Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Minggu, 18 Desember 2022
Tergores itu Menyakitkan
Menjaga Akidah dengan Akhlak Toleran
Miris sekali bila ada sekumpulan penduduk lokal yg agamanya diakui oleh negara, tetapi tdk punya rumah ibadah di lingkungannya, sampai beribadah di rumah dan disarankan beribadah hari raya di tempat ibadah yg berada di luar lingkungannya. Padahal umat beragama lain dapat membangun tempat ibadah kecil dgn mudah dan beribadah hari raya di luar tempat ibadah. Terkadang orang begitu khawatir akidahnya berubah dgn keberadaan simbol-simbol agama. Padahal yg mendorong pencari agama yg sebenarnya bukanlah kehendak utk menyematkan simbol agama yg hanya sekedar tampilan saja, tetapi ajaran yg membuat hidupnya menjadi lebih baik dan damai.
Mungkin kita bisa belajar dari penjual produk makanan, di mana kemasan merupakan simbol yg dapat menimbulkan daya tarik, sehingga konsumen tertarik utk membelinya. Tetapi yg membuat konsumen terus mengkonsumsi bukan kemasannya, tetapi rasa makanannya. Desain kemasan semenarik apapun kalau rasa makanannya tdk lebih enak dibandingkan produk lain atau bahkan tdk enak sama sekali, sudah pasti bakal ditinggalkan. Kesuksesan bisnis makanan itu terletak pada rasa makanan.
Demikian pula dgn agama. Ada banyak pembangunan rumah ibadah yg megah, indah, dan unik, tetapi bila minat orang ke sana hanya sekedar penasaran ingin melihatnya secara langsung dan selfie, itu baru sebatas upaya menimbulkan daya tarik saja. Tetapi urusan terpentingnya adalah mereka betah atau tdk, sehingga jama'ah nya banyak. Betah itu bukan sebatas betah di dlm rumah ibadah krn indah, nyaman atau adem, tetapi betah di luar rumah ibadah krn agama membuat hidupnya menjadi lebih nyaman dan adem.
Agama itu menawarkan jalan hidup yg baik. Bila kita duduk di tempat ibadah yg besar dan indah, tetapi di dalamnya ada pengajaran agama yg membentuk perilaku intoleran yg tdk indah, sehingga di tengah masyarakat audiennya menjadi sosok yg menolak kehadiran kelompok lain yg berbeda, mudah menstigma negatif thd kelompok tsb, bersikap diskriminatif dlm kehidupan sosial, dan bahkan melakukan serangan psikis hingga fisik ... para pencari jalan hidup yg baik pasti akan meninggalkannya. Bahkan bila para pencari tersebut memiliki cara berpikir generalisasi keliru yg membuatnya beranggapan sikap intoleran atas nama agama yg ditunjukan oleh sekelompok orang itu sebagai ajaran agama secara umum, sudah pasti mereka akan mencari agama lain atau memilih tdk beragama. Buat apa bangunan rumah ibadah megah dan mewah bila jema'ah nya sedikit, atau banyak dikunjungi hanya krn motif wisata saja?.
Menjaga akidah itu bukan dgn menolak keberadaan rumah ibadah yg menjadi kebutuhan umat beragama, menolak mereka beribadah di ruang publik sebagaimana umat lainnya, tetapi dgn menunjukan akhlak yg baik terhadap umat beragama yg beragam, seperti saling melayani dan melindungi sebagai konsekuensi dari komitmen hidup berbangsa dan bernegara. Sikap intoleran tdk menjaga akidah dan kontradiktif dgn syiar agama. Upaya membangun agama mula-mula bukan mendirikan bangunan ibadah, tetapi menyampaikan pengetahuan yg mengubah cara berpikir dan perilaku, atau jalan hidup. Sejarah Nabi mengajarkan kpd kita, pengajaran yg meluruskan pemahaman Ketuhanan serta membangun kesetaraan dan toleransi itu lebih dahulu dilakukan dari pada membangun rumah ibadah. Hal itu menunjukan bahwa esensi agama itu ada dlm pengajaran dan pengamalannya. Nabi diutus utk membangun akhlak yg baik. Tetapi herannya, kita melihat ada sekelompok orang yg mengatas namakan agama berlomba-lomba dalam membangun rumah ibadahnya dari besar hingga kecil di mana-mana, tetapi menolak rumah ibadah yg dibutuhkan oleh umat lain di mana saja dgn bersandar pada prasangka dan pemahaman keagamaan intoleran yg tdk dicontohkan oleh Nabi.
#PersepsiCahyana
Minggu, 04 Desember 2022
Gempa Garut di Penghujung Tahun
Senin, 28 November 2022
Afiliasi
Teringat dulu pernah duduk semobil dgn Harry Moekti yg saat itu tdk berkenan disopiri oleh perempuan. Dulu saya mengusulkan utk mengundangnya krn melihat sosok nya selaku figur publik yg bermanfaat utk promosi perusahaan, bukan krn afiliasinya yg tdk banyak saya ketahui. Sebagian orang di lingkungan saat itu mengira saya satu afiliasi.
Saat itu saya sedikit tahu tentang pertarungan ideologis antara pan islamisme dan nasionalisme sekuler, serta gesekan pemahaman antara islam tradisi dgn puritan. Tetapi saat itu saya tdk berminat pd konflik tsb, sehingga cenderung berkawan dgn siapapun yg berlatar belakang apapun. Namun saat ini saya mulai memahaminya dlm perspektif luas, sehingga cenderung berdiri di satu sisi yg dianggap paling moderat utk menangkal serangan yg merusak citra agama, bangsa, dan negara.
#BiografiCahyana
Jumat, 18 November 2022
Saat Energi Telah Berkurang
Meninggalkan Bayangan untuk Cahaya
Saat cahaya Nya hadir, maka segala cahaya menjadi redup dan segala wajah menjadi sirna. Hanya ada Dia dan tdk ada aku. Segala bayangan menjadi sirna.
Mengakui bayangan diri merupakan sebentuk kekhilafan akan Kekuasaan Nya yg menyirnakan segalanya. Dalam keadaan demikian lebih sulit bagi seseorang utk mengingat Nya yg mengaruniakan kebaikan dari pada berusaha melihat mahluk yg memberikan kebaikan itu.
Walau demikian, orang tdk beruntung saat kesulitan melihat orang yg berbuat baik kpd dirinya dan kesulitan mengingat Nya, sehingga cenderung tdk menikmati perbuatan tsb. Dia tdk berhasil sampai kpd kesadaran akan kebaikan Khalik dan mahluk Nya. Orang yg beruntung mampu bersyukur kpd Khalik dan mahluk Nya.
#PersepsiCahyana
Sabtu, 12 November 2022
Tuhan dan Sistem Biner Nya
Tuhan menciptakan sesuatu secara berpasangan.
"Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (kebesaran Allah)" (QS. Az Zariyat: 49).
Sebagai anak informatika saya menyebutnya sistem biner yg dapat tersaji dalam bentuk hidup dan mati, terang dan gelap, kebenaran dan kebatilan, golongan kanan dan kiri, jalan lurus dan menyimpang, atau semisal lainnya. Setiap unit terkecil nya dapat terbagi menjadi dua, seperti jalan menyimpang terbagi menjadi jalan yg ditempuh kluster sesat dan dimurkai.
"Tunjukilah kami jalan yg lurus. Yaitu jalannya orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang tersesat.” (QS. al-Fatihah: 7)
Setiap unit terkecil memiliki intensitas positif atau negatif minimum hingga maksimum, sehingga intensitas biner nya akan membentuk polaritas negatif dan positif. Sebagai contoh gelap yg berangsur menghilang krn digantikan oleh terang yg meningkat intensitasnya secara bertahap, dan demikian pula sebaliknya. Proses tersebut menciptakan gradasi yg indah. Dalam contoh pelangi, rentang polarisasi itu membentuk beragam warna. Lapisan yg rapi itu utk mewujudkan keseimbangan, sebagaimana hal nya lapisan langit.
“Dia (Allah) Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?” (QS. Al-Mulk : 3)
Demikian pula manusia dlm proses pembentukannya, berubah dari pendek atau kecil menjadi tinggi atau besar, dan dalam rentang usia tertentu manusia diberikan pelayanan dan tempat yg khusus. Dgn adanya sistem biner dan polaritasnya, kita dapat memahami kenapa manusia tdk dapat menjadi satu kelompok saja di dunia ini. Bahkan di akhirat sana, Tuhan menyediakan 7 surga dan 7 neraka yg akan diisi oleh kelompok berbeda. Semua terjadi karena sistem biner yg Tuhan ciptakan agar manusia melihat kehebatan Nya.
"Dan jika Allah menghendaki niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Dia menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tetapi kamu pasti akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan". (QS. an-Nahl: 93)
Sistem biner itu hanya ada dua dan tdk ada yg ketiga. Keduanya saling bertentangan, sehingga tdk ada sesuatu yg memiliki keadaan bertentangan sekaligus. Sebagaimana kebenaran yg berlawanan dgn kebatilan dan tdk dapat tercampur.
"Jangan kalian mencampur kebenaran dengan kebatilan. Jangan juga kalian menyembunyikan kebenaran. Padahal kalian menyadarinya,” (QS. Al-Baqarah: 42).
Larangan mencampur menunjukan sifat keduanya yg berlawanan. Salah satu unsurnya memiliki dua kondisi yg berlawanan, yakni tersembunyi dan terekspos. Setiap unitnya memiliki polaritas dgn rentang sangat tersembunyi hingga sangat terekspos.
Aturan tersebut merupakan tiga kaidah berfikir, mencakup 1) law of identity, di mana A=A, dan B=B, tdk mungkin A=B; 2) Law of Non-Contradiction, di mana tdk mungkin kondisinya A dan B; dan 3) Law of Ecluded Middle, di mana salah satunya harus benar, tdk mungkin ada yg ketiga.
Pilihan banyak itu hanya ada dalam A atau B. Bila A adalah kebenaran, maka a1, a2, ... an mewarisi kebenaran tsb, sehingga kita bisa memilih lebih dari satu a. Walau a1 berbeda dgn a2, tetapi nilai keduanya sama, yakni benar. Seperti kita boleh memilih lebih dari satu cara hidup, tetapi tdk boleh memilih satu pun cara utk mati (bunuh diri).
"Barangsiapa yang membunuh dirinya sendiri dengan suatu cara yang ada di dunia, niscaya kelak pada hari kiamat Allah akan menyiksanya dengan cara seperti itu pula.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Senin, 07 November 2022
Kemudahan yang tidak bisa Dipaksakan
Kemarin ada seorang pria datang ke rumah dan meminta nasi utk anaknya. Saya lihat dia bersama istri dan anak-anaknya. Istri dan anak perempuannya bercadar, sementara dia dan anak laki-lakinya mengenakan pakaian khas tertentu. Kemudian saya meminta istri untuk segera menyajikan nasi dan lauk di ruang tamu.
Saya memanggil dia utk datang bersama keluarganya. Pria berlogat Jawa tersebut menceritakan musibah yg menimpanya. Tasnya yg berisi uang hilang diambil orang saat berada di kendaraan umum. Dia berniat pulang ke Solo dgn berjalan kaki atau menumpang truk. Saya pun iba mendengarnya, terlebih dia membawa anak kecil.
Setelah selesai salat Dzuhur, saya menghampirinya. Saya menawarkan bantuan, mengantarkannya dgn kendaraan. Saya berniat membelikan tiket bus utk mereka. Saya berkata, "Ikutlah dgn saya agar perjalanan pulangnya lebih ringan".
Tetapi pria itu menolak dan mengatakan hidangan nasi saja sudah sangat cukup. Saya mencoba meminta istrinya utk menjawab tawaran saya, tetapi istrinya tdk berkata apa-apa. Kemudian saya berkata, "Baiklah, setidaknya saya sudah menawarkan bantuan".
Sebenarnya secara alami, manusia akan cenderung pada kemudahan. Saat manusia berada dlm kesulitan dan melihat ada kemudahan, manusia akan melihatnya sebagai kemudahan dari Allah. Tetapi tdk semua orang terbiasa menerima sesuatu dari orang lain.
Saya bisa saja memaksanya utk menerima bantuan ini, terlebih saya mengharapkan kemudahan yg Allah janjikan bagi siapa saja yg memberi kemudahan bagi orang lain. Tetapi saya merasa khawatir paksaan itu malah menjadi kesulitan bagi dirinya, sehingga saya dgn berat hati membiarkannya berjalan bersama keluarganya.
#BiografiCahyana