Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Jumat, 03 September 2021
Kembalikan Baliku padaku
Selasa, 27 Juli 2021
Memperluas Penetrasi Literasi Digital
Cara efektif utk menjangkau seluruh pengguna perangkat digital mungkin bukan dgn seminar insidental, tetapi dgn mengintegrasikannya ke dlm sistem / kurikulum pendidikan wajib. Integrasi tsb menjadi jaminan setiap WNI yg melewatinya akan mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap literasi digital. Kurikulum memberi kesempatan bagi stakeholders utk mengukur kemampuan kompetensi literasi digital setiap jenjang dan setiap tahunnya.
Buta digital di era digital seperti buta aksara di masa kolonial.
#PersepsiCahyana
Logika Makan 20 Menit
Entah sebagian warganet itu usil atau benar-benar julid sehingga tidak mau menanggapi aturan makan 20 menit di RM (Rumah Makan) secara logis. Fahami dan terapkan saja aturannya dengan logis, 20 menit terhitung setelah makanannya tersaji. Kalau ada makanan yg waktu memakannya lebih dari itu, take away saja.
Aktivitas menyiapkan makan tidak bisa diatur secara kaku, setiap jenis dan ukuran makanan punya durasi waktu penyiapan yang berbeda. Kalau durasinya tidak terpenuhi, makanan tidak akan tersaji secara layak, dan tentunya pelanggan akan kecewa. Sementara aktivitas pelanggan setelah makan bisa diatur.
Di masa PPKM, kebiasaan sebagian pelanggan seperti saya yg menjadikan kunjungan ke RM sebagai rekreasi / kumpulan dengan keluarga / teman harus ditiadakan dulu demi kepentingan umum. Dicukupkan hanya dengan memuaskan keinginan menyantap makanannya saja, khususnya yang hanya tersedia di RM tersebut; setelah selesai makan langsung pergi. Di beberapa RM, saya harus menunggu waktu penyajian yang tidak secepat RM Padang. Di masa menunggu itulah kita bisa ngobrol atau internetan dengan tetap menerapkan prokes.
Pembuat konten bisa menjadikannya sebagai konten pembuktian, apakah benar memakan makanan yang tersaji di RM itu membutuhkan waktu lebih dari 20 menit? Tapi aktivitasnya makan saja ya, jangan sambil ngobrol di dunia maya atau di dunia nyata. Pengalaman saya pribadi, kalau makan sambil ngobrol, kerja daring, atau interaksi sosial yang penting di dunia maya, memang membutuhkan waktu makan yang lebih lama. Harapannya bisa teridentifikasi jenis makanan apa yang bisa dimakan di RM, dan mana yg harus take away.
Hari ini, 27 Juli 2021, saya makan siang di rumah makan nasi Padang. Di sana hanya ada 3 pengunjung saja yg makan di lokasi. Saya memilih ruang belakang yg tdk ada pengunjung sama sekali. Duduk rapat dinding utk menjauh dari perlintasan pengunjung.
Setelah makanannya tersaji, stop watch pun dinyalakan. Saya berusaha utk bersikap senatural mungkin. Setelah selesai makannya, stop watch pun dihentikan. Ternyata saya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit utk makan siang tsb, hanya setengah persen dari waktu yg ditentukan oleh pemerintah.
#PersepsiCahyana
Saat Saya Kelaparan
Suatu hari di masa muda saya pernah kelaparan, tidak punya uang yang cukup untuk membeli makan. Lalu Tuhan mengaruniakan fikiran utk memakan buah-buahan yg tumbuh di kebun dengan bumbu sekedar garam. Itulah usaha yang dilakukan kala itu untuk mengisi perut. Memang bukan makanan yang mengenyangkan, tetapi terasa lebih dari cukup.
