Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Kamis, 07 Oktober 2021

Mengelola Stress

Stress adakalanya menimbulkan masalah saat bebannya berlebih. Stress tidak selalu timbul karena adanya fikiran negatif. Semangat positif yang dibangun oleh fikiran positif terkadang menimbulkan stress saat fikiran menjadi sangat penuh. Ada beberapa jurus pengelolaan stress yang saya kutip dari beberapa pustaka.

Dari karya tulis Ibn Arabi saya menemukan satu konsep Raja Hati. Gagasan utamanya adalah aku yang harus menunggangi fikiran atau perasaan ku,  jangan fikiran dan perasaan yang menunggangi ku, atau selain ku yang menunggangi fikiran dan perasaan tersebut. Fikiran dan perasaan itu seringkali diidentifikasi sebagai sosok lain. Dalam perbincangan psikologi ada istilah Dualisme Kepribadian yang gagasan utamanya adalah "aku" bukanlah "aku yang berlawanan". Dihubungkan dengan konsep Raja Hati, aku sebagai raja di dalam hati, bukanlah aku yang berlawanan, dan aku yang berlawanan harus ditundukan untuk mempertahankan kedudukan ku sebagai raja hati.  

Dari karya tulis al-Ghazali saya menemukan konsep untuk mengurangi fikiran dan perasaan yang tidak penting, yakni selalu berpaling dari bisikan negatif dalam hati sampai pembisiknya patah semangat. Sama seperti kita yang bersifat diskrit, memiliki batasan usaha, aku yang berlawanan juga memiliki batasan usaha. Apabila usahanya mandeg, aku yang manapun mungkin akan berhenti dengan sendirinya.

Dari karya tulis Ibnu Athaillah saya menemukan konsep istirahat sebagai upaya mengurangi tekanan. Wujud istirahatnya adalah kontemplasi. Tujuannya dua:

Pertama, berpegang terus pada "tonggak yg sama" dalam fikiran utk mencegah diri terbawa arus negatif di dalam diri. Bagi muslim, "tonggak" itu berupa ingatan kepada Tuhan, di mana berpegang terus padanya itu diwujudkan dalam dzikrullah. Aku dapat menghindari dari keinginan aku yang berlawanan dengan mengarahkan "wajah" ku kepada "wajah" Nya, kepada nama-Nya.     

Kedua, mensugesti diri dalam kontemplasi tersebut untuk mengarah kepada fikiran dan perasaan yang baik, sehingga aku yang berlawanan mendapat penghalang tebal untuk mengganggu ku.

Dari semua konsep yang telah disampaikan, kunci pengelolaan stress adalah pengetahuan baik dan buruk yang berasal dari beragam sumber pengetahuan yang dipercaya. Selain itu adalah dengan menyeimbangkan aku dengan aku yang berlawanan, yin-yang. Artinya kita tidak mungkin lepas dari stress, hanya bisa menyeimbangkan kemampuan aku dengan aku yang berlawanan. Stress itu benar-benar hilang saat aku tidak ada.

#PersepsiCahyana

Keyakinan dan Sains

Istilah naik ke langit dan turun ke bumi telah menjadi bagian dari sistem kepercayaan manusia dari dulu, di mana orang pilihan tertentu dipercaya telah mengalaminya. Misalnya, Isa naik ke langit; Adam, Hawa, dan Isa turun ke Bumi; Muhammad naik ke langit dan turun kembali; beberapa Nabi yg telah meninggal ditemui di lapisan atau dimensi langit tertentu. Beberapa teks suci mendeskripsikan kendaraan yg digunakannya. Hal ini serupa dgn keyakinan bangsa Mesir dan kebudayaan tinggi lainnya di masa lalu, di mana raja mereka setelah meninggal, jiwanya akan menetap di langit. 

Urusan ketuhanan dan metafisika ini telah menjadi teori umum di masa lalu, sumber inovasi manusia. Dan sekarang ini, Positivis menolak klaim yg tdk bisa dibuktikan tsb, dan menyebutnya sebagai omong kosong, sampai datang pengalamannya kpd diri mereka sendiri yg dapat diuji. Selama klaim pengalaman apapun tdk dapat diuji, mereka menganggapnya sebagai pseudoscience.

