Sekolah Tinggi Teknologi Garut
Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.
Program Studi Teknik Informatika
Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.
Rinda Cahyana
Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005
Sabtu, 15 April 2023
Menghadap dengan Kemuliaan
Jumat, 14 April 2023
Puncak Kenikmatan Makanan
Saat Google Maps memberi petunjuk arah dgn terus menyebut nama rumah makan, mungkin hal tsb cukup menggoda sebagian orang yg sedang berpuasa. Saat di sepanjang jalan yg dilalui oleh mobil dgn kecepatan rendah nampak berderet rumah makan, mungkin hal tsb cukup menggoda sebagian orang yg sedang berpuasa. Bahkan mungkin lampu rambu lalu lintas yg berwarna hijau mengkilap akan nampak seperti kolang kaling yg biasanya terlihat berenang di kolam sirup Marjan.
Puasa adalah kesempatan bagi penikmat makanan utk merasakan nikmatnya makanan. Hasrat makan yg tertahan akan membuat makanan terasa begitu lezat saat disantap. Rasa haus yg tertahan akan membuat air dingin mengalir indah di dalam kerongkongan. Puasa adalah cara bagi para penikmat kuliner utk mencapai puncak kenikmatan. Makanan biasa pun akan terasa luar biasa menyenangkan.
#PersepsiCahyana
Semangat Muhajirin
Kamis, 13 April 2023
Merubah Energi untuk Kesenangan yang Lebih Tinggi
Garut, 22 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB tgl 6 Oktober 2013:
RUBAHLAH Kekuatan Energi Materialistime pada hudup kita
sampai menjadi gelombang CAHAYA....
takluklun nafsu kebinatangan bawa pada jiwa yang tenang (Kekholifahan diri)....................
Niscaya tidak akan kenal dengan yang namanya GALAU....
Semoga Selalu Dalam Ridlo-Allah...
Sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang menulis. Media sosial adalah tempat berbagi gagasan. Adakalanya kita menulis di sana secara spontan. Masalah penulisan seperti typo bukan sesuatu yg penting utk diperhatikan. Fokus utama kita bukan bagaimana kata dituliskan, tetapi bagaimana gagasan segera dituliskan sebelum menguap dari kepala. Saya sering mengalami hal seperti itu, sehingga mungkin pembaca tdk dapat memahaminya sekaligus, sebab tulisannya memang bukan utk menjelaskan, tetapi utk mengungkapkan isi pikiran. Kondisi tulisan di media sosial wajar seperti itu karena tdk pernah masuk ke ruang editorial.
-----------
Mari kita mulai ulasannya. Mereka yg memiliki pemahaman materialisme lebih berorientasi pada materi dari pada selainnya, seperti spiritual, intelektual, sosial, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, mereka lebih mementingkan insentif dari pada pahala kebaikan, manfaat pengalaman berupa peningkatan kemampuan, atau jejaring silaturahmi yg menyediakan banyak pintu rejeki. Kecenderungan manusia terhadap materi itu alamiah, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman Nya:
Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (QS. Ali 'Imran Ayat 14)
Dalam ayat tsb, Allah menunjukan alasan kenapa manusia harus memiliki orientasi lain yg lebih baik dari pada kesenangan duniawi, yakni "tempat kembali yg baik". Manusia dapat mengarahkan orientasinya dari satu kesenangan kpd kesenangan lain yg lebih menyenangkan dgn sumber dayanya berupa cinta pada kesenangan. Namun manusia perlu menaklukan nafsunya utk dapat berorientasi pada kesenangan yg belum dialaminya. Manusia tdk dapat mencintai pahala di akhirat yg belum dialaminya bila tdk mampu memimpin nafsunya. Manusia harus menjadi pemimpin dalam kerajaan hati atau kekhalifahan dirinya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Arabi, agar ia dapat menggunakan seluruh sumber daya utk tujuan yg dikehendakinya.
Mencintai kesenangan hidup adalah kekuatan atau energi materialisme. Kita dapat memanfaatkannya utk mencintai kesenangan yg lebih tinggi. Kecenderungan terhadap ridha Allah tentu saja berbeda dgn kecenderungan terhadap harta benda, sebab ridha Allah dalam pandangan keimanan memiliki kualitas di atas harta benda. Perbedaan tsb membuat kita perlu mengubah kekuatannya, dari kekuatan yg sejalan dgn hawa nafsu semata, menjadi kekuatan yg sejalan dgn keyakinan atau petunjuk. Kekuatan baru ini akan membuat kita cenderung pada apa yg Allah ridhai, walau nafsu kita tdk menyukainya. Kekuatan yg sejalan dgn petunjuk itu dapat diilustrasikan dgn gelombang cahaya. Allah menggunakan istilah cahaya utk petunjuk.
Gelombang cahaya tdk dapat terbentuk bila kita diperbudak oleh hawa nafsu. Sulit bagi kita utk mengikuti petunjuk Allah bila terkekang oleh hawa nafsu. Tanpa gelombang cahaya tsb, kita akan sama seperti hewan, hanya cenderung pada kesenangan duniawi dan tdk dapat lepas dari kesedihan yg muncul karena kehilangannya. Mereka yg telah memiliki gelombang cahaya setelah menaklukan nafsunya akan lebih mudah utk mencintai apapun yg ada di sisi Allah. Mereka akan dapat membebaskan dirinya dari kesedihan, tdk akan galau, karena ridha dgn ketentuan Allah. Mereka ridha karena ingin diridhai oleh Allah, kondisi yg membuat jiwanya merasa senang, kondisi penghuni surga 'Adn. Kondisi yg selalu diharapkan oleh mereka yg berhasil melihat kesenangan surgawi jauh lebih baik dari kesenangan duniawi.
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS. Al-Bayyinah 8)
Tanda tercapainya kesenangan tinggi dalam diri para pemimpin hati selaku hamba-hamba Allah dan penghuni surga adalah hati yang puas lagi diridhai Nya. Contohnya, merasa lebih puas dgn ketentuan Allah dari pada materi atau dunia yg meninggalkannya. Hal tersebut sebagaimana firman Nya:
Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS al-Fajr: 27-30)
#PersepsiCahyana
Rabu, 12 April 2023
GMA dan Percikan Cahaya
Kamis, 06 April 2023
Pengantar Pandu Digital Sektor Pendidikan
Pandu Digital adalah pendamping masyarakat dalam literasi digital yang merupakan program Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI). Visi Pandu Digital sebagai gerakan nasional yang berkontribusi secara strategis dan substansial dalam peningkatan literasi digital masyarakat dapat terwujud dengan melaksanakan misi pemberdayaan komunitas dengan membangun kordinasi dan kolaborasi antar komunitas dan pemangku terkait, meningkatkan kapasitas Pandu Digital, dan memerankan Pandu Digital sebagai dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, tahapan yang harus ditempuh oleh Pandu Digital Sektor Pendidikan untuk mewujudkan visi tersebut mencakup:
- Perencanaan program Pandu Digital Sektor Pendidikan yang melibatkan komunitas dan pemangku terkait;
- Mobilisasi warga akademik menjadi Pandu Digital
- Peningkatan kapasitas Pandu Digital melalui aktivitas:
- Penyadaran akan arti penting keikutsertaan warga negara dalam pembangunan literasi digital pada sektor pendidikan di Indonesia; dan
- Pelatihan Pandu Digital yang memberikan kompetensi untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan warga akademik terkait literasi digital;
- Penerapan kompetensi Pandu Digital dengan melaksanakan peran dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat terkait sektor pendidikan.
Pandu Digital terbagi ke dalam tiga kelompok tingkatan:
- Purwa (badge merah), yakni Pandu Digital yang memiliki pengetahuan literasi digital pada sektor tertentu;
- Madya (badge biru), yakni Pandu Digital yang memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital; dan
- Utama (badge hitam), yakni Pandu Digital yang memiliki keahlian dalam menerapkan pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah literasi digital di masyarakat.
Berdasarkan pembagian tersebut, Pandu Digital Purwa dalam sektor pendidikan adalah warga akademik yang dimobilisasi oleh Pandu Digital Utama, di mana mobilisasi itu diasumsikan sebagai solusi bagi masalah literasi digital di masyarakat. Contoh masalah yang dimaksud adalah luasnya wilayah Indonesia dan sebaran melek digital yang belum merata. Pandu Digital Madya ditugaskan oleh Pandu Digital Utama untuk meningkatkan kapasitas Pandu Digital Purwa dengan mentransfer kompetensi dalam Modul Literasi Digital yang mencakup dua kelompok materi Peningatan Kapasitas, yakni penyadaran dan panduan teknis pemanfaatan perangkat teknologi informasi pada sektor pendidikan secara mendasar. Tugas tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan pemerintah terhadap Pandu Digital. Kedua kelompok materi tersebut terdistribusi ke setiap tahapan proses bisnis yang berjalan di dalam sistem pendidikan dan melibatkan interaksi antara warga akademik dan konten; atau ke setiap kompetensi literasi digital yang mencakup literasi teknologi informasi, literasi informasi, penciptaan kapasitas, serta komunikasi dan kolaborasi yang keempatnya harus mencakup kompetensi keamanan dan penyelesaian masalah.
Selanjutnya, Pandu Digital Utama menugaskan Pandu Digital Purwa untuk memberikan dukungan teknis kepada pemerintah atau masyarakat guna membuktikan kapasitasnya selaku pendamping masyarakat dalam literasi digital. Dengan demikian, Pandu Digital Purwa ini berhadapat dengan masyarakat. Mengingat kelompok pada level ini mungkin diisi oleh warga akademik yang masih amatir atau baru menguasai kompetensi Pandu Digital atau literasi digital sektor pendidikan, maka layanan dukungan teknisnya dapat dilaksanakan secara berkelompok di bawah bimbingan Pandu Digital Madya. Bilamana Pandu Digital Purwa berhadapan dengan masalah terkait literasi digital sektor pendidikan, ia dapat melewati level dukungan teknis berikut ini:
- Berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan merujuk Modul Literasi Digital Sektor Pendidikan;
- Apabila level 1 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Purwa dapat meminta masukan atau panduan dari Pandu Digital Madya yang dianggap memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital;
- Apabila level 2 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Madya turun langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dibantu oleh Pandu Digital Purwa; dan
- Apabila level 3 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Utama akan membantu dengan mengirimkan dukungan teknis pihak ketiga yang berasal dari luar Pandu Digital dan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas dengan melibatkan Pandu Digital, contohnya perusahaan.
Pandu Digital yang bergerak dalam sektor pendidikan berasal dari komunitas TIK, seperti lembaga pendidikan atau organisasi masyarakat. Hubungan komunitas TIK dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas sasaran yang dibantu sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:
Pandu Digital Berkarakter
Pada dasarnya manusia memiliki karakter atau dorongan perasaan untuk melakukan sesuatu. Apabila perasaannya baik, maka tindakannya mungkin akan baik bila sejalan dengan norma-norma yang berlaku. Contohnya dorongan perasaan cinta tanah air yang membuatnya ingin membantu meningkatkan populasi melek digital di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak setiap maksud baik seperti itu terlaksana secara baik. Contohnya, memberikan dukungan teknis berupa penyediaan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan menggunakan perangkat lunak bajakan. Tindakan ilegal tersebut menyebabkan sanksi hukum. Maksud yang baik harus dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pemahaman akal terhadap sebab-akibat pemenuhan atau pengingkaran terhadap norma agama, kesusilaan, kesopanan, atau hukum menjadi kendali yang membuat tindakannya menjadi normatif dan berdampak baik bagi dirinya dan orang lain.
Dorongan manusia dipengaruhi oleh sifat-sifat manusia atau kemanusiaan yang secara mendasar mencakup:
- Openness, yakni memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar pada orang lain atau lingkungannya, dan sangat senang untuk belajar hal-hal baru dan menikmati pengalaman unik;
- Conscientiousness, yakni memiliki tujuan yang jelas untuk setiap kegiatan atau hal yang dilakukan serta mampu berpikir jauh mengenai sesuatu;
- Extraversion, yakni menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak;
- Agreeableness, yakni sangat kooperatif, tertarik dan perhatian pada orang lain, serta suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuan; dan
- Neuroticism, yakni mudah mengalami mood swing, depresi, cemas, lekas marah dan sedih.
Manusia harus mengelola sifat-sifat mendasar tersebut agar selalu positif dengan intensitas tinggi atau rendah yang sesuai dengan kebutuhan. Contohnya, seseorang perlu mengelola sifat-sifat mendasarnya untuk menjadi Pandu Digital yang memberikan dukungan teknis demi kepentingan bangsanya. Ia harus memiliki intensitas openness yang tinggi dan positif agar menemukan masalah bangsanya. Tentunya keingintahuannya terhadap masalah bangsa tidak akan terwujud bila Extraversion nya rendah dan negatif. Seseorang tidak akan menemukan masalah orang di sekitarnya bila tidak menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak. Ia akan tergerak untuk membantu bila memiliki Agreeableness yang tinggi dan positif. Namun bergerak saja tidak cukup, ia harus memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya dan mengetahui sebab akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Ia harus memiliki Conscientiousness yang tinggi dan positif untuk memiliki niat seperti itu. Dan tentunya niat saja tidak cukup, ia harus mampu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah besar. Ia akan memiliki komitmen melaksanakan tindakan sampai akhir bila mampu mengelola mood. Oleh karenanya ia harus membuat Neuroticism nya selalu mengayun tinggi ke arah positif.
Suatu bangsa memiliki karakter khas karena terpengaruh oleh kebiasaan baik di lingkungan tumbuh kembangnya. Karakter khas semacam itu dirangkum dalam Pancasila yang berfungsi dan berkedudukan sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian tersebut dapat dibedakan dari kepribadian bangsa lainnya. Idealnya, bila kebanyakan warga Indonesia dikenal ramah di dunia nyata, maka di dunia maya pun harus demikian. Apabila tidak demikian, kebanyakan netizen tidak berhasil membawa karakter baiknya ke dunia maya. Contoh tindakannya adalah ujaran kebencian daring yang merupakan tindakan komunikasi menyimpang karena melanggar standar, aturan, atau norma budaya bersama dalam interaksi sosial dalam konteks kelompok sosial. Contoh pelanggaran norma lainnya antara lain pencemaran nama baik, seruan kekerasan, agitasi dengan memprovokasi pernyataan yang memperdebatkan masalah politik atau sosial yang menampilkan pandangan diskriminatif, rumor dan konspirasi. Kebisingan psikologis seperti sindiran dan prasangka di antaranya berhubungan dengan karakter. Salah satu sebabnya adalah anonim, di mana ada perasaan seseorang tidak dikenali oleh orang lain. Drew Boyd, Direktur Operasi di The Sentinel Project mengatakan bahwa internet memberi individu kemampuan untuk mengatakan hal-hal yang mengerikan karena merasa tidak akan ditemukan. Orang merasa jauh lebih nyaman berbicara kebencian di dunia maya, dibandingkan dengan melakukannya di kehidupan nyata yang membuat mereka harus menghadapi konsekuensi dari apa yang mereka katakan.
Netizen Indonesia yang berkarakter tentu saja tidak akan bertindak demikian. Orang berkarakter adalah seseorang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral. Karakter digital Indonesia adalah kepribadian bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan tercermin dalam interaksi digital. Contoh nilai-nilai Kemanusiaan dalam Pancasila yang dapat menghindarkan netizen Indonesia dari sikap tidak baik antara lain saling mencintai sesama manusia, sehingga ia akan memperlakukan netizen lainnya sebagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh orang lain. Seorang Pandu Digital disebut mewarisi nilai sila kedua Pancasila apabila gemar melakukan kegiatan kemanusiaan dengan bantuan TIK, contohnya dukungan teknis berupa penyediaan sistem informasi kebencanaan.