Apabila melihat ibadah pada Tuhan Sang Pemberi Rejeki yang belum seberapa, dosa yang ada, nikmat tersebut terasa belum layak saya terima. Saya tidak meminta bantuan kepada lingkungan sekitar, atau keluarga, atau kepada Tuhan selama Tuhan masih menunjukan jalan keluarnya. Cukuplah sabar dan syukur sebagai wasilah untuk mendapatkan pertolongan Nya, Tuhan memberikan jalan rejeki yang tidak disangka-sangka kepada hambanya yang bertakwa.
Syekh Abdul Qadir Jailani r.m. mengajarkan kepada muridnya, bahwa beliau meminta kepada Tuhan apabila sudah sama sekali tidak mampu berusaha.
Minggu, 25 Juli 2021
Organisasi dan Luapan Out-of-the-Box
Rabu, 21 Juli 2021
Altruisme Mengokohkan Pembatasan Sosial Luas
Sumber Gambar: https://news.detik.com/berita/d-5026437/banyak-cara-antarkansemangat-untuk-pejuang-transportasi-saat-pandemi
Saya memperhatikan, di kita bansos menjadi satu2nya yg sering disebut warganet sebagai penyambung hidup di kala terdampak kebijakan pembatasan sosial secara luas. Padahal di medsos, saya melihat ramai penggalangan dana oleh NGO di saat terjadi krisis kemanusiaan atau konflik di LN.
Masih teringat kisah penggalangan dana utk pembelian kapal selam yg sukses mengumpulkan banyak dana, sekalipun tdk sampai berhasil membelinya. Sementara itu potensi zakat di Indonesia tdk kalah besarnya.
Ketika Pakistan memberlakukan kebijakan pembatasan sosial lebih luas untuk memerangi virus corona, sebuah hukum Islam tentang kedermawanan (zakat) telah membantu menyelamatkan mereka yang sedang tidak bisa bekerja.
Lihat: https://www.google.co.id/.../indonesia/vert-tra-52194435.amp
Warganet hanya perlu mengkampanyekan Altruisme dan melawan Egoisme utk menguatkan ikhtiar pembatasan sosial yg luas utk menangani pandemi. Idul Adha mengajarkannya kpd penduduk muslim. Sumber dayanya sdh ada, hanya apakah mau bahu membahu dgn mengabaikan perbedaan dan ketidaksukaan, atau tdk? Ingatlah bahwa kita ini manusia, dan kita ini satu bangsa.
#PersepsiCahyana
Senin, 19 Juli 2021
Tipu Daya Ketaatan yg Merupakan Ketidaktaatan
Rabu, 14 Juli 2021
Ikhtiar Tanpa Atribut Agama
Saat ditemui, akang becanya bilang beberapa hari ini blm mendapat penumpang. Sebenarnya penumpang menurun sejak ojek online tumbuh berkembang. Dan di masa PPKM ini, penumpangnya semakin sepi. Menurut saya, ada dua solusi utk akang ini, perusahaan digital memberi layanan digital sebagaimana halnya ojek, atau upgrade usahanya menjadi ojek online.
Lembaga penggalang dana kemana ya? Kenapa iklannya muncul di medsos saat ada krisis kemanusiaan di luar negeri. Bahkan penggalangan dananya dilakukan di perempatan jalan sambil bawa bendera negara yg dibantu dan atribut agama. Saat PPKM, atribut agama itu di lingkungan saya hilang di telan bumi, seakan tdk laku jadi "alat pemasaran" utk penggalangan dana bagi warga terdampak PPKM. Yang terlihat anak kecil yg membawa kotak dan orang berjoget dalam baju karakter sedang mencari sesuap nasi.
Kita sebenarnya tdk butuh atribut agama utk membantu kesulitan orang seperti akang penarik beca, cukup bermodalkan rasa kemanusiaan saja, dan usaha semampunya, minimal berbagi konten informasi atau gagasan di medsos, dukungan imateri atau bantuan materi. Kalau hati tdk tergerak, agama bisa dijadikan terapi bagi mereka yg punya agama, tdk perlu "dijual" utk mengambil keuntungan bisnis penggalangan dana.


