Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Sabtu, 21 Januari 2023

Nasihat Pertemuan Terakhir


Hari ini, Sabtu 21 Januari 2023 adalah pertemuan terakhir perkuliahan. Saya mengulas kembali proses pembelajaran yg telah dilalui oleh mahasiswa agar mereka dapat mengambil nilai pentingnya. Ulasan pertama adalah soal membaca yg merupakan pintu masuk pengetahuan. Saya mendorong mereka utk membaca sumber pustaka. Mereka diarahkan utk membaca materi yg diminati saja agar sedikit termotivasi utk mengikuti prosesnya.

Pengetahuan diikat oleh tulisan. Itulah sebab kenapa saya meminta mereka untuk menuliskan apa yg sudah mereka baca. Proses membaca bisa dilakukan sendiri. Namun menguji dan memperkaya pemahaman terhadap tulisan harus melibatkan orang lain, agar tdk merasa benar sendiri dan dapat saling mengisi kesenjangan pengetahuan atau pemahaman. Awalnya saya membiarkan mereka mencari sendiri orang yg bisa diajak diskusi. Tentunya ada sebagian dari mereka yg tdk bergerak sama sekali. Pada akhirnya saya dorong mahasiswa untuk membentuk kelompok, sehingga semua orang terkondisikan utk berdiskusi.

Tentunya saya berharap mereka melakukan itu tdk hanya sebatas di kelas, tetapi juga di luar kampus. Saya pernah menceritakan pengalaman saat kuliah sarjana, di mana selepas kuliah teman-teman berkumpul di kamar. Kami mendiskusikan apa yg dibahas oleh dosen, dan setiap dari kami mencoba menjelaskannya. Teman-teman merasa puas dgn penjelasan saya berkat sumber pustaka yg pernah dibaca.

Teman adalah sosok penting yg mengokohkan usaha. Teman itu minimalnya adalah diri sendiri yg dapat diajak bicara dan memberi nasihat. Saya menceritakan kesalahan di masa lalu yg dapat menjadi pelajaran bagi mereka. Ada banyak usaha baik yg mudah dilakukan oleh sebab nasihat diri. Dulu saya berpikir utk tdk bergantung pada eksistensi nasihat diri, sehingga saya meminta diri utk tdk lagi memberi nasihat. Ternyata setelah nasihat itu berhenti, kinerja usahanya menurun.

Setiap mahasiswa harus dapat menjelaskan kalimat yg dikutip dari sumber pustaka dalam diskusi dgn anggota kelompok dan saat menyajikan hasilnya di depan kelas. Hal demikian dimaksudkan agar mereka tdk menjadi individu yg hanya mampu membuat etalase kalimat. Mereka harus menjadi insan yg mampu menjelaskan apa yg diketahui bukan berdasarkan kabar yg tdk pasti, tetapi berdasarkan sumber pustaka yg telah dibaca.

Lebih jauh, penjelasan itu harus disebar luaskan, sebagai bagian terpenting dari kondisi produktif. Oleh karenanya saya mengarahkan mereka utk menyebarluaskannya melalui media sosial secara cuma-cuma. Ini adalah langkah awal yg merupakan pintu pembuka kondisi produktif lainnya, yakni beroleh manfaat material. Siapa tahu dari awalnya menulis karena tugas, kemudian berubah menjadi menulis yg menghasilkan karya tulis dlm bentuk komoditas tertentu.

Terakhir saya menyampaikan permintaan maaf apabila proses pembelajarannya memiliki banyak kekurangan. Saya mengingatkan agar menjadi manusia yg selalu beristighfar setelah prosesnya berakhir. Beristighfar sekalipun mendapat hasil yg baik. Sebagaimana Nabi disuruh oleh Allah utk beristighfar pada saat penduduk Mekah berbondong-bondong memenuhi syiarnya. Sebagaimana kita selalu beristighfar selepas salat agar Allah memaafkan kekhilafan yg terjadi di waktu antara satu salat dgn salat lainnya. Kita memuji Nya yg telah memberi hasil apapun yg  bermanfaat. Kita juga bertasbih utk mensucikan hak-hak Nya agar tdk kita sentuh, sehingga kita tdk ujub dan takabur.

#BiografiCahyana

Jumat, 20 Januari 2023

Mengingat Kembali CSNU


Siang ini bertemu dgn dosen penguji tesis saya di kampus. Wajah beliau sama dgn dosen saya yg lain, sehingga sempat salah menyebut nama. Walau demikian beliau menyempatkan waktu utk mendengarkan. Setelah memperkenalkan diri dgn menyebut nama, beliau jadi teringat, lalu menjabat tangan saya, dan menyebut nama Garut.

Pertemuan ini mengingatkan kembali kpd Computer Society of Nahdlatul Ulama (CSNU). Beliau sempat menyebut grup di mana kami pernah berinteraksi di dalamnya, yakni WAG CSNU. Saat itu saya menyatakan kesiapan utk membantu beliau apabila Garut menjadi tempat pertemuan CSNU.

Saya bergabung dlm grup tsb sejak nama komunitasnya masih dirumuskan setelah dibawa masuk oleh Prof Agus Zainal Arifin dari ITS. Kebetulan beliau mengetahui Prof Anwar Musaddad krn pernah ke Garut saat kegiatan lomba. Kesempatan tsb saya gunakan utk membangun jejaring Sekolah Tinggi Teknologi Garut dgn perguruan tinggi NU utk memperkuat program ICT4Pesantren. Seiring pergantian posisi jabatan, saya undur dari WAG yg berisi perwakilan kampus di bawah NU tsb. Semoga saya lebih banyak diingat oleh beliau dan selainnya dalam kebaikan, amin.

#BiografiCahyana

Minggu, 15 Januari 2023

Fokus pada Tekad, Tawakal, dan Ikhtiar

Garut, 15 Januari 2023. Minggu lalu saya melaksanakan perkuliahan pengganti secara daring. Syarat yg harus dipenuhi oleh mahasiswa utk dianggap hadir adalah mengisi form presensi dan menuliskan resume presentasi kelompok sesuai arahan yg saya sampaikan sebelum presentasinya dimulai. Resume tsb merupakan indikator penting kehadiran mereka, kehadiran pikiran sebagai buah perhatian, yg tdk bisa digantikan dgn keberadaan akun off-cam yg muncul di daftar pengguna. Filosof bilang, aku berpikir maka aku ada. 

Selepas perkuliahan, sejumlah mahasiswa menghubungi saya baik di grup medsos ataupun secara private melalui pesan medsos karena tdk mengisi form yg membuat status mereka absent. Saya menasihati mereka agar minat mereka jgn pada skor kehadiran, tetapi pada pengetahuan yg mereka peroleh dlm kegiatan pembelajaran. 

Sabtu kemarin saya jelaskan kenapa status absent sebagian mahasiswa yg lalai tsb tdk dapat diubah menjadi present. Dari awal saya mengajarkan agar mahasiswa tdk fokus pada hasil, tetapi fokus pada proses menuju hasil tsb. Kehadiran akun mereka di zoom timbul krn niat utk hadir. Tetapi dlm perjalannya, sebagian dari mereka ada yg teralihkan dgn kegiatan lain, sehingga kondisi kemampuan utk mengikuti pembelajarannya jadi menurun. Penurunan itu berimbas pada penurunan tekad. Bila tekad turun, mereka tdk akan sampai pada tawakal. Kalaupun mampu berdoa, tetapi doa nya itu sebatas lisan dan tdk menghantarkannya pada tawakal.

Dalam kondisi tdk bertawakal kpd Allah, mereka mungkin akan kehilangan pertolongan. Contohnya, pertolongan dibuat tetap fokus pada saat informasi penting muncul krn tdk tergoda oleh aktivitas lain yg terlihat menarik. Fokus inilah yg hilang pada sebagian mahasiswa yg lalai mengisi form. Kesenjangan tsb dapat timbul karena kelemahan di sisi tekad dan/atau tawakal. Oleh karena itu, di awal perkuliahan Sabtu kemarin, saya mengingatkan agar mereka memperhatikan tekad dan tawakal yg merupakan penopang ikhtiar. Alhamdulillah, setelah itu ada progress perbaikan pada presensinya.

Saya tdk mendorong mereka utk mengejar hasil, sebab hasil itu sesuai dgn niat dan ikhtiar. Kalau niat mereka adalah skor, bisa saja mereka dapat skor A dlm kondisi kotak pengetahuannya tdk banyak terisi. Kotak itu akan terisi apabila ada ikhtiar sendiri, bukan ikhtiar orang lain. Seberapa banyak isinya tergantung kemampuan dan ikhtiar. Dalam kondisi tekad, tawakal, dan ikhtiar yg baik, insya Allah hasilnya akan baik. 

Namun bila hasilnya tdk baik karena faktor di luar kemampuan, itu adalah ujian dari Tuhan yg bermanfaat. Sekalipun memperoleh hasil yg baik tetap harus bersyukur dan beristighfar. Sebab dlm kelemahan atau kesenjangan yg ada dlm diri, kita mungkin hanya beruntung mendapatkan hasil baik tsb, dan selebihnya adalah berkat rahmat Allah yg memaklumi dan mengisinya dgn pertolongan. Istighfar menstimulus progress perbaikan.

#BiografiCahyana

Rabu, 11 Januari 2023

Keterkenalan


Garut, 11 Januari 2023. Suatu saat guru saya, DR Nanang, mengatakan saya adalah maskot kampus tempat saya bekerja. Saya belum memahaminya sampai bertemu pejabat dari kampus lain pada hari ini di bengkel mobil. Kebetulan saya sedang memeriksakan mobil yang roda kanannya bergetar hebat di jalan tol saat pulang kemarin dari Bandung. Beliau mengatakan kalau mendengar nama kampus saya, maka secara otomatis akan mengingat saya yg selama ini melaksanakan kegiatan di tengah masyarakat dgn membawa bendera kampus. Informasi serupa sebelumnya pernah disampaikan oleh adik tingkat, Fahmi Taufiq Zain kepada saya.

Jauh sebelum adanya informasi tsb, saya pernah mengunjungi Kemenkominfo utk menghadiri FGD di Direktorat Pemberdayaan Informatika. Saat itu ada karyawan kementerian yg bertanya perihal asal kami. Saya jawab, dari Garut. Karyawan tsb kemudian berkata, oh dari Sekolah Tinggi Teknologi Garut . Rupanya eksistensi relawan TIK yg saya bangun di Garut telah menjadi fitur kampus. Orang mungkin tdk mengenal saya, tetapi fitur tersebut membuat orang lain teringat dgn kampus tempat saya bekerja. Saya menyimpulkan orang melihat kampus pada diri saya, atau saya menjadi kaki dan tangan kampus di tengah masyarakat.

Pernah suatu ketika saya diminta utk menurunkan intensitas kegiatan di tengah masyarakat. Permintaan tsb tdk saya penuhi krn saya melaksanakannya untuk memenuhi panggilan nurani, ingin membantu pemerintah dan masyarakat, bukan krn motif ingin terkenal. Dalam kamus hidup saya, keterkenalan bukan sesuatu yg perlu dicari. Bagi saya, menemukan cara utk menjadi orang yg bermanfaat itulah yg harus dicari. Selama ini Tuhan memudahkan jalannya, sehingga saya tdk kesulitan utk mengikuti cara tsb, walau banyak rintangannya.

Saya pernah berkata kpd kolega di kampus agar tdk perlu khawatir dgn kepentingan terkait keterkenalan, sebab saya hanyalah jalan keterkenalan kampus. Saya tdk terobsesi dgn keterkenalan. Itulah sebab knp tdk sulit bagi saya utk menolak rekomendasi dari kolega di Kemenkominfo, DR Bonifasius Wahyu Pudjianto, sebelum beliau pindah ke Bekraf, utk mendapatkan penghargaan dari Wakil Presiden krn menganggap ada pegiat di luar sana yg mungkin jauh lebih baik. Pada akhirnya saya mendapat penghargaan dari Presiden krn pengabdian saya selama 10 tahun, dan kalau ada rejekinya saya dapat memperolehnya kembali dua kali. Saya juga tdk menggebu saat akan menerima KomTIK Award dari Gubernur, sehingga tdk sulit memutuskan utk absen dlm upacaranya di lapangan Gedung Sate. Saya menjadikan KomTIK Award yg kedua terkait program #rtikabdimas sebagai jalan motivasi bagi mahasiswa, sehingga meminta mereka dari pengurus Komunitas TIK utk menerimanya. Mereka sangat senang dan mensyukurinya.

Objek keterkenalannya adalah kampus, bukan saya. Dgn atau tanpa menyematkan logo kampus, ada banyak orang di luar sana yg mengenali kampus dari wujud saya. Bagi saya tdk ada masalah, sebab yg dicari selama ini bukan keterkenalan, tetapi bagaimana menjadi sivitas akademik atau insan yg bermanfaat. Tuhan telah mengaruniakan kpd saya suatu cara memberi manfaat kpd kampus melalui manfaat yg saya berikan kpd pemerintah dan masyarakat semampu yg bisa dikerjakan. Sejalan dgn pesan ketua STTG, alm KH Ir Abdullah Margani Musaddad dlm wisuda sarjana kami dulu yg berdasarkan hadits Nabi, agar menjadi insan yg bermanfaat. 

Seseorang yg menjadi hamba Tuhan yg sebenarnya tdk akan berusaha mengadakan Aku yg lain selain Tuhan, bahkan akunya sendiri. Ia senantiasa berupaya agar Aku Nya lebih nampak dari pada dirinya dalam setiap kebajikan yg dikaruniakan kpd dirinya. Saya masih belum layak utk mencapai kondisi demikian, namun setidaknya saya merasa bersyukur saat kampus lebih terlihat atau diingat oleh orang lain saat berkegiatan. Mungkin itulah knp saya diberi nama "Cahya na" atau "Cahaya NYA", bukan aku sendiri yg dimaksud oleh kata "nya", tetapi AKU lain yg lebih penting utk dikenal oleh banyak orang dari pada diri sendiri. Pikiran tersebut adalah jalan penghambaan kpd Tuhan dan pengabdian kpd mahluk Nya yg saya pilih.

#BiografiCahyana

Rabu, 28 Desember 2022

Phobia Agama


Terkadang sikap phobia agama seperti penolakan ibadah umat lain yg tertayang dlm konten medsos sdh menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita. Sebagian orang dlm lingkungan pergaulan saya dulu memiliki sikap demikian, sehingga saat masih kecil saya terpengaruh dan merasa tdk suka dgn kemunculan dua tempat ibadah yg berdekatan di wilayah tempat tinggal tanpa bisa menjelaskan alasannya. Anak kecil memang meniru perilaku orang dewasa tanpa perlu alasan detail. Asal orang yg dilihatnya mengekspresikan hal tsb buruk, anak kecil akan mudah percaya bahwa hal itu buruk. Oleh krn nya konten intoleran akan menjadi materi pembelajaran yg negatif bagi anak dan remaja, sehingga perlu direspon oleh netizen yg membina toleransi.

Semua warga negara bersamaan kedudukan dan haknya dlm beribadah. Komunitas muslim dapat membangun masjid besar atau kecil di mana saja utk memenuhi kebutuhan ibadah warga sekitar, melakukan aktivitas keagamaan di rumah pribadi atau fasilitas umum yg diikuti oleh banyak orang dari luar wilayah, dan hal itu pastinya tdk serta merta membuat semua non muslim di sekitar menjadi mualaf. Saya sedari dulu bisa salat di masjid mana saja yg saya mau. Hal serupa harusnya berlaku sebaliknya, rumah ibadah non muslim boleh dibangun di mana saja, aktivitas ibadah bisa dilakukan di rumah sendiri atau fasilitas publik, di mana hal tsb tdk serta merta membuat muslim di sekitar akan menjadi murtad.

Tentang aktivitas keagamaan di rumah, saya melihat ada kesamaan antara komunitas muslim dan non muslim. Dlm video Kristian Hansen, penjelajah nusantara asal Denmark, saya melihat ada tradisi seperti tahlilan dlm suku Dayak Iban di Sungai Utik. Saat ada kematian salah satu warganya yg beragama Kristen, semua warga menyiapkan makanan utk beberapa kali seremoni. Apakah kita harus keberatan dgn aktivitas seperti itu, sementara non muslim tdk keberatan dgn tahlilan yg biasa dilaksanakan kalangan tradisi di lingkungannya? 

Dulu saya pernah mendengar cerita dari teman di lingkungan tentang seorang Kristen yg terungkap jati dirinya dari kalung salib yg tertutupi kerudung. Selama ini ia ikut pengajian utk mendengar tausiah yg menyejukkan. Ia dituduh sebagai mata-mata. Istilah mata-mata memiliki nilai polaritas negatif, sehingga orang dapat dgn mudah menyimpulkan non muslim tdk boleh berada di antara jema'ah pengajian. Dan akhirnya memang non muslim tsb tdk diperbolehkan lagi berada di lingkungan tsb. 

Padahal saya sering mendengar pengakuan non muslim yg senang menyimak acara pengajian di televisi. Bahkan di luar negeri sana, non muslim dapat mengunjungi masjid utk mengambil manfaat apapun. Tdk sedikit dari mereka yg memperoleh pengalaman keagamaan yg baik. Tentu saja tdk harus selalu berakhir dgn mualaf, sebab hidayah itu hak Allah semata. Boleh jadi pengalaman tsb menjadi bahan perbaikan bagi praktik keagamaannya yg tdk harus selalu dianggap utk kebutuhan kristenisasi atau semisal lainnya. 

Banyak cerita di lingkungan pergaulan saya dulu bahwa orang bisa murtad krn bantuan makanan. Tetapi masa iya alasannya hanya krn mendapat satu kardus mie instan?. Saya percaya orang bisa pindah agama krn melihat jema'ah agama lain lebih baik akhlaknya dari jema'ah agamanya sendiri. Saya meyakini demikian berdasarkan dialog dgn seseorang yg berniat pindah agama krn alasan buruknya perilaku sebagian kelompok umat Islam. Alasannya bermotif phobia krn generalisasi keliru yg juga dialami masyarakat barat. Oleh sebab itu saya pikir, cukup perbaiki saja kualitas ajaran agama dan perilaku beragama di tengah masyarakat utk menjaga keimanan warga agamanya yg berakal dan bernurani baik, tdk perlu dgn bersikap intoleran yg hanya memicu phobia di kalangan yg memiliki kerancuan berpikir. 

Saat sebagian kelompok muslim mempersulit pemenuhan kebutuhan agama umat lain, mungkin mereka lupa akan perjanjian Nabi Muhammad SAW utk melindungi ibadah umat Kristen di Najran. Mereka lupa bahwa beliau pernah bersabda, "Barangsiapa menyakiti seorang zimmi (non Muslim yang tidak memerangi umat Muslim), maka sesungguhnya dia telah menyakitiku. Dan barang siapa yang telah menyakitiku, maka sesungguhnya dia telah menyakiti Allah.” (HR Imam Thabrani); "Ketahuilah, bahwa siapa yang menzalimi seorang mu’ahad (non-Muslim yang berkomitmen untuk hidup damai dengan umat Muslim), merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat" (HR imam Abu Dawud).

#BiografiCahyana

Rabu, 21 Desember 2022

Can’t move the folder because there is a folder in the same location that can’t be redirected

Ever had trouble moving the Documents location to another location and seeing this message: Can't move the folder because there is a folder in the exact location that can't be redirected? The Documents location is always in a OneDrive subfolder, so all files stored in that folder will be backed up by Microsoft to OneDrive. Here are the steps you can take to change the document location so it is not in a OneDrive subdomain:

  1. Open Settings
  2. Select the Accounts menu, then Windows Backup
  3. Click the Manage sync settings button, then turn off backup for Documents

Good luck!

Yang Lebih Bermakna dari Gelar Duniawi


Alhamdulillah, akhirnya dua mahasiswa yg saya bimbing dapat mengikuti wisuda tahun ini. Salah satu di antaranya memiliki IPK di atas 3.8 yg bila saja tepat waktu akan menjadi lulusan dgn predikat Cum Laude. Saya yakinkan dirinya bahwa bekal terpenting di dunia nyata itu bukan predikat tsb, tetapi apa yg bisa dia lakukan dgn gelar akademik yg dimilikinya sekarang.

Mungkin ada banyak mahasiswa sarjana yg begitu senang karena mendapat tambahan gelar akademik di belakang namanya, hal yg tdk pernah diperoleh selama menempuh pendidikan dari jenjang dasar. Seandainya mereka tdk tahu konsekuensi dari gelar tsb, mereka tdk akan pernah menjadikan gelar sebagai tujuan studinya, tetapi manfaat dari proses studi yg dijalaninya. Imam al-Ghazali dlm Ayyuhal-Walad menganggap tujuan belajar utk mendapatkan gelar sebagai motif tercela. 

Gelar akademik adalah pengakuan terpenuhinya kompetensi sesuai jenjang dlm bidang ilmu yg dipelajari. Setiap mahasiswa yg menyandang gelar tsb harus menunjukan manfaat nyata dari kompetensi tsb. Kompetensi yg dapat ditunjukannya sepanjang manfaat yg dipetiknya dari proses studi. Tentunya tdk harus semua bisa dikuasai, tetapi setidaknya ada satu yg dikuasai mendalam sesuai pilihan topik penelitiannya. Sayangnya, sejumlah wisudawan yg merasa senang dgn gelar tsb tdk mampu menunjukannya di dunia nyata krn selama ini ia bersandar pada hasil pekerjaan teman kuliahnya atau alumni.

Oleh karenanya saya memberi nasihat kepada mahasiswa tingkat satu yg saya ajar pada semester ini agar mereka tdk menjadikan gelar dan status sosial sebagai tujuan. Mereka harus fokus pada setiap manfaat yg diperoleh dari proses studinya. Tdk perlu terlalu memikirkan nilai, sebab proses tdk akan mengkhianati hasil, dan tiada guna nilai baik bila diperoleh bukan hasil jerih payah sendiri. Mereka harus mengerjakan semampunya dgn hasil akhir atau nilai seberapapun. Hasil atau nilai itu bahan evaluasi yg penting dlm upaya pembangunan diri. Evaluasi tdk bisa dilakukan bila hasil atau nilai itu tdk murni upayanya. 

Apabila mereka berhasil membangun diri, masyarakat akan merasakan manfaat kehadiran mereka dlm masalah sesuai kompetensi dan bidang yg tercermin dari gelar akademiknya. Kompetensi dlm diri ini yg lebih penting dari gelar. Mahasiswa yg merasa kompetensinya masih perlu berkembang akan bersikap tawadhu dan tdk menyebut-nyebut gelar akademiknya. Mahasiswa yg beriman akan senantiasa insyaf bahwa gelar terpenting itu di sisi Allah dan hanya utk dilihat oleh Allah, yakni taqwa yg diejawantahkan dlm pribadi baik yg banyak memberi manfaat bagi umat manusia. Bila gelar terpenting saja tdk utk dibanggakan kpd manusia, apalagi gelar keduniaan.

#BiografiCahyana

Minggu, 18 Desember 2022

Tergores itu Menyakitkan


Baru terlihat goresan-goresan pada tubuh kendaraan pada malam hari ini. Saya paling malas parkir kendaraan di tempat parkir umum yg berdempetan krn terkadang kendaraan kita yg masih mulus saat datang bisa menjadi ada baret di mana-mana saat pulang. Di parkiran mall pernah dapat oleh-oleh berupa lekukan pada pintu, nampaknya bekas pintu mobil lain. Terlihat dari cat mobilnya yg menempel.

Jangankan di parkiran yg berdempetan, sekalinya parkir di depan kampus, dapat oleh-oleh berupa goresan tulisan di atas kap mobil. Mobil parkir di rumah pun dapat goresan gambar khas buatan anak kecil. Saya baru faham, knp banyak orang melapis body kendaraannya. Rupanya utk mengurangi dampak goresan. Saya dan istri termasuk orang yg tdk suka dgn baret-baret pada kendaraan. Terkadang kalau sedang ada rejeki, part yg baret itu diganti dgn part baru. Apa mungkin saya perlu pasang dash cam sekedar utk mempelajari orang seperti apa yg suka menggores kendaraan? Tapi rasanya itu bukan pekerjaan yg penting.

Saya selalu mengingatkan anak saat mau turun di parkiran agar berhati-hati saat membuka pintu mobil, jgn sampai mengenai kendaraan di sebelah. Saya teringat sebiji debu yg kita ambil dari rumah tetangga akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat sana, dan menimbulkan kerugian bila tetangga tdk mengikhlaskannya. Oleh krn nya saya meminta izin ke tetangga saat mau ikut menempel atap garasi.

Demikian pula cacad pada kendaraan orang lain yg disebabkan oleh kendaraan kita akan dimintai pertanggung jawaban. Beruntung kalau kita bertemu dgn pemilik kendaraannya dan meminta maaf, masalahnya selesai di dunia ini. Pengurangan beban amal baik atau penambahan amal buruk di akhirat sana lebih menakutkan dari pada kehilangan dunia dan segala isinya.

Keberagamaan idealnya dapat membuat kita menjadi insan yg baik. Namun kenyataannya kebiasaan kita terkadang tdk lebih baik dari pada orang Jepang. Seorang wanita yg menabrak kendaraan saya dari belakang malah berlalu sambil tertawa, bukannya berhenti dan meminta maaf. Mungkin karena merasa kejadian itu tdk disengaja, sehingga ia merasa tdk perlu utk meminta maaf. Setelah memeriksa keadaan bumper, saya tdk mengingat wanita tsb dlm perjalanan. 

Namun beda hal nya dgn dua bocah yg melajukan motor dari arah berlawanan yg sengaja mendekat ke arah kendaraan saya. Bocah yg diboncengnya memukul spion dgn helm, sehingga kaca kendaraan pecah krn terkena bantingan spion. Suara kaca pecah itu sangat keras. Saya sempat menghentikan kendaraan dan mau ke luar, tapi tdk jadi krn khawatir dgn kaca yg sudah retak dan hanya tertahan plastik anti UV. Sepanjang jalan dan hingga saat ini saya masih teringat kejadian tsb, mungkin karena trauma. Saya selalu membayangkan, dosa kita kpd orang lain yg blm dimaafkan dapat menjadi penghambat datangnya rejeki. Semoga Allah mengampuni dosa lalu dan yg akan datang, amin.

#BiografiCahyana.