Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Permendikbud 49/2014 Pasal 1:14)

Sekolah Tinggi Teknologi Garut

Diselenggarakan mulai tahun 1991 dan bernaung di bawah Yayasan Al-Musaddadiyah.

Program Studi Teknik Informatika

Berdiri pada tanggal 30 Juni 1998.

Rinda Cahyana

Dosen PNS yang diperbantukan di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sejak tahun 2005

Minggu, 26 Februari 2023

Saya Memilih Bekerja di Garut


Seseorang pernah bertanya, kenapa saya bekerja di Garut?. Padahal menurutnya, Garut bukan kota besar seperti Bandung, bahkan Subang menurutnya jauh lebih baik. 

Saya menceritakan salah satu alasannya. Dulu selepas kuliah dan sebelum menjadi PNS, perusahaan multinasional pernah menerima saya bekerja sebagai staf IT di Jakarta Pusat. Walau dijanjikan gaji fresh graduate, tetapi gajinya berlipat dibandingkan honor yg saya terima dari kampus. Tetapi setelah memperoleh informasi diterima bekerja, satu hari kemudian saya putuskan utk mengundurkan diri. Saya kirimkan surat pengunduran diri melalui surat. 

Alasan pengunduran diri saya saat itu adalah karena merasa tdk cocok dgn suhu udara di sana. Saya merenungkan suhu udara itu saat keluar dari gedung utk mengambil air wudhu. Suhu di luar terasa seperti berada di dekat tungku perapian. Saat itu saya berpikir, lebih baik tinggal di tempat yg tdk panas dari pada gaji besar tapi tubuh tdk nyaman. Jadi pertimbangan saat itu adalah kenyamanan tubuh, bukan finansial atau lainnya.

Saat ini saya terikat tugas di Garut, diperbantukan oleh negara di kampus almamater. Tetapi sebenarnya bukan itu yg membuat saya tetap memilih bertugas di Garut. Saya bisa saja mengajukan pindah tugas ke tempat lain atau memilih utk tdk lagi bertugas sebagai dosen. 

Saat itu ada seseorang yg mengingatkan agar saya menjaga kesetiaan pada almamater. Saya meresponnya dgn tersenyum. Bagaimana saya tdk setia? Dulu ada teman SMA yg menawarkan pindah tugas ke perguruan tinggi negeri di tempat yg jauh lebih besar dari Garut, tetapi saya menolaknya. Bahkan sampai saat ini saya hanya mengajar di kampus almamater tempat bertugas. Memang dulu sempat mengajar di kampus lain sekitar dua semester, tapi persentasenya terlalu sedikit jika dibandingkan persentase mengajar di almamater yg sudah akan menginjak 20 tahun.

Kebetulan saya diangkat menjadi PNS barengan dgn kakak. Saya sebagai dosen, dan kakak sebagai guru. Persyaratan kenaikan pangkat dan golongan utk dosen lebih berat dari guru. Misalnya, naik ke III/b harus kuliah S2 dulu dgn biaya yg tdk sedikit. Saya harus pulang pergi Garut-Bandung utk menghemat pengeluaran. Terbayang bila saat itu tugas belajar yg membuat tunjangan berhenti, sudah pasti anak dan istri akan kekurangan biaya hidup. Dengan tunjangan berjalan saja kebutuhan dapur tersita oleh biaya kuliah. Di sisi lain, kalau tdk naik pangkat dan golongan saya pasti akan mendapatkan peringatan.

Oleh karenanya pangkat dan golongan kakak lebih cepat naiknya dibandingkan saya. Melihat hal itu, naluri orang tua pasti hadir, sehingga beliau meminta saya utk pulang ke Subang dan mengambil tugas PNS selain dosen di sana. Tetapi karena tugas ini diperoleh bukan krn keinginan, saya menganggapnya sebagai pilihan Tuhan yg harus dijalani dgn ikhlas. Saya tdk pernah bermimpi utk menjadi dosen sebelum atau setelah lulus kuliah sarjana.

Alasan lain yg membuat tdk beranjak dari Garut adalah karena selepas kuliah saya berniat utk membantu alm Kyai Anwar Musaddad, bukan krn siapa yg memimpin kampusnya. Oleh krn nya saya tdk pernah banyak pertimbangan saat melakukan apapun yg terbaik utk almamater. Ada kesempatan utk memajukan IT kampus, saya lakukan semampunya, bahkan dgn swadaya sendiri dan dgn bantuan adik-adik tingkat. Ada kesempatan utk memperoleh bantuan eksternal, saya kerjakan tanpa terpikir sama sekali soal mencari keuntungan finansial dari bantuan tsb. Saya tdk kaya, tetapi saya merasa cukup kaya dgn membantu.

Namun tentunya ada banyak hal yg dikorbankan. Waktu yg terlalu banyak utk melayani masyarakat membuat kesempatan mengurus diri sendiri, seperti pangkat, golongan, dan jabatan menjadi sedikit. Sikap loyal seperti itu sedikit banyak berdampak pd keluarga dlm jangka panjang. Saya meyakini, Tuhan dapat menunjukan kapan saya harus menyeimbangkan pelayanan kpd diri sendiri dan selainnya, serta memusatkan pandangan pada keluarga, baik dgn atau tanpa meninggalkan Garut. 

#BiografiCahyana

Minggu, 19 Februari 2023

Peninggalan Nabi


Dikatakan oleh mereka bahwa peninggalan Nabi bagi umatnya itu hanya al-Qur'an dan as-Sunnah, bukan rambut beliau, terompah atau semisal lainnya. Begini ya, rambut beliau itu bukan sandaran hukum, tapi sandaran cinta dan kerinduan.

Dikatakan oleh mereka bahwa cinta dan kerinduan itu cukup dgn al-Quran dan as-Sunnah. Begini ya, kalau sosok Nabi itu ada di hadapan mata, maka yg dinikmati oleh pecinta itu bukan hanya sehelai rambutnya yg jatuh atau sepasang terompah nya yg dilepas.

Musibah apa yg menimpa seseorang yg tdk terhibur dgn kehadiran sosok tercinta walau sebatas sehelai rambutnya?

#PersepsiCahyana

Budaya Pasar Tumpah


Dikatakan bahwa car free day (faktanya: pasar tumpah) bisa menarik bagi wisatawan utk berbelanja. Dalam sudut pandang wisatawan luar kota, perjalanan itu harus menyenangkan, dan sumbatan jalan / kemacetan adalah gangguan yg tdk menyenangkan. Pasar tumpah diakui sebagai bagian dari budaya, seandainya itu dipelihara. Namun, kehidupan yg modern mengharuskan segala sesuatu diletakan secara adil, sesuai peruntukannya, jalan utk kendaraan, dan trotoar utk pejalan kaki. Bila tdk demikian, maka lambat laun dapat muncul kebiasaan pejalan kaki yg berjalan di bahu jalan, dan pemotor yg berkendara di atas trotoar. Kebiasaan tsb berlawanan dgn cara hidup modern yg teratur. 

Bila budaya yg diakui di antaranya adalah berjualan di pinggir jalan, maka solusi budaya yg diharapkan dlm kehidupan modern bukan membiarkan pasar tumpah melebar ke bahu jalan, tetapi menyediakan ruang berjualan di samping jalur pejalan kaki. Memang pada akhirnya lebar trotoar terkesan seluas jalan dua baris, tetapi itu adalah solusi terbaik utk kenyamanan bersama, serta kesejahteraan yg menjamin kegiatan ekonomi dan keselamatan banyak orang. Terserah ruang tsb utk berjualan atau parkir motor, itu jauh lebih baik dari pada seluruh jalur pejalan kaki diambil alih oleh pedagang atau juru parkir liar.

Jumat, 10 Februari 2023

Menggali Pelajaran dari Feed Back Mahasiswa


Ada yg menarik dari feed back mahasiswa pada semester ini. Mungkin iya proses belajar mahasiswa ini tdk optimal krn kehadiran yg kurang, dan bahkan tdk lulus krn syarat jumlah kehadiran yg tdk terpenuhi. Tetapi ada kelebihan dia dari mahasiswa lainnya, yakni berjuang lebih keras agar dapat duduk di ruang kelas, semisal mencari uang utk biaya kuliah di saat mahasiswa lain duduk santai menikmati hiburan atau tertidur pulas di malam hari.

Terkadang besarnya usaha utk tetap belajar membuat usaha menjalani proses belajarnya tdk optimal. Tetapi upaya menyeimbangkannya harus terus dilakukan, walau hasilnya tdk akan sama dgn mereka yg tdk perlu berusaha keras utk tetap dapat belajar. Membangun dan menjaga semangat seperti itu sangatlah penting, sehingga guru saya, Dr Husni Sastramiharja mengamanatkan utk menularkan semangat tsb.

.....

Mahasiswa lainnya nampak berusaha menjaga adab terhadap guru dgn meminta maaf atas kekurangannya. Hal ini seperti yg saya ajarkan kpd nya, bahwa tdk ada proses yg sempurna bagi manusia. Bukan hanya dlm kegagalan, bahkan dalam kesuksesan sekalipun pasti ada kekurangan dlm adab kpd guru atau perbuatan dosa yg tdk terasa kpd sesama, sehingga di penghujung proses kita harus memohon maaf kpd manusia dan memohon ampun kpd Allah. Bahkan idealnya kita menghadirkan kesadaran itu saat mengucapkan istighfar tiga kali selepas salat wajib. Kalau tdk bisa meminta maaf, setidaknya bisa mengucapkan terima kasih, wujud kesyukuran yg pahalanya semoga menjadi kafarat bagi khilaf dan dosa.

.....

Guru bukan hanya membentuk otak yg baik saja, tetapi juga hati dan ruh mahasiswanya. Membangun hati dan ruh dapat melalui beragam cara, mulai dari lisan hingga perbuatan. Oleh karenanya guru jangan sungkan utk berbagi nasihat diri, dan berbagi kisah perbuatan baiknya. Siapa tahu nasihat dan kisah itu dapat "menghidupkan" peserta didiknya.

#PersepsiCahyana

Rabu, 08 Februari 2023

Pria di Neraka


Malam ini mimpi dua orang pria masuk neraka dgn santainya. Nampak di neraka itu sebagian orang berada di dalam air panas, dan sebagian lagi berada di luarnya. Salah satunya kemudian disuruh orang-orang yg berada di luar air utk merasakan air panasnya. Begitu kakinya diguyur air, seketika melepuh sampai terlihat tulang kakinya. Lelaki itu tdk mengeluh, seakan menyadari kenapa ia harus mengalami hal tsb. Anehnya, dari kaki tsb keluar seekor ular yg memakan dirinya, mulai dari bagian kepala. Tubuhnya nampak mencair seperti lilin saat masuk ke dalam mulut ular. 

Itu semua hanyalah mimpi, mungkin hanya sekedar intepretasi pikiran bawah sadar tentang neraka menggunakan material ingatan di masa lalu atau imajinasi. Namun mimpi tsb mengingatkan diri agar tdk bersikap santai saat melakukan perbuatan yg menimbulkan konsekuensi siksa di akhirat. Seikhlas apapun kita menerima siksanya, tetap siksa itu menguras emosi. Bagi manusia yg seharusnya menikmati surga, perhentian sejenak di neraka utk menerima konsekuensi dosa merupakan pembuangan waktu yg merugikan. Oleh karenanya, semoga kita dihindarkan dari siksa apapun di akhirat sana.

#BiografiCahyana

Sabtu, 21 Januari 2023

Nasihat Pertemuan Terakhir


Hari ini, Sabtu 21 Januari 2023 adalah pertemuan terakhir perkuliahan. Saya mengulas kembali proses pembelajaran yg telah dilalui oleh mahasiswa agar mereka dapat mengambil nilai pentingnya. Ulasan pertama adalah soal membaca yg merupakan pintu masuk pengetahuan. Saya mendorong mereka utk membaca sumber pustaka. Mereka diarahkan utk membaca materi yg diminati saja agar sedikit termotivasi utk mengikuti prosesnya.

Pengetahuan diikat oleh tulisan. Itulah sebab kenapa saya meminta mereka untuk menuliskan apa yg sudah mereka baca. Proses membaca bisa dilakukan sendiri. Namun menguji dan memperkaya pemahaman terhadap tulisan harus melibatkan orang lain, agar tdk merasa benar sendiri dan dapat saling mengisi kesenjangan pengetahuan atau pemahaman. Awalnya saya membiarkan mereka mencari sendiri orang yg bisa diajak diskusi. Tentunya ada sebagian dari mereka yg tdk bergerak sama sekali. Pada akhirnya saya dorong mahasiswa untuk membentuk kelompok, sehingga semua orang terkondisikan utk berdiskusi.

Tentunya saya berharap mereka melakukan itu tdk hanya sebatas di kelas, tetapi juga di luar kampus. Saya pernah menceritakan pengalaman saat kuliah sarjana, di mana selepas kuliah teman-teman berkumpul di kamar. Kami mendiskusikan apa yg dibahas oleh dosen, dan setiap dari kami mencoba menjelaskannya. Teman-teman merasa puas dgn penjelasan saya berkat sumber pustaka yg pernah dibaca.

Teman adalah sosok penting yg mengokohkan usaha. Teman itu minimalnya adalah diri sendiri yg dapat diajak bicara dan memberi nasihat. Saya menceritakan kesalahan di masa lalu yg dapat menjadi pelajaran bagi mereka. Ada banyak usaha baik yg mudah dilakukan oleh sebab nasihat diri. Dulu saya berpikir utk tdk bergantung pada eksistensi nasihat diri, sehingga saya meminta diri utk tdk lagi memberi nasihat. Ternyata setelah nasihat itu berhenti, kinerja usahanya menurun.

Setiap mahasiswa harus dapat menjelaskan kalimat yg dikutip dari sumber pustaka dalam diskusi dgn anggota kelompok dan saat menyajikan hasilnya di depan kelas. Hal demikian dimaksudkan agar mereka tdk menjadi individu yg hanya mampu membuat etalase kalimat. Mereka harus menjadi insan yg mampu menjelaskan apa yg diketahui bukan berdasarkan kabar yg tdk pasti, tetapi berdasarkan sumber pustaka yg telah dibaca.

Lebih jauh, penjelasan itu harus disebar luaskan, sebagai bagian terpenting dari kondisi produktif. Oleh karenanya saya mengarahkan mereka utk menyebarluaskannya melalui media sosial secara cuma-cuma. Ini adalah langkah awal yg merupakan pintu pembuka kondisi produktif lainnya, yakni beroleh manfaat material. Siapa tahu dari awalnya menulis karena tugas, kemudian berubah menjadi menulis yg menghasilkan karya tulis dlm bentuk komoditas tertentu.

Terakhir saya menyampaikan permintaan maaf apabila proses pembelajarannya memiliki banyak kekurangan. Saya mengingatkan agar menjadi manusia yg selalu beristighfar setelah prosesnya berakhir. Beristighfar sekalipun mendapat hasil yg baik. Sebagaimana Nabi disuruh oleh Allah utk beristighfar pada saat penduduk Mekah berbondong-bondong memenuhi syiarnya. Sebagaimana kita selalu beristighfar selepas salat agar Allah memaafkan kekhilafan yg terjadi di waktu antara satu salat dgn salat lainnya. Kita memuji Nya yg telah memberi hasil apapun yg  bermanfaat. Kita juga bertasbih utk mensucikan hak-hak Nya agar tdk kita sentuh, sehingga kita tdk ujub dan takabur.

#BiografiCahyana

Jumat, 20 Januari 2023

Mengingat Kembali CSNU


Siang ini bertemu dgn dosen penguji tesis saya di kampus. Wajah beliau sama dgn dosen saya yg lain, sehingga sempat salah menyebut nama. Walau demikian beliau menyempatkan waktu utk mendengarkan. Setelah memperkenalkan diri dgn menyebut nama, beliau jadi teringat, lalu menjabat tangan saya, dan menyebut nama Garut.

Pertemuan ini mengingatkan kembali kpd Computer Society of Nahdlatul Ulama (CSNU). Beliau sempat menyebut grup di mana kami pernah berinteraksi di dalamnya, yakni WAG CSNU. Saat itu saya menyatakan kesiapan utk membantu beliau apabila Garut menjadi tempat pertemuan CSNU.

Saya bergabung dlm grup tsb sejak nama komunitasnya masih dirumuskan setelah dibawa masuk oleh Prof Agus Zainal Arifin dari ITS. Kebetulan beliau mengetahui Prof Anwar Musaddad krn pernah ke Garut saat kegiatan lomba. Kesempatan tsb saya gunakan utk membangun jejaring Sekolah Tinggi Teknologi Garut dgn perguruan tinggi NU utk memperkuat program ICT4Pesantren. Seiring pergantian posisi jabatan, saya undur dari WAG yg berisi perwakilan kampus di bawah NU tsb. Semoga saya lebih banyak diingat oleh beliau dan selainnya dalam kebaikan, amin.

#BiografiCahyana

Minggu, 15 Januari 2023

Fokus pada Tekad, Tawakal, dan Ikhtiar

Garut, 15 Januari 2023. Minggu lalu saya melaksanakan perkuliahan pengganti secara daring. Syarat yg harus dipenuhi oleh mahasiswa utk dianggap hadir adalah mengisi form presensi dan menuliskan resume presentasi kelompok sesuai arahan yg saya sampaikan sebelum presentasinya dimulai. Resume tsb merupakan indikator penting kehadiran mereka, kehadiran pikiran sebagai buah perhatian, yg tdk bisa digantikan dgn keberadaan akun off-cam yg muncul di daftar pengguna. Filosof bilang, aku berpikir maka aku ada. 

Selepas perkuliahan, sejumlah mahasiswa menghubungi saya baik di grup medsos ataupun secara private melalui pesan medsos karena tdk mengisi form yg membuat status mereka absent. Saya menasihati mereka agar minat mereka jgn pada skor kehadiran, tetapi pada pengetahuan yg mereka peroleh dlm kegiatan pembelajaran. 

Sabtu kemarin saya jelaskan kenapa status absent sebagian mahasiswa yg lalai tsb tdk dapat diubah menjadi present. Dari awal saya mengajarkan agar mahasiswa tdk fokus pada hasil, tetapi fokus pada proses menuju hasil tsb. Kehadiran akun mereka di zoom timbul krn niat utk hadir. Tetapi dlm perjalannya, sebagian dari mereka ada yg teralihkan dgn kegiatan lain, sehingga kondisi kemampuan utk mengikuti pembelajarannya jadi menurun. Penurunan itu berimbas pada penurunan tekad. Bila tekad turun, mereka tdk akan sampai pada tawakal. Kalaupun mampu berdoa, tetapi doa nya itu sebatas lisan dan tdk menghantarkannya pada tawakal.

Dalam kondisi tdk bertawakal kpd Allah, mereka mungkin akan kehilangan pertolongan. Contohnya, pertolongan dibuat tetap fokus pada saat informasi penting muncul krn tdk tergoda oleh aktivitas lain yg terlihat menarik. Fokus inilah yg hilang pada sebagian mahasiswa yg lalai mengisi form. Kesenjangan tsb dapat timbul karena kelemahan di sisi tekad dan/atau tawakal. Oleh karena itu, di awal perkuliahan Sabtu kemarin, saya mengingatkan agar mereka memperhatikan tekad dan tawakal yg merupakan penopang ikhtiar. Alhamdulillah, setelah itu ada progress perbaikan pada presensinya.

Saya tdk mendorong mereka utk mengejar hasil, sebab hasil itu sesuai dgn niat dan ikhtiar. Kalau niat mereka adalah skor, bisa saja mereka dapat skor A dlm kondisi kotak pengetahuannya tdk banyak terisi. Kotak itu akan terisi apabila ada ikhtiar sendiri, bukan ikhtiar orang lain. Seberapa banyak isinya tergantung kemampuan dan ikhtiar. Dalam kondisi tekad, tawakal, dan ikhtiar yg baik, insya Allah hasilnya akan baik. 

Namun bila hasilnya tdk baik karena faktor di luar kemampuan, itu adalah ujian dari Tuhan yg bermanfaat. Sekalipun memperoleh hasil yg baik tetap harus bersyukur dan beristighfar. Sebab dlm kelemahan atau kesenjangan yg ada dlm diri, kita mungkin hanya beruntung mendapatkan hasil baik tsb, dan selebihnya adalah berkat rahmat Allah yg memaklumi dan mengisinya dgn pertolongan. Istighfar menstimulus progress perbaikan.

#BiografiCahyana