dana bantuan alumni untuk Tridharma yang bisa dimanfaatkan. Leni Fitriani siang itu mencari penginapan termurah di daerah terdekat.  

Malam itu Leni Fitriani datang diantar suaminya ke rumah. Kami berangkat dari rumah sekitar pukul 19.30. Malam itu kami berangkat bersama adik dan anak Leni Fitriani yang masih balita. Perjalanannya sempat delay 1 jam di tol karena jaringan Mandiri sedang gangguan sehingga kartu e-tol nya tidak bisa diisi. Tadinya mau isi di buah batu, ternyata macet total. Akhirnya putar balik menuju Cileunyi dengan keyakinan di gerbang sana relatif tidak macet. Dan di mini market daerah Cileunyi akhirnya saya membeli kartu baru dari BCA. Perjalanan menuju jakarta pun dimulai ulang dari gerbang tol Cileunyi sekitar pukul 22.00. 

Setelah menempuh perjalanan panjang, kami pun sampai pukul 01.30 di hotel. Sempat kebingungan menemukan hotelnya karena Google menyatakan kami telah sampai, tetapi yang kami lihat adalah pintu masuk yang tertutup pintu seng. Saya pun bertanya ke beberapa pemuda yang duduk di warung. Setelah pemuda tersebut menunjukan lokasinya, kami pun tertawa. Ternyata hotelnya berada di depan kami, hanya perlu belok kanan dan turun ke bawah. 

Selepas  masuk kamar, ternyata saya tidak bisa langsung tidur karena harus berjuang membunuh nyamuk yang beterbangan. Beginilah akibatnya kalau memutuskan menginap di hotel termurah, hehehe. Tadinya mau tanya ke Leni Fitriani di kamar sebelah soal nyamuk ini, tapi nampaknya sudah tidur karena statusnya akun medsosnya offline. Hotelnya memang merupakan hotel lama, beberapa bagian di dalam kamar nampak tidak terawat. Dan satu objek yang membuat saya tidak nyaman adalah lukisan wanita di dinding kamar dengan mata besar, serem.

Pagi hari, tanggal 28 Juli 2018, kami sarapan di warung kopi dekat hotel. Luar biasanya harganya tidak sampai 50 ribu untuk makan kami bertiga. Saya dan Leni Fitriani berangkat ke lokasi menggunakan Grab, sementara adik dan anaknya menunggu di hotel sampai sore nanti. Lokasi Google Indonesia tidak jauh dari hotel, hanya butuh beberapa menit saja.


Di lokasi kami diminta untuk sarapan dulu oleh panitia. Saya tidak bisa menambah makanan ke perut lagi setelah menyantap bubur kacang hijau di warung tadi. Saya memilih untuk meminum air lemon saja, siapa tahu bisa langsing, hahaha. Di lokasi sarapan itu saya ngobrol dengan panitia Google. Mereka sangat apresiasi terhadap kami yang datang jauh-jauh dari Garut.

Di dalam kelas saya mendengarkan beberapa materi seputar Google Map Tools. Materinya disampaikan dalam bahasa inggris oleh pemateri dari luar negeri, dan dalam bahasa indonesia oleh beberapa pemateri dalam negeri. Semua materi telah disiapkan oleh panitia sehingga bisa dibagikan langsung ke teman-teman dosen melalui WA Groups. Saya melihat beberapa materi bisa diterapkan dalam matakuliah Ilmu Sosial dan Budaya Dasar serta Data Spasial. Beberapa teknologi yang dibuat oleh mahasiswa bimbingan saya sejak tahun 2002 juga menerapkan Google Maps. 


Kegiatan hari itu ditutup dengan Hackathon. Saya satu kelompok dengan kang Unggul Sugena yang sama-sama dari Relawan TIK Indonesia pusat. Setelah diskusi dengan seluruh anggota kelompok, kami memutuskan untuk mengangkat literasi digital untuk Term of Reference yang kami buat dan akan dipresentasikan. Berbagai kasus pelanggaran UU ITE kami petakan dengan My Maps. Sebenarnya juga bisa diterapkan dengan Google Expedition, hanya saja waktunya tidak cukup. Syukurlah tabel datanya tersedia di situs web pegiat kebebasan informasi di Indonesia, hanya tinggal melengkapi dengan koordinat lokasi kejadian perkaranya saja yang saya dapatkan dari Google Maps.

Selepas foto bersama, kami diminta untuk makan malam. Saya pun beranjak ke dapur Google untuk makan malam dan duduk di meja sendirian. Tiba-tiba Tomomi Matsuoka yang menjadi manager program tersebut duduk di depan dan mengajak berbincang seputar kegiatan. Saya mengucapkan terima kasih kepada beliau karena sudah menyediakan program yang bermanfaat tersebut untuk kami. Beliau kaget karena saya tiba di Jakarta pukul 01.30 hanya untuk mengikuti kegiatan ini. Saya katakan, usaha apapun harus dilakukan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan. Beliau mengacungkan jempol begitu mendengarkan pernyataan tersebut. 

Saya meminta beliau untuk foto bersama, dan beliau berkenan, asal tidak dilokasi dapur. Beliau bilang ada aturan yang tidak memperbolehkan personel Google berfoto di dapur. Tiba-tiba Leni Fitriani mengambil foto saat kami berbincang, dan langsung saja Tomomi meminta agar tidak memfoto, hehehe. Fotonya saya tampilkan di sini bukan karena tidak menghormati aturan tersebut, tetapi menunjukan potret keramahan personel Google yg lebih penting dari  pada peraturan tersebut.


Malam itu sekitar  pukul 19.00 kami pulang dengan was-was, karena menurut aturan kendaraan yang boleh keluar Jakarta adalah genap. Sementara mobil saya bernomor ganjil. Syukurlah dari hotel ke tol dalam kota hanya melewati satu jalan reguler saja. Kami berhasil memasuhi tol dalam kota tanpa kendala. 

Di daerah bekasi Google memberi rute ke luar tol dengan alasan ada kemacetan panjang. Saya agak khawatir karena tidak tahu medan di sana sehingga memutuskan untuk tetap berada di jalan tol. Ternyata memang benar, beberapa ratus meter kemudian saya melihat antrian yang sangat panjang dengan kecepatan kendaraan tidak sampai 10 km / jam. Syukurlah suara Google yang saya rindukan muncul. Sistem cerdas itu memberi kabar adanya jalan alternatif yang bisa memangkas waktu perjalanan hingga satu jam. Setelah diskusi dengan Leni Fitriani, kami pun memutuskan untuk mengikuti saran Google. 

Jalan yang diberikan Google itu menyusuri pinggiran sungai besar. Kecepatannnya jauh lebih baik dari pada di tol tadi. Dan akhirnya kami masuk lagi ke gerbang tol dan bertemu dengan ujung kemacetan di tol. Beberapa ratus meter kemudian, kami pun bebas dari kemacetan. Dan ternyata bensin sudah mulai menipis sehingga kami menepi ke rest area. Sempat mau mundur isi bensin karena self service, tetapi syukurlah ada petugas POM yang mau bantu.

Akhirnya kami sampai di Garut sekitar pukul 00.30. Saya langsung mengantar Leni Fitriani bersama adik dan anaknya ke rumahnya di daerah Bagendit. Dan sesampainya di rumah, saya sedikit icip-icip cookies Google sebelum tidur pulas. Dua hari itu bermanfaat karena ada bekal pengetahuan yang bisa digunakan dan diajarkan kepada mahasiswa dan masyarakat. Dan pagi ini saya harus lekas tidur karena besok pagi harus mengisi materi kegiatan Disdik Jawa Barat di Lembang.