Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Jumat, 03 September 2021

Kembalikan Baliku padaku

Sebagaimana bencana pd umumnya yg berdampak ekonomi, pandemi ini telah menunjukan dampaknya di Bali. Seminggu work from Bali, berpindah dari hotel melati, ke hotel berbintang, hingga ke villa, ada pengalaman yg membuktikan dampak tsb. Gubernur Bali dalam kesempatan membuka Festival TIK mengungkapkan bagaimana terdampaknya sektor wisata, dan betapa pentingnya model bisnis di luar sektor wisata yg berbasis digital. 

Dlm perjalanan dari awal mendarat di Bali, saya melihat rasa bahagia pengemudi Grab saat mendapat penumpang. Saya mendengarkan cerita pengemudi lainnya tentang penurunan jml penumpang, sampai merasa kasihan dan setuju utk membekalinya makan malam. Saya melihat kebenaran cerita pengemudi tsb tentang objek wisata yg menjadi sepi. Rumah makan yg hendak saya tuju malam ini ternyata ditutup, demikian pula dgn sejumlah toko kecil hingga mini market non mainstream.

Kita semua harus segera mewujudkan kekebalan komunal dgn vaksinasi, agar cerita dan pemandangan yg menyedihkan ini segera berakhir. Sebelumnya saya telah mengunjungi Bali dua kali, dan melihat ada banyak orang yg menerima manfaat keberadaannya. Sekarang ini seakan Bali sedang menghadapi pandemi dgn karakter diam yg bukan khasnya. Semua penikmat Bali tentunya akan setuju dgn seruan ini, "Kembalikan Baliku padaku". Mengembalikan Bali dgn menuntaskan pandemi ini. 

#BiografiCahyana

Selasa, 27 Juli 2021

Memperluas Penetrasi Literasi Digital

Tantangan terbesar pemerintah dlm #literasidigital adalah menjangkau masyarakat yg enggan atau tdk punya waktu utk membangun kemampuan literasi digitalnya. Saya menduga, warganet yg berinteraksi secara tdk etis di sosmed atau buta digital umumnya enggan menyengajakan diri mendengar ceramah etika digital. Dugaan ini menarik utk dibuktikan melalui survei.

Cara efektif utk menjangkau seluruh pengguna perangkat digital mungkin bukan dgn seminar insidental, tetapi dgn mengintegrasikannya ke dlm sistem / kurikulum pendidikan wajib. Integrasi tsb menjadi jaminan setiap WNI yg melewatinya akan mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap literasi digital. Kurikulum memberi kesempatan bagi stakeholders utk mengukur kemampuan kompetensi literasi digital setiap jenjang dan setiap tahunnya.

Buta digital di era digital seperti buta aksara di masa kolonial.

#PersepsiCahyana

Logika Makan 20 Menit

Entah sebagian warganet itu usil atau benar-benar julid sehingga tidak mau menanggapi aturan makan 20 menit di RM (Rumah Makan) secara logis. Fahami dan terapkan saja aturannya dengan logis, 20 menit terhitung setelah makanannya tersaji. Kalau ada makanan yg waktu memakannya lebih dari itu, take away saja. 

Aktivitas menyiapkan makan tidak bisa diatur secara kaku, setiap jenis dan ukuran makanan punya durasi waktu penyiapan yang berbeda. Kalau durasinya tidak terpenuhi, makanan tidak akan tersaji secara layak, dan tentunya pelanggan akan kecewa. Sementara aktivitas pelanggan setelah makan bisa diatur. 

Di masa PPKM, kebiasaan sebagian pelanggan seperti saya yg menjadikan kunjungan ke RM sebagai rekreasi / kumpulan dengan keluarga / teman harus ditiadakan dulu demi kepentingan umum. Dicukupkan hanya dengan memuaskan keinginan menyantap makanannya saja, khususnya yang hanya tersedia di RM tersebut; setelah selesai makan langsung pergi. Di beberapa RM, saya harus menunggu waktu penyajian yang tidak secepat RM Padang. Di masa menunggu itulah kita bisa ngobrol atau internetan dengan tetap menerapkan prokes.

Pembuat konten bisa menjadikannya sebagai konten pembuktian, apakah benar memakan makanan yang tersaji di RM itu membutuhkan waktu lebih dari 20 menit? Tapi aktivitasnya makan saja ya, jangan sambil ngobrol di dunia maya atau di dunia nyata. Pengalaman saya pribadi, kalau makan sambil ngobrol, kerja daring, atau interaksi sosial yang penting di dunia maya, memang membutuhkan waktu makan yang lebih lama. Harapannya bisa teridentifikasi jenis makanan apa yang bisa dimakan di RM, dan mana yg harus take away.

Hari ini, 27 Juli 2021, saya makan siang di rumah makan nasi Padang. Di sana hanya ada 3 pengunjung saja yg makan di lokasi. Saya memilih ruang belakang yg tdk ada pengunjung sama sekali. Duduk rapat dinding utk menjauh dari perlintasan pengunjung. 

Setelah makanannya tersaji, stop watch pun dinyalakan. Saya berusaha utk bersikap senatural mungkin. Setelah selesai makannya, stop watch pun dihentikan. Ternyata saya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit utk makan siang tsb, hanya setengah persen dari waktu yg ditentukan oleh pemerintah.


#PersepsiCahyana

Saat Saya Kelaparan

Suatu hari di masa muda saya pernah kelaparan, tidak punya uang yang cukup untuk membeli makan. Lalu Tuhan mengaruniakan fikiran utk memakan buah-buahan yg tumbuh di kebun dengan bumbu sekedar garam. Itulah usaha yang dilakukan kala itu untuk mengisi perut. Memang bukan makanan yang mengenyangkan, tetapi terasa lebih dari cukup. 

Apabila melihat ibadah pada Tuhan Sang Pemberi Rejeki yang belum seberapa, dosa yang ada, nikmat tersebut terasa belum layak saya terima. Saya tidak meminta bantuan kepada lingkungan sekitar, atau keluarga, atau kepada Tuhan selama Tuhan masih menunjukan jalan keluarnya. Cukuplah sabar dan syukur sebagai wasilah untuk mendapatkan pertolongan Nya, Tuhan memberikan jalan rejeki yang tidak disangka-sangka kepada hambanya yang bertakwa. 

Syekh Abdul Qadir Jailani r.m. mengajarkan kepada muridnya, bahwa beliau meminta kepada Tuhan apabila sudah sama sekali tidak mampu berusaha.

Minggu, 25 Juli 2021

Organisasi dan Luapan Out-of-the-Box

Dialog antar personal secara tertutup atau sesi berbagi pengetahuan secara terbuka dapat menjadi media pengukuran keselarasan setiap orang dgn organisasinya. Setiap gerak langkah atau putaran roda organisasi hrs sejalan dgn visi, misi, tujuan, sasaran, dan prokernya. 

Setiap orang harus dapat mengendalikan gerakannya dan setiap elemen yg menggerakannya. Setiap kekuatan di dlm organisasi dan kesempatan yg ada di luar organisasi, serta sumber daya yg dapat diakses di kedua sisi tsb harus dimanfaatkan utk melengkapi, menggerakan, meningkatkan kecepatan, atau memperbaiki roda organisasi. 

Pemikiran atau usaha orang2 yg out-of-the-box berikut hasil kerjanya merupakan hasil interaksinya dgn dunia luar yg kondisinya berbeda dgn kondisi organisasinya. Interaksi tsb merupakan kebiasaan orang yg tdk "kurungbatokeun" atau tdk "seperti katak dlm tempurung". Pemikiran atau usaha tsb baru bisa dimengerti atau diterima oleh organisasinya di saat kebutuhan masa depan organisasi yg telah diupayakannya sdh mulai muncul ke permukaan, atau ada praktik terbaik dari pesaing yg memperoleh daya saing atau keuntungan kompetitif dgn menerapkan pemikiran atau melakukan usaha tsb.

Organisasi hrs memberi ruang inovasi & kreativitas selama tdk melemahkan organisasi atau menimbulkan hambatan eksternal organisasi. Inovasi dan kreativitas merupakan kunci sukses organisasi, fase akhir literasi organisasi yg tdk boleh diabaikan. Secara teori, lingkungan yg inovatif dan kreatif tdk mudah terwujud dlm sistem kepemimpinan terpusat. 

Sementara itu, luapan inovasi dan kreatifitas itu merupakan kecenderungan, sehingga cenderung sulit dibendung. Luapannya bisa menggenangi organisasinya saja, atau meluap hingga sampai ke pesaingnya apabila kondisinya bukan merupakan aset bernilai bagi organisasinya atau organisasinya tdk memproteksi aset tsb. 

Rabu, 21 Juli 2021

Altruisme Mengokohkan Pembatasan Sosial Luas

Sumber Gambar: https://news.detik.com/berita/d-5026437/banyak-cara-antarkansemangat-untuk-pejuang-transportasi-saat-pandemi

Saya memperhatikan, di kita bansos menjadi satu2nya yg sering disebut warganet sebagai penyambung hidup di kala terdampak kebijakan pembatasan sosial secara luas. Padahal di medsos, saya melihat ramai penggalangan dana oleh NGO di saat terjadi krisis kemanusiaan atau konflik di LN. 

Masih teringat kisah penggalangan dana utk pembelian kapal selam yg sukses mengumpulkan banyak dana, sekalipun tdk sampai berhasil membelinya. Sementara itu potensi zakat di Indonesia tdk kalah besarnya. 

Ketika Pakistan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial lebih luas untuk memerangi virus corona, sebuah hukum Islam tentang kedermawanan (zakat) telah membantu menyelamatkan mereka yang sedang tidak bisa bekerja. 

Lihat: https://www.google.co.id/.../indonesia/vert-tra-52194435.amp

Warganet hanya perlu mengkampanyekan Altruisme dan melawan Egoisme utk menguatkan ikhtiar pembatasan sosial yg luas utk menangani pandemi. Idul Adha mengajarkannya kpd penduduk muslim. Sumber dayanya sdh ada, hanya apakah mau bahu membahu dgn mengabaikan perbedaan dan ketidaksukaan, atau tdk? Ingatlah bahwa kita ini manusia, dan kita ini satu bangsa. 

#PersepsiCahyana

Senin, 19 Juli 2021

Tipu Daya Ketaatan yg Merupakan Ketidaktaatan


Syarat yg hrs dipenuhi utk berhaji adalah telah divaksin 2x dan disiplin menjaga jarak. Di sini, vaksinasi dan salat dgn menjaga jarak masih dipermasalahkan. Begitu pula dgn wacana vaksinasi 2x sebagai syarat perjalanan. 


Dgn mudahnya kalangan awal menyebut ketaatan kpd upaya vaksinasi dan prokes yg diberlakukan oleh pemerintah sebagai ketaatan kpd selain Allah, entah siapa yg mempengaruhinya. Padahal sdh jelas ulama telah menunjukan kesesuaian vaksinasi dan prokes tsb dgn ajaran agama, bahkan sudah dipraktikan di tanah suci. 

Wajib bagi kalangan Aswaja utk mentaati kebijakan pemerintah yg sejalan dgn agama. Hal berbeda dgn kaum Khawarij dan semisal lainnya yg menjual agama demi syahwat politik. Istilah yg digunakan kalangan radikal utk ketaatan model demikian adalah ketaatan kpd toghut atau arbaban min dunillah.

Kalau membaca fatwa al-Azhar Mesir terkait salat ied di rumah, dapat disimpulkan bahwa ketaatan kpd prokes yg seperti demikian itu sama dgn ketaatan kpd Allah, dan pelanggarannya merupakan perbuatan dosa. 

Dewan Ulama Senior Al-Azhar menyatakan di dalam fatwanya, "Setiap orang yang mengundang kerumunan massa seperti itu untuk berdoa dan memohon ampunan, padahal telah nyata bahaya yang mengancam, dinilai telah berdosa dan melanggar hukum Allah. Agama meminta agar mereka berdoa kepada Allah di rumah masing-masing, dengan penuh kekhusyukan dan kerendahan hati, memohon agar Allah menganugerahkan kesehatan, mengangkat wabah ini, dan bencana segera sirna dari semua orang".


Bahkan Dewan Ulama Senior Al-Azhar memutuskan, diperbolehkan secara syar’i untuk meninggalkan shalat Jumat dan shalat berjamaah sementara waktu sebagai upaya menghentikan penyebaran virus corona yang membahayakan. Walau demikian, tetap wajib hukumnya mengumandangkan azan pada setiap waktu shalat. Pada setiap azan, muazin diperbolehkan mengumandangkan “Shollu fii buyuutikum (shalatlah di rumah kalian)”.


Lucunya, ada kalangan awam yg mempertanyakan, apakah ulama yg berfatwa seperti itu tergolong ulama baik atau buruk?. Ia berupaya menolaknya hanya berbekal kitab kitab Safinah. Selevel gurunya saja banyak yg menaruh hormat kpd Dewan Ulama al-Azhar dan ingin belajar di Universits al-Azhar. 

Sungguh merupakan talbis iblis apabila seseorang berfikir utk mentaati Allah, atau tdk mentaati selain Allah, tetapi dgn cara yg berlawanan, yakni menegakan ketaatan dgn amal ketidaktaatan. Hidup kita akan kembali normal baru kembali dgn herd immunity setelah kebijakan vaksinasi dan prokes ditaati dan sukses dilaksanakan.

#PersepsiCahyana

Rabu, 14 Juli 2021

Ikhtiar Tanpa Atribut Agama

Mencari uang hrs seperti akang beca ini. Ia punya tanggung jawab menafkahi keluarganya. Tdk berhenti kerja dan berharap bansos, walau mungkin jumlah konsumennya menurun terimbas PPKM. Memang serba salah, dgn PPKM konsumennya menurun krn banyak yg diam di rumah; tanpa PPKM pun mungkin kondisinya sama krn banyak konsumennya yg sakit dan meninggal.

Saat ditemui, akang becanya bilang beberapa hari ini blm mendapat penumpang. Sebenarnya penumpang menurun sejak ojek online tumbuh berkembang. Dan di masa PPKM ini, penumpangnya semakin sepi. Menurut saya, ada dua solusi utk akang ini, perusahaan digital memberi layanan digital sebagaimana halnya ojek, atau upgrade usahanya menjadi ojek online.

Lembaga penggalang dana kemana ya? Kenapa iklannya muncul di medsos saat ada krisis kemanusiaan di luar negeri. Bahkan penggalangan dananya dilakukan di perempatan jalan sambil bawa bendera negara yg dibantu dan atribut agama. Saat PPKM, atribut agama itu di lingkungan saya hilang di telan bumi, seakan tdk laku jadi "alat pemasaran" utk penggalangan dana bagi warga terdampak PPKM. Yang terlihat anak kecil yg membawa kotak dan orang berjoget dalam baju karakter sedang mencari sesuap nasi.

Kita sebenarnya tdk butuh atribut agama utk membantu kesulitan orang seperti akang penarik beca, cukup bermodalkan rasa kemanusiaan saja, dan usaha semampunya, minimal berbagi konten informasi atau gagasan di medsos, dukungan imateri atau bantuan materi. Kalau hati tdk tergerak, agama bisa dijadikan terapi bagi mereka yg punya agama, tdk perlu "dijual" utk mengambil keuntungan bisnis penggalangan dana.