Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 15 April 2023

Menghadap dengan Kemuliaan

Garut, 24 Ramadhan 1444 H. Saya membaca kiriman mas Yudho di komunitas maya Facebook pada tgl 8 Oktober 2013 sebagai berikut:

Kemuliaan manusia karena ada cahaya. Cahaya di atas cahaya tujuan sejatinya. Tapi mengapa kita lebih memilih ketidakabadian. Larut bersama kegalauan. Hari ke hari mengejar yg tak pasti.
Bangkitlah, tegakkan diri bersama iman, menghadaplah kepada-Nya, bersama kemuliaan. Semoga Selalu Dalam Ridlo Allah.

Istilah cahaya erat kaitannya dgn petunjuk. Kita mengetahui perintah dan larangan Nya berkat adanya petunjuk agama. Mentaati perintah dan larangan itu akan menjadikan kita sebagai insan bertakwa, sebagaimana sabda Nabi SAW: 

Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang (HR Timidzi)

Orang yg paling mulia di sisi Allah adalah orang yg paling bertakwa, bukan orang yg berasal dari ras apa atau keluarga siapa, sebagaimana firman Allah SWT:

Wahai manusia sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (QS. Al-Hujurat: 13)

Hal tsb menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang adalah karena cahaya. Di antara sebab seseorang mau mengikuti cahaya adalah karena menjadikan Allah sebagai tujuannya. Sebagaimana kaum muslimin yg mentaati perintah hijrah semata karena menjadikan keridhaan Allah dan Rasul Nya sebagai tujuannya. 

Dari Umar bin al-Khattab berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, Perbuatan-perbuatan itu hanyalah dengan niat dan bagi setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Karena itu, siapa yang hijrahnya itu kepada kerelaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya ialah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk memperoleh keduniaan atau wanita yang bakal dikawininya, maka hijrahnya itu ialah kepada apa yang telah dihijrahi (HR Bukhori dan Muslim)

Ketaatan semacam itu muncul karena keimanan. Saat cahaya iman menghasilkan amalan yg selaras dgn cahaya petunjuk, terwujudlah cahaya di atas cahaya. Allah SWT berfirman:

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. An-Nur: 35)

Demikian yg dapat kita fahami dari penjelasan Ibnu Katsir tentang cahaya di atas cahaya. Mengintegrasikan keimanan dgn amal merupakan tujuan sejati agar keimanan dan amal kita diterima oleh Allah. Nabi SAW bersabda:

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman (HR. Ath-Thabrani).

Seringkali niat amal karena keduniaan membuat kita khawatir atau galau. Hal demikian krn kita belum tentu akan sampai pada dunia tersebut. Kalau pun sampai, dunia itu akan berlalu. Dunia hanya memberikan kenikmatan sementata. Lain hal nya dengan keridhaan Allah dan Rasul Nya yg kenikmatannya akan terus sampai akhirat kelak. 

Oleh karenanya kita perlu beramal dgn keimanan semata karena keridhaan Nya agar kita senantiasa mulia di dunia dan akhirat. Menghadapkan wajah cukup kepada Nya saja dgn kemuliaan. Semoga Allah ridha kepada kita karena ketaatan tersebut dan kita ridha dgn pahala ketaatan dari Nya.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS Al-Bayyinah: 8)

#PersepsiCahyana

Jumat, 14 April 2023

Puncak Kenikmatan Makanan


Saat Google Maps memberi petunjuk arah dgn terus menyebut nama rumah makan, mungkin hal tsb cukup menggoda sebagian orang yg sedang berpuasa. Saat di sepanjang jalan yg dilalui oleh mobil dgn kecepatan rendah nampak berderet rumah makan, mungkin hal tsb cukup menggoda sebagian orang yg sedang berpuasa. Bahkan mungkin lampu rambu lalu lintas yg berwarna hijau mengkilap akan nampak seperti kolang kaling yg biasanya terlihat berenang di kolam sirup Marjan.

Puasa adalah kesempatan bagi penikmat makanan utk merasakan nikmatnya makanan. Hasrat makan yg tertahan akan membuat makanan terasa begitu lezat saat disantap. Rasa haus yg tertahan akan membuat air dingin mengalir indah di dalam kerongkongan. Puasa adalah cara bagi para penikmat kuliner utk mencapai puncak kenikmatan. Makanan biasa pun akan terasa luar biasa menyenangkan.

#PersepsiCahyana

Semangat Muhajirin

Garut, 23 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB tgl 5 Oktober 2013:

GMA generasi Islam yang memiliki semangat muhajirin. GMA berkarya nyata dimanapun laksana cahaya. GMA dapat metamorpase dalam bentuk apapun. Semoga Selalu Dalam Ridlo-Allah, Ikhwah Fillah semua.

Semangat melakukan sesuatu muncul krn adanya niat utk memperoleh keuntungan duniawi atau ukhrowi. Dua niat terdebut tergambar dalam hadits Nabi SAW. Dari sahabat Umar bin Khattab ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw Bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya Karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai kemana dia hijrah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Muhajirin adalah julukan kelompok di masa Nabi utk kaum muslimin yg hijrah dari Mekah ke Madinah. Semangat Muhajirin yg utama menurut hadist tersebut adalah berhijrah kpd Allah dan Rasul Nya. Semangat ini yg masuk akal bagi siapa saja yg mengharapkan selalu dalam ridho Allah. Berdasarkan pemahaman tsb, siapapun yg menjadi bagian GMA harus memiliki semangat tersebut. Bergabung dgn GMA atau berkarya nyata di mana saja bukan krn menginginkan keduniaan, seperti wanita yg ingin dinikahi. 

Karya nyata selaksana cahaya bila kita tercerahkan, mendapatkan petunjuk, sehingga lebih cenderung pada tujuan berharap keridhaan Allah dari pada berharap keduniaan. Karya nyata itu tdk harus dgn membawa simbol GMA krn semangat Muhajirin tdk hanya bisa dibawa di GMA saja, tetapi dimana saja. Setiap kegiatan non GMA yg dilaksanakan oleh insan GMA dgn semangat Muhajirin ini merupakan wujud metamorfosa GMA. Keberadaan insan GMA dalam kegiatan apapun teridentifikasi dari niat Mardhatillah yg disyiarkannya, niat yg muncul dalam semangat Muhajirin. Dengan demikian, GMA dapat hadir di mana saja, mensyiarkan mardhatillah, laksana cahaya bagi siapa saja yg pada awalnya cenderung pada keduniaan. 

#PersepsiCahyana

Kamis, 13 April 2023

Merubah Energi untuk Kesenangan yang Lebih Tinggi


Garut, 22 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB tgl 6 Oktober 2013:

RUBAHLAH Kekuatan Energi Materialistime pada hudup kita
sampai menjadi gelombang CAHAYA....
takluklun nafsu kebinatangan bawa pada jiwa yang tenang (Kekholifahan diri)....................
Niscaya tidak akan kenal dengan yang namanya GALAU....
Semoga Selalu Dalam Ridlo-Allah...

Sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang menulis. Media sosial adalah tempat berbagi gagasan. Adakalanya kita menulis di sana secara spontan. Masalah penulisan seperti typo bukan sesuatu yg penting utk diperhatikan. Fokus utama kita bukan bagaimana kata dituliskan, tetapi bagaimana gagasan segera dituliskan sebelum menguap dari kepala. Saya sering mengalami hal seperti itu, sehingga mungkin pembaca tdk dapat memahaminya sekaligus, sebab tulisannya memang bukan utk menjelaskan, tetapi utk mengungkapkan isi pikiran. Kondisi tulisan di media sosial wajar seperti itu karena tdk pernah masuk ke ruang editorial. 

-----------

Mari kita mulai ulasannya. Mereka yg memiliki pemahaman materialisme lebih berorientasi pada materi dari pada selainnya, seperti spiritual, intelektual, sosial, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, mereka lebih mementingkan insentif dari pada pahala kebaikan, manfaat pengalaman berupa peningkatan kemampuan, atau jejaring silaturahmi yg menyediakan banyak pintu rejeki. Kecenderungan manusia terhadap materi itu alamiah, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman Nya:

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (QS. Ali 'Imran Ayat 14)

Dalam ayat tsb, Allah menunjukan alasan kenapa manusia harus memiliki orientasi lain yg lebih baik dari pada kesenangan duniawi, yakni "tempat kembali yg baik". Manusia dapat mengarahkan orientasinya dari satu kesenangan kpd kesenangan lain yg lebih menyenangkan dgn sumber dayanya berupa cinta pada kesenangan. Namun manusia perlu menaklukan nafsunya utk dapat berorientasi pada kesenangan yg belum dialaminya. Manusia tdk dapat mencintai pahala di akhirat yg belum dialaminya bila tdk mampu memimpin nafsunya. Manusia harus menjadi pemimpin dalam kerajaan hati atau kekhalifahan dirinya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Arabi, agar ia dapat menggunakan seluruh sumber daya utk tujuan yg dikehendakinya.

Mencintai kesenangan hidup adalah kekuatan atau energi materialisme. Kita dapat memanfaatkannya utk mencintai kesenangan yg lebih tinggi. Kecenderungan terhadap ridha Allah tentu saja berbeda dgn kecenderungan terhadap harta benda, sebab ridha Allah dalam pandangan keimanan memiliki kualitas di atas harta benda. Perbedaan tsb membuat kita perlu mengubah kekuatannya, dari kekuatan yg sejalan dgn hawa nafsu semata, menjadi kekuatan yg sejalan dgn keyakinan atau petunjuk. Kekuatan baru ini akan membuat kita cenderung pada apa yg Allah ridhai, walau nafsu kita tdk menyukainya. Kekuatan yg sejalan dgn petunjuk itu dapat diilustrasikan dgn gelombang cahaya. Allah menggunakan istilah cahaya utk petunjuk.

Gelombang cahaya tdk dapat terbentuk bila kita diperbudak oleh hawa nafsu. Sulit bagi kita utk mengikuti petunjuk Allah bila terkekang oleh hawa nafsu. Tanpa gelombang cahaya tsb, kita akan sama seperti hewan, hanya cenderung pada kesenangan duniawi dan tdk dapat lepas dari kesedihan yg muncul karena kehilangannya. Mereka yg telah memiliki gelombang cahaya setelah menaklukan nafsunya akan lebih mudah utk mencintai apapun yg ada di sisi Allah. Mereka akan dapat membebaskan dirinya dari kesedihan, tdk akan galau, karena ridha dgn ketentuan Allah. Mereka ridha karena ingin diridhai oleh Allah, kondisi yg membuat jiwanya merasa senang, kondisi penghuni surga 'Adn. Kondisi yg selalu diharapkan oleh mereka yg berhasil melihat kesenangan surgawi jauh lebih baik dari kesenangan duniawi.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS. Al-Bayyinah 8)

Tanda tercapainya kesenangan tinggi dalam diri para pemimpin hati selaku hamba-hamba Allah dan penghuni surga adalah hati yang puas lagi diridhai Nya. Contohnya, merasa lebih puas dgn ketentuan Allah dari pada materi atau dunia yg meninggalkannya. Hal tersebut sebagaimana firman Nya:

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS  al-Fajr: 27-30)

#PersepsiCahyana

Rabu, 12 April 2023

GMA dan Percikan Cahaya

Garut, 21 Ramadhan 1444 H. Saya membaca kiriman mas Yudho di komunitas maya Facebook pada tgl 30 September 2013 sebagai berikut:

GMA dan percihan Cahaya... 
cahaya itu tetap ada.. 
cahaya itu menjelma pada diri  orang yang mengolahnya
maka menjadi manusia bermanfaat .. 
bagi diri,,
keluarga,,
dan manusia lainya,, 
selamat berjuang ikhwah fillah, 
semoga Selalu Dalam Ridlo-Nya

Istilah "percihan" mewakili ekspresi yg tdk bisa dijelaskan maknanya, kecuali oleh pembuat istilah tsb. Kita tidak akan menemukan istilah tsb dalam kamus besar bahasa Indonesia. Dalam kesempatan ini saya akan menggunakan istilah yg memiliki hubungan logis dgn kata "cahaya", yakni "percikan". Seperti percikan cahaya dari kembang api.

Generasi Muslim al-Muhajirin (GMA) adalah satu entitas, dan "percikan cahaya" adalah entitas lainnya. Bila kita bayangkan kembang api, "percikan" dapat kita fahami sebagai titik-titik cahaya yg melesat dari satu titik sumber. Saya melihat sumber itu sebagai GMA. Dgn demikian kita memahami hubungan satu entitas dgn entitas lainnya, yakni GMA sebagai titik asal dari percikan cahaya. Cahaya yg terpercik adalah insan GMA yg membawa cahaya GMA ke berbagai tempat.

GMA mewariskan cahaya kepada anggotanya, melalui tausiah, atau amal kebaikan dlm hubungan dgn Allah, lingkungan, atau dgn sesama mahluk. Dalam pembahasan keagamaan, cahaya itu erat kaitannya dgn petunjuk, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

Demikianlah Kami wahyukan ruh (Al Qur’an) kepadamu dari sisi Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. Asy-Syura : 52). Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) ... (QS. Al-Baqarah: 257) 

Petunjuk yg tersampaikan atau dicapai pada masa lalu itu tetap ada dari masa ke masa. Kita dapat melihatnya pada diri anggota yg mengikutinya. Siapa saja yg mengolah petunjuk itu dgn benar, dari satu pikiran baik menjadi beragam pikiran baik, dari satu amal baik menjadi beragam amal kebaikan, insya Allah akan menjadikannya sebagai insan yg bermanfaat bagi diri, keluarga, dan manusia lainnya. Petunjuk yg datang dari GMA mendorong anggotanya utk menjadi manusia yg bermanfaat, menjadi manusia terbaik. 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad)

Tentunya manusia terbaik adalah Nabi Muhammad SAW yang menghantarkan cahaya bagi umat manusia, dan cahaya itu menjelma pada dirinya secara penuh, sehingga dikatakan bahwa akhlak Nabi SAW adalah Alquran (HR Muslim). Dengan kata lain cahaya itu menjelma pada diri beliau dan terlihat dalam akhlaknya yang agung. Sungguh, Rasulullah SAW benar-benar manusia dengan akhlak paling mulia (HR Bukhari-Muslim). 

Cahaya itu telah membuat GMA menjadi organisasi yang memberi manfaat bagi manusia. Cahaya itu harus dibawa oleh anggotanya ke segala arah, sehingga apabila eksistensi organisasi GMA sudah tidak ada, cahayanya masih tetap ada karena menjelma dalam diri anggotanya, berkelap kelip di segala tempat. Oleh karenanya, semangat terpenting yg diwariskan oleh GMA adalah terus berjuang menjadi manusia terbaik, menjadi manifestasi cahaya, dgn berbuat sebanyak-banyaknya amal kebaikan yg bermanfaat, semata krn mengharap ridlo Nya. Mereka yg berjuang adalah percikan cahaya GMA yg tetap ada sampai sekarang.

#PersepsiCahyana

Kamis, 06 April 2023

Pengantar Pandu Digital Sektor Pendidikan


Pandu Digital adalah pendamping masyarakat dalam literasi digital yang merupakan program Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia (Kemenkominfo RI). Visi Pandu Digital sebagai gerakan nasional yang berkontribusi secara strategis dan substansial dalam peningkatan literasi digital masyarakat dapat terwujud dengan melaksanakan misi pemberdayaan komunitas dengan membangun kordinasi dan kolaborasi antar komunitas dan pemangku terkait, meningkatkan kapasitas Pandu Digital, dan memerankan Pandu Digital sebagai dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat. Dengan demikian, tahapan yang harus ditempuh oleh Pandu Digital Sektor Pendidikan untuk mewujudkan visi tersebut mencakup:

  1. Perencanaan program Pandu Digital Sektor Pendidikan yang melibatkan komunitas dan pemangku terkait;
  2. Mobilisasi warga akademik menjadi Pandu Digital
  3. Peningkatan kapasitas Pandu Digital melalui aktivitas:
    • Penyadaran akan arti penting keikutsertaan warga negara dalam pembangunan literasi digital pada sektor pendidikan di Indonesia; dan
    • Pelatihan Pandu Digital yang memberikan kompetensi untuk menyelesaikan masalah atau memenuhi kebutuhan warga akademik terkait literasi digital;
  4. Penerapan kompetensi Pandu Digital dengan melaksanakan peran dukungan teknis terhadap kegiatan pemerintah dan masyarakat terkait sektor pendidikan.

Pandu Digital terbagi ke dalam tiga kelompok tingkatan:

  1. Purwa (badge merah), yakni Pandu Digital yang memiliki pengetahuan literasi digital pada sektor tertentu;
  2. Madya (badge biru), yakni Pandu Digital yang memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital; dan
  3. Utama (badge hitam), yakni Pandu Digital yang memiliki keahlian dalam menerapkan pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah literasi digital di masyarakat.

Berdasarkan pembagian tersebut, Pandu Digital Purwa dalam sektor pendidikan adalah warga akademik yang dimobilisasi oleh Pandu Digital Utama, di mana mobilisasi itu diasumsikan sebagai solusi bagi masalah literasi digital di masyarakat. Contoh masalah yang dimaksud adalah luasnya wilayah Indonesia dan sebaran melek digital yang belum merata. Pandu Digital Madya ditugaskan oleh Pandu Digital Utama untuk meningkatkan kapasitas Pandu Digital Purwa dengan mentransfer kompetensi dalam Modul Literasi Digital yang mencakup dua kelompok materi Peningatan Kapasitas, yakni penyadaran dan panduan teknis pemanfaatan perangkat teknologi informasi pada sektor pendidikan secara mendasar. Tugas tersebut merupakan bagian dari program pemberdayaan pemerintah terhadap Pandu Digital. Kedua kelompok materi tersebut terdistribusi ke setiap tahapan proses bisnis yang berjalan di dalam sistem pendidikan dan melibatkan interaksi antara warga akademik dan konten; atau ke setiap kompetensi literasi digital yang mencakup literasi teknologi informasi, literasi informasi, penciptaan kapasitas, serta komunikasi dan kolaborasi yang keempatnya harus mencakup kompetensi keamanan dan penyelesaian masalah. 

Selanjutnya, Pandu Digital Utama menugaskan Pandu Digital Purwa untuk memberikan dukungan teknis kepada pemerintah atau masyarakat guna membuktikan kapasitasnya selaku pendamping masyarakat dalam literasi digital. Dengan demikian, Pandu Digital Purwa ini berhadapat dengan masyarakat. Mengingat kelompok pada level ini mungkin diisi oleh warga akademik yang masih amatir atau baru menguasai kompetensi Pandu Digital atau literasi digital sektor pendidikan, maka layanan dukungan teknisnya dapat dilaksanakan secara berkelompok di bawah bimbingan Pandu Digital Madya. Bilamana Pandu Digital Purwa berhadapan dengan masalah terkait literasi digital sektor pendidikan, ia dapat melewati level dukungan teknis berikut ini:

  1. Berusaha menyelesaikan masalah tersebut dengan merujuk Modul Literasi Digital Sektor Pendidikan;
  2. Apabila level 1 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Purwa dapat meminta masukan atau panduan dari Pandu Digital Madya yang dianggap memiliki pemahaman dan keterampilan penyelesaian masalah dalam literasi digital;
  3. Apabila level 2 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Madya turun langsung untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan dibantu oleh Pandu Digital Purwa; dan
  4. Apabila level 3 tidak menyelesaikan masalah, maka Pandu Digital Utama akan membantu dengan mengirimkan dukungan teknis pihak ketiga yang berasal dari luar Pandu Digital dan mampu menyelesaikan masalah secara tuntas dengan melibatkan Pandu Digital, contohnya perusahaan.

Pandu Digital yang bergerak dalam sektor pendidikan berasal dari komunitas TIK, seperti lembaga pendidikan atau organisasi masyarakat. Hubungan komunitas TIK dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas sasaran yang dibantu sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:


Komunitas TIK berada pada level mandiri saat layanan dukungan teknisnya didanai secara swadaya sendiri dan/atau oleh sponsor. Komunitas TIK dapat naik level menjadi madani saat layanan dukungan teknisnya didanai oleh kegiatan usahanya yang merupakan hasil kerjasama pemberdayaan dengan perusahaan. Hubungan komunitas TIK dengan pemerintah, perusahaan, dan komunitas sasaran pada level ini sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:


Nampak pada gambar tersebut, pemerintah berperan sebagai penyedia fasilitas TIK yang dimanfaatkan oleh komunitas sasaran dan dapat berkolaborasi dengan Pandu Digital dari komunitas TIK yang diberdayakan oleh perusahaan tertentu. Mungkin saja fasilitas tersebut berkaitan dengan layanan bisnis milik perusahaan, sehingga nampak ada kolaborasi yang saling menguntungkan di antara pemangku kepentingan. Contohnya, pemerintah memfasilitasi kegiatan temu daring komunitas sasaran menggunakan layanan perusahaan tertentu, dan perusahaan tersebut merekrut Pandu Digital dari komunitas TIK untuk memberikan dukungan teknis. 




Pandu Digital Berkarakter

Pada dasarnya manusia memiliki karakter atau dorongan perasaan untuk melakukan sesuatu. Apabila perasaannya baik, maka tindakannya mungkin akan baik bila sejalan dengan norma-norma yang berlaku. Contohnya dorongan perasaan cinta tanah air yang membuatnya ingin membantu meningkatkan populasi melek digital di lingkungan tempat tinggalnya. Tidak setiap maksud baik seperti itu terlaksana secara baik. Contohnya, memberikan dukungan teknis berupa penyediaan akses teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dengan menggunakan perangkat lunak bajakan. Tindakan ilegal tersebut menyebabkan sanksi hukum. Maksud yang baik harus dilaksanakan sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Pemahaman akal terhadap sebab-akibat pemenuhan atau pengingkaran terhadap norma agama, kesusilaan, kesopanan, atau hukum menjadi kendali yang membuat tindakannya menjadi normatif dan berdampak baik bagi dirinya dan orang lain. 

Dorongan manusia dipengaruhi oleh sifat-sifat manusia atau kemanusiaan yang secara mendasar mencakup:

  • Openness, yakni memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar pada orang lain atau lingkungannya, dan sangat senang untuk belajar hal-hal baru dan menikmati pengalaman unik;
  • Conscientiousness, yakni memiliki tujuan yang jelas untuk setiap kegiatan atau hal yang dilakukan serta mampu berpikir jauh mengenai sesuatu;
  • Extraversion, yakni menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak;
  • Agreeableness, yakni sangat kooperatif, tertarik dan perhatian pada orang lain, serta suka menolong orang lain yang membutuhkan bantuan; dan
  • Neuroticism, yakni mudah mengalami mood swing, depresi, cemas, lekas marah dan sedih.

Manusia harus mengelola sifat-sifat mendasar tersebut agar selalu positif dengan intensitas tinggi atau rendah yang sesuai dengan kebutuhan. Contohnya, seseorang perlu mengelola sifat-sifat mendasarnya untuk menjadi Pandu Digital yang memberikan dukungan teknis demi kepentingan bangsanya. Ia harus memiliki intensitas openness yang tinggi dan positif agar menemukan masalah bangsanya. Tentunya keingintahuannya terhadap masalah bangsa tidak akan terwujud bila Extraversion nya rendah dan negatif. Seseorang tidak akan menemukan masalah orang di sekitarnya bila tidak menikmati interaksi sosial dan berada di sekitar orang banyak. Ia akan tergerak untuk membantu bila memiliki Agreeableness yang tinggi dan positif. Namun bergerak saja tidak cukup, ia harus memikirkan tindakan apa yang harus dilakukannya dan mengetahui sebab akibat yang ditimbulkan oleh tindakan tersebut. Ia harus memiliki Conscientiousness yang tinggi dan positif untuk memiliki niat seperti itu. Dan tentunya niat saja tidak cukup, ia harus mampu bekerja sama untuk menyelesaikan masalah besar. Ia akan memiliki komitmen melaksanakan tindakan sampai akhir bila mampu mengelola mood. Oleh karenanya ia harus membuat  Neuroticism nya selalu mengayun tinggi ke arah positif. 

Suatu bangsa memiliki karakter khas karena terpengaruh oleh kebiasaan baik di lingkungan tumbuh kembangnya. Karakter khas semacam itu dirangkum dalam Pancasila yang berfungsi dan berkedudukan sebagai kepribadian bangsa Indonesia. Kepribadian tersebut dapat dibedakan dari kepribadian bangsa lainnya. Idealnya, bila kebanyakan warga Indonesia dikenal ramah di dunia nyata, maka di dunia maya pun harus demikian. Apabila tidak demikian, kebanyakan netizen tidak berhasil membawa karakter baiknya ke dunia maya. Contoh tindakannya adalah ujaran kebencian daring yang merupakan tindakan komunikasi menyimpang karena melanggar standar, aturan, atau norma budaya bersama dalam interaksi sosial dalam konteks kelompok sosial. Contoh pelanggaran norma lainnya antara lain pencemaran nama baik, seruan kekerasan, agitasi dengan memprovokasi pernyataan yang memperdebatkan masalah politik atau sosial yang menampilkan pandangan diskriminatif, rumor dan konspirasi. Kebisingan psikologis seperti sindiran dan prasangka di antaranya berhubungan dengan karakter. Salah satu sebabnya adalah anonim, di mana ada perasaan seseorang tidak dikenali oleh orang lain.  Drew Boyd, Direktur Operasi di The Sentinel Project mengatakan bahwa internet memberi individu kemampuan untuk mengatakan hal-hal yang mengerikan karena merasa tidak akan ditemukan. Orang merasa jauh lebih nyaman berbicara kebencian di dunia maya, dibandingkan dengan melakukannya di kehidupan nyata yang membuat mereka harus menghadapi konsekuensi dari apa yang mereka katakan. 

Netizen Indonesia yang berkarakter tentu saja tidak akan bertindak demikian. Orang berkarakter adalah seseorang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral. Karakter digital Indonesia adalah kepribadian bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan tercermin dalam interaksi digital. Contoh nilai-nilai Kemanusiaan dalam Pancasila yang dapat menghindarkan netizen Indonesia dari sikap tidak baik antara lain saling mencintai sesama manusia, sehingga ia akan memperlakukan netizen lainnya sebagaimana dirinya ingin diperlakukan oleh orang lain. Seorang Pandu Digital disebut mewarisi nilai sila kedua Pancasila apabila gemar melakukan kegiatan kemanusiaan dengan bantuan TIK, contohnya dukungan teknis berupa penyediaan sistem informasi kebencanaan.


Rabu, 05 April 2023

Kerja Kolaborasi Membangun Literasi Digital Indonesia

Upaya memasukan cara berpikir komputasi / CT dalam kompetensi literasi digital telah dilakukan sejak Festival TIK di Cirebon. Saat itu saya memperkenalkannya kepada pak Bambang Tri Santoso - Pemberdayaan Komunitas TIK, dan yg terlihat sangat antusias adalah mba Yusnita. Saya pertama kali mengenal CT dari ibu Inggriani Liem melalui Bebras Indonesia nya, hikmah mengurus progress pendidikan salah satu dosen prodi saat itu. Pada akhirnya ada perhatian Kominfo terhadap CT. Hal tsb nampak dlm kehadiran rekan biro Bebras Indonesia di SEA-IGF Bali beberapa tahun lalu dan dlm TOT Pandu Digital Madya di Cikarang saat ini. Biro Bebras ITG yg jadi tim penyusun modul literasi digital sektor pendidikan di masa lalu telah menyisipkan materi CT. Kurang lebih ini semacam upaya mengawinkan relawan TIK atau Pandu Digital dgn biro bebras yg di ITG sdh terjadi, di mana personel biro adalah relawan TIK atau Pandu Digital, dan literasi digital yg disampaikan kpd masyarakat sudah mencakup CT. Ini merupakan perkawinan yg cocok, mengingat Bebras telah menggunakan istilah Siaga, Penggalang, Penegak yg dikenal dalam kepanduan di Indonesia dlm event tahunannya, dan Relawan TIK telah menjadi Pandu Digital. Dukungan Kemendikbud RI terhadap event tahunan Tantangan Bebras Indonesia terlihat dari surat edaran utk menggalang partisipasi siswa.

Di sisi lain, saya telah menghubungkan Bebras dgn Kemenag melalui Ditjen PAI, sehingga CT mulai diperhatikan oleh lembaga pendidikan di lingkungan Kemenag. Ada beberapa kampusnya yang menjadi biro Bebras. Beberapa waktu kemudian, saya memberikan nomor kontak Dirjen PAI kpd pak Boni Pudjianto - Direktorat Pemberdayaan Informatika agar program literasi digital Kemenkominfo dapat berjalan di lembaga pendidikan di lingkungan Kemenag. Dirjen PAI pernah menjabat sebagai ketua STT Garut. Pada akhirnya, Ditjen APTIKA Kemenkominfo dan Ditjen PAI bertemu dan membangun kerjasama program literasi digital. Hal tsb merupakan langkah penting bagi usaha membangun literasi digital Indonesia dgn menyatukan semua potensi terbaik bangsa ini. 

 #LiterasiDigital #BiografiCahyana