Namun sebagian ilmuan memilih jalan moderat dgn mengatakan, bahkan tdk ada satupun kebenaran dari pengalaman manusia yg merupakan kebenaran krn mungkin suatu saat falsifikasi akan menunjukan kebenaran yg tertunda/sebenarnya. Itulah sebab knp tdk bijak menjadikan pengalaman manusia yg kebenarannya nisbi sebagai dalil kebenaran bagi pengetahuan mutlak Tuhan, sehingga dlm urusan keyakinan kpd Tuhan, pilihan kita hanya percaya hingga datang keyakinan ☺️

#PersepsiCahyana

Senin, 04 Oktober 2021

Perjalanan Menemukan Kebenaran dari Tangga Korespondensi hingga Pragmatis



Teori kebenaran Koresponsensi menjadikan pengideraan sebagai dasar kebenaran, di mana seseorang meyakini kebenaran dari adanya sesuatu atau hal tertentu apabila telah menginderanya sendiri. Sementara dalam teori Koherensi,  kebenaran akan adanya sesuatu atau hal tertentu tidak cukup hanya apabila telah terindera saja, tetapi harus rasional atau sesuai dengan akal sehat. Namun adakalanya mereka yang telah mengindera dan menggunakan akal sehatnya membuat kesimpulan tentang kebenaran adanya sesuatu atau hal tertentu yang berbeda karena berdiri pada sudut pandang berbeda atau sempit. sehingga menurut teori Konsensus semuanya dapat duduk bersama untuk merangkai setiap kesimpulan yang diperoleh dari sudut pandang sempit yang beragam menjadi kesimpulan yang lebih luas lagi. Adapun teori Pragmatik mensyaratkan kebermaknaan atau manfaat dari kesimpulan tersebut, apabila tidak demikian maka adanya sesuatu atua hal tertentu tidak perlu dianggap sebagai kebenaran.

Contoh perjalanan manusia dari teori kebenaran Korespondensi hingga ke Pragmatik bisa kita lihat dari ajaran Budha Gautama yang diceritakan dalam Tipitaka tentang kisah sejumlah orang buta yang belum mengetahui Gajah dan berusaha mengidentifikasi kebenaran adanya Gajah. Pada awalnya, setiap orang buta berdiri di sudut yang berbeda dan dengan alat indera yang masik dimilikinya berusaha mengidentifikasi adanya Gajah. Dengan berhasil menyentuhnya, setiap orang buta meyakini kebenaran adanya Gajah. Hal tersebut telah memenuhi teori kebenaran Korespondensi

Ada kalanya seseorang itu skeptis, sehingga tidak langsung begitu saja percaya dengan apa yang diideranya. Orang buta yang menyentuh belalai Gajah dan pernah memiliki pengalaman menyentuh Ular mungkin perlu menggunakan logikanya untuk memastikan apa yang disentuhnya bukan Ular. Dengan menyamakan pengalamannya sekarang dengan pengalamannya menyentuh Ular ia akan berhasil melihat perbedaannya dan meyakini bahwa yang disentuhnya bukan Ular, sehingga lebih percaya dengan kebenaran adanya Gajah. Proses demikian telah memenuhi teori kebenaran Koherensi.

Apabila semua orang buta dikumpulkan, lalu diminta untuk menjelaskan karakteristik Gajah, akan ada perdebatan di antara orang buta tersebut. Hal demikian dikarenakan satu orang buta mengindera Gajah dari belalai, satu orang lainnya dari kaki, satu orang lagi dari tubuh, dan ada pula yang dari ekor. Apabila semua orang buta rendah hati, semuanya akan duduk bersama dan merangkai wujud Gajah dari pengalaman yang berbeda, sehingga tercipta dalam benak semuanya citra Gajah yang lebih lengkap. Hal demikian telah menghantarkan semua orang buta pada tahapan kebenaran menurut teori kebenaran Konsensus.

Pertanyaan terpenting yang harus difikirkan oleh semua orang buta adalah tentang kemanfaatan mahluk yang besar tersebut, lepas dari apakah sebelumnya telah melewati perjalanan dari kebenaran Korespondensi hingga Konsensus atau tidak. Apabila tidak ada manfaat yang diperoleh diri sediri dan masyarakatnya, keberadaan Gajah tidak perlu diindahkan dan cukup disikapi seperti kaum Positivis mengacuhkan Metafisika. Namun saat satu atau beberapa atau semua orang menganalogikannya dengan hewan serupa yang telah memberi manfaat, semuanya akan merasa optimis dengan keberadaan Gajah sebagai kebenaran yang layan diindahkan. Sampai tahap ini, semuanya telah sampai pada teori kebenaran Pragmatik

#PersepsiCahyana

Kamis, 30 September 2021

Saya Muak dengan Eksploitasi Bayi


Maghrib itu laju kendaraan saya terhenti di perempatan jalan Proklamasi karena lampu lalu lintas menyala merah. Seorang anak mengunjungi beberapa kendaraan di depan saya utk meminta uang. Nampak seorang bayi dibawa sertanya. Tadinya saya mau membuka kaca mobil utk mengekspresikan sikap "protes" atas tindakan anak tsb, tetapi anak itu tdk melewati kendaraan saya.

Beberapa hari sebelumnya, ada seorang ibu yg mengenakan jas hujan sambil membawa bayi di sisi perempatan lainnya. Saat itu memang sedang hujan. Ibu itu menghampiri utk meminta uang. Saya tdk memberinya krn tdk ingin menjadi orang yg mendukung bayi dibawa2 seperti itu, apapun alasan ibu tsb.

Di tempat lain, tepatnya di depan ATM pinggir hotel Alamanda, seorang ibu duduk di trotoar sambil menggendong bayi saat malam hari. Di pinggirnya ada karung yg entah berisi apa. Saya jadi teringat seorang ibu yg selalu duduk di atas trotoar dekat jembatan Cimanuk sambil mengais bayi setiap kali lewat ke sana saat malam hari.

Lepas dari pengalaman tersebut, jauh sebelum heboh pemberitaan ttg bayi yg dicat, saya sudah lama merasa muak dgn eksploitasi bayi oleh orang dewasa utk mencari uang di jalanan. Saya tdk pernah akan mendukungnya, sehingga tdk ingin memberinya uang. Seorang peminta-minta yg membawa bayi tdk membuat saya iba, tetapi membuat saya muak. Bayi itu bukan alat utk mencari uang, tetapi sosok rentan yg harus dijaga kesehatannya. Apakah ada yg juga merasa muak seperti saya?

#BiografiCahyana

Sabtu, 25 September 2021

Anti Komunis Simbolis atau Substantif?

Di era digital ini, masih ada kalangan yg terpaku pd bulan September utk menunjukan sikap anti Komunis. Padahal perilaku insan bertuhan yg netral / melepaskan agama ada di sekitar kita dan terlihat setiap saat dlm interaksinya thd konten atau netizen lainnya di medsos. Dalam kongres Sarekat Islam 1922, Sukendar yg mewakili kalangan Komunis mengatakan bahwa mereka percaya kpd Tuhan tetapi bersikap netral agama. Fikiran demikian dimiliki oleh kalangan Sarekat Islam "Merah".

Di internet, ada banyak orang yg mengalami post-nasionalism, di mana atribut Keindonesiaannya ditanggalkan saat masuk ke ruang maya, sehingga tdk terlihat citra dirinya sebagai bagian dari bangsa yg santun dan ramah yg merupakan karakter khas orang Indonesia yg telah lama dikenal di luar sana. Hal demikian juga menunjukan citra baru mereka di dunia maya yg menanggalkan agama pembentuk akhlak mulia. Dlm kemasan, dirinya nampak seperti insan Bertuhan; namun dlm tindakan, mereka sangat jauh dari ajaran Nya. Saat mereka mengemas diri sebagai insan anti Komunis dgn perilaku netral agama di medsos, hal demikian menunjukan sikap penolakannya secara simbolis, namun tdk secara substantif. 

Kamis, 16 September 2021

Tips Bertahan di Sekolah Pascasarjana

Tips bertahan di Sekolah Pascasarjana berikut ini berdasarkan artikel Kuther - Department of Psychology at Western Connecticut State University:

  • Memahami diri dengan mempelajari kapan atau bagaimana menjadi produktif dan sebaliknya, di mana setiap faktor pemicunya dapat dikenali dan dikelola dengan baik;
  • Fokus lebih banyak pada proses belajar dari pada hasil, sehingga dapat mempertahankan proses yang telah baik, atau meningkatkannya menjadi jauh lebih baik;
  • Memilih peluang dengan memperhatikan prioritas kebutuhan, sehingga tidak perlu mengambil semua peluang yang tidak akan termanfaatkan dalam waktu yang singkat. 
  • Memilih promotor dengan alasan yang dapat dijelaskan, sehingga dapat mengambil manfaat positif dari interaksi dengannya;
  • Konsultasi kepada mahasiswa lain yang lebih dahulu melalui proses belajar, agar dapat menangani kelemahan diri dan hambatan eksternal yang sama, serta mengulangi praktik terbaiknya.
  • Mengelola waktu agar semua pekerjaan dapat tuntas sesuai perkiraan waktu yang realistis;
  • Ujung perjalanan tidak ada batasnya, di mana proses belajar itu harus berlangsung sepanjang hayat;
  • Mengelola berkas yang sesuai dengan dengan minat, kebutuhan atau tujuan pekerjaan;
  • Membaca secara cerdas dengan hanya pustaka atau bagian tertentu di dalamnya yang sesuai dengan minat, kebutuhan atau tujuan pekerjaan;
  • Menulis secara rutin apa yang telah dibaca, baik secara langsung dengan tangan sendiri, atau dengan menggunakan bantuan alat pengenalan suara;
  • Kehidupan luar kampus harus merupakan upaya pemeliharaan diri yang secara efektif dapat mengurangi tekanan pekerjaan; 
  • Dukungan keluarga yang tercipta dengan adanya pemahaman akan alasan dan manfaat kesibukan dapat mencegah penambahan beban fikiran atau pekerjaan.


Senin, 13 September 2021

10 Pembelajaran dari Film Concussion


Berikut ini 10 point pembelajaran yang saya dapatkan dari film Concussion terkait sikap peneliti dalam mengawal minatnya terhadap sesuatu:

  1. Seorang ahli dapat memiliki topologi saintis yang religius, hal ini sebagaimana pribadi dr Bennet Omalu yang merupakan dokter dengan spesialisasi Anatomic Pathologist, Clinical Pathologist, Forensic Pathologist, Neuropathologist dan Epidemiologist, penganut agama Katolik taat yang menghormati jasad orang meninggal sebagaimana orang hidup. 
  2. Seorang ahli memperhatikan pengalaman empiris dalam penelitiannya, hal ini sebagaimana dr Omalu yang melakukan pengamatan empiris dari video pertandingan NFL (National Football League) dan latihan klub-klubnya. 
  3. Seorang ahli menyimpulkan sebab-akibat berdasarkan bukti, hal ini sebagaimana dr Omalu yang menyimpulkan kematian Mike Webster sebagai akibat efek jangka panjang pukulan berulang ke kepala yang mengakumulasi Chronic Traumatic Encephalopathy berdasarkan bukti neurotrauma.
  4. Peneliti mengoptimalkan sumber dayanya sendiri untuk membuktikan hipotesisnya, sebagaimana dr Omalu yang melakukan otopsi dengan biaya sendiri demi mendapatkan bukti 
  5. Temuan seorang ahli tidak serta merta akan diterima oleh siapapun, hal ini sebagaimana publikasi Dr Omalu bersama ahli lainnya atas temuannya di Bedah Syaraf yang ditolak oleh NFL
  6. Seorang ilmuan menyebarluaskan temuannya melalui beragam cara, sebagaimana dr Omalu yang mensosialisasikan temuannya melalui publikasi dan kegiatan penyadaran kepada masyarakat
  7. Temuan ilmiah dapat dianggap sebagai kebohongan tanpa bukti ilmiah untuk melindungi kepentingan tertentu, sebagaimana yang dilakukan oleh NFL terhadap dr Omalu hanya karena dipandang membahayakan otoritas pengelola liga
  8. Serangan terhadap temuan ilmiah dapat menggunakan sentimen tertentu, hal ini sebagaimana serangan dengan sentimen berdasarkan karakteristik tertentu (ras dan kewarganegaraan) yang ditujukan kepada dr Omalu
  9. Perlawanan terhadap ilmu pengetahuan menargetkan ilmuan dan pendukungnya, sebagaimana perlawanan terhadap temuan dr Omalu yang tidak hanya mengancam karirnya, tetapi juga kolega dan keluarga yang mendukungnya
  10. Temuan ilmiah dapat mencegah akibat buruk, seperti dialami oleh Mike Webster yang menunjukkan tingkah aneh, merasa kesakitan, gelisah, hingga akhirnya bunuh diri
  11. Peneliti berbuat untuk kemaslahatan, sebagaimana kegigihan dr Omalu dalam memberikan kesadaraan untuk mencegah banyak kematian


Jumat, 03 September 2021

Kembalikan Baliku padaku

Sebagaimana bencana pd umumnya yg berdampak ekonomi, pandemi ini telah menunjukan dampaknya di Bali. Seminggu work from Bali, berpindah dari hotel melati, ke hotel berbintang, hingga ke villa, ada pengalaman yg membuktikan dampak tsb. Gubernur Bali dalam kesempatan membuka Festival TIK mengungkapkan bagaimana terdampaknya sektor wisata, dan betapa pentingnya model bisnis di luar sektor wisata yg berbasis digital. 

Dlm perjalanan dari awal mendarat di Bali, saya melihat rasa bahagia pengemudi Grab saat mendapat penumpang. Saya mendengarkan cerita pengemudi lainnya tentang penurunan jml penumpang, sampai merasa kasihan dan setuju utk membekalinya makan malam. Saya melihat kebenaran cerita pengemudi tsb tentang objek wisata yg menjadi sepi. Rumah makan yg hendak saya tuju malam ini ternyata ditutup, demikian pula dgn sejumlah toko kecil hingga mini market non mainstream.

Kita semua harus segera mewujudkan kekebalan komunal dgn vaksinasi, agar cerita dan pemandangan yg menyedihkan ini segera berakhir. Sebelumnya saya telah mengunjungi Bali dua kali, dan melihat ada banyak orang yg menerima manfaat keberadaannya. Sekarang ini seakan Bali sedang menghadapi pandemi dgn karakter diam yg bukan khasnya. Semua penikmat Bali tentunya akan setuju dgn seruan ini, "Kembalikan Baliku padaku". Mengembalikan Bali dgn menuntaskan pandemi ini. 

#BiografiCahyana