Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Kamis, 06 April 2023

Pengantar Pandu Digital Sektor Pendidikan


Pandu Digital adalah pendamping masyarakat dalam literasi digital yang merupakan program Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI). Visi Pandu Digital sebagai gerakan nasional yang berkontribusi secara strategis dan substansial dalam peningkatan literasi digital masyarakat dapat terwujud dengan melaksanakan misi pemberdayaan komunitas dengan membangun kordinasi dan kolaborasi antar komunitas dan pemangku terkait, meningkatkan kapasitas Pandu Digital, dan memerankan Pandu Digital sebagai dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, tahapan yang harus ditempuh oleh Pandu Digital Sektor Pendidikan untuk mewujudkan visi tersebut mencakup:

  1. Perencanaan program Pandu Digital Sektor Pendidikan yang melibatkan komunitas dan pemangku terkait;
  2. Mobilisasi warga akademik menjadi Pandu Digital
  3. Peningkatan kapasitas Pandu Digital melalui aktivitas:
    • Penyadaran akan arti penting keikutsertaan warga negara dalam pembangunan literasi digital pada sektor pendidikan di Indonesia; dan
    • Pelatihan Pandu Digital yang memberikan kompetensi untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan warga akademik terkait literasi digital;
  4. Penerapan kompetensi Pandu Digital dengan melaksanakan peran dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat terkait sektor pendidikan.

Pandu Digital terbagi ke dalam tiga kelompok tingkatan:

  1. Purwa (badge merah), yakni Pandu Digital yang memiliki pengetahuan literasi digital pada sektor tertentu;
  2. Madya (badge biru), yakni Pandu Digital yang memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital; dan
  3. Utama (badge hitam), yakni Pandu Digital yang memiliki keahlian dalam menerapkan pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah literasi digital di masyarakat.

Berdasarkan pembagian tersebut, Pandu Digital Purwa dalam sektor pendidikan adalah warga akademik yang dimobilisasi oleh Pandu Digital Utama, di mana mobilisasi itu diasumsikan sebagai solusi bagi masalah literasi digital di masyarakat. Contoh masalah yang dimaksud adalah luasnya wilayah Indonesia dan sebaran melek digital yang belum merata. Pandu Digital Madya ditugaskan oleh Pandu Digital Utama untuk meningkatkan kapasitas Pandu Digital Purwa dengan mentransfer kompetensi dalam Modul Literasi Digital yang mencakup dua kelompok materi Peningatan Kapasitas, yakni penyadaran dan panduan teknis pemanfaatan perangkat teknologi informasi pada sektor pendidikan secara mendasar. Tugas tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan pemerintah terhadap Pandu Digital. Kedua kelompok materi tersebut terdistribusi ke setiap tahapan proses bisnis yang berjalan di dalam sistem pendidikan dan melibatkan interaksi antara warga akademik dan konten; atau ke setiap kompetensi literasi digital yang mencakup literasi teknologi informasi, literasi informasi, penciptaan kapasitas, serta komunikasi dan kolaborasi yang keempatnya harus mencakup kompetensi keamanan dan penyelesaian masalah. 

Selanjutnya, Pandu Digital Utama menugaskan Pandu Digital Purwa untuk memberikan dukungan teknis kepada pemerintah atau masyarakat guna membuktikan kapasitasnya selaku pendamping masyarakat dalam literasi digital. Dengan demikian, Pandu Digital Purwa ini berhadapat dengan masyarakat. Mengingat kelompok pada level ini mungkin diisi oleh warga akademik yang masih amatir atau baru menguasai kompetensi Pandu Digital atau literasi digital sektor pendidikan, maka layanan dukungan teknisnya dapat dilaksanakan secara berkelompok di bawah bimbingan Pandu Digital Madya. Bilamana Pandu Digital Purwa berhadapan dengan masalah terkait literasi digital sektor pendidikan, ia dapat melewati level dukungan teknis berikut ini:

  1. Berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan merujuk Modul Literasi Digital Sektor Pendidikan;
  2. Apabila level 1 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Purwa dapat meminta masukan atau panduan dari Pandu Digital Madya yang dianggap memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital;
  3. Apabila level 2 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Madya turun langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dibantu oleh Pandu Digital Purwa; dan
  4. Apabila level 3 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Utama akan membantu dengan mengirimkan dukungan teknis pihak ketiga yang berasal dari luar Pandu Digital dan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas dengan melibatkan Pandu Digital, contohnya perusahaan.

Pandu Digital yang bergerak dalam sektor pendidikan berasal dari komunitas TIK, seperti lembaga pendidikan atau organisasi masyarakat. Hubungan komunitas TIK dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas sasaran yang dibantu sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:


Komunitas TIK berada pada level mandiri saat layanan dukungan teknisnya didanai secara swadaya sendiri dan/atau oleh sponsor. Komunitas TIK dapat naik level menjadi madani saat layanan dukungan teknisnya didanai oleh kegiatan usahanya yang merupakan hasil kerjasama pemberdayaan dengan perusahaan. Hubungan komunitas TIK dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas sasaran pada level ini sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:


Nampak pada gambar tersebut, pemerintah berperan sebagai penyedia fasilitas TIK yang dimanfaatkan oleh komunitas sasaran dan dapat berkolaborasi dengan Pandu Digital dari komunitas TIK yang diberdayakan oleh perusahaan tertentu. Mungkin saja fasilitas tersebut berkaitan dengan layanan bisnis milik perusahaan, sehingga nampak ada kolaborasi yang saling menguntungkan di antara pemangku kepentingan. Contohnya, pemerintah memfasilitasi kegiatan temu daring komunitas sasaran menggunakan layanan perusahaan tertentu, dan perusahaan tersebut merekrut Pandu Digital dari komunitas TIK untuk memberikan dukungan teknis. 




Pandu Digital Berkarakter

Pada dasarnya manusia memiliki karakter atau dorongan perasaan untuk melakukan sesuatu. Apabila perasaannya baik, maka tindakannya mungkin akan baik bila sejalan dengan norma-norma yang berlaku. Contohnya dorongan perasaan cinta tanah air yang membuatnya ingin membantu meningkatkan populasi melek digital di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak setiap maksud baik seperti itu terlaksana secara baik. Contohnya, memberikan dukungan teknis berupa penyediaan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan menggunakan perangkat lunak bajakan. Tindakan ilegal tersebut menyebabkan sanksi hukum. Maksud yang baik harus dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pemahaman akal terhadap sebab-akibat pemenuhan atau pengingkaran terhadap norma agama, kesusilaan, kesopanan, atau hukum menjadi kendali yang membuat tindakannya menjadi normatif dan berdampak baik bagi dirinya dan orang lain. 

Dorongan manusia dipengaruhi oleh sifat-sifat manusia atau kemanusiaan yang secara mendasar mencakup:

  • Openness, yakni memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar pada orang lain atau lingkungannya, dan sangat senang untuk belajar hal-hal baru dan menikmati pengalaman unik;
  • Conscientiousness, yakni memiliki tujuan yang jelas untuk setiap kegiatan atau hal yang dilakukan serta mampu berpikir jauh mengenai sesuatu;
  • Extraversion, yakni menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak;
  • Agreeableness, yakni sangat kooperatif, tertarik dan perhatian pada orang lain, serta suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuan; dan
  • Neuroticism, yakni mudah mengalami mood swing, depresi, cemas, lekas marah dan sedih.

Manusia harus mengelola sifat-sifat mendasar tersebut agar selalu positif dengan intensitas tinggi atau rendah yang sesuai dengan kebutuhan. Contohnya, seseorang perlu mengelola sifat-sifat mendasarnya untuk menjadi Pandu Digital yang memberikan dukungan teknis demi kepentingan bangsanya. Ia harus memiliki intensitas openness yang tinggi dan positif agar menemukan masalah bangsanya. Tentunya keingintahuannya terhadap masalah bangsa tidak akan terwujud bila Extraversion nya rendah dan negatif. Seseorang tidak akan menemukan masalah orang di sekitarnya bila tidak menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak. Ia akan tergerak untuk membantu bila memiliki Agreeableness yang tinggi dan positif. Namun bergerak saja tidak cukup, ia harus memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya dan mengetahui sebab akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Ia harus memiliki Conscientiousness yang tinggi dan positif untuk memiliki niat seperti itu. Dan tentunya niat saja tidak cukup, ia harus mampu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah besar. Ia akan memiliki komitmen melaksanakan tindakan sampai akhir bila mampu mengelola mood. Oleh karenanya ia harus membuat  Neuroticism nya selalu mengayun tinggi ke arah positif. 

Suatu bangsa memiliki karakter khas karena terpengaruh oleh kebiasaan baik di lingkungan tumbuh kembangnya. Karakter khas semacam itu dirangkum dalam Pancasila yang berfungsi dan berkedudukan sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian tersebut dapat dibedakan dari kepribadian bangsa lainnya. Idealnya, bila kebanyakan warga Indonesia dikenal ramah di dunia nyata, maka di dunia maya pun harus demikian. Apabila tidak demikian, kebanyakan netizen tidak berhasil membawa karakter baiknya ke dunia maya. Contoh tindakannya adalah ujaran kebencian daring yang merupakan tindakan komunikasi menyimpang karena melanggar standar, aturan, atau norma budaya bersama dalam interaksi sosial dalam konteks kelompok sosial. Contoh pelanggaran norma lainnya antara lain pencemaran nama baik, seruan kekerasan, agitasi dengan memprovokasi pernyataan yang memperdebatkan masalah politik atau sosial yang menampilkan pandangan diskriminatif, rumor dan konspirasi. Kebisingan psikologis seperti sindiran dan prasangka di antaranya berhubungan dengan karakter. Salah satu sebabnya adalah anonim, di mana ada perasaan seseorang tidak dikenali oleh orang lain.  Drew Boyd, Direktur Operasi di The Sentinel Project mengatakan bahwa internet memberi individu kemampuan untuk mengatakan hal-hal yang mengerikan karena merasa tidak akan ditemukan. Orang merasa jauh lebih nyaman berbicara kebencian di dunia maya, dibandingkan dengan melakukannya di kehidupan nyata yang membuat mereka harus menghadapi konsekuensi dari apa yang mereka katakan. 

Netizen Indonesia yang berkarakter tentu saja tidak akan bertindak demikian. Orang berkarakter adalah seseorang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral. Karakter digital Indonesia adalah kepribadian bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan tercermin dalam interaksi digital. Contoh nilai-nilai Kemanusiaan dalam Pancasila yang dapat menghindarkan netizen Indonesia dari sikap tidak baik antara lain saling mencintai sesama manusia, sehingga ia akan memperlakukan netizen lainnya sebagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh orang lain. Seorang Pandu Digital disebut mewarisi nilai sila kedua Pancasila apabila gemar melakukan kegiatan kemanusiaan dengan bantuan TIK, contohnya dukungan teknis berupa penyediaan sistem informasi kebencanaan.


Rabu, 05 April 2023

Kerja Kolaborasi Membangun Literasi Digital Indonesia

Upaya memasukan cara berpikir komputasi / CT dalam kompetensi literasi digital telah dilakukan sejak Festival TIK di Cirebon. Saat itu saya memperkenalkannya kepada pak Bambang Tri Santoso - Pemberdayaan Komunitas TIK, dan yg terlihat sangat antusias adalah mba Yusnita. Saya pertama kali mengenal CT dari ibu Inggriani Liem melalui Bebras Indonesia nya, hikmah mengurus progress pendidikan salah satu dosen prodi saat itu. Pada akhirnya ada perhatian Kominfo terhadap CT. Hal tsb nampak dlm kehadiran rekan biro Bebras Indonesia di SEA-IGF Bali beberapa tahun lalu dan dlm TOT Pandu Digital Madya di Cikarang saat ini. Biro Bebras ITG yg jadi tim penyusun modul literasi digital sektor pendidikan di masa lalu telah menyisipkan materi CT. Kurang lebih ini semacam upaya mengawinkan relawan TIK atau Pandu Digital dgn biro bebras yg di ITG sdh terjadi, di mana personel biro adalah relawan TIK atau Pandu Digital, dan literasi digital yg disampaikan kpd masyarakat sudah mencakup CT. Ini merupakan perkawinan yg cocok, mengingat Bebras telah menggunakan istilah Siaga, Penggalang, Penegak yg dikenal dalam kepanduan di Indonesia dlm event tahunannya, dan Relawan TIK telah menjadi Pandu Digital. Dukungan Kemendikbud RI terhadap event tahunan Tantangan Bebras Indonesia terlihat dari surat edaran utk menggalang partisipasi siswa.

Di sisi lain, saya telah menghubungkan Bebras dgn Kemenag melalui Ditjen PAI, sehingga CT mulai diperhatikan oleh lembaga pendidikan di lingkungan Kemenag. Ada beberapa kampusnya yang menjadi biro Bebras. Beberapa waktu kemudian, saya memberikan nomor kontak Dirjen PAI kpd pak Boni Pudjianto - Direktorat Pemberdayaan Informatika agar program literasi digital Kemenkominfo dapat berjalan di lembaga pendidikan di lingkungan Kemenag. Dirjen PAI pernah menjabat sebagai ketua STT Garut. Pada akhirnya, Ditjen APTIKA Kemenkominfo dan Ditjen PAI bertemu dan membangun kerjasama program literasi digital. Hal tsb merupakan langkah penting bagi usaha membangun literasi digital Indonesia dgn menyatukan semua potensi terbaik bangsa ini. 

 #LiterasiDigital #BiografiCahyana

Kamis, 30 Maret 2023

Manusia dan Kecerdasan Buatan

Di masa depan Manusia hanya perlu mengatakan, "Jadilah sesuatu dengan spesifikasi seperti ini", maka kecerdasan buatan atau AI akan membuatnya terjadi, dengan kompilator, mesin cetak 3D, dan lain sebagainya. Manusia memang citra Tuhan, dalam keterbatasan yg membuatnya tdk menyamai Tuhan yg menciptakannya. Hanya Tuhan yang mampu menciptakan sesuatu yg pertama tanpa material apapun dgn perintah Nya, "Jadilah!", maka terjadilah.

Kreativitas manusia bergeser dari yg awalnya mencakup bagian proses penciptaan sesuatu, menjadi hanya bagian input saja. Fokus tersebut membuat kualitas input menjadi lebih baik, dan secara tdk langsung berdampak pada output, namun tergantung sebaik apa kinerja AI yg memproses input menjadi output. Manusia fokus pada sesuatu yg bersifat immaterial, dan perbaikan kualitasnya; AI berinteraksi dgn material utk menghasilkan sesuatu yg dirasakan atau dipikirkan manusia. Hal demikian, sejalan dgn sifat penghuni surga yg cenderung pada kemudahan, mendapatkan apa yg diinginkannya dengan hanya meminta, dengan sebaik-baiknya permintaan kepada Tuhan.

 #PersepsiCahyana

Kamis, 16 Maret 2023

Perbedaan, Emosi, Kata-Kata Kasar


Perbedaan pandangan politik atau keagamaan dapat membuat seseorang kehilangan adab, contohnya menyebut orang yg lebih tua dgn kata "Maneh". Seorang guru dapat kehilangan pekerjaan lantaran bertutur kata seperti itu yg dipandang tdk baik menurut adat Sunda. Mungkin karena dia adalah guru, sosok yg akan digugu dan ditiru oleh siswanya, sehingga ketidak santunan menjatuhkan derajat kemuliaannya. Sungguh sayang bila ia tdk menyadari kesalahannya dan meminta maaf.

Saya pribadi pernah berhadapan dgn adik tingkat yg bertutur kata tdk pas semacam itu. Usianya jauh di bawah saya. Perbedaan pandangan membuatnya merasa kesal, namun tdk berani mengungkapkannya secara langsung. Dia menyebut orang yg membuatnya kesal dlm kiriman di beranda media sosial dgn kata "Silaing". Kata tsb berasal dari "silah" (teman) dan "aing" (aku), atau "teman ku". Kata kasar ini muncul saat sedang emosi. Walau lebih halus dari kata "sia" (kamu), kata ini bagi saya tdk baik digunakan untuk orang berusia jauh lebih tua. Saya memberinya nasihat, namun sayangnya ia tdk merasa bersalah.

Seseorang akan menggunakan kata-kata kasar atau negatif saat emosinya memuncak. Terkadang ia akan menguatkan emosinya dgn julukan kelompok, sehingga terjatuh pada ujaran kebencian. Ujaran-ujaran semacam itu merupakan serangan psikis yg dapat membuat targetnya merasa tdk nyaman dgn harapan nyalinya menciut. Namun, Indonesia dgn adat timurnya akan menghukumi serangan seperti itu yg dilakukan kepada orang yg lebih tua sebagai ketidakpatutan.

Ada baiknya bila emosi tersebut diredakan, sehingga tdk sampai berkata kasar kepada orang lain. Membuat keputusan dalam kondisi emosi itu tdk baik, dan menyerang orang lain atas dasar emosi itu tdk benar. Teringat guru akhlak saya pernah berkata, marah adalah penyakit. Sekiranya kesabaran tdk memadai, mungkin wudhu bisa menolong. Kita yg senantiasa berkiblat pada perdamaian tdk akan mengorbankan persaudaraan demi pandangan politik atau keagamaan.

#PersepsiCahyana

Senin, 13 Maret 2023

Menjajal Jalan Sempit Banjarwangi


Garut, 12 Maret 2023. Hari saya ini menjajal jalan di Banjarwangi. Jalannya sempit, naik turun, pinggirnya jurang. Saking sempitnya, kita harus mepet pinggir bila ada kendaraan di depan. Sore itu kendaraan yg saya kemudikan harus mepet pinggir agar tersedia ruang cukup bagi truk yg datang dari arah depan. Naasnya, roda kiri masuk lubang yg cukup dalam, sehingga tdk bisa maju atau mundur. Semua penumpang turun krn merasa takut. Ada banyak pengendara motor yg berhenti utk membantu.

Syukurlah kendaraan dapat saya bawa keluar dari lubang tersebut setelah mengarahkan roda depan sampai mentok ke arah kanan. Sebelum kejadian di jalan menurun itu, saya mengalami kejadian yg tdk kalah horor. Roda ban sempat selip saat menikung di tanjakan. Pengalaman pertama kali membawa kendaraan roda empat tersebut lebih menantang dibandingkan perjalanan ke Cisewu via Pangalengan.

Saya sempat berpikir, seandainya jalan tersebut dibangun di jaman penjajahan, apakah kita harus terjajah dulu agar kondisi jalannya menjadi lebih baik? Tentu saja tdk. Mungkin yg menjadi masalah adalah ketersediaan dana pengembangan nya, bukan karena tdk ada seorang pun yg ingin jalan nya lebih lebar dan nyaman. Saya tdk tahu, apakah pengembangan jalan nya tdk menjadi prioritas, atau tdk ada dana yg cukup utk itu?

Lepas dari itu semua, warga di sana mungkin sdh terbiasa dgn kondisi jalan dan handal dlm menghadapi tantangan perjalanan seperti itu selama bertahun-tahun. Tetapi saya merasa tdk yakin warga luar merasa nyaman, dan rasanya akan cenderung utk tdk melewatinya bila tdk terpaksa. Entah bagaimana investasi bisnis dari luar dapat masuk dgn kondisi jalan seperti itu. Nampaknya warga di sana berusaha lebih keras utk menjalankan roda ekonomi dibandingkan warga lain di wilayah yg infrastrukturnya jauh lebih baik. 

#BiografiCahyana

Rabu, 08 Maret 2023

Hoax di Celah Kelemahan Manusia

Menurut sebagian pendapat, Adam tergelincir bukan karena lemah terhadap Hawa. Dengan kata lain, pria pertama kali tergelincir bukan karena wanita, sehingga tidak ada isu gender di dalamnya. Tetapi karena Adam tidak menganalisis Hoax, percaya begitu saja, hanya karena Iblis si pembuat Hoax adalah tokoh senior di surga yang terkemuka dan dekat dengan Allah. 

Rupanya hal tersebut merupakan celah kekurangan manusia, sehingga kita melihat terulangnya kesalahan seperti itu hingga saat ini. Ada banyak orang yang percaya dengan hoax hanya karena melihat ketokohan orang yang menyampaikannya. Bahkan ada orang yang mempercayai hoax hanya karena yang menyampaikannya adalah teman dekatnya, bukan karena temannya itu seorang tokoh. Lebih jauh lagi, ada banyak orang yang mudah diadu domba atau terprovokasi karena mengikuti hoax.

Pendapat lain mengatakan bahwa Adam mempercayai hoax karena terenyuh oleh tangisan iblis si pembohong, dan karena ada nama Allah yg dicatut dalam sumpah yg menutupi kebohongan. Hal itu merupakan celah kelemahan manusia sampai sekarang, sehingga banyak orang yg emosional menjadi percaya pada hoax begitu saja, terlebih ada sumpah yg menyebut nama Allah seraya mempertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya demi hoax yg dipropagandakan.

 #LiterasiDigital

Minggu, 26 Februari 2023

Saya Memilih Bekerja di Garut


Seseorang pernah bertanya, kenapa saya bekerja di Garut?. Padahal menurutnya, Garut bukan kota besar seperti Bandung, bahkan Subang menurutnya jauh lebih baik. 

Saya menceritakan salah satu alasannya. Dulu selepas kuliah dan sebelum menjadi PNS, perusahaan multinasional pernah menerima saya bekerja sebagai staf IT di Jakarta Pusat. Walau dijanjikan gaji fresh graduate, tetapi gajinya berlipat dibandingkan honor yg saya terima dari kampus. Tetapi setelah memperoleh informasi diterima bekerja, satu hari kemudian saya putuskan utk mengundurkan diri. Saya kirimkan surat pengunduran diri melalui surat. 

Alasan pengunduran diri saya saat itu adalah karena merasa tdk cocok dgn suhu udara di sana. Saya merenungkan suhu udara itu saat keluar dari gedung utk mengambil air wudhu. Suhu di luar terasa seperti berada di dekat tungku perapian. Saat itu saya berpikir, lebih baik tinggal di tempat yg tdk panas dari pada gaji besar tapi tubuh tdk nyaman. Jadi pertimbangan saat itu adalah kenyamanan tubuh, bukan finansial atau lainnya.

Saat ini saya terikat tugas di Garut, diperbantukan oleh negara di kampus almamater. Tetapi sebenarnya bukan itu yg membuat saya tetap memilih bertugas di Garut. Saya bisa saja mengajukan pindah tugas ke tempat lain atau memilih utk tdk lagi bertugas sebagai dosen. 

Saat itu ada seseorang yg mengingatkan agar saya menjaga kesetiaan pada almamater. Saya meresponnya dgn tersenyum. Bagaimana saya tdk setia? Dulu ada teman SMA yg menawarkan pindah tugas ke perguruan tinggi negeri di tempat yg jauh lebih besar dari Garut, tetapi saya menolaknya. Bahkan sampai saat ini saya hanya mengajar di kampus almamater tempat bertugas. Memang dulu sempat mengajar di kampus lain sekitar dua semester, tapi persentasenya terlalu sedikit jika dibandingkan persentase mengajar di almamater yg sudah akan menginjak 20 tahun.

Kebetulan saya diangkat menjadi PNS barengan dgn kakak. Saya sebagai dosen, dan kakak sebagai guru. Persyaratan kenaikan pangkat dan golongan utk dosen lebih berat dari guru. Misalnya, naik ke III/b harus kuliah S2 dulu dgn biaya yg tdk sedikit. Saya harus pulang pergi Garut-Bandung utk menghemat pengeluaran. Terbayang bila saat itu tugas belajar yg membuat tunjangan berhenti, sudah pasti anak dan istri akan kekurangan biaya hidup. Dengan tunjangan berjalan saja kebutuhan dapur tersita oleh biaya kuliah. Di sisi lain, kalau tdk naik pangkat dan golongan saya pasti akan mendapatkan peringatan.

Oleh karenanya pangkat dan golongan kakak lebih cepat naiknya dibandingkan saya. Melihat hal itu, naluri orang tua pasti hadir, sehingga beliau meminta saya utk pulang ke Subang dan mengambil tugas PNS selain dosen di sana. Tetapi karena tugas ini diperoleh bukan krn keinginan, saya menganggapnya sebagai pilihan Tuhan yg harus dijalani dgn ikhlas. Saya tdk pernah bermimpi utk menjadi dosen sebelum atau setelah lulus kuliah sarjana.

Alasan lain yg membuat tdk beranjak dari Garut adalah karena selepas kuliah saya berniat utk membantu alm Kyai Anwar Musaddad, bukan krn siapa yg memimpin kampusnya. Oleh krn nya saya tdk pernah banyak pertimbangan saat melakukan apapun yg terbaik utk almamater. Ada kesempatan utk memajukan IT kampus, saya lakukan semampunya, bahkan dgn swadaya sendiri dan dgn bantuan adik-adik tingkat. Ada kesempatan utk memperoleh bantuan eksternal, saya kerjakan tanpa terpikir sama sekali soal mencari keuntungan finansial dari bantuan tsb. Saya tdk kaya, tetapi saya merasa cukup kaya dgn membantu.

Namun tentunya ada banyak hal yg dikorbankan. Waktu yg terlalu banyak utk melayani masyarakat membuat kesempatan mengurus diri sendiri, seperti pangkat, golongan, dan jabatan menjadi sedikit. Sikap loyal seperti itu sedikit banyak berdampak pd keluarga dlm jangka panjang. Saya meyakini, Tuhan dapat menunjukan kapan saya harus menyeimbangkan pelayanan kpd diri sendiri dan selainnya, serta memusatkan pandangan pada keluarga, baik dgn atau tanpa meninggalkan Garut. 

#BiografiCahyana