Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Sabtu, 10 Juli 2021
Penapisan Sebelum Mengabsolutkan
Guyub dan Solutif di Masa Bencana
Saat ada ruang kosong yg belum terisi oleh pemerintah, maka biasanya dlm lingkungan guyub/rukun yg solutif, masyarakat berinisiatif mengisinya utk membantu pemerintah, terpanggil oleh negaranya utk mengabdi. Misalnya, kalau dana bansos di masa PPKM tdk ada atau kurang, maka masyarakat dapat berpartisipasi dgn mengadakan atau menambahinya. Di lingkungan sebaliknya, masyarakat memberatkan beban pemerintah dgn doa buruk atau lainnya.
Di lingkungan yg baik, masyarakatnya mengembangkan prasangka baik, misalnya: mungkin pemerintah lupa, sehingga perlu diingatkan; atau mungkin pemerintah punya beban pembiayaan lain yg sama pentingnya, seperti vaksinasi, pengobatan, atau lainnya, sehingga perlu dibantu. Saya pribadi percaya, di lingkungan yg demokratis dan modern seperti sekarang ini, di mana penguasa dipilih oleh rakyat secara langsung, tdk ada penguasa yg bertujuan utk menghilangkan kesejahteraan rakyatnya utk meningkatkan kesejahteraan dirinya sendiri seperti halnya raja atau kaisar atau pewaris tahta kekuasaan dari keluarga di masa lalu.
Kembali ke sampel solusi. Kalau masyarakat tdk bisa melunasi cicilannya krn penghasilannya menurun akibat terdampak penanganan bencana pandemi, ada dua pilihan bagi masyarakat: 1) Menjual aset cicilan tsb bila tdk produktif; atau 2) Gerakan pembebasan hutang memperbesar kampanyenya, sehingga tersedia dana yg besar utk menutupi banyak cicilan aset produktif masyarakat terdampak bencana. Produktif dlm arti mempengaruhi kebutuhan mendasarnya. Kalau asetnya konsumtif, misalnya aset lebih, seharusnya dijualpun tdk apa2, sekiranya tdk lagi punya tabungan yg bisa dimanfaatkan. Kalau tdk mau menjualnya, ya berarti tamak atau tdk ingin berkorban utk kepentingan bangsa dan negara.
Bencana harus dijadikan ajang menambah kawan dan bukan musuh, agar psikologi kita tdk terganggu. Bencana harus dijadikan ajang menambah pahala kebaikan dan bukan keburukan, agar masa depan kita lebih baik.
#PersepsiCahyana
Kamis, 08 Juli 2021
Ulah Sompral
Waktos seeur jalmi nu kainfeksi dirawat di RS, aya sapalih jalmi nu nyapirakeun kondisi eta ku cariosan, "Ah, paling oge covidisasi, nu puguh mah nuju perubahan musim".
Disangki na kalangan Medis mutuskeun jalmi kainfeksi teh ku cara ngetang kancing. Disangki na jalmi nu ngantri ka IGD teh olo-olo, teu keresa ngobatan nyalira panyawat na di bumi ku jajamuan.
Teras urang teh ku Allah diuji deui. Nu seeur kajantenan teh ayeuna mah jalmi nu parupus. Pasti aranjeuna ayeuna bingung bade nyalahkeun kanu musim naon, da saumur-umur nu karaos ku abdi mah asa nembean hampir sadaya WhatsApp Group aya wae berita nu pupus.
Kade ujang, nyai ... eta cariosan na kedah dijagi. Ulah sompral deui kanu ujian Allah. Hayu sauyunan sareng pamarentah dina ikhtiar nurunkeun penularan virus. Sing sabar mayunan kebijakan nu ngabates lengkah urang di luar bumi. Naon hartos na "Bebas ti na Batesan", pami bebas na eta aya di luhureun layon jalmi nu rentan ku infeksi virus nu sakitu seeur na.
Selasa, 06 Juli 2021
Pakar dan Pemerintah Harus Bersinergi di Masa Pandemi
Dlm kondisi bencana luar biasa seperti ini, siapapun yg merasa diri sebagai pakar tdk boleh merasa paling benar, sekalipun pendapatnya memang benar. Sebab ada banyak jalan benar menuju satu tujuan dgn efektifitas yg beragam yg dimiliki oleh banyak pakar. Para pakar cukup memberi nasihat jalannya kpd pemerintah, setelah itu kewajibannya gugur.
Bila pemerintah mengambil jalan pakar lain utk tujuan yg sama dan ternyata belum efektif, maka masih ada kewajibannya utk memberi nasihat jalan ke depan. Tdk perlu menyalahkan apa yg sdh terjadi di masa lalu, apalagi ekspresinya disampaikan di ruang publik. Sikap tsb tdk bermanfaat utk penanganan bencana; hanya membuka pintu pengakuan, di mana ada banyak orang yg akan membenarkannya dan menyalahkan selainnya.
Sekarang ini kita semua perlu solusi dan kerjasama, bukan pengakuan siapa yg paling benar, bukan sekedar menyatakan kesalahan atau kekurangan. Ancaman terhadap keselamatan banyak jiwa akan terus ada selama waktu dan energi ini habis dgn perdebatan, mempromosikan diri sebagai manusia paling benar, dan saling menyalahkan. Kesatuan pakar dan pemerintah sangat diperlukan utk menangani pandemi ini.
#PersepsiCahyana
Senin, 05 Juli 2021
Duka dan Suka di Masa PPKM Darurat
Beberapa minggu ini, saya merasa sedih krn ada lebih dari satu berita meninggal setiap minggunya yg mengisi ruang kelompok2 WhatsApp dan beranda2 Facebook. Di awal pandemi, saya melihat kenaikan angka positif di bawah 100 orang. Sekarang ini seakan jumlah konten pasien positif tsb terkalahkan oleh jumlah konten kematian krn dampak Covid-19. Bukan hanya suara ambulance yg lalu lalang, malaikat maut tak bersuara pun seakan nampak berlalu lalang.
Saya tdk takut dgn kondisi tsb, tetapi sedih. Tahun yg lalu Tuhan menunjukan lonjakan angka kasus paska mudik, dan tahun ini kita tdk berhasil memperbaiki nasib krn masih banyak yg tdk perduli dgn angka statistik tsb. Saya tdk ingin menyebut kita terkutuk krn mengalami kondisi yg lebih buruk dari tahun kemarin. Saya ingin menyebutnya sebagai peringatan yg lebih keras, agar kita dapat memperbaiki diri, menjadi pribadi yg lebih terdidik, perduli dgn ujian Tuhan ini, serta bahu-membahu utk menangani kondisinya.
Pagi tadi saya berencana pergi ke dua tempat utk urusan yg penting, yakni ke bank dan klinik internis. Tempat pertama yg akan dituju adalah bank di Pengkolan. Di bunderan jalan Pramuka saya harus berbelok arah ke Ramayana krn ada penyekatan. Rupanya skenario penyekatannya seperti malam takbiran, semua jalan masuk menuju Pengkolan ditutup dan dijaga aparat gabungan. Ikhtiar ini dilakukan oleh pemerintah utk menurunkan angka kasus yg mengalami outbreak.
Saya tdk merasa kesal dgn penutupan tsb, sekalipun harus berputar2 mencari jalan keluar, krn saya berharap angka kasusnya segera menurun. Saya suka dgn adanya ikhtiar tsb. Harapannya, dgn ikhtiar tsb berdampak pada penurunan intensitas informasi kematian di WhatsApp Group dan beranda Facebook teman, menurunkan rasa sedih dan khawatir. Sebagai pemimpin keluarga, saya sangat mendukung langkah apapun yg diambil oleh pemerintah, ilmuan, dan ulama yg dapat melindungi diri, anak dan istri, orang tua dan saudara. Bersusah-susah dahulu, hidup normal baru kemudian.
Malam sebelumnya saya mendebat teman yg membagikan konten menyesatkan yg kontra ikhtiar tsb di grup WhatsApp dan sejumlah thread Facebook. Ruwaibidhah yg berbicara tanpa ilmu dan merasa diri lebih ahli dari ahli memang menyebalkan. Mereka dan kampanyenya di medsos merupakan hambatan penanganan pandemi, membuat banyak orang yg literasinya rendah menjadi orang yg tdk terdidik karena menyangkal pendapat ahli dgn rumor dan prasangka.
Saya percaya, semakin banyak orang yg terdidik, semakin cepat bencana ini mereda. Oleh krnnya saya tdk mendiamkan Ruwaibidhah dan pasukannya yg ingin meraih kebebasan seperti yg akan terjadi negara maju tanpa mau berusaha. Mereka kehilangan akal dan rasa, sehingga lupa kalau Tuhan tdk akan merubah nasib bangsa mayoritas muslim ini menjadi seperti bangsa di luar sana, termasuk seperti bangsa Cina, kalau bangsa ini tdk berusaha.
Semoga amal sukarela yg diniatkan utk ikut berpartisipasi bersama pemerintah tsb bernilai ibadah, walau ada orang yg menyebut saya sebagai sales Covid-19 atau buzzer pemerintah. Saya senang dgn sebutan tsb dari pada disebut sales atau buzzer Ruwaibidhah yg buruk di mata Rasulullah SAW.
#BiografiCahyana
Sabtu, 03 Juli 2021
Sepenggal Ingatan Masa Kecil
Jumat, 02 Juli 2021
Mendulang Pahala di Rumah Saat Penyakit Merajalela
Outbreak atau wabah adalah ujian yg mendatangkan pahala syuhada.
Dari Siti Aisyah RA, ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah SAW perihal tha‘un, lalu Rasulullah SAW memberitahukanku, dahulu, tha’un adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang Dia kehendaki, tetapi Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang beriman. Maka tiada seorang pun yang tertimpa tha’un, kemudian ia menahan diri di rumah dengan sabar serta mengharapkan ridha-Nya seraya menyadari bahwa tha’un tidak akan menimpanya selain telah menjadi ketentuan Allah untuknya, niscaya ia akan memperoleh ganjaran seperti pahala orang yang mati syahid (HR. Bukhari, Nasa’i dan Ahmad).
Dari 'Uqbah bin 'Amir RA, suatu ketika, ia bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu keselamatan?"
Rasulullah SAW menjawab, "Jaga lisanmu, tetaplah di rumahmu, tangisilah dosa-dosamu."
(HR. Tirmidzi, 2406)
Menurut Tuhfah Al-Ahwadzi, ungkapan "tetaplah di rumahmu" dapat dimaknai agar menyibukkan diri beribadah kepada Allah di rumah. Sementara menurut Faidh Al-Qadir, maksudnya adalah tindakan menjauh dari kerumunan yang lebih-lebih dilakukan pada masa fitnah, yakni ujian atau bala. Dan ungkapan "tangisilah dosamu" dapat dimaknai sebagai imbauan agar umat bertaubat.
Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri (QS An-Nisa, 79), dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) (QS asy-Syura, 30)
#PersepsiCahyana
