Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Selasa, 25 April 2023

Netizen Extraversion & Openness

Sebagian dari manusia memiliki sifat extraversion, yakni sangat suka berada di tengah orang-orang. Saat bersantai atau merasa jenuh, ia akan mendekati orang-orang, misalnya duduk di cafe. Ia mengkonsumsi sesuatu yg menarik dan dibagikan oleh orang-orang yg berada di sana, seperti lagu yg dinyanyikan, candaan, hingga obrolan yg membuat roman wajah menjadi serius. Bahkan mungkin ia ikut terlibat dalam komunikasi interpersonal yg disukainya, bukan hanya sebagai penyimak saja.

Hal serupa dgn pengguna media sosial yg memiliki sifat demikian. Ia mengisi waktu luangnya atau berusaha mengusir kejenuhannya dgn menyimak apa yg dibagikan oleh pengguna lain dan mendekati mereka dgn komentar atau emoticon. Ia tdk seperti pengguna mesin pencari yg sdh tahu apa yg hendak dicarinya. Ia lebih mirip pelancong yg berharap menemukan pengalaman menarik dari perjalanannya. 

Pengguna yg bersifat openness akan mengindahkan pengetahuan atau pengalaman baru yg diperolehnya dari perjalan atau interaksinya di media sosial. Ia sangat termotivasi oleh keingintahuan yg besar, baik terhadap pribadi lawan tuturnya ataupun apa yg dituturkan. Sebagian di antaranya mungkin disimpan dlm bentuk postingan di media sosial, seperti pelancong yg mengabadikan pengalamannya dgn kamera dan membiarkan orang banyak membuka album fotonya. 

#PersepsiCahyana

Senin, 17 April 2023

Kemenangan Diri

Garut, 26 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB pada tanggal 31 Juli 2014:

Makna kemenangan: jika mampu bebaskan diri dari segala bentuk tirani kekufuran & kebodohan dari dalam diri sendiri.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, istilah tirani bermakna kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang. Malaikat mengetahui potensi manusia utk berlaku sebagai seorang tiran sebagaimana terekam dalam percakapan mereka dengan Allah SWT. 

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." (QS. al-Baqarah: 30)

Dari awal manusia memang lemah, dapat melanggar larangan yg Allah tetapkan. Namun manusia menzalimi dirinya sendiri dgn bersikap bodoh mengambil amanat perintah dan larangan yg mengandung konsekuensi pahala dan siksa. Walau demikian, manusia memiliki kesempatan utk selamat dari kelemahannya tsb, berupa pintu taubat yg luas, sebagaimana firman Nya:

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, Sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-Ahzab: 72-73)

Dan Allah menerima taubat karena mengetahui manusia melakukan pelanggarannya karena kebodohan.

"Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kebodohan” (QS. an-Nisa: 17)

Tuhan memberikan amanah perintah dan larangan, namun manusia berlaku sewenang-wenang dgn mengabaikan amanah yg diambilnya, sehingga berbuat maksiat. Disebutkan dalam tafsir ath-Thabari, Mujahid berkata bahwa manusia dalam kondisi bodoh sampai dia meninggalkan maksiatnya. Selama manusia tdk bisa lepas dari maksiatnya, maka ia terjajah oleh tirani kebodohannya. Hal tersebut menjadi kekufuran, sebab karunia Allah kpd dirinya digunakan utk keperluan maksiat. Padahal segala karunia itu Allah peruntukan agar manusia dapat beribadah kepada Nya. Allah telah menyatakan maksud penciptaan manusia dgn firman Nya, "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku," (Az-Zariyat: 56)

Selama ia terus berlaku bodoh dgn menyalahgunakan pemberian Allah utk bermaksiat, mengabaikan amanah taqwa, maka ia akan berhadapan dgn ancaman Allah. Sebaliknya, bila ia membebaskan dirinya dari tirani kekufuran dan kebodohan dgn bertaubat, maka ia akan mendapatkan kesempatan yg lebih baik.

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih'. (QS. Ibrahim: 7).

Bertaubat adalah jalan pembebasan dari tirani kekufuran dan kebodohan diri. Menggunakan pemberian Allah dgn memperhatikan peringah dan larangan Nya utk memenuhi kebutuhan beribadah kepada Nya adalah kesyukuran. 

#PersepsiCahyana

Minggu, 16 April 2023

Perubahan adalah Keniscayaan


Garut, 25 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB pada tanggal 7 November 2013:

Perubahan tidak mudah, tapi harus kerena dunia tidak pernah kompromi!

Istilah perubahan mengingatkan kita pada firman Allah SWT, "Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" (QS. ar-Ra'd: 11). Imam at-Thabari menjelaskan bahwa keadaan baik berupa anugerah kenikmatan dapat berubah menjadi keburukan atau musibah. Imam al-Qurthubi menjelaskan faktor penyebab perubahan itu adalah diri sendiri atau orang lain.

Ayat tersebut menggambarkan perubahan baik menjadi buruk. Misalnya, keadaan yg awalnya sejahtera, kemudian berubah menjadi keterpurukan. Kita diingatkan oleh Allah utk tdk berputus asa dalam kondisi seburuk sekalipun. Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)” (QS. az-Zumar: 53-54).

Istilah kembali dikaitkan dengan istilah perubahan berarti membalikan keadaan. Tdk mudah utk membalikan keadaan, tetapi perubahan itu perlu dilakukan. Alasan perubahan yg masuk akal bagi orang awam adalah karena keadaan sejahtera lebih baik dari pada terpuruk. Dunia akan terus berotasi dan memberikan apapun kepada para penakluk. Dunia tdk akan memberikannya kpd kita yg berhenti bergerak krn terpuruk. Tidak ada kompromi, berubah atau kalah!.

Sementara alasan bagi orang beriman adalah karena malu kepada Allah yg telah menyeru utk kembali. Terlebih Allah begitu kasih kepada hamba-Nya. Hal berbeda dgn keterpurukan yg begitu kejam menyiksa perasaan. Lihatlah bagaimana welas asihnya Allah:

"Wahai anak Adam selama engkau masih berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Aku ampuni engkau apa pun yang datang darimu dan aku tidak peduli. Wahai anak Adam walaupun dosa-dosamu mencapai batas langit kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, Aku akan ampuni engkau dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam, jika engkau mendatangi-Ku dengan sepenuh bumi dosa dan engkau tidak menyekutukan-Ku, maka Aku akan menemuimu dengan sepenuh itu pula ampunan" (HR. at-Tirmidzi).

Sebagaimana iman yg menurut Abu Darda r.a. bisa bertambah dan berkurang, kondisi lainnya pun bisa bertambah dan berkurang. Saat kita lemah utk membalikan keadaan, Allah selalu hadir utk mendengarkan setiap ucap do'a yg dipanjatkan. Oleh karena itu, dunia boleh hilang, tetapi harapan kpd Allah jgn sampai sirna dari dalam hati.

#PersepsiCahyana

Sabtu, 15 April 2023

Menghadap dengan Kemuliaan

Garut, 24 Ramadhan 1444 H. Saya membaca kiriman mas Yudho di komunitas maya Facebook pada tgl 8 Oktober 2013 sebagai berikut:

Kemuliaan manusia karena ada cahaya. Cahaya di atas cahaya tujuan sejatinya. Tapi mengapa kita lebih memilih ketidakabadian. Larut bersama kegalauan. Hari ke hari mengejar yg tak pasti.
Bangkitlah, tegakkan diri bersama iman, menghadaplah kepada-Nya, bersama kemuliaan. Semoga Selalu Dalam Ridlo Allah.

Istilah cahaya erat kaitannya dgn petunjuk. Kita mengetahui perintah dan larangan Nya berkat adanya petunjuk agama. Mentaati perintah dan larangan itu akan menjadikan kita sebagai insan bertakwa, sebagaimana sabda Nabi SAW: 

Bahwasanya seorang hamba, tidaklah akan bisa mencapai derajat ketaqwaan sehingga ia meninggalkan apa yang tidak dilarang, supaya tidak terjerumus pada hal- hal yang dilarang (HR Timidzi)

Orang yg paling mulia di sisi Allah adalah orang yg paling bertakwa, bukan orang yg berasal dari ras apa atau keluarga siapa, sebagaimana firman Allah SWT:

Wahai manusia sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti (QS. Al-Hujurat: 13)

Hal tsb menjelaskan bahwa kemuliaan seseorang adalah karena cahaya. Di antara sebab seseorang mau mengikuti cahaya adalah karena menjadikan Allah sebagai tujuannya. Sebagaimana kaum muslimin yg mentaati perintah hijrah semata karena menjadikan keridhaan Allah dan Rasul Nya sebagai tujuannya. 

Dari Umar bin al-Khattab berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, Perbuatan-perbuatan itu hanyalah dengan niat dan bagi setiap orang hanyalah menurut apa yang diniatkan. Karena itu, siapa yang hijrahnya itu kepada kerelaan Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya ialah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa hijrahnya untuk memperoleh keduniaan atau wanita yang bakal dikawininya, maka hijrahnya itu ialah kepada apa yang telah dihijrahi (HR Bukhori dan Muslim)

Ketaatan semacam itu muncul karena keimanan. Saat cahaya iman menghasilkan amalan yg selaras dgn cahaya petunjuk, terwujudlah cahaya di atas cahaya. Allah SWT berfirman:

Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. An-Nur: 35)

Demikian yg dapat kita fahami dari penjelasan Ibnu Katsir tentang cahaya di atas cahaya. Mengintegrasikan keimanan dgn amal merupakan tujuan sejati agar keimanan dan amal kita diterima oleh Allah. Nabi SAW bersabda:

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman (HR. Ath-Thabrani).

Seringkali niat amal karena keduniaan membuat kita khawatir atau galau. Hal demikian krn kita belum tentu akan sampai pada dunia tersebut. Kalau pun sampai, dunia itu akan berlalu. Dunia hanya memberikan kenikmatan sementata. Lain hal nya dengan keridhaan Allah dan Rasul Nya yg kenikmatannya akan terus sampai akhirat kelak. 

Oleh karenanya kita perlu beramal dgn keimanan semata karena keridhaan Nya agar kita senantiasa mulia di dunia dan akhirat. Menghadapkan wajah cukup kepada Nya saja dgn kemuliaan. Semoga Allah ridha kepada kita karena ketaatan tersebut dan kita ridha dgn pahala ketaatan dari Nya.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS Al-Bayyinah: 8)

#PersepsiCahyana

Jumat, 14 April 2023

Puncak Kenikmatan Makanan


Saat Google Maps memberi petunjuk arah dgn terus menyebut nama rumah makan, mungkin hal tsb cukup menggoda sebagian orang yg sedang berpuasa. Saat di sepanjang jalan yg dilalui oleh mobil dgn kecepatan rendah nampak berderet rumah makan, mungkin hal tsb cukup menggoda sebagian orang yg sedang berpuasa. Bahkan mungkin lampu rambu lalu lintas yg berwarna hijau mengkilap akan nampak seperti kolang kaling yg biasanya terlihat berenang di kolam sirup Marjan.

Puasa adalah kesempatan bagi penikmat makanan utk merasakan nikmatnya makanan. Hasrat makan yg tertahan akan membuat makanan terasa begitu lezat saat disantap. Rasa haus yg tertahan akan membuat air dingin mengalir indah di dalam kerongkongan. Puasa adalah cara bagi para penikmat kuliner utk mencapai puncak kenikmatan. Makanan biasa pun akan terasa luar biasa menyenangkan.

#PersepsiCahyana

Semangat Muhajirin

Garut, 23 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB tgl 5 Oktober 2013:

GMA generasi Islam yang memiliki semangat muhajirin. GMA berkarya nyata dimanapun laksana cahaya. GMA dapat metamorpase dalam bentuk apapun. Semoga Selalu Dalam Ridlo-Allah, Ikhwah Fillah semua.

Semangat melakukan sesuatu muncul krn adanya niat utk memperoleh keuntungan duniawi atau ukhrowi. Dua niat terdebut tergambar dalam hadits Nabi SAW. Dari sahabat Umar bin Khattab ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah Saw Bersabda, ‘Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya dan sesungguhnya setiap orang itu akan mendapatkan apa yang diniatkan. Barang siapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa yang hijrahnya Karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya sesuai kemana dia hijrah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Muhajirin adalah julukan kelompok di masa Nabi utk kaum muslimin yg hijrah dari Mekah ke Madinah. Semangat Muhajirin yg utama menurut hadist tersebut adalah berhijrah kpd Allah dan Rasul Nya. Semangat ini yg masuk akal bagi siapa saja yg mengharapkan selalu dalam ridho Allah. Berdasarkan pemahaman tsb, siapapun yg menjadi bagian GMA harus memiliki semangat tersebut. Bergabung dgn GMA atau berkarya nyata di mana saja bukan krn menginginkan keduniaan, seperti wanita yg ingin dinikahi. 

Karya nyata selaksana cahaya bila kita tercerahkan, mendapatkan petunjuk, sehingga lebih cenderung pada tujuan berharap keridhaan Allah dari pada berharap keduniaan. Karya nyata itu tdk harus dgn membawa simbol GMA krn semangat Muhajirin tdk hanya bisa dibawa di GMA saja, tetapi dimana saja. Setiap kegiatan non GMA yg dilaksanakan oleh insan GMA dgn semangat Muhajirin ini merupakan wujud metamorfosa GMA. Keberadaan insan GMA dalam kegiatan apapun teridentifikasi dari niat Mardhatillah yg disyiarkannya, niat yg muncul dalam semangat Muhajirin. Dengan demikian, GMA dapat hadir di mana saja, mensyiarkan mardhatillah, laksana cahaya bagi siapa saja yg pada awalnya cenderung pada keduniaan. 

#PersepsiCahyana

Kamis, 13 April 2023

Merubah Energi untuk Kesenangan yang Lebih Tinggi


Garut, 22 Ramadhan 1444. Mas Yudho menulis di komunitas maya FB tgl 6 Oktober 2013:

RUBAHLAH Kekuatan Energi Materialistime pada hudup kita
sampai menjadi gelombang CAHAYA....
takluklun nafsu kebinatangan bawa pada jiwa yang tenang (Kekholifahan diri)....................
Niscaya tidak akan kenal dengan yang namanya GALAU....
Semoga Selalu Dalam Ridlo-Allah...

Sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang menulis. Media sosial adalah tempat berbagi gagasan. Adakalanya kita menulis di sana secara spontan. Masalah penulisan seperti typo bukan sesuatu yg penting utk diperhatikan. Fokus utama kita bukan bagaimana kata dituliskan, tetapi bagaimana gagasan segera dituliskan sebelum menguap dari kepala. Saya sering mengalami hal seperti itu, sehingga mungkin pembaca tdk dapat memahaminya sekaligus, sebab tulisannya memang bukan utk menjelaskan, tetapi utk mengungkapkan isi pikiran. Kondisi tulisan di media sosial wajar seperti itu karena tdk pernah masuk ke ruang editorial. 

-----------

Mari kita mulai ulasannya. Mereka yg memiliki pemahaman materialisme lebih berorientasi pada materi dari pada selainnya, seperti spiritual, intelektual, sosial, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, mereka lebih mementingkan insentif dari pada pahala kebaikan, manfaat pengalaman berupa peningkatan kemampuan, atau jejaring silaturahmi yg menyediakan banyak pintu rejeki. Kecenderungan manusia terhadap materi itu alamiah, sebagaimana dijelaskan oleh Allah dalam firman Nya:

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (QS. Ali 'Imran Ayat 14)

Dalam ayat tsb, Allah menunjukan alasan kenapa manusia harus memiliki orientasi lain yg lebih baik dari pada kesenangan duniawi, yakni "tempat kembali yg baik". Manusia dapat mengarahkan orientasinya dari satu kesenangan kpd kesenangan lain yg lebih menyenangkan dgn sumber dayanya berupa cinta pada kesenangan. Namun manusia perlu menaklukan nafsunya utk dapat berorientasi pada kesenangan yg belum dialaminya. Manusia tdk dapat mencintai pahala di akhirat yg belum dialaminya bila tdk mampu memimpin nafsunya. Manusia harus menjadi pemimpin dalam kerajaan hati atau kekhalifahan dirinya, sebagaimana dikatakan oleh Ibn Arabi, agar ia dapat menggunakan seluruh sumber daya utk tujuan yg dikehendakinya.

Mencintai kesenangan hidup adalah kekuatan atau energi materialisme. Kita dapat memanfaatkannya utk mencintai kesenangan yg lebih tinggi. Kecenderungan terhadap ridha Allah tentu saja berbeda dgn kecenderungan terhadap harta benda, sebab ridha Allah dalam pandangan keimanan memiliki kualitas di atas harta benda. Perbedaan tsb membuat kita perlu mengubah kekuatannya, dari kekuatan yg sejalan dgn hawa nafsu semata, menjadi kekuatan yg sejalan dgn keyakinan atau petunjuk. Kekuatan baru ini akan membuat kita cenderung pada apa yg Allah ridhai, walau nafsu kita tdk menyukainya. Kekuatan yg sejalan dgn petunjuk itu dapat diilustrasikan dgn gelombang cahaya. Allah menggunakan istilah cahaya utk petunjuk.

Gelombang cahaya tdk dapat terbentuk bila kita diperbudak oleh hawa nafsu. Sulit bagi kita utk mengikuti petunjuk Allah bila terkekang oleh hawa nafsu. Tanpa gelombang cahaya tsb, kita akan sama seperti hewan, hanya cenderung pada kesenangan duniawi dan tdk dapat lepas dari kesedihan yg muncul karena kehilangannya. Mereka yg telah memiliki gelombang cahaya setelah menaklukan nafsunya akan lebih mudah utk mencintai apapun yg ada di sisi Allah. Mereka akan dapat membebaskan dirinya dari kesedihan, tdk akan galau, karena ridha dgn ketentuan Allah. Mereka ridha karena ingin diridhai oleh Allah, kondisi yg membuat jiwanya merasa senang, kondisi penghuni surga 'Adn. Kondisi yg selalu diharapkan oleh mereka yg berhasil melihat kesenangan surgawi jauh lebih baik dari kesenangan duniawi.

Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya (QS. Al-Bayyinah 8)

Tanda tercapainya kesenangan tinggi dalam diri para pemimpin hati selaku hamba-hamba Allah dan penghuni surga adalah hati yang puas lagi diridhai Nya. Contohnya, merasa lebih puas dgn ketentuan Allah dari pada materi atau dunia yg meninggalkannya. Hal tersebut sebagaimana firman Nya:

Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Rabb-mu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Kemudian masuklah ke dalam (jamaah) hamba-hamba-Ku, Dan masuklah ke dalam surga-Ku (QS  al-Fajr: 27-30)

#PersepsiCahyana

Rabu, 12 April 2023

GMA dan Percikan Cahaya

Garut, 21 Ramadhan 1444 H. Saya membaca kiriman mas Yudho di komunitas maya Facebook pada tgl 30 September 2013 sebagai berikut:

GMA dan percihan Cahaya... 
cahaya itu tetap ada.. 
cahaya itu menjelma pada diri  orang yang mengolahnya
maka menjadi manusia bermanfaat .. 
bagi diri,,
keluarga,,
dan manusia lainya,, 
selamat berjuang ikhwah fillah, 
semoga Selalu Dalam Ridlo-Nya

Istilah "percihan" mewakili ekspresi yg tdk bisa dijelaskan maknanya, kecuali oleh pembuat istilah tsb. Kita tidak akan menemukan istilah tsb dalam kamus besar bahasa Indonesia. Dalam kesempatan ini saya akan menggunakan istilah yg memiliki hubungan logis dgn kata "cahaya", yakni "percikan". Seperti percikan cahaya dari kembang api.

Generasi Muslim al-Muhajirin (GMA) adalah satu entitas, dan "percikan cahaya" adalah entitas lainnya. Bila kita bayangkan kembang api, "percikan" dapat kita fahami sebagai titik-titik cahaya yg melesat dari satu titik sumber. Saya melihat sumber itu sebagai GMA. Dgn demikian kita memahami hubungan satu entitas dgn entitas lainnya, yakni GMA sebagai titik asal dari percikan cahaya. Cahaya yg terpercik adalah insan GMA yg membawa cahaya GMA ke berbagai tempat.

GMA mewariskan cahaya kepada anggotanya, melalui tausiah, atau amal kebaikan dlm hubungan dgn Allah, lingkungan, atau dgn sesama mahluk. Dalam pembahasan keagamaan, cahaya itu erat kaitannya dgn petunjuk, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya:

Demikianlah Kami wahyukan ruh (Al Qur’an) kepadamu dari sisi Kami. Sebelumnya kamu (Muhammad) tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (QS. Asy-Syura : 52). Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) ... (QS. Al-Baqarah: 257) 

Petunjuk yg tersampaikan atau dicapai pada masa lalu itu tetap ada dari masa ke masa. Kita dapat melihatnya pada diri anggota yg mengikutinya. Siapa saja yg mengolah petunjuk itu dgn benar, dari satu pikiran baik menjadi beragam pikiran baik, dari satu amal baik menjadi beragam amal kebaikan, insya Allah akan menjadikannya sebagai insan yg bermanfaat bagi diri, keluarga, dan manusia lainnya. Petunjuk yg datang dari GMA mendorong anggotanya utk menjadi manusia yg bermanfaat, menjadi manusia terbaik. 

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad)

Tentunya manusia terbaik adalah Nabi Muhammad SAW yang menghantarkan cahaya bagi umat manusia, dan cahaya itu menjelma pada dirinya secara penuh, sehingga dikatakan bahwa akhlak Nabi SAW adalah Alquran (HR Muslim). Dengan kata lain cahaya itu menjelma pada diri beliau dan terlihat dalam akhlaknya yang agung. Sungguh, Rasulullah SAW benar-benar manusia dengan akhlak paling mulia (HR Bukhari-Muslim). 

Cahaya itu telah membuat GMA menjadi organisasi yang memberi manfaat bagi manusia. Cahaya itu harus dibawa oleh anggotanya ke segala arah, sehingga apabila eksistensi organisasi GMA sudah tidak ada, cahayanya masih tetap ada karena menjelma dalam diri anggotanya, berkelap kelip di segala tempat. Oleh karenanya, semangat terpenting yg diwariskan oleh GMA adalah terus berjuang menjadi manusia terbaik, menjadi manifestasi cahaya, dgn berbuat sebanyak-banyaknya amal kebaikan yg bermanfaat, semata krn mengharap ridlo Nya. Mereka yg berjuang adalah percikan cahaya GMA yg tetap ada sampai sekarang.

#PersepsiCahyana