Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Rabu, 12 April 2023
GMA dan Percikan Cahaya
Kamis, 06 April 2023
Pengantar Pandu Digital Sektor Pendidikan
Pandu Digital adalah pendamping masyarakat dalam literasi digital yang merupakan program Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI). Visi Pandu Digital sebagai gerakan nasional yang berkontribusi secara strategis dan substansial dalam peningkatan literasi digital masyarakat dapat terwujud dengan melaksanakan misi pemberdayaan komunitas dengan membangun kordinasi dan kolaborasi antar komunitas dan pemangku terkait, meningkatkan kapasitas Pandu Digital, dan memerankan Pandu Digital sebagai dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, tahapan yang harus ditempuh oleh Pandu Digital Sektor Pendidikan untuk mewujudkan visi tersebut mencakup:
- Perencanaan program Pandu Digital Sektor Pendidikan yang melibatkan komunitas dan pemangku terkait;
- Mobilisasi warga akademik menjadi Pandu Digital
- Peningkatan kapasitas Pandu Digital melalui aktivitas:
- Penyadaran akan arti penting keikutsertaan warga negara dalam pembangunan literasi digital pada sektor pendidikan di Indonesia; dan
- Pelatihan Pandu Digital yang memberikan kompetensi untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan warga akademik terkait literasi digital;
- Penerapan kompetensi Pandu Digital dengan melaksanakan peran dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat terkait sektor pendidikan.
Pandu Digital terbagi ke dalam tiga kelompok tingkatan:
- Purwa (badge merah), yakni Pandu Digital yang memiliki pengetahuan literasi digital pada sektor tertentu;
- Madya (badge biru), yakni Pandu Digital yang memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital; dan
- Utama (badge hitam), yakni Pandu Digital yang memiliki keahlian dalam menerapkan pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah literasi digital di masyarakat.
Berdasarkan pembagian tersebut, Pandu Digital Purwa dalam sektor pendidikan adalah warga akademik yang dimobilisasi oleh Pandu Digital Utama, di mana mobilisasi itu diasumsikan sebagai solusi bagi masalah literasi digital di masyarakat. Contoh masalah yang dimaksud adalah luasnya wilayah Indonesia dan sebaran melek digital yang belum merata. Pandu Digital Madya ditugaskan oleh Pandu Digital Utama untuk meningkatkan kapasitas Pandu Digital Purwa dengan mentransfer kompetensi dalam Modul Literasi Digital yang mencakup dua kelompok materi Peningatan Kapasitas, yakni penyadaran dan panduan teknis pemanfaatan perangkat teknologi informasi pada sektor pendidikan secara mendasar. Tugas tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan pemerintah terhadap Pandu Digital. Kedua kelompok materi tersebut terdistribusi ke setiap tahapan proses bisnis yang berjalan di dalam sistem pendidikan dan melibatkan interaksi antara warga akademik dan konten; atau ke setiap kompetensi literasi digital yang mencakup literasi teknologi informasi, literasi informasi, penciptaan kapasitas, serta komunikasi dan kolaborasi yang keempatnya harus mencakup kompetensi keamanan dan penyelesaian masalah.
Selanjutnya, Pandu Digital Utama menugaskan Pandu Digital Purwa untuk memberikan dukungan teknis kepada pemerintah atau masyarakat guna membuktikan kapasitasnya selaku pendamping masyarakat dalam literasi digital. Dengan demikian, Pandu Digital Purwa ini berhadapat dengan masyarakat. Mengingat kelompok pada level ini mungkin diisi oleh warga akademik yang masih amatir atau baru menguasai kompetensi Pandu Digital atau literasi digital sektor pendidikan, maka layanan dukungan teknisnya dapat dilaksanakan secara berkelompok di bawah bimbingan Pandu Digital Madya. Bilamana Pandu Digital Purwa berhadapan dengan masalah terkait literasi digital sektor pendidikan, ia dapat melewati level dukungan teknis berikut ini:
- Berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan merujuk Modul Literasi Digital Sektor Pendidikan;
- Apabila level 1 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Purwa dapat meminta masukan atau panduan dari Pandu Digital Madya yang dianggap memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital;
- Apabila level 2 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Madya turun langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dibantu oleh Pandu Digital Purwa; dan
- Apabila level 3 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Utama akan membantu dengan mengirimkan dukungan teknis pihak ketiga yang berasal dari luar Pandu Digital dan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas dengan melibatkan Pandu Digital, contohnya perusahaan.
Pandu Digital yang bergerak dalam sektor pendidikan berasal dari komunitas TIK, seperti lembaga pendidikan atau organisasi masyarakat. Hubungan komunitas TIK dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas sasaran yang dibantu sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:
Pandu Digital Berkarakter
Pada dasarnya manusia memiliki karakter atau dorongan perasaan untuk melakukan sesuatu. Apabila perasaannya baik, maka tindakannya mungkin akan baik bila sejalan dengan norma-norma yang berlaku. Contohnya dorongan perasaan cinta tanah air yang membuatnya ingin membantu meningkatkan populasi melek digital di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak setiap maksud baik seperti itu terlaksana secara baik. Contohnya, memberikan dukungan teknis berupa penyediaan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan menggunakan perangkat lunak bajakan. Tindakan ilegal tersebut menyebabkan sanksi hukum. Maksud yang baik harus dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pemahaman akal terhadap sebab-akibat pemenuhan atau pengingkaran terhadap norma agama, kesusilaan, kesopanan, atau hukum menjadi kendali yang membuat tindakannya menjadi normatif dan berdampak baik bagi dirinya dan orang lain.
Dorongan manusia dipengaruhi oleh sifat-sifat manusia atau kemanusiaan yang secara mendasar mencakup:
- Openness, yakni memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar pada orang lain atau lingkungannya, dan sangat senang untuk belajar hal-hal baru dan menikmati pengalaman unik;
- Conscientiousness, yakni memiliki tujuan yang jelas untuk setiap kegiatan atau hal yang dilakukan serta mampu berpikir jauh mengenai sesuatu;
- Extraversion, yakni menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak;
- Agreeableness, yakni sangat kooperatif, tertarik dan perhatian pada orang lain, serta suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuan; dan
- Neuroticism, yakni mudah mengalami mood swing, depresi, cemas, lekas marah dan sedih.
Manusia harus mengelola sifat-sifat mendasar tersebut agar selalu positif dengan intensitas tinggi atau rendah yang sesuai dengan kebutuhan. Contohnya, seseorang perlu mengelola sifat-sifat mendasarnya untuk menjadi Pandu Digital yang memberikan dukungan teknis demi kepentingan bangsanya. Ia harus memiliki intensitas openness yang tinggi dan positif agar menemukan masalah bangsanya. Tentunya keingintahuannya terhadap masalah bangsa tidak akan terwujud bila Extraversion nya rendah dan negatif. Seseorang tidak akan menemukan masalah orang di sekitarnya bila tidak menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak. Ia akan tergerak untuk membantu bila memiliki Agreeableness yang tinggi dan positif. Namun bergerak saja tidak cukup, ia harus memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya dan mengetahui sebab akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Ia harus memiliki Conscientiousness yang tinggi dan positif untuk memiliki niat seperti itu. Dan tentunya niat saja tidak cukup, ia harus mampu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah besar. Ia akan memiliki komitmen melaksanakan tindakan sampai akhir bila mampu mengelola mood. Oleh karenanya ia harus membuat Neuroticism nya selalu mengayun tinggi ke arah positif.
Suatu bangsa memiliki karakter khas karena terpengaruh oleh kebiasaan baik di lingkungan tumbuh kembangnya. Karakter khas semacam itu dirangkum dalam Pancasila yang berfungsi dan berkedudukan sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian tersebut dapat dibedakan dari kepribadian bangsa lainnya. Idealnya, bila kebanyakan warga Indonesia dikenal ramah di dunia nyata, maka di dunia maya pun harus demikian. Apabila tidak demikian, kebanyakan netizen tidak berhasil membawa karakter baiknya ke dunia maya. Contoh tindakannya adalah ujaran kebencian daring yang merupakan tindakan komunikasi menyimpang karena melanggar standar, aturan, atau norma budaya bersama dalam interaksi sosial dalam konteks kelompok sosial. Contoh pelanggaran norma lainnya antara lain pencemaran nama baik, seruan kekerasan, agitasi dengan memprovokasi pernyataan yang memperdebatkan masalah politik atau sosial yang menampilkan pandangan diskriminatif, rumor dan konspirasi. Kebisingan psikologis seperti sindiran dan prasangka di antaranya berhubungan dengan karakter. Salah satu sebabnya adalah anonim, di mana ada perasaan seseorang tidak dikenali oleh orang lain. Drew Boyd, Direktur Operasi di The Sentinel Project mengatakan bahwa internet memberi individu kemampuan untuk mengatakan hal-hal yang mengerikan karena merasa tidak akan ditemukan. Orang merasa jauh lebih nyaman berbicara kebencian di dunia maya, dibandingkan dengan melakukannya di kehidupan nyata yang membuat mereka harus menghadapi konsekuensi dari apa yang mereka katakan.
Netizen Indonesia yang berkarakter tentu saja tidak akan bertindak demikian. Orang berkarakter adalah seseorang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral. Karakter digital Indonesia adalah kepribadian bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan tercermin dalam interaksi digital. Contoh nilai-nilai Kemanusiaan dalam Pancasila yang dapat menghindarkan netizen Indonesia dari sikap tidak baik antara lain saling mencintai sesama manusia, sehingga ia akan memperlakukan netizen lainnya sebagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh orang lain. Seorang Pandu Digital disebut mewarisi nilai sila kedua Pancasila apabila gemar melakukan kegiatan kemanusiaan dengan bantuan TIK, contohnya dukungan teknis berupa penyediaan sistem informasi kebencanaan.
Rabu, 05 April 2023
Kerja Kolaborasi Membangun Literasi Digital Indonesia
Kamis, 30 Maret 2023
Manusia dan Kecerdasan Buatan
Kamis, 16 Maret 2023
Perbedaan, Emosi, Kata-Kata Kasar
Perbedaan pandangan politik atau keagamaan dapat membuat seseorang kehilangan adab, contohnya menyebut orang yg lebih tua dgn kata "Maneh". Seorang guru dapat kehilangan pekerjaan lantaran bertutur kata seperti itu yg dipandang tdk baik menurut adat Sunda. Mungkin karena dia adalah guru, sosok yg akan digugu dan ditiru oleh siswanya, sehingga ketidak santunan menjatuhkan derajat kemuliaannya. Sungguh sayang bila ia tdk menyadari kesalahannya dan meminta maaf.
Saya pribadi pernah berhadapan dgn adik tingkat yg bertutur kata tdk pas semacam itu. Usianya jauh di bawah saya. Perbedaan pandangan membuatnya merasa kesal, namun tdk berani mengungkapkannya secara langsung. Dia menyebut orang yg membuatnya kesal dlm kiriman di beranda media sosial dgn kata "Silaing". Kata tsb berasal dari "silah" (teman) dan "aing" (aku), atau "teman ku". Kata kasar ini muncul saat sedang emosi. Walau lebih halus dari kata "sia" (kamu), kata ini bagi saya tdk baik digunakan untuk orang berusia jauh lebih tua. Saya memberinya nasihat, namun sayangnya ia tdk merasa bersalah.
Seseorang akan menggunakan kata-kata kasar atau negatif saat emosinya memuncak. Terkadang ia akan menguatkan emosinya dgn julukan kelompok, sehingga terjatuh pada ujaran kebencian. Ujaran-ujaran semacam itu merupakan serangan psikis yg dapat membuat targetnya merasa tdk nyaman dgn harapan nyalinya menciut. Namun, Indonesia dgn adat timurnya akan menghukumi serangan seperti itu yg dilakukan kepada orang yg lebih tua sebagai ketidakpatutan.
Ada baiknya bila emosi tersebut diredakan, sehingga tdk sampai berkata kasar kepada orang lain. Membuat keputusan dalam kondisi emosi itu tdk baik, dan menyerang orang lain atas dasar emosi itu tdk benar. Teringat guru akhlak saya pernah berkata, marah adalah penyakit. Sekiranya kesabaran tdk memadai, mungkin wudhu bisa menolong. Kita yg senantiasa berkiblat pada perdamaian tdk akan mengorbankan persaudaraan demi pandangan politik atau keagamaan.
#PersepsiCahyana
Senin, 13 Maret 2023
Menjajal Jalan Sempit Banjarwangi
Garut, 12 Maret 2023. Hari saya ini menjajal jalan di Banjarwangi. Jalannya sempit, naik turun, pinggirnya jurang. Saking sempitnya, kita harus mepet pinggir bila ada kendaraan di depan. Sore itu kendaraan yg saya kemudikan harus mepet pinggir agar tersedia ruang cukup bagi truk yg datang dari arah depan. Naasnya, roda kiri masuk lubang yg cukup dalam, sehingga tdk bisa maju atau mundur. Semua penumpang turun krn merasa takut. Ada banyak pengendara motor yg berhenti utk membantu.
Syukurlah kendaraan dapat saya bawa keluar dari lubang tersebut setelah mengarahkan roda depan sampai mentok ke arah kanan. Sebelum kejadian di jalan menurun itu, saya mengalami kejadian yg tdk kalah horor. Roda ban sempat selip saat menikung di tanjakan. Pengalaman pertama kali membawa kendaraan roda empat tersebut lebih menantang dibandingkan perjalanan ke Cisewu via Pangalengan.
Saya sempat berpikir, seandainya jalan tersebut dibangun di jaman penjajahan, apakah kita harus terjajah dulu agar kondisi jalannya menjadi lebih baik? Tentu saja tdk. Mungkin yg menjadi masalah adalah ketersediaan dana pengembangan nya, bukan karena tdk ada seorang pun yg ingin jalan nya lebih lebar dan nyaman. Saya tdk tahu, apakah pengembangan jalan nya tdk menjadi prioritas, atau tdk ada dana yg cukup utk itu?
Lepas dari itu semua, warga di sana mungkin sdh terbiasa dgn kondisi jalan dan handal dlm menghadapi tantangan perjalanan seperti itu selama bertahun-tahun. Tetapi saya merasa tdk yakin warga luar merasa nyaman, dan rasanya akan cenderung utk tdk melewatinya bila tdk terpaksa. Entah bagaimana investasi bisnis dari luar dapat masuk dgn kondisi jalan seperti itu. Nampaknya warga di sana berusaha lebih keras utk menjalankan roda ekonomi dibandingkan warga lain di wilayah yg infrastrukturnya jauh lebih baik.
#BiografiCahyana